Junior
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Drama
Rate : Teens
Main Cast :
Haruno Sakura
Warning : Seluruh karakter ini milik Masashi Kishimoto, sedangkan ide ceita ini seratus persen milik saya. Pemain lain dapat kalian temukan di sini. Kemungkinan yang akan readers temui adalah typo(s), alurnya ngalur-ngidul, serta kejelekan lainnya. EYD yang tidak sempurna atau salah dan berantakan juga termasuk. Oleh karena itu, harap berhati-hohoho.
Preview :
"Ngomong-ngomong, namaku Gaara." Laki-laki bernama Gaara itu mengubah topik pembicaraannya. Sakura menganggukkan kepalanya.
"Seperti yang kau tahu, aku Sakura." Sakura balas mengenalkan dirinya, meskipun itu sekadar formalitas.
"Jurusan IPA?" Gaara kembali bertanya.
Sakura menganggukkan kepalanya. "IPS ya?"
"Tentu saja. IPS menyenangkan!" Gaara berseru senang.
Percakapan sederhana itu terus berlanjut. Mereka bicara tentang banyak hal. Seputar sekolah, hobi, dan yang lainnya. Dua jam mereka habiskan untuk saling mengenal dengan singkat lewat percakapan sederhana itu. Sampai istirahat selesai, mereka tidak merasa lapar dan lelah karena keasyikan mengobrol. Mereka juga tidak sadar dengan tatapan orang yang berlalu lalang melewati mereka.
Di saat kau sudah memiliki teman mengobrol yang asyik, kau seperti masuk ke dalam lubang hitam dan pergi ke dunia sendiri. Tidak ada yang dapat menghentikanmu. Tidak ada yang kau perdulikan. Kau hanya terus hanyut dan semakin hanyut dalam percakapan yang terus menyeretmu ke arus yang entah kemana ujungnya.
Happy Reading!
Chapter 2 : Pulang
"Masuk."
Mendengar sahutan dari suara berat khas pria dewasa, Sakura masuk ke ruang BK dengan langkah santai. Dari belakang, Gaara mengekorinya. Tanpa disuruh bahkan dipersilahkan, Sakura sudah duduk tepat di hadapan pria berambut perak yang arahnya melawan gravitasi. Sebagai kebiasaannya, Sakura mulai mengayun-ayunkan kakinya sembari melihat detail seluruh ruangan melalui ekor matanya.
"Wih! Ada teh manis nganggur nih. Buat saya, ya Pak?" Sakura menatap secangkir teh yang terletak di samping tumpukan map dengan tatapan penuh harap. Pria itu membetulkan letak masker yang menutupi mulutnya lalu mengangguk pasrah. Begitu mendapat persetujuan dari sang empunya minuman, Sakura menghabiskan teh itu dalam sekali teguk.
Sakura tersenyum senang ketika ia meletakkan cangkir kosong dengan sedikit tenaga. "Makasih ya, Pak. Kebetulan saya belum makan apa-apa."
Gaara masih berdiri, menatap Sakura dengan tingkah tidak sopannya. Pria berambut perak itu menghembuskan napas saat ia melihat Gaara. Mendapat gerakan kepala sebagai isyarat untuk duduk di samping Sakura, Gaara pun segera duduk. Sakura kembali mengayunkan kakinya sembari menatap seluruh ruangan ini. Sedangkan Gaara menatap meja pria berambut perak itu. Di sana ada setumpuk berkas dalam map, papan nama bertuliskan Hatake Kakashi, dan cangkir yang kosong.
Tanpa bicara apa-apa, Kakashi menyodorkan satu map yang cukup tebal ke hadapan Sakura. Sakura menampilkan cengirannya saat ia membuka map berwarna hijau itu. Beberapa lembar kertas langsung berhamburan jatuh ke bawah, untung ada Gaara yang dengan sigap memungut semuanya. Dari dalam map itu, Sakura mengambil kertas yang kosong. Ia mengambil pena kemudian mulai menulis.
