A/n: terimakasih banyak buat: Calico Neko, Uchiha Sanaru, Sayaaurantii, Hikari No OniHime, ika . nurrahmawati, ailla-ansory, aindri961, hi aidi, You-chan yang kemaren bersedia me-review fic ini. Gomen kalau telat banget publishnya. Biar ga berabe, saya hilangkan Hinata dari charakters. Cukup SasuNaru aja.
NARUTO © Masashi Kishimoto
Another Wish © Mbik Si Kambing
Warning: OOC (super duper), ranjau bernama Typo, FUJO ALERT, sho-ai, penistaan terhadap karakter dll.
Rate: T (sepertinya ilmu saya belum nyampe ke Rate yang lebih tinggi, deh)
Genre: Friendship/Humor(garing)/Romance?
"..."Percakapan tokoh
'...' Pikiran tokoh
.
.
.
Let's start!
.
.
"Kau masih mencintai Hinata 'kan, Sasuke? Iya 'kan?"
Pertanyaan yang ia tanyakan pada diri sendiri kemarin malam, masih menghantuinya pagi ini, dan berhasil membuatnya semalaman tidak bisa memejamkan mata, akibatnya sebuah kantung mata sukses menghias tipis di bawah matanya.
Kebimbangannya sang pemilik rambut pantat ayam itu semakin besar, karena getar-getar asmara yang biasanya ia rasakan jika berdekatan dengan Hinata sekarang berpindah haluan pada teman, sekaligus rival abadinya, Naruto Uzumaki.
'Kau tidak mungkin berubah menjadi gay, Sasuke!' batinnya tegas. Kedua tangannya menepuk pipinya keras, berharap dengan sakit dan rasa panas yang mulai menjalar di pipi mulusnya, mampu membuat pikirannya kembali ke jalan yang lurus.
"Benar!" Sasuke dengan tenaga ekstra berdiri dari kursi, "Tidak mungkin aku homo!" Teriaknya keras dan lantang. Ia berdiri tegap, matanya lurus ke depan sambil mengacungkan tinju ke udara, sedetik kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Sungguh tak berperike-Uchiha-an.
"Hahaha...hah..hh," pemuda berambut kelam itu menghentikan tawa.
Krik. Krik. Krik.
Hening.
Kelas tiba-tiba mendadak sunyi. Detik berikutnya barulah ia sadar bahwa berpuluh-puluh pasang mata menatap heran tingkahnya yang kelewat nista.
"Ehem." Sasuke berdehem, pelan-pelan melonggarkan dasinya dengan kikuk. Ia kemudian duduk di tempatnya semula, bersikap biasa, seolah-olah tidak ada adegan memalukan yang baru saja ia lakukan.
Tak jauh dari tempat Sasuke duduk, sepasang mata berwarna langit menatap punggung sang Uchiha dengan tatapan yang sulit diartikan, sementara tangan kanannya mencengkram erat dadanya.
.
.
.
~O.o.O~
.
.
.
Bel istirahat baru saja berbunyi beberapa saat yang lalu. Waktu yang selalu ditunggu-tunggu seluruh warga sekolah. Baik murid maupun guru merasa senang jika telinga mereka mendengar denting―jam istirahat―berbunyi.
Tak terkecuali bagi Hinata dan teman-temannya yang menjadi anggota perkumpulan klub Fujoshi.
Hinata dan kedua temannya, Sakura dan Ino, segera menuju base camp klub tercintanya tersebut.
Letaknya di belakang sekolah, cukup tersembunyi bagi mata orang awam, karena tempatnya ditutupi ilalang setinggi tubuh orang dewasa. Klubnya tentu berbeda dengan klub-klub resmi lainnya, karena untuk mencapai base camp ini, mereka harus sembunyi-sembunyi supaya tidak ada guru yang mencurigai.
