Hay eperibadeeehhh!
Uzu balik lageeehh *disumpel pisang*
Uzu: puehh...uzu gak suka pisaaaaaang!
Kagamine twins: abaikan author gila itu! Langsung baca aja XD
.
.
.
.
Disclaimer::
Len:: Rin yang buat kita sapa? *noleh ke Rin*
Rin:: Miku yang buat kita sapa? *noleh ke Miku*
Miku:: Uzu yang buat kita sapa? *noleh ke Uzu*
Uzu:: Len, loe sapa yang buat? *noleh ke Len*
Abaikan dialog gaje diatas, yang pasti vocaloid bukan punya Uzu. Uzu cuman punya nih fict gaje XD
Genre:: Terserah readers dahh X_X
Warning:: biasanya juga nongol kalo udah baca, Uzu malas carinya XD *digiles readers*
Disini rambutnya Rin sama panjangnya dengan rambutnya Luka ya! X3
.
.
Chapter 2:: Liontin
.
.
.
.
Crypton High School
Sekolah elit yang terpandang, dengan fasilitas yang luar biasa lengkapnya. Memanjakan para siswa sekaligus memberi lingkungan belajar yang nyaman
Banyak siswa siswi yang masih berkeliaran di luar kelas. Tentu saja, ini masih jam istirahat. Sekolah ini memiliki dua kali waktu istirahat yang masing masing sekitar dua jam, dan ini adalah jam istirahat yang kedua
Didalam kelas 2-1
Natsume Rin, masih berkutat dengan novel novelnya. Padahal kelasnya sudah sepi, karna semua siswanya menghambur keluar kelas. Meski matanya fokus pada tiap tulisan yang ada dibuku itu tapi pikirannya melayang entah kemana, "Ren...", ya! Dan sepertinya isi pikiran Rin lebih terfokus pada anak laki laki bersurai hitam yang menjadi teman pertamanya dulu
Bahkan gadis honey blonde itu tak menyadari sebuah genangan hangat dipelupuk mata azure-nya. Manik azure itu bergetar pelan membuat genangan itu menetes dan membentuk anak sungai kecil dipipinya
"Sejak kapan aku menangis? Kenapa aku menangis?", Rin mengusap pipinya yang basah dengan telapak tangannya, "Kalau kau disini, pasti kau sudah menertawakanku karna aku menangis ya kan, Ren? Tapi suara tawamu tak terdengar dari sini."
Rin menatap buku novel bersampul putih yang agak basah karan air matanya lalu menutup buku itu kemudian mengangkatnya dan menempelkannya pada keningnya, "Gomen ne, sepertinya aku tidak bisa memegang janji kita dengan baik. Gomenasai...Ren-kun..."
Setelah menghapus air matanya, Rin kembali meletakkan bukunya didalam laci meja. "Lebih baik aku mencuci wajahku dulu..", Rin berdiri dari mejanya dan berjalan keluar kelas menuju toilet siswi.
Tak lama setelah Rin keluar, seorang anak laki laki yang juga bersurai honey blonde sama dengan Rin masuk kedalam kelas dengan kotak bento kosong ditangannya. Dia berjalan sambil bersiul pelan kearah meja yang ada di pojok, tempat yang barusan diduduki Rin
Langkahnya terhenti saat merasa ada sesuatu yang terinjak olehnya, lalu ia mengangkat lagi kakinya yang meninjak sesuatu itu yang ternyata adalah sebuah liontin kalung. "Milik siapa ini? Sepertinya pernah lihat yang beginiantapi dimana? Ah! Urusai, simpan saja dulu baru nanti cari pemiliknya."
Len, anak laki laki itu memasukkan liontin yang tadi ia temukan kedalam saku celananya dan kembali berjalan ke mejanya yang berada disebelah meja Rin. Menaruh kotak bentonya kedalam laci meja kemudian keluar kelas lagi.
~~XX~~XX~~XX~~XX~~XX~~XX~~XX~~XX~~XX~~XX~~
Rin melihat wajahnya sendiri yang terpantul di cermin kamar mandi, bulir bulir air menetes perlahan menyusuri wajahnya yang terkesan moe. Rin melepas pita putih yang mengikat rambut pony tailnya, membiarkan rambutnya tergerai bebas
Kemudian Rin mengambil sebagian kecil rambutnya yang ada di belakang telinga kirinya lalu mengepangnya, begitu pula yang ada di kanan. Lalu menarik kedua kepangan rambutnya kebelakang dan mengikatnya lagi pita putihnya tadi
Rin kembali melihat pantulan dirinya dicermin lalu tersenyum puas. Dengan tatanan rambutnya yang baru diperbaiki, Rin keluar dari toilet putri dan berjalan kearah kelasnya dengan anggun seperti biasa. Jarak antara toilet dan kelas Rin tidak bisa dibilang dekat juga tidak bisa dibilang jauh, yahh lumayanlah *readers : kok aneh gitu sih?/ uzu: yang penting hepi XD*
Sepanjang koridor yang dilewati Rin terdengar bisikan bisikan dari para siswa yang melihat Rin dengan tenangnya lewat diantara mereka
"Kawaii!"