"Siapa namamu?" tanya Kakashi sambil menilik penampilan Gaara dari ujung rambut sampai setengah badan yang terlihat. Rambut Gaara berantakan, wajahnya masih dipenuhi dengan keringat yang mengalir dari pelipisnya. Ia memakai kaos hitam yang lengket di badannya.
"Sabaku No Gaara, Pak." Gaara menjawab sopan.
Kakashi menganggukkan kepalanya. "Saya baru lihat kamu. Kelas sepuluh, ya?"
"Iya, Pak. Saya kelas 10 IPS 4."
Kakashi kembali mengangguk. Sebentar matanya melirik Sakura yang bersemangat untuk menulis pengakuan dosanya. Pandangan Kakashi kembali tertuju pada Gaara yang masih setia menatap lurus matanya.
"Kamu ada masalah apa sama dia?"
Gaara menggaruk kepala bagian belakangnya yang sama sekali tidak gatal. Apakah dia harus bercerita? Setelah dipikir-pikir lagi, ini masalah sepele sih. Ini juga salahnya karena memancing murka Sakura.
Merasa bahwa atmosfer keheningan melingkupi mereka, Sakura menghentikan acara menulisnya. Matanya beralih untuk mengamati dua laki-laki yang sedang duduk berhadapan ini. Kakashi melipat tangannya dengan siku bertumpu pada meja, sedangkan Gaara masih menggaruk-garuk kepalanya sambil menatap Sakura dengan pandangan yang mengatakan 'aku-harus-apa?'. Sakura balas menatap Gaara dengan tatapan 'apa?'. Kakashi mengusap wajahnya gusar.
"Aku saja yang cerita!" Sakura berseru dengan kesal. Mendengar itu, Kakashi dan Gaara langsung menatap Sakura yang sudah berdehem beberapa kali.
"Jadi.. Selesai upacara, Lee teriak-teriak kegirangan karena katanya Bu Anko ada urusan dan tidak bisa masuk. Mendengar kabar bahagia itu, saya sebagai anak yang baik memutuskan untuk tidur, ya kan? Daripada saya bolos ke kantin enakan saya tidur. Nah.. Pas saya sudah enak-enakan tidur, tiba-tiba Bu Anko gebrak meja terus marah-marah. Akhirnya saya disuruh hormat bendera. Ternyata kabar dari Lee itu adalah gosip murahan. Lee itu memang penggosip, Pak! Gara-gara gosip dia, saya jadi kena hukum!" Kakashi menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara Gaara yang melihat Sakura bercerita dengan gerakan tangan serta ekspresi yang mendukung hanya tertawa kecil. Ekspresi Sakura.. Lucu!
"Berhubung ini adalah salah saya karena percaya gosip dari Lee, saya bertekad untuk menjalani hukumannya dengan baik. Semuanya baik-baik saja, Pak. Saya hormat bendera sambil nonton orang tanding basket. Tiba-tiba, bolanya itu lari ke luar lapangan dan berhenti di dekat kaki saya. Terus ada yang teriak, 'Oi! Tolong lempar bolanya!'. Karena mereka minta tolongnya tidak sopan, ya.. saya suruh ambil sendiri. Salah satu dari mereka datang, orang itu ialah si anak tengil ini! Dia yang mancing-mancing saya untuk marah berkat nada menyindir sok hebatnya. Yang buat saya lebih marah lagi, dia bilang saya pendek, Pak! Dia menghina fisik saya! Sebagai balasannya, saya tonjok dia." Sakura mengakhiri ceritanya dengan senyuman manis yang bisa diterjemahkan sebagai seringaian setan. Kakashi memejamkan matanya sejenak kemudian helaan napas kembali terdengar. Gaara yang mendengar cerita super detail dari Sakura hanya tersenyum malu dan mengangguk untuk menyatakan bahwa apa yang diceritakan Sakura itu benar. Sakura yang baru selesai story telling kini duduk dengan napas terengah karena cukup lelah dengan gerakan tangan, nada yang mendukung, serta ekspresi yang ia keluarkan secara alami.
