Pintu perlahan terbuka dan menampilkan sosok bersurai crimson. "Tetsuya, bisakah kau ikut aku sebentar?" Akashi-kun menatapku dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Sebenarnya aku sedikit was-was dengan makhluk penghisap darah didepanku ini. Tapi daripada tidak menurutinya, bisa-bisa aku dilempar gunting. Jadi aku terpaksa mengikutinya walaupun perasaanku tidak enak.
The Cold One
Disclaimer:
Kuroko no Basuke-Tadatoshi Fujimaki
Warning:
AU, OOC, typo, gaje, sho-ai, pendeskripsian kurang, alur bagai Aomine dalam zone(?!) dll.
Kuroko POV
Aku berjalan mengikuti Akashi-kun yang ada didepanku. Langkahku berhenti saat memasuki wilayah taman belakang. "Jadi, kau sudah tahu tentang kami, Tetsuya?" dia bertanya tanpa memerhatikanku. "Apa maksudmu?" sungguh, aku tidak mengerti maksudnya. "Apa perlu aku praktekan padamu?" Akashi-kun berbalik dan memperlihatkan kedua iris merah darah. "Kau tahu? Kemampuan saat kita bermain basket sebenarnya dipengaruhi oleh keturunan kita. Rata-rata vampire memiliki mata yang bisa melihat hal yang tidak mungkin dilihat mata biasa. Riko bisa melihat kemampuan fisik seseorang denga nangka. Kazunari dan Shun punya hawk eye dan eagle eye dan bisa melihat lapangan dari sudut pandang yang sulit. Aku punya mata khusus keturunan darah murni, emperor eye yang bisa melihat masa depan kawan dan lawan."
Akashi-kun menjeda sebentar. "Sedangkan hunter memiliki mata yang bisa membuat fokus penuh penggunanya. Atsushi, Daiki, dan Taiga punya zone. Shintarou bisa fokus memprediksi jarak dan Satsuki mencari informasi dengan menatap orang atau sesuatu. Tapi, pernahkah kau bertanya satu hal pada dirimu sendiri, Tetsuya?" dia mendekat, aku mundur. Terus begitu sampai aku membentur tembok dibelakangku. Aku harus lari!
"Quasi emperor eye milikmu yang bisa melihat masa depan pergerakan kawanmu, apakah itu bisa dikatakan fokus?" aku membatu. Bukan, bukan karena Akashi-kun menatapku dari jarak dekat seperti ini. Namun karena aku baru menyadarinya. Emperor eye adalah mata khas milik vampire keturunan darah murni. Namun kenapa aku bisa memilikinya juga? "Apakah kau yakin berasal dari keturunan hunter bayangan, Kuroko Tetsuya?"
Aku benar-benar ketakutan setengah mati. Namun aku baru teringat sesuatu dan segera mencari dalam saku jaketku. Aku menemukannya! Sebuah pulpen yang dilapisi perak, ini akan menghentikannya untuk sementara. Perak ini dapat kusentuh, itu artinya aku bukan vampire 'kan? Makhluk malam penghisap darah itu tidak bisa menyentuh benda perak. Namun kulihat Akashi-kun menyeringai padaku. "Kau pintar juga, Tetsuya..." aku bahkan tidak tahu itu kalimat pujian atau bukan.
Kuroko POV end
Akashi POV
Aku hanya melihat hitam putih dalam mimpiku. Aku juga sebenarnya tidak yakin bahwa hunter didepanku ini adalah dseorang darah murni yang kucari, namun apa salahnya untuk memastikan saja?
Pria manis didepanku tengah menggenggam sebuah pulpen berlapis perak. "Kau pintar juga, Tetsuya..." aku memberi jeda sebentar. "Aku tidak mau membahas ini. Besok latihan basket seperti biasa." Tetsuya menatapku sebentar lalu mengalihkan pandangannya. "Baiklah, Akashi-kun."
Akashi POV end
.
.
.
.
.
.
Seperti biasa, GoM latihan di gym, kebuali Kise yang hanya memeluk bola basket sambil melihat kawan-kawannya berlatih. Salahkan temannya yang bermuka imut tanpa ekspresi itu karena bilang dirinya pingsan pada kakaknya yang brother-complex. "Jangan memaksakan diri, Ryouta." Kise memandang sebal orang disebelahnya. "Tapi aku sudah tidak apa-apa. Aku ingin main-ssu." Nash terkekeh pelan, adiknya ini benar-benar keras kepala sepertih ayah mereka. "Kau tahu fenomana blood moon?" tanya Nash tiba-tiba. "Blood... Moon?" mungkin baru pertama kali adiknya mendengar hal tersebut.
