Last words on prologue:
...I love you, it will always be and it will always be you, Do Kyungsoo.
"Kau melamun lagi, Kai"
"A-ah. Jinjja? Maafkan aku. Aku sedang tidak fokus hari ini."
"Tentu saja kau tidak fokus. Kau masih memikirkannya, kan? Sudah ku bilang lupakan saja dia dan cari lah cinta yang baru, Kai!"
Aku tertegun. Yeoja di depanku ini tidak biasanya berteriak saat sedang bersamaku. Ku tatap matanya dalam. Dia tersakiti. Ya, matanya seolah mengatakan begitu. Tapi aku tak mengerti mengapa dia tersakiti.
"Mi-mian, Kai. A-aku..."
"Gwaenchana. Aku tau kau kesal. Harusnya aku yang meminta maaf padamu. Sudahlah, tempat ini memang terlalu mengingatkanku padanya, bisa kita pindah ke tempat yang belum pernah aku kunjungi, Baekhyun noona?"
Normal pov
Hampir semua tempat di kota ini mengingatkanmu padanya. Kau sendiri yang mengatakan padaku bahwa kota ini dan kota kelahiranmu adalah kota kenangan kalian. Hhhh! Tidakkah kau mengerti bagaimana hatiku menunggumu melihat tumpukan cinta untukmu, Kai?
"Noona, jangan melamun. Kau bisa menabrak orang atau benda yang ada di depanmu jika terus melamun."
"Lalu apa kau tidak akan membantuku menghindarinya? Bukankah kau juga sedang berjalan denganku?"
"Aku tidak ingin bertengkar. Aku hanya ingin kita pindah tempat, ke tempat favoritmu juga tidak masalah. Yang penting disana tidak ada bayangan masalaluku, aku sedang lelah."
Aku juga lelah, Kai! Lelah menunggumu memperhatikan keberadaanku yang mencintaimu! Lelah menunggumu membuka matamu untuk melihat betapa aku mencintaimu, Kai! Aku lelah dengan ketidakpekaanmu! Apa kau tak tau itu?!
"Kau marah? Sudahlah, aku sedang benar-benar lelah. Cepat masuk ke mobil dan tunjukkan tempat favoritmu. Mungkin aku akan jadi lebih baik disana. Maafkan aku noona, aku hanya tidak ingin suasana yang ada menjadi lebih suram jika kita terus disana."
Author pov
Aku menggenggam tangannya lembut lalu menarik dagunya agar aku bisa melihat raut wajahnya saat ini.
"Aku tau kau marah. Tapi kumohon, maafkan aku. Aku tidak tau lagi harus bercerita pada siapa jika tidak padamu, noona. Kau sahabatku yang paling bisa kuandalkan, hanya kau yang bisa membuatku nyaman untuk bercerita apapun tanpa beban. Mianhae,"
Aku memeluknya. Bermaksud meyakinkannya bahwa aku sungguh-sungguh atas permintaan maafku. Tapi beberapa detik kemudian aku merasa baju bagian dadaku basah. Tunggu. Apa Baekhyun noona sedang menangis? Tapi kenapa dia menangis?
"Sssshh. Uljjima, noona. Aku tak bisa melihatmu bersedih begini, apalagi sampai menangis. Mianhae, maafkan aku. Aku- aku sahabat yang tak berguna. Mian,"
"Hiks... hiks"
"Arra arra noona. Aku tidak akan membicarakannya lagi. Aku pusing jika kau menangis. Uljjima, noona. Jebal,"
Berhenti. Dia berhenti menangis. Tapi juga berhenti membalas pelukanku. Dia melonggarkannya dan menjauhkan badan mungilnya dari tubuhku.
