Title : Sayonara

Author : cindyjung

Rate : T, M (untuk bahasa)

Genre : Angst, Incest

Pairing : YunJae (Yunho X Jaejoong)

Author Note : Hollaaa , akhirnya cerita ini dapat dibuat juga dengan beberapa pertimbangan mengenai jalan ceritanya XD wakaka. Waahhh senangnya ada yang suka sama cerita ini XD padahal tadinya sempet pesimis bakal publish cerita ini atau ngga tapi syukurlah ada juga yang mau baca wkwkwk

Balasan Review :

Holepink : yup ini kulanjut se asap mungkin :D semoga masih dapat menikmati cerita ini ya :D Terimakasih karena udah mau baca dan memberi review :D

Elmaesteryosephine : ini apdetttt kokkkkkkk XD terimakasih ya karna udah suka karya ini :D wkwkw. Sekali lagi makasih :D

Maulidahaerunisa : apteded (?) hehehe. Waduh jangan cakar Mr. Jung dong kan kasian L . makasih yah udah mau baca cerita ini dan sempt ngereview :D

All Guest : sekarang dilanjut! :D terimakasih karena sudah mau meninggalkan jejak siapapun wahai dirimu guest (?) wkwkwk

Balasan Review End

Di chap sebelumnya udah dibilang kalau ini Cuma bakal jadi dua part kan? Nah ternyata oh ternyata, kalau dibikin dua part itu terlalu panjang sodara-sodara, jadi dengan sangat tidak konsisten saya umumkan part ini bukan end XD wkwkw tapi semoga kalian masih menikmati cerita ini ya :D

Diclaemer : Semua tokoh yang ada disini adalah hasil fiksi belaka, saya Cuma pinjam nama saja, jadi mohon jangan tersinggung ne? ^^

WARNING! YAOI, TYPO BERTEBARAN, ANGST DETECTED, COMPILICATED, OOC

.

.

.

Akan ada suatu saat dimana,

Saat kata itu belum terucap,

Kau diberi kesempatan sekali lagi untuk mengatakannya

oOSayonaraOo

Kaki itu melangkah dengan terburu-buru kala dilihatnya jam tangannya tersebut kini telah menunjukkan waktu pukul 10.20 malam.

"Astaga aku benar-benar bisa terbunuh" batin orang tersebut

Sejenak ia menghentikan langkahnya ketika ia tiba di tempat tujuannya. Matanya melirik kesebuah rumah yang kini telah tampak gelap karena telah mematikan seluruh lampu dirumah tersebut tersebut sementara lampu pada pagar dan beranda rumahnya menyala dengan terangnya. Sedikit ia sipitkan matanya dari jauh untuk menatap pergerakan yang terjadi dirumah tersebut melewati jendela rumah tersebut.

"Aman" batin namja itu lagi sambil perlahan-lahan melangkahkan kakinya menuju ke pagar rumahnya dan membukanya perlahan

CKITT

Pagar rumah itu sedikit berdecit ketika namja itu kini telah membawa engsel pagar itu ke arah yang lain dan membuka jalan baginya untuk masuk. Ia sedikit menutupkan matanya sambil dengan pelan menutup pagar yang sudah terbuka tersebut. Sedikit dihelakan nafasnya merasa lega karena saat ia menutup pagar itu tidak terdengar suara decitan yang lain. Namun kelegaan itu terhenti menjadi sebuah lonjakan besar kala sebuah rasa panas kini menjalar ditelingnya.

"Ya! Ya! Ya! Berani sekali kau baru pulang malam seperti ini! Sudah merasa hebat eoh?" kata seorang ibu paruh baya yang masih tampak cantik diumurnya sambil menjewer telinga namja muda tersebut

"Akhhh Oemma! Mianhae!" kata namja tersebut saat merasakan rasa perih itu semakin menjalas ditelinga kanan yang tengah dijewer oleh yeoja yang ia panggil ibu tersebut

"Sudah mulai senang berulah hum? Darimana saja kau hingga berani pulang selarut ini? Sekalian saja kau tidak usah pulang ke rumah ini dasar bandel!" kata yeoja paruh baya itu panjang lebar sambil menyeret anaknya yang masih dijewernya tersebut masuk kedalam rumah

"Aih oemma! Mianhae! Sakit sekali~~" rajuknya kala oemmanya itu tak kunjung melepaskan telinganya yang sudah terasa berdenyut

Mereka menghentikan langkah mereka ketika sudah tiba di ruang tamu. Yeoja paruh baya yang masih cantik tersebut kini memalingkan mukanya untuk menatap anak semata wayangnya yang kini tampak memasang air wajah bersalah sambil mengerucutkan bibirnya.

