My favorite girl

My favorite girl

By : Chess Sakura

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T+

Genre : Romance, Friendship, Drama(?)

Main Pair : Naruto x Hinata

Warning : AU,OOC,ANEH,Sulit di mengerti, Cerita pasaran. sangat Typo(s),Tanda baca salah, No EYD

A/N : aku masih sangat newbie, dan ini adalah ceritaku yang kedua. Jadi Maafkan jika banyak kata-kata yang aneh, atau jalan cerita yang membingungkan dan membosankan,

selamat membaca,

.

Chapter 2

~~~~~Rindu dan Pertemuan~~~~~

.

.

.

.

Kring…..Kring…kringg…..
.

.

.

Hinata membuka kedua kelopak matanya saat mendengar alaram yang di pasangnya tadi malam berbunyi. Di raba-raba atas meja di samping tempat tidurnya . Mencari sebuah benda persegi yang terus berdering itu dan setelah menemukan, di tekan tombol off untuk menghentikan suara yang telah mengganggu pendengarannya. Seketika Suasana kamar dengan dominan warna lavender itu menjadi sunyi dan yang hanya terdengar suara burung-burung bernyanyi diluar kamar. Hinata bangun dari tidurnya dan duduk sejenak di samping tempat tidur. Hinata terdiam dan banyangan tentang mimpi semalam kembali berputar di kepalanya. Mimpi yang akhir-akhir ini selalu di alami Hinata, Mimpi saat dia berpisah dengan sahabat kecilnya. Namikaze Naruto. sahabat semasa kecil Hinata yang harus pergi dan pindah ke Amerika karena orang tuanya. Hinata tolehkan kepalanya kearah meja belajar. Dia berjalan mendekat kemeja belajar untuk mengambil sebuah Foto yang bertengger anggun di atas meja itu. Hinata Lihat Foto yang berbingkai bunga matahari itu dengan raut wajah sendu, diusapnya foto yang menampakan gambar anak lelaki dengan iris safir yang sedang merangkul gadis kecil dengan iris lavender yang tersipu malu. Kedua anak kecil itu tampak sangat bahagia. Terlihat dari senyuman yang mereka ukir.

"Naruto Kun,"Lirih Hinata dengan mengusap gambar anak lelaki bersurya blonde itu,

"Aku sangat merindukanmu" Genangan air mata mengumpul di mata lavendernya dan setetes demi setetes jatuh di atas Foto. Hinata menangis karena rasa rindunya yang amat dalam pada sahabat kecilnya sekaligus orang yang dia cintai itu.

"Kau tahu Naruto kun ?!, malam ini aku memimpikanmu lagi dan aku tidak tahu sudah berapa kali aku memimpikan perpisahan kita. Walau itu hanya mimpi, aku tetap senang karena bisa melihatmu," Hinata tahu pertanyaannya tidak mungkin di dengar dengan sahabatnya, tapi setidaknya dengan memandangi dan berbicara walau hanya pada sebuah foto, rasa rindu di hatinya bisa berkurang.

"Apa mungkin ini suatu pertanda aku akan bertemu dengan mu lagi Naruto kun. Setelah perpisahan kita enam tahun yang lalu dan putusnya komunikasi kita tiga tahun ini. membuatku semakin merindukan kehadiranmu," Foto yang di genggam Hinata semakin banyak terjatuhi oleh air matanya, rasa sesak dan sakit menyerang paru-paru dan hatinya. Rasa rindu ini benar-benar telah menyiksanya.

"Na..Naruto kun..," Terus dan terus air mata itu membasahi foto yang berada digenggamannya, di gigit bibirnya untuk mengurangi suara Isakan yang terus keluar itu. Hinata tidak ingin ada yang mendengar Isakan kesedihan itu.

"A..aku akan selalu menunggu kehadiranmu seperti janjiku enam tahun yang lalu"Hinata hapus air mata yang telah membasahi pipinya dan yang masih menggenang di matanya. kemudian beralih ke foto di genggamannya, di usap dengan lembut foto itu untuk membersihkan air mata yang telah membasahi foto kenangannya itu dan meletakkan kembali ketempatnya semula. Senyum yang terkesan di paksakan di Ukir di wajahnya. Mengusap Foto itu untuk kesekian kalinya.

"Cepatlah kembali aku sangat merindukanmu"

.

.

.