"Gerhana bulan merah, fenomena itu membuat bulan seolah berwarna merah seperti darah. Konon katanya, saat itulah sumber kekuatan para vampire." Akashi tiba-tiba mendekati mereka sambil berkata demikian. 'Juga saatnya bagi vampire darah murni itu bangkit.' Akashi menambahkan dalam hati. "Bulan depan tepatnya saat bulan purnama, kau bisa melihat fenomena itu."
"Hii... Bukankah vampire itu jelek dan menyeramkan, Akashicchi?" si pirang merinding, lain dengan para vampire disana yang merasa tersinggung. "Tidak juga, banyak vampire tampan dan berwibawa." Akashi menjawab sedikit kesal. Nash menepuk jidatnya sendiri. "Kau jarang lihat film tentang vampire, ya? Mereka itu rata-rata sempurna! Ada yang tampan, cantik, bahkan shota juga."
Himuro sedikit was-was dengan Aomine yang menatap tajam Akashi. Namun ia tidak bisa mengawasinya karena mendadak haus. "Atsushi..." kalau sudah begini, Murasakibara tahu harus melakukan apa. "Muro-chin, ayo kita ke taman belakang saja. Disana tidak ada CCTV." Murasakibara menarik lengan Himuro. Si surai ungu pergi tanpa disadari oleh teman-temannya.
"Muro-chin, apa kau tahu siapa vampire darah murni selain Aka-chin?" tanya hunter itu. "Entahlah, tapi yang pasti ia akan bangkit sebentar lagi. Dan aku juga merasakannya." Himuro menjawab. Mereka berjalan terus sampai ditempat yang mereka tuju.
Murasakibara berhenti dekat sumur tua, lalu membiarkan lehernya sedikit terekspos. "Wajahmu pucat, aku juga akan seperti itu jika kelaparan." Himuro terkekeh. "Aku haus, bukan lapar, Atsushi..." matanya berubah menjadi merah darah, kuku-kukunya memanjang. Himuro menancapkan taringnya pada leher Murasakibara. "Ugh... Cepatlah, jangan sampai mereka tahu kau melakukan ini."
"Kenapa? Kenapa kau tidak membunuhku dan malah memberikan darahmu padaku?" si surai hitam melepas gigitannya pada sang hunter. "Ssst, jangan berpikiran begitu." Murasakibara mengelus surai hitam Himuro. "Kita ini sahabat, 'kan? Aku memang membenci vampire, tapi bukan berarti aku akan membunuh kalian semua. Aku yakin, masih ada vampire yang baik. Dan aku yakin, kau adalah salah satunya." Himuro terdiam, Murasakibara Atsushi yang terkenal sebagai raksasa tukang makan kini tengar memperlihatkan sisi lembutnya lengkap dengan sebuah senyuman tulus. "Arigatou..." Murasakibara memeluk Himuro dan berbisik, "Aku tidak akan membiarkanmu mati..."
.
.
.
.
.
.
"Kagami-kun, apa menurutmu aku ini vampire?" tanya Kuroko dengan wajah datar. "Hah? kenapa kau bertanya begitu? Kau sudah jelas keturunan hunter!" seru Kagami. "Tapi bukankah aku punya mata yang sama seperti Akashi-kun?" pemuda beralis cabang itu tertawa. "Hahaha... Hanya karena matamu, kau curiga pada keturunanmu sendiri? Namamu adalah Kuroko Tetsuya, seorang keturunan hunter. Ingat itu! Kalau soal mata emperor, kenapa kau tidak lihat Kise? Dia bukan hunter atau vampire, tapi dia juga bisa masuk zone dan bisa meniru emperor eye milik Akashi. Itu dipengaruhi saat kita suka bermain basket. Tenang saja, bukankah Aomine dan Midorima sudah pernah menjelaskannya?" Kagami mengacak surai biru milik Kuroko.
