Rika : hanya satu ya? Ah, biarlah, yang terpenting lanjut~~ -.-

Miku : enjoy it~~ :D


DISCLAMER

Vocaloid yang terpenting, bukan milik siapa-siapa, tapi milik Yamaha

WARNING!

AU, EYD kagak benar, TYPO(s) (mungkin ya -.-), berantakan, dan sebagainya


Author POV


Flashback: ON

"OEK! OEK! OEK!"

Suara tangisan bayi itu, memang berasal dari bayi yang baru dilahirkan. Tapi, tidak hanya satu, melainkan kembar. Tetapi, mereka berbeda kelamin. Meskipun begitu, sang ibu senang melihat anak-anaknya yang sehat. Anak kembar tersebut, memiliki dua sayap masing-masing yang berwarna putih, memiliki dua sepasang iris berwarna azure, dua sepasang telinga panjang, serta memiliki rambut pirang yang sama.

"Bayi yang sehat..." ucap sang ibu itu.

"Yang kanan ini, kunamakan Rin Kagamine... sedangkan yang kiri, kunamakan Len Kagamine... hah... hah..." lanjut ibu itu sambil nafas terengah-engah.

Ia benar-benar senang sekali melihat anak kembar yang sehat. Begitu sangat melelahkan, menyakitkan, dan bertaruh nyawa. Meskipun begitu, ia begitu bersyukur mendapatkan anugerah anak kembar dengan kondisi sehat.

"P-Paduka Titania! A-Anda...!"

Semua yang ada di ruangan tersebut begitu terkejut melihat Paduka Titania yang juga seorang ibu. Terkejut melihat pemandangan yang tak biasa, yaitu butiran-butiran cahaya emas melayang di udara berasal dari tubuhnya Paduka Titania. Satu-persatu bagian tubuhnya menghilang.

"Begitu... sepertinya... giliranku selanjutnya untuk menyeimbangkan kesembilan dunia ini..." gumam Paduka Titania dengan wajah senyumannya.

BRAK!

"MEIKO!" seorang laki-laki berambut biru mendobrak pintu dengan kerasnya. Begitu ia melihat istrinya yang seorang Titania, ia begitu terkejut melihat tubuh istrinya menghilang sebagian.

"A-Apa yang terjadi pada tubuhmu? Kenapa?" tanya Kaito yang sedang berjalan menuju istrinya.

"Aku dipanggil... untuk menyeimbangkan dunia..." ucap Titania itu.

"M-Menyeimbangkan dunia? Apa maksudmu?" tanya pemuda itu.

"Aku tak bisa menjelaskan secara detail. Tapi setidaknya, aku mohon, tolong... jagalah Miku serta Rin dan Len..." ucap Titania yang sudah hampir kehilangan wajahnya.

"T-Tidak! Kau tak boleh meninggalkanku! Aku sudah berjanji untuk melindungimu! Aku sudah berjanji untuk membahagiakanmu!" seru pemuda itu dengan matanya yang mengeluarkan sedikit tetesan air mata.

"Kaito... aku sudah pernah mengatakan padamu... aku tidak akan menyesali apa yang aku pilih. Jadi..."

Belum menyempatkan mengatakan kata-kata terakhir, Paduka Titania sudah tersapu habis oleh butiran-butiran cahaya emas. Dan meninggalkan suaminya –Kaito.

"MEIKOOOOOOO!"

Dua hari setelah Paduka Titania menghilang...

Langit menangis, begitupula dengan orang-orang yang sedang berkumpul di depan makam nisan. Begitu deras hingga orang-orang tak kuasa menahan tangisannya. Gadis kecil dengan berambut teal melihat makam nisan dengan tatapan kosong. Ia menggenggam kuat pada tangan ayahnya yang memiliki rambut berwarna biru.

"Ibu 'emana?" tanya gadis kecil itu sambil menatap ayahnya yang kelihatannya raut wajah lelaki berambut biru itu benar-benar depresi berat.

"Ibu sudah tidak ada lagi, nak..." ucap Kaito.

"Aku akan pergi dari sini..." salah satu pemuda yang berambut teal itu mengatakan dengan tatapan serius. "Aku... akan pergi menuju penjaga Pintu Perjanjian." Lanjut dia.

"T-Tapi Mikuo. Perjalanannya sangat panjang jika Anda menuju penjaga Pintu Perjanjian. Selain itu –"

"Aku tidak peduli!"

Nasihat yang diberikan oleh peri yang tingginya hanya 15 cm itu tak ada gunanya. Lelaki bernama Mikuo Hatsune benar-benar serius apa yang ia ucapkan.

"Aku sudah muak tinggal di istana ini. Lebih baik, aku akan pergi dari sini!" ucap dia sembari berbalik.

"M-Mikuo! Tunggu!" peri dengan rambut berwarna biru langit serta bertubuh kecil itu mengikuti majikannya yang bernama Mikuo Hatsune.

"Gakupo kemana sih? Dia tak kunjung-kunjung juga..." batin Kaito dengan sedikit kesal.

Disisi lain...

"Ibu cemana?" gadis kecil berambut hijau daun muda itu bertanya dengan bahasa yang tidak fasih, pada lelaki berambut ungu.

"Ibu... sudah tak ada lagi..." ucap lelaki berambut ungu dengan raut wajah depresi berat.

Flashback: OFF


Miku POV


"... begitulah..."

Setelah pelayanku mengatakan semuanya, sekarang aku mengerti. Tapi, aku begitu terkejut apa yang dikatakan oleh pelayan yang memiliki rambut berwarna putih itu. Aku termenung sesaat dan berpikir sesuatu. Dan setelah aku berpikir matang, aku mempunyai ide hingga aku berdiri dari tempatku.

"Kemungkinan besar, ibumu berada di tangan sang penjaga Pintu Perjanjian. Sehingga –"

"Itu dia!"

"I... Itu apa?" pelayanku yang bernama Haku Yowane pasti bertanya tentang apa yang kumaksudkan.

"Aku akan mencari ibu! Aku yakin dia masih hidup, Haku! Aku bisa merasakan di naluriku!" ucapku dengan semangat.

"T-Tapi putri, Anda jangan melakukan tindakan sangat nekat!" seru dia.

"Tapi, aku sudah melakukan hal-hal nekat sebelumnya," ucapku dengan muka datar.

"Tidak boleh, putri! Perjalanan menuju penjaga Pintu Perjanjian sangat sulit. Hampir tidak ada yang bisa kembali dari perjalanan menantang itu!" seru dia.

Ah, benar juga, Lily pernah mengatakan padaku kalau orang tuanya tak kunjung-kunjung kembali. Apa yang dimaksud Haku adalah, aku akan bernasib sama seperti orang tuanya Lily.

"Tapi aku yakin, Haku," ucapku. "Walaupun banyak orang melarang ke sana, tapi hatiku tak akan berubah. Karena, aku adalah seorang putri. Dan aku bisa melakukan apa saja yang aku bisa. Dan aku yakin, aku bisa mengembalikan ibu tanpa cidera sedikit pun." Ucapku dengan tatapan serius.

Hening, setelah aku mengatakan yang sebenarnya. Tak lama kemudian, Haku turun tangan untuk berbicara.

"Anda memang, benar-benar mirip seperti Paduka Titania. Mempunyai keyakinan yang tetap. Baiklah jika Anda mengatakan seperti itu. Lakukan apa yang Anda suka, putri." Ucap dia sembari senyuman yang khas.

Aku begitu senang apa yang dikatakan oleh Haