~Kimi ni I miss you~
BRUAKKK!
Aku merebahkan tubuhku pada kasur yang sudah menyambutku.. ku sembunyikan wajahku pada bantal yang ku peluk."aahh shit!" dumelku. Kenapa juga kata kata itu harus keluar? !
[sejam lalu]
"AKU SUKA PADAMU!" reflex, kata kata itu keluar dari mulutku. Dia begitu kaget dengan kata kata yang keluar dari mulutku, yah aku dapat melihatnya dari raut wajahnya yang memandangku
"apa apaan itu?" ia mengalihkan pandangannya. Entah apa yang ia pikirkan
"aku tau.. mungkin kau merasa jijik ketika seorang pria mengatakan suka padamu. Tapi itu lah kebenarannya.. aku.. suka padamu" sahutku pelan sambil mencoba berdiri
"apa apan" sahutnya pelan. "eh?" aku hanya dapat bereaksi seperti itu. aku menatap heran dirinya
"APA APAN ITU!" bentaknya. Aku hanya terdiam kaget mendengarnya
"sebaiknya kita tak usah bertemu lagi.. yah itu lebih baik" ia mengambil payungnya dan pergi meninggalkanku di tengah hujan. Aku hanya berdiam diri menatap punggung lebarnya yang mulai menghilang itu. aku tahu pasti akan jadi begini.. tapi aku tak pernah mengharapkan ini terjadi…
[sejam yang lalu end]
"baka! Baka!" dumelku kesal sambil terus menghantamkan wajahku ke bantal. Arghh.. padahal akhirnya aku tau namanya, padahal kami bisa menjadi teman baik. Argh! Kenapa kata itu harus keluar dari mulutku si? Mikoto..
(Q_Q)
Sudah tiga hari berlalu semenjak insiden itu. aku tak tau harus bagaimana. Ah shit! Seandainya waktu bisa kuputar…
"ini pesanan anda tuan" sebuah mesin pelayan mengantarkan pesananku. Yah, aku ada di sebuah café langgananku. Aku kemari untuk menikmati makan siangku
"mikoto?" sahutku pelan ketika mataku menangkap sesosok pria berambut merah, mikoto suoh. *note: munakata duduk di dekat jendela* mata kami saling bertemu, tapi tak lama, karena ia langsung menolehkan pandangannya.. huhh.. kenapa juga kami harus bertemu dalam keadaan seperti ini si?
.
.
.
.
.
Seminggu berlalu, aku kini sedang membaca buku di salah satu perpustakaan yang lumayan besar dimana semua buku yang ku inginkan ada di sana. Aku pun mengambil beberapa buku dan kemudian mencari tempat buat duduk dan membacanya.
"mi….mikoto?" aku heran. Kenapa mikoto ada di tempat ini. well yah walau iya tak membaca buku si.. ia tertidur dengan pulas di sebuah tempat duduk dekat jendela. Mungkin angin yang sepoi sepoi itu membuatnya tertidur dengan pulasnya.
"eh?" aku melihat sekelilingnya, terdapat buku buku yang tak tertata. Sepertinya ia asal mengambil buku dan asal menaruhnya. Aku pun merapikan setiap buku yang ada di dekatnya. Lalu aku duduk di depannya. Tak mau menyianyiakan kesempatan ini, sekali lagi, aku melihat setiap lekuk wajahnya
"pffttt~" aku tertawa kecil melihat wajahnya yang tertidur dengan pulasnya bagai anak kecil yang lelah karena seharian bermain. Aku tak ingin terbawa suasana, aku pun langsung mengambil salah satu buku yang ku pinjam dan kemudian ku baca. Menyenangkan sekali membaca buku di perpus dekat jendela sambil melihat wajah tertidurnya..
.
.
.
"ah sudah jam segini.. perpus akan tutup" aku melihat kea rah jam yang sudah menunjukan pukul 5 sore. Aku pun bergegas merapikan buku yang tadi ku baca. Sebelum aku mengembalikan buku itu, aku mencoba membangunkan mikoto hanya dengan menoel (?) noel nya kemudian aku bergegas lari dari hadapannya, karena aku tau ia tak mau bertemu denganku..
.
.
.
.
.
Hari terus berganti, sudah berkali kali aku tak sengaja bertemu dengan mikoto dalam keadaannya yang tertidur. Aku heran, sepertinya di manapun dan kapanpun ia bisa tertidur dengan pulasnya tanpa mempunyai beban. Aku selalu menemaninya saat tidur, kadang kala aku menyelimutinya, tak mungkin kan aku biarkan ia terkena flu, kan? Walau aku tau ia tak mau bertemu denganku, tapi aku ingin berada di sampingnya.. walau hanya sesaat saja…
(OwO)
Bulan kini telah berganti yep sudah dua bulan berganti semenjak terakhir aku bertemu mikoto. Hari ini aku hendak pergi ke café langgananku
BRUAK!
