Disclaimer: "I don't own all characters in here. They are belongs to them selves. If I can, I would do it ! xD I make no money from this—please don't sue me. But the plot is MINE!"
Title: Only Reminds Me Of You
Based on: manga(s)
Author : blackorange aka nda
Rating : T
Cast: Kim Jaejoong, Jung Yunho, Park Yoochun, Kim Junsu, and Shim Changmin
Mentioned: Other idols
Genre : Romance, fluff, humour, school life, drama
Length this chapter : 7 pages MsW
Warning: absurd, failed, typo, swearing and cursing
Part 2
'SREK'
Jaejoong berdiri diam di bawah pohon ek halaman bekalang sekolahnya. Ia mendongakan kepalanya sambil memasukan kedua tangan ke dalam saku celananya. Ia menyipitkan matanya ketika bias-bias cahaya matahari berusaha menerobos masuk dari celah-celah dedaunan dan ranting pohon yang bersilangan. Angin musim semi perlahan berhembus dan menghempaskan dedaunan kering yang masih menempel di ranting pohon dan berjatuhan. Jaejoong memejamkan kedua matanya dan merasakan belaian lembut angin di wajahnya dengan diiringi suara gemersik dedaunan yang menenangkan.
Jaejoong membuka matanya perlahan dan menatap batang pohon yang sudah tua namun masih berdiri kokoh dihadapannya. Perlahan, tangan kanannya terangkat dan menyentuh batang pohon itu. Tekstur kulit batang pohon yang kasar itu begitu terasa di permukaan kulit tangannya yang lembut.
Entah kenapa selama dua hari itu Jaejoong sering memikirkan sosok Jung Yunho. Ia sering melihatnya berada di bawah pohon ek tepat dimana sekarang dirinya berada. Ia cukup penasaran dengan ketua OSIS nya itu. Penasaran dengan apa yang sering dilakukannya di bawah pohon ek ini dan penasaran dengan kejadian kemarin siang ketika ia tidak sengaja melihat Yunho membuang bekal makan siang yang diberikan seorang gadis padanya. Ia mengerutkan keningnya samar ketika memikirkan hal itu.
Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, dan selama dua hari itu Jaejoong hanya memperhatikan Yunho dari kelasnya yang berada di lantai dua.
'SREK'
Jaejoong terkejut ketika ia mendengar langkah kaki seseorang. Tanpa sadar ia bersembunyi di balik batang pohon ek itu. Dadanya mulai berdegub kencang. Ia menyenderkan punggungnya di balik batang pohon lalu sedikit mengintip dari balik pohon untuk melihat siapa yang datang ke halaman belakang sekolah.
Jantung Jaejoong kini berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya ketika mengetahui siapa yang datang.
Jung Yunho.
Shit! Batinnya panik.
Namun, tiba-tiba saja ia merasa bodoh dengan apa yang sedang dilakukannya. Untuk apa ia bersembunyi di balik pohon? Ia bisa saja bertingkah seperti biasa dan melangkahkan kakinya menuju gedung sekolah. Siapa saja bisa datang ke halaman belakang sekolah. Lagipula, ia tidak mengenal Yunho dan Yunho tidak mengenalnya. Ah~ tapi mungkin Yunho mengetahui dirinya, mengingat Jaejoong sangat populer dikalangan laki-laki.
Lalu apa masalahnya? Ini tidak seperti Jung Yunho akan mengajakku berkencan. Lalu kenapa aku harus bersembunyi?! Pikir Jaejoong kesal dengan segala kegugupun yang tiba-tiba menyelimutinya.
Jaejoong menghela nafas sambil menyapu poni panjang yang hampir menutupi mata besarnya dengan telapak tangan kananannya kebelakang kepala. Ia menegakkan tubuhnya dan bersiap untuk keluar dari persembunyiannya ketika tiba-tiba saja suara seorang perempuan menghentikannya.
"Yunho oppa." Panggil gadis itu dengan manis. Jaejoong kembali menyenderkan punggungnya pada batang pohon ek dan mengintip dari baliknya.