'Aku adalah keturunan hunter. Aku tidak boleh ragu akan hal itu.' Kuroko tersenyum, pemuda disampingnya ini memang sahabat yang baik. "Ya, pasti ada penjelasan yang logis soal mataku ini." Kagami sweatdrop. 'Padahal main basket dengan mata ajaib seperti itu saja sudah tidak logis...' pikirnya. "Apa kau mau ikut denganku untuk mencari informasi tentang vampire lain?" hunter bayangan tersebut bertanya pada cahayanya. "Tidak ada alasan jika aku menolak. Tentu saja aku ikut! Kau akan selalu berdiri oleh cahaya, dan akulah cahayamu." Kuroko tidak bisa berhenti tersenyum. Mereka mengadu kepalan tangan, tanda persahabatan mereka yang erat.
"Hey, kalian jangan bermesraan disana!" "AKU TAHU KAU ITU FUDANSHI, TAPI JANGAN JADIKAN AKU SEBAGAI KORBANMU, TSUNDERIMA!" ya, akhirnya mereka adu mulut, sampai Murasakibara dan Himuro kembali. Tentu saja si titan ungu menutupi bekas gigitan coretukenyacoret dengan sebuah syal ungu yang senada dengan warna rambut dan matanya.
Kuroko berjalan mendekati Kagami yang tengah berdebat dengan si pencinta ramalan Oha-Asa lalu berbisik padanya. "Kudengar dari beberapa murid kelas tiga, dulu Nash-senpai sangat hebat dalam bermain basket. Namun ia berhenti setelah angkatan kita masuk SMA ini, mau coba one-on-one dengannya?" mendengar itu, si surai merah kehitaman berhenti berdebat dengan si surai hijau. "Menarik juga..."
Kagami mendekati duo pirang disudut lapangan. "Nash-senpai, apakah aku boleh main one-on-one denganmu sebentar?" pinta Kagami. "Boleh saja..." "Kagamicchi, kenapa kau tidak mengajakku-ssu?" Kise jadi kesal sendiri sekarang. "Ryouta, pinjam bolanya." Kise menggeleng. "Aku yang beli kemarin. Hanya aku yang boleh memakainya-ssu!" benar-benar keras kepala. Nash mendekati pot bunga yang entah kenapa ada dibelakang mereka. "Senpai, apa yang kau lakukan?"tanya Kagami bingung. "Mau mencari cacing." Kise akhirnya histeris. "HIEEE?! Ini, pakai saja bolanya-ssu! Asal jangan berikan aku makhluk laknat itu-ssu!" "Jangan naik keatas kursi!"
Midorima POV
BaKagami, itu fakta bahwa kalian bermesraan tadi, bukan aku yang fudanshi. "Shin-chan, untuk apa kau bawa benda ini sih?" suara itu mengganggu saja. "Itu lucky item hari ini." Takao sepertinya kesal. "Baiklah, aku akui seluruh lucky item milikmu unik. Tapi adakah yang lebih normal dari sebuah boneka barbie bergaun pink ini?!"
Aku menatapnya tajam. "Setidaknya benda itu bisa menjadi penangkal makhluk astral yang lain, dasar nyamuk penghisap darah." Takao pasti kesal, tapi biarkan saja. "Gelarku vampire, bukan nyamuk! Kenapa panggilanku jadi tidak elit begitu sih?" dia benar-benar merengek. "Caramu merengek itu seperti gadis-nodayo. Jika kau vampire, aku yakin kau telah hidup ratusan tahun. Apakah aku benar, Takao-jiji?" aku melupakan fakta itu sejenak, fakta bahwa aku dan Murasakibara menjadi sahabat vampire tanpa diketahui hunter lain.
"Jangan sebut aku jiji, aku masih muda!" heh, benarkah itu? "Berapa umurmu?" "Aku baru berumur 317 tahun jika kau mau tahu!" ya, kau masih sangat muda Bakao! Seakan mengerti pikiranku, dia berkata lagi. "Apa? Setidaknya aku normal, jadi jangan tatap aku seperti itu! Jika kau mau, kau bisa menanyakan berapa tinggi badan serta umur Aka-" "Kazunari, aku tahu umur dan tinggi badanku sangat jauh berbeda. Bisakah kau tidak membahas soal itu pada Shintarou?" PLAKKK! Aku menampar pemuda disebelahku. "Maaf, ada nyamuk-nanodayo." Takao merengek lagi, dia tahu 'nyamuk' yang kumaksud adalah dirinya sendiri.
Aku kembali melihat one-on-one di depan sana, mereka hebat. Kagami hampir mencetak skor dengan dunk jka bolanya tidak diblock oleh- Tunggu dulu! Nash-senpai memerhatikan apa? Kurasa tatapannya itu tidak melihat bola ataupun Kagami walau sesaat. Mungkinkah ia menggunakan zone? Tidak, itu tidak mungkin karena aku tidak melihat kilatan zone. Mungkinkah ia melihat masa depan dari gerakan Kagami? Tapi tu hanya bisa dilihat emperor eye. Ah, soal itu, aku harus menanyakannya!
"Takao, apa benar emperor eye hanya dimiliki oleh vampire darah murni?" aku sebenarnya masih ragu pada Kuroko yang punya emperor eye. "Kau salah besar, Shin-chan. Vampire darah murni bukan memiliki emperor eye, tapi berpotensi untuk memilikinya." Kuroko memilikinya sejak masih SMP, apa mungkin ia vampire itu? Namun ia sudah jelas keturunan hunter bayangan. Tidak mungkin ia menyembunyikan identitas aslinya. Sekarang aku tengah memikirkan cara untuk membongkar identitasnya. Kedua pemuda pirang bermarga Kise itu adalah saudara, sudah jelas karena marga mereka sama dan mereka juga mirip. Tapi kakaknya memiliki emperor eye dan adiknya bisa meniru emperor eye milik Akashi. Jika salah satu dari mereka adalah darah murni, seharusnya ada total tiga ditambah Akashi. Tidak mungkin seseorang adalah vampire dan saudaranya adalah manusia.
Sekarang aku bisa memastikan siapa vampire misterius itu dengan satu cara. "Takao, ada berapa vampire darah murni disini? Dan apa kau tahu siapa Kise Ryouta?" tidak mungkin jika aku langsung menanyai Kuroko. Jadi hanya Kise yang aku tanyakan. "Eh? Aku hanya merasa dua vampire darah murni disini. Dan kenapa kau tanyasi pirang? Dia itu manusia."
Aku benar-benar membatu. Kise adalah manusia, jadi tidak mungkin kakanya adalah vampire. Jadi artinya, darah murni selain Akashi itu... Kuroko?
Midorima POV end
.
.
.
Murasakibara POV
"Ryouta, antar aku ke kantin!" aku mendengar seseorang menyebut 'kantin' dan membuatku semangat. "AKU IKUT!" terlalu bersemangat, sampai... PLUK! 'Sialan...' pil darah itu jatuh dari jaketku dan sialnya diketahui oleh Mine-chin. Bisa gawat jika ia tahu kalau aku memberikan darahku pada Muro-chin. Bisa-bisa aku akan dimarahi dan Muro-chin akan dibunuh. "Apa. Kau. Bisa. Jelaskan. Tentang. Ini?" penuh penekanan disetiap kata, Mine-chin menatapku tajam. Ia akan jadi sangat protektif pada teman-temannya jika sudah berhubungan tentang darah dan vampire. Dibelakangnya ada Muro-chin yang berekspresi datar, namun sorot matanya khawatir. "Tak biasanya kau memasang wajah panik begitu." Muro-chin, bantu aku! "Bagaimana tidak panik? Aku bisa ketinggalan ke kantin kalau kau menahanku!" aku mengambil kotak pil dari tangan si hunter biru dan melemparnya pada sahabat vampireku. "Muro-chin, tadi kau menitipkannya padaku 'kan? Kau bisa ambil itu sekarang."
Segera saja ia menangkap kotak pil darah miliku. "Ah, iya. Arigatou, maaf merepotkanmu Atsushi." Muro-chin tersenyum padaku, namun aku bisa menangkap makna sebenarnya dari kalimat 'Arigatou, maaf merepotkanmu' yang diucapkan olehnya. Aku melambaikan tangan padanya sebentar lalu mengikuti Kise bersaudara. 'Maafkan aku karena telah berbohong padamu Mine-chin, tapi saat kau marah kau itu menyeramkan.'
Aku menyamai langkahku dengan dua orang kakak-adik yang kukenal. "Kalian tahu soal siswi kelas tiga yang meninggal itu?" terlalu sepi, jadi aku memutuskan untuk memulai pembicaraan. "Bahkan kami mendengar langsung dari saksinya. Dia bilang itu seperti ulah... vampire?" pasti ada yang lepas kendali. Entahlah, mungkin aku akan meminta bantuan Muro-chin untuk menyelidikinya nanti. Setelah Kise-chin bilang begitu, tidak ada lagi yang kami bicarakan sampai kita didepan kantin. Aku dan duo pirang disampingku melotot horor. Kantin benar-benar dipenuhi siswa-siswi sekarang.
.
.
.
"Murasakibaracchi, kenapa kau malah membeli snack lagi-ssu? Persediaanmu masih banyak!" aku mengabaikan omelan Kise-chin. "Ah, akhirnya kau datang!" ya, akhirnya Nash-senpai datang juga dengan botol minum yang kembali terisi penuh oleh cairan merah- Apa itu?! Merah? Mungkinkah itu... "Kau membuat kami menunggu! Sebagai hukumannya..." mata cokelat adiknya melirik kearah botol minum yang terisi cairan mencurigakan tersebut.
"Hm? Ap-" BYUUUR! "AARGH! AKU BARU SAJA MEMBELINYA!" "HAHAHA..." baru saja membuka botolnya dan berniat untuk minum, tapi adiknya yang jahil ini malah merebut botol tersebut sehingga isinya tumpah mengenai semak-semak mawar putih disamping kami lalu tertawa nista. "Kise-chin, kupu-kupu itu jadi kebasahan juga."
Kupu-kupu hitam itu terbang menjauh. Kise-chin malah memetik bunga mawar putih dan menjilat bagian yang terkena cipratan liquid merah tadi. "Ryouta! Mawar putih itu kotor terkena hujan dan pestisida sebelumnya!" "Kenapa kau tidak membelikan aku minuman ini juga?! Rasanya manis." Kise-chin mengatakannya dengan mata berbinar. Syukurlah, itu hanya minuman biasa dan bisa diminum manusia. Kenapa aku malah berpikir yang macam-macam? Hahaha...
"Beli saja sendiri!"
"Aku tidak tahu di kantin sebelah mana!"
"Masa bodoh!"
"Hidoi-ssu!"
Ya, aku malas mendengar perdebatan kakak-adik yang satu ini...
Murasakibara POV end
.
.
.
.
.
Kuroko POV
Waktu sudah menunjukkan pukul tengah malam, dan aku mendapat mimpi buruk. Aku memutuskan untuk mengirim pesan pada Aomine-kun agar ia bisa datang kesini. Suasana asrama yang gelap juga tambah membuatku ketakutan sehingga membangunkan Kagami-kun. TOK... TOK... TOK... Akhirnya ia datang! Aku segera membuka pintu, namun lorong ini begitu gelap. "Aomine-kun? Kau dimana?" hening. "Aku ada di depanmu dari dari tadi, Tetsu..." konyol! Ini benar-benar konyol! "Sumimasen, silahkan masuk."
Biasanya yang memberi jawaban begitu ketika Aomine-kun bertanya adalah aku, tapi kenapa sekarang malah berbalik?! Aku menyalakan sebatang lilin karena jika diatas pukul sepuluh malam listrik asrama Teiko akan dimatikan. "Tetsu, kau mimpi apa?"
Aku sebenarnya takut untuk menceritakannya, tapi mungkin saja Kagami-kun dan Aomine-kun bisa memberi petunjuk soal mimpiku. "Aku melihat dalam hitam dan putih, seorang anak yang sepertinya baru berumur lima tahun memeluk seorang wanita yang sepertinya adalah ibunya. Aku tidak bisa melihat wajah anak itu. Namun aku bisa mendengar apa yang dikatakan wanita itu..." aku memberi jeda. "Intinya, wanita itu meminta maaf pada anaknya karena telah mengubahnya menjadi manusia..." "Vampire darah murni yang menjadi manusia, tak lama lagi ia akan kembali..." kata Kagami-kun. 'Apakah itu... Aku?'
Kuroko POV end
.
.
.
Kise POV
Aku terbangun, kenapa aku malah merasakan dingin seperti ini? Aku turun dari tempat tidurku, rupanya Aominecchi lupa menutup jendela kamar. Tapi kemana dia? Aku tidak terlalu memusingkan hal itu dan mulai menutup jendela kamar. Pandanganku teralih pada meja belajar disudut ruangan. Sebuah mawar yang kupetik tadi sudah tampak layu, aku mengambilnya dan hendak membuangnya. "Eh, bukankah tadi ini mawar putih? Tapi kenapa sekarang malah jadi mawar merah-ssu?" jendela kamarku terbuka lagi oleh angin, lalu menerbangkan kelopak mawar itu...
