Rain

By: Azumaya Miyuki

A Hunter x Hunter Fan Fiction.

Hunter x Hunter © Togashi Yoshihiro.


Chapter 2: Auction

Menemani seorang Neon Nostrad yang gila belanja untuk berkeliling mall seharian memang sama sekali bukan ide yang bagus. Gadis berambut merah muda itu sanggup berlari dari satu toko ke toko yang lain, mematut diri dengan berbagai pakaian dan sepatu, meneliti setiap detil kain di etalase, dan mengomentari pelayanan para pramuniaga yang ditemuinya dalam satu waktu yang sama. Jika saja bodyguard yang dimilikinya bukanlah bodyguard yang benar-benar tangguh dan berkelas, maka dapat dipastikan kaki mereka akan copot lantaran mengikuti langkah Neon yang terlalu aktif ke sana-kemari. Kurapika adalah salah satu dari sederet bodyguard berkelas itu. Terbukti, ketika ingin melamar pekerjaan saja, ia harus mengikuti serangkaian test yang betul-betul menguji kemampuan fisik serta ketelitiannya. Dan Kurapika lulus.

Walaupun kemampuan meramal Neon belum pulih kembali, namun ternyata sekarang tidak ada masalah yang berarti dalam keadaan perekonomian keluarga Nostrad. Percaya atau tidak, dengan wajah cantiknya, kini Neon menjadi bintang tenar, dan ternyata profesinya sekarang malah lebih banyak menghasilkan uang dibanding memprediksi masa depan orang-orang kaya seperti dahulu. Setidaknya Raito Nostrad bisa kembali bernapas lega di hari tuanya, dengan melihat kesuksesan putrinya yang begitu cemerlang, meski beliau sendiri juga paham bahwa posisi Neon sebagai seorang artis yang tengah naik daun pasti tak akan bertahan selamanya. Ada saatnya untuk menuai pujian, ada pula saatnya untuk menerima cibiran. Begitulah manusia, kadang di atas, kadang di bawah.

Namun, saat Kurapika mendengar cerita Senritsu tentang cara belanja Neon yang seperti tiada hari esok itu, Kurapika hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia sendiri tak akan mau menghamburkan uang untuk hal-hal mubazir. Tapi, ia tak berhak menasehati bosnya dengan berbagai argumen. Bisa-bisa ia dipecat dan kehilangan salah satu akses terbesarnya untuk mendapatkan apa yang ia cari. Bola mata merah milik suku Kuruta. Jadi, walaupun ada banyak hal yang tidak cocok baginya, Kurapika hanya bisa menahan diri untuk tidak melawan.

Lagipula, sudah jelas bahwa pola pikir perempuan berbeda dengan laki-laki. Untungnya juga Kurapika tak pernah diperintahkan untuk menemani Neon berbelanja. Ia lebih sering diminta untuk mengawal Raito Nostrad menemui sejumlah klien. Jika seandainya ia diminta untuk menemani Neon pun, sudah pasti Kurapika akan mencari cara untuk menolak. Kurapika tak ingin waktunya terpakai untuk hal-hal yang (menurutnya) tidak terlalu penting.

Paling tidak, ketika bersama dengan Raito Nostrad, berbagai informasi penting bisa didapatkannya dengan mudah.

Tak terasa, tanggal 1 September sudah diambang mata. Para pebisnis dan kolektor barang antik tampaknya sudah pasang strategi dengan menyiapkan sejumlah uang agar kantung mereka tidak jebol saat pelelangan ini. Tak terkecuali Raito, tentu saja. Putri semata wayangnya telah memberi sederet daftar apa saja yang diinginkannya di pelelangan itu, dan Raito tak mau membuat Neon kecewa – dengan alasan tertentu. Kurapika tak habis pikir. Di keluarga Nostrad, hubungan antara ayah dengan anak sekalipun berdasarkan perhitungan untung-rugi. Benar-benar kacau dunia ini.

Atas dasar itulah (dan juga karena tak ingin 'mesin uang otomatis'-nya kabur lagi – setidaknya begitu menurut Kurapika), Raito Nostrad lantas pergi ke gedung pelelangan dan memastikan semua berjalan sebagaimana mestinya. Beliau tak mau pelelangan sampai kacau balau seperti yang terjadi setahun lalu, ketika para penjahat dan mafia memberontak serta sepuluh Godfather terbunuh. Kurapika dengan senang hati ikut serta menemani Raito. Paling tidak, ia bisa mendapatkan informasi yang berguna mengenai bola mata merah yang tengah dicarinya.

