Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto, cover isn't mine, and this fanfic belongs to my self.
Warnings : Canon (or Semi Canon?), OOC, Miss Typo, Unclear Story, Bad Diction & Plot, Too Much Description, etc.
Genre : Drama, Romance, Family, & Hurt/Comfort
Recommended Backsong :
# Almost is Never Enough – Ariana Grande ft. Nathan Sykes
.
Happy reading, y'all! ^^
.
OoOoO
Sepasang lavender itu belum juga tertutup. Tubuh mungil dalam selimut itu masih saja bergerak-gerak resah di atas futon. Hinata mengembuskan napas, lalu menurunkan selimutnya dari atas kepala. Bibirnya tampak bergetar sedih sekaligus kesal.
Berapa kali pun dicoba, ia tetap saja tidak bisa tidur! Padahal Hinata ingin pagi segera datang.
Kembali Hinata merasakan panas merambat di kulit wajahnya, ketika mengingat apa yang sudah ia alami tadi bersama Sasuke. Ia benar-benar tidak sedang bermimpi, bukan?
Namun, sebenarnya ada satu hal yang begitu mengusik diri Hinata. Sejak akhirnya ia memiliki kesempatan untuk melihat wajah Sasuke secara jelas tadi, Hinata menyadari ada bayang-bayang hitam di bawah mata Sasuke. Dan fakta itu ternyata sulit sekali Hinata enyahkan dari kepalanya.
Apakah Sasuke selama ini tidak tidur dengan baik dan benar saat malam? Apakah ada sesuatu dari masa lalu Sasuke yang masih mengganggunya? Bukankah penduduk Konoha juga sudah mengetahui fakta sebenarnya di balik tragedi berdarah klan Uchiha itu? Dan mereka juga sudah bisa menerima keberadaannya kembali, bukan?
Selaput bening menjamah lagi kedua mata Hinata. Ia tidak bisa memungkiri kalau dirinya sangat mencemaskan Sasuke. Hanya membayangkan pemuda itu tengah bermimpi buruk saja sudah membuat Hinata tidak tenang.
Tidak! Ia sudah tidak sanggup lagi! Kalau terus seperti ini, ia benar-benar tidak akan bisa tidur sampai pagi.
Hinata akhirnya bangkit dari tempat tidur, kemudian mengaktifkan byakugan-nya. Didapatinya ternyata penjagaan di sekitar mansion utama Hyuuga masih tidak terlalu ketat. Sejak perang berlalu, memang belum tampak hal-hal yang kembali mengganggu keamanan desa.
Setelah menonaktifkan doujutsu di matanya, Hinata bergegas berganti pakaian. Ketika kemudian Hinata melangkah pelan menuju jendela kamar, gadis yang Desember ini akan berusia 17 tahun itu langsung menggigit bibir bawahnya. Sesaat Hinata hanya terdiam. Lalu ditutupnya kelopak mata. Ia hirup oksigen di sekitarnya dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.
Hinata membuka mata lagi, bersamaan dengan tangannya membuka hati-hati pintu jendelanya. Setelah berada di luar, Hinata kembali memeriksa keadaan di sekitarnya dengan byakugan. Merasa aman-aman saja, Hinata lekas menutup pintu jendela lalu melompat menjauhi kediamannya.
Malam memang sudah semakin larut, namun Hinata tidak merasa gentar ketika berkali-kali menapaki kakinya dari satu atap ke atap yang lainnya. Syukurlah tidak ada halangan berarti yang menghambat perjalanannya menuju mansion Uchiha.
Hinata kemudian memilih mendaratkan diri di sebuah pohon yang berada cukup dekat dengan kediaman Sasuke. Meski sebelum mencapai mansion Uchiha ia sudah mengetahui bahwa Sasuke sedang tertidur, Hinata tetap memfokuskan kedua byakugan-nya pada rumah pemuda itu.
Hinata menghela napas, lantas mendudukkan dirinya dan bersandar pada batang pohon. Mungkin kecemasannya memang terlalu berlebihan. Sasuke terlihat baik-baik saja saat ini.
Akan tetapi, kenapa bayang-bayang hitam itu bisa ada? Dan kenapa juga hanya karena fakta itu saja sudah berhasil mengusiknya sampai membuat ia nekad datang kemari saat larut malam?
Hinata tersenyum lemah. Kepalanya menggeleng tak percaya. Sejak kapan … hanya dengan sebuah pelukan bisa membuat keberadaan seseorang jadi begitu berarti? Benarkah perasaannya pada Sasuke tanpa ia sadari ternyata sudah tumbuh dan berkembang secepat ini?
Sejurus kemudian Hinata merasakan perubahan pada diri Sasuke. Aliran chakra pemuda itu terlihat tidak tenang. Hinata seketika waspada. Apakah jangan-jangan Sasuke menyadari keberadaannya?
Tidak. Ternyata Sasuke tiba-tiba bermimpi buruk. Pemuda itu menggeliat kecil dalam tidurnya.
Hinata ikut memperhatikan Sasuke dengan gelisah. Dugaannya terbukti sudah. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Diam-diam mendatangi Sasuke?
Pikiran Hinata jelas-jelas langsung berteriak menentang, menganggap hal yang ia lakukan sekarang saja sudah terlampau tidak waras. Memang sejak kapan seorang Hyuuga Hinata berani-beraninya keluar larut malam hanya untuk memeriksa keadaan seorang laki-laki?
