Dan aku datang padamu dengan tangan terbuka. Berharap kau akan melihat arti cintamu untukku.

Credit song: Open Arms by Mariah Carey and covered by Bekhyun, D.O, Chen, Luhan of EXO

.

.

.

Auro Rain

Present

.

.

.

EXO Songfic Collection Chapter 2

Open Arms

2013

.

.

.

Lying beside you
Here in the dark
Feeling your heartbeat
With mine

20 September 2012

Kai membelai wajah damai Kyungsoo yang terbaring di sampingnya. "Apa kau pernah memimpikan aku?" Tanyanya lirih dengan senyum sedih.

Lagi, satu belaian menyusuri pipi Kyungsoo yang dihiasi air mata mengering. "Kenapa menangis? Apa yang sebenarnya kau rasakan? Tidak bisakah kau membaginya padaku?" Tuntutnya pada udara kosong yang ia harap akan masuk ke lubang telinga istrinya.

Dalam satu gerakan, Kai mengubah posisinya. Menyamping menjadi telentang. Digenggamnya sebelah tangan Kyungsoo yang berdekatan dengan tangannya.

"Aku merindukanmu." Ungkapnya pada kegelapan ruang tempatnya berada. "Padahal aku melihatmu dari pagi," Kai tersenyum kecil. Merindukan Kyungsoo-nya yang ramah, ceria, dan polos. Sosok istrinya empat tahun lalu.

Suasana hening, sampai akhirnya suara kekehan Kai menggema. "Kau mendengarnya? Aku sudah berdebar hanya dengan memegang tanganmu."

Hening kembali, Kai memejamkan mata sejenak. Mendengarkan dengan seksama detak jantung lain di balik dada seseorang yang berbaring di sampingnya dalam gelap. "Kau merasakannya juga?" Ia menoleh dengan senyum lebar.

"Kau mencintaiku." Itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan. Sesuatu yang ingin ditegaskan, bahwa sikap dingin Kyungsoo bukan pertanda terhapusnya perasaan yang membuat wanita itu memilih Kai sebagai suaminya beberapa tahun silam.

"Dan aku juga." Pungkasnya sebagai penutup monolog tengah malamnya. Ia memejamkan matanya lagi. Menikmati ritme napas Kyungsoo yang teratur.

Biarkan begini saja sampai Kyungsoo terbangun. Sebelum wanita ini kembali menjadi istrinya yang dingin, datar, dan tidak peduli.


Softly you whisper
You're so sincere
How could our love
Be so blind

21 September 2012

Kai menoleh. Gerakannya menata meja makan terhenti. Dipandanginya sosok yang baru saja muncul di ambang pintu dapur dengan lekat. Pucat, kurus, dan berantakan.

"Kau sudah bangun? Kemarilah," ujar Kai sambil tersenyum.

Kyungsoo tidak bergeming sampai Kai yang barusan meletakkan dua porsi salad buah di dua sisi meja yang berbeda, menariknya untuk duduk di salah satu kursi kosong. Kai menempatkan diri berhadapan dengan istrinya.

"Makanlah," ujar Kai lembut. Detik berikutnya Kai sudah mulai menyendokkan potongan-potongan buah itu ke mulut Kyungsoo. Tapi tangannya menggantung di udara melihat perempuan mungil itu hanya menatapnya tanpa ekspresi.

"Kau tidak suka makanannya? Atau kau merasa sakit lagi?" Sendok yang penuh salad buah itu kembali diletakkan. Kai tampak khawatir.

Kelopak mata Kyungsoo berkedip beberapa kali. Pandangannya masih kosong ketika bertanya lirih, "Kenapa kau masih peduli?" Mengundang desahan panjang dari mulut suaminya.

Butuh sepersekian detik hingga Kai memutuskan untuk menjawab, "Kau tahu alasannya."

"Apa kau tulus?" Kyungsoo bertanya sekali lagi, Kai menangkap secuil keraguan yang terselip dalam kalimat retoris itu.

"Apa aku pernah tidak tulus?" Kai membalikkan pertanyaan istrinya.

Kyungsoo bungkam.