"Mi-mian, a-aku ha-hanya sebal. Ka-kau selalu begini, Kai. Dan aku lelah, hiks. Ma-maafkan aku tidak bisa menjadi sahabat yang baik. Harusnya aku tidak lelah bukan, jika harus mendengarkan semua keluh kesahmu? Hiks,"
Ya Tuhan. Kenapa Kau memberikan rasa peka yang relatif sedikit padaku untuk merasakan perasaannya? Padahal jika dengan Kyungsoo, aku bisa sangat peka keadaan dan mengerti walau terkadang dia mengataiku tidak peka. Maafkan aku Baekhyun noona, mungkin aku memang harus sejenak menyingkirkan nama dan memori tentangnya dari kepalaku.
"A-aku me-mencintaimu, Kai"
"M-mwo? A-apa maksudmu noona?"
Aku kaget mendengar pernyataannya. Dia bilang dia mencintaiku? Mencintai namja yang selama ini berkeluh kesah tentang masalalunya hanya pada dirinya seorang? Mencintai namja yang sering membuatnya marah dan menangis?
"Aku mencintaimu, Kim Jongin. Apa ada yang kurang jelas dengan apa yang ku katakan tadi?"
Dia lebih lantang mengatakannya sekarang. Dia mendongakkan kepalanya lalu menatap mataku dalam. Seolah mencari jiwaku yang hilang disana yang butuh dikuatkan. Dan dia disana seolah menawarkan cintanya untuk menguatkanku.
"Aku akan membuatmu mencintaiku, jika memang kau tidak mencintaiku sekarang. Mungkin aku egois, tapi aku benar-benar mencintaimu, Kai."
"Tapi aku sering menyakitimu. Bahkan dengan ini, berarti lengkap sudah kelakuan burukku padamu. Aku berkali-kali menceritakan tentangnya padamu, dan jika kau memberitahuku bahwa kau mencintaiku, berarti kau juga menyadarkanku bahwa aku selama ini menyakitimu, noona"
"Tapi aku tak peduli, Kai. Aku tak peduli siapa saja orang-orang yang ada di masalalumu. Karena aku mencintaimu atas dasar dirimu yang sekarang, bukan dirimu di masalalumu. Aku mencintai Kai yang selalu ada untukku saat aku membutuhkannya. Aku mencintai Kai yang dingin dan manja padaku secara bersamaan. Aku mencintai Kai yang selalu mengkhawatirkanku jika aku tak mengabarinya barang satu hari saja. Kim Jongin yang ku kenal adalah mahasiswa kedokteran yang selalu merasa salah masuk jurusan karena lebih mencintai seni daripada sains. Kim Jongin yang ku cintai adalah seorang namja yang selalu menatapku dengan mata teduh yang selalu mampu menenangkanku dan menyamankanku kapanpun."
Aku tertegun mendengar pernyataan panjangnya. Seulas senyum terukir tanpa sadar di ujung bibirku. Dan entah mengapa, tanganku secara reflek menariknya dalam pelukanku. Dan bibirku juga seolah tak bisa ku kendalikan yang tiba-tiba membisikkan sesuatu pada telinga mungilnya, "Aku menyayangimu, Byun Baekhyun"
.
.
.
"Selamat pagi, pencuri"
Aku menoleh saat suara lembut yang sangat ku kenal masuk ke telingaku.
"Pencuri? Siapa?" tanyaku dengan muka polosku yang memang jarang aku keluarkan kecuali aku benar-benar tidak mengerti akan suatu hal.
"Tentu saja kau, pabbo" dia memanggilku pencuri? Bisa kulihat senyum tipis terlukis di bibirnya kini. Ah, dia sedang menggombal rupanya.
"Aku? Mencuri apa dari siapa? Mencuri hatimu? Well, kau tahu? Aku rasa jika ada penjara yang akan memenjarakan seseorang atas kasus mencuri hati, maka akan ada banyak yeoja yang melaporkanku pada pihak kepolisian atas tuduhan mencuri hati mereka. Hahaha,"
Dia membulatkan matanya lalu menatapku tajam. "Oh jadi kau mencuri banyak hati yeoja? Dasar playboy! Cocok sekali dengan muka sok gantengmu itu. Sana pergi. Datangi saja yeoja-yeoja yang kau curi hatinya itu. Hidup saja bersama mereka, tinggalkan aku,"
I got you! Haha. Dia selalu begini. Ketika aku membalikkan gombalannya, dia akan marah dan cemberut. Bagiku raut wajahnya yang sedang mempoutkan bibirnya lalu menautkan alisnya pertanda ia ngambek itu sangat amat lucu dan menggemaskan. Itulah kenapa aku memasukkan kegiatan ini di daftar kegiatan favoritku yang hanya akan kulakukan padanya, Byun Baekhyun, yeojachinguku.
