A/N:
Jadi….inilah chapter 2 dengan segala kekurangan dan keterlambatannya.
Saya harap para reader masih mau membaca dan mengikuti cerita ini dan saya ucapkan selamat bagi yang sedang menunaikan ibadah puasa :D
Weird? Maybe A Little….
Disclaimer: Vocaloid Yamaha Corporation
Story: Viory.01
"Nee-san, kumohon jangan bilang-bilang pada kaa-san ya…."
Rin tertunduk lesu. Ia tidak berani menatap ke arah Onee-san nya yang sedang mengamati tiap deretan kata yang tercetak di atas sebuah surat panggilan itu dengan tatapan serius.
Gadis dewasa berambut blonde panjang itu pun akhirnya menghela nafas dan meletakkan surat di genggamannya ke atas meja dengan perlahan.
"Yare-yare, Rin….apalagi yang kau lakukan kali ini?"
"A…aku! Itu…itu bukan sepenuhnya salahku! Aku sudah berusaha menahan diri, tapi…." Rin beranjak dari kursinya. Nada bicaranya meninggi seketika dan kedua tangannya mengepal dengan kuat.
"Tapi? Tapi apa, Rin? Kau bahkan belum menceritakan alasan dari surat panggilan ini…." Gadis yang dipanggil Nee-san itu kembali menghela nafas untuk yang kedua kalinya. Ia terdiam sebentar sebelum melanjutkan kata-katanya, "Baiklah, Rin. Aku mengerti. Setidaknya tenanglah dan ceritakan dulu semuanya dari awal. Kau tidak perlu berbicara dengan nada setinggi itu. Nee-san akan mendengarkanmu."
Rin hanya dapat kembali tertunduk. Melihat ekspresi nee-san nya yang serius itu….ia sangat takut jika kejadian ini akan sampai ke telinga Okaa-san nya. Ia tahu, bahwa Lily-nee pasti tidak akan tega dan sampai hati untuk mengadukan Rin pada kaa-san nya. Tetapi, rasa khawatir sudah terlanjur bersarang di dadanya.
Rin mengangkat kepalanya, meneguk ludah, dan menatap Lily-nee dengan agak ragu sebelum menuturkan beberapa kata dengan frekuensi yang sangat tipis.
"Gomenasai onee-san….Se-se…sebenarnya aku hanya sedang kesal….Jadi, maafkan kelancanganku tadi…."
Rin membungkuk pelan di hadapan Lily. Lily pun hanya bisa geleng-geleng kepala sambil memijit pelipisnya pelan. Tetapi, kemudian ia menatap Rin dan tersenyum sambil berkata,
"Iie, tidak apa-apa Rin. Onee-san hanya ingin tahu tentang masalahmu, itu saja. Onee-san tidak akan menceritakan hal ini pada Oba-san. Dan, Onee-san yang akan datang ke sekolahmu besok sebagai perwakilan, jadi kau tenang saja."
Rin tersentak. Ia terkejut bercampur lega karena semua kecemasannya tidak akan menjadi kenyataan. Dengan senyum merekah di wajahnya, ia membungkuk sekali lagi untuk berterima kasih kepada Onee-san nya yang sangat baik dan pengertian ini.
"A….Arigatou! Arigatou! Arigatou! Arigatou, Onee-san!" Rin menyerukan kata itu berkali-kali dan Lily hanya dapat tertawa melihatnya.
"Haha. Baik, baik. Aku mengerti, Rin. Tetapi, kau tetap harus menceritakan tentang semua permasalahan surat ini dari awal….."
"Ah! Itu! Itu dia! Murid baru yang kemarin! Kyaa! Dia keren sekali!"
"Eh, itu!? Yang benar!? Kenapa orang sekeren itu bisa masuk ke sekolah ini sih?!"
"Kyaa! Dia sekelas denganku lho!"
"Kagamine Leen! Aku mau jadi kekasihmu sekarang juga~!"
"Hee, apa!? Kau serius? Tapi, bukankah itu terlalu cepat?"
"Kalau sasarannya orang sekeren ini, siapa sih yang mau menunggu lama-lama?"
"Bodoh! Jangan mendahuluiku! Aku sekelas dengannya! Jadi kesempatanku untuk mendekatinya pasti lebih banyak!"
"Apa katamu…!?"
.
.