Dilepaskannya jewerannya pada namja manis itu sambil kemudian mendesah pelan.

"Bukankah sudah oemma bilang untuk tidak pulang malam eoh? Kenapa kau masih melakukannya? Kau tidak tau bagaimana rasanya jantung oemma yang seperti mau copot ini ketika melihat rumah dalam keadaan kosong tanpa dirimu didalamnya? Sementara kau pergi dan dengan enaknya pulang selarut ini. Tanpa memberi kabar pula. Kau ingin oemmamu menyusul appamu?" kata yeoja itu dengan air wajah khawatir sambil berkacak pinggang

Namja manis itu masih mengerucutkan bibirnya sambil memasang raut wajah yang bersalah. Yah, bukan maksudnya untuk membuat oemmanya secemas ini, bagaimanapun hanya oemmanya ini yang kini harus menjaganya dan menyayanginya sendirian setelah kepergian sosok suami dan appa yang paling mereka cintai.

"Mianhae oemma... tadi aku tidak sengaja ketiduran dirumah Yoochun..." kata namja itu sambil menundukkan kepalanya merasakan rasa bersalah yang begitu besar saat oemmanya mengatakan kata-kata yang menyentil hatinya

Kembali yeoja manis yang lebih mungil dari namja itupun menghela nafasnya sambil matanya menatap wajah anaknya yang kini tertunduk bersalah. Tangan kanannya yang tadinya ia taruh dipinggangnya kemudian ia taruh didagu anaknya dan membuat anaknya itu menatapnya.

"Kim Jaejoong, oemma hanya tidak mau kehilanganmu. Cukup appa saja yang meninggalkan oemma, oemma mohon, walaupun kau akan pulang selarut ini setidaknya beritahu oemma hum? Oemma memberimu ponsel bukan hanya untuk kau pamerkan, tapi untuk kau gunakan kau tau?" jelas yeoja manis itu sambil menatap anaknya sayang

Namja manis yang dipanggilnya dengan Kim Jaejoong tersebut hanya dapat terdiam. Matanya menatapi oemmanya lebih jelas sekarang. Ia lihat pakaian oemmanya yang masih mengenakan pakaian kantor, lengkap dengan atribut dan tanda pengenal bertuliskan 'Kim Taeyeon' yang melekat pada jas hitamnya tersebut. Ah, oemmanya benar-benar mencemaskannya hingga lupa mengganti baju eoh?

Direntangkan tangannya dan lalu dipeluknya yeoja yang badannya lebih kecil darinya itu dengan hangat.

"Aku berjanji hal seperti ini akan tidak akan terulang lagi. Jadi, kumohon oemma hentikan tentang kata-kata menyusul appa itu ya, itu membuatku takut" kata Jaejoong dengan senyum disekitar wajahnya sambil semakin mempererat pelukannya pada oemmanya

"Arraseo. Oemma pegang janjimu itu" kata Taeyeon sambil membalas pelukan Jaejoong tersebut

Mereka melepaskan pelukan mereka tersebut. Sejenak terasa hening diantara mereka sambil menatap lawan bicara masing-masing dari bawah hingga atas. Tawa mereka berdua pecah seketika ketika menyadari satu hal yang sangat terasa konyol diantara mereka.

"Kurasa kau harus mandi hahaha" kata oemma Jaejoong sambil menertawakan anaknya yang kini tampak lusuh dan berkeringat karena tadi baru saja berlarian menuju rumahnya

"Oemma juga hhahaha" kata Jaejoong tak mau kalah saat menatap oemmanya yang kini tampak berantakan masih dengan pakaian kantornya

Tawa diantara keduanya masih membahana diseisi rumah sederhana tersebut sebelum akhirnya keduanya benar-benar mengambil inisiatif untuk membersihkan tubuh mereka yang nyatanya memang tidak enak dipandang tersebut.

Tawa. Kata-kata konyol. Pelukan hangat.

Ahhh... Kehidupan yang menyenangkan hum Kim Jaejoong?

oOSayonaraOo

"Seo Hyun oemma... ini waktunya makan" kata namja bermata musang yang bernama Yunho tersebut sambil mendekati seorang yeoja yang tengah terduduk disebuah kursi sambil menatap hampa pada pemandangan diluar jendelanya

Yunho merendahkan badannya untuk menatap yeoja yang tengah terduduk sambil terdiam dan lalu mengarahkan sesendok bubur pada mulut yeoja yang masih tampak cantik diusianya yang akan mendekati kepala empat tersebut.