Ratusan, bahkan mungkin ribuan orang berjas dan berdasi sudah memenuhi gedung pelelangan. Kurapika sadar, penjagaan kali ini lebih ketat dibandingkan tahun yang lalu. Mungkin pelelangan akan jauh lebih aman – menurut intuisi Kurapika. Setidaknya karena anggota Ryodan (terkecuali Kuroro Lucifer) sedang tidak berada di kota York Shin saat ini.

Walaupun sudah memutuskan untuk bekerjasama dengan Kuroro, Kurapika tetap ingin mencari informasi seorang diri. Ia tak yakin apakah pemimpin Gen'ei Ryodan itu bisa berguna untuknya, apalagi ditambah dari sikapnya yang seperti hanya ingin menjahili Kurapika. Sayangnya hanya itu ide cemerlang yang bisa muncul dipikiran Kurapika ketika ia bertekad untuk mengumpulkan semua bola mata sukunya – meminta bantuan kepada orang yang dikira tepat. Dan, sejauh ini, orang yang dirasa Kurapika paling tepat itu adalah Kuroro Lucifer.

Ditambah lagi, apa yang Kuroro katakan di akhir pertemuan mereka di markas Ryodan membuat Kurapika merasa harus meningkatkan kewaspadaannya. Ia menduga Kuroro hendak menjebaknya atau merencanakan sesuatu yang menjijikkan terhadapnya. Dan itu sudah bisa dipastikan. Apalagi Kurapika terlanjur membentengi diri dengan status 'musuh yang terpaksa bekerja sama', membuat lelaki berambut hitam yang memiliki tanda di keningnya itu akan semakin tertarik untuk berbuat tidak menyenangkan kepada Kurapika. Kurapika sudah memprediksi demikian, dan prediksinya cukup jarang meleset.

Kurapika mengikuti Raito Nostrad memasuki sejumlah ruangan. Daftar milik Neon tergenggam di tangannya. Di setiap ruangan yang mereka masuki, yang berisi nama dan foto barang-barang yang akan dilelang, Raito akan memeriksa kertas daftar di tangannya dan memberi tanda jika barang itu tersedia. Kurapika memperhatikan apa yang dilakukan oleh bosnya itu dengan saksama. Pria ini benar-benar teliti dengan keinginan 'mesin uang'-nya, pikir Kurapika.

"Banyak sekali benda yang Neon inginkan," Raito bersuara, mencoba memecah kebisuan.

Kurapika mengangkat wajahnya. Jelas banyak, karena hanya ada satu benda yang berhasil didapatkan tahun lalu, yakni bola mata merah. Sayangnya, bola mata itu pun ternyata palsu. Kurapika mengetahuinya setelah Sukuwara terbunuh dan bola mata itu dimusnahkan oleh pihak Ryodan. Sungguh mengesalkan.

Berdasarkan observasi hari ini, Kurapika mengetahui bahwa ada dua pasang bola mata suku Kuruta yang akan dilelang. Itu membuatnya cukup senang. Walaupun nanti seandainya Neon yang berhasil mendapatkan bola mata itu, setidaknya akan lebih mudah bagi Kurapika untuk melakukan taktik agar benda itu menjadi miliknya seorang. Karena itulah selama ini lelaki berambut emas itu berusaha untuk memperoleh kepercayaan penuh dari keluarga Nostrad.

"Tenang saja," Raito berkata tiba-tiba, seolah mampu membaca pikiran Kurapika. "Neon tidak menginginkan bola mata merah itu lagi. Mungkin ia sudah trauma dengan kejadian mengerikan yang menyangkut benda itu setahun yang lalu."

Mata Kurapika membelalak. "Maaf?" tanyanya, menuntut pengulangan kalimat.

"Senritsu sempat memberitahuku tentang latar belakang keluargamu," tutur Raito, membuat Kurapika terperanjat. "Kau bisa memiliki bola mata merah itu tanpa perlu memikirkan Neon."

Kalau saja Senritsu bukan salah satu dari teman dekatnya, pasti Kurapika sudah berkata 'urus urusanmu sendiri!' pada perempuan bertubuh mungil itu.

"Bisakah Anda mengatakan apa saja yang diceritakannya?" selidik Kurapika.

"Cukup banyak. Tapi yang pasti ia mengatakan bahwa kau adalah keturunan terakhir dari suku Kuruta yang masih hidup, dan kau berniat untuk mengumpulkan semua bola mata sukumu yang direbut paksa oleh Gen'ei Ryodan. Aku turut prihatin. Pasti kau memiliki beban yang sangat berat," papar Raito Nostrad.