"Kalau begitu ka-"
"Kami sudah berbaikan, Pak." Gaara memotong kalimat Kakashi yang sudah dapat ditebak. Kakashi mengangguk mengerti.
"Lain kali jangan sampai terjadi lagi. Kamu, Sakura, jaga emosi kamu. Jangan sampai mukul anak orang lagi. Kamu juga Gaara, jaga nada bicara kamu. Kalau ketemu orang sejenis Sakura, kamu bisa lebih parah dari ini. Itu saja pesan dari saya. Karena sudah berbaikan, tidak perlu berdamai di sini lagi. Kalian boleh kembali ke kelas."
Sakura dan Gaara mengangguk serempak. Mereka sama-sama beranjak dari bangku itu, Gaara si anak baru masih menunjukkan sopan santunnya dengan menyalam Kakashi. Berbeda dengan Sakura yang memang selalu bertindak semaunya. Dia sudah berdiri di ambang pintu dengan cengiran kuda khas yang menghiasi wajah cerianya.
"Siap, Pak! Saya pamit dulu, ya!" seru Sakura sambil memakai pantofel hitamnya.
Kakashi tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya memijit pelipisnya karena pusing dengan tingkah laku Sakura. Untuk merespon salam undur diri dari Sakura ia hanya menggerakkan tangannya seperti mengusir kucing yang masuk ke dapur. Setelah mendapat izin dari Kakashi, Sakura berjalan meninggalkan ruang konseling itu. Gaara yang masih ada di dalam cepat-cepat keluar dan memakai sepatu olahraganya. Ia berlari kecil, menyusul Sakura yang sudah beberapa langkah di depannya. Beberapa langkah kemudian posisi mereka sudah sejajar.
"Habis ini mau kemana?" tanya Gaara sembari menuruni tangga bersama Sakura yang bergerak lincah.
"Antara bolos atau masuk kelas soalnya ini jam olahraga, katanya gurunya lagi ada urusan." Sakura menjawab seadanya.
Sekarang mereka berhenti di koridor laboratorium. Kalau terus menyusuri koridor, ia akan sampai ke kantin. Kalau ia berjalan lurus dan lewat lapangan basket, ia akan kembali ke kelasnya yang ada di lantai dua. Sebaiknya dia berjalan ke arah mana?
"Mau bolos atau belajar?" Gaara bertanya untuk memastikan. Sakura menggeleng tidak tahu. Ia ragu. Ia teringat akan ancaman Kakashi tadi. Kalau kali ini peringkatnya turun, Ibunya akan menceramahinya habis-habisan!
"Bingung." jawab Sakura dengan melirik koridor dan lapangan basket secara bergantian.
Hatinya masih ragu. Hatinya ingin ia makan enak di kantin, sedangkan otaknya ingin dia masuk kelas dan belajar Fisika. Sakura mendesah frustasi. Keputusan ini sangat sulit. Sama sulitnya dengan disuruh memilih makan bakso atau nasi goreng. Semuanya sama-sama enak!
"Masuk kelas sana."
Deg!
PLAK!
Kejadian itu begitu cepat. Gaara menyarankannya untuk masuk kelas sambil mengacak-acak rambut pendeknya. Jantung Sakura sempat berhenti berdetak sesaat. Namun tubuhnya tetap memberi respon tak kalah cepatnya. Secepat kilat, Sakura mengayunkan tangan kanannya untuk mendarat di dataran pipi mulus milik Gaara. Sekarang pipi Gaara memerah dengan cap lima jarinya di sana.
Sakura yang tadinya berdiri membelakangi Gaara kini membalikkan tubuhnya sehingga mata mereka dapat beradu. Gaara mematung di tempat dengan wajah syok akibat perbuatan Sakura. Ia memegang pipinya yang merah dengan wajah bingung. Sedangkan Sakura hanya menghembuskan napas lalu mengusap wajahnya gusar. Perasaan tidak enak menyelinap masuk ke dalam hatinya. Ia dirundung rasa bersalah, sedikit tepatnya. Sedikit rasa bersalah.