Mulut itu tampak tak ada niat sama sekali untuk membuka mulutnya.

"Seo Hyun oemma, kau harus makan... kalau kau tidak makan, saat Jongie kembali kerumah ini dengan wajah apa kau menyapanya? Dengan wajah kelaparan? Tidak mungkin kan?" bujuk Yunho yang akhirnya berhasil membuat mulut itu terbuka sedikit menandakan ia mengijinkan masakan itu untuk memasuki mulutnya

Yunho mengambil sedikit demi sedikit bibir pada mangkok dalam genggaman tangannya itu lalu menyuapkan pada yeoja yang bahkan tidak menatapnya sama sekali itu. Ah, walaupun mata itu masih bisa melirik, ternyata mata itu masih enggan menatapnya eoh?

"Yunho ah" panggil seorang yeoja dengan lembut kala memasuki kamar yang tengah diisi oleh kedua orang tersebut

"Oemma?" saut Yunho kala mendapati oemmanya kini tengah berada di depan pintu kamar oemma tirinya

"Kau segeralah berangkat bekerja, biar oemma disini yang menyuapi Seo Hyun ah" kata oemmanya berusaha menawarkan diri mengingat anaknya itu masih memiliki kewajiban untuk bekerja di perusahaan ayahnya

"Oemma..." kata Yunho sedikit melemah karena merasa terharu atas penawaran yang dibuat oleh ibunya ini

"Sudah, cukup dengan melodrama yang kau lakukan itu dan cepatlah pergi ke kantor" kata yeoja parah baya itu sedikit gerah kala anaknya sedikit mendramatisir tawarannya

"Heheh, baiklah..." kata Yunho sambil membangkitkan kembali tubuhnya

Sejenak ia mengecup kening oemma tirinya itu sebelum memberikan mangkok bubur tersebut pada genggaman tangan oemma kandungnya tersebut. Tidak lupa saat memberikan mangkok tersebut ia menciumi kening oemmanya dengan sayang.

"Aku pergi dulu!" pekik Yunho saat suara langkah kakinya mulai menghilang perlahan

Shin Hye menatap mangkok bubur ditangannya tersebut dan lalu mulai melangkah mendekati Seo Hyun yang kini masih terduduk diam pada kursinya dan menatap keluar jendela disana sambil berharap anaknya suatu saat akan melangkahkan kakinya dan kembali ke rumah ini.

"Seo Hyun ah ini aku" kata Shin Hye yang kini tengah menurunkan badannya dan juga berlutut di dapan Seo Hyun yang bahkan enggan menatapnya

"Ini sudah 13 tahun, apa kau akan tetap menunggunya pulang?" kata Shin Hye sambil menyodorkan sesendok bubur pada mulut Seo Hyun yang tidak ia buka lagi seperti tadi

Shin Hye mendesah pasrah ketika mulut itu telah kembali terkatup seperti semula.

"Mungkin aku masih bisa merasakan benci padamu, tapi aku yakin, kebencianmu padaku itu lebih besar padaku daripada kebencianku padamu" kata Shin Hye sambil menaruh kembali sendok itu kedalam mangkuknya

"Cepatlah sembuh, ini sudah hampir 3 tahun dan kau masih menunggunya seperti ini? Seharusnya kau sudah sembuh bahkan kurang dari waktu yang lama ini kau tau?" kata Shin Hye lagi masih menatap Seo Hyun yang kini tampak mengeluarkan cairan bening di sisi matanya

Shin Hye mengusap jejak cairan bening tersebut lalu mengusap rambut hitam Seo Hyun dengan rasa penuh penyesalan

"Seandainya saja...penculikan itu berhasil...pasti Jaejoong masih ada disisimu dan kalian dapat hidup bahaia bertiga..." kata Shin Hye dengan mata yang mulai berkaca-kaca

"Seandainya saja...Seandainya saja... Seandainya saja pria itu benar-benar mati..." lanjutnya lagi hingga sebuah bulir air mata kini menjatuhi wajahnya

"Maafkan aku... seharusnya aku yang merasakan hal ini bukan kau. Seharusnya aku yang terduduk karena penyakit stroke ini dan bukan kau... seharusnya aku yang kini menangis seperti ini bukan kau" kata Shin Hye sambil terisak dan tertunduk di samping kaki Seo Hyun

Seo Hyun melirikkan sedikit matanya dan menatap namja yang berbeda beberapa tahun darinya itu dengan perasaan yang sungguh terluka dan tersakiti. Sebagai seorang ibu, rasanya ia ingin sekali menjambak dan mencakar wajah yeoja dihadapannya ini. Tapi sebagai seorang wanita, rasanya tidak mungkin ia akan menyakiti yeoja ini. Jika saja penculikan itu berhasil, mungkin Shin Hye sudah membunuh dirinya saat itu juga, karena orang yang dituju penculik ini sebenarnya adalah Yunho.

oOSayonaraOo

Flash Back

"Aku tidak percaya aku akan melihat mukamu lagi setelah sepuluh tahun ini" kata seorang yang diketahui Jung Yong Hwa itu

"Tidak percaya? Cih, aku sudah bilang bahwa aku akan menemuimu lagi bukan brengsek?" kata namja yang tengah terduduk dengan tangan yang terikat kebelakang itu dengan sinis

BUGH! Sebuah tonjokan kini singgah dipipinya yang memberikan dampak noda biru disana.

"Bicaralah yang sopan pada Tuan!" bentak seorang pengikut yang adalah tukang pukul Tuan Jung

Tampak namja yang baru saja dipukuli tersebut malah mengumbar senyum sinisnya pada Yong Hwa sambil membuang darah yang terasa anyir dimulutnya tersebut akibat pukulan tadi lalu tertawa lebar.

"Hahaha, Tuan? Orang brengsek seperti ini kau sebut tuan?" kata namja itu dengan senyum mengejek yang membuat Yong Hwa menggeram

Kembali tukang pukul itu memberikan pukulan telak di wajah namja itu yang bukan hanya membuat noda biru pada wajahnya namun juga darah yang keluat dari ujung bibirnya yang masih tersenyum.

"Hei tukang pukul, hati-hati, jika kau mati saat aku membunuhmu dia akan mengambil istrimu juga" kata namja itu sambil menatap tukang pukul yang hanya terdiam saat namja itu dengan santainya mengatakan hal 'merebut' istri tersebut

Tidak tahan Yong Hwa memajukan langkahnya menuju namja itu dan lalu mengambil tidakan dengan menonjok kembali wajah itu. Kesabarannya benar-benar sudah di renggut habis oleh kata-kata namja dihadapannya ini.

"Soo Joo Jin Brengsek! Sampai kapan kau akan terus mengataiku seperti itu hum? Siapa suruh orang mengirimkan surat yang mengatakan kau mati dalam medan perang?! Siapa suruh kau meninggalkan istrimu yang sedang hamil dan memilih ikut berperang?! Aku mencintainya! Sangat mencintainya! Sementara kau! Meninggalkan dirinya disaat ia membutuhkanmu!" pekik Yong Hwa sambil menarik baju yang dikenakan namja tersebut

"Mencintainya? Cih" kata namja itu sambil kembali mendecih dan memperlihatkan senyum seujungnya tersebut sambil memalingkan matanya dari namja bernama Yong Hwa tersebut

Mata Musang yang ia turunkan kepada Yunho tersebut kemudian memandang Yong Hwa dengan tak kalah geram. Dilebarkannya mata itu penuh amarah kala ia kembali membuka mulutnya dengan perkataan yang menyentil hati Yong Hwa

"Lalu Seo Hyun itu apa hum?! Hanya yeoja penghasil anak kandungmu saja?! KATAMU KAU MENCINTAI SHIN HYE BUKAN?! LALU KENAPA KAU MENIKAHI YEOJA LAIN?! KAU MEMANGGILKU BRENGSEK? SIAPA YANG LEBIH BRENGSEK SEBENARNYA HUM?!" teriak namja itu tepat diwajah Yong Hwa yang hanya dibalas Yong Hw oleh keterdiaman

Seketika genggaman tangan pada Yong Hwa pada baju namja itu mengendur. Bukan ia tidak mencintai Seo Hyun, sungguh, ia juga mencintai yeoja itu dalam hatinya. Walau perlu ia akui, tidak ada yang dapat ia cintai sama seperti saat ia mencintai Shin Hye.

Ia memundurkan tubuhnya dalam diam masih menatap namja yang ia dahulu ia kenal sebagai sahabat terbaiknya tersebut.