"Jelas saja aku mencuri banyak hati. Kau tidak lihat bagaimana wajah namjachingumu ini? Tampan kan? Bagaimana aku tidak mencuri banyak hati yeoja, sedangkan aku memiliki wajah yang tampan begini hm?"
Dia hanya mendengus sebal dan membalikkan badannya bermaksud meninggalkanku. Tapi sebelum dia melakukannya, aku menarik tangan kanannya dengan tangan kiriku. Lalu melanjutkan perkataanku yang terpotong tadi.
"Mungkin aku memang mencuri banyak hati para yeoja yang mengenal atau malah belum mengenalku. Tapi, hanya ada satu yeoja yang bisa mendapatkan hatiku tanpa harus mencurinya dariku, karena aku sudah memberikan hatiku padanya. Dan itu kau, Byun Baekhyun"
Dia mendongakkan kepalanya yang tadi ia tolehkan ke kiri. Perlahan dia membalikkan badannya untuk menghadapku lalu tersenyum kecil. "Kau pandai menggombal ternyata ya, tuan Kim"
"Jika itu satu-satunya cara untuk membuatmu kembali tersenyum dan percaya padaku, maka aku akan cepat pandai melakukannya, Baekhyun. Kajja makan, aku sangat lapar. Dan lasagna buatanmu ini menggoda hidung dan perutku sedari tadi, kau tahu?"
"Hahaha, baiklah-baiklah. Kita makan dan setelah ini kau harus segera ke kampus. Kau ada kelas kan, jam 8 ini? Aku juga ada kelas nanti jam 9, aku akan menunggu di kelasku saja nanti sampai dosen datang. Ini susu coklat kesukaanmu, dan ini lasagnamu, tuan Kim. Cepat makan, aku akan membereskan bukuku dulu."
GREP!
Aku menahan tangan mungilnya untuk sekaligus menahan kakinya melangkah. "Aku mau kau makan bersamaku disini, sekarang. Aku tidak menerima penolakan. Kau mencintaiku? Maka makanlah bersamaku,"
Baekhyun pov
Aku menghela nafasku pelan. Jika nada bicara Kai sudah serius begini, maka tidak ada satu hal pun yang bisa aku lakukan untuk menolaknya. Tatapan mata tajam dan tatapan mata teduhnya selalu saja bisa membuatku luluh dan mengiyakan apa saja maunya. Akhirnya aku tak jadi membereskan buku-buku kuliahku. Kakiku kembali kulangkahkan untuk menuju meja makan dan duduk untuk makan bersama Kim Jongin, namja yang sangat kucintai sejak pertama kali aku menatap matanya dua tahun lalu.
"Sudah, cepatlah makan dan bereskan buku-bukumu. Jangan terus-terusan memandangi wajah namjachingumu yang tampan ini. Kau hanya berpisah dengannya untuk beberapa jam ke depan hingga waktu istirahat makan siang tiba. Jangan terlebih dulu menumpuk rindu, noona"
BLUSH!
Aku bisa merasakan wajahku seketika jadi panas akibat kata-kata Kai tadi. Segera saja aku mengalihkan pandangan mataku –yang tadi tertuju padanya- ke lasagna milikku yang baru habis setengah padahal milik Kai sudah habis dari tadi. Hhh, pantas saja ia menyadari jika aku memperhatikannya!