Kise POV end
.
.
.
.
.
.
Banyak yang terjadi setelah satu bulan berlalu semenjak Kagami dan Nash latihan one-on-one. Satu yang bisa Kagami simpulkan, Kise Nash sangat hebat dalam bermain basket.
Kagami POV
Aku bisa melihatnya dengan jelas, bagaimana kakaknya Kise bermain basket. Tatapan itu seperti Akashi. Sebelumnya, aku sempat merekam percakapan Kuroko dengan Akashi mengenai kemampuan mata hunter dan vampire. Tentu saja saat itu Aomine hampir mengamuk pada Akashi jika Momoi tidak menahannya dan memberi informasi tentang vampire lain. Aku dan Kuroko juga telah mendapat informasi tentang beberapa vampire, contohnya Nijimura-senpai dan Sakurai Ryo yang sama-sama golongan tiga.
Karena ini jam istirahat kedua, kami para keturunan hunter berkumpul seperti biasa dan tengah menunggu Momoi. Di kelas ini hanya ada aku, Midorima, Aomine, dan Murasakibara. Sedangkan Kuroko entah ada dimana
BRAK!
Sampai pintu kelas terbuka dengan cara dibanting lalu ditutup kembali dengan cara yang sama oleh seorang gadis bersurai merah muda. "Oy, Satsuki! Santai saj-" "Kau tidak akan santai bila tahu apa informasi yang baru kudapatkan!" kalimat Aomine terputus oleh perkataan Momoi. "Bukannya aku peduli-nanodayo, tapi ada apa sampai kau tidak tenang begitu, Momoi?" baiklah, sifat tsundere si hunter hijau sepertinya sedah sampai tahap stadium akhir.
"Vampire darah murni yang selama ini kita cari..."
"Kurokocchi~" Kise datang dan mencari baayanganku."Mana Kurokocchi? Aku butuh kehangatan-ssu. Aku ingin memeluknya!" Aomine memandangnya bingung, begitu juga dengan yang lain.
Kuroko POV end
Aomine POV
Entah kenapa terbesit rasa cemburu saat melihat Kise mencari dan ingin memeluk Tetsu, namun aku tidak terlalu mementingkan hal itu karena wajah Kise terlihat pucat. 'Tidak seperti biasanya...' pikirku. Aku melepas mantelku dan memberikannya pada si pirang. "Kau bilang butuh kehangatan, 'kan?" kataku saat dia menatapku bingung. "HUWEEE! Ternyata masih ada yang perhatian padaku-ssu!" "Hentikan itu, Kise! Kau berisik!"
.
.
.
.
.
.
"Itu dia gerhana bulan merahnya, Aominecchi!" aku dan beberapa anggota klub basket tengah melihat blood moon diatap asrama Teiko ini. Banyak yang mengabadikan fenomena langka yang kubenci dan mengingatkanku pada kejadian beberapa tahun silam. Tepatnya saat para vampire menjadi kuat dan membunuh orang tuaku didepan mataku sendiri. Itu sebabnya aku sangat membenci mereka, juga gerhana ini. Oh, ingatkan aku untuk membuat alasan agar teman-temanku berkumpul tengah malam beberapa menit lagi dan membuat penjagaan ketat.
Tengah malam saat gerhana bulan merah, vampire darah murni yang misterius itu akan bangkit. Sebenarnya aku masih waspada dengan Tetsu karena emperor miliknya. "Kise, aku sebenarnya sedikit iri padamu. Kau masih punya seorang kakak yang bisa melindungimu disaat kedua orang tuamu pergi..." tanpa sadar, aku berkata lirih. "Nash itu orangnya brother-complex. Dia bilang bisa menjadi seperti itu karena dulu, aku dan kedua orang tuaku terlibat sebuah kecelakaan mobil." Kise menatap bulan merah itu.
"Aku tidak memaksamu jika ingin menceritakan-" "Tidak, aku akan cerita." Kise dan aku sedikit jauh dengan yang lain, sehingga kami bisa berbicara tentang apapun dengan leluasa. "Nash bilang, dia bersama bibi saat itu. Sedangkan aku bersama kedua orang tuaku baru saja pulang dari suatu tempat yang tidak aku ingat. Namun ada sebuah truk yang menabrak mobil keluargaku. Walaupun tidak ada yang aku ingat saat bangun. Aku hanya ingat namaku Kise Ryouta, dan kakakku Kise Nash. Dialah satu-satunya orang yang aku kenal."
