Yosh… Ai kembali lagi dengan chapter baru setelah vakum sejak lama -,-" Gegara saya sibuk kuliah dan agak bingung mau dibawa ke arah mana cerita romantis -#plakk- kita ini.. xDD
Okeeh tanpa babibu lagi,, mending reader langsung baca aja yah.. hihih
Happy reading~~
~O~ Disclaimer : Masashi Kishimito ~O~
~O~ Pairing : NaruSasu ~O~
~O~ WARNING : YAOI, AU, OOC, Typo, Gaje, dll ~O~
~O~ Don't LIKE? Just CLICK the 'BACK' Button ^^ ~O~
A Stupid Kidnapper
Chapter 2
Sasuke mengemudikan mobilnya perlahan memasuki basement sebuah kawasan apartemen elit di daerah Shinjuku. Ia melirik hati-hati penumpang di sebelahnya –Naruto, yang terlihat sedang mengamati keadaan di basement- dan pisau lipat yang masih bertengger di sisi lehernya. Ekspresi yang dipasangnya memang datar, tetapi sungguh, demi Kami-sama dan dewa-dewa yang ada di bumi, ia ingin pisau itu cepat-cepat menyingkir dari kulit putih bak porselennya.
'Itachi nii-san akan marah besar kalau aku lecet sedikit saja… Dan oh, jangan lupakan betapa histerisnya Okaa-san saat ia tau nanti kalau aku diculik! Pasti aku akan dibawa "kesana" lagi…' Sasuke membatin panik.
Penumpang disebelahnya rupanya menyadari ketegangan yang tiba-tiba melanda Sasuke. Pria berambut sewarna matahari itu menoleh dan memperhatikan wajah Sasuke yang pucat dan mulai berkeringat dingin.
"Kau harus menahannya. Kita hampir sampai." celetuk Naruto tiba-tiba.
Sasuke –yang sedang berusaha mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya- menoleh dan menatapnya tak mengerti.
"Kau mau pup, kan? Kau bisa melakukannya saat kita tiba di apartemenmu nanti." Naruto berkata sambil menatap balik Sasuke dengan pandangan sok tahu.
Sasuke menghela napas frustasi. "Aku bukannya sedang menahan pup."
"Lalu apa? Menahan pipis? Kau bisa melakukannya setelah kita dapat tempat parkir…" Naruto lagi-lagi menebak dengan sok tahu. "Parkir disitu saja!" Ia menunjuk tempat parkir yang masih kosong di dekat pilar basement.
"Aku juga bukannya sedang menahan pipis!" jawab Sasuke kesal. Ia mengarahkan Porschee-nya ke arah yang ditunjuk oleh Naruto.
"Lalu kenapa wajahmu seperti itu?" Naruto menggunakan ujung pisau lipatnya untuk menunjuk ekspresi wajah Sasuke. Membuat Sasuke bergerak menjauhi ujung pisau tersebut dengan mimik ngeri.
"Tidak bisakah kau simpan benda itu sekarang? Aku sudah bilang kalau aku tidak akan macam-macam, kan?"
"Aku akan menyimpannya setelah kita masuk ke apartemen nanti." ujar Naruto santai.
"Aku janji tidak akan berbuat macam-macam."
Naruto mengangkat bahu tidak peduli. Ia malah memberikan isyarat pada Sasuke untuk keluar dari mobil. Sasuke menurut tanpa membantah, takut Naruto akan mengacung-acungkan pisau itu lagi di depan wajahnya. Naruto segera bergeser ke jok yang diduduki Sasuke dan keluar melalui pintu kemudi.
"Kenapa kau tidak lewat pintumu sendiri?" tanya Sakuke heran.
"Aku tidak mau kau kabur, bodoh!"
"Kau pikir aku bisa kabur kemana kalau kau menjepit tubuhku begini?!" sergah Sasuke. Naruto memang menjepit tubuh Sasuke ke pilar basement dengan pintu mobil begitu ia keluar.