"Kenapa lama sekali makanmu? Apa perlu kusuapi, noona? Kau ini kenapa tak bilang padaku daritadi jika kau mau kusuapi? Kan aku bisa menyuapimu sambil kau membereskan buku-bukumu. Sini,"
Dia mengambil piringku, lalu menyendokkan lasagnaku ke mulutku. Aku pun hanya bisa menurut dan beralih ke ruang tamu untuk membereskan buku-bukuku yang semalam kugunakan untuk belajar. Hari ini akan ada pre-test untuk mata kuliah Lagu Klasik. Ya, aku mengambil jurusan seni vokal di University of Seoul. Kenapa? Karena aku cinta musik dan aku hobi menyanyi sejak kecil. Cita-citaku adalah jadi penyanyi terkenal. Cita-cita yang umum bukan? Tapi walau begitu, aku tetap tidak mau setengah-setengah dalam menggapai cita-citaku ini. Aku ingin membuat keluargaku bangga dan juga membuat semua orang yang kusayangi dan kucintai terutama Kai ikut bangga.
"Nah sudah habis. Kajja kita berangkat, kau ke lobby dulu. Nanti ku jemput,"
CHU~
Dia kaget dengan ciumanku yang aku tujukan untuk bibir tebalnya itu. "Your morning kiss, "
Setelahnya aku hanya bisa tersenyum-senyum sendiri dan keluar dari apartemennya menuju lobby seperti yang Kai pinta tadi.
.
.
.
Normal pov
"Kai!"
Namja bernama Kai itu tidak menoleh saat ada suara cempreng yang memanggilnya. Karena merasa diabaikan, namja bertubuh lumayan tinggi melebihi rata-rata itu pun memukul pelan kepala Kai dengan tangannya.
"Aw! Appo!"
Kai pun menoleh dengan wajah geram sambil melepas earphone yang sedari tadi ia pasang di telinganya untuk mendengarkan beberapa lagu kesukaannya selagi jam istirahat makan siang ini.
"Makanya, kalau dipanggil itu menoleh. Bukannya malah mengabaikan yang memanggil. Dasar kkamjong pabbo"
"Ya! Kris ge! Seenak jidat memanggilku pabbo! Mana tidak minta maaf lagi sudah membuat kepalaku sakit. Kalau kepala berisi otak jeniusku ini bermasalah bagaimana? Kau mau mencari pengganti otak jenius lain untuk kepalaku dimana, huh?"
PLAK!
"Ya! Aish!"
"Makanya tak usah berlebihan. Kau sudah mengerjakan tugas praktikum yang Kang songsaenim berikan? Kumpulkan siang ini di mejanya. Bersama tugas anak-anak satu kelompokmu juga."
"Kau menggetok kepalaku dua kali hanya untuk menyuruhku melakukan hal yang sudah kulakukan sebelum jam istirahat berbunyi tadi? Kepalaku lebih berharga dari ocehanmu yang terlambat itu ge! HAH!"
Mendengar jawaban dari Kai, namja tinggi yang dipanggil Kris itu pun hanya bisa menunjukkan ekspresi agak kaget yang dibuat-buat. "Wha, jinjja? Mianhae kalau begitu ne tuan Kim. Ku kira kau belum mengumpulkannya. Biasanya kan kelasmu yang paling lama dan paling susah jika disuruh mengumpulkan tugas dari Kang songsaenim. Ya sudah, sebagai permintaan maafku karena sudah menggetok kepalamu dua kali, kajja ke kantin, temani aku makan siang. Nanti kutraktir,"
"Kalau masalah traktir sebagai permintaan maafmu padaku, itu jelas harus kau lakukan ge. Tapi kalau untuk menemanimu makan siang, mianhae ge. Aku sudah berjanji dengan Baekhyun noona untuk makan siang bersama 10 menit lagi di kantin pusat, jadi jika kau mau mentraktirku, kau yang harus ikut aku. Eottoke?" Kai pun terkekeh. Dia tau, Kris takkan mau dijadikan obat nyamuknya disana. Menemani dua orang yang pasti bakal berlovey-dovey semaunya karena sedang pacaran? BIG HELL NO! Jelas Kris setiap kali ia diajak Kai untuk makan siang bersama kekasihnya, Baekhyun.
