Ah senengnya bisa lanjut . makasih buat yg udah baca, review, follow maupun fave ff ini T.T terharu banget T.T udah saya bales satu2 ya reviewnya, hehehe.
Di chap ini bakal terjawab siapa yg nolongin Sehun di toilet ^^ dan saya akan terus berusaha tetap semangat utk lanjut ff ini, apalagi kalo banyak yg review *ngarep* hehehe
Sekali lagi makasih buat yg udah baca, review, follow, n fave ff ini ^^
BANYAK TYPO. DLDR.
REVIEW PLEASE.
HAPPY READING ^^
Sehun merasa dirinya akan pingsan, dan saat itu juga ia mendengar samar-samar suara memanggil namanya
"Kau baik-baik saja, Sehun-ssi?"
Sehun mencoba mendongakkan kepalanya untuk melihat di cermin siapa yang sedang mengajaknya berbicara. Suara yang cukup berat menurut Sehun, dan ia belum pernah mendengarnya. Usahanya mendongakkan kepalanya malah membuat Sehun merasa semakin pusing. Pandangannya buram, dan kali ini ia sudah tidak mampu menjaga kesadarannya. Samar-samar ia dengar suara berlari dan berikutnya...
Sehun membuka matanya perlahan. Mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mengumpulkan kesadarannya. Belum sepenuhnya sadar ia sudah mendengar suara yang begitu dikenalnya berkicau panjang lebar.
"Kan sudah kubilang harusnya kau ikut aku makan tadi. Kalalu kau makan kan kau tidak akan pingsan seperti ini. Untung ada Kris uisanim yang menemukanmu di toilet dan langsung membawamu kemari" ucap Kai panjang lebar.
PLETAKK
"Awww, appo hyung! Kenapa kau malah memukulku!?" Kai berujar ketika kakaknya, Luhan menjitak kepalanya.
"Jangan marah pada Sehun! Lagipula harusnya kau itu sadar dong kalau temanmu pucat. Harusnya kau tidak menawarinya makan tapi malah membawanya ke ruang kesehatan!" Luhan juga berujar panjang lebar.
"Sudah kalian berdua tenanglah! Sehun baru saja sadar dan tidak seharusnya kalian ribut seperti itu" Kris uisanim yang baru saja masuk ke ruang kesehatan itu menyela.
"Ah maaf uisanim" ucap Luhan sambil membungkukkan badannya diikuti dengan Kai.
"Dan terima kasih sudah menolong Sehun" ucap Luhan seraya tersenyum simpul.
Membalas senyuman Luhan, "Tidak apa, sudah kewajibanku untuk menolong orang yang sedang sakit kan?"
Dan entah kenapa malah Kai yang tersenyum sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Dan karena hal itu ia malah mendapat satu jitakan lagi dari Luhan.
"Kenapa memukulku lagi sih, hyung?" ucap Kai tidak terima.
"Kau sendiri kenapa tertawa?!" ucap Luhan sewot.
"Ah sudah sebaiknya kalian segera kembali ke kelas. Pelajaran ke-7 segera dimulai" ucap Kris menengahi lagi.
"Ah iya uisanim terima kasih banyak. Kami akan kembali sepulang sekolah nanti untuk mengantar Sehun pulang" ucap Luhan.
"Tidak perlu, biar aku yang mengantar Sehun pulang nanti" ucap Kris msambil mendekati meja kerjanya.
"Ah sekali lagi terima kasih uisanim. Maaf merepotkan. Hehe" kali ini Kai yang berkata sembari mengumbar cengirannya lagi. Melihat cengiran Kai, Kris tertawa kecil.
"Tidak apa-apa. Tidak merepotkan, dan... sama-sama" lanjut Kris.
"Baiklah kami permisi dulu uisanim, selamat siang. Sehunnie cepat sembuh ya" ucap Luhan sambil mengusap rambut Sehun.
"Cepat sembuh ya, Hun. Tidak asik duduk sendirian di belakang" ucap Kai kali ini dengan senyum manisnya. Sehun hanya mengangguk pelan menanggapi dua orang itu. Setelah itu mereka berpamitan dan keluar dari ruang kesehatan.
"Kau sudah tidak makan mulai kapan?" ucap Kris mendekati ranjang Sehun setelah Kai dan Luhan pergi.
"Aku selalu makan" jawab Sehun datar.
"Aku dokter kau tahu, dan aktingmu buruk untuk membohongi seorang dokter" Kris menyanggah pernyataan Sehun.
"Kemarin siang" ucap Sehun singkat, entah kenapa ia menjawab secepat itu. Biasanya Sehun adalah tipe orang yang malas menanggapi hal-hal semacam perdebatan seperti itu dengan memilih diam. Namun entah apa yang menggerakkan bibirnya untuk menjawab pertanyaan dokter muda itu.
"Duduklah" perintah Kris pelan.
"Untuk apa?" tanya Sehun.
"Menyuapimu, setelah makan kau minum obat" jawab Kris tidak kalah datarnya dengan Sehun.
Sejujurnya Sehun sangat malas makan. Tidak ada semangat. Namun sekali lagi ia menuruti saja perintah dokter itu. Ia mendudukkan dirinya dibantu Kris. Dan setelah itu ia menerima saja suapan sup ayam yang dibeli Kris barusan.
"Namaku Kris. Kau bisa memanggilku Kris uisanim, tapi kau juga bisa memanggilku Kris hyung, aku belum terlalu tua." Ucap Kris masih menyuapi Sehun.
"Terima kasih sudah menolongku" ucap Sehun setelah menelan suapan Kris yang kesekian.
"Hmm. Sama-sama" jawab Kris singkat.
"Kau dokter tapi kau dingin, uisanim" kali ini Sehun berbicara.
"Tidak juga. Aku tersenyum pada pasienku. Tapi aku memang berkepribadian seperti ini sih dari dulu. Dan seperti kau tidak dingin saja?" ucap Kris sambil tertawa kecil.
Sehun hanya menghela napas mendengar jawaban Kris.
"Oh Sehun, 17 tahun, putra dari Oh Jaejoong si penulis lagu terkenal dan Oh Miyoung fotografer majalah Elle. Benar kan?" tanya Kris setelah Sehun meminum obatnya. Mendengar pertanyaan Kris, hati Sehun sakit.
'Putra ya?' batin Sehun. Sehun hanya diam tidak menanggapi ucapan Kris.
"Aku mengamatimu semenjak kau kelas satu. Aaku tertarik pada sosok mu yang sangat pendiam dan dingin. Padahal ketika aku pertama kali bertemu denganmu di perempatan Gangnam, ketika aku melihatmu menolong anak kecil yang tersesat, kau bisa tersenyum begitu hangat" Kris menjelaskan panjang lebar. Mendengar penjelasan Kris, Sehun hanya menutup matanya.
"Aku ingin tahu kenapa orang yang bisa tersenyum begitu hangatnya denga eye-smile nya bisa menjadi sosok yang begitu dingin di sekolah, bahkan terhadap kedua sahabatnya" lanjut Kris dan Sehun masih menutup matanya.
Jeda sedikit panjang dan Sehun maupun Kris tidak ada yang bersuara.
"Aku tahu kau menyimpan sesuatu" kali ini Kris yang angkat bicara. Mendengar pernyataan Kris, Sehun membuka matanya dan menatap Kris, masih dengan poker face nya.
"Dan aku ingin membantumu" lanjut Kris
TBC