Yunho menolehkan kepalanya kebelakang dan melihat seorang gadis berambut pendek sebahu dengan poni rata berjalan mendekatinya. Yunho tersenyum ketika melihatnya.
"Ne?" tanya Yunho pelan. Gadis itu menunduk malu sambil mengeratkan pegangan tangan di kantong kertasnya. Jaejoong terdiam dan terus memperhatikan ekpsresi Yunho.
"Mu –mungkin kau mau menerimanya." Bisik gadis itu pelan sambil menyerahkan kantong kertas yang dibawanya pada Yunho. Yunho memeringkan kepalanya kesamping. " –aku membuatkan bekal makan siang untuk oppa." Ucap gadis itu semakin pelan.
Yunho tersenyum dan mengambil kantong kertas itu. "Gomawo~" ucap Yunho sambil menganggukan kepalanya sopan. Gadis itu menggigit bibir bawahnya . Kedua pipinya sudah memerah seperti tomat.
"Gwa –gwaenchana! Kuharap kau menyukainya. Annyeong oppa!" ucap gadis itu semakin gugup kemudian berbalik dan berlari meninggalkan Yunho.
Jaejoong masih terdiam memperhatikan Yunho sambil melipat kedua tangan di depan dadanya. Entah mengapa melihat senyum Yunho membuat Jaejoong merasa sangat kesal. Ia merasa kasihan dengan gadis-gadis yang termakan kepalsuan Jung Yunho. Seharusnya dirinya yang menerima kotak bekal makan siang itu dari gadis-gadis. Tapi karena wajahnya yang lebih cantik dari seorang gadis dan kulitnya yang lebih putih dari seorang gadis pun membuatnya menjadi musuh mereka.
Jaejoong mulai menebak-nebak apa yang akan gadis-gadis itu pikirkan ketika ia membongkar rahasia 'kecil' seorang Jung Yunho pada mereka. Ha! Mungkin semuanya akan sesuai dengan keinginannya. Membuat gadis-gadis itu membenci Jung Yunho dan menyukainya.
Jaejoong tersenyum menyeringai ketika membayangkannya. Namun setelahnya, ia tersentak kaget ketika Yunho berjalan ke arahnya. Ia mulai panik dan tidak tahu harus bagaimana. Ia mendongakan kepalanya ke atas dan berniat untuk memanjat pohon. Tapi ia ingat, ia tidak selihai dan selincah Changmin –Si Monyet Kota itu dalam hal panjat memanjat. Ia semakin panik ketika langkah kaki itu semakin mendekatinya. Ia perlahan mengintip dari balik pohon dan langsung membelalakan matanya ketika Yunho lagi-lagi membuang isi bekal kotak makan siang itu ke atas tanah.
Untuk kedua kalinya Jaejoong melihat hal itu.
"YA!" teriak Jaejoong tanpa sadar sambil keluar dari balik pohon. Yunho terkejut bukan main ketika melihat seseorang keluar dari balik batang pohon ek. Yunho menatap Jaejoong tanpa mengedipkan matanya barang sedetikpun.
"A –" Jaejoong tidak tahu apa yang ingin ia katakan pada Yunho ketika ia menyadari kebodohan yang baru saja ia lakukan. Ia sendiri tidak sadar ketika ia tiba-tiba keluar dari persembunyiannya secara reflek.
Manik mata hitam Jaejoong menatap Yunho yang tidak bergerak se-inchi pun dari tempatnya berpijak. Keduanya hanya terdiam dan saling tatap. Jaejoong berdehem pelan dan berusaha bersikap tenang. Ia memasang wajah dinginnya dan tersenyum menyeringai pada Yunho yang masih menatapnya.
"Well~ well~ so this's the famous President Council Jung Yunho." Ucap Jaejoong dengan nada seolah mengejeknya. Seolah Jaejoong sudah memegang kartu jokernya.
"Jung Yunho yang begitu dibangga-banggakan gadis satu sekolah dan guru-guru." Lanjut Jaejoong sambil berjalan perlahan mendekati Yunho. Manik mata coklat Yunho tidak pernah lepas dari sosok Jaejoong yang berjalan semakin mendekatinya. Jaejoong menyeringai sambil melipat kedua tangan di depan dadanya. Seolah ia berhasil memojokkan Yunho.