"Kau sudah tau jawabanku, kkamjong. Baiklah, aku tak jadi mentraktirmu kalau begitu. Sana segera ke kantin pusat, kekasihmu yang bawel itu pasti sudah menunggumu,"
Belum sempat Kai melangkah, dia mendengar teriakan Kris yang lumayan memekakkan telinganya.
"Ya! BAEKKI! Kenapa mencubitku keras sekali, eoh? Apa salahku?!" tanya Kris sambil mengelus pinggangnya yang kini memerah akibat cubitan keras dari Baekhyun.
"Siapa yang oppa bilang bawel? Aku tidak bawel! Dan walaupun aku bawel, toh Kai tetap mau denganku. Daripada oppa, sudah tingginya macam tiang listrik, dingin, menyebalkan pula! I'm wondering, siapa kira-kira yeoja yang mau denganmu? Ish, pasti tak ada deh!"
Kai kini tertawa lepas dan puas mendengar celotehan kekasihnya tentang Kris, sepupunya yang memang terkenal dingin dan tak acuh pada yeoja-yeoja yang sebenarnya mengagumi Kris itu. Well, sebagai seorang calon dokter, Kris yang notabene adalah mantan Presiden Kampus dan merupakan sosok mahasiswa yang bertubuh tinggi, berbadan tegap, berkulit putih, berwajah tampan dengan batas rahang yang tegas, dan bermata elang ini tentu saja memiliki banyak sekali yeoja-yeoja yang diam-diam atau secara blak-blakan mengatakan bahwa mereka menyukai Kris. Tapi dasar sifat Kris saja yang terlalu (sok) cool, sehingga semua celotehan yeoja-yeoja itu tak ada yang digubrisnya.
"Kau! Aish! Kkamjong ajari kekasihmu itu bersopan santun pada kakak sepupu dari kekasihnya ini. Lihat saja, dalam beberapa bulan ke depan, yang jelas sebelum aku melakukan sumpah dokterku, pasti ada satu yeoja yang akan ku pastikan jadi calon istriku. Dan jika hal itu terjadi, kau harus melakukan apa yang ku suruh, Baekhyun!"
"DEAL! Baik, akan ku lihat nanti siapa yeoja yang mau-maunya berpacaran dengan manusia setengah naga setengah tiang listrik macam kau, oppa! Kajja Kai kita ke kantin, tinggalkan saja naga itu sendiri! Dasar naga menyebalkan!"
Kai kembali terkekeh dan akhirnya hanya bisa mengangguk saat kekasihnya menarik tangannya kuat-kuat untuk segera pergi dari taman tempat Kai tadi melepas lelahnya sebentar setelah kuliah.
.
"Hahaha, kau jangan terlalu galak pada Kris ge, noona. Bagaimanapun, dia tetap hyungku. Dan jika kita terus berlanjut sampai menikah, dia juga akan jadi sepupu-iparmu. Hahaha, ya Tuhan aku masih tidak mengerti kenapa kalian tidak pernah bisa akur. Sudahlah, kau mau makan apa? Biar aku yang pesankan, seperti biasa atau mau yang lain?"
"Tapi Kris oppa itu menyebalkan, Kaaaai! Kalau saja dia bukan sepupumu, aku pasti sudah benar-benar membencinya karena tingkahnya yang menyebalkan itu! Hhhh, eum aku mau ramyeon saja Kai, tadi di kelas aku sudah makan roti pemberian Yoona."
"Hahaha, ya sudah. Tunggu disini, akan ku pesankan. Minumnya? Strawberry milkshake as always?"
Anggukan Baekhyun memantapkan langkah Kai untuk menerobos beberapa baris antrian yang tersaji di depannya. Tujuannya adalah kantin langganannya, kios milik Huang ahjussi.