Berbagai teriakan dan seruan gaduh yang mengelu-elukan Tuan-Siswa-Baru-Berwajah-Tampan ini sudah terdengar sejak orang yang menjadi topik pembicaraan ini menapakkan kakinya di gerbang sekolah beberapa menit yang dari pembuat kegaduhan itu bahkan terlihat berdebat sengit tentang siapa yang harus menjalankan aksi pendekatan terlebih dahulu.
Menanggapi hal itu, orang yang menjadi objek perebutan itu hanya tersenyum lembut sambil melambai ke arah kumpulan gadis itu, membalas semua sapaan mereka tanpa terlihat terganggu sama sekali dengan keadaan yang rusuh dan normalnya membuat risih itu.
Para gadis yang berkerumun itu kembali berteriak-teriak ketika melihat Len merespon panggilan mereka. Jumlah mereka cukup banyak dan mereka semua berasal dari kelas dan angkatan yang berbeda-beda.
Walaupun begitu, tidak semua gadis di sekolah itu dengan mudahnya terpikat kepada Len hanya karena melihat wajahnya yang tampan.
Beberapa gadis masih cukup normal untuk tidak mengikut sertakan diri dalam keributan dan kegaduhan yang sebenarnya tidak berarti dan cukup merendahkan harga diri sendiri itu dan memutuskan untuk menjauh, mengabaikan keributan yang sedang terjadi, dan melakukan berbagai aktivitas mereka seperti biasa.
Dan, salah satu dari sedikit gadis yang masih normal itu adalah Rin….
Rin duduk di kursinya dengan santai. Kelasnya tampak sepi dan tidak ada satu orang lain pun di sana.
Merasa bosan, gadis ini menoleh kesana-kemari dan menyadari bahwa tidak seluruh dari kursi di kelas itu kosong. Tas berhias gantungan burger yang manis, sudah tersandar dengan rapi di kursi yang berada di depannya.
Rin memiringkan kepalanya sedikit dan berpikir dalam hati…
'Hmm, Rui sudah datang ya? Kemana dia? Teman-teman yang lain juga…'
Murid perempuan di kelas Rin memang memiliki kebiasaan untuk datang lebih awal sedangkan murid laki-laki lebih suka datang terlambat. Karena itulah tidak heran jika belum ada satu pun siswa yang tampak di kelas Rin. Hal yang patut dipertanyakan adalah keberadaan para siswi. Karena selain tas Rui, di kelas itu juga sudah banyak terdapat tas-tas milik siswi lainnya yang terletak di atas kursi dan meja mereka masing-masing, tetapi semua pemiliknya tidak ada yang terlihat.
'Ah! Jangan bilang kalau mereka…' Rin tersentak saat sebuah perkiraan melintas di otaknya.
Segera ia menoleh ke luar dan seketika itu juga menemukan bahwa perkiraannya itu ternyata benar….
Kedua alis Rin tampak berkerut dan bibirnya menekuk melihat keributan yang terjadi di luar. Ia merasa kesal ketika menyaksikan penyambutan heboh yang diterima oleh Len itu. Ditambah lagi dengan sikap berlebihan dari teman-teman perempuannya yang membuat Rin ingin muntah!
"Hmmh! Idiot!" Rin hanya dapat berdecak kesal sebelum memalingkan wajahnya dari jendela.
Tetapi tiba-tiba, beberapa detik kemudian, raut wajahnya berubah…
Kini, bukan kekesalan lagi yang tampak di wajahnya, melainkan kegelisahan. Kedua kakinya bergoyang-goyang kesana-kemari di bawah meja dan kelima jari tangan kanannya sibuk mengetuk-ngetuk permukaan meja. Tangan kirinya digunakan untuk menumpu pipinya yang mulus.
Setelah melihat Len datang, ia jadi teringat lagi akan masalah surat panggilan itu….
Rin menghela nafas panjang…
Ia rasa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan….
Lily akan datang untuk menanggapi surat panggilan itu setelah jam belajar mengajar selesai, masalah akan beres dan ibunya pun tidak akan pernah tahu tentang masalah ini.
Yah, walaupun Rin masih harus memeras keringat untuk membersihkan kamar mandi selama beberapa hari lagi…
Tetapi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, bukan?
Semuanya aman, bukan?
...
….
….