"Kalau saja aku bisa seperti dia"
"Tidak sia sia aku kagum padanya!"
"seperti tuan putri..."
"Bukan! Lebih mirip artis terkenal daripada tuan putri"
Dan kata kata lainnya yang sudah biasa didengar oleh Rin, tapi ada satu yang membuat Rin berhenti
"Na-Natsume-san! Chotto!"
Ah! Mungkin kalau Rin gadis cuek pastinya dia tidak menghiraukan panggilan tadi. Sayangnya Rin bukanlah orang seperti itu, dan tentu saja dia berhenti dan berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya.
Seorang anak laki laki honey blonde dengan pony tail kecil dibelakang kepalanya, mata shappire yang berkilau indah, senyumnya yang menawan dan...dan...dan...ahh! tidak bisa dituliskan dengan kata kata! Benar benar tipe laki laki idaman! *Uzu: kyaaaaa! Kerennya!*
Anak laki laki itu sampai didepan Rin dengan nafas tersengal, sepertinya sehabis berlari tadi. Tanpa memperdulikan tatapan heran dari Rin, anak itu merogoh saku celananya dan mengambil sesuatu. "Ini...punyamu bukan?", kata anak itu sambil mengangkat sebuah liontin berbentuk oval dengan warna emas, ukurannya tidak terlalu kecil dan ada sebuah ukiran bunga bunga di bagian depannya
Rin melihat anak itu dan liontin yang dipegangnya secara bergantian, "Dari mana kau dapatkan itu, Len?!"
Len tersenyum tipis, "Ternyata benar ya, punyamu? Aku sudah tanya sama teman teman sekelas dan katanya ini punyamu. Aku menemukannya dikelas tadi.", dia menarik tangan Rin lalu meletakkan liontin itu ditangannya dan menggenggam tangan mungil itu dengan kedua tangannya yang lebih besar, "Lainkali jangan ceroboh begitu, kalau benda penting begini harus dijaga baik-baik, ne?"
Rin menundukkan wajahnya, melihat tangannya yang digenggam oleh Len. Gadis honeyblonde itu menggigit bibir bawahnya sepertinya dia akan menangis untuk kedua kalinya, "A-arigatou..."
Kemudian kembali mengangkat wajahnya, manik azurenya sedikit basah tapi bibirnya tersenyum. "arigatou, tapi kau tidak melihat isinya kan?", tanyanya pada Len. "Isi? Memangnya isinya apa?", Len malah balik bertanya.
Wajah Rin mulai merona, "Bu-bukan apa-apa...Cuma kenangan kecil dari masa lalu...", wajahnya yang masih merona perlahan menunduk mencoba menyembunyikan raut wajah yang penuh kerinduan itu. Len yang melihat perubahan sifat Rin jadi agak khawatir,"yakin baik baik saja?", tanya pemuda honey-blonde itu.
"Uhm! Tidak perlu se-khawatir itu Re-umm..maksudku Kagamine-san, ahahaha...", Rin berjalan sedikit lebih cepat dari Len. Wajahnya benar benar merah sekarang, apalagi detak jantungnya yang memburu dan keringat dingin yang hampir menetes, 'sebenarnya ada apa dengan diriku?', tanya gadis itu pada dirinya sendiri
"E-eh! Chotto~ Natsume-san", teriak Len yang sadar kalau dirinya tertinggal lumayan jauh.
"Kumohon Kagamine-san, jangan mengejarku...", kata Rin dengan sangat pelan, mungkin Len tak bisa mendengarnya
Sebenarnya ada apa dengan Rin?
Kenapa gadis itu menjadi aneh seper itu?
~~00~~00~~00~~00~~00~~00~~00~~00~~00~~
TBC
.
.
.
.
.
.
A/N:
Fyuuuhhh...
Gimana readers chapter yang ini?
Gajekah? Terlalu pendekkah? Atau tak jelas maksudnya apa?
Ok Uzu nantikan review readers sekalian
See you next chapter~! *tebar kemenyan*