Seseorang menabrakku. Aku pun langsung menengok ke arah orang itu
"mikoto?" aku tak pernah menyangka akan bertemu lagi dengannya. Aku pun bergegas pergi dari hadapannya, karna aku tau diri. Ia tak mungkin mau melihatku lagi kan?
SSRRREEETTT!
Tiba tiba mikoto menarik tanagnku. Kaget. Aku langsung menengok ke arahnya
"ada yang ingin ku bicarakan" sahutnya sambil berjalan ke arah sebuah taman kota. Aku hanya mengikutinya… apa yang akan ia bicarakan?
.
.
.
.
.
"jadi.. apa yang ingin kau bicarakan?" sahutku dengan dinginnya. Sedangkan ia hanya menatapku
"kau kan.. yang memberikan aku payung saat hari hujan itu, kau yang mengganggu pertarunganku, kau yang merapikan buku ku di perpus dan kau juga yang menyelimutiku di taman kala itu, kan?"ia menatap lurus mataku. Menangkap ku dan membawanya sangat dalam. Aku hanya bisa terdiam, mulutku terasa terkunci oleh tatapan matanya
"i…itu…. ma…maaf" aku mengalihkan pandanganku darinya. Apakah ia marah?
SREETTT!
Ia menarik ku. Memegang bahuku dan meletakan kepalanya di bahu kiriku. Terasa sekali setiap helaian nafasnya yang menyentuh kulitku. Suara desahan nafasnya pun terniang jelas di telingaku. Apa apaan ini?
"kenapa harus kau?" sahutnya pelan
"eh? apa maksudmu?" tanyaku heran. Sedangkan ia hanya menarik nafas panjang. Hembusan nafasnya itu terasa jelas..
"jangan pernah lari dariku lagi" SREET! Ia langsung mendorong ku tapi tangannya masih memegang bahuku. Ia menatapku lurus lebih dalam dari yang tadi. Membuat aku hanya bisa berdiri menatapnya
CUPP!
Ia mengkisu ku. WWWWWWHHHHHHHAAAAAATTTTTTTTTTT? Ia M-E-N-G-K-I-S-U-K-U.. K-I-S-U!
Dan semenjak itulah kami menjadi sepasang kekasih..
Sebuah perjalan cinta yang sebentar bukan? (maklum, authornya males ngetik XD)
Tahun berganti, aku tak pernah menyangka bahwa mikoto adalah salah satu raja. Raja merah. Raja ketiga… sedangkan aku adalah raja biru. Kami akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan ini diam diam. Karena kami berdua adalah raja. Dan karna kami berdua adalah raja, kami dapat mengerti satu sama lain, lebih dari orang lain..
"sudah berapa tahun berlalu semenjak kita menjalin hubungan ini ya, mikoto?" sahutku kepada seorang pria dewasa yang sedang meminum sekaleng beer di dekat jendela kamarku
"entah. Kenapa tiba tiba kau bertanya seperti itu" sahutnya sambil menyalakan rokoknya
"hanya bertanya" sahutku dingin kemudian aku meninggalkannya ke kamar mandi
Bisa di bilang, sekarang kami sudah menjadi raja seutuhnya. Tanggung jawab, kekuatan, pekerjaan dan hal hal lainnya membentuk pribadi kami sekarang. Mungkin dulu aku adalah bocah labil yang memalukan, tapi aku sekarang adalah pemimpin yang bertanggung jawab terhadap anak buah ku di scapter 4. Yah.. waktu telah berlalu.. kami yang dulu anak muda yang labil kini sudah beranjak dewasa…
"mikoto.. gunakanlah kekuatanmu dengan bijak! Kau tau kan-" kata kata ku terhenti oleh dua buah jari mikoto yang ia letakan di bibirku
"psst.. kita sudah sepakat tidak mencampuri urusan "raja" ini kan? Ini kekuatanku, aku bebas memakainya sesukaku" ia tersenyum tipis padaku
"tapi kau bisa…" aku menyingkirkan jarinya. Aku hanya menundukan pandanganku aku tak bisa melanjutkan perkataanku. Kenapa? rasanya sesak
"hihi.. sudah lama sekali aku tak melihat sisi manismu reisi.." ia memandang wajahku dengan senyum yang terlukis indah di wajahnya sambil menegakan wajahku kearah nya
"kau membuatku malu, mikoto" aku hanya menepis tangannya dan mengalihkan pandanganku. Lalu aku beranjak pergi meninggalkannya
SRRRTTT!
Mikoto memelukku dari belakang. Lagi. Aku merasakan desahan nafasnya
"kau akan selalu berada di sisiku kan, reisi? Tak peduli walau aku akan berbuah atau bagaimanpun kan?" sahutnya pelan. Shit! Kenapa kau tanyakan itu?