Oh, tidak. Senritsu membeberkan terlalu banyak, ucap Kurapika dalam hati. Sekarang Raito Nostrad akan tahu semuanya. Jangan-jangan dia juga sudah bisa menebak apa tujuan utamaku bekerja pada keluarga ini.

"Jangan khawatir," Raito berkata menenangkan. "Aku takkan menghalangi ataupun ikut campur dalam kehidupan pribadimu. Laksanakan saja tugasmu dengan baik."

Kurapika mau tak mau menganggukkan kepalanya. "Terima kasih."

Hingga larut, Raito dan Kurapika masih berada di gedung pelelangan. Hal itu membuat Kurapika nyaris ambruk tatkala mengunjungi markas Ryodan lagi. Ia hendak memberitahukan informasi yang didapatkan hari ini serta mencoba menyusun rencana selanjutnya untuk pelelangan esok hari, walaupun sebetulnya Kurapika enggan untuk kembali ke tempat itu. SANGAT enggan.

Kuroro Lucifer duduk di tempat yang sama di mana Kurapika terakhir kali bertemu dengannya. Ia menyunggingkan senyum tipis sewaktu Kurapika muncul, membuat Kurapika segera memperketat pertahanan dirinya. Tampaknya lelaki bersenjatakan rantai itu memiliki phobia berlebih terhadap Kuroro. Dan semua itu bukannya tanpa alasan. Kurapika tak mau terluka atau sampai mati konyol di tangan orang yang seharusnya ia bunuh sejak dulu hanya gara-gara hubungan kerjasama.

"Ada dua pasang bola mata suku Kuruta yang akan dilelang," ucap Kurapika tanpa basa-basi. "Keduanya akan dilelang esok, jadi akan sangat menguntungkan bagiku."

"Bagus," balas Kuroro. "Aku juga tak perlu repot. Membuang waktu untuk melihat benda-benda favoritku kembali ke pemilik aslinya akan sangat menyedihkan."

Kurapika melipat kedua tangannya di depan dada. "Nyatanya bola mata itu juga tidak kau koleksi untuk kesenangan pribadimu sendiri. Buktinya, itu semua tersebar di tempat-tempat yang bahkan tak kau ketahui di mana posisinya."

"Baiklah, aku memuji kecepatan berpikirmu. Tapi, sungguh, aku memang sangat menyukai semua bola mata merah milik suku Kuruta itu. Mereka tampak begitu indah, jauh lebih indah dibandingkan permata paling mahal di seluruh dunia."

"Lalu, kenapa sekarang bola mata itu tersebar dan kau sama sekali tak tahu di mana mereka?" tanya Kurapika sembari mengernyit, hingga matanya terlihat mengecil.

"Untuk uang, tentu saja," jawab Kuroro tenang. "Kau pasti perlu uang untuk hidup, bukan?"

"Jadi…" Kurapika tampak kesulitan mengontrol emosinya. "Kalian memperoleh keuntungan di atas penderitaan sukuku?"

Kuroro diam. Matanya menatap Kurapika tajam.

"Tak akan kumaafkan… tak akan kumaafkan…" Kurapika berbisik. Suaranya bergetar. Ia tampak cukup terpukul dengan penuturan Kuroro.

"Dan besok kau akan mendapatkan bola mata itu kembali," ucap Kuroro tanpa ekspresi. "Ingat, kerjasama kita belum berakhir. Kau membutuhkanku, dan aku juga membutuhkanmu. Meskipun kau bilang kita musuh, setidaknya untuk saat ini kau belum boleh menghabisi nyawaku, sampai kerjasama ini berakhir."

Kurapika tersenyum pahit. "Ya, besok aku akan mendapatkan dua pasang. Dua pasang dari ratusan, bahkan mungkin ribuan bola mata suku Kuruta yang kau ambil."

Kuroro mengambil sikap tak acuh. "Setidaknya itu sudah lumayan. Semakin cepat dan semakin banyak bola mata yang kita kumpulkan, semakin baik."

"Ya, itu bagus. Aku mulai lelah dengan semua dendam ini."

"'Lelah'?" ulang Kuroro dengan kening berkerut.

Kurapika memalingkan wajahnya, lalu menggeleng pelan. "Lupakan. Anggap saja kau tidak pernah mendengarnya."