"Kepala itu bagian yang suci! Jangan berani memegangnya lagi atau kupatahkan tanganmu!" seru Sakura dengan wajah galak. Gaara masih diam mematung. Sakura yang kesal dengan tingkah Gaara dan tingkah dirinya memutuskan untuk pergi ke kelas.
Gaara tidak berkomentar apa-apa namun pale green itu masih setia memandangi punggung Sakura yang semakin cepat menghilang karena gadis gila itu berlari menuju tangga untuk naik ke koridor kelas 11 jurusan IPA. Gaara masih terdiam sampai punggung Sakura benar-benar hilang dari pandangannya. Satu lengkungan senyum terbit menghias wajahnya yang merah berkat tamparan Sakura.
"Haruno Sakura, ya? Anak yang ajaib." gumam Gaara lengkap dengan senyum manis andalannya.
"Hei! Gaara! Ayo, masuk kelas." Satu sahutan dari laki-laki berambut biru dongker dengan model pantat ayam itu membuat Gaara segera meninggalkan koridor laboratorium. Ia berjalan menghampiri orang yang memanggilnya.
"Masalahmu sudah beres?" tanya orang itu dengan memandang Gaara yang sampai sekarang masih tersenyum. Kening orang itu mengkerut. Iris onyx tajam miliknya meneliti penampilan Gaara dari atas sampai bawah. Gaara normal, tidak ada yang berubah dari tampilannya. Lantas, kenapa dia tersenyum?
"Kau sudah gila, ya? Dari tadi senyum-senyum sendiri."
Gaara menoleh ke arah temannya yang sepantar dengannya. Senyumnya semakin mengembang. "Kau yang gila, Sasuke. Tumben sekali banyak bicara." balas Gaara dengan kekehan mengejek. Temannya yang bernama Sasuke itu mendengus kesal lalu berjalan duluan, meninggalkan Gaara yang entah kenapa masih saja tersenyum.
"Tunggu aku, Sasuke!" seru Gaara sembari lari mengejar Sasuke yang sudah jauh di depan.
Sementara itu, Sakura sudah duduk manis di bangku kesayangannya. Ia menenggelamkan kepalanya pada lipatan tangannya. Pipinya bersemu? Tentu saja tidak. Dia hanya mencari posisi nyaman untuk tidur. Kepikiran akan kejadian tadi dan merasa bersalah? Tidak juga, Sakura cepat sekali melupakan semua hal yang terjadi pada dirinya. Ia hanya berusaha untuk tidur agar kepalanya tidak penuhi segala omong kosong.
"Hei, jidat lebar. Kau kenapa?" Seorang gadis bermata coklat menghampiri meja Sakura. Sakura yang tadinya sibuk menepuk-nepuk pipinya kini memandangi gadis bercepol yang jelas lebih tinggi darinya.
"Anak TK tidak perlu tahu." jawab Sakura dengan sinis. Gadis itu menggeram kesal lalu secara tiba-tiba ia menepuk kening Sakura dengan keras. Sebagai gadis yang memiliki respon yang bagus, Sakura langsung bergerak untuk mematahkan lima jari temannya. Gadis itu merintih kesakitan sehingga Sakura melepaskannya.
"Kau ini makin hari makin gila!" keluh gadis itu sambil memijat-mijat jarinya yang sudah berbunyi 'tek' berkat usaha Sakura yang berniat mematahkan jarinya.
"Kau yang gila karena mengganggu orang gila." Sakura membalas asal-asalan. Gadis itu menghembuskan napas, meluapkan rasa kesal atas tingkah Sakura.
"Kakak mau tidur dulu. Anak TK tidak boleh mengganggu, ya!" Sakura mengusap-usap kepala gadis bercepol dua itu. Setelah itu dia mengambil tas ransel hitamnya sebagai bantal dan berbaring di lantai.
"Aku lebih tua darimu, sialan!" Gadis yang diejek Sakura dengan sebutan anak TK itu berseru kesal. Sayangnya orang yang sedang diumpati sudah terlelap tidur.