Oh, baiklah…
Sejujurnya, Rin kurang yakin juga apakah semuanya akan tetap aman jika Lily sudah mendengar seluruh kejadian "sebenarnya" dari Kiyoteru-sensei…
Rin memang tidak berbohong dan ia sudah menceritakan sebagian besar dari kejadian itu dengan jujur, tetapi, tetap saja….
.
Ada beberapa scene kejadian yang telah di potong dan di skip olehnya….
.
Singkatnya, ia memang tidak berbohong, tetapi ada beberapa hal yang tidak diceritakannya….
Seperti bagian dimana ia meneriaki Len dengan kata-kata seperti, "Manusia tolol tidak berguna!", "Sebaiknya kau mati saja!", "Yang sampah itu, kau!" dan berbagai sumpah serapah lainnya yang sebenarnya kurang pantas meluncur dari mulut seorang gadis muda sepertinya.
Wajah Rin kembali berkerut…
Baik, hal ini sangat tidak bagus….
Lily bisa saja berubah pikiran setelah mendengar keseluruhan cerita "asli" dari Kiyoteru-sensei dan berakhir memutuskan untuk menghubungi ibu Rin dan membeberkan ulah ganas Rin itu.
Walaupun Lily sangatlah baik tapi…yah, siapa yang tau apa yang akan terjadi, bukan?
"Cih! Menyebalkan!"
Rin menggeram dalam hati dan kembali menoleh ke luar untuk mendapati bahwa Kagamine Len sudah tidak ada di sana. Sepertinya lelaki itu sudah memasuki bangunan sekolah, diikuti oleh para penggemar barunya yang juga sudah tidak tampak di halaman sekolah.
"Hh! Sepertinya sebentar lagi kelas ini akan menjadi rusuh. Sebaiknya aku keluar saja…"
Rin memutuskan untuk beranjak dari kursinya dan berjalan menuju pintu kelas, ia menggeser pintu dan….
—GREEK…!
"Ah!"
"Hn?"
Ekspresi kebingungan tampak sekilas di wajah lelaki tampan yang sedang berdiri di sisi lain dari pintu yang telah dibuka oleh Rin, tetapi, ekspresi itu segera digantikan oleh sebuah seringai licik yang menggoda.
Rin tersentak dan wajahnya mulai memancarkan amarah…
'Mahluk ini…..dialah penyebab semua masalah yang kualami kemarin….Kh!' Rin menggertakkan giginya. Rasanya ia ingin memanfaatkan saat-saat dimana jarak mereka menjadi sedekat ini untuk menampar dan menghajar lelaki menyebalkan yang sedang berdiri di hadapannya saat ini.
Akan tetapi….
"Rin-chan~~ Bersabarlah~~~ Jika tidak~~ Okaa-san akan datang, lho! Hohoho~"
Entah darimanakah bisikan mengerikan itu berasal, Rin tidak tahu. Yang pasti, bisikan itu sukses untuk membuatnya tersadar dan melemaskan kembali kepalan di tangan kanannya yang tadi sudah siap digunakan untuk meninju wajah Tuan Kagamine Len itu sekeras mungkin.
"Kau….! Minggir kau, idiot! Kau menghalangi jalanku!" Rin membentak Len mengucapkan tiap kata-katanya dengan penuh penekanan.
Akan tetapi, tubuh Len sama sekali tidak bergeming dan sebuah seringai kembali muncul di wajahnya.
"Hn,…lalu? Bagaimana kalau aku tidak mau?" Ia bergerak maju dan membuat Rin terkejut dengan jarak di antara mereka yang mendadak menipis.
Dengan sigap, Rin mundur sejauh setengah langkah dan kembali menggeram kesal.
Ia mendesis pelan, penekanan dan nada sinis kembali terdengar dari tiap kata yang dilontarkannya, "Idiot! Jangan mendekat! Ckh! Sebenarnya apa maumu, hah!?"
Len terdiam sejenak. Ia hanya tersenyum santai sebelum kemudian, dengan perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Rin.
"Apa….mau...ku? Hn? Entahlah….sepertinya, aku hanya sedang mencari…, hiburan?"
Len mengejakan kata-katanya satu per satu dan membisikkan bagian "hiburan" tepat di telinga kiri Rin...
.
"—!"
.