Aku bahkan sama sekali tidak menyangka dengan masa lalu si pirang berisik ini. Wajah ceria yang selalu ia tampilkan, menutupi kisah yang pilu yang ia alami. "Aku bahkan tidak bisa mengingat wajah otou-sama dan okaa-sama karena tidak ada foto mereka sama sekali. Mereka tidak suka berfoto."
Suaranya memelan pada bagian akhir, dan ternyata perasaanku benar. Setelah ini dia pasti- "Aominecchi, aku kedinginan..." BRUK! "Kise!"-kehilangan kesadaran.
.
.
.
Aku terdiam dikamarku, menunggu Kise membuka matanya. Namun sebuah panggilan masuk di ponselku yang menampilkan nama 'BaKagami' membuatku mau tak mau keluar kamar untuk mengangkat panggilan itu. "Ada apa, baKagami?" "Ahomine! Siapkan pistol dan peluru perak itu!" pistol biasa, karena dulu tou-san adalah seorang polisi. Bahkan tou-san memberikannya pada teman-temanku yang merupakan keturunan hunter. Namun kenapa harus diisi peluru perak itu? "Vampire darah murni itu akan bangkit! Kau ingat kan?" "APA?!" aku terkejut dengan jawaban dari seberang sana.
Aku menutup panggilan secara sepihak dan berbalik ke kamarku. Namun yang kulihat adalah Kise yang digendong kakaknya dengan bridal style. "Nash-senpai? Apa yang kau lakukan disini?" aku melihat pintu balkon terbuka. Mungkin ia melompat dari kamarnya di lantai tiga? Namun tatapannya begitu dingin. "Kau tidak perlu mengetahui alasanku membawa Ryouta." Nash-senpai berkata disertai angin besar yang masuk melalui pintu balkon yang terbuka, aku juga sempat melihatnya membawa Kise pergi dengan melompat dari balkon. Tak lama, angin beerhenti dan aku menuju balkon kamar, tetapi mereka berdua telah hilang...
Aomine POV end
.
.
.
.
.
.
Kise POV
Dingin, seperti yang akhir-akhir ini selalu kurasakan. Perlahan aku membuka mataku, hanya terlihat pemandangan salju yang turun dari langit. Aku merasakan tubuhku sedikit hangat, ada seseorang disini tengah melindungiku dari dinginnya udara ini. Aku melihat surai pirang kakakku walaupun samar.
Namun mataku terbelalak saat merasakan sensasi panas dan perih pada leherku. Lalu aku merasakan cairan merah kental dan hangat mengalir dari sana. "Nash, apa yang- Hmph!" kenapa kau menutup mulutku? Kenapa kau juga menahan tanganku? Aku tidak akan berteriak, sungguh! Adakah sesuatu yang kau rahasiakan dariku? Kenapa leherku seperti terbakar? Kumohon, lepaskan aku!
Aku tidak merasakan kehangatan lagi seperti sebelumnya, rasanya tubuhku membeku ditengah musim dingin ini. Aku merasa lemas dan perlahan kegelapan menyelimutiku kembali...
.
.
.
TBC/Disc
A/N: Holaaa... Saya bawa chapter 2 ^_^ terimakasih telah membaca dan mereview cerita gaje saya ini #plak
Saya seneng banget pas tau review yang ngelebihin perkiraan aku :D ini balasan reviewnya:
Hyuann-san: Wah... makasih sudah review ^_^ saya gak nyangka FF nya bakal bikin penasaran '-'. Oke, ini udah lanjut :D
Midorima Ryouta-san: TERNYATA ADA JUGA YANG PENDAPATNYA SAMA DENGAN SAYAH #plak. Oke, ini sudah lanjut :D
KiRyuu7-san: Hayoo tebak, Kise kenapa yaa? #slap. Itu karena AoKi adalah OTP saya :') yosh, ini sudah lanjut :D
febiputrisetyowati41-san: Ini sudah lanjut :D
vira-hime-san: Oke, ini sudah lanjut :D
Maaf saya jawab gak pake PM karena koneksi lemot TT^TT
Review please ^_^