Namun … kenapa hati Hinata justru berkata sebaliknya? Sama seperti yang terjadi ketika ia memutuskan untuk keluar diam-diam dari rumahnya tadi. Tapi kali ini, ada dorongan lebih kuat dari hati Hinata untuk segera menghampiri Sasuke, menenangkannya, dan mengusir jauh-jauh mimpi buruk itu.
Mendapati Sasuke belum juga kunjung kembali tertidur tenang, akhirnya Hinata tidak sanggup lagi melawan kata hatinya. Hinata kemudian melompat menjauhi pohon untuk mendekati kamar Sasuke, berharap pintu jendela Sasuke tidak dalam keadaan terkunci.
Dan untunglah harapan Hinata terwujud.
Sangat pelan dan hati-hati, Hinata membuka pintu jendela itu lalu masuk melewatinya. Hinata kini berdiri kaku dalam ruangan berpenerangan agak redup itu. Matanya mengerjap lambat.
Kami-sama! Suara Hinata memekik dalam kepalanya. Apa yang sedang kulakukan?
Byakugan Hinata sudah dinonaktifkan oleh gadis itu. Kini sepasang manik mutiara Hinata memperhatikan raut wajah Sasuke yang masih tampak kalut. Meski sayup-sayup, bisa Hinata lihat ada lekukan kecil di kening Sasuke.
Pandangan Hinata langsung berubah sendu. Secara naluriah, dihampirinya Sasuke dan duduk bersimpuh di samping futon tempat Sasuke tidur. Entah sadar atau tidak, tangan kanan Hinata kemudian terulur perlahan mendekati kening Sasuke. Lembut, diusap-usapnya kening itu hingga lekukannya menghilang.
Dengan wajah merona, Hinata menyunggingkan senyum di bibir dan matanya. Sasuke sekarang sudah kembali terlihat tenang. Wajahnya terlihat sangat damai. Seperti malaikat.
Hinata menarik kembali tangannya, tanpa berniat langsung beranjak menjauh. Hinata pun tetap dalam posisi duduk bersimpuhnya. Hanya untuk memperhatikan Sasuke tidur. Hanya untuk memastikan Sasuke tetap memasang wajah tidur setenang itu.
Sudah berapa lamakah waktu berlalu? Ah, kenapa ia belum merasa bosan juga melihat Sasuke tertidur?
Namun, tiba-tiba saja Hinata mendapati kelopak mata Sasuke terbuka cepat, memperlihatkan sepasang manik onyx yang sesaat berkilat tajam.
Hinata diam membeku. Sasuke bergeming tertegun.
Setelah mendapat kesadarannya kembali, Hinata spontan berniat bangkit berdiri. Tetapi sebelum itu terjadi, ternyata tangan Sasuke sudah lebih dulu menggenggam pergelangan tangannya.
"Apa yang kaulakukan di sini?" tanya Sasuke tajam.
Hinata tidak langsung menyahut. Lidahnya terasa kelu.
Tak berhenti di situ, kembali Sasuke membuat Hinata tersentak. Pemuda itu tiba-tiba saja menarik tangan Hinata hingga membuat tubuhnya terjatuh menimpa tubuh Sasuke. Kemudian posisi itu berbalik, karena Sasuke memutar tubuhnya sendiri hingga tubuh Hinata kini berada di bawahnya.
"Apa yang kaulakukan di sini, Hyuuga Hinata?" Sasuke sekali lagi bertanya. Ada penekanan di setiap katanya itu.
Hinata merasakan panas menjalar cepat di permukaan wajahnya, termasuk di kedua matanya. Cairan bening ikut mengumpul di pelupuk mata Hinata. Ia mulai terisak. "A-aku ...," lirih Hinata, masih belum sepenuhnya sanggup berbicara.
"Dasar bodoh," Sasuke berkata datar. Segera dihapusnya air mata Hinata yang mulai mengalir.
"Ma-maaf," ucap Hinata akhirnya. Suaranya terdengar serak. Masih terisak. "Aku akan segera pulang."
"Tidak. Kau sendiri yang berani datang kemari tanpa seijinku," Sasuke bergumam rendah sambil membenamkan wajahnya di lekukan leher gadis Hyuuga itu. "Jadi, jangan mengira aku akan membiarkan kau lepas begitu saja, Hinata."
Hinata tercengang. Napasnya semakin bergetar gugup. "Ta-tapi—"
"Sudah. Diam saja!" perintah Sasuke seraya mengubah posisi tubuhnya menjadi di sisi Hinata. Segera ia memperbaiki selimut dan menutupi tubuh mereka berdua dengan benda tersebut.
Hinata mengawasi pergerakan Sasuke itu dengan panik dan siaga. Kemudian Hinata rasakan sepasang lengan Sasuke merengkuh tubuhnya, memeluknya dengan nyaman sekaligus protektif. Dan seketika itu juga tubuh Hinata perlahan tidak gemetar lagi.
"Aku janji tidak akan macam-macam," bisik Sasuke dengan suara berat dan rendah. "Aku hanya ingin tidur sambil memelukmu."
Semakin terpana oleh tindakan sekaligus perkataan Sasuke, Hinata hanya bisa diam tak berkutik. Sekejap kemudian, rasa nyaman dan aman dari pelukan Sasuke itu berhasil membuat Hinata terlena.
