sora : chapter 2… semoga chapter ini lebih baik dari yang sebelumnya.
WARNING…! Gaje ! Aneh ! Freak ! Typoness ! Newbieness ! Ancur ! Boringness ! Bikin pusing, sakit mata dan penyakit alat indra lainnya ! masih ada kesempatan untuk menekan sebuah tombol yang berartikan 'back' !
Disclaimer : YAMAHA, Crypton Media Future dan Company lainnya.
.
.
Chapter 2. What is Special Power ?
.
.
Masih dihari yang sama, di jam yang sama, protagonist kita, Hatsune Miku hanya duduk dan berbicara santai kepada teman - teman barunya. Mulai dari tempat asal, hingga hal - hal yang mereka sukai.
Sreeek...!
"Baiklah anak - anak, maaf atas keterlambatan bapak..." ucap pria paruh baya yang baru saja masuk kekelas tersebut dengan suara yang tegas sontak membuat seisi kelas menjadi hening. Pria dengan postur tubuh yang tegap, rambut coklat dan menggunakan kacamata yang membuatnya terlihat lebih jenius. "Kudengar hari ini kita kedatangan murid baru... boleh saya tahu, siapa dia..?" lanjutnya masih dalam suara yang tegas dan membuat sang anak baru benar - benar gugup. Miku pun segera bangkit dari tempat duduknya, kakinya sedikit bergetar dan keringat sudah mulai membasahi pelipisnya.
"A.. aku... aku Hatsune Miku, sensei..." pria tersebut terdiam sejenak, menelaah sang Hatsune lalu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Hatsune..." ucapnya dengan nada bertanya.
"I.. iya sensei..."
"Ah, maaf... Aku Kiyoteru Hiyama, wali kelas dari kelas ini..." ucap sang pria coklat tersebut dengan nada yang sedikit ramah, "Baiklah Hatsune-san, senang bertemu denganmu... dan nanti, kau akan ditempatkan di... Mondaiji Mansion." Miku hanya tersenyum polos, ia bagaikan tidak mendengarkan kata 'Mondaiji' dikalimat gurunya.
"Sudah kuduga..." bisik Len dan Rin sembari mendesah pelan serempak.
"Baiklah Hatsune-san, kau dipersilahkan duduk kembali... dan seperti biasa, kita akan membahas pelajaran bab awal tentang 'Special Power'. Megurine-san, bisa tolong kau jelaskan..?" Miku pun duduk dan mulai mengeluarkan buku tulis yang sudah dipersiapkan Haku untuk mencatat pelajaran dan diikuti oleh murid lain.
"Baik, sensei..." Luka pun segera berdiri setelah namanya terpanggil. Berbeda dengan murid lain, gadis sakura tersebut hanya berdiri tanpa membawa buku maupun catatannya dan mulai menjelaskan. "'Special Power' merupakan suatu kekuatan yang hanya dimiliki oleh seseorang maupun garis keturunannya. Kekuatan ini bukanlah tergolong dalam jenis sihir, karena tidak menggunakan mantra ataupun tongkat sihir, dan setiap orang hanya bisa menggunakan satu hingga dua jenis kekuatan tergantung garis keturunan ataupun kombinasi dari keturunan tersebut. 'Special Power' ada sejak seseorang lahir dan memungkinkannya untuk semakin kuat maupun berevolusi tergantung penggunaan kekuatan tersebut." Jelas Luka dengan sangat tenang dan pasti, lalu ia segera kembali keposisi duduknya.
"Terima kasih, Megurine-san. Apa kau sudah mengerti sampai disitu, Hatsune-san ?" tanya Kiyoteru.
"I.. iya, sensei..." jawab Miku dengan gugup, 'sepertinya...' tambahnya dalam hati.
"Baiklah... kalau kurang jelas kau bisa tanyakan lagi pada temanmu atau pada guru asramamu nanti, sekarang kita kembali kepelajaran utama kita, yaitu sejarah..." Akhirnya sang gurupun mulai menjelaskan beberapa macam mengenai sejarah, mulai dari adanya perang, sejarah adanya uang dan politik, dan sejarah lainnya.
Waktu istirahat pun berjalan dengan lancar, Miki dan Rin mengantar teman baru mereka untuk berkeliling sekolah, memperkenalkan setiap ruangan dalam bangunan berlantai 4 tersebut. Mulai dari ruang - ruang kelas, kantor, kantin, kelas - kelas tambahan, perpustakaan, hingga toilet.
"Hei, anak baru..!" Miku, Rin, dan Miki pun menoleh kesumber suara dan mendapati ketiga orang gadis yang menghadang masing - masing dari mereka. "Boleh aku berbicara denganmu, Hatsune-san…?" tanya Gumi yang sekarang tepat berada dihadapan Miku.