"Ahjussi, Baekki pesan minumannya ya. Dan aku, hem mungkin aku akan coba choco-oreopuccinonya, ahjussi. Dan tambah dua ramyeon ya? Aku dan Baek ada di meja biasa, gamsahamnida ahjussi,"
"Ne Kai. Kau tunggu disana ya, 15 menit lagi ku antar."
.
"Ini, silahkan dimakan ramyeonnya. Ada pesanan lagi tidak?"
"Wha sudah datang, gamsahamnida ahjussi! Kau mau pesan apa lagi, noona?"
"Ani ahjussi, ini cukup kok. Setelah ini aku ada kelas lagi soalnya, jadi takut tidak sempat makan jika pesan lagi. Hehe, gamsahamnida, Huang ahjussi!"
Huang ahjussi pun meninggalkan sejoli itu dengan senyum ramah terkembang di bibirnya. Dan sejoli ini pun memulai acara makan siangnya.
"Pelan-pelan, kau seperti tidak makan berhari-hari saja, Kai"
GLEK!
"Hehe, aku sangat lapar noona. Kang songsaenim sukses membuat cacing di perutku meronta-ronta sebelum waktunya. Jadi ya, mian ne jika aku makannya lahap" Kai pun langsung melanjutkan acara makan ramyeonnya. Baekhyun yang melihat tingkah anak kecil dari Kai ini pun hanya terkekeh pelan dan melanjutkan makannya.
"Whaaa selesai. Tapi aku masih lapar... Ah nanti aku beli bakpao saja disana, kau mau bakpao juga noona?"
"Ani, aku sudah kenyang Kai. Ah ini sudah jam 1! Aku harus segera masuk kelas, aku ke kelas duluan ya Kai, saranghae"
"Arra, aku akan mengantarmu ke kelas. Nado,byunnie, hehe"
CHU~
"Y-yak! Ja-jangan menciumku di-disini pabbo! Ini kantin!" pipi Baekhyun langsung memerah sempurna saat bibir tebal Kai sempat mengecup pipinya beberapa detik lalu.
"Hahaha, padahal hanya cium pipi, tapi kau sudah semerah itu. Bagaimana jika cherrymu itu yang kucium?"
BLUSH!
Lagi-lagi pipi Baekhyun merona. Ia bukan anak kecil yang hanya tau bahwa cherry adalah buah kecil berwarna merah yang habis sekali makan. Ia adalah Byun Baekhyun, yeoja manis pemilik bibir merah kissable macam buah cherry yang selalu Kai sebut sebagai 'buah' favoritnya.
Kai ingin melepas tawanya, tapi ia tau kantin sedang sangat ramai, dan sebagai calon Presiden Kampus, Kai tidak bisa begitu saja tertawa sekeras-kerasnya di tempat ramai begini. Mereka –mahasiswa lain- akan mengecap Kai namja gila dan bisa urung memilih Kai sebagai Presiden Kampus untuk setahun ke depan.
"Pffttt, sudahlah noona. Aku tau tempat kok, jika sudah di mobil atau di apartemenku, aku pasti akan menagih cherryku itu. Dan kau, Byun Baekhyun tidak boleh menolak memberikan 'buah' favoritku itu. Dan bahkan kau harus 'menyuapkan' cherry itu padaku"
Baekhyun bergidik ngeri. Pasalnya, Kai jarang sekali mengeluarkan sisi pervertnya ini. Dan Baekhyun paham, jika ia tidak akan pernah bisa melarikan diri atau menolak permintaan Kai jika ia sudah mengatakan sesuatu dengan nada yang serius, dengan nada merengek dan atau dengan nada...pervert.
review juseyo. diupdate kalau reviewnya nyampe 15+ yaa, gomawo readers.
saran dan kritik membangun, author tunggu :).
semoga suka dengan ff ini, :D
dan untuk pemberitahuan, disini author pov itu = Kim Jongin pov ya. heheheh, sedang normal pov itu pov orang ketiga diluar cerita :). maaf membingungkan, ne.