Hinata pun tak bisa mencegah bibirnya membentuk senyum. Dengan gerakan hati-hati, dibalasnya rangkulan lengan Sasuke. Kedua matanya lantas terpejam. Sembari menikmati suara detakan jantung Sasuke, Hinata menepuk-nepuk pelan punggung pemuda dalam pelukannya ini.
Perlahan-lahan, Hinata akhirnya juga ikut terlelap. Merasakan Sasuke kembali tertidur tenang, sudah cukup membuat Hinata merasa keputusan yang sudah ia buat … bukanlah sebuah kesalahan.
.:.
.:.
OoOoO
.:.
.:.
Sang pagi akhirnya mulai menggantikan lagi peran sang malam di hari baru itu, dengan warna jingga kemerahan tergores indah di cakrawala timur. Mentari pun sudah bersiap untuk kembali menghangatkan bumi di musim gugur.
Lambat-lambat, Sasuke membuka sedikit kelopak matanya. Seberkas cahaya matahari sesaat membuat Sasuke menyipitkan mata. Dilihatnya cahaya itu ternyata masuk melalui jendela kamarnya yang terbuka.
Mendadak ekspresi tertegun berkelebat di wajah Sasuke. Kelopak matanya kembali tertutup beberapa saat, kemudian terbuka lagi dengan cepat.
Sasuke menggerakkan hati-hati bola matanya ke bawah, memandang pada satu sosok yang kini tengah ia peluk. Ketika tiba-tiba saja merasakan sosok itu sedikit menggeliat, Sasuke sontak membulatkan matanya lebar-lebar.
Jadi … ia memang bukan hanya sedang bermimpi?
Sasuke mengangkat kedua ujung bibirnya, sama sekali tak tahan untuk tidak tersenyum. Dipeluknya sosok Hinata semakin erat, lalu menyentuhkan bibirnya pada puncak kepala gadis itu.
Ah, pantas saja mimpi itu terasa begitu nyata.
Meski masih terbuai oleh rasa kantuk, Hinata akhirnya berusaha memaksakan dirinya untuk membuka mata. Dan keterkesiapan pun seketika menyerang gadis itu. Bisa Hinata rasakan wajahnya kini kembali memanas.
"Hinata."
Berubah menjadi panik, Hinata menahan napas gemetarnya. "Y-ya?"
"Hinata."
Suara itu ternyata sekali lagi menyebut namanya. Kembali dengan bisikan lembut. Trenyuh, senyum gugup yang mengandung pemahaman terukir di bibir Hinata. "Ya, Sasuke-kun?"
Sasuke tersenyum samar. Sembari memejamkan mata, Sasuke beralih membenamkan wajahnya di pundak Hinata. Kemudian ia bernapas di sana. "Hinata," bisik Sasuke lagi, kali ini dengan suara parau namun penuh kelegaan. "Kau … benar-benar di sini."
Hinata berusaha menahan panas haru di matanya. Dengan tangan sedikit gemetar, diusap-usapnya lembut rambut Sasuke. "Ya. Aku benar-benar ada di sini."
"Kenapa?"
Hinata diam membeku. Gerakan tangannya berhenti seketika.
Sasuke mengangkat kepala. Dipandangnya kedua lavender Hinata yang mulai berkabut. "Kenapa kau kemari?" tanya Sasuke lagi. Suaranya berubah menuntut.
Hinata tersentak. Wajah Sasuke kini kembali berada dekat dengan wajahnya. Namun, rasa ingin tahu dan harapan yang terpancar jelas di sepasang mata tajam Sasuke, membuat Hinata jadi ingin mengabaikan rasa gugupnya. Ingin melupakan kerikuhannya, walaupun hanya sejenak.
Sorot mata Hinata lantas berubah sendu, ketika sekali lagi ia melihat bayang-bayang hitam di kedua bawah mata Sasuke. Berupaya untuk tidak gemetar, jemari kanan Hinata perlahan mendekati wajah pemuda itu. Hati-hati, diusapnya salah satu bayang hitam itu dengan ibu jari.
"Ini … membuatku tidak bisa tidur," lirih Hinata. Dengan tatapan meminta maaf, Hinata kemudian memandangi mata Sasuke. "Aku melihatmu bermimpi buruk semalam."
Tubuh Sasuke langsung menegang. Manik hitam di kedua matanya mengelam dingin. Wajahnya tak menampakkan ekspresi lagi.
Rasa nyeri sontak mendera jantung Hinata. Ditundukkannya kepala dalam-dalam. Kedua tangan Hinata kini mengepal gemetar di depan dada, sementara pelukan Sasuke ia rasakan sedikit merenggang. "Ma-maafkan aku," ungkap Hinata, berusaha menahan tangis.
"Bukankah kau menyukai Naruto?"
Hinata tertegun. Suara Sasuke begitu dingin dan datar, namun bisa Hinata rasakan pelukan Sasuke justru kembali mengerat di tubuhnya. Terasa posesif sekaligus defensif.
"Tidak. Kau tidak perlu menjawabnya," lanjut Sasuke sedetik kemudian, tanpa memberi kesempatan Hinata untuk mengeluarkan suara. Dengan gerakan cepat, Sasuke lantas mengubah posisi tubuhnya menjadi di atas tubuh Hinata. Tangan Sasuke pun menumpu tubuhnya sendiri agar tidak menindih tubuh gadis itu.
Tindakan tersebut kontan membuat Hinata terkejut. Mata bulannya membulat lebar. Bibirnya masih diam membisu. Tubuhnya semakin membeku kaku.