Haruno Sakura memutuskan untuk mengulangi kegiatannya yang sempat tertunda. Dari tadi pagi dia ingin tidur. Ia berani melakukannya karena saat ini tiga jam pelajaran Penjasorkes. Kebetulan sekali, gurunya sedang ada urusan. Selanjutnya adalah dua jam Fisika, dan gurunya yang baik hati tidak akan masuk kecuali saat pelajaran tambahan nanti. Atas dasar itulah Sakura berani untuk tidur.
Agar tidak terlena, Sakura selalu meminta Tenten membangunkannya kalau ada guru. Ya, gadis bercepol dua dengan mata coklat yang sedari tadi Sakura ejek dengan sebutan anak TK itu aslinya bernama Tenten. Ia adalah orang yang duduk di sampingnya sekaligus teman baiknya. Hal yang harus kalian ketahui, di kelas ini mereka duduk sendiri-sendiri.
Dan sampai sekarang Sakura masih tertidur nyenyak, sedangkan Tenten mengawasinya seperti seorang Ibu pengertian.
Terima kasih pada Tenten.
"Hei, jidat! Jidat! Jidat!" Tenten yang masih setia duduk di bangkunya menendang Sakura yang masih tidur di bawah lantai. Sakura yang dipanggil hanya menggeliat dengan gumaman tidak jelas.
"Bu Kurenai sudah di sini! Bangun sekarang atau kau akan mati!" Tenten kembali berseru heboh. Sakura masih menggeliat tidak jelas.
Hazelnut Tenten melebar tatkala Kurenai sudah melangkah masuk ke kelasnya. Geram akan tingkah Sakura, Tenten memutuskan untuk menendang Sakura sekuat tenaganya sehingga gadis itu meringis pelan setelah bangun dari tidurnya. Emerald itu menatap Tenten dengan sorot mata sinis, layaknya leser pembunuh yang siap mencincang tubuhmu.
"Kau sedang apa, Sakura?" Kurenai yang melihat Sakura yang terduduk di lantai bertanya sembari berjalan menuju barisan Sakura. Sakura masih menatap Tenten. Tetapi gadis itu hanya menyunggingkan senyum masam kemudian berbisik pelan, "Maafkan aku teman."
Sakura yang mendengar namanya dipanggil pun menoleh. Ia menggaruk-garuk kepala bagian belakangnya yang sama sekali tidak gatal. Cengiran kuda khasnya kembali ia tunjukkan khusus untuk Kurenai.
"Kau ingin bersantai saat pelajaranku?" tanya Kurenai dengan senyum sinis dan sindiran pedas andalannya.
Sakura tertawa hambar sambil berdiri. Ia memutuskan untuk duduk manis di bangkunya. "Tentu saja tidak, Bu. Saya suka pelajaran ini jadi saya tidak mungkin bersantai. Saya akan belajar dengan giat, Bu!" Sakura menjawab dengan mengguncangkan kepalan tangannya di udara, tanda dari semangat. Kurenai manggut-manggut.
"Bagaimana kalau kamu menjawab beberapa soal untuk pemanasan?" tawar Kurenai dengan senyum sinisnya. Sakura kembali tertawa hambar kemudian mengangguk.
"Misalkan ada dua kereta yang masing-masing bermassa empat ratus kilogram dan enam ratus kilogram. Mereka bertumbukan lalu menyatu. Jika kereta pertama kecepatannya seratus lima puluh kilometer per jam. Berapa kecepatan kereta kedua?" Kurenai mulai melempar soal lisan tanpa jeda.
Sakura yang sedari tadi sudah berpikir untuk memecahkan soal itu kini mengeluh kesal. "Kalau lisan begini angkanya jangan susah begitu, Bu. Saya susah untuk konversi satuannya. Jangan seratus lima puluh, Bu." keluh Sakura kesal.
Kurenai menghembuskan napasnya. "Baiklah, kita ganti angkanya. Yang lain juga cari jawabannya berapa kalau kecepatan kereta pertama jadi seratus delapan puluh kilometer per jam?"