Yah, dulu. Sebelum namja itu pergi ke medan perang dan meninggalkan Shin Hye yang tengah hamil bersamanya. Sebelum namja itu dikabarkan meninggal dan Shin Hye membutuhkan seorang ayah untuk anaknya. Dulu, saat semuanya masih seperti yang tergariskan. Yong Hwa yang mencintai Shin Hye, dan Shin Hye yang mencintai Soo Jin.

"Dengarkan aku baik-baik Jung Yong Hwa" kata namja itu kembali mulai membuka suara dan membuat Yong Hwa kembali menatap matanya

"Aku hanya menginginkan anakku" lanjutnya dengan serius

"Jika aku tidak dapat memilikinya," mata itu sedikit dipicingkan untuk menekankan kata-kata terakhir dalam kalimatnya

"Jangan harap kau dapat memiliki anak kandungmu" kata Soo Jin tak main-main

Seketika kaki yang tadinya masih terduduk dengan manis tersebut mulai memberontak dan lalu melepaskan ikatan pada tangannya dengan mudahnya. Ternyata sejak tadi Soo Jin hanya mengulur waktu yang lama untuk dapat melepas tali ikatan pada tangannya tersebut agar dapat membuatnya kabur dengan lebih mudah.

Tukang pukul dan orang-orang didalam ruangan kecil tersebut memukul dengan geriliya namja yang hendak melarikan diri tersebut dan lalu menangkapnya dan kini mengunci tangannya dengan borgol.

Kala diberdirikan tubuh itu hanya dapat terhuyung lemas dengan bonyok pada seluruh tubuhnya. Masih dengan senyum sinisnya dan mata yang semakin menyipit ia menatap Yong Hwa yang hanya dapat terdiam menatap aksinya tersebut.

"Pegang kata-kataku ini. Kau, tidak akan, pernah, memiliki, Jung Jaejoong" katanya kemudian sebelum tangan kanan Yong Hwa menyuruh untuk membawa namja itu ke penjara dan mulai mengurungnya

Keadaan ruangan menjadi hening seketika sementara Yong Hwa hanya dapat terdiam. Namja ini nekat. Sungguh nekat melebihi bayangannya.

Tidak ada lagi Soo Jin yang ia kenal dulu.

Kini yang ada hanyalah Soo Jin yang membencinya.

"Kau, tidak akan, pernah, memiliki, Jung Jaejoong" seketika kata yang diucapkan Soo Jin bergeming dalam kepalanya dan berhasil membuat panik menyapa dirinya

"Asisten Kim" panggil Yong Hwa pada tangan kanannya tersebut

"Antarkan aku... ketempat anak-anakku berada..."

.

"Appa!" panggil Yunho girang sambil memeluk ayahnya

"Ah, Yunho ya, akhirnya aku menemukanmu" kata Jung Yunho Hwa sambil membalas pelukan putranya

"Maaf, pada hari sebelum itu, ayah sempat menamparmu" kata Yong Hwa dengan penuh penyesalan

"Tidak apa, aku sudah melupakannya ayah" kata Yunho sambil mempererat pelukannya

"Baiklah, ayo kita pulang" ajak Yong Hwa kemudian sambil melepaskan pelukannya pada Yunho dan lalu membawa tangannya menuju pintu keluar

"Ah tapi Jaejoongie..." kata Yunho saat menyadari Jaejoong tidak turut dibawa pulang oleh ayahnya

"Apakah Jung Jaejoong juga akan anda bawa, Tuan Jung?" tanya ibu panti asuhan tersebut kala mendengar Yunho memanggil nama Jaejoong

Jung Yong Hwa terdiam sambil menatap ibu panti tersebut.

"Kau, tidak akan, pernah, memiliki, Jung Jaejoong" kembali kata itu terbersit dalam kepala Yong Hwa dan membuat Yong Hwa sedikit gusar akan keputusannya meninggalkan Jaejoong

"Tidak" kata Yong Hwa dengan berat hati

"Appa!" pekik Yunho tidak terima

"Dia sudah buta bukan, Jung Yunho?" kata Yong Hwa sambil menatapi anaknya dengan tatapan yang begitu menusuk. Yang tanpa bocah 14 tahun itu sadari ada luka dalam bersitan matanya.