"Ya, siapa tahu saja kau kabur saat membuka pintu tadi. Aku hanya berjaga-jaga agar kau tidak kabur." Naruto menutup pintu Porschee dan merangkulkan lengan kanannya ke bahu Sasuke, membuat Sasuke yang dirangkul tiba-tiba berjengit menjauh.
'Sekarang apalagi yang hendak dilakukan si Bodoh ini…' batin Sasuke nelangsa.
"Ayo jalan bersama ke apartemenmu." Naruto kembali merangkulkan lengannya ke bahu Sasuke tanpa sempat menyadari reaksi penolakannya tadi. Pisau yang tergenggam ditangan kanannya menempel di perut Sasuke. Melihat kilatan pisau itu lagi, Sasuke terpaksa mengikuti kemauan Naruto.
Mereka berjalan berangkulan ke lift yang langsung terhubung ke lobby. Tujuannya agar mereka tidak terlihat mencurigakan dan orang-orang mengira bahwa mereka adalah sahabat . Sasuke masih saja berjengit. Ia agak risih. Ini pertama kalinya seseorang berjalan begitu "menempel" padanya. Diliriknya Naruto yang tampak santai di sebelahnya. Tampangnya sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia seorang kriminal. Malah mata sebiru sapphire itu terlihat ramah dan hangat. Berbanding terbalik dengan mata onyx-nya yang terkesan dingin dan penuh misteri. Tatapan Sasuke turun menyapu tiga garis halus di pipi Naruto.
'Apakah itu tattoo?' Sasuke bertanya dalam hati. Ia tidak berani bertanya langsung. Takut akan membuat Naruto tersinggung dan marah.
"Tatapanmu itu membuatku risih, tau!" ujar Naruto tiba-tiba.
Sasuke tersentak kaget. Tidak menyangka Naruto menyadari tatapan menyelidiknya.
"G-gomen."
Naruto tidak menyahut.
Naruto menekan tombol lift terlebih dulu dan bergegas mendorong Sasuke masuk.
"Apartemenmu ada di lantai berapa?" tanya Naruto ketika pintu lift menutup. Sasuke menekan tombol 7 sebagai jawabannya. Mereka kemudian berdiam diri. Sibuk dengan pikiran masing-masing sampai akhirnya dentingan lift berbunyi dan pintu lift terbuka di lantai yang mereka tuju.
Sasuke keluar lebih dulu sementara Naruto mengekor di belakangnya. Jujur, Naruto merasa heran. Sasuke sama sekali tidak mencoba untuk kabur. Padahal ada begitu banyak kesempatan sejak mereka keluar dari mobil tadi. Saat mereka melewati seorang petugas keamanan di basement, saat mereka keluar dari lift, atau sekarang ketika mereka menyusuri koridor lengang menuju apartemen Sasuke. Sasuke bisa saja berteriak untuk memanggil penghuni apartemen lain dan minta bantuan. Tetapi Sasuke tidak melakukannya. Ia hanya berjalan santai dihadapannya. Bahkan ketika tiba di depan apartemen, Sasuke membuka pintu dan mempersilakan Naruto untuk masuk lebih dulu.
'Apa ia lupa kalau aku adalah penculik dan dia tawanannya?' batin Naruto ketika Sasuke menutup pintu di belakang mereka.
"Berikan dompet dan ponselmu." pinta Naruto seraya menengadahkan tangannya ke arah Sasuke.
"Untuk apa?" tanya Sasuke heran.
"Untuk berjaga-jaga kalau kau mencoba kabur atau menghubungi polisi."
Sasuke menatap Naruto sejenak, "Aku punya telpon dan laptop di apartemen ini. Aku tetap bisa melaporkanmu meski kau mengambil ponselku."
"Aku akan menyita itu juga nanti," sahut Naruto, "tapi aku yakin kau tidak akan melakukannya."
"Kenapa?"