Mendapat angka baru, Sakura dengan gesit menghitung semua hanya dengan sedikit coretan tak kasat mata. "Dua puluh meter per sekon." Sakura menjawab tanpa ragu. Murid lain hanya memandangi Sakura yang memasang senyum lebar.
"Benar." Kurenai mengangguk kesal. Mendengar jawaban yang ingin didengarnya, Sakura pun tersenyum senang. Ia merubah posisi duduknya menjadi bersandar pada bangkunya sembari mengentakkan kakinya yang tidak beralaskan apapun.
"Baiklah, kita lanjut ke materi selanjutnya. Buka buku kalian halaman seratus dua puluh satu. Baca materinya. Nanti Ibu akan bertanya." Kurenai kembali berjalan ke arah meja guru dan meletakkan beberapa buku cetaknya dengan perasaan kesal karena Sakura berhasil menjawab soal dengan cara lisan. Sakura yang menjadi penyebab kekesalan Kurenai pun tertawa setan.
Satu jam pelajaran berlalu. Itu berarti pelajaran Fisika berakhir sampai di sini. Mereka harus lanjut dengan pelajaran Kimia. Tidak ada yang istimewa. Seperti biasa, Tsunade si guru tua bergaya remaja menyuruh Sakura untuk presentasi mendadak. Murid lain yang dapat bersantai seperti biasa hanya menganggap Sakura sebagai angin lalu. Sampai bel pulang mereka serentak keluar karena sudah membereskan buku dari tadi. Sedangkan Sakura masih harus membenahi bukunya dan melaksanakan tugas piket karena ia kebagian hari Senin.
Selesai dengan semuanya, Sakura segera keluar dari kelas. Ia memakai pantofelnya dan berjalan keluar. Sakura berjalan santai namun langkahnya harus terhenti karena dari belakang ada orang yang menarik tasnya. Sakura menoleh ke belakang, bersiap untuk murka untuk kedua kalinya. Namun ia hanya menghembuskan napas lelah saat matanya kembali bertumbukan dengan iris pale green menyebalkan itu..
"Aku akan menghajarmu kalau kau melakukan ini sekali lagi, adik kecil." ucap Sakura dengan nada penuh penekanan. Ia menatap Gaara yang sekarang sedang cengar-cengir tidak jelas. Tidak ingin Sakura marah lalu memukulnya, Gaara melepaskan cengkraman tangannya dari tas Sakura.
"Kau lebih kecil dariku, Sakura." balas Gaara cuek.
Sakura merotasikan bola matanya. Dia tidak peduli lagi. Terserah Gaara mau berkata apa. Yang ia mau hanyalah pulang ke rumah dan tidur. Ia sudah terlalu lelah meladeni Gaara yang memang banyak tingkah.
Sekarang adik kecil itu mengganggunya dengan menabrak pantofel Sakura dari belakang. Sakura menggeram dengan tangan terkepal.
"Kau mau apa sih?" tanya Sakura gusar. Ia sengaja menghentikan langkahnya agar Gaara yang berjalan di belakangnya menabrak tasnya. Gaara kembali cengar-cengir. Sakura mengusap wajahnya, menahan kesal. Ia sudah diperingati agar tidak menonjok sembarangan lagi. Kakashi sudah mengancamnya karena itu ia harus menahan emosi.
"Pulang bareng." Gaara menjawab saat tubuhnya sudah sejajar dengan Sakura. Helaan napas kembali terdengar dari mulut Sakura.
"Memangnya rumah kita searah?" tanya Sakura sambil berjalan duluan. Gaara juga berjalan, sejajar dengan Sakura.
"Memangnya harus searah?" Gaara menjawab pertanyaan Sakura dengan mengajukan pertanyaan baru.
Sakura mendengus kasar. "Kalau tidak searah untuk apa pulang bareng?"
"Untuk menghabiskan waktu bersama."