"baka! Mana mungkin aku meninggalkanmu?" sahutku sambil memegang tangannya yang memlukku dari belakang. Sedangkan ia hanya tersenyum kecil mendengar jawabanku
Sebagai seorang raja, dan orang yang paling dekat dengannya, aku tau bahwa kekuatannya tidak stabil. Semakin ia menggunakan kekuatannya, dirinya akan semakin hancur. Mikoto jelas tau akan hal itu. tapi ia seakan tak mempedulikannya. Jika aku membahas hal ini, kami selalu berakhir dengan bertengkar. Padahal dulu ia tak begitu keras kepala seperti ini… mikoto, apa kau tau? Aku tak mau kehilangnmu…
(*Q*)/
Hari ini, aku sedang membaca buku pada salah satu toko buku yang dulu menjadi langgananku untuk baca. Dan yah, sudah seminggu aku tak bertemu mikoto. Saat sedang hendak mencari buku lain yang akan di baca, aku melihat mikoto sedang membacakan sebuah buku cerita ke anna, seorang gadis kecil yang imut yang selalu berada di samping mikoto, dia anggota homra. Yah, sebuah geng (?) di bawah pimpinan langsung mikoto walau sepertinya mikoto tak pernah memberikan perintah apapun XD
"mikoto? Apa yang kalian lakukan disini?" sapaku kepada mikoto dan anna. Mikoto terlihat sedikit kaget dengan kedatanganku, dan ia pun langsung berhenti membacakan buku cerita anna
"kencan" sahut anna polos. Aku hanya kaget mendengar jawaban anna. Sedangkan mikoto menarik anna dan langsung pergi dari toko
"pfftt~" aku hanya tersenyum kecil melihatnya. Kencan huh? I wonder, sudah berapa lama kami tidak melakukannya..
.
.
.
.
.
.
"sedang apa kau di toko buku?" sahutnya tiba tiba sambil masuk ke dalam kamarku
"kebiasaan. Bisakah kau mengutuk pintu terlebih dahulu, mikoto?" sahutku kepadanya. Yang hendak menghampiriku yang sedang asik duduk di balkon kamar sembari membaca buku
"jika aku mengetuk pintu dahulu, buat apa aku memiliki kunci apartemenmu?" sahutnya santai, ia membuka jaketnya dan melemparnya begitu saja di atas kasur dan langsung mengambil beer yang tersedia di lemari es
"yah bisa kau bilang, mengunjungi tempat yang sudah lama tak ku kunjungi" sahutku santai sambil melempar senyum akan kelakuannya yang tak berubah itu. padahal sudah berulang kali aku mengingatkannya untuk menaruh jaket di tempat yang telah di sediakan
"oohh.." sahutnya dingin sambil meminum beernya. Aku pun menutup buku ku dan menghampirinya
SREET
Aku memeluknya dari belakang
"sudah lama kita tak kencan ya, mikoto" sahutku sambil tersenyum kecil, yah sedikit menggodanya. Ia hanya menatapku seperti biasa seakan tak peduli omonganku. Ia terus terusan meminum beernya tanpa berkata sepatah katapun
"cih" aku pun sedikit kesal dengan tingkah lakunya. Lalu aku melepaskan pelukanku dan kembali ke tempat dudukku
"pffft~" mikoto tertawa kecil melihatku yang sedang ngambek itu. "hahahhahahahhaha" tawanya makin menggelegar(?) membuatku kaget dan aku pun menatapnya heran
"ada apa?" tanyaku padanya. Ia menghentikan tawanya dan tersenyum manis kearahku. Lalu perlahan step by step ia mendekatiku. Lalu ia pun memelukku.. kaget. Apa yang di pikirkannya?
"manisnya… kau tak berubah ya, reisi hahaha" entah dia sedang mengejekku atau menghinaku. Aku sedikit terganggu dengan kata katanya. Aku pun mencoba melepaskan pelukannya, tapi ia memelekku dengan sangat kuat
"biarkan aku seperti ini untuk sesaat' sahut mikoto pelan. Aku pun menuruti kata katanya. Mikoto.. apa yang kau pikirkan?
(OwO)
Hari berganti, bulan berlalu.. aku dan mikoto jadi jarang bertemu semenjak insiden 'pembunuhan totsuka' salah satu teman terdekat mikoto yang di bunuh raja tanpa warna, raja ke tujuh. Semenjak kejadian itu, bukan hanya kami jarang bertemu, setiap kali ada kesempatan bertemu, selalu berakhir dengan bertengkar. Saat ia di penjara dan ia selalu mimpi buruk, aku punya perasaan tak enak. Apakah dirinya mulai hancur? Kalau begitu jangan… jangan gunakan kekuatanmu lagi… mikoto…
.