Suara rendahnya yang menggoda dan nafasnya yang berat menggelitik permukaan telinga Rin, membuat Rin tersentak...
Otot-ototnya mendadak terasa lemas dan kaku sehabis menerima sensasi yang diberikan Len di salah satu bagian tersensitif di tubuhnya itu... Ditambah lagi, dalam jarak sedekat ini, Rin dapat mencium bau citrus yang lembut dari rambut Len dan aroma maskulin yang kuat dari tubuhnya.
—BLUSH!
Wajah Rin memerah seketika, dan saat itu juga, dengan refleks ia mendorong Len sekuat tenaga….
"A…A..APA YANG KAU…!?"
.
.
"ME…MENJAUH DARIKU, IDIOT!"
Sambil memegangi telinga kirinya, Rin berteriak dengan sangat keras dan berlari secepat mungkin…
..tidak tahu kemana, tetapi yang pasti, menjauh dari tempat itu…
Ia bahkan tidak memperdulikan Len yang tidak tampak kesakitan sama sekali Rin mendorongnya dengan cukup keras tadi, tetapi itu tidak cukup untuk membuat Len terjatuh, dan hanya membuat tubuhnya bergeser sedikit dari posisi awal.
Len memandang Rin yang berlari menjauh dengan tatapan heran, ia mengusap rambutnya perlahan sambil tersenyum dan bergumam pelan kepada dirinya sendiri….
"Hee…Sasuga…, Kore wa omoshiroi…"
.
"—san…"
.
"—en-san…"
.
"Hey, Len-san! Ada apa? Kau baik-baik saja?" tanpa Len sadari, salah seorang gadis dari kerumunan yang baru saja tiba mendekat dan bertanya padanya dengan wajah khawatir yang dibuat-buat.
Len, hanya dapat meringis dalam hati sebelum berbalik dan menjawab dengan senyum yang "tampak" tulus, "Eh? Ah, iya….aku tidak apa-apa, kok. Hahaha, tenang saja….."
Rin terus berlari melewati kerumunan dan seiring dengan tiap derap larinya, ia dapat mendengar berbagai komentar yang ditujukan padanya.
"Siapa gadis itu?!"
"Kagamine Rin dari kelas A, bukan?"
"Eeh, nama keluarganya sama dengan Len-san?!"
"Ah! Iya! Be-benar juga ya! Aku baru sadar!"
"Hm….lalu? apa hubungannya dengan Len-san?"
"Sepertinya tidak ada dan nama keluarga yang sama itu murni kebetulan!"
"Huh, tentu saja. Jika dia benar-benar berkeluarga dengan Len-san, dia tidak akan melakukan hal lancang seperti itu! Kau lihat tidak tadi dia mendorong Len-san!?"
"Iya! Kalau tidak salah tadi dia juga berteriak, 'Menjauh dariku, idiot!', bukan? Huh! Gadis kasar yang menyebalkan!"
"He, hei, su…sudahlah. Hentikan teman-teman. Sebenarnya Rin-chan itu gadis yang baik. Walaupun sikapnya jika sedang berhadapan dengan lelaki berbeda, tapi dia… "
"Huh! Tapi tetap saja kelakuannya yang barusan itu tidak pantas! Len-san sama sekali tidak berbuat salah dan dia bisa meminta Len-san untuk minggir dengan cara yang lebih sopan! Lagipula dia tidak berhak untuk meneriaki orang sesuka hatinya!"
"Eh!? Ya….yah, be….betul juga sih….terkadang sikap Rin-chan memang agak berlebihan….."
.
.
Rin tersentak mendengar kata-kata itu.
Rui….
Bahkan kini Rui pun menyalahkannya.
Apa-apaan ini? Dasar!
Berkomentar seenaknya tanpa mengetahui keadaan terlebih dahulu!
Len tidak bersalah?! Apa-apaan itu!?
Cih!
Mereka bisa menyaksikan dan menyampaikan berita kesana kemari bahwa pagi ini Kagamine Rin telah meneriaki Kagamine Len dengan keras hanya karena jalannya dihalangi.
Tetapi, bagaimana bisa tidak ada satu pun dari mereka yang menyaksikan saat dimana Kagamine Len mendekat dan membisikkan kata-kata menyebalkan dengan nada seductive itu ke telinga Rin?
Huh!
Oke!