~~~~~~~^.^~~~~~~~

Di Bandara international konoha terlihat seorang pemuda yang baru keluar dari pesawat, dia terus berjalan dengan matahari pagi yang bersinar cerah di belakangnya membuat dia tidak terlalu jelas untuk di lihat. Berjalan dengan percaya diri menuju pintu keluar bandara, Semua mata tertuju pada dirinya, dan pasang mata yang paling banyak adalah para kaum hawa yang sedang terpesona. Perlahan demi perlahan sosoknya mulai terlihat dengan jelas. Rambut Blonde jambrinya, Badan tinggi dan atletis, Wajah dengan tanda lahir seperti kumis Kucing yang tak mengurangi ketampanannya, Mata dengan warna Biru tenang dan terakhir senyuman yang terus diukirnya. Dari ciri-ciri tersebut kita sudah pasti tahu dia adalah Namikaze Naruto Pemuda yang telah enam tahun meninggalkan tanah kelahirannya.

Naruto terus berjalan dengan menarik Kopernya menuju pintu Keluar, senyuman melebar saat dia melihat hamparan warna biru di langit dan sambutan dari angin sejuk yang membelai kulitnya dan menggoyangkan rambut blonde jambrinya. Semua kaum Hawa yang sejak dari tadi memperhatikan Naruto di buat tepar dengan sosok yang mereka lihat. Meraka terpesona dengan sosok pemuda blonde itu. Dengan tak memperdulikan banyak pasang mata yang mengarah kepada dirinya, Naruto berjalan keluar bandara. Dia sudah tidak sabar ingin berjumpa kembali dengan sahabat kecilnya. Langkah Naruto terhenti karena teriakan dari seorang perempuan yang memanggil namanya. Berbalik untuk melihat orang yang telah memanggilnya dengan cara tidak sopan itu, sebelum arah baliknya sempurna Naruto sudah mendapat sebuah,-

Bletak (baca: Jitakan maut)

"I..Itai!" Ringisnya seraya mengelus kepala Kuningnya yang agak benjol karena ulah gadis yang meneriaki namanya tadi. Dengann masih mengusap-ngusap kepala kuningnnya pemuda itu melihat pelaku penjitakan(?)

"Kau kenapa menjitaku sakura chan?."Tanya Naruto pada gadis dengan rambut pink di depannya ini.

"kau bilang kenapa!?," Aura-aura membunuh muncul di sekeliling gadis bernama haruno sakura ini. ditarik nafasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya.

"KENAPA KAU NIGGALIN AKU, HAH! KAU KU SURUH MENUNGGU SELAMA KU KETOILET DAN SETELAH KU KEMBALI KAU MALAH TIDAK ADA. APA KAU INGIN MEMBUATKU TERSASAR DI KONOHA DAN MENJADI KELANDANGAN, APA KAU LUPA INI PERTAMA KALINYA AKU DATANG KEKONOHA" Omel sakura pada pemuda bermata sapir itu. Kesal sangat terlihat jelas di wajahnya

"kau berlebihan sakura chan, kau tidak akan menjadi gelandangan di sini, jika kau tersesat, kau kan bisa kembali lagi ke Amerika" Jelas Naruto dengan gampangnya dan tampang tanpa dosa. Muncul banyak empat sudut siku-siku dan kepulan asap di kepala pink sakura saat mendapat jawaban seperti itu. Di eratkan Kepalan tangannya menimbulkan bunyi yang membuat Naruto yang mendengar meneguk ludahnya,di tambah dengan Aura-aura Membunuh sakura.

"sa..sakura chan ka..kau mau a..apa?!"keringat dingin terus mengalir di pelipis naruto.