"Oke," Kuroro mengiyakan, meskipun sejuta kemungkinan langsung terukir di benaknya.

Kurapika melangkah keluar dari markas Ryodan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia sangat letih dan ingin beristirahat. Lelaki berusia 17 tahun itu yakin, begitu tubuhnya menyentuh tempat tidur, ia akan langsung terlelap.


Tanggal 1 September. Tepat pukul 8 malam.

Kurapika tampak hampir mati bosan menunggu kehadiran Kuroro. Pemimpin Ryodan itu telah mengirim pesan pada Kurapika untuk menunggunya di lantai dasar gedung pelelangan, di dekat pintu utama. Kuroro berjanji akan menampakkan batang hidungnya sebelum pukul 8, tapi nyatanya sampai sekarang ia belum juga muncul. Kurapika merancang berbagai alasan keterlambatan Kuroro, dan semuanya malah terdengar bagaikan lelucon. Mulai dari kesulitan berjalan dikarenakan mantelnya, hingga terlalu lama berdandan. Sungguh argumen-argumen yang tidak masuk akal untuk seorang pembunuh berdarah dingin sekelas Kuroro Lucifer.

Dan terbukti, argumen konyol Kurapika memang keliru. Kuroro datang dengan penampilan yang begitu biasa, bahkan ia tidak memakai mantel kebanggaannya. Tanda di keningnya dibalut oleh kain putih bersih demi menyembunyikan identitas. Kurapika hampir tak mengenali pemuda tampan itu, namun dalam hati ia bersyukur Kuroro tak membawa mantelnya. Itu akan terlalu menarik perhatian, dan Kurapika tak mau hal tersebut sampai terjadi.

"Kau terlambat," Kurapika berucap dengan nada dingin.

"Benarkah?" Kuroro pura-pura terkejut. "Jam berapa aku janji padamu untuk datang?"

"Sebelum jam 8," kata Kurapika. "Dan sekarang sudah jam 8 tepat."

"Tapi ini masih belum jam 8," Kuroro berdalih.

"Apa kau tidak bisa melihat jam besar di sana?" Kurapika menunjuk jam dinding yang tergantung di dekat mereka.

Kuroro tersenyum. "Tidakkah kau tahu bahwa semua jam di gedung pelelangan ini waktunya dimajukan satu menit?"

Dengan kesal, Kurapika melihat jam pada layar telepon genggamnya. Pukul 19.59. Sial, batin Kurapika dalam hati.

"Itu berarti aku tidak terlambat, bukan?" Kuroro bertanya dengan nada penuh kemenangan.

"Tak perlu berbasa-basi lagi. Ayo," ujar Kurapika sembari melangkah menuju lift. Kuroro mengikutinya dari belakang.

Malang bagi Kurapika, lift itu kosong. Berdua saja dengan pemimpin Gen'ei Ryodan di ruangan tertutup sesempit lift membuat Kurapika rikuh. Menunggu lift yang bergerak perlahan menuju lantai tiga, tempat pelelangan dilaksanakan, terasa sangat lama bagi Kurapika.

Di lantai dua, lift berhenti sejenak. Ketika pintu terbuka dan Kurapika melihat siapa orang yang hendak masuk, ia nyaris pingsan.

"Kurapika! Sudah kuduga kau juga ada di sini!" Gon langsung menubruk Kurapika hingga terhuyung.

"Ah, tidak ada benda menarik di pelelangan kali ini!" ucap Killua dengan nada bosan.

Leorio turut hadir dan menyapa. "Yo, Kurapika! Lama tak berjumpa."

Ya Tuhan. Mereka semua ada di sini.

Kurapika hanya diam, tepatnya mematung. Wajahnya pucat pasi seketika. Diliriknya Kuroro dengan ujung mata, takut Kuroro akan bertindak gegabah sehingga teman-temannya akan mengetahui hubungan kerjasama mereka. Untungnya Kuroro sama sekali tidak menunjukkan perubahan sikap, dan itu membuat Kurapika bisa sedikit bernapas lega diantara derita.

"Kurapika, apa apa? Kenapa kau diam saja?" Gon bertanya bingung. Rona kekanakan tampak di kedua mata coklatnya.

"Ah, ya. Senang sekali bisa bertemu dengan kalian. Aku tak menyangka kalian akan ikut pelelangan ini," Kurapika memberikan seulas senyum. Senyum terpaksa, sebenarnya.

"Kami takkan mungkin melewatkannya! Kau tentu mengincar semua bola mata merah yang dilelang hari ini 'kan, Kurapika?" tanya Leorio.

