Happy Reading

.

.

.

Izaya melalui jalanan ramai, menikmati bagaimana kehidupan lamanya seolah kembali. Ia kembali menjadi Orihara Izaya yang licik, hanya saja lebih kejam.

Dua tahun yang lalu, setelah dirinya menghilang dari Ikebukuro tanpa pikir panjang, Izaya kembali ke dunia bawah. Tidak menjadi informan seperti sebelumnya, akan tetapi menjadi pembunuh bayaran.

Awalnya Roppi lah yang menemukan dirinya terkatung-katung di bawah hujan. Menikmati derai langit di antara isak tangis yang sejak tadi dia tahan. Menikmati bagaimana butir air menyapu matanya seolah itu adalah tangan-tangan halus yang mengusap air matanya. Dia depresi. Tidak bisa di sangkal, ia terlalu terpukul karena kata-kata suaminya. Tidak, Izaya tidak ingin menganggap orang yang menyesali pernikahan mereka sebagai suami.

Sekilas-hanya sekilas-Izaya memutar memori empat tahun lalu, dimana Shizuo memutuskan untuk berhenti mengejarnya dengan amarah. Merengkuhnya dalam pelukan hangat dan menawarkan perdamaian. Menawarkan rasa cinta yang tidak semu. Menawarkan kehangatan keluarga. Dan Izaya tak kuasa menolaknya.

Semua yang Shizuo perlihatkan adalah yang pertama kalinya, karena itulah Izaya bersumpah pada dirinya sendiri bahwa Orihara Izaya juga bisa menjadi seseorang yang penuh kasih. Dia melakukannya. Dua tahun kemudian mereka menikah. Tentu saja itu menjadi kontroversi. ProKontra dimana-mana. Pernihakan sesama jenis tidak bisa dibenarkan. Apalagi masa lalu mereka yang sering menghancurkan Ikebukuro. Tentu saja, lebih banyak orang yang menentang ketimbang menerima. Namun mereka hanya bungkam. Tidak berani mengambil tindakan. Terlalu takut untuk melawan karena kemampuan Shizuo. Terlalu takut menghujat di dunia maya karena Izaya. Namun tidak ada yang menahan mereka mencerca di dunia nyata. Izaya mungkin bisa tak peduli. Tapi Shizuo telah berada dalam batasnya. Dan itu terjadi di usia pernikahan mereka yang baru menginjak usia tiga tahun. Izaya tahu sejak awal hubungan mereka terlalu rapuh.

Mungkin memang benar tidak selalu kehidupan berumah tangga akan harmonis. Tapi Izaya yakin Shizuo marah karena ada sebabnya. Selalu begitu. Mungkin karena Izaya yang mengganggunya. Atau hal lain. Namun semakin lama, Shizuo menjadi seseorang yang berbeda. Apalagi ketika Kasuka menjadi sasaran hujat. Shizuo terpuruk. Izaya tahu betul suaminya menyayangi Kasuka. Oleh karena itulah ia mencoba menenangkan Shizuo. Menjadi istri ideal yang Shizuo inginkan.

Awalnya Izaya ragu ketika Shizuo memintanya memanjangkan rambut, setidaknya poni, namun dia melakukannya. Shizuo juga memintanya menjaga pola makan untuk membuatnya langsing namun tidak begitu berotot seperti pria. Izaya melakukannya. Dia bertingkah seperti wanita. Tidak terlalu keluar kecuali belanja. Diam di rumah meninggalkan pekerjaannya. Belajar memasak. Menjadi lebih tenang. Tidak tertawa maniak. Tidak mempermainkan manusia. Menjadi Wanita.

Wanita.

Izaya sudah membuang sisi lelakinya, demi Shizuo. Namun Shizuo masih mengatakannya, "Seharusnya dia menikahi seorang wanita."

Izaya menendang air di bawahnya, berteriak kencang di tengah taman yang sepi karena hujan dan malam. "Brengsek, siapa yang memintaku untuk menjadi istrimu. Brengsek. Shizuo keparat. Shizuo ..."