Kini, rasa benci Rin kepada mahluk bernama Kagamine Len itu telah meningkat sebanyak 95%!
Karena menurut Rin, selain menyebalkan, tuan tampan itu juga "bermuka dua"….
Kini, Rin telah tiba di ruangan yang terletak di ujung koridor dan paling jauh dari ruangan lainnya, yaitu ruang perpustakaan.
Tidak ada siapa-siapa di perpustakaan itu. Sejauh mata memandang, hanya terdapat meja, kursi, dan deretan buku yang berbaris dengan rapi di rak. Penjaga perpustakaan juga sepertinya sedang ada urusan, karena ia tidak terlihat di sudut manapun di ruangan itu….
Wajah Rin berubah cerah.
Ia merasa senang melihat keadaan perpustakaan yang sepi itu dan dengan segera berjalan ke salah satu rak buku yang ada.
Dengan jari jemarinya yang lentik, Rin menelusuri deretan judul di rak buku perlahan. Sesekali ia berhenti ketika menemukan judul yang menarik perhatiannya dan menarik buku itu keluar dari susunannya. Ia membawa buku-buku yang telah dipilihnya itu ke meja terdekat dan meletakkannya ke atas permukaan kayu yang keras itu dengan hati-hati.
Rin menghela nafas. Sebenarnya ia lebih senang jika harus membanting buku-buku tebal itu daripada meletakkannya dengan perlahan. Yah, hitung-hitung sebagai pelampiasan amarah…
Akan tetapi, ia tidak berani melakukannya karena tidak mau menanggung resiko buku-buku itu rusak.
Dari sampul dan ketebalannya, buku-buku itu sepertinya cukup mahal dan Rin tidak mempunyai sepeser uang pun di luar jatah bulanannya untuk membayar ganti rugi jika ada buku yang rusak. Karena itulah, dia membuat keputusan bijaksana untuk tidak melampiaskan amarahnya ke tumpukan buku mahal di hadapannya itu dan lebih memilih untuk bersikap hati-hati.
Setelah membolak-balik beberapa halaman dari buku itu, dahi Rin berkerut. Ia sama sekali tidak menikmati bacaan yang sedang dicermatinya. Padahal biasanya, membaca buku sejarah seperti ini selalu berhasil untuk menenangkan dirinya.
Karena itulah saudara-saudara, sepertinya kita perlu memberi tepuk tangan yang meriah kepada Tuan Kagamine Len yang dengan sangat hebat dan sukses, dapat membuat amarah Rin berada di ujung tanduk hanya dalam dua kali pertemuan.
Bravo minna-san!
TWITCH!
Kini sebuah kedutan berbentuk siku-siku telah terbentuk di ujung dahi Rin…
Mengingat tentang masalahnya dengan Len memang tak pernah gagal untuk membakar habis sumbu kesabarannya….
'Kagamine Len…lihat saja kau….aku tidak akan pernah memaafkanmu..' Rin mengepalkan tinjunya dengan aura membunuh yang mengerikan di sekeliling tubuhnya.
Walaupun begitu, dengan cepat Rin berusaha menyadarkan diri dan akal sehatnya…
"Fuuh, baik, baik. Sekarang, aku harus melupakan masalah itu. Terlalu banyak pikiran itu tidak baik untuk kesehatanku." sebisa mungkin Rin berusaha menenangkan dirinya dan menutup buku tebal di hadapannya sambil menghela nafas panjang.
Ia kemudian mengecek arloji di tangan kirinya dan menyadari bahwa sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.
"Hari ini….yang pertama Lola-sensei, ya? Haah….baiklah….tidak ada salahnya jika aku beristirahat di sini. Lagipula, Lola-sensei juga jarang sekali mempertanyakan kehadiran muridnya. Jadi, tidak apa-apa jika aku membolos sebentar…."
Rin memindahkan buku-buku di hadapannya dan menggeser semuanya ke samping, melipat tangan di atas permukaan meja, menyenderkan kepalanya di situ, dan terakhir, memejamkan kedua kelopak matanya...
"Kagamine Rin!"
"…."
"…."
"Hmm? Di mana Kagamine Rin? Apakah dia absen hari ini"
Lola-sensei mengalihkan pandangannya dari buku absen sambil memperbaiki letak kacamata bacanya…
"Eh…ah iya, Sensei….Tadi Rin-chan memang sudah datang, tapi…."