"Mulai sekarang …," kata Sasuke lagi dengan jeda panjang, "… kau harus beralih memfokuskan matamu hanya padaku."
Hinata mengerjap terperangah. Bibirnya terbuka hendak bersuara, namun ternyata sudah terlebih dahulu dibungkam oleh sentuhan bibir Sasuke. Hanya sekejap, tapi sukses membuat Hinata … semakin kesulitan bernapas!
Sasuke menyeringai tipis. Ekspresinya lantas kembali mengeras, disertai suaranya yang terdengar semakin menuntut. "Pastikan juga perasaanmu pada Naruto hanya menjadi masa lalu, karena hingga di masa depan nanti, Hinata, kau … adalah milikku. Mutlak hanya milikku pribadi. Jadi, jangan pernah berani mencoba untuk menatap orang lain lagi. Kau mengerti?"
Sasuke berhenti berbicara. Namun, sesaat kemudian ganti dirinya dibuat terpaku oleh Hinata, ketika Sasuke mendapati cairan bening mulai mengalir jatuh dari sudut mata gadis Hyuuga itu.
"Dasar bodoh!"
Sasuke semakin termangu.
"Sasuke-kun bodoh!" isak Hinata lagi, dengan punggung tangan yang sudah menutupi matanya. "Ka-kau sudah dua ka-kali menyebutku bodoh, tapi nyatanya kau juga bodoh."
Pekat hitam di kedua mata obsidian Sasuke semakin meredup. Ditatapnya sejenak Hinata yang kini menangis dalam diam, lalu Sasuke bangkit dari atas tubuh Hinata dan duduk di sampingnya.
"Aku bersedia meminta maaf karena sudah membuatmu menangis," ujar Sasuke datar dan dingin sambil mengangkat tubuh Hinata ke pangkuannya, kemudian kembali memeluk erat tubuh mungil itu. "Tapi … jangan harap aku akan mau menarik kata-kataku tadi!"
Berusaha tidak terisak, Hinata membenamkan wajahnya di dada Sasuke dan mencengkram baju pemuda itu kuat-kuat. "Bodoh!" lirih Hinata dengan suara pedih. "Tan-tanpa perlu kaupaksa pun, aku sudah menatapmu, kau tahu. Bahkan, jauh sebelum di pemakaman itu, perasaanku pada Naruto-kun juga sudah menjadi masa lalu bagiku. Jadi kumohon berhentilah berpikir aku hanya akan mau menatapmu jika kaupaksa, Sasuke-kun."
Begitu terkejut akan kata-kata Hinata, Sasuke tegang membisu beberapa detik, lalu hanya mampu bergumam datar, "Aku kira kau hanya mengasihaniku saat di pemakaman itu, sama seperti saat kau mau datang kemari tadi malam hanya karena melihatku bermimpi buruk. Aku tidak bisa memikirkan alasan lainnya, saat kau yang tidak terlalu mengenalku, justru tiba-tiba mendekat dan memelukku. Ditambah … kemarin aku juga melihatmu masih diam-diam memperhatikan Naruto. Memang apa lagi alasan yang bisa semakin kusimpulkan selain karena kau merasa kasihan padaku, eh?"
Hinata menggeleng pelan. Dadanya terasa bertambah sesak setelah mengetahui penyangkaan Sasuke itu. Namun kemudian Hinata berusaha menguatkan dirinya, dan berhenti menangis. Berusaha untuk mengerti masa lalu, yang juga bisa ikut berperan dalam terbentuknya masa depan.
Sembari menutup mata, Hinata mencoba menghirup udara dalam-dalam lalu mengembuskannya hati-hati. Merasa sudah sedikit lebih tenang, Hinata kemudian perlahan menggerakkan lengannya untuk membalas pelukan Sasuke. Dan senyum lemah langsung terbentuk di bibirnya.
"Dugaanmu itu tidak benar, kau tahu," Hinata mulai berbicara pelan. "Saat melihatmu di pemakaman, awalnya aku memang merasa seperti bisa mengerti apa yang kaurasakan ketika kau sedang melihat pusara keluargamu. Kehilangan bagian penting dari keluarga kita memang rasanya sangat menyakitkan, bukan? Terlebih secara tiba-tiba, dan juga … dengan tujuan untuk melindungi diri kita."
Hinata terdiam, merasakan kepala Sasuke tiba-tiba terbenam di pundaknya. Tubuh Sasuke sedikit bergetar, bersamaan dengan mata Hinata semakin memburam oleh selaput bening. Hinata pun berupaya keras menahan sesak dan mengeratkan pelukannya. Lembut, Hinata juga menepuk-nepuk punggung Sasuke penuh afeksi. Berharap itu bisa membuat gemetar ringan di tubuh Sasuke segera menghilang.
"Lalu … aku juga memberanikan diri mendekat untuk bisa berdoa di depan pusara keluargamu," Hinata mencoba lanjut berbicara, setelah gemetar di tubuh Sasuke dirasakannya berkurang. "Aku sangat berharap mereka bisa hidup tenang di alam sana, sama seperti doaku untuk ibuku, pamanku, dan Neji-nii. Awalnya, aku juga tidak tahu mengapa kemudian aku berani memelukmu, laki-laki yang justru tidak terlalu kukenal. Hanya saja," Hinata mengulas senyum kecil, "memelukmu saat itu tidak terasa ganjil bagiku. Justru … terasa benar. Entah kenapa."