Dia menangis kencang. Ingin melepaskan semuanya malam itu juga. Namun tak ada luka yang bisa sembuh dalam semalam. Bahkan setelah di basuh ribuan liter air, dia masih dapat merasakan sakit seolah teriris di relung hatinya.

Izaya terus menangis, terus, dan terus. Ia ingin melakukannya sampai puas. Namun dia harus tersentak ketika air tak lagi mengguyur dirinya. Sebuah payung menghalanginya. Dia menatap kesal pada seseorang yang berdiri di belakangnya. Seseorang yang memegang pegangan payung yang sekarang menaunginya.

"Apa?" gumam orang itu, "Apa kau tak bosan berdiri di sini dua jam dan terus saja menangis?"

Suaranya tampak dingin. Tanpa emosi. Ia terpesona oleh sepasang iris merah yang lebih gelap dari miliknya. Memiliki kontur wajah yang sama dengannya, namun lebih maskulin dengan cara yang tidak dia mengerti. Rahangnya keras, tatapannya terlihat mematikan namun sekarang Izaya bisa melihat kehangatan yang diberikan adanya. Sebuah empati diam dari sepasang mata setajam elang. Izaya tak bisa berhenti terpesona.

Orang itu tinggi, lebih tinggi darinya yang 175cm. Memiliki surai sehitam malam yang sama, coat yang juga senada. Hanya saja bulu coklat pada coatnya berganti dengan warna merah yang mengingatkannya pada darah.

"Apa urusanmu hingga kau turun tangan?" sinisnya. Izaya mencoba menahan isak yang hampir menyeruak keluar.

"Tidak ada," orang itu menjawab dengan nada yang sama. "Hanya saja melihatmu berteriak dan menangis di tengah malam dan hujan sungguh membuatku muak."

Izaya menatap tidak mengerti. Otak jeniusnya tidak bisa menangkap alasan kenapa orang ini berempati padanya. Namun lelehan di matanya masih terus mengalir. Membuatnya harus menunduk menutupinya dengan poni yang sekarang lepek.

Sebuah tangan dingin menyingkirkan poni di dahinya, kemudian menangkup pipi dan mengusap aliran air yang terus menganak. "Lelaki tidak seharusnya berambut panjang." Tubuh Izaya menegang. Suaranya menjadi sesuatu seperti salju. Dingin dan lembut. Kemudian dengan hati-hati orang itu melingkarkan tangannya yang mengusap wajahnya pada pundak Izaya. Membawanya dalam pelukan yang terasa begitu berbeda dengan Shizuo. Namun memiliki satu hal yang sama. Sensasi melindungi dan perlakuan hati-hati seolah Izaya adalah kaca yang rawan pecah.

"Pelukan adalah cara yang efektif untuk menenangkan seseorang. " Dia berbicara di sebelah telinga Izaya. "Kau bisa menceritakan semuanya padaku. Menangislah."

Malam itu, Izaya menangis di pelukan orang asing dan menceritakan semua keluh kesahnya sementara orang itu hanya mengusap punggungnya dan membiarkan Izaya puas, hingga ia tertidur di pelukannya.

Ketika ia terbangun, dia mendapati telah berada di sebuah kamar asing dengan dominasi hitam dan merah di sana-sini. Dengan aroma maskulin namun sama sekali tidak berbau rokok. Tidak seperti kamar Shizuo. Tidak juga seperti kamar di apartemennya di Shinjuku dulu. Sebuah tempat yang asing.

Dengan cepat memori tentang semalam dimana dia tertidur di pelukan orang asing memenuhi kepalanya. Membuatnya dengan cepat bangkit dan membuat kepalanya pusing. Dia juga mendapati sebuah kompres terjatuh dari dahinya. Apa dia demam? Tapi yang lebih penting dia ada dimana?