"I...iya.. tapi..." kata Yunho tergagap

"Kalau begitu, biarkan saja ia disini. Aku tidak butuh anak yang tidak dapat melihat" kaa Yong Hwa menyanggah kalimat Yunho

"Appa! Aku tidak akan mau pulang tanpa Jaejoongie!" pekik Yunho memberontak pada Yong Hwa

"Jaejoongie, hanya ini cara satu-satunya agar kau tidak disakiti oleh siapapun pengikut namja brengsek itu"batin Yong Hwa sambil merasakan sesak pada dadanya

"Ya! Kalian! Urus dia!" kata Yong Hwa sambil menyuruh kedua anak buahnya membawa Yunho

"Appa akan mengembalikan cahaya itu Jaejoongie. Appa akan mengembalikan penglihatanmu. Appa akan memberikan keluarga yang dapat membahagiakanmu. Appa akan selalu mengawasimu walau kau tak tau itu. Jaejoongie, tetaplah hidup, karena suatu saat appa pasti akan... menjemputmu..." batin Yong Hwa tak kuat kala menatap Yunho yang sangat memilukan kini

"Sementara kau Jung Yunho. Bencilah aku. Karena kau pantas untuk membenciku. Karena itu bertahan hiduplah. Bertahan hiduplah dengan membenciku" batin Yong Hwa kembali mengalihkan tatapannya pada Yunho sebelum akhirnya ia menyaksikan Yunho yang tengah diantara rontaannya berhasil masuk di mobil mewah tersebut

"Asisten Kim" panggil Yong Hwa lagi sebelum berjalan menuju sisi lain mobil tersebut dan memasukinya

"Ya, Tuan?" kata tangan kanannya tersebut

"Aku titip... Jaejoong padamu..." kata Yong Hwa tanpa menatap tangan kanan kesayanganya tersebut lalu memasukan kakinya dan menaiki mobil tersebut tanpa menunggu jawaban dari sang tangan kanan

Perkataan sang Tuan membuat Kim Hyun Joong, tangan kanannya hanya dapat terdiam kini. Ia memang belum dikarunia anak sejak dua tahun pernikahannya, dan kini bosnya menitipkan anaknya pada Hyun Joong? Demi apapun ia tidak dapat mendeskripsikan perasaannya. Senang karena pada akhirnya ia akan memiliki anak, namun juga ada sebuah rasa takut dalam dirinya. Ya, takut. Karena ini sesungguhnya adalah sebuah tanggung jawab yang sangat besar untuknya.

Flash Back End

oOSayonaraOo

Yunho melajukan mobilnya dengan sedikit kencang. Dengan sedikit dihentakannya jari tangannya pada pahanya dengan tidak nyaman ia berdecih kecil. Ah, kemacetan kota Seoul mulai terlihat kini.

"Dasar ibu kota" batin Yunho dalam hati sambil membiarkan kepalanya melirik ke jalan alternatif lain

Matanya menangkap suatu jalan kecil yang terletak tak jauh didepannya. Yah, sesungguhnya itu adalah jalur bagi pengendara sepeda, sesuatu yang amat sangat jarang dilanggar mobil dilalu lintas ini, namun keadaan Yunho yang terburu-buru mau tidak mau membuatnya mengambil segala resiko yang akan ia hadapi nanti.

Lagipula, jalur ini sedang kosong bukan?

"Persetan dengan penjara, aku bisa mati bila tidak sampai kantor tepat waktu" kata Yunho sambil menghela nafas panjang dan kemudian mengarahkan stirnya dan membuat mobilnya kemudian masuk kedalam jalur pengguna sepeda

Dengan sedikit terburu ia melajukan mobil audi hitamnya hingga tidak menyadari ada sebuah sepeda disampingnya yang hendak melaju menuju jalur sepeda tersebut.

BRUK! Terasa mobil itu sedikit terlonjak kecil dan membuat sang pemilik menghentikan mobilnya secara tiba-tiba. Matanya sedikit melotot dengan mulut yang menganga lebar ketika ia merasa seperti telah menabrak dan menggilas sesuatu.

"Astaga, apa aku baru saja membunuh seseorang?" batin Yunho cemas enggan menatap kaca spion dalam mobilnya untuk mengetahu apa yang terjadi dibelakang sana

TOKTOKTOK

Sebuah ketukan pada jendela Yunho membuat Yunho kembali dari lamunannya dan kemudian menatap jendela mobilnya yang kini tampak sedang berdiri seorang disana.

