akhirnya! chapter 2 kelar :D
semoga banyak yang baca dan review ya..
maaf kalau GJ, aneh, freak, alay dsb.. T.T
tapi semoga NGGAK MENGECEWAKAN yang membaca :*
oke minna san. langsung aja..
arigatou gozaimasu :)
pairing: Megurine Luka X Kamui Gakupo
disclaimer: Yamaha corp ...
story: KAYORU
"Kalian berempat melawan seorang perempuan lemah. Tingkah kalian tidak ada bedanya dengan beradalan bau." Lagi-lagi suara Gakupo, sejenak aku mendengar nada membunuh dalam suaranya, tapi tertutupi dengan suaranya yang tenang tanpa emosi. "Lagipula, disbanding kalian, ku jauh lebih suka dia."
Mereka berempat menatap Gakupo dengan pandangan campur aduk. Antara terpesona, ngeri, dan bingung dalam satu ekspresi. Tanpa ada kata pengusiran mereka bergegas pergi dari tempat itu. Aku lega, bau darah tadi sempat membuatku merasa aneh. Seperti aku….
"Ayo masuk."
"Gakupo."
Ia membuka pintu apartemennya, walaupun sudah 2 tahun aku bertetangga dengan Gakupo aku belum pernah sekalipun. Kamarnya rapi, tidak adayang special kecuali bau Gakupo yang khas. Akhir-akhir ini penciumanku juga semakin tajam.
"Kemari, akan kuobati tanganmu."
"Eh?" aku melihat punggung tangan kananku berdarah. Sepertinya ulah cewek-cewek tadi. Sedikit perih saat aku menyadari ada luka di sana. Gakupo dengan cekatan membersihkan lukaku dan memberinya obat antiseptic. Kenapa Gakupo tinggal sendiri? Selain itu kenapa dia bekerja sampingan? Aku baru sadar, aku tidak tahu apa-apa tentang Gakupo.
Tangan yang hangat menangkup pipiku. Membuatnya menjadi panas mendidih. Ya ampun jantungku berdetak lebih kencang lagi. "A, A. A, Ada apa?"
"Kamu demam ya, Luka? Dari tadi pagi wajahmu pucat, lho." Ia mengamati wajahku. Aku tidak tahan di tatap seperti itu.
"kamu nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa, kok. Aku Cuma lapar." Aku mencoba membuat alas an.
"Oh, karena itu. Aku juga lapar, kita cari makan ,yuk?" ke. Festival?
"Ke festival? A, Aku mau!"
"Baiklah, lima menit lagi kita berangkat." Gakupo tersenyum, tetap dengan gaya coolnya.
Senangnya, bisa pergi ke festival dengan Gakupo. Seperti sedang kencan saja. Syukurlah aku punya tetangga keren dan baik seperti Gakupo, eh memang Gakupo. Saat aku sedang asyik melahap makanan khas jepang, aku melihat Gakupo sedang menatapku, sepertinya dia bilang "enak banget, ya?".
"Wah, ada tembak target*!" seru Gakupo tiba-tiba.
"Kalau tembakannya meleset, kamu norak sekali." Ujarku sambil tertawa.
"Cerewet sekali. Lihat saja, Luka." Ia menatapku dengan pandangan tidak terima. Clik! Door! Door! Door!
Keren! Tiga target tepat sasaran. "Orang itu hebat sekali!' banyak sekali yang mengelilingi stand itu untuk melihat aksi Gakupo. Diantara semua target di stand itu,ada sebuah kalung manik-manik dengan mawar merah sebagai bandulnya. Cantik sekali, dan tidak norak.
"Gakupo…" aku bermaksud menyuruh Gakupo menembak kalung itu. Saat ku menoleh ternyata banyak gadis yang mengelilinginya. Dan herannya Gakupo malah meladeni mereka. Dasar genit! Aku beranjak dari sana sebelum air mataku tumpah.
"Luka mau kemana?" Gakupo menarik lenganku.
"Sudahlah, kamu main saja dengan cewek-cewek itu!" teriakku.
"Kamu cemburu ya?"
"Enak saja!" rambutku disingkap oleh Gakupo. Ia memasangkan sesuatu di leherku. Ternyata itu kalung yang tadi aku inginkan.
"Kamu suka ini kan? Anggap saja hadiah ulang tahun dariku, yah mungkin hanya barang murah. Selamat ulang tahun, Megurine Luka." Aku tidak mampu berkata-kata. Bagaimana dia ingat ulang tahunku? Memang ini tanggal berapa?
"Bodoh sekali anak ini. Kau lupa hari ulang tahunmu sendiri."
Ya ampun, Gakupo. Aku senang sekali. Dia mengingatnya, apakah itu berarti perasaannya sama denganku? Ah, Luka jangan banyak berharap.
"Aku harus kerja, maaf nggak bisa mengantarmu pulang."
"Iya, nggak apa-apa. Ganbatte ne. Gakupo-kun!" aku memberikan senyum termanisku. Selama 17 tahun hidupku, mungkin ini adalah saat yang paling bahagia.
Deg! Dheg! Muncul lagi, perasaan ini muncul lagi. Aku merasa mual sekali. Ya ampun ada apa ini? Rasanya sesak sekali. "AAKKKKHHHH!"
NORMAL'S POV
Seorang pria sedang berjalan di tengah malam , ia pulang dari kantor. Dan hari ini dia akan menemui pacarnya, mungkin lebih tepat selingkuhannya. Di perjalanan ia menjumpai seorang gadis sedang bersimpuh pada tiang lampu. Gadis itu berambut panjang sekali dan berwarna merah burgundy.