Tapi tak apa, justru itu letak tantangannya. Meski klub Fujoshi tak terdeteksi, namun eksistensinya di kalangan murid perempuan semakin tinggi, terbukti dari bertambahnya anggota yang semakin hari semakin meningkat.
Alhasil, ruang yang luasnya hanya 25 meter kuadrat itu terasa sempit.
"Kau hebat sekali, Hinata."
Seorang gadis berambut merah jambu membuka suara, kedua tangannya memegang sebuah foto, sementara itu manik emeraldnya tidak mampu lepas dari obyek yang dipandangnya tersebut.
"Sakura benar, Hinata." Kali ini si pirang yang berbicara, terlihat antusias layaknya anak yang kebanyakan menghirup lem aib*n.
"Hehe..." Gadis berambut legam panjang hanya bisa cengengesan mendengar pujian yang diberikan kedua sahabatnya itu.
Panggil mereka Sakura Haruno, Ino Yamanaka, dan Hinata Hyuuga.
Mereka bertiga duduk di pojok ruangan, satu meja kayu berukuran 50 kali 50 centi berada di tengah gadis-gadis tersebut. Di atasnya, kertas-kertas segi empat berserakan. Tentu kalian semua sudah pada tahu benda apa yang ada disana.
Benda yang tercipta dari kerja keras Hinata semalaman, hadiah terindah yang diberikan kedua sahabat sekaligus tetangganya itu.
Yups, tepat sekali!
Foto-foto syur antara Naruto dan Sasuke sudah selesai dicetak. Sekitar 20 lembar foto tercetak, dengan sudut pandang dan pose yang berbeda. Namun ada satu foto yang menjadi favorit mereka bertiga.
Bukan.
Bukan foto saat pasangan laki-laki itu berciuman, melainkan foto saat Sasuke dan Naruto berpandangan, dengan tangan kanan menyentuh bibir dan tangan kiri mencengkram dada.
"Sepertinya mereka ada rasa deh," celetuk Ino. Telunjuknya mengelus dagu dan keningnya berkerut sambil mengamati gambar yang tercetak jelas di tangan kirinya.
"Kayaknya iya deh," Sakura setuju dengan gagasan dari si gadis kuncir kuda.
"Kubilang juga apa," Hinata menyambar foto tersebut, "..mereka itu sudah setengah jadi, tinggal dipoles sedikit."
Ketiga gadis itu saling pandang, sinar-sinar aneh terbias dari mata mereka, detik berikutnya mereka tersenyum-atau lebih tepatnya menyeringai, dan mengangguk-angguk, seolah mengerti apa yang dipikirkan masing-masing kawan.
.
.
.
~O.o.O~
.
.
.
Sudah seharian ini Hinata memperhatikan kelakuan kedua sahabat cowoknya itu. Sedikit meringis, sebab baik Sasuke maupun Naruto agaknya menjaga jarak satu sama lain. Mereka bertiga bahkan tidak berangkat ke sekolah bersama, tidak pula bertegur sapa, seolah tidak saling mengenal, layaknya orang asing.
"Sasuke-kun."
Hinata memanggil sang idola sekolah. Dengan cepat Sasuke berdiri dan menghampiri Hinata di ambang pintu. Setelah sampai, bukannya memandang Sasuke, Hinata kembali memanggil seseorang. Seseorang yang ingin sekali Sasuke hindari.
"Naruto-kun," suara Hinata secara aneh membuat bulu kuduk Sasuke berdiri dan jantungnya berdegup satu tingkat lebih cepat.
Sasuke tidak berani menoleh ke belakang, takut menatap si penyuka ramen yang sudah berdiri di sampingnya itu. Semilir angin yang tiba-tiba berhembus dari balik tirai, membuat Sasuke tidak sengaja menghirup aroma citrus bercampur keringat milik pemuda Uzumaki, membuat ingatannya itu kembali ke malam itu. Malam dirinya dan Naruto melakukan 'itu'.
"Emh," suara erangan mengalir mulus dari bibirnya tanpa bisa ia cegah.