"Kau bilang apa tadi,-" Sakura memperkuat kepalannya dan memasuki mode devilnya. Naruto berfikir dan dia Baru Menyadari Jika perkataannya tadi, 'Salah'.

"NA-RU-TO"lanjut Sakura dengan mengarahkan tinjunya tepat diwajah naruto membuat Pemuda blonde itu langsung terlempar jauh hingga kelangit(?)

~~~~~~^.^~~~~~~~

.

.

Didalam perjalanan

~~~Naruto pov~~~

Sepanjang perjalan bayangan-banyangan tentang sahabat kecilku terus berputar. Membuat ku Tidak sabar ingin bertemu dengannya lagi. Sekarang pasti dia sudah banyak berubah. Selama tiga tahun putus komunikasi dengannya membuat rasa rindu ini semakin dalam. Beruntung Otou san mengijinkanku untuk kembali lagi kesini.

Ingatan tentang Perpisahanku dengannya kembali berputar di kepala. Enam tahun yang lalu aku memintanya untuk berjanji tidak akan suka dengan lelaki lain dan akan menjadi pendampingku suatu saat nanti. Aku tidak habis pikir kenapa di usiaku yang masih anak-anak dapat meminta sesuatu seperti itu. Apa mungkin karena saat itu aku sangat takut kehilangan dirinya sampai bisa membuatku berbicara hal seperti itu. Takut itu yang ku rasakan saat dia tak kunjung menjawab pertanyaanku , Namun Rasa takut itu langsung luntur saat tiba-tiba sahabat kecilku itu menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang ku harapkan.

oh sunggu aku sudah tidak sabar bertemu dengan sahabat kecilku itu.

'Tunggu aku Hinata'

.

.

.

~~~~Normal Voc~~~~~

Dari tadi sakura terus memperhatikan Naruto yang sedang menyetir dengan perasaan takut. Bagaimana tidak takut jika pemuda di sampingnya ini terus saja tersenyum, tertawa, nyengir, tertawa lagi, tersenyum lagi seperti orang tidak waras. Dan kegiatan itu sudah di lakukanya sejak mobil ini melaju. Dengan menarik nafasnya sakura memberanikan diri untuk bertanya pada Naruto

"Naruto kau tidak apa-apa?" Tanya sakura, Khawatir terlihat jelas di wajahnya.

"hm" Hanya gelengan dan senyuman yang di berikan Naruto untuk jawabannya.

"Kau yakin?!"

"hm"

"Apa kau sakit?" sakura mengecek suhu di dahi Naruto 'tidak Panas' batinnya.

"Kepalamu tidak terbenturkan?" Tanyanya lagi.

"Hm" Lagi Naruto hanya menjawab Pertanyaan sakura dengan gerakan kepalanya saja. Mengangguk dan menggeleng dan itu membuat rasa khawatir sakura semakin Menjadi.

"Jangan bilang kau terkena gila mendadak karena pukulanku tadi!?" Tanya sakura dengan hati-hati. Takut dan khawatir sangat terlihat jelas di wajahnya.

"hahahahahahaha," Naruto Tertawa saat mendengar pertanyaan sakura. Di liriknya gadis pink itu yang sedang memasang wajah bingung.

"kau bicara apa sih sakura chan, aku tidak akan gila karena pukulan dari mu. Aku sudah terbiasa, Aku seperti ini karena aku sudah tidak sabar ingin bertemu,-" Naruto tersenyum Lebar saat kembali teringat sebentar lagi dia akan bertemu dengan sahabat kecilnya. Senyuman yang lebih lebar dari yang tadi membuat Sakura semakin bertambah bingung plus khawatir.

'Lain kali aku tidak akan memukulnya terlalu keras' Batin Sakura

.

.

.

~~~~~~~^.^~~~~~~~

Hinata voc

Ku menuruni tangga menuju ruang makan dengan sangat tidak bersemangat. Mimpi semalam terus saja teringat membuat rasa rindu ini semakin dalam. Ku lihat semua keluargaku yang sudah berkumpul di meja makan. Ada ayah yang sedang membaca Koran dengan kopi di depannya. Neji Nii san yang sedang menikmati rotinya dan Adik kesayanganku Hanabi yang sedang sibuk dengan buku pelajarannya. Ku ukir senyuman di wajah ini. aku tidak mau keluargaku mengetahui tentang kesedihanku.