"Aku merasa kasihan dengan gadis-gadis yang terjebak dengan topeng palsumu. Jung Yunho yang tampan, Jung Yunho yang pintar, Jung Yunho yang ramah, Jung Yunho baik hati, Jung Yunho yang blablabla… namun ternyata begitu tidak berperasaan." Desis Jaejoong sambil menatap tajam Yunho yang berdiri diam didepannya.
Jaejoong menatap wajah tampan Yunho. Menatap setiap detil wajahnya. Alisnya, bulu matanya, mata coklat almondnya, hidung mancungnya, bibir penuhnya, tahi lalat kecil di atas bibirnya, dagu lancipnya, dan tulang rahangnya. Entah Jaejoong menyadarinya atau tidak, tapi kedua pipinya mulai terasa hangat ketika ia melihat wajah Yunho dalam jarak sedekat itu. Ia bahkan bisa mendengar hembusan nafas Yunho di kedua telinganya. Mata coklat almond Yunho bagaikan magnet bagi Jaejoong yang membuatnya tertarik kembali menatap mata itu.
"Ehem –" Yunho berdehem pelan sambil menutup mulut dengan kepalan tangan kanannya. " –maaf, tapi apa maksudmu? Dan.. apa aku mengenalmu?" tanya Yunho berusaha bersikap sopan. Jaejoong membelalakan matanya sambil menganga lebar ketika Yunho bertanya siapa dirinya. Sedikit terkejut ternyata Ketua OSIS nya itu tidak mengenalnya.
The famous Kim Jaejoong amongst the boys. Entah mengapa harga dirinya merasa terluka.
"Ah –!" ucap Yunho tiba-tiba " –sepertinya aku tahu siapa dirimu." Lanjut Yunho sambil tersenyum yang membuat dada Jaejoong berdegub kencang tanpa alasan. "Kau….." Yunho berusaha mengingat namanya. Jaejoong mendengus pelan.
"Kim Jaejoong." Desis Jaejoong pada Yunho.
"Ah right, Kim Jaejoong. Aku sering mendengar tentangmu dari teman sekelasku dan guru-guru." Ucap Yunho lagi-lagi tersenyum pada Jaejoong. Tentu saja ia terkenal di antara siswa-siswa di sekolah karena kecantikannya dan terkenal di kalangan guru-guru karena penampilannya yang urakan. Jaejoong masih menatap wajah Yunho. Senyuman lembut itu tidak pernah lepas dari bibir Yunho. Membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih menjengkelkan namun tak bohong juga jika dibilang lebih tampan.
Jaejoong menolehkan kepalanya kesamping. Berusaha menghindari tatapan mata Yunho. Entah mengapa debaran di dadanya menjadi aneh ketika Yunho menatapnya dengan mata sipitnya yang terlihat tajam, namun sorot matanya terlihat begitu lembut.
" –tapi, apa maksudmu tadi, Jaejoong ssi?" tanya Yunho teringat dengan perkataan Jaejoong tadi padanya.
Jaejoong mengulum lidahnya kesal sambil mengepalkan kedua tangannya karena Yunho pura-pura menjadi orang polos yang tidak tahu apa-apa. Jaejoong kembali menatap Yunho dengan tatapan marah. Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia bisa begitu kesal dan marah padanya.
"Apa perlu kujelaskan padamu, heh?!" desis Jaejoong berbahaya yang membuat Yunho mengerutkan keningnya bingung. Yunho sudah membuka mulutnya untuk bertanya lagi ketika suara Jaejoong menghentikannya.
"Kau begitu populer dikalangan gadis-gadis yang membuat mereka bahkan rela bertekuk lutut untuk mendapatkan perhatianmu! Sedangkan diriku yang sudah berusaha mati-matian untuk mendapatkan perhatian mereka, tapi mereka justru membenciku! Semua laki-laki malah mengejarku! Gadis-gadis itu bahkan rela bangun lebih pagi untuk membuatkanmu bekal makan siang! Aku tahu bagaimana perasaan itu karena aku memiliki kakak perempuan! But you are fucking around with them! You treat their hard works like a piece of trash! That's bothering me so much and pissing me off! You know what?! I bloody hate you!" ceracau Jaejoong panjang lebar. Nafasnya terdengar naik turun tidak teratur. Yunho lagi-lagi hanya terdiam menatap Jaejoong yang kehabisan nafas tanpa mengedipkan matanya.