"Kau tidak apa-apa, Sasuke-kun?" Tanya Hinata saat melihat wajah Sasuke berubah merah.
Malu. Sasuke benar-benar malu. Kenapa pula dengan tubuhnya ini? Kenapa sekarang ia gampang sekali tersipu layaknya anak perempuan yang sedang dimabuk cinta?
"Bu-bukan apa-apa, Hinata." Sasuke menggeleng-geleng, sementara Hinata sekuat tenaga untuk tidak tersenyum.
Tentu, sebagai seorang yang expert tentang dunia Fujoshi, ia paham betul fase yang dialami teman masa kecilnya ini.
Fase denial. Tahap paling krusial yang akan dialami oleh setiap kaum humu.
Fase ini juga disebut fase penentuan apakah si X akan berubah atau tidak. Oleh karena itu, ia harus mengambil langkah yang tepat supaya fase ini berjalan mulus dan lancar.
"Apa kalian bertengkar?" Hinata bertanya.
Mereka berdua saling pandang, menggaruk-garuk kepala, dan menggeleng-geleng.
"Tidak."
"Bukan."
"Benar?" pancing Hinata lagi. Ingin sekali ia tertawa melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
"Be-benar kok. Iya 'kan, Sasuke?" Naruto dengan sangat terpaksa merangkul pundak Sasuke dan mencengkramnya erat, persis seperti hari-hari biasa, hari sebelum kejadian itu terjadi.
"I-iya." Sasuke mengangguk. Keduanya tersenyum aneh, bibir melengkung tak simetris dan saling lirik.
"Oh. Aku kira kalian bertengkar karena kejadian kemarin," Hinata menunduk, memainkan ujung roknya. Salah satu jurus andalan yang diajarkan Ino―yang sudah master dalam hal menggaet cowok.
"Tentu saja tidak, Hinata-chan. Kami tidak bertengkar."
"Kalau begitu, maukah kalian membantuku," baik Naruto maupun Sasuke mundur beberapa langkah, takut jika cinta pertamanya itu lagi-lagi meminta hal yang aneh-aneh.
Melihat gelagat kedua sohibnya itu ketakutan, pemilik mata bulan itu tersenyum dan berkata, "..tenang saja. Sebentar lagi liburan sekolah. Aku hanya ingin mengajak kalian liburan ke villa milik sepupu Ino. Disana banyak cowoknya dan aku sendirian. Aku takut, Naruto-kun... Sasuke-kun."
Lagi. Hinata menunduk.
Banyak cowok. Sendirian. Takut.
Tiga hal tersebut terngiang di benak sang Uchiha dan Uzumaki. Tentu sebagai pria, ia tidak ingin orang yang mereka sayangi berada dalam kondisi yang berbahaya. Tanpa berpikir panjang lagi serentak mereka berucap, "Baiklah."
Si Hyuuga senang, setelah berpamitan dan berkata akan di SMS lebih lanjut tentang acara tersebut, ia pergi meninggalkan si duo itu di depan pintu. Mereka...
.
―masih dengan tangan yang saling merangkul.
.
.
Satu detik. Keduanya masih tersenyum dan melambai ke punggung Hinata.
Dua detik. Keduanya mendesah.
Lima detik berikutnya adalah adegan patah-patah saling pandang, meneguk ludah, dan pipi yang bersemu merah.
Tepat sepuluh detik, akhirnya mereka berdua sadar. Buru-buru mereka melepas rangkulan dan duduk di tempatnya masing-masing, berusaha keras menghentikan degup jantung yang tiba-tiba berdetak cepat.
.
.
.
~o.O.o~
.
.
.
Waktu itu relatif dan fleksibel. Terkadang lima menit bisa dirasa sangat lama, kadang pula satu minggu berlalu dengan cepat.