"Ohayou Otou san, Nii san, dan Hanabi chan." Sapaku seriang mungkin.

"Hn" Jawab ayah seperti biasa datar tanpa ekspresi dan tak mengalihkan perhatiannya dari koran. ah Padahal aku sangat menginginkan ayah menjawab salamku dengan melihat kearahku. Tapi sepertinya keinginan itu harus ku pendam.

"Ohayou" Balas Neji nee san sama seperti ayah. Datar. tapi walaupun begitu Nee san menyempatan melihat dan tersenyum kearahku.

"Ohayou nee san, " Balas adikku tersenyum lembut kearahku.

Aku tersenyum pada mereka dan duduk di samping Hanabi. Ku ambil satu roti lalu ku olesi dengan selai coklat dan mulai memakannya.

.

"Nee san kenapa?" Kegiatanku berhenti saat Hanabi bertanya padaku, Ku menoleh melihat ke arahnya. Khawatir itu yang ku lihat di Mata levendernya.

"Nee san tidak apa-apa Hanabi chan" Jawabku tersenyum palsu.

"Jangan berbohong, akhir-akhir ini nee san terlihat tidak bersemangat, Pasti ada sesuatu yang sedang Nee san tutupi dariku?!" Tanya Hanabi yang terus melihat intens ke arahku.

"Tidak ada yang Nee san tutupi dari mu Hanabi chan, Nee san hanya kecapean karena tugas di sekolah dan itu membuat nee san Terlihat tidak bersemangat " Ku harap jawabanku ini dapat menyakinkan Hanabi.

"Haah, ya sudah jika tidak mau cerita" Hanabi mengehela napas kecewa, dan aku hanya menanggapi itu dengan senyum menyakinkan.

.

.

~~~~ Normal Voc ~~~~~

.

.

Hinata menghentikan laju sepedahnya di depan sebuah rumah berlantai dua, melihat kearah rumah dengan gaya minimalis itu dengan raut wajah sendu. Rumah itu adalah rumah yang selalu di kunjungi Hinata dulu untuk bermain dengan sahabat kecilnya, namun sekarang sudah tidak lagi. Ingatan masa-masa kecil Hinata kembali berputar di kepalanya. Dia ingat di rumah ini pertama kalinya dia berjumpa dengan sahabatnya itu. Saat itu Hinata berumur 6 tahun, dia di ajak oleh Ayah dan ibunya berkunjung kerumah sahabat mereka yaitu rumah ini. saat itu Hinata hanya bisa bersembunyi di balik kaki ayahnya, dia begitu takut dan malu untuk bertemu dengan sahabat kedua orang tuanya, Minato dan Kushina. Sampai seorang anak kecil dengan rambut blonde jambrik dengan mata sapirnya menghampiri Hinata.

Flashback

"Hai . kok kamu bersembunyi Begitu sih ?! kamu takut ya dengan ayah dan ibuku, tenang mereka tidak galak kok " anak lelaki itu tersenyum pada Hinata kecil , dia mengulurkan tangannya mengajak untuk berkenalan.

"Perkenalkan Namaku Namikaze Naruto, kalau kamu?" Hinata awalnya kaget dan hanya bisa melihat tangan yang terulur kearahnya, Namun itu tidak berlangsung lama, di lihat anak kecil yang tersenyum itu dan menyambut uluran tangannya.

"Hyu..Hyuuga Hinata"jawabnya Gugup dan sedikit merona.

"Nah Hina chan mulai sekarang kita sahabatan ok " Ucap Naruto kecil tersenyum lembut pada Hinata dan mengulurkan jari kelingkingnya sebagai tanda persetujuan. Hinata tersenyum dan mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Naruto.

"ya kita sahabat"

.

.

