DISCLAIMER: DISCLAIMER: Gakuen Alice punya Higuchi-sensei. Aku hanya memakai karakter-karakternya saja.


My Lady

Written by Luna Margaretha

Chapter One: First with her


Beberapa minggu kemudian di rumah mungil nan besar itu, Natsume telah menjadi pelayan pribadi bagi gadis berusia lima belas tahun. Gadis yang katanya akan jadi calon tunangannya di masa depan. Itulah makanya, Natsume berniat jadi pelayan walau harga dirinya diturunkan demi mengetahui gadis ini. Meskipun hari demi hari beberapa minggu ini membuatnya jadi kesal setengah mati pada majikannya atau bisa dibilang calon tunangannya, Mikan Sakura.

Langkah demi langkah kedua kaki Natsume berpijak di lantai marmer, menuju ke kamar Mikan Sakura. Dirinya sebenarnya tak mau melakukan hal beginian, karena itu bukanlah tugasnya. Namun, di saat seperti ini dia harus melakukannya. Demi keinginannya untuk mengetahui sifat dan karakteristik Mikan Sakura.

Sekarang Natsume sedang berada di depan pintu kamar Mikan, menghela napas panjang dan diangkat tangannya untuk membuka pintu tanpa mengetuknya.

"Nona, Anda sudah bangun?"

Hening.

"Nona…"

Natsume masuk, melihat bagian dalamnya, tetapi tak ada satupun penghuni kamar ini. Kamar ini terasa sangat kosong. Natsume pun masuk, melihat-lihat sudut ruangan ini. Tetap saja tidak ada orang.

"Nona, Anda ada di dalam?"

Bayangan di belakangnya di balik pintu kamar dibuka Natsume tiba-tiba saja menerjang dirinya. Natsume mengantisipasinya, menangkap tubuh bayangan itu. Alhasil, tubuh bayangan itu tidak sengaja menabrak tubuh Natsume hingga lelaki berusia 19 tahun langsung terjatuh ke lantai berkarpet, menubrukkan punggungnya.

"Duuh… Anda kalau mau main, jangan nyergap saya…" ringis Natsume berusaha mengangkat tubuhnya yang agak berat karena dijatuhi oleh bayangan tak lain adalah Mikan Sakura sendiri. "… minggir, Nona."

"Ups, maafkan aku." Mikan sesegera mungkin bangkit, berpindah tempat. Dilihat laki-laki berambut hitam berantakan bangun sambil menahan rasa sakit di punggungnya. Gadis berambut kuning kecokelatan jadi kasihan padanya, bangkit berdiri. "Maafkan aku, Natsume. Aku tidak sengaja membuatmu jatuh."

Mata merah menyala Natsume melirik Mikan yang bersedih, menghela napas panjang. "Saya tidak apa-apa, Nona. Saya tahu kalau Nona lagi mau bermain-main."

"Hehehe." Mikan mengangkat tangannya menggaruk bagian belakang kepalanya. "Aku sudah biasa. Habisnya… aku selalu begini setiap ada Hotaru."

Natsume kembali melirik Mikan yang mengetuk-ngetuk kedua jarinya, menghela napas lagi. "Saya tidak marah pada Anda. Tapi saya mohon, Anda jangan lakuin hal itu lagi."

Mikan mengembangkan senyumannya, hormat pada laki-laki di depannya. "Siap, Natsume!"

"Saya panggil Anda untuk sarapan pagi." Natsume merapikan kembali kemejanya yang rontok tadi, menatap mata cokelat Mikan yang bersedih. "Saya tahu kalau Anda bersedih karena orangtua Anda tidak sarapan bersama dengan Anda."

Mikan menundukkan kepalanya, menutupi matanya dengan poni panjang. "Tak apa-apa. Aku baik-baik saja, Natsume." Laki-laki bermata merah menyala tahu, majikannya ini selalu bersedih terhadap orangtuanya lebih memilih pekerjaan daripada sarapan bersama anak bungsunya. Mikan mengangkat kepalanya, menatap Natsume lebar-lebar dan berkilat. "Bagaimana kalau Natsume ikut makan bersamaku? Aku senang jika ada yang menemani! Bagaimana?"

"Apa?" gumam Natsume dalam hati, terkejut. "Nona, Anda lupa, ya. Saya ini pelayan Anda. Anda tidak boleh melakukan itu apabila Tuan besar dan Nyonya tidak ada di rumah."