"Apakah itu saksi yang akan memintaku bertanggung jawab? Atau, atau keluarga koran yang akan menuntut?" batin Yunho lagi cemas

Dengan perasaan yang campur aduk, Yunho menurunkan kaca mobilnya dan lalu kembali menatap orang yang ada dibalik kaca itu.

DEG! Jantung Yunho berdebar keras kala menatap seorang yang kini sedang berkacak pinggang dihadapannya itu. Ia mengangakan sedikit mulutnya kala menatap pemandangan seorang yang sangat cantik dihadapannya.

"Ataukah aku sudah meninggal? Bidadari ini cantik sekali..." batin Yunho masih mengagumi sosok dihadapannya

"Hey, Ahjussi" panggil suara itu yang membuat lamunan Yunho buyar seketika

Matanya yang masih berperisaikan kaca mata hitam mungkin menatap sesosok bidadari yang cantik tadi, tapi kenapa telinganya mendengar suara seorang namja yang seirigan dengan bibir itu yang mulai membuka suaranya? Apakah bidadari dihadapannya ini seorang... namja?

"Berhenti memandangiku seperti itu dan tanggung jawab pada sepedaku!" pekik seorang itu kemudian menunjuk sebuah sepeda yang kini telah terbaring tak berdaya karena menjadi 'korban' tabrakan Yunho

Yunho membukakan pintu mobilnya dan membuat namja manis itu sedikit menyingkir dari depan pintu tersebut. Yunho menapakan kakinya dan lalu bangkit dan meninggalkan mobilnya. Sedikit ia melirik ke arah namja yang tadi mengetuki jendelanya.

"Ah, anak sekolah rupanya" batin Yunho saat melihat seragam yang dikenakan namja itu dibalik kaca mata hitamnya

Yunho melepas kacamata hitam tersebut perlahan dan berjalan menuju ke 'tempat kejadian perkara'.

"Ini sepedamu? Jelek sekali" ejek Yunho saat melihat sepeda yang sudah bobrok tersebut

"Ya! Ahjussi! Kau yang membuatnya seperti itu!" kata namja muda itu sambil menaikan sedikit volume suaranya

"Ah? Aku ya?" kata Yunho dengan wajah yang dibuat menujukkan bahwa ia polos sepolos-polosnya

"Yah! Berapa umurmu eoh?! Kenapa otakmu itu rasanya lamban sekali! Aku tidak mau tau! Kau harus mengganti rugi sepedaku!" kata namja itu semakin mendekati Yunho dengan wajah yang frustasi

Yunho mengalihkan pandangannya pada namja manis yang kini tengah berdir disampingnya. Ada sedikit rasa kesal karena bocah ini terasa begitu tidak sopan pada dirinya. Sejenak matanya melirik pada name-tag yang ada di dada namja itu. Terlihat marga 'Kim' disana walau namanya yang lain tidak dapat terlihat karena tertutupi tangan yang kini tengah menggendong tasnya.

"Hey, Kim! Sopanlah sedikit pada orang yang lebih tua darimu eoh?! Apa kau tidak pernah diajarkan hal seperti itu dirumahmu?!" pekik namja itu tidak suka sambil menatap Jaejoong sinis

"Hey, Ahjussi, aku akan sopan jika sejak awal kau tidak menghina sepedaku. Tidak sopan harus dibalas tidak sopan itulah motoku!" pekik namja yang dipanggil Kim itu membela dirinya

Yunho berdecih kecil sambil menarik seujung bibirnya. Motto yang aneh dari seorang namja yang aneh. Rasanya waktunya akan semakin terpotong bila ia terus berhadapan dengan bocah tersebut.

"Motto macam apa itu eoh? Ah, sudahlah, kau membuang waktuku saja! Aku benar-benar sedang terburu-buru sekarang, jadi minta tanggung jawabnya nanti saja eoh?" kata Yunho kembali melangkahkan kakinya melewati namja itu dan menuju mobilnya

"Ahjussi!" kata namja itu sambil menarik kemeja Yunho

DEG! Jantung Yunho bergetar pelan kala kemeja ditarik oleh namja tersebut. Seakan sebuah perasaan yang sudah lama menghilang kini kembali menyeruak dalam dadanya dan membuat jantungnya kembali menghentam halus.

Yunho menarik sedikit kemeja bajunya berusaha melepaskan tarikan tangan namja itu dari kemejanya.