"Kau punya banyak kesempatan untuk kabur tadi, tapi kau tidak melakukannya." Naruto tersenyum mengingatkan Sasuke. Sasuke terdiam. Sebenarnya ia menyadari itu. Tapi entah mengapa, ia merasa bahwa Naruto tidak berbahaya.
"Aku punya alasan sendiri." ujar Sasuke akhirnya. Dikeluarkannya dompet dan smartphonenya dari saku kemudian meletakkanya di meja dekat Naruto. Naruto mengambilnya dan menaruhnya di saku bagian dalam jaketnya.
"Apartemenmu bagus juga. Aku sudah menduga kalau kau anak orang kaya." Naruto mengedarkan pandangannya ke penjuru apartemen dan membuka salah satu pintu yang paling dekat dari tempatnya berdiri. Sebuah kamar dengan nuansa putih. Jelas bukan kamar Sasuke karena kamar itu tampak feminin dengan meja rias khas wanita di salah satu sudutnya.
"Yang mana kamarmu?" tanya Naruto seraya menutup pintu dan berpaling ke arah Sasuke yang kini rebahan di sofa.
Sasuke menunjuk sebuah kamar di sisi kirinya. Naruto berjalan ke arah yang ditunjuk Sasuke dan langsung membukanya. Kamar itu bernuansa biru dan hitam. Kebanyakan perabotnya berwarna biru dongker seperti Porschee milik Sasuke, sementara warna hitam hanya menghias beberapa tempat. Semuanya tertata rapi. Membuat Naruto menganguk-angguk kagum. Kamar ini berbeda sekali dengan kamarnya yang selalu tampak seperti kapal pecah setiap kali ia pulang ke rumah.
"Kamarmu rapi sekali," komentar Naruto.
"…"
"Kau suka sekali membaca, ya…" Naruto berkomentar lagi saat melihat tumpukan buku-buku di meja dekat ranjang.
"…"
"Kurasa aku akan betah tinggal disini selama beberapa hari,"
"…"
"Kau dengar aku tidak, sih?" Naruto keluar dari kamar. Merasa kesal karena Sasuke tidak menanggapinya.
"Hn," Sasuke menggumam malas. Kelopak matanya tertutup, sementara lengannya terangkat menutupi sebagian wajahnya. Naruto bersandar di pintu kamar, memandangi Sasuke yang tampaknya tengah mengantuk.
"Jangan tidur disitu,"
"Hn,"
Naruto diam sejenak, tampak berpikir.
"Kita tidur bersama."
"Hn, APA?!" Sasuke bangkit tiba-tiba dari sofa. Tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan oleh Naruto.
"Kita tidur bersama," ulang Naruto santai seraya mendekati Sasuke.
'K-Kami-sama, apa-apaan ini?' Sasuke membatin frustasi.
"Kau tidak boleh menolak," ujar Naruto lagi. Tangan kirinya perlahan mengeluarkan pisau lipatnya dari sakunya -lagi- dan menodongkannya ke arah Sasuke.
Sasuke shock. Menatap Naruto dengan tatapan tidak percaya.
'Aarrrghh… pasti ada yang salah dengan orang ini, harusnya aku sadar sejak tadi!' teriak batin Sasuke.
Naruto tersenyum licik ketika akhirnya Sasuke berdiri dari sofa. Pasrah dengan keinginan Naruto.
~O~ TBC ~O~
Akhirnya chapter 2 bisa di upload jugaa…
Lama banget yah aku hiatusnya T_T
Gomen ne~ Aii ga upload tuh gegara kemaren susah banget buka situs fanfic… keblokir mulu sama Amala DNS. Apa karena fic-nya ada yang rate M ya? O.O"
Oke, abaikan itu. Yang penting lanjutan ceritanya udah di upload lagi.
Mohon maaf jika ceritanya ga berkenan di hati reader sekalian.. tapi moga reader suka sih… *tetep ngarep* wkwkwkwk
Read and Review please