"Aku tidak tahu bagaimana perasaanku menjadi sebuta ini." Kai mengakhiri pembicaraan mereka dengan wajah terluka.


We sailed on together
We drifted apart
And here you are by my side

Kadang hidup berjalan layaknya drama. Kyungsoo masih ingat dengan jelas bagaimana takdir membawanya bertemu Kai. Jatuh cinta. Menikmati masa pacaran mereka yang lumayan lama. Menikah. Bahagia.

Ya, bahagia. Hanya pada awalnya. Karena layaknya sebuah drama, selalu ada tokoh antagonis yang mengacaukan segalanya. Ironisnya, Kyungsoo sendirilah tokoh antagonis itu. Ia yang jahat. Ia yang merusak. Ia juga yang menghancurkan semuanya, termasuk pernikahan indah mereka.

Semua mimpi buruk itu, Kyungsoo tak akan pernah bisa melupakannya. Bagaimana pikirannya yang picik memberikan alibi untuk membenarkan perselingkuhannya dengan Chanyeol, mantan pacarnya semasa SMA. Ketika kehidupan mereka mulai goyah akibat bangkrutnya perusahaan tempat Kai bekerja, Kyungsoo lebih memilih pergi tanpa meninggalkan pesan apapun. Membangun mimpi baru bersama Chanyeol yang pada akhirnya tak pernah terwujud. Mengantarkannya pada penyesalan tak berujung.

Setelah hampir dua tahun Kyungsoo meninggalkan Kai untuk hidup bersama Chanyeol, pada akhirnya Chanyeol mencampakkannya demi perempuan lain yang Kyungsoo tahu bernama Baekhyun. Pria itu seperti membalaskan dendam Kai, membuatnya merasakan rasa sakit karena ditinggalkan begitu saja. Karma.

Tak ada hak untuk Kyungsoo marah pada mantan kekasihnya. Karena sejak awal kebersamaan mereka 'yang kedua', tidak ada komitmen apapun yang dibangun. Mereka hanya tinggal bersama dan membagi apa yang mereka punya. Tapi tidak untuk cinta. Mereka hanya mengerti obsesi. Sesuatu yang bisa padam jika sudah terpenuhi.

Dunia menggelap begitu saja dan Kyungsoo tenggelam dalam carut-marut kisahnya. Sebab dua tahun berikutnya ia lewatkan dalam sekarat. Kanker payudara yang ia warisi dari neneknya membuat wanita itu hampir meregang nyawa. Pada puncak keputusasaan, Kyungsoo berharap bisa bertemu Kai untuk terakhir kalinya. Meskipun ia tak yakin bisa meminta maaf.

Entahlah, kadang Tuhan terlalu baik. Bahkan pada pendosa seperti Kyungsoo.

Kyungsoo tak mungkin lupa pada tubuhnya yang seolah tak berfungsi saat netranya menemukan sosok yang pernah ia ditinggalkan berdiri dengan napas putus-putus di ambang pintu kamar rawatnya. Dan dalam sekejap mata, tubuh mungilnya sudah terkungkung dalam rengkuhan sosok itu.

Bibirnya kelu. Udara berhenti bergerak. Setelah pencarian panjang...

Kai menemukannya.


Living without you
Living alone
This empty house seems so cold
Wanting to hold you
Wanting you near
How much I wanted you home

6 Juli 2012

Kai pernah berpikir pernikahannya dengan Kyungsoo akan selalu sempurna. Tanpa dia sadari jika tak ada yang benar-benar sempurna di dunia ini.

Semua mimpi buruk itu, Kai tak akan pernah bisa melupakannya. Bagaimana istrinya menghilang secaratiba-tiba.

Satu hari.

Dua minggu.

Tiga bulan.

Empat tahun.

Kai sudah mencoba semampunya. Tapi pencariannya terasa sia-sia. Kyungsoo tersembunyi dalam kabut. Pada puncak keputusasaan, pria itu ingin menyerah. Meletakkan janji pernikahan mereka yang usang.

"Kau akan tetap mempertahankan aku apapun yang terjadi, 'kan?

Kai mengutuki otaknya karena tak mau menghapus kata-kata Kyungsoo yang mengikatnya. Sungguh, dia lelah. Tapi tak tahu caranya menyerah. Ini benar-benar tidak adil, bukan?