Jaejoong membelalakan matanya ketika ia sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan.
"Fuck." Gerutu Jaejoong ketika ia sadar sudah menumpahkan semua emosinya pada Jung Yunho. Orang yang tidak ia kenal sama sekali.
"Meong~" suara kucing tiba-tiba membuat keduanya menolehkan kepala ke sumber suara. Kucing belang hitam putih itu memakan makanan yang tadi ditumpahkan Yunho. Yunho menghela nafasnya sambil berjalan mendekati kucing itu dan berjongkok di hadapannya. Perut kucing itu terlihat sangat besar. Jaejoong terdiam ketika melihat Yunho mengeluarkan sekotak susu dari kantong plastik putih yang dibawanya lalu menuangkan susu itu pada sebuah mangkok plastik kecil yang dibawanya juga.
Yunho mengelus lembut kepala kucing itu lalu mengelus dagunya yang membuat kucing itu mendengkur manja padanya. Yunho tersenyum melihatnya.
"Hey Boo~" sapa Yunho pada kucing itu.
"Meong~" kucing itu membalas sapaan Yunho. Yunho menyadari Jaejoong yang masih berdiri di balik punggungnya dan menatapnya.
"Apa kau melihat aku membuang makanan itu?" tanya Yunho sambil menolehkan kepalanya menatap Jaejoong. Jaejoong terkesiap ketika tiba-tiba ditanya seperti itu, namun ia mengangguk pelan. Yunho hanya tersenyum tipis sambil kembali menolehkan kepalanya menatap Boo.
"Maaf Jaejoong ssi kalau aku membuatmu salah paham." Ucap Yunho masih terus mengelus bulu kucing itu. Jaejoong menelan ludahnya perlahan. Berharap apa yang akan dikatakan Yunho selanjutnya tidak akan membuat Jaejoong ingin mengubur dirinya sendiri.
"Mungkin kau melihatku sebagai orang yang tidak berperasaan. Aku tahu, itu hak mu untuk berpikir seperti itu." Lanjut Yunho. " –uhm, tapi sepertinya kau salah paham dengan apa yang kau lihat selama ini." Tambah Yunho tanpa menolehkan kepalanya menatap Jaejoong. Yunho tersenyum ketika melihat makanan yang dimakan Boo habis tak bersisa. Jaejoong sudah membuka mulut untuk berargumen dengannya. Tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Kau lihat kantong kertas di sana?" ucap Yunho sambil menolehkan kepalanya kebelakang dan menunjuk sebuah kantong kertas cukup besar bersender di dinding gedung sekolah. Jaejoong menolehkan kepalanya menatap kantong kertas itu.
"Itu kotak bekal makan siang yang kudapatkan pagi ini. Jika kuhitung, mungkin ada 8 kotak." Ucap Yunho mengingat-ingat. Jaejoong membelalakan matanya tidak percaya. " –tidak mungkin aku bisa menghabiskan semuanya seorang diri. Jadi terkadang aku berbagi dengan Boo." Lanjut Yunho sambil berdiri dan menepuk-nepuk kedua tangannya menghilangkan debu yang menempel.
"Boo?" tanya Jaejoong mengerutkan keningnya samar. Yunho tersenyum dan menolehkan kepalanya kebawah menatap kucing itu yang kini sedang meminum susunya.
"Her name is Boo." Jawab Yunho sambil menolehkan kepalanya menatap Jaejoong lagi. " –dan ia sedang hamil." Jaejoong menelan ludahnya perlahan ketika mata coklat itu sedang menatap ke arahnya. Seolah dengan tatapannya saja mampu meledakkan debaran jantungnya yang semakin tidak terkontrol. Wajah Jaejoong memerah dengan cepat ketika ia mengerti maksud Yunho. Memerah karena antara malu dan –entah perasaan apa yang kini hinggap di dadanya.