Hinata menghela napas panjang. "Sejak kejadian itu, aku malah jadi sering memikirkanmu. Aku juga tidak langsung mengerti alasannya. Tapi waktu akhirnya kemarin aku bisa melihatmu lagi, aku merasa sangat senang. Ditambah aku juga bisa memasak untukmu dan memanggilmu dengan nama kecilmu lagi. Aku kira kau membenciku, kau tahu. Aku …," suara Hinata berubah tercekat, "… tidak tahu harus berbuat apa lagi kalau ternyata benar kau membenciku karena sudah memelukmu tanpa ijin."
"Aku tidak membencimu," sela Sasuke cepat dengan geraman pelan. "Aku tidak bisa, meski aku sudah berkali-kali mencobanya."
Hinata bergeming kaget, kemudian tersenyum haru. "Aku percaya padamu," ungkap Hinata setelah mampu bernapas lagi. Sambil memejamkan mata, Hinata kembali berujar halus, "Sekali lagi aku juga minta maaf, karena sudah diam-diam datang kemari. Rasanya … memang tidak masuk akal, tapi hanya karena melihat matamu yang kurang tidur, aku jadi benar-benar mencemaskanmu, Sasuke-kun, sampai-sampai … bisa membuatku melakukan hal gila yang tidak pernah kulakukan sebelumnya."
Hinata menggeleng kecil, merasa trenyuh sekaligus takjub. "Aku juga sama sekali tak menyangka, kau tahu, kalau ternyata perasaanku padamu bisa berkembang dengan kecepatan tidak normal seperti ini. Tapi … aku tidak menyesal memilikinya, karena entah kenapa aku yakin ini bukanlah sebuah kesalahan. Justru menjadi petunjuk dari Kami-sama."
Dengan senyum yang mengulas penuh pukau, Hinata kemudian membisukan bibirnya. Ah, benarkah semua perkataan itu dirinyalah yang mengucapkannya?
Pertama kalinya pernyataan sepanjang dan sejenis itu bisa Hinata ungkapkan dengan lancar, terlebih pada seseorang seperti Sasuke sekaligus dalam pelukan pemuda itu. Apakah perasaannya pada Sasuke dan keberadaan Sasuke-lah yang membuatnya bisa seperti ini?
Gelombang kelegaan juga tak ayal ikut muncul dalam diri Hinata. Menjalar cepat dan membuat dadanya terasa lapang. Kini … Hinata memilih hanya menunggu tanggapan Sasuke dalam diam. Dalam detak pengharapan yang bergemuruh kencang dari jantungnya.
Sasuke akhirnya berhasil bernapas lagi, setelah lebih sering dibuat tercenung oleh kata-kata Hinata yang mengejutkan. "Bodoh," bisik Sasuke kemudian dengan suara datar. "Justru pelukanmu saat itu yang membuatku lebih sering tidak bisa tidur. Untuk pertama kalinya, hanya karena dipeluk oleh seorang gadis, aku jadi merasa uring-uringan, kau tahu. Kau membuatku …," Sasuke tersenyum mendengus. "Aku tidak dapat menjelaskannya dengan benar. Apa yang sebenarnya ada dalam dirimu yang bisa membuatku seperti ini, huh?"
Kelopak mata Hinata sontak terbuka lagi, lalu mengerjap dalam kedipan terpana. Manik lavendernya terasa semakin memanas perih. "A-aku minta maaf," Hinata menjawab dengan tenggorokan tercekat.
Sasuke lagi-lagi tersenyum mendengus. "Kau benar-benar …," cetus Sasuke sambil sedikit mengurai pelukannya, mencoba untuk melihat wajah Hinata.
Menyadari hal itu, Hinata kontan saja merundukkan kepala. Tidak ingin Sasuke melihat pelupuk matanya yang siap menumpahkan tangis.
"Dasar cengeng," ucap Sasuke dengan nada lembut, alih-alih nada mengejek. Ditepuk-tepuknya ringan puncak kepala Hinata. Senyum tipis ikut tercetak di bibirnya.
Hinata semakin erat mencengkram bagian belakang baju Sasuke, seiring wajahnya mulai ia tenggelamkan di dada pemuda raven itu. Dan Hinata pun menangis haru di sana.
Masih tersenyum samar, Sasuke menggelengkan kepala dan menghela napas perlahan. Dibalasnya dekapan Hinata dengan dada yang terasa sesak oleh bahagia.
"Terima kasih," gumam Sasuke tanpa sadar, pelan dan rendah. "Terima kasih karena sudah mau memelukku."
.:.
.:.
OoOoO
.:.
.:.
Dengan tangan bersedekap di dada, pria paruh baya itu mengawasi dua remaja yang kini duduk bersimpuh di hadapannya. Raut wajah pria itu memang tetap tampak tenang, hanya mata peraknya yang melayangkan tatapan nyalang. Ditambah dengan adanya fakta kedua mata putrinya yang sedikit sembab, juga membuat hatinya ikut mendidih berang.
Hinata menundukkan kepala dalam-dalam. Matanya menutup rapat menunggu kemarahan sang ayah. Sasuke sendiri terlihat tak gentar menghadapi pandangan ayah Hinata. Bibir Sasuke hanya tertarik datar di wajahnya yang tanpa ekspresi. Sementara sebelah tangan Sasuke menggenggam tangan Hinata yang mengepal di pangkuan, mencoba memberi ketenangan dan dukungan pada gadisnya itu.