"A.. apa yang ingin kau bicarakan denganku, Nakajima-san ?" Miku pun mundur beberapa langkah.
"Hanya pembicaraan sesama teman sekelas…" sahut Gumi dengan sebuah seringai diwajahnya.
"Apa maumu sebenar-" belum sempat menyelesaikan, perkataan Miki telah terpotong oleh batang tanaman yang menjulur tiba - tiba dari tanaman hias yang tertata rapih disisi koridor dan mengikat kedua tangannya dan Rin.
"Hei, kau cari mati ya..!?" pekik Rin sembari meronta dari ikatannya.
"Kau yang cari mati…!" balas Neru yang berada didepan Rin dengan senyum sinisnya. Gadis honeyblonde tersebutpun hanya dapat berdecak pelan.
"Miki-chan, Rin-chan…" perhatian kelima gadis tersebut pun terarah kegadis magenta, "Memangnya kalian tidak penasaran dengan special powernya Miku-chan, ya ?" lanjut Teto.
"I.. iya juga, ya…" ujar Rin, sedangkan Miki hanya bisa terdiam setuju dengan sahabatnya.
"Baiklah, maafkan aku Miku-san…" ucap Gumi menyentikkan jarinya, lalu batang - batang yang sebelumnya mengikat pergelangan Miki dan Rin pun kembali menjadi tanaman biasa lainnya. "Aku lebih suka menyebut kekuatanku dengan 'Nature', tapi mungkin kau bisa menyebutnya dengan pengendali tanaman seperti yang kulakukan barusan, ataupun yang lainnya…" Miku pun mengangguk pelan, "Nah, kalau Neru itu 'Weather' atau bisa dibilang ia bisa mengendalikan cuaca lewat moodnya, jadi jangan sampai kau membuatnya marah ya…"
"Kalau aku 'Illusion', jadi aku bisa membuat ilusi apapun…" selak gadis bermata magenta dengan senyum ceria.
"Hanya ilusi.." Rin menekankan lalu memutar kedua matanya yang membuat lunturnya senyum diwajah Teto dan membuatnya mendapat injakkan kaki gadis didepannya. "Awh..! aku benarkan…!" kini giliran Neru yang memutar kedua bola matanya.
"Bagaimana denganmu Miku-san…?" Tanya Gumi mengalihkan pembicaraan. Miku hanya tertunduk,
"Aku… tidak tahu…"
"Hah…!?" pekik Rin dan Neru serempak. Gumi hanya mengangkat sebelah alisnya sementara Teto dan Miki terbelalak tak percaya.
"Bagaimana mungkin..?!" lanjut Rin.
"Oh… sepertinya sekolah ini sudah sangat jelek sampai membuat anak 'sampah', seperti ini bisa masuk kesini..!" Neru dan Gumi pun tertawa miris.
"HEY…!" merasa temannya terhina, Rin pun segera merentangkan tangan kanannya kesamping dan memunculkan sebuah cambuk yang bersinar berwarna kuning seutuhnya.
"Hey.. stay cool, Kagamine-san…" ucap Gumi melambaikan tangannya didepan wajahnya.
"Apa !? stay cool ?! ya, jika kalian tidak mengejek Miku…!" Gumi pun segera menggunakan kekuatannya lagi dan membuat berbatang - batang tanaman menghadang Rin namun segera ditebas Rin oleh cambuknya bagai sayur yang tengah tercincang oleh pisau tajam dengan sangat rapih dan sempurna.
"Cih.." tak terima, Gumi pun mengarahkan tanamannya untuk mengikat kedua tangan Rin, dan berhasil.
"Aku juga tidak akan tinggal diam…!" seru Neru dan bersiap untuk menggunakan kekuatannya tepat didepan tubuh Rin. Mata gadis berambut kuning tersebut pun memutih seutuhnya, dan angin pun mulai berhembus kencang dengan tidak terarah.
"Kalian semua, BERHENTI…!" bentak Miki dengan disusul dengan gelombang ultrasonic yang keluar dari mulutnya dan membuat Gumi dan Neru terpental jauh dan menghantam tembok. "Ayo pulang, Miku, Rin…" lanjut Miki lalu melepaskan ikatan tanaman dipergelangan Rin. Miku pun hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan mengikuti gadis berambut merah tersebut.
"Ba.. baiklah…"
.
.
~Skip Time : After School~
.
.
Miku, Rin, Len, Luka, dan Kaito tengah berjalan menuju asrama mereka, Rin dan Len berjalan dipaling depan dengan posisi Len menggendong kakak kembarnya dipunggungnya. Dibelakang mereka, Luka hanya berjalan sendirian dengan tenang sembari membaca buku dan mendengarkan musik lewat earphonenya.