"Aish! Whatever!" ucap Jaejoong salah tingkah sambil berlari meninggalkan halaman belakang. Meninggalkan Yunho yang hanya tersenyum tipis melihat Jaejoong berlari menjauhinya.
"He is so cute~ right Boo?" tanya Yunho pada kucingnya itu.
"Meong~~" kucing itu kini menggeliat manja di bawah kakinya. Yunho mengulum lidahnya kemudian berdecak pelan.
~.~.~.~.~.~
"Apa kau sudah mati?" tanya Changmin sambil menusuk-nusuk kepala Jaejoong dengan telunjuk kanannya. Kepala Jaejoong tergeletak begitu saja di atas meja menghadap keluar jendela. Matanya menatap kosong awan putih yang bergerak perlahan di atas langit biru. Ia tidak menjawab pertanyaan Changmin dan hanya terus menghela nafasnya.
Changmin tidak menyerah untuk mendapatkan perhatian Jaejoong. Ia terus menusuk-nusuk kepala Jaejoong dengan telunjuk kanannya dan terkadang ia sedikit menarik rambut blonde Jaejoong. Jaejoong hanya mengerang pelan.
"Aish~ berhenti menarik rambutku!" desis Jaejoong sambil menepis tangan Changmin dikepalanya. Changmin hanya mengangkat kedua bahunya tidak peduli.
"Tumben sekali kau datang lebih pagi Jae hyung." Tanya Changmin sambil duduk di samping Jaejoong dan mengeluarkan sekotak kimbab yang tadi dibelinya di minimart dari dalam tasnya. Changmin membuka kotak plastik itu dan memakan kimbabnya dengan lahap. Ia menolehkan kepalanya menatap kepala Jaejoong yang masih tergeletak di atas meja karena tidak juga mendapatkan jawaban darinya.
"Apa aku ini benar-benar bodoh?" gumam Jaejoong sambil menghela nafasnya lagi. Jaejoong semakin tidak bisa berhenti memikirkan Jung Yunho setelah kemarin ia menumpahkan segala emosinya yang ternyata hanya kesalahpahaman. Ia merasa bodoh dan malu dengan dirinya sendiri yang seenaknya saja mengambil kesimpulan tanpa melihat seluruh keadaannya. Rasanya ia ingin mengubur dirinya saat itu juga. Ia benar-benar sangat malu.
"Yup memang~ tapi itu bukan sesuatu yang baru. Kenapa kau bertanya?" tanya Changmin sambil menyeruput susu kotaknya. Jaejoong berdesis sebal sambil mendongkan kepalanya menatap Changmin. Rasanya ia ingin mencekik leher Changmin saat itu juga. Namun, mata hitam dan besarnya menatap sebuah kotak susu yang diminum Changmin.
Changmin mengerutkan keningnya bingung ketika Jaejoong menatap kotak susunya dengan tatapan seperti itu. Ia merasa akan ada sesuatu yang sangat merugikannya. Jaejoong menolehkan kepalanya keluar jendela dan menatap pohon ek dihalaman belakang.
"Berikan itu padaku!" ucap Jaejoong sambil merebut kotak susu yang sedang diminum Changmin lalu berlari keluar kelas. Changmin bahkan belum sempat mengeluarkan lengkingan 8 oktafnya, namun sosok Jaejoong sudah menghilang di balik pintu.
"Aish! My milk!"
~.~.~.~.~.~
"Boo~ hey Boo~" panggil Jaejoong sambil berjongkok dan mengintip pada sebuah lubang yang ada di bawah pohon ek. Berharap makhluk berbulu itu ada di dalamnya. Jaejoong menghela nafasnya perlahan ketika ia tidak bisa menemukan kucing hamil itu di sana.
"Meong~" suara kucing membuat Jaejoong melengking terkejut dan sedikit berjalan menjauhi kucing itu yang ternyata berdiri dibelakangnya. Jaejoong memperhatikan makhluk berbulu itu dengan hati-hati. Boo menatap Jaejoong dengan mata besarnya.