.
.
.
.
.
.
hari berlalu dengan sangat cepatnya.. kasus totsuka pun mendekati akhirnya. Yah, setelah raja tanpa warna akhirnya terbongkar.. raja tanpa warna, raja pertama, raja kedua… semuanya.. dan homra pun menyerang ke sebuah sekolah dimana raja ketujuh ini bersembunyi..
kekacauan timbul, kami, scepter 4 pun akhirnya ikut turun tangan. Perkelahian antara dua pengikut raja ini pun dimulai. Awalnya kami tak inginkan perkelahian sia sia ini. tapi apa di kata? Kami harus melakukannya. Dan dengan sangat berat hati, aku harus bertarung dengan orang yang paling kucintai.. mikoto
pertarungan kami berlangsung sengit di luar area sekolah… karena itu, aku ingin homra dan scepter 4 untuk keluar dari area sekolah secepatnya. Dan..
kekuatan mikoto pun sudah sampai puncaknya… terlihat pedang nya akan runtuh menghantamnya dan akan terulang kembali tragedy yang pernah terjadi…
untuk menghentikan tragedy itu terjadi, dengan berat hati aku mengambil keutusan untuk membunuhnya…
SREETT!
Ya.. pedangku menusuk tubuhnya… darah merah nan segar mengalir dari luka tusuk itu. ia tersenyum kecil padaku dan langsung memelukku. Desahan nafasnya yang menahan sakit terasa berat.. ia pun lalu berkata padaku..
"aku tak pernah menyangka pertemuan denganmu adalah takdir hidupku. Pfft.. tak pernah terbayangkan anak yg manis kala itu berubah jadi pria seperti ini. walau kadang kita sering bertengkar, kau pasti orang pertama yg meminta maaf.. terima kasih.. perasaan mu yang selalu ingin berada di sampingku membuat sangat nyaman. Aku sadar akan perasaanmu tapi aku seolah tak peduli karna…. Aku tak mau membuat luka dalam untukmu…"
Mikoto menarik nafas sebentar.. nafasnya sudah semakin berat. Mendengar dan merasakan hembusan nafasnya yang menyentuh kulitku membuat hatiku sakit. Aku tau.. orang ini tak akan bertahan lama..
"kau orang yang paling aku percaya.. kau orang yang paling berharga bagiku… karena itu, mulai dari sekarang, aku menitipkan homra padamu.. tolong jaga mereka.. mereka orang yang berharga bagiku.. hei reisi…"
DEG!
"apa?" sahutku pelan. Tanganku masih memegang pedangku yang menancap di tubuhnya
"kau menangis ya?" tanyanya. Sedangkan aku hanya terdiam. Aku memang tak mengeluarkan air mata, tapi hatiku sudah menangis, sesak.. kau tau apa yang ku rasakan mikoto?
"manisnya.. seperti aku baru bertemu denganmu kemarin… reisi.. munakata… sayonara.. I love you.. always"
BRUAKKK!
Itu lah kata kata terakhir mikoto sebelum akhirnya tubuhnya jatuh ke tanah. Aku hanya bisa berdiam menahan air mata yang akan jatuh dari mataku. Aku pun beranjak pergi.. terdengar suara "no blood, no bone, no ash" dari homra…
Mikoto… sampai kau mati pun, banyak orang yang menangis untukmu.. banyak yang tak akan melepukannmu.. terutama diriku..
"sayonara my love" sahutku pelan sembari memandangi langit kala itu
[flash back end]
"munakata?" seseorang memanggil namaku. Aku pun kaget dan terbangun. Ah aku ketiduran
"kusanagi?" sahutku
"sedang apa kau disini?" tanyanya padaku. Sedangkan aku hanya melihatnya dan anna
"hanya mengenang masa lalu.." jawabku singkat sambil mencoba berdiri
"tak ku sangka seorang pimpinan scepter 4 mempunya waktu yang sangat lenggang sampai sampai bisa tidur siang di sini" sahutnya. Sedangkan aku hanya tersenyu kecil sembari membersihkan kacamatu yang kena debu
"kalau begitu aku akan kembali ke markas.. bye anna" aku mengelus pala ana sebelum pergi meninggalakan mereka berdua..
Mikoto… apa kau melihatnya? Homra baik baik saja.. mereka lebih kuat dari yang kau bayangkan… dan aku… aku pun baik baik saja.. karna aku tau kau melihat ku dari atas sana kan, mikoto?
'I love you, mikoto'
***the end***
Yosh akhirnya selesai~~ maaf lama, karna authornya sibuk dan males disaat yg bersamaan XD
Special tnx buat temen temenku yang selalu menjadi pembaca setiaku..
Refrensi : k project –anime, doujin and manga(entah itu masuk doujin apa kaga)-
Yosh! Terimakasih banyak ^0^/