Inilah yang dirasakan Sasuke dan Naruto. Sekarang mereka sudah ada di depan pintu gerbang villa yang letaknya di perbukitan daerah Kumogakure. Sedikit ragu untuk masuk ke dalam. Keduanya merasakan firasat yang kurang enak. Oleh sebab itu, hampir sepuluh menit mereka berdua belum masuk-masuk juga.
"Kenapa kalian berdua? Ayo masuk," ajak Hinata.
Dengan berat hati, merekapun masuk ke villa tua itu.
Besar dan mewah, adalah penilaian yang mereka berikan pada gedung kokoh tersebut. Villa milik klan Yamanaka ini terlihat antik. Menurut Ino, villa ini warisan dari leluhurnya. Memiliki duabelas kamar tidur dengan kamar mandi dalam, namun sekarang hanya empat kamar yang bisa ditiduri, lainnya masih tahap renovasi.
Setelah perundingan cukup lama, akhirnya mereka―minus Naruto dan Sasuke―sepakat dalam pemilihan kamar.
Hinata, Ino dan Sakura satu kamar. Dua kamar yang lain dipakai sepupu dan orang tua Ino yang ikut menginap.
Nah, apes bagi Sasuke, ia harus sekamar dengan pemuda berkulit coklat nan seksi macam Naruto.
"Apa tidak ada kamar lain, Ino-chan?" tanya Naruto. Sama seperti Sasuke, Naruto juga tidak mau tidur satu ranjang dengan si kulit putih nan imut seperti Sasuke.
"Gomenne, Naruto. Kamarnya hanya ada itu," Naruto ingin membantah, namun cepat-cepat Ino memotongnya, "...jangan bilang kamu mau tidur di sofa. No way! Sekarang cepat bawa barang-barang kalian. Kamar kalian ada di lantai dua!"
Galaknya Ino membuat Naruto kicep, dengan lesu akhirnya ia menaiki tangga disusul Sasuke dari belakang.
.
.
.
"Gimana tadi acting-ku tadi? Bagus tidak?" tanya Ino setelah mereka bertiga sampai di kamar.
"Kamu memang cocok jadi artis, Ino. Coba kau lihat muka mereka berdua, sampai pucat begitu."
Sakura menjawab sambil cekikikan, ia melempar asal tas ranselnya ke sofa.
Hinata yang mendengar percakapan kedua temannya hanya bisa tersenyum dan membuka leptop yang sejak dari awal berada di kamar tersebut.
"Apa mereka sudah masuk kamar?" tanya Ino, ia berjalan mendekati Hinata, pun demikian dengan Sakura. Ketiganya mengerubungi laptop 14 inch itu.
"Tunggu," Hinata mengklik enter di keyboard, dan muncullah gambar di layar tersebut.
Rupanya para anggota Fujoshi ini sudah merencanakan semuanya dengan matang. Mulai dari kamera tersembunyi sampai alat penyadap. Semuanya diletakkan di tempat strategis dan tersembunyi.
"Huhu!" Sakura bersorak kegirangan saat Sasuke dan Naruto memasuki kamar.
"Tontonan asik nih," Ino berdecak, ia menyambar sebungkus snack dan membukanya kemudian memakannya perlahan, persis saat nonton di bioskop.
Mereka bertiga makan, namun mata ketiganya tak pernah lepas dari layar monitor. Layaknya agen mata-mata, gadis-gadis Fojoshi tersebut mengamati gerak-gerik Sasuke dan Naruto.
"Apa 'alatnya' sudah siap?" tanya Hinata pada Ino. Si gadis pirang tersenyum dan mengganguk, "Tentu saja!"
Setelah mendengar ucapan Ino, Hinata kembali memfokuskan diri ke layar monitor, dalam hati ia berdoa, semoga rencana mereka berjalan lancar.
"Menurut kalian," Sakura meminum air mineral yang ia bawa, "Siapa diantara mereka yang cocok jadi seme dan uke?"