~~~~End Flashback~~~~

.

.

.

"Nee san!. Hinata Nee san!" Lamunan Hinata Buyar saat Hanabi memanggilnya dengan begitu keras. Dia menoleh kearah adiknya itu.

"Ada apa sih Hanabi, Kenapa memanggil Nee san dengan berteriak" Omelnya pada Hanabi.

"Nee san yang tuli, Ku panggil dari tadi tapi tidak mau menjawab" Hanabi mengomel balik dan lebih keras dari Hinata.

"eh! gomen Nee san tidak dengar" Ucap Hinata menyesal.

" Nee san Sedang kangen dengan Naruto nii san ya?" Tanya hanabi dengan nada menggoda. Hinata tersentak dan hampir terjatuh dari sepedahnya. Melirik dengan cepat kearah adiknya itu.

"Hanabi bicara apa sih, Nee san hanya sedang melihat-lihat saja" Dusta Hinata.

"halah Nee san tidak usah berbohong kepadaku. Aku tahu Nee san pasti merindukan Naruto nii san kan !?" Ledek Hanabi

"Jangan-jangan yang membuat Hinata nee san tidak bersemangat akhir-akhir ini karena merindukan Naruto Nii san? " Lanjut Hanabi , Hinata memerah mendengar ucapan Hanabi.

"I..Itu...," Hinata benar-benar gugup untuk menjawab pertanyaan adiknya, dia sudah terpojok, wajahnya merah padam. Hanabi tertawa lepas dan bangga karena telah berhasil menggoda kakanya.

"hahahahaha yang sedang rindu" Godanya lagi, dengan masih menertawakan kakanya Hanabi mulai menggoes sepedahnya meninggalkan kakanya yang tersipu malu.

"Hanabi berhenti menertawakan Nee san!" Teriak Hinata seraya menyusul Hanabi yang sudah menjauh.

Dari kejauhan terlihat mobil sedang berwarna silver mendekat dan memasuki halaman rumah berlantai dua itu.

"Akhirnya sampai" Ucap pemuda bermata sapir yang keluar dari mobil silvernya.

"Jadi ini rumahmu Naruto" melihat sekaliling dengan mata emeraldnya dan berjalan mendekat kepemuda itu

"Hm" Mengangguk dan tersenyum pada gadis di depannya.

"Ayo masuk Sakura chan"Ajak Naruto.

~~~~~~^.^~~~~~

.

.

.

~~~Normal POV~~~~

Hinata terus mengayuh sepedahnya dengan sisa tenaga yang dia punya. lelah sangat terlihat jelas di wajah ayunya. Hari ini tugas sekolah yang di berikan begitu banyak dan harus di selesaikan hari ini juga dan dengan terpaksa Hinata harus pulang telat. Di pertambah kecepatan laju sepedahnya, dia ingin segera sampai di rumah sebelum matahari terbenam, dan agar tidak di marahi Ayahnya. Keringat mengalir di wajahnya, sesekali Hinata menyempatan melihat jam yang belingkar di lengan kirinya.

"Jam 5:58" ucapnya agak panik. Hinata terus menggoes sepedahnya menyelusuri jalan perkomplekan dan melewati rumah sahabat kecilnya. Karena ingin sekali sampai di rumah, Hinata tidak memperhatikan rumah itu. Dia terus melesat secepatnya agar buru-buru sampai dirumah. Jika diperhatikan lampu di rumah berlantai dua itu menyala dan di depan jendela terlihat seorang pemuda yang memperhatikan hinata.

"Hinata "ucapnya.
.