Sakura menghentikan langkahnya sehingga Gaara turut berhenti. Kakinya sedikit berjinjit kemudian tangannya terulur ke atas kepala Gaara.
Ctak!
Sakura berhasil menjitak kepala Gaara dengan keras. Gaara meringis kesakitan. Ia mengusap-usap kepalanya. Tetapi Sakura tidak peduli, ia hanya berjalan duluan meninggalkan Gaara yang tidak mengerti kenapa Sakura menjitak kepalanya. Gaara melangkah dengan kaki panjangnya sehingga mereka kembali berdampingan.
"Ayo, pulang. Ini sudah sore." Sakura menarik pergelangan tangan Gaara sehingga mereka terlihat seperti pasangan Ibu dan anak yang baru saja pulang dari pasar.
"Tapi kita pulangnya jalan kaki." Gaara mencicit pelan. Sayangnya Sakura tidak menghiraukannya.
"Memang harus jalan kaki! Adik kecil sepertimu tidak boleh bawa motor atau mobil ke sekolah. Kalau mau bawa kendaraan, bawa sepeda sana!" seru Sakura kesal. Gaara yang tangannya masih digenggam hanya tertawa.
"Kau terlihat seperti seorang Ibu." komentar Gaara dengan cengiran kuda khasnya. Untuk merespon komentar Gaara, Sakura hanya mendengus keras seperti kerbau.
Mereka menyusuri koridor lalu turun tangga. Sekolah sudah sepi, hampir setiap anak sudah pulang. Yang tersisa hanya sekumpulan orang pacaran, kakak kelas, dan orang-orang yang malas pulang ke rumah. Bangunan berbentuk jamur yang menjadi tempat untuk berkumpul dan menghindari panas serta hujan dipenuhi dengan orang pacaran dan para gadis rumpi.
"Sekarang Sakura sudah punya pacar ya!"
"Ciee Sakura.. Nggak jomblo lagi nih!"
"Selera Sakura bagus ya!"
Berbagai macam ledekan itu terdengar memenuhi telinga saat Sakura dan Gaara lewat di depan mereka. Namun Sakura tak mau ambil pusing, ia hanya menanggapinya dengan satu kata, "Berisik!" dengan nada sinis dan sorot mata tajam plus lengosan tak peduli. Gaara yang sampai sekarang masih digandeng hanya membalas dengan melempar senyum manis, tebar pesona pada para gadis yang duduk merumpi ria. Sampai keluar dari lingkungan sekolah pun Sakura masih menggenggam pergelangan tangan Gaara tanpa memperdulikan semua candaan teman-temannya. Begitu mereka naik ke tangga penyebrangan, Sakura melepaskan genggamannya.
"Kenapa dilepas gandengannya?" tanya Gaara yang kini sudah berjalan di samping Sakura.
"Memangnya kau mau digandeng seperti anak kecil?" sinis Sakura yang masih kesal. Gaara terkekeh. Tanpa sengaja, tangan Gaara memegang tas ransel Sakura.
"Tasnya berat, ya? Mau tukeran?" Gaara bertanya saat ia mengangkat tas Sakura dengan satu tangan.
Tas itu cukup berat.
"Boleh." Sakura menjawab singkat.
Mereka berhenti berjalan dan menepi di pinggir. Gaara dengan sigap melepaskan tasnya dan memberinya pada Sakura, begitu juga dengan Sakura. Selesai bertukar, mereka lanjut berjalan. Gaara memakai tas ransel Sakura sedangkan Sakura memakai tas ransel Gaara.
"Pantesan kamu pendek. Bawaannya saja berat begini."
Sakura mendengus. "Kalau kau keberatan, kita tukar lagi tasnya."
"Jangan! Mendingan kamu bawa tas aku. Ringan kan?"
"Ini isinya apa?"
"Pena, sepatu basket, sama baju olahraga."
Sakura menghentikan langkahnya. Ia melirik Gaara dengan pandangan kesal, sementara Gaara yang diperhatikan memasang senyum manis andalannya. Tangan Sakura kembali terulur ke kepala Gaara. Kali ini Gaara lebih dulu menangkap tangan Sakura.