Dalam hati Hinata merutuki dirinya yang tadi tidak segera sadar akan waktu. Setelah melihat sinar matahari yang semakin terang menembus kamar Sasuke melalui jendela, baru Hinata menyadari pagi ternyata sudah datang. Tentu saja kepanikan langsung menyerang Hinata, takut keluarganya sudah tahu bahwa dari semalam ia tidak ada di rumah. Dan kepanikan itu lantas dilapisi oleh keterkejutan, ketika Sasuke justru ingin menemaninya ke mansion Hyuuga.
"Jadi …," Hiashi mulai bersuara, membuat Hinata semakin panik, "… apa yang sebenarnya terjadi?"
"Saya yang meminta putri Anda datang semalam," Sasuke langsung menyahut tenang.
Tersentak kaget, Hinata spontan mengangkat kepala, lalu menggeleng cepat. "Bu-bukan. Bukan, Otou-sama," sergah Hinata dengan napas tertahan. "A-aku sendiri yang berkeinginan datang ke rumah Sasuke-kun. Aku …. Aku—"
"Saya akan segera menikahi Hinata," Sasuke segera menyela, masih dengan nada tenang. Sangat tenang.
Hinata seketika menoleh ke arah Sasuke, semakin tercengang. Bibirnya menganga kecil. Sesaat, Hinata merasa jantungnya seakan berhenti berdetak.
Perkataan Sasuke itu juga ternyata berhasil membuat bola mata Hiashi membelalak kaget. Padahal sebelumnya Hiashi hanya mengertakkan gigi diam-diam, ketika mendapati adanya kontradiksi antara pernyataan Sasuke dan Hinata.
"Memang kaukira umur kalian berapa, hah?" Amarah Hiashi akhirnya meledak dalam bentuk teriakan tak menyangka.
Mendengar teriakan itu, Hinata segera tersadar dari keterperangahannya. Saat dilihatnya bibir Sasuke hendak kembali berbicara, Hinata buru-buru mengaitkan jemari tangan mereka. "Sasuke-kun," panggil Hinata pelan. "Tolong biarkan aku bicara sebentar dengan ayahku."
Sasuke menoleh. Rahangnya mengeras. "Tapi—"
Hinata semakin mengeratkan genggaman tangannya, membuat Sasuke berhenti bersuara. Sasuke langsung memahami pandangan lavender Hinata itu. Jenis pandangan yang seolah mengatakan … "Percayalah padaku".
Sasuke mengembuskan napas dengan sedikit kasar, lalu mengangguk sekali. Ditatapnya Hinata dalam-dalam, sebelum akhirnya memalingkan wajah untuk memandang ayah gadis itu. "Permisi, Hyuuga-sama," ucap Sasuke datar sambil sedikit membungkuk.
Tanpa bisa mengalihkan fokus matanya, Hinata terus memperhatikan Sasuke yang kemudian beranjak berdiri. Setelah melihat Sasuke menghilang ke balik pintu, Hinata hanya terdiam.
Lantas Hinata berbalik menatap sang ayah. Kali ini dengan kesungguhan yang tadi didengarnya dalam suara Sasuke. Keteguhan yang dilihatnya di pancaran mata pemuda itu.
"Sebelumnya aku ingin maaf pada Otou-sama," Hinata berucap dengan badan membungkuk rendah. "Ini semua kesalahanku, bukan Sasuke-kun. Dan … kami semalam juga tidak berbuat seperti yang Otou-sama pikirkan."
Sembari berusaha meredakan amarahnya, Hiashi mengamati Hinata lekat-lekat. Rasa bersalah tiba-tiba kembali menyelimuti pria itu. Meski hubungannya dengan putri sulungnya itu sudah cukup membaik, Hiashi masih sering dikungkung oleh rasa bersalah. Bersalah akan perlakuannya pada Hinata di masa lalu. Bersalah akan ketidakmampuannya menjadi seorang ayah yang baik dan benar untuk Hinata. Bersalah karena merasa gagal menjadi orangtua tunggal yang bisa diandalkan dan dibanggakan setelah istrinya meninggal.
Dan sekarang … bagaimana caranya ia menghadapi permasalahan seperti ini dengan tepat? Ketika diam-diam mengetahui kesedihan Hinata akibat menerima penolakan Naruto saja, Hiashi tidak tahu harus melakukan apa untuk membuat putrinya itu kembali bahagia, walaupun pada akhirnya Hinata memang tampak sudah berhasil menata perasaannya selama beberapa minggu ini.
Andaikan saja mendiang istrinya masih hidup, Hiashi yakin ibu Hinata itu akan bisa menangani permasalahan semacam ini dengan lebih baik. Akan bisa mengerti lebih baik perasaan seorang perempuan seperti anak gadis mereka ini.
Tidak! Hiashi berupaya meyakinkan diri. Jika mendiang istrinya bisa memberikan yang terbaik dari dirinya sebagai seorang ibu pada Hinata, kali ini … ia harus bisa berusaha lebih keras lagi memberikan yang terbaik dari dirinya sebagai seorang ayah. Hanya lakukan yang terbaik sesuai batas kemampuannya. Dengan caranya tersendiri.