"Tak apa-apa, kok. Mereka bisa maklumi. Aku juga bisa bilang pada mereka, aku minta ditemani. Biasanya aku sering melakukan hal ini pada Hotaru walau dia juga tidak mau." Mikan mengangkat kedua tangannya meraih kedua tangan Natsume yang kekar, menariknya keluar dari kamar menuju ruang makan. "Ayo, aku sudah lapar. Aku juga tahu kalau Natsume juga lapar, 'kan?"

Mendengar suara perutnya membuat Natsume menggeram dalam hati. Bagi dia yang lebih tua 4 tahun dari Mikan, lebih memilih menyerah saja ketimbang harus melawan. Soalnya status Natsume sekarang ini hanyalah pelayan pribadi gadis yang menarik tangannya. Akhirnya Natsume menundukkan kepala, mengikuti apa kata Mikan.

"Baik, Nona. Saya akan ikut makan bersama dengan Nona."

Mikan tersenyum gembira mendengar jawaban Natsume. Ditarik tangan itu menuju ruang makan tak terlihat besar, namun enak dipandang karena jendela menghadap ke taman. Tidak nyaman dilirik para pelayan, Mikan pun meminta mereka ikut sarapan bersama. Awalnya mereka menolak, tapi karena dipaksa, mereka akhirnya mau sarapan bersama Mikan dan Natsume di satu meja makan bersegi panjang.


Selesai sarapan pagi, Natsume menemani Mikan menanam buah stroberri. Ada kebun stroberri di lading besar di belakang rumah Sakura. Gadis berambut kuning kecoklatan memang suka menanam buah-buahan di kala dirinya sedang kesepian. Natsume jadi tahu kalau kegiatan calon tunangannya adalah menanam beberapa buah stroberi yang juga merupakan buah kesukaannya.

"Anda memang suka sekali buah stroberi, Nona?" tanya Natsume sengaja bertanya agar bisa mengetahui sifat asli dari Mikan Sakura.

"Dimohon untuk nggak formal di hadapanku, Natsume!" balas Mikan sambil tersenyum lebar juga sembari memetik buah kesukaannya. "Di sini tak ada orangtuaku, jadi kamu bisa bertindak selayaknya kita lagi berteman. Aku selalu begitu jika bersama Hotaru."

"Selalu nama Hotaru, ya?" gumam Natsume dalam hati. "Baik—ah, maksudku Iya, Nona."

"Kok dipanggil 'Nona' lagi?" Mikan menggembungkan pipinya terasa manis di mata merah Natsume. "Tapi, aku senang kita bisa melakukan begini bersama-sama. Biasanya aku bersama Hotaru apabila tak ada orangtuaku."

"Orangtua Nona ke mana?" tanya Natsume membuat Mikan bersedih. "Maafkan kelancanganku, Nona. Aku nggak bermaksud—"

"Mereka jarang menemuiku. Mereka lebih sibuk pada pekerjaannya ketimbang diriku." Mikan tersenyum sedih menatap Natsume yang juga berwajah sedih, Mikan menepuk punggung Natsume. "Aduuuh, kenapa aku juga harus mengatakannya! Lupakan saja, kita lebih baik bercocok tanam buah stroberi!"

Natsume tak mengatakan apa-apa lagi. Natsume diam tanpa berbicara sambil memetik buah stroberri. Inilah kebersamaan dirinya bersama calon tunangannya, mengetahui siapa gadis ini yang selalu lebih memilih sendirian ketimbang bersama orang-orang yang jelas-jelas ada di sampingnya.

"Aku akan bersama Anda, Nona," ucap Natsume membuat Mikan terperanjat kaget, lalu tersenyum senang. Sunggingan senyuman kecil terlihat jelas di bibir Natsume tanpa disadari Mikan. "Aku akan terus bersamamu, Mikan."

Rasa sennag menghinggapi Mikan dan memeluk Natsume. Pemandangan ini sangat terlihat jelas di mata orang-orang yang berlalu lalang. Ini pertama kalinya Mikan tersenyum senang. Semakin hari kebersamaan Mikan dengan Natsume terasa membahagiakan. Tinggal menunggu waktu untuk memperlihatkan siapa diri Natsume yang sebenarnya.

-TBC-


Aku membuat cerita agak pendek. Dimohon untuk mengerti, ya. Dan ini juga bagian dari awal aku datang ke Fanfiction. Unleash Your Imajination, friend!