Rui mengangkat tangannya dan berusaha untuk menjelaskan, tapi Lola-sensei dengan cepat memotong perkataannya.
"Hmh! Ya, ya baiklah. Kagamine Rin, absen…..Selanjutnya… "
Lola-sensei tidak menghiraukan penjelasan Rui dan melanjutkan absennya dengan cepat sebelum akhirnya menyadari bahwa ada sebuah nama dengan huruf awal K yang berada di baris paling bawah daftar absen.
'Hmm…siswa baru lagi? Heh, sepertinya sekolah ini makin makmur saja tiap tahunnya…'
.
.
"…Kagamine Len!"
"—Hadir." Jawab Len singkat.
"Kagamine, ya? Hmm, apakah kau masih berkeluarga dengan Kagamine Rin?"
"Tidak, sensei…"
"Hmm? Baiklah kalau begitu." Lola-sensei menutup buku absen dan meraih buku catatannya.
"Kita lanjutkan dari materi akhir kita di pertemuan sebelumnya. Baik, silahkan buka halaman…."
"Ano, Sensei…!"
Mendadak Len berseru dan mengangkat tangan.
"Sumimasen, tapi….saya tidak memiliki buku materi untuk pelajaran hari ini. Bolehkah saya pergi dan meminjam buku yang ada di perpustakaan?"
Lola-sensei menaikkan salah satu alisnya dan berdehem, "Ehm, bukankah kau bisa bergabung dengan teman di dekatmu untuk sementara?"
"Be..benar, Len-san. Ka, kalau mau….kau bisa meminjam bukuku dan bergabung denganku…" Rui menoleh ke arah Len sambil berkata dengan pipi yang memerah.
Len hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, "Terima kasih, Rui. Tetapi, aku tidak mau merepotkanmu."
"Eh, ti….tidak apa-apa kok Len-san! A…aku sama sekali tidak…"
"Maaf sensei, tapi sebaiknya untuk sementara saya akan menggunakan buku perpustakaan saja dahulu." Len menegaskan perkataannya sekaligus menegaskan penolakannya terhadap tawaran Rui.
Lola-sensei hanya dapat diam sebelum akhirnya mengangguk dan menyetujui permintaan Len, "Baiklah Len-kun, kau boleh pergi. Dan, pastikan untuk meminjam buku soal juga."
"Baik, sensei. Terima kasih. Saya permisi dulu." Len berdiri dan beranjak meninggalkan kursinya.
"Nah, untuk yang lain, silahkan membaca materi yang tertera terlebih dahulu. Setelah itu sensei akan….."
.
.
Suara Lola-sensei terdengar samar saat Len berbalik dan menutup pintu kelas. Ia berjalan dengan kedua tangan di dalam saku dan menelusuri koridor dengan santai.
Yah, sebenarnya Len hanya sedang mencari kesempatan untuk bisa keluar dari kelas…
Walaupun ini masih jam pelajaran pertama, tetapi ia sudah merasa penat dan suntuk di dalam ruangan.
Rasa suntuknya itu mungkin disebabkan oleh peristiwa "kerusuhan" di sekitarnya yang terjadi beberapa puluh menit yang lalu. Selain itu, Len juga merasa bahwa banyak gadis yang diam-diam mencuri pandang padanya selama ia berada di kelas tadi.
"Fuh. Hari kedua yang melelahkan…Hnh." Len mengeluh dalam hati sambil memejamkan kedua matanya…
.
.
Beberapa menit kemudian, setelah menuruni tangga dan menyusuri koridor sekolah yang lumayan panjang itu, Len tiba di depan ruangan dengan tanda "Perpustakaan" di atasnya.
Ia mendorong pintu masuk yang terbuat dari kaca itu dan melangkah memasuki ruangan.
Tetapi, langkahnya terhenti seketika setelah pandangannya menangkap "sesuatu" yang berada di dalam ruangan itu.
Len hanya dapat tertawa dalam hati. Sinar matanya terlihat jahil, dan kedua kakinya mulai bergerak mendekati sosok yang sedang terlelap di salah satu meja di sudut ruangan tersebut….
"Membolos dan tidur di perpustakaan, hmm? Benar-benar jenius…" Len berkata sambil tersenyum sinis.
Akan tetapi, sosok yang ternyata adalah Rin itu, tidak merespon dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan bangun.