Semua kesalahannya di masa lalu pada Hinata memang tidak langsung sepenuhnya bisa Hiashi tebus dengan cara itu, tapi setidaknya … ia kini bisa menjadi salah satu yang berperan penting dalam membentuk kebahagiaan untuk Hinata. Dalam memastikan bahwa putri sulungnya ini akan hidup bahagia di masa depan nanti. Dan itu akan membuat Hiashi merasa lebih tenang lagi jika sudah waktunya ia pergi kelak.
Tidak ingin terus mementingkan egonya, Hiashi pun membulatkan tekad. Ia akan membicarakan permasalahan ini dengan hati-hati. Berharap tidak lagi membuat kesalahan yang sama.
"Tegakkan kembali badanmu."
Hinata menarik napas. Suara ayahnya terdengar tenang sekaligus datar, namun sepertinya tidak ada amarah lagi. Setelah menuruti perintah ayahnya tadi, gelombang kelegaan perlahan-lahan mulai membanjiri diri Hinata. Meski tidak terucap dalam kata-kata, hanya dengan melihat mata sang ayah, Hinata langsung tahu kalau ayahnya itu sudah memaafkannya.
"Berterimakasihlah pada Hanabi. Dia yang berbohong pada orang-orang yang menanyakan keberadaanmu—yang pagi-pagi sekali sudah menghilang, kalau kau sempat berpamitan padanya untuk pergi ke pemakaman," ungkap Hiashi kemudian, membuat Hinata tertegun kaku. "Untunglah akhir-akhir ini kau memang sering mengunjungi tempat itu setiap pagi, jadi mereka sudah sempat mengira. Dan kejadian ini juga jadi tidak perlu merambat ke telinga para tetua."
Merasa tak enak hati, Hinata sekali lagi membungkuk. "Maaf, karena sudah banyak menyusahkan Otou-sama."
"Bukankah kau menyukai Naruto?"
Tiba-tiba mendengar pertanyaan sejenis itu dari sang ayah, tubuh Hinata kontan saja membeku terpana, seperti merasakan déjà vu. Ditegakkannya kembali badan, lalu hanya mampu bergumam pelan, "Sasuke-kun …. Dia juga pernah menanyakan hal yang persis sama."
Hiashi menghela napas. Karena sudah bisa menyangkanya, jadi ia tidak terlalu merasa terkejut. Hanya saja Hiashi ingin lebih memastikan perasaan Hinata yang sesungguhnya. Meski dari cara Hinata menatap Sasuke tadi membuat ia teringat akan cara mendiang sang istri menatap dirinya dulu, begitu pula dengan cara mereka saling menggenggam dan saling menyebut nama, namun Hiashi tetap ingin bisa memastikan bahwa perasaan Hinata ini bukanlah sebagai pelarian semata. Bukanlah hanya perasaan yang lewat sesaat. Hiashi juga tidak mau membuat Hinata menyesal di kemudian hari.
"Lalu?" tanya Hiashi sejurus kemudian, menuntut kejelasan lebih lanjut.
Hinata menundukkan kepala. Ini adalah pertama kalinya Hinata melakukan pembicaraan seperti ini dengan sang ayah. Pembicaraan antara ayah dan anak gadisnya, mengenai apa yang dirasakannya terhadap seorang pemuda.
Gelenyar keharuan pun muncul, beriringan dengan aliran kegugupan dan kecemasan yang ikut menyelinap. Karena tak ingin melewatkan momen langka ini, Hinata akan berusaha menjelaskannya dengan baik dan terus terang. Berharap ayahnya juga bisa mengerti. Sekaligus bisa lebih mengenal dirinya lagi.
Setelah kembali meneguhkan diri, Hinata akhirnya mengangkat kepala dan menggeleng kecil. "Perasaan itu sudah menjadi masa lalu, Otou-sama," ungkap Hinata sungguh-sungguh. Bibirnya kemudian mengukir senyum haru. "Tapi, walaupun sudah ditolak dan menjadi masa lalu, aku tidak langsung menganggapnya hanya sesuatu yang sia-sia. Aku tetap bersyukur pernah memiliki perasaan itu dulu, karena perasaan itu … juga ikut memiliki peran penting untuk membuatku menjadi seperti sekarang. Bukankah segala sesuatu yang terjadi di dunia ini pasti memiliki alasan?
"Aku yang dulu sangat lemah, ikut terus berjuang dan berlatih keras seperti Naruto-kun. Darinya aku telah belajar mengenai semangat pantang menyerah untuk bisa lebih kuat, bisa dilihat, hingga bisa diakui. Meski belum bisa menjadi yang terbaik, setidaknya aku sudah berusaha melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan."
Sembari menarik napas panjang, Hinata mengerjap saat merasa kabut bening mulai menjamah lagi matanya. "Kepercayaan dan pengakuan yang akhirnya diberikan oleh Otou-sama, Neji-nii, dan Hanabi terhadap keberadaankulah … yang menjadi salah satu alasan terbesarku untuk tidak terus bersedih. Untuk bisa belajar menerima kenyataan yang tidak selalu sesuai dengan yang kuinginkan. Juga untuk tetap menghargai peran penting perasaan yang dulu pernah ada itu."
Hiashi masih bergeming, terlalu terpaku akan ucapan Hinata. Pemimpin klan Hyuuga itu kemudian mendesah pelan. Mencoba mengikuti nalurinya sebagai seorang ayah, Hiashi mengulurkan tangan dan menepuk-nepuk ringan puncak kepala putrinya. "Kita memang tidak selalu bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, Hinata, tapi … kita pasti selalu bisa mendapatkan apa yang memang kita butuhkan."