.

~~~~~^.^~~~~

.
.

"Hinata kenapa kemarin kau pulang telat?" Tanya Hiashi ayah Hinata di sela-sela sarapan pagi. Hinata menghentikan kegiatan mengoles rotinya. Dia melihat kearah ayahnya yang juga sedang memperhatikannya dengan wajah datar.

"uhm a..ano ke..kemarin ada tugas sekolah dan harus di se..selesaikan secepatnya, Hi..hina lupa bilang akan pu..pulang telat, sumimasen " Jawab Hinata agak takut dan menundukan kepalanya.

"oh" Hanya itu jawaban yang di terima Hinata. Hiashi ayah Hinata kembali melanjutkan kegiatannya membaca Koran. Hinata menghela nafas kecewa. kecewa dengan tanggapan ayahnya yang bertolak belakang dengan yang dia pikirkan. Dengan semangat yang sudah menurun dia lanjutkan kembali kegiatan mengoles selai di rotinya.

"Lain kali kau harus bilang jika ingin pulang telat" Ucap Hiashi tiba-tiba dan tak mengalihkan perhatiannya dari Koran. Hinata agak tersentak dan langsung melihat kearah ayahnya yang tertutupi Koran. Senyum tipis di ukir di bibirnya.

"Ha'i"

.

.

.
~~~~~~~^.^~~~~~

.

.

.

Dengan senyum di wajahnya Hinata memasuki wilayah KHS dengan mendorong sepedah ungunga, hari ini dia merasa senang karena sikap ayahnya lagi pagi. Terus berjalan dan sesekali membalas sapaan yang di lontarkan kepadanya, Hinata memasuki area parkir KHS dan menempatkan sepedah ungunya di tempat parkir sepedah. Mengambil tasnya dan berjalan memasuki gedung sekolah.

"Ohayou Hinata chan" Sapa seorang gadis dengan rambut bergaya ala orang cina, Hinata tersenyum pada gadis yang berlari mendekat ke arahnya itu.

"Ohayou Tenten chan" Balas Hinata. Dan kembali melanjutkan langkahnya.

"Hinata chan apa kemarin kamu kena marah karena pulang telat?" Tanya tenten dengan nada khawatir, Hinata tersenyum dan menoleh ke gadis di sampaingnya.

" Tidak, tapi Otou san hanya mengingatkanku untuk selalu bilang jika pulang telat" Jelasnya. Tenten tersenyum mendengar jawaban Hinata. Dia lega jika sahabatnya tidak kenal marah.

.

Mereka menghentikan langkahnya saat mendengar suara ribut dari para siswi dan siswa di belakang mereka, suara mengagumi menggema di KHS , semua berbondong-bondong untuk melihat dua murit baru yang memasuki gedung sekolah. Hinata dan tenten tidak dapat melihat karena terhalingi para siswi yang mengerubungi dua murit baru itu.

"Ada apa?" Hinata menoleh pada tenten untuk meminta jawaban.

"Itu Pasti anak baru yang di bicarakan anak-anak kemarin"Jelas tenten.

"Anak Baru?" Hinata kembali Melihat kearah kerumunan itu, yang sedikit demi sedikit meminggir untuk memberi jalan pada dua murit baru itu, walau Hinata masih belum bisa melihatnya karena masih ada siswi-siswi yang menghalangi pandangan Hinata. Hinata kembali melihat ke arah tenten.

"kemarin aku mendengar Gosip akan ada murit baru, lelaki dan perempuan pindahan dari Amerika " Hinata membulatkan kedua matanya saat mendengar penjelaskan Tenten.

"Amerika"Gumannya, Hinata buru-buru menoleh kearah kerumunan itu kembali. Hinata Membeku saat menyadari seorang pemuda dengan iris sapir dan rambut blonde jambrik berdiri tepat di depannya,

Deg…deg..deg..

Debaran jantungnya mulai bereaksi di luar kewajaran, wajahnya memerah dan malah bertambah merah saat Pemuda itu semakin mempersempit jaraknya dengan Hinata.

Pemuda itu melihat ke arah mata lavender gadis di hadapannya. Tersenyum pada gadis itu.

.

.

"Hai" sapanya.
.

.
"Masih ingat dengan ku" lanjutnya

.

.

.

.

.

TBC

A/N
HOHOHOHO chapter 2 selesai….
Gimana Minna apa ada kritik dan saran untuk chapter ini. Monggo Kalian sampaikan di REVIEW ya..ya..ya.. :D