"A.. ano, Kaito-san..." panggil Miku kepada seseorang yang sejak tadi diikutinya. Ya, Miku berada diposisi paling belakang dan Kaito berada beberapa langkah kedepan darinya.
"Tidak usah sungkan begitu, Miku..." sahut sang lelaki deep blue tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ehh, tapi Kaito-san... ada hal yang ingin kutanyakan..." ucapnya lagi dengan sedikit menunduk. Kaito menghentikan langkahnya lalu menghela nafas pendek,
"Sudah kubilang Miku, tidak perlu sungkan..."
"Ta.. tapi, bukankah kita baru saja bertemu hari ini..."
"Lalu..?" Kaito pun akhirnya membalikkan badannya dan diikuti oleh ketiga temannya.
"Ehh... setidaknya, bukankah butuh beberapa hari untuk perkenalan diri...?" tanya Miku gugup.
"Miku... Bukankah kita akan bersama setidaknya untuk satu tahun kedepan ?"
"Eh..?!" Miku sedikit mengangkat wajahnya.
"Dari pada kita gunakan waktu yang singkat itu untuk mengetahui orang lain, bukankah lebih menyenangkan jika kita bersenang - senang dengan menjadi diri kita sendiri...?" Miku mencoba menatap lurus hanya untuk mendapati wajahnya memerah melihat senyum manis diwajah lelaki dihadapannya. Kaito pun melangkah mundur sedikit agar Miku dapat melihat ketiga orang yang berada tidak jauh darinya tengah menunggunya, akhirnya sebuah senyum cerah terpampang diwajah gadis emerald green tersebut.
"Arigatou, minna..." Ia pun berlari kecil untuk mengejar keempat temannya yang disambut dengan tawa dari Len, Rin, dan Kaito. Sesaat, Len terdiam.
"Err... hey, Kaito..." Panggil Len heran melupakan berat yang dibawanya.
"Hmm..?" sahut Kaito acuh tak acuh.
"Dari mana kau dapatkan kata - kata sekeren itu ?"
"Umm... benar juga, mana mungkin Kaito yang bodoh ini mengatakan kata - kata yang keren begitu..." tambah Rin makin terheran.
"Itu..."
"..."
"..."
"..."
Hening...
"Jadi..."
"Aku mengkopinya..." jawab Kaito polos.
'Sudah kuduga...' batin Rin dan Len serempak.
"Dari siapa ?" tanya Miku tak kalah polos.
"Tentu saja dari Luka-chanku~~" jawab Kaito sembari mengalungkan kedua tangannya keleher sang gadis sakura dengan penuh senyum dan raut bahagia diwajahnya.
'DEGH!'
'Sesak...' benak Miku. 'kenapa ? hanya karena Kaito tersenyum manis padaku, aku sudah merasa bangga ? sadarlah, Hatsune Miku... kau hanyalah rakyat miskin. Kau hanyalah gadis desa yang tidak tahu apa - apa dan tidak punya apa - apa.' Miku mulai tertunduk.
"Miku..?" Tanya Kaito sedikit khawatir. "Daijoubu ?"
"Ha… hai, arigatou…" dan mereka berlimapun meneruskan perjalanan mereka menuju 'Mondaiji Manshion'.
.
~sudah sampai~
.
"I.. inikah…" ujar sang gadis teal memperhatikan sebuah bangunan kumuh.. *ahem* ulangi, 'bangunan KUMUH' yang sekarang terdapat didepan matanya. Bagaimana tidak, rumah yang berada tepat didepan matanya hanyalah sebuah rumah lusuh 2 lantai yang memiliki berpuluh - puluh tambalan ditembok dan atapnya, halaman yang penuh dengan barang - barang rongsokkan dan tidak tertata rapih, beberapa jendela yang memiliki retakkan maupun pecahan yang menghiasinya, engsel pintu yang hanya dapat dipergunakan satu, hingga lempengan besi yang mempersiratkan alamat rumah yang tergantung hampir lepas karena hanya memiliki satu paku yang menyangganya didinding rumah.
"Ya…" sahut Kaito, "lantai kayu yang bertecit, tembok yang rapuh, atap yang bocor, perapian yang tak berfungsi, jendela yang retak, pintu yang rusak, persedian air yang tak menentu…" lanjut Kaito memperburuk keadaan.
Len dan Rin pun hanya menghela nafas berat dan memutuskan untuk masuk mengikuti Luka yang sudah masuk sejak tadi, "Tadaima~~" seru Len dengan nada lelah sembari menurunkan kakaknya.
"Yuki-sensei~~? Rinto-nii~? Apa kalian sudah pulang…?" panggil Rin dengan penuh energi.
"Ah, kalian sudah pulang Len, Rin…" sapa seorang lelaki teal yang datang menghampiri sang kembar, namun tidak lengkap dikarenakan matanya yang menangkap sesuatu yang tidak dipercayainya, "Miku…?!"