"Meong~" Boo kembali bersuara sambil berjalan perlahan mendekati Jaejoong. Namun Jaejoong mundur teratur menghindari Boo yang semakin mendekatinya.
Sebenarnya, Jaejoong sangat menyukai kucing. Sangat menyukainya. Ia pencinta kucing. Ia ingin sekali menyentuh Boo dan memeluknya. Hanya saja, ia selalu merasa geli ketika ia menyentuh bulu-bulu kucing. Ia mencintai kucing, tapi ia juga phobia terhadap kucing. Terkadang, hal itu membuat Jaejoong sangat depresi dan frustasi. Oleh karena itu ia melampiaskan kegemasannya terhadap kucing dengan Hello Kitty.
"He –hey Boo." Panggil Jaejoong sambil berusaha memberikan sekotak susu pada kucing itu dengan takut-takut. Boo semakin mendekati Jaejoong yang membuat Jaejoong terlonjak kaget dan punggungnya menabrak tubuh seseorang yang ada dibelakangnya. Ia mendongakan kepalanya dan wajah tampan Yunho lah yang ia lihat. Ia langsung berdiri tegak dan merapikan bajunya. Namun tiba-tiba saja ia melengking terkejut ketika Boo bergerak manja di bawah kakinya.
"Aaahh!"
"Meong~~"
"Annyeong Jaejoong ssi." Sapa Yunho berusaha menahan tawanya. Ia berdehem pelan sambil berjalan mendekati Boo dan mengelus dagunya yang membuat kucing itu mendengkur manja padanya.
"Tidak kusangka kau akan datang lagi kesini." Lanjut Yunho masih mengelus lembut bulu Boo. Jaejoong menelan ludahnya salah tingkah.
"Ka –kau jangan salah paham. Aku datang kesini hanya untuk memberikan Boo sekotak susu." Ucap Jaejoong menutupi tujuan sebenarnya datang ke sana. Alasan sebenarnya adalah Jaejoong ingin meminta maaf pada Yunho. Hanya saja, entah mengapa tiba-tiba sebagian dari harga dirinya tidak mengizinkannya untuk mengatakan itu ketika ia melihat sosok Jung Yunho di hadapannya. " –kau tahu.. Boo sedang hamil." Tambah Jaejoong berusaha terdengar lebih masuk akal.
"Tentu~" ucap Yunho tersenyum tipis. Jaejoong memutar kedua bola matanya seolah mengerti kalau Yunho sedang mengejeknya karena tadi ia bertingkah seperti pengecut ketika Boo mendekatinya.
Jaejoong memperhatikan Yunho dari sudut matanya. Senyum itu tidak pernah terlepas dari bibirnya yang membuatnya terlihat begitu tampan. Ingin rasanya Jaejoong melihat senyum itu lebih dekat lagi. Ia menggelengkan kepalanya ketika ia sadar dengan apa yang baru saja dipikirkannya.
"Berapa kotak yang kau dapatkan pagi ini?" tanya Jaejoong berusaha mencari topik pembicaraan karena ia tipe orang yang tidak suka dengan suasana kaku. Ia berjalan mendekati Yunho lalu berjongkok di sampingnya dan tetap menjaga jarak dengan Boo.
Jaejoong memperhatikan makhluk berbulu itu menggeliat manja ketika Yunho menyentuhnya. Dengkuran halusnya bisa terdengar dari kucing itu. Ia benar-benar ingin menyentuh kucing itu, tapi ia merasa geli ketika membayangkan bulu-bulu itu bersentuhan dengan kulitnya. Ia mengerutkan keningnya samar ketika melihat Boo yang begitu menikmati sentuhan Yunho.
Yunho menolehkan kepalanya dan menatap wajah Jaejoong dari samping. Kulitnya terlihat begitu putih dan halus. Bulu matanya terlihat agak panjang. Poninya yang panjang hampir menutupi mata besar dan hitam itu. Mata yang mengingatkannya dengan Boo. Hidungnya mancung dan runcing. Bibirnya terlihat merah seperti buah cherry. Rambut blonde nya lagi-lagi mengingatkan Yunho dengan seekor kucing yang bernama Leo –kucing Scottish Fold milik Jihye di rumahnya.