"Nona, kau kenapa apa yang terjadi padamu?" tanya pria itu. Ia membalikkan tubuh sang gadis. Wajahnya mulai luar biasa. Namun seringai mengerikan terpancar dari wajah gadis itu.
"Ka.. Kau… haaaaaaaa….! Tolong!" teriak lelaki itu. Tapi gerakannya terhambat oleh kakinya sendiri, ia tersandung jatuh. Gadis itu semakin mendekatinya dengan rasa lapar dan haus yang amat sangat. Seolah pria di hadapannya adalah hidangan pembuka setelah bertahun-tahun tidak makan.
"Cih! Aku harus minum dari seorang bajingan sepertimu. Tapi aku tidak peduli." Gadis itu menerjang pria yang ketakutan tadi. Gigi taring tajam bagaikan silet baja berkilau tertimpa sinar bulan purnama malam itu.
Seorang wanita bernama Nagisa Sakuragi sedang menunggu kekasihnya. Sudah setengah jam ia menunggu di depan minimarket tapi belum datang juga. Mungkin istri kekasihnya sedang bermasalah sehingga ia datang terlambat. Tapi ini tidak seperti biasanya, biasanya Naoki akan mengirim email jika datang terlambat. Bosan menunggu akhirnya Nagisa memutuskan untuk pulang.
Sekitar 10 menit berjalan, ia menemukan suatu pemandangan paling mengerikan sepanjang hidupnya. Naokinya sedang bercumbu di tengah jalan seperti ini! Apa yang lelaki bodoh itu lakukan? Nagisa sudah siap menyemburkan semua amarahnya ketika ia menyadari apa yang ternyata terjadi.
Tidak, Naoki dan gadis cantik itu tidak sedang berciuman. Gadis itu, dia seperti menghisap leher Naoki. Lama sekali, Nagisa serasa tidak bisa menggerakkan badannya. Gadis itu mengangkat mulutnya. Di bibirnya ada noda merah darah segar. Ia tersenyum licik pada Nagisa kemudian menyingkirkan tubuh Naoki seperti seonggok sampah menjijikkan.
Ia melesat mendekati Nagisa dan menyentuhkan jarinya pada kening Nagisa, tapi efek yang ditimbulkan sungghuh luar biasa. Nagisa terlempar sejauh 10 meter. Gadis itu tersenyum mengejek, ia melompat dan berputar dengan anggun meninggalkan jalanan yang gelap.
Sementara itu Nagisa mengerang kesakitan. Seorang polisi menemukannya pingsan, tak jauh dari sana ada seorang lelaki. "Nona, sadarlah. Nona apa yang terjadi?"
"Gadis itu! Dia menghisap darah!"
"Nona, apa yang kau bicarakan?" polisi itu lalu menghampiri seorang lelaki yang tergeletak. Ia memeriksanya. Polisi kaget bukan main. Selain sudah tewas, raut wajahnya seperti ketakutan yang luar biasa. Seluruh tubuhnya putih pucat bagai tak berdarah. Dan dilehernya ada bekas luka gigitan yang meninggalkan bercak darah disekeliling lukanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" polisi itu berbisik dengan ngeri.
LUKA'S POV
Suara burung yang berisij membangunkanku. Ternyata sudah pagi, sinar matahari yang menyilaukan menerobos lewat jendela. Aku menggeliat di kasurku yang nyaman. Kasur? Tunggu dulu, kapan aku sampai di rumah? Kok aku tidak ingat apa-apa? Yang terakhir kuingat aku bersama Gakupo di festival. Selebihnya aku tidak ingat apa-apa. Eh, mualku sembuh. Sudah baikan. Jendelanya terbuka, mungkin Ibu yang sudah membukanya ketika aku tidur.
Bergegas aku memakai pakaian sekolah dan menyiapkan buku pelajaran. Aku merasa sangat segar pagi ini. Sayup-sayup terdengar suara televise dari ruang makan.
"Pagi, Luka."
"Pagi, Bu."
"Berita selanjutnya. Dini hari tadi, seorang lelaki diserang sesosok mahluk di kota Tokyo. Korban ditemukan tewas mengenaskan. Sementara itu teman wanitanya dirawat di rumah sakit. Jiwanya tergoncang melihat kejadian semalam. Di tempat kejadian ditemukan sepatu wanita, namun saksi mengaku itu bukan sepatunya. Sehingga besar kemungkinan pelakunya wanita."
Ya ampun itu kan sepatuku? Aku berlari menuju rak sepatu. Tidak ada! Sepatu cokelatku tidak ada. Aku naik ke kamar lagi, ada! Tapi hanya satu. Yang satunyahilang entah kemana. Ada apa sebenarnya? Kenapa sepatuku bisa ada di sana? Dan kejadiannya dekat rumah. Ada apa denganku? Apa aku terlibat kejadian di berita itu?
"Luka. Kenapa bengong?" tanya Ibu.
"Ti.. Tidak. Aku berangkat!"
"Ternyata, kau sudah bangkit ya, Queen." Pria itu tersenyum sinis. Menanti saat yang tepat. Entah untuk apa.
Hyaaaaa. Akhirnya chapter 2 selesai. Sebenarnya ini satu chapter, Cuma aku pecah jadi dua, biar reader selalu pensaran. hehehehe (gomen ne. :D)