Pertanyaan itu berhasil membuat Hinata maupun Ino terdiam, memikirkan siapa yang paling cocok di posisi apa.
.
.
Baiklah. Kita rubah posisi. Sekarang kita kembali ke kamar kedua humu tanggung tersebut.
Naruto dengan malas membuka pintu, sesaat kemudian ia bisa melihat kamar yang cukup luas, dengan dindingnya dilapisi kertas dinding berwarna ungu dan coklat. Sedikit mengernyit saat ia mencium aroma aneh yang dapat ia cium di penjuru ruangan.
"Bau apa ini?" rencananya pertanyaan itu ia tujukan pada dirinya sendiri, namun siapa sangka, Sasuke menjawabnya, "mungkin aroma pengharum ruangan."
Dengan santai Sasuke berjalan melewati Naruto, sekuat tenaga bersikap biasa dan dingin. Ia mendudukkan diri di atas ranjang berukuran king size, sementara ransel ditaruhnya di atas meja. Tubuhnya sangat lelah akibat perjalanan lima jam yang ia tempuh untuk sampai ke villa tersebut.
Dihirupnya kembali aroma menenangkan tersebut. Anehnya, setelah itu badannya terasa rileks dan nyaman. Serasa bagai terbang sampai ke awan-awan.
"Sasuke," suara mendu menggelitik gendang Sasuke. Ia menoleh dan melihat sang pemuda Uzumaki sedang melepaskan kancingnya satu-persatu.
Shock? Absolutly!
Apa yang terjadi dengan Naruto? Kenapa tiba-tiba pemuda berambut kuning itu bersikap seperti itu? Belum lagi dengan wajahnya yang memerah dan pandangannya yang menggoda.
"Ad-ada apa denganmu, Naruto?" tanya Sasuke panik. Ia sedikit mundur sampai-sampai membentur kepala ranjang.
"Entahlah, aku tidak tahu," Naruto semakin mendekat, sementara Sasuke semakin terjepit.
Glek.
Susah payah ia meneguk ludah, sementara jantungnya juga berdegup kencang.
Pasti ada sesuatu, ia yakin itu. Apa mungkin...Hinata?
"Tiba-tiba saja badanku terasa panas, Sasuke," Naruto sudah duduk di atas ranjang, "...sementara 'ini' terasa sesak." Naruto menunjuk pangkal pahanya.
Bahaya. Benar-benar bahaya. Sialan! Lagi-lagi ia tertipu dengan akal bulus sang gadis Hyuuga. Rupanya Hinata lebih cerdik daripada yang ia kira.
"Te-tenang Naruto. Tenang. Kita bicarakan ini baik-baik," Sasuke memasang pertahanan dengan kedua tangannya, namun Naruto terus mendekat.
"Aku sudah tidak tahan, Sasuke."
Bibir Naruto yang bergetar dan pandangan memohon yang terlihat imut itu membuat sang Uchiha tidak kuat lagi. Badannya juga entah mengapa terasa panas, nafasnya terasa berat, dan jantungnya berdegup liar.
Panas, sekujur tubuhnya menjadi panas. Bukan panas karena matahari, melainkan panas karena nafsu... birahi?
Sasuke menggeleng-geleng, mencoba mengusir perasaan aneh yang menerjang bak tsunami.
"Kumohon, Sasuke-kun."
Deg.
Permohonan mengiba dari sang pemilik manik biru itu, akhirnya mampu merobohkan dinding yang sudah Sasuke bangun dengan susah payah.
Sasuke belum pernah dipanggil dengan suffik -kun sebelumnya oleh Naruto. Bisanya ia selalu dipanggil Sasuke, Teme, atau si pantat ayam.
Pelahan, ia mendekati Naruto. Tangan kanannya dengan lembut menyisir rambut kuning si pemuda Uzumaki, kemudian beralih mengelus pipi dan dagunya. Tubuh pemuda tan itu bergetar saat menerima rangsangan dari pemuda di depannya dan akhirnya ia tak sanggup menahan desahan yang ia tahan sedari tadi.