Matanya menjelajah cepat, mencari apapun yang bisa memberitahukannya tentang posisi ataupun waktu sekarang ini. Namun nihil, tak banyak benda di kamar itu kecuali almari dan meja dengan banyak laci. Serta tempat tidur yang ditempatinya, sofa dan televisi yang tak menyala. Izaya merasa perutnya mual dan perasaan asing yang menyergapnya sama sekali tidak membantu apapun.

Dia dengan cepat menatap tajam pada pintu yang berderit terbuka, menampilkan seseorang dengan kaus putih dan pink serta celana panjang pink yang terlihat feminim. Dia memiliki surai hitam yang sama, iris mangenta yang polos dan kekanakan, dan senyum yang ramah atau manja dan kekanakan?

"Roppi-chan, Hime-chan sudah bangun!"

Dia berteriak pada seseorang di luar sana. Yang Izaya duga adalah orang yang menenangkannya kemarin. Tapi Hime-chan? Pemuda itu berjalan kearahnya, ditangannya terdapat baskom yang sepertinya orang itu berniat mengganti kompres Izaya.

"Terimakasih sudah merawatku." Izaya menampilkan senyum ramah yang palsu. Matanya terasa panas efek dari menangis kemarin mungkin. "Tapi maaf saya harus pergi sekarang."

Si pemuda pink berteriak manja, dia dengan segera berlari ke Izaya meletakkan baskom berisi air di nakas dan duduk di tempat tidur sebelahnya. "Tidak boleh!" Dia memaksa Izaya tidur kembali dengan mendorong kedua pundaknya pelan. Dan Izaya tak memiliki pilihan lain selain menurut karena kepalanya seolah baru saja dihantam tong sampah-secara harfiah karena Izaya pernah merasakan bagaimana rasanya dihantam tong sampah yang melayang sejauh satu blok.

"Hime-chan tidur ya. Pasti rasanya sakit, oh aku tadi membuatkan makan malam jadi apa Hime-chan mau makan? Ah tentu saja pasti Hime-chan lapar. Tunggu ya!"

Pemuda itu dengan segera berdiri, berlari keluar kamar tanpa sempat Izaya cegah. Dia masih belum mengetahui dimana ini, dan itu membuatnya gusar. Dan ... Makan malam? Sekarang sudah malam? Berapa lama dia tertidur? Dan bahkan Izaya baru menyadari dia tak lagi menggunakan pakaiannya dan berganti menggunakan piyama yang hangat dengan aksen merah muda. Ini pasti milik pemuda tadi.

Tak sampai lima menit pemuda itu datang dengan nampan baru. Satu mangkok sup yang masih mengepul, nasi hangat, ayam, apel, dan segelas air putih.

Perut Izaya dengan cepat merespon dengan gemuruh. Oh seberapa laparnya ia? Kalau tidak salah semenjak dia bertengkar dengan Shizuo, Izaya tak memakan apapun.

Orang itu tertawa, Izaya tak dapat menahan wajahnya untuk merona. "Kau pasti sangat lapar,"

Dia meletakkan nampan di pangkuan Izaya yang telah bangun. Mengambil kursi di depan meja penuh laci, dan menariknya duduk di samping Izaya.

"Ayo dimakan, Hime-chan."

Izaya berdeham, "Sebelumnya bisa berhenti memanggilku Hime-chan?"

Pemuda itu nyengir lebar, "Habis aku tidak tahu siapa namamu, Roppi-chan juga, dan karena kamu manis aku memanggilmu Hime-chan."

Izaya merona. Namun dibalik itu ada rasa sakit ketika mengingat pernyataan Shizuo, dia bukanlah wanita.

"Aku laki-laki," ketusnya.

"Oh aku tahu," ucapnya riang. "Pasti banyak pertanyaan di kepalamu, dan juga aku penasaran. Bagaimana bila di mulai dengan perkenalan, tapi pertama-tama,"-dia menunjuk makanan di pangkuan Izaya-"Kamu makan dulu."

Izaya tersentak. Dengan segera ia mengambil sendok dan memakan sup di pangkuannya. "Ouch ..." Yang dengan segera mengaduh ketika dia lupa meniup supnya.