Kurapika hanya mengangguk, bersamaan dengan bunyi dentingan lift. Mereka sudah tiba di lantai tiga.

"Aku duluan. Sampai jumpa di dalam," Kurapika melambaikan tangan dan segera keluar dari lift, sementara Kuroro agak kesulitan karena terhalang oleh Leorio.

"Permisi," Kuroro berkata singkat, membuat Leorio menyingkir. Pemuda itu langsung berlalu dengan langkah santai, seolah membuat jarak dengan Kurapika.

"Sepertinya aku pernah melihat lelaki itu," gumam Gon.

"Lelaki yang mana?" Killua bertanya, penuh rasa ingin tahu.

"Lelaki berambut hitam yang baru saja keluar dari lift. Ia tampak sangat familiar."

"Ah… mungkin itu hanya perasaanmu saja, Gon," Leorio menanggapi dengan enteng.

Kuroro menangkap sekelebat percakapan diantara teman-teman Kurapika itu, namun ia tak peduli dan segera menjajari langkah dengan Kurapika, setelah yakin Gon dan yang lainnya tidak lagi memfokuskan pandangan pada mereka berdua. Wajah Kurapika betul-betul masam.

"Kenapa kau bersikap dingin kepada mereka?"

"Bukan urusanmu," sahut Kurapika tanpa menoleh.

"Kau tak ingin mereka mengetahui kerjasama kita, betul bukan?" tebak Kuroro.

"Tidakkah itu sudah jelas? Sekarang lebih baik kau jangan banyak bertanya."

"Kau seharusnya berterima kasih karena aku tidak mengacau tadi."

"Baiklah," Kurapika menghentikan langkahnya sejenak. "Terima kasih banyak, Kuroro Lucifer."

Kurapika membuka pintu ruang pelelangan dengan penuh emosi dan langsung masuk. Di belakangnya, Kuroro tersenyum simpul, entah kenapa merasa sedikit terhibur dengan tingkah Kurapika.


Pelelangan berjalan lancar. Untung saja tidak ada barang yang diinginkan Neon yang dilelang pada hari ini, sehingga Kurapika bisa fokus pada bola mata suku Kuruta. Sang pengguna rantai itu berhasil mendapatkannya, setelah mengajukan penawaran harga secara brutal. Kuroro mau tak mau turut membantunya.

Dibalik kebahagiaan karena telah berhasil mendapatkan benda yang dia inginkan, Kurapika juga merasa sedikit sedih karena harus menghindar dari teman-temannya. Di dalam ruang pelelangan pun, Kurapika sengaja untuk tidak membuat kontak dengan mereka. Selepas mendapatkan bola mata merah (yang memang kebetulan dilelang pada waktu paling akhir), Kurapika segera keluar dari gedung pelelangan bersama Kuroro. Sialnya, sebelum mereka sempat beranjak dari lokasi itu, puluhan pria berpakaian rapi telah mengepung mereka berdua. Kurapika menduga orang-orang tersebut adalah pihak yang dibayar untuk mendapatkan bola mata merah suku Kuruta. Tak dapat dipungkiri, banyak sekali hartawan dari berbagai belahan dunia yang menginginkannya.

"Serahkan benda itu!" salah seorang diantara mereka menodongkan senjata ke arah Kuroro dan Kurapika. "Cepat serahkan, atau kalian akan mati!"

Kurapika mempererat pegangan tangannya terhadap dua kotak kaca yang memuat bola mata merah. Dapat diprediksikan, Kurapika takkan menyerahkan barang yang sudah susah payah didapatnya itu meski nyawa taruhannya.

Di lain pihak, naluri membunuh terukir jelas di wajah Kuroro, namun Kurapika menahannya, menolak mentah-mentah bahwa membunuh bukanlah solusi terbaik. Kuroro menghela napas, tak habis pikir kenapa disaat genting seperti inipun pemuda Kuruta itu tetap menjunjung tinggi kebenaran.

Pandangan Kuroro beralih dari bajingan-bajingan di depannya ke kotak bola mata merah di pelukan Kurapika. Tiba-tiba muncul ide cemerlang di benaknya. Ia mendekatkan kepalanya ke kepala Kurapika, dan itu membuat Kurapika risih.

"Kau mau apa?" Kurapika bertanya gusar.

"Berikan bola mata merah itu padaku," kata Kuroro.

"Apa? Tidak!" tolak Kurapika mentah-mentah. Dia berimajinasi bahwa Kuroro akan membawa kabur bola mata itu dan meninggalkannya dalam situasi seperti ini.