Dan seperti malam-malam sebelumnya, Kai menghabiskan waktunya sendirian di rumah pertamanya bersama Kyungsoo. Rumah besar yang tampak sepi dan dingin. Merenung, memikirkan tempat-tempat yang mungkin saja terlewatkan. Sekali lagi, ia mengutuk otaknya yang sudah mencapai batas.

Dan menangis dalam diam adalah ujung segalanya. Memohon pada Tuhan untuk mengembalikan Kyungsoo padanya. Menuntun wanita itu untuk pulang ke tempat seharusnya ia berada, di sisinya. Hanya itu yang pada akhirnya dapat Kai lakukan.

Ada banyak hal yang ingin ia tunjukkan pada istrinya. Hal-hal yang selama empat tahun hanya ia alami sendiri. Perjuangannya demi meraih kejayaannya sekarang, kesetiaaanya, cintanya, semuanya. Kai ingin Kyungsoo tahu, ia adalah satu-satunya tempat sempurna untuk wanita itu mengatakan: "Aku pulang."

Dua puluh menit sejak detik pertama crystal liquid-nya menganak sungai, Tuhan menjawab doanya lewat telepon dari orang kepercayaannya.

"Kami berhasil melacak keberadaan orang yang anda cari."


And now that you've come back
Turned night into day
I need you to stay

6 Juli 2012

"Aku menemukanmu." Lirih suara itu terdengar di sebelah lubang telinga Kyungsoo, meniupkan udara dan menggelitik telinganya, menyadarkannya jika sekarang dia tidak sedang bermimpi. Pelukan di tubuhnya semakin erat seiring suara tangisan yang teredam di antara helaian rambutnya.

Wajah datar Kyungsoo runtuh. Matanya mulai berkabut perlahan. Pipinya basah seiring isakan Kai di bahunya. Bukankah seharusnya hanya dia yang menangis?

Pelukan di tubuh mungil Kyungsoo makin erat. "Jangan pergi lagi. Kumohon." Pinta Kai selepas mengecupi pucuk kepala dengan rambut yang mulai menipis milik orang yang sangat dirindukannya.

"Kau tidak perlu melakukan pekerjaan rumah tangga lagi seperti dulu, sekarang aku bisa membelikan apapun yang kau mau, aku juga sudah memperbaiki rumah kita. Aku akan meluangkan waktu lebih banyak untukmu. Kalau aku melakukan kesalahan, katakan saja. Tapi kumohon, jangan tinggalkan aku..."

Dengan ragu, tangan gemetar Kyungsoo yang terbebas dari jarum infus bergerak ke punggung Kai dan mengusapnya perlahan.

Cinta yang terlupakan olehnya sejak bertahun-tahun lalu, Kyungsoo bisa merasakannya lagi.


So now I come to you
With open arms
Nothing to hide
Believe what I say

14 November 2012

Kyungsoo berteriak histeris pagi-pagi buta, memaksa Kai menyeret wanita tercintanya itu untuk keluar dari alam mimpi.

"Kau baik-baik saja?"

Suara serak Kai menyambut terbukanya kelopak mata milik Kyungsoo. Beberapa menit pertama, Kyungsoo hanya terdiam seperti orang linglung. Manik di wajah pucatnya menatap lekat wajah khawatir suaminya. Kemudian merebaklah air mata itu tanpa bisa Kyungsoo bendung.

Ada ketakutan samar yang Kai tangkap di mata sosok yang kini terisak di hadapannya. Ketakutan yang juga pernah dia rasakan ketika Kyungsoo melewati masa pelariannya bersama Chanyeol. Rasa takut kehilangan. Sekejap lengannya merengkuh tubuh mungil itu ke dalam dekapannya.

"Tenanglah, aku di sini." Pelukan Kai menyalurkan kehangatan yang nyaman hingga cukup untuk meredakan tangis Kyungsoo di akhir malam dingin itu.

"Aku tidak akan ke mana-mana. Percayalah padaku," desis Kai. Terasa sebuah anggukan lemah di dadanya yang cukup untuk membuat Kai tersenyum di awal pagi yang cerah itu.