"Emmh," desahan Naruto terhenti tatkala bibir tipis Sasuke membungkamnya, kemudian ia menggigit kecil bibir bawah Naruto, meminta bibir tersebut terbuka lebih lebar. Mulut Naruto terbuka pasrah, dengan senag hati, ia membiarkan lidah Sasuke bergerak masuk. Menjelajahinya dengan brutal dan ganas.
Setiap detik, adegan tersebut kian liar dan panas, membuat wajah siapapun yang melihat berubah merah. Baik Sasuke dan Naruto tidak mampu berhenti, mereka sudah larut dalam lautan gairah.
.
.
.
Di sisi lain kamar, tepatnya dua blok dari kamar Naruto dan Sasuke yang sedang bercumbu, tiga orang gadis SMA sedang terpaku di depan layar laptop. Dengan mata yang terlihat hampir jatuh saking besarnya melotot dan mulut yang terbuka lebar, Hinata dan kedua temannya baru―atau―sedang melihat tayangan langsung bagaimana dua orang yang sama-sama memiliki hormon testosteron sedang beradu mulut.
Lihat saja Ino―yang karena terlalu asik menonton―sampai lupa mengelap iler yang sudah mengucur deras dari sudut bibirnya.
"Sumpah, ini tayangan bermutu banget, dari pada kita setiap hari harus dicekoki tayangan macam Y*S," celetuk Sakura.
kedua sahabatnya mengangguk setuju, matanya masih tetap memandang layar.
"Gile, 'ga nyangka Sasuke-kun seagresif itu."
"Iya, bener."
Mereka bertiga asik berkomentar tentang kegiatan mesum yang terjadi di seberang kamar, layaknya komentator bola.
"Eh..eh... mau ngapai tuh, Sasuke-kun?" tanya Hinata, sebelah tangannya menutup mata, yang lainnya menunjuk layar . Hinata malu melihat aksi fulgar si bungsu Uchiha.
Dilihat dari layar, Sasuke sudah berada di atas Naruto, ia perlahan membuka satu-persatu kancing bajunya dan menatap Naruto dalam.
Ketiganya menelan ludah kemudian menahan nafas.
Sedikit lagi... Ya, sedikit lagi adegan yang hanya bisa mereka baca dan tonton akan terjadi.
Sebentar lagi...
.
Satu.
.
.
Dua.
.
.
.
Ti―!
Pet.
Hening dan gelap.
Kutu kupret! WTF!
"Ghaah!" ketiganya teriak frustasi. Sakura melempar botol, Hinata melempar leptop, sementara Ino menjedukkan kepalanya ke meja.
Apes benar dah nasib mereka. Bisa-bisanya, dari duapuluh jam yang ada dalam sehari, kenapa mesti di momen penting tersebut harus mati lampu? Kenapa?! KENAPA?! Padahal rencana sudah disiapkan dengan matang dan di susun jauh-jauh hari. Haah... Memang, sepertinya Kami-sama tidak merestui rencana picik mereka.
.
.
.
.
.
.
―Dan sejak kejadian mati lampu tersebut, Ino bersikeras meminta keluarganya membeli genset, agar kejadian sama tidak terulang kembali―
.
.
.
.The End.
A/n: Tolong dengan sangat jangan gebukin saya. karena jujur saya belum bisa buat adegan yang ada ehem-ehemnya. jadilah fic ancur bin nista ini tercipta.
tadi baca ga, pertanyaan Sakura di atas. 'Siapa yang cocok jadi Seme dan uke?' menurut kalian siapa yang lebih cocok? kalau saya pribadi lebih suka Naruto jadi si seme, soalnya kulitnya itu lho... coklat mengkilat #plak. abaikan curcol nista saya ini.
silahkan review minna~
tunggu karya nista saya berikutnya, ya ^_^