"Mi.. Mikuo-nii…?!" Miku yang baru saja masuk mematung sesaat, "BU.. BUKANKAH KAU HILANG DI HUTAN…?!" Rin, Len, Kaito dan Rinto yang baru saja datang hanya bisa terdiam dengan mata yang terbelalak.
"Tadaima, Len, Rin, Kaito, dan…" sapa seorang gadis kecil –yang terlihat sepeti berumur 9 tahun– yang tiba - tiba datang. Berambut dan bermata coklat, menggunakan kacamata, dan dengan 2 pigtail kecil dibawah bagian belakang rambutnya.
"Eh… umm… Miku, Miku Hatsune…" ujar Miku dengan wajah terheran.
.
.
~Ruang Makan~
.
.
"Baiklah Miku, aku Yuki. Kaai Yuki, guru asramamu…" ucap Yuki membuka pembicaraan diatas meja berisikan 8 orang tersebut dan membuat Miku tersedak.
"Begitulah, Miku…" bisik Rin yang duduk tepat disebelah gadis twintail tersebut. Miku pun mulai sedikit menerima kenyataan.
"Dan yang perlu kau tahu Miku, seperti yang artinya 'Mondaiji'… asrama ini khusus diperuntukan oleh anak - anak nakal…" Miku pun memiringkan kepalanya, "Tenang saja, gadis manis sepertimu pasti bukanlah anak nakal… tapi, keluarga sudah pasti tidak boleh dipisahkan, bukan…?" lanjutnya.
"Umm… berarti aku ada disini karena Mikuo-nii juga ada disini ya…?" taya Miku meyakinkan.
"Ya, Luka dan Kaito berada disini juga karena hal tersebut…" jawab gadis coklat tersebut sebari memutar - mutar sebuah garpu yang dipegangnya.
"Hanya Luka-san dan Kaito…?"
"Ya, walaupun Rinto kakak Len dan Rin ada disini lebih dulu… mereka juga ada disini karena terdaftar dalam list anak nakal…"
"Eh…?!" Miku pun memasang wajah setengah percaya dan tidak.
"Len itu sering mencoba kabur dari sini… kalau Rin sering menghancurkan sesuatu saat praktik…" jelas lelaki honeyblode dengan hairclip diponinya. Len hanya bisa memakan makan malamnya dengan raut wajah kesal, sementara Rin terlihat seperti kekurangan kesabarannya.
"Oh iya… tadi saat Kiyo-sensei bilang aku akan ditempatkan di Mondaiji Mansion, kenapa aku merasa disini ada lebih dari satu asrama ya…?" Tanya Miku pada gadis yang duduk disebelahnya lalu memasukkan mekanan kedalam mulutnya.
"Umm… *munch* *munch* off ithu… sifini fe'safat sua af'ama, *munch* *munch* yang fathu laghi itu bhe'nyama 'Faqu'a So'm'. *munch* *munch* Bhe'ifiqany fifa sa'i anyaq yang asa sifini…" jelas Rin (?) sembari mengunyah makanannya.
"Hey, Rin-nee… sebaiknya kau mengunyah makananmu dulu…" sambar Len menasihati kakaknya.
"Maksudnya 'disini terdapat dua asrama, yang satu lagi bernama Sakura Dorm. Berisikan sisa dari anak yang ada disini…" jelas Mikuo lalu memakan sepotong daging dengan satu lahapan.
"Kau bisa mengerti perkataannya, Mikuo…?" tanya lelaki merah muda yang terheran.
"*munch* *munch* memang khau fidhak menge'thi apha, Lukhi ? *munch* *munch*" jawab Mikuo dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti –mungkin. (aru : Ahh..! dari pada bingung Mikuo bilang 'memang kau tidak mengerti apa, Luki'). Semuanya terdiam,
'Pantas dia bisa mengerti bahasanya Rin…' benak semua yang berada diruangan tersebut (min. Rin, Mikuo, Yuki, dan Luka yang hanya tenang dengan makanan masing - masing.)
"Oh iya, Miku… karena kau adalah pendatang baru, aku akan memberikan beberapa pekerjaan padamu… tidak sulit kok…" Miku hanya bisa mengangguk mendengarkan guru asrama yang tidak biasa miliknya..
.
.
.
.
Te Be Se *tu bi kontinu* (?)
sora : sora juga lupa nambahin… sora terinspirasi dari beberapa fict senpai disini, lalu Naruto, Fairy Tail, X-Men, apa lagi ya… pokoknya banyak deh… XD
sora juga mau berterima kasih pada para senpai yang sudah mau baca n review fict rada rada ini… *bow*
sora mau minta kritik, saran dan yang lainnya, boleh ? *puppy eyes*