"Daripada jitak kepala, lebih baik kamu mengusap kepala. Begini." ucap Gaara dengan menggerakkan tangan Sakura untuk mengusap lembut pucuk kepalanya.
Sakura sempat diam di tempat. Terkejut akan tingkah anak kecil di depannya. Namun beberapa saat kemudian ia langsung tersadar dan melepaskan tangannya dengan hentakan kasar.
"Besok harus ada satu buku di tas ini." perintah Sakura dengan nada bicara dingin.
"Ada satu buku tulis kok."
"Maksudku buku cetak."
"Oke." Gaara mengangguk patuh.
Mereka kembali menghabiskan waktu untuk bercakap-cakap. Semua hal menjadi topik pembicaraan. Jika kehabisan topik, salah satu dari mereka akan membuka mulut dan topik baru pun tercipta. Begitu seterusnya, sampai Gaara berhenti di saat mereka sudah setengah jalan menuju rumah Sakura.
"Kenapa? Jangan bilang ada yang ketinggalan." Sakura bertanya dengan nada was-was. Pandangannya beralih pada kedua ruas jalan. Ia sedang menghitung lamanya waktu untuk kembali ke sekolah jika benar ada yang ketinggalan.
"Ini.. daerah mana, ya?" tanya Gaara dengan wajah polos.
Sakura mendengus keras seperti kerbau. Tanpa menjawab pertanyaan Gaara, Sakura memacu langkahnya agar berjalan lebih cepat sehingga Gaara jauh tertinggal di belakang.
"Mati saja sana!" seru Sakura kesal.
To Be Continue
Huahahahaha! Akhirnya author bisa kembali ke dunia ini lagi. Author bersyukur karena bulan ini banyak libur jadi author punya banyak waktu untuk mengetik dan bisa update hehe.. Author juga seneng karena ide untuk cerita ini selalu mengalir deras bagai air terjun Niagara. Bulan ramadhan ini memang membawa berkah:))
Kayaknya sih ga ada lagi yang mau author sampaikan untuk readers tercinta. Jadi kita langsung masuk ke pembalasan review saja yaa
Cekidot!
Haruchi Nigiyama : Hamlilah ya, ada pair GaaSaku lagi. Author suka si sama mereka berdua jadinya pengen pake mereka terus wkwk Tapi author juga seneng sama pair lain juga kok ehe.. Masalah konflik si belum keliatan yaa, mungkin nanti bakal muncul sendiri (lah?) kalo berantem si yaa bisa kalian liat sendiri mereka berdua gimana wkw
Vinajesica37 : Tengkiyuuuu yass.. Konfliknya nanti kali ya, buat sekarang enak ngeliatin mereka berdua pedekate dulu kali yakk wkw
Luca Marvell : Harus ada konflik dongg tapi nanti ehe. Lucu amat cerita kalo ga ada konfliknnya wkwk
TikaChanpm : Iyaa pair langka yang juga author cinta. Meskipun mereka langka, author ga bakal bosen kok ehe
Lya907 : Harus sabar mbak, ini puasa;) (loh?)
Lmlsn : Doain aja supaya lucu yahh, soalnya author humornya agak receh begitu hehe
Nurulitas as Lita-san : Iyaa .. Maksud author gantian gitu. Di fic kemaren kan Gaara yang lebih tua, makanya di fic ini Gaara lebih muda. Gitu hehe
Okee.. Sekian balasan review dari author nista ini. Maapkeun kalau balesan agak gaje gaje gimana gitu yaa. Author harap kalian tidak bosan berkunjung lagi ke sini yaa. Tengs e lot buat yang dah read, fav, follow, dan ngereview. Author harap kalian bisa balik lagi ke ff ini.. Jan bosan berkunjung ke sini karena author selalu menanti kalian semua..
Btw, selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan!^^
Sampai jumpa di chap depan!
Dadahhhhhhh;)))
Dengan hati yang dipenuh cinta untuk readers tersayang,
Author Lumutan.