"Kalau kau tidak mau, terserah," Kuroro menyahut. "Pegang kotak kaca itu seerat mungkin. Aku tidak mau tahu kalau sampai jatuh."

Kurapika mengernyit, sama sekali tidak paham dengan kata-kata Kuroro barusan. Namun, ketika Kuroro mulai melakukan kontak fisik seperti melingkarkan tangannya di bahu Kurapika, sontak lelaki berambut pirang itu mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.

"Kuperingatkan kau, jangan berontak," Kuroro berbisik. "Atau kau akan menggagalkan semuanya."

"Menggagalkan ap–"

Kurapika tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Ia malah memekik karena Kuroro tiba-tiba menggendongnya, lalu berlari kencang – sekencang yang Kurapika saksikan sendiri sewaktu pengejaran di York Shin – dan menembus para pria yang hendak merebut bola mata merah dari tangan Kurapika. Sementara itu, Kurapika sama sekali tidak tahu harus berbuat apa, selain mendekap dua kotak kaca berisi bola mata suku Kuruta seerat yang ia bisa. Walaupun sesungguhnya Kurapika ingin sekali menonjok Kuroro Lucifer yang telah berani menggendongnya seperti orang sakit (atau seperti pengantin wanita), hal itu urung dilakukannya mengingat hanya ada satu metode untuk menghindari pihak-pihak yang ingin merebut bola mata merah tersebut tanpa menimbulkan pertumpahan darah: melarikan diri.

Dan sepertinya kali ini Kuroro melakukan hal yang benar, walaupun bukan dengan cara yang disukai oleh Kurapika.

Ketika sudah dirasa aman, Kuroro pun berhenti berlari. Tak ada satupun peluh yang menetes dari pelipisnya. Pemuda itu tampak bugar, sama sekali tidak kelihatan lelah walaupun ia baru saja menempuh perjalanan jauh dengan kecepatan tinggi. Justru Kurapika yang berkeringat dingin.

"Syukurlah kau tidak meronta-ronta ketika di jalan tadi," ungkap Kuroro, sembari menurunkan Kurapika. "Aku akan melemparmu jika kau melakukannya."

"Diam kau," sahut Kurapika geram, membuat Kuroro tertawa kecil melihat reaksi Kurapika dalam menanggapi kata-katanya. "Kenapa kau menggendongku seperti itu?"

"Sederhana. Awalnya aku bermaksud menggendongmu dengan satu tangan, sebab tangan yang satu akan kupergunakan untuk membawa kotak bola mata merah agar tidak mempersulitmu. Tapi karena kau menolak memberikan kotak itu padaku, aku terpaksa menggendongmu dengan dua tangan."

Kurapika mendengus. Betul-betul alasan yang tidak logis, pikirnya.

"Lalu, apa rencana kita selanjutnya?" selidik Kuroro.

"Aku belum memutuskan," Kurapika berkata. "Aku ingin mulai mencari bola mata merah itu di kota-kota lain, tapi aku belum bisa beranjak dari sini sebelum pelelangan selesai. Bosku memberiku tugas untuk meng-handle masalah pelelangan, dan aku tak mungkin menolak."

"Baiklah," ucap Kuroro. "Kurasa ada baiknya kita berpisah di sini. Beri aku kabar jika ada perubahan."

"Setuju," Kurapika mengangguk. Lagipula, lokasi tempat mereka berpijak sekarang memang sudah sangat dekat dengan kediaman keluarga Nostrad, jadi Kurapika tak perlu risau dengan orang-orang yang menyerang mereka tadi. Setidaknya situasi saat ini tampaknya cukup aman.

Kurapika dan Kuroro mengambil jalan yang berbeda, jalan yang saling bertolak belakang. Langkah-langkah kaki mereka terdengar jelas di kesunyian malam, malam di mana dua pasang bola mata suku Kuruta telah kembali ke tangan dia yang berada di ujung garis keturunan. Dia yang berhasil hidup setelah hari pembantaian itu…

– to be continued –


Maafkan saya karena lama update~ *ditabok*

Makasih banyak untuk minna-san yang udah baca, serta memberikan review (dan flame?) di chapter sebelumnya, juga di fic-fic saya yang lain. Hontou ni arigatou gozaimasu!

Dan untuk yang ini, review juga ya? *digaplok*

Have a nice day, minna-san!

-Azumaya (yang sedang mencoba untuk tidak galau lagi) Miyuki-