Hinata termangu sesaat, lalu mengangguk-angguk kecil dengan cepat. "Y-ya. Otou-sama benar," timpal Hinata, sambil mengusap air matanya yang sudah mengalir dengan punggung tangan. "Aku juga percaya dengan hal itu. Rencana Kami-sama memang selalu lebih baik, bukan?"
Hiashi mengangguk, sejenak tersenyum tipis. Lantas ia menarik tangannya, kembali bersedekap. "Dan … kau membutuhkan Uchiha itu?" tanya Hiashi kemudian, dengan ekspresi lebih serius.
Sekali lagi Hinata termangu. Sedikit lebih lama dari sebelumnya. Lalu senyum lemah merekah penuh haru di bibir mungil Hinata. Pipinya ikut bersemu merah. "Ya," jawabnya yakin. "Aku membutuhkan Sasuke-kun, Otou-sama."
"Alasannya?" tanya Hiashi cepat.
Hinata mengerjap kaget. Satu kali. Dua kali. Kemudian Hinata sedikit menundukkan kepala. "Alasannya … karena aku mencintainya. Mencintai Sasuke-kun," sahut Hinata pelan dengan pandangan menerawang. "Aku … seperti merasa bisa jadi utuh lagi saat bersamanya. Merasa bahwa tempatku yang benar adalah bersama Sasuke-kun, alasanku untuk dilahirkan. Jika dia baik-baik saja, aku juga akan baik-baik saja. Hanya Kami-sama yang tahu, kenapa justru baru sekarang aku merasakan dan menyadari hal ini."
Hinata terdiam lagi. Lantas diangkatnya kepala, dan tersenyum lemah. "A-apa … Otou-sama juga merasa ini tidak masuk akal? Merasa sulit memercayai kalau aku memang bisa memiliki perasaan seperti ini pada Sasuke-kun?"
Tercenung dalam kebekuan, Hiashi memandang putrinya tanpa kedip. Dari cara Hinata menatap Sasuke, caranya menggenggam tangan Sasuke, ditambah caranya setiap kali menyebut nama pemuda Uchiha itu dan mengungkapkan perasaannya tentang Sasuke, bagaimana mungkin Hiashi bisa tidak percaya lagi?
Hiashi menggeleng singkat. Sorot matanya semakin serius. "Kau adalah calon pemimpin klan ini, Hinata," ujar Hiashi penuh penekanan.
Senyum Hinata menghilang. Sinar di kedua mata bulannya perlahan meredup. Setelah sejenak bergeming, akhirnya Hinata menundukkan kepala lagi. "A-aku tahu, Otou-sama. Maaf."
Hiashi bisa mendengar gemetar dalam suara parau Hinata. Kebahagiaan yang tadi dilihatnya dalam diri putrinya itu kini tak ada lagi. Lenyap entah ke mana. Dan ia benci jika itu berlangsung terlalu lama.
"Tapi … Hanabi juga terlahir bukan tanpa alasan," kata Hiashi kemudian, masih dengan nada formal.
Hinata seketika mendongak. Sambil menahan napas gemetar, dipandangnya sang ayah dengan tatapan tak mengerti. "Mak-maksud Otou-sama?"
"Panggil Uchiha itu kembali kemari."
Hinata semakin tertegun. Bingung sekaligus heran. Namun, perlahan-lahan kabut hitam itu menghilang dari benak Hinata, memperlihatkan cahaya terang yang mulai menghangatkan hatinya dengan keharuan. Hinata menarik napas dalam-dalam, sementara bibirnya menyunggingkan senyum kecil.
Memilih untuk segera melaksanakan perintah ayahnya itu, Hinata membungkukkan badan. "Hai, Otou-sama," sahutnya pelan, lalu bangkit berdiri dan melangkah mendekati pintu.
Tetapi setelah berada di koridor luar ruang tamu, Hinata ternyata tidak langsung melihat sosok Sasuke. Tak ingin membuat sang ayah menunggu lebih lama, Hinata pun menggunakan byakugan-nya untuk bisa menemukan keberadaan Sasuke dengan cepat. Dan … didapatinya Sasuke sedang berada di taman yang letaknya tak terlalu jauh dari ruang tamu. Dengan Hanabi!
Terkesiap, Hinata langsung menyadari Sasuke dan adiknya itu tampak seperti akan bertengkar. Tanpa pikir panjang, Hinata bergegas pergi menghampiri mereka berdua, sebelum yang tidak ia inginkan terjadi!
.
.
*TBC*
A/N :
Semoga chapter ini juga tidak terlalu mengecewakan ya. Terima kasih banyak buat yang udah sempet baca atau yang sekaligus review di chapter pertama. Ini balesan review anon. ^^
# Katsumi, Arisa, & indigohimeSNH : Udah dilanjut aka di-update. *plaak*
# Guest : Menurut riset para ilmuwan, seingetku kata mereka butuh waktu beberapa detik aja buat orang jatuh cinta lho. Kekeke~ Rasanya mungkin gak masuk akal untuk kasus SasuHina di sini, apalagi baru berjalan seminggu. Tapi kalo Tuhan emang menghendakinya secepet itu, kenapa enggak? xp Takdir Tuhan itu emang bisa kerasa gak terduga sekaligus gak masuk akal bagi manusia. X'))
Yep. Udah dilanjut nih. ^^
.
.
Yosh~ Mind to review?
.
.
Arigatou gozaimasu *deep bow*