Tapi senyum itu tidak bertahan lama, sebab semenit kemudian Kyungsoo menjerit tertahan sembari meremas dadanya. Keduanya tahu, sesuatu yang buruk akan terjadi.


So here I am
With open arms
Hoping you'll see
What your love means to me
Open arms

3 Desember 2012

Begitu pulang ke rumah setelah beberapa lama dirawat di rumah sakit, Kyungsoo berkeras ingin mengeramas rambutnya. Dia tahu, sebenarnya tidak perlu melakukannya saat ini juga. Kyungsoo hanya berpikir bahwa kamar mandi dengan uap yang mengepul adalah tempat sempurna untuk menyembunyikan diri dari ketakutan yang menyesakkan dada.

Wanita itu mulai melepas pakaiannya satu persatu sambil memejamkan mata, lantas kemudian buru-buru menenggelamkan diri ke dalam bak mandi penuh air hangat yang baru saja Kai siapkan untuknya. Butuh keberanian dan beberapa tarikan napas sebelum Kyungsoo mengalihkan pandangannya ke bawah secara pelan dan takut-takut. Sorot matanya meredup menangkap tempat kosong di mana payudara kanannya seharusnya berada.

Ya. Kyungsoo terpaksa kehilangan salah satu asetnya sebagai wanita setelah menjalani operasi pengangkatan payudara. Sel kanker yang menyebalkan itu ternyata sudah menyebar ke beberapa jaringan otot di bawah payudaranya.

Kyungsoo tidak ingin mengeluh dengan bekas luka jahit yang menyedihkan itu. Tapi tidak bisa tidak menangis. Dia merasa semakin buruk untuk kembali bersanding dengan Kai. Dia merasa tidak pantas.

Cepat-cepat Kyungsoo mengarang rencana-rencana aneh agar Kai tidak pernah lagi melihatnya telanjang seperti yang sering dilakukan pria itu beberapa tahun silam. Bagaimanapun, mereka masih suami-istri yang sah, 'kan?

Kyungsoo hilang akal. Bagaimana mungkin perempuan cacat dengan proporsi tubuh tidak seimbang seperti dirinya kini bisa membangkitkan gairah Kai? Kyungsoo tak lagi menahan tangisnya, suara kecilnya yang melengking ia biarkan mengusik lengang.

Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Kyungsoo tersentak lantas mengutuk keteledorannya tidak mengunci pintu. Kai masuk, menembus kabut mengasihani diri yang mengepung istrinya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, laki-laki itu mendekat dan mengecup kedua kelopak mata Kyungsoo sayang. Masih tanpa bicara, Kai membungkukkan diri perlahan.

Aliran listrik mengalir bersamaan dengan mendaratnya bibir Kai di payudara kiri Kyungsoo, hanya sekilas. Detik berikutnya tubuh Kyungsoo menegang seiring pandangan lekat suaminya pada luka-luka di dada kanannya. Ia hampir menangis karena terharu melihat laki-laki yang dicintainya mengecup jahitan-jahitan yang menonjol itu tanpa ragu. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Dan Kai menegakkan badan demi memberikan senyuman terbaik dan mengatakan lewat sorot matanya bahwa cinta mereka tidak akan pernah berhenti pada masalah fisik. Cinta mereka lebih dari itu.

Kai memang orang yang tidak banyak bicara, dia tidak pandai mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. Kyungsoo hanya pernah mendengar suaminya mengatakan: "Aku mencintaimu" beberapa kali sepanjang kebersamaan mereka. Tapi cara pria itu memperlakukannya, membuat Kyungsoo merasa lebih dari sekedar dicintai.

Kai memberikan sebuah ciuman manis yang mengantarkan Kyungsoo merapatkan kelopak mata, menikmati pergerakan bibir Kai di atas bibirnya. Lalu pelan-pelan menutup pintu di belakang mereka.

.

.

.

END


Chapter dua kelar sudah. Kalo biasanya Kai yang selingkuh, sekarang saya kasih kesempatan Kyungsoo buat balas dendam, hahaha.

Saya tunggu review-nya ^^


THANKS FOR READING