Punggungnya yang dibalut dengan seragam putih polos, bergerak naik-turun, seirama dengan deru nafasnya yang teratur.
Wajahnya terlihat tenang, berbeda dari ekspresi garang yang selalu ia tunjukkan pada kaum lelaki di sekolah sehari-harinya, terutama Len.
"Hn.." Len terkesiap. Melihat pemandangan langka ini, ia hanya dapat menghela nafas. Dengan cepat ia mengalihkan pandangannya dan berjalan menjauhi Rin menuju ke salah satu rak di tengah ruangan.…
Hah, ia hampir lupa akan tujuannya untuk meminjam buku….
Len menelusuri buku-buku yang ada dengan cepat, mencari judul yang tepat.
Dan sambil mencari buku yang diperlukan, Len berpikir dalam hati…
"Hn…entah kenapa, rasanya dari kemarin ada yang aneh…"
Ia menoleh kembali ke arah meja tempat Rin tertidur dan tidak dapat menahan dirinya untuk tidak tersenyum saat melihat wajah polos Rin...
Haha, entah mengapa, Len selalu merasa ingin tersenyum tiap kali melihat wajah gadis yang sepertinya sangat membencinya itu. Sikap dan kata-kata kasarnya saat marah, sama sekali tidak menyinggung perasaan Len dan justru terasa menyegarkan baginya...
Ah...
Intinya, di mata Len, Rin itu...
.
Sangatlah lucu dan manis...
.
"?!"
"..."
"Hmh….begitu ya? Haah...Aku mengerti…" seakan sudah berhasil menemukan jawaban atas hal yang sempat dipikirkannya tadi, Len beranjak dan berjalan menuju pintu perpustakaan….
Ia telah menemukan buku yang diperlukannya dan ia sudah berhasil mengusir sedikit rasa suntuknya, jadi ia harus kembali ke kelas sekarang….
Akan tetapi, saat ia sudah dekat dengan pintu perpustakaan, sebuah suara gumaman yang disertai dengan suara kursi bergeser tiba-tiba terdengar dari arah belakangnya.
Ia menoleh dan melihat Rin yang bergerak dan berdiri dari kursi sambil mengucek kedua matanya.
"Hee, akhirnya kau bangun juga ya?" kalimat itu meluncur dengan cepat dari bibir Len. Tangannya tidak jadi meraih gagang pintu dan ia justru berbalik ke arah Rin.
—DHEG!
Seketika itu juga Rin yang masih membelakangi Len langsung tersentak.
Su…Suara ini….jangan bilang kalau.….
…..
…..
…..
…..
"KAU! APA YANG….!?"
Lidah Rin terasa tertahan dan ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya.
"Hnh? Apa? Kalau kau ingin mengatakan sesuatu, cepat saja katakan…." Len menjawab dengan nada yang terdengar mengejek di telinga Rin, dan dengan tatapan yang terlihat meremehkan di mata Rin….
Rin menggeram. Ia merasa sangat kesal dan tanpa pikir panjang lagi, ia meraih salah satu buku yang berada di atas meja, tidak memperdulikan lagi bahwa buku mahal itu bisa rusak, dan langsung melemparkannya ke arah Len….
—BUUK!
Buku sejarah Shinsengumi dengan cover tebal yang berat itu melayang dan mengenai dahi Len dengan telak.
Len yang tidak sempat menghindar hanya dapat mengusap dahinya sambil meringis pelan…
"Khh….kau…." Sambil menahan sakit di dahinya, Len menggeram dan berjalan mendekati Rin. Kedua buku materi yang tadi dipegangnya, telah dijatuhkannya ke lantai.
Rin terkesiap. Melihat Len yang mulai mendekat, ia langsung siaga dan bersiap-siap untuk melemparkan buku yang kedua.
Dan….
—BUUK!
"Ah!" Rin berseru saat lemparannya yang kedua meleset. Kini, sebuah seringai kembali terukir di wajah Len. Ia semakin mendekat, dan sebelum Rin sempat melemparkan buku yang ketiga, Len menahan kedua pergelangan tangan Rin dan mendorong tubuh Rin ke atas meja dengan satu gerakan cepat.
"Hn…kau tahu? Gadis nakal sepertimu harus diberi hukuman..."
*To Be Continued