Pemuda itu terkekeh, "Hime-chan, itu masih panas."

Izaya tertawa, "Ah kau benar." Ia mengambil lagi sup di pangkuannya, meniupnya sebentar dan kemudian merasakan bagaimana kuah hangat itu mengalir di kerongkongannya. Dia berdeham, "Oh ya ... Perkenalan diri, aku Izaya. Heiwaji-," dia terdiam, menutup matanya dan kembali melanjutkan, "Orihara Izaya."

Izaya tak tahu kenapa dia memutuskan untuk menyebutkan nama marganya yang lama. Atau mengapa dia mempercayai orang ini atau orang yang kemarin. Mereka asing. Dan pemikiran itu membuat Izaya merasa ini tidak seperti dirinya.

"Ah Iza-chan ya," Pemuda itu menepuk tangannya senang, "Aku Psyche. Psychedelic Dream." Dia berdendang.

"Psyche," gumam Izaya.

"Oh sungguh kemarin mengejutkan ketika Roppi-chan membawa seseorang kemari dalam keadaan pingsan, itu sangat bukan Roppi-chan. Psyche kira dia bukan Roppi-chan. Roppi-chan membenci manusia. Kecuali Psyche, dan mungkin sekarang Iza-chan juga."

"Kau menyebut namamu sendiri untuk berkata aku?" tanya Izaya. Mencoba abai pada kalimat Psyche terahkhir yang kemungkinan bisa membuatnya kembali merona.

"Psyche menahan diri tadi, habis Psyche tidak tahu nama Iza-chan, jadi Psyche tidak bisa memberi tahu Iza-chan nama Psyche."

Izaya berdeham, "Jadi ini dimana?"

"Kamar Roppi-chan," jawab Psyche polos.

"Bukan. Maksudku,"

"Ehm..." Psyche terlihat berpikir. Namun ketika dia melihat Izaya tak melanjutkan makannya, Psyche menunjuk mangkuk Izaya. "Iza-chan makan, Psyche bicara."

"Oh oke."

Izaya melanjutkan makannya. Dan Psyche merasa senang ketika Izaya memakan makanan buatannya dengan lumayan lahap.

"Psyche tidak bisa memberitahu Iza-chan dimana lokasinya. Roppi-chan tidak memperbolehkannya, dan Psyche juga tidak mau Iza-chan pergi karena sudah tahu tempatnya. Tapi Psyche hanya bisa memberitahu bahwa sekarang Iza-chan ada di flat kami."

Izaya mengangguk. Itu jawaban yang masuk akal. Tapi kenapa mereka tidak memperbolehkan dia pergi dari sini?

"Dan Roppi-chan ini?"

"Hachimenroppi," jawabnya singkat.

Hachimenroppi? Nama yang ... Oh ... Izaya tertegun. Pantas saja dia tak merasa asing dengan nama Roppi. Roppi. Hachimenroppi dan Psychedelic Dream. Penghuni dunia bawah yang sering di cari oleh pemerintah, Yakuza, atau gangster. Izaya pernah mencari tahu tentang mereka, namun sangat jarang ada saksi hidup yang mengetahui tentang mereka. Jadi sekarang dia berada di sarang pembunuh? Orang yang memeluknya tadi malam adalah pembunuh berdarah dingin? Pertama kalinya di usianya yang menginjak dua puluh delapan tahun Izaya merasa takut berada di suatu tempat.

TBC

Hiks ... Pertemuan Izaya sama Roppi belum selesai ueeee. ... Hachimenroppi adalah alterego favorit daku.

Oh usia Izaya 28. Semi Canon sih. Jadi masih mempertahankan umur asli.

23 masih bunuh-bunuhan

24 mereka damai

24-25 masih pacaran

26-28 Nikah

28 berantem

Umur di cerita utama 30an xD

Biar nggak bingung xD

Tidak ada yang bisa di katakan.

Terimakasih telah membaca

Sampai jumpa di chapter 2