"Jangan pernah lakukan itu padaku lagi" kata Yunho tanpa menatap namja itu dengan nada yang sedikit serius dan hanya dibalas dengan wajah bingung namja yang sedang mengerucutkan bibirnya itu

"Ah, masa bodoh. Pokoknya aku hanya meminta ganti rugi!" kata namja itu sambil mengambil langkah kecil untuk kembali menghadapi namja yang lebih tinggi dan lebih tua darinya tersebut

Namja manis itu memandangnya sebentar sebelum tangannya mengambil sesuatu dari dompetnya dan akhirnya ia taruh pada tangan Yunho yang ia ambil dan tengadahkan.

"Itu kartu nama ibuku. Aku menunggumu di alamat itu. Dan jangan mencoba kabur karena ibuku mempunyai kenalan polisi!" jelas namja manis itu yang berhasil membuat Yunho terdiam sambil mengerjapkan matanya tidak percaya dan mengalihkan matanya pada kartu nama itu

"Bocah ini benar-benar..." katanya sambil memalingkan seluruh tubuhnya dan menatap Jaejoong yang kini tengah menenteng sepedah bobroknya itu kesusahan

oOSayonaraOo

Jaejoong mengerucutkan bibirnya kesal sambil mengiring sepedanya yang sudah tampak tidak karuan itu. Hari ini ia merasa dirinya sangat ceroboh dalam menghadapi semua hal. Dari kegiatannya yang tidak berjalan lancar disekolah, hingga akhirnya kecerobohannya yang membuat sepedahnya tergelincir kebelakang dan akhirny jadi seperti ini.

"Hah..." desah Jaejoong panjang kala hari ini terasa sangat lambat baginya

"Orang bodoh mana yang akan mengambil jalur sepeda seperti itu?" katanya lebih seperti berbisik

"Orang bodoh mana juga yang akan melepaskan sepedanya dan membuatnya hingga tertabrak seperti itu eoh?" batin Jaejoong yang membuatnya kembali mendesah pelan

"Semoga saja ahjussi itu mau mengganti rugi" kata Jaejoong kembali menatapi sepedanya yang kini sangat menyedihkan dimatanya

Jaejoong kembali menghelkan nafasnya sebelum akhirnya sebuah pikiran menggerayangi kepalanya. Sosk cantik dengan rambut hitam tergerai indah kini tampak dalam kepalanya dan membuat Jaejoong menarik kedua ujung bibirnya

"Ah, masa bodoh! Nanti aku akan ada les dengan guru cantik! Lalalala~~" senandung Jaejoong lebih bergembira ketika sosok yang dikaguminya kini melewati pikirannya

oOSayonaraOo

"Yoboseyo, Jung Yunho?" kata suara diseberang sana

"Ya, ada apa Fanny ah?" jawab Yunho saat akhirnya mengangkat telepon dari yeoja yang sudah menghubunginya tiga kali tersebut

"Apakah aku bisa meminta tolong padamu? Tolong gantikan aku untuk mengajar seorang murid selama beberapa hari ini. Kau bisakan?" kata yeoja yang dipanggil Fanny tersebut

"Eh?! Memang kau mau kemana?!" pekik Yunho kaget kala mendengar permintaan Fanny yang tidak biasa

"Kau tau kan kakekku sedang sakit di Jepang? Aku harus kesana untuk beberapa waktu sementara murid lesku sebentar lagi akan menghadapi ujian. Kau bisa membantuku kan? Ayolah hanya kau satu-satunya harapanku" kata Tiffany dengan sedikit merajuk di seberang sana

"Arraseo, arraseo, aku akan mencoba menggantikanmu. Tapi jika aku mengajar dengan buruk dan ada yang komplein padamu segera gantikan aku mengerti?!" kata Yunho pada akhirnya

"Ahh~ Jung Yunho, kau memang penolongku~ baiklah aku mengerti. Tapi sejujurnya aku percaya kau akan jadi guru yang baik kekeke. Akan kukirim alamat anak didikku pada ponselmu, kuharap jam 3 tepat kau ada dirumahnya eoh?" kata Fannya menjelaskan sambil kemudian menutup sambungan telepon tersebut

Yunho merasakan ponselnya kembali bergetar kala sebuah sms masuk disana. Ia membacanya dan merasakan ada kata yang familiar disana. Segera ia merogoh saku kemejanya dan mengambil kartu nama yang diberikan oleh bocah 'Kim' itu padanya.

Yunho menatapi kata demi kata yang tertera pada ponselnya dan kartu namaj tersebut.

"Ya Tuhan, apa dosaku padamu?" batin Yunho meratap

TBC