Yunho berdecak pelan sambil kembali menolehkan kepalanya menatap Boo yang kini duduk di atas tanah dan menatap Yunho dengan mata besarnya. Jaejoong menolehkan kepalanya menatap Yunho ketika ia tidak juga mendapatkan jawaban darinya.
"Uhm.. entahlah, pagi ini aku baru mendapatkan 3 kotak. Mungkin siang nanti akan bertambah." Jawab Yunho mengingatnya. Karena biasanya setelah bel istirahat siang berbunyi, ia akan mendapatkan lebih banyak kotak lagi. Jawaban Yunho sedikit membuat Jaejoong mendengus sebal karenanya. Jawaban yang terdengar sedikit sombong.
"Lalu, kenapa kau tidak membaginya dengan teman-temanmu? Dengan begitu kau tidak akan kewalahan menghabiskannya dan membuatku berpikir kalau kau 'membuang'nya." Tanya Jaejoong penasaran. Gara-gara kesalahpahaman itu membuat dirinya benar-benar sangat malu. Yunho tidak membagi kotak makan siangnya dengan yang lain, tapi ia justru membaginya dengan kucing liar di sekolahnya.
Yunho is indeed weird. Pikir Jaejoong.
Yunho tersenyum tipis. " –aku tahu usaha mereka untuk membuat makanan itu tidaklah mudah, jadi aku berusaha untuk menghabiskannya, walaupun terkadang aku harus membawa sisanya ke rumah untuk makan malamku. Bukankah kau yang mengatakan hal seperti itu padaku kemarin?" tanya Yunho sambil menolehkan kepalanya menatap Jaejoong yang berjongkok di sampingnya.
Jaejoong terkesiap dan hatinya belum siap ketika Yunho lagi-lagi menatapnya dengan mata coklat itu. Sorot mata itu seakan melelehkan hatinya. Wajah Jaejoong memerah dengan cepat.
"Dan aku selalu memberikan satu kotak untuk Boo. Kupikir satu saja tidak apa. Boo sedang hamil dan dia butuh asupan gizi untuk anak-anaknya nanti. Bagaimana menurutmu?" tanya Yunho meminta pendapat Jaejoong tentang apa yang sering dilakukannya selama ini sambil menolehkan kembali kepalanya menatap Boo dan mengelus lembut dagu Boo.
Jaejoong terdiam ketika ia hanya bisa mendengar debaran jantung di dadanya. Tatapan matanya seolah masih terhipnotis oleh mata coklat Yunho. Yunho menolehkan kepalanya lagi menatap Jaejoong yang sedang menatapnya tanpa berkedip.
"Jaejoong ssi?" panggil Yunho. Jaejoong terkesiap sambil mengerjapkan matanya berkali-kali.
"A –aku harus kembali ke kelas." Ucap Jaejoong sambil bangkit berdiri dan langsung berlari menginggalkan Yunho –lagi.
Yunho hanya berdecak pelan sambil menggelengkan kepalanya. Manik mata coklatnya menatap sebuah kotak susu yang tergeletak di sampingnya. Kotak susu yang tadi di bawa Jaejoong. Yunho mengambil kotak susu itu dan tersenyum.
"Hey Boo~ what do you think?"
"Errrrr~ meong~ rrr~" Boo hanya mendengkur manja di bawah kaki Yunho.
========= TBC ==========
hello theeeeeeeeeeeeerrre~~ xDDDD dateng buat apdet part 2 nya~ hehehehe~
akhirnya yunjae ketemuan jg~ bisa nebak gak gmn karakter yunho? ahehehehe~ emg masih dikit sih interaksi yunjae nya~ tp janji ke sananya bakal lebih banyak xDDDD even*cough*lemon*cough* scene*cough* :)
hrsnya chapter 2 ga cma segini, mash ada lagi
I told you that I usually make 1 chapter till 15 pages rite? But since this is ffn, I've to split every chapter into 2 part.. takut yg bacanya kelenger gara2 kepanjangan xDDD hehehe~ tp janji tiap hari bakal di apdet, kay?
So gimme the review so I could see your excitement with this story~
Thank you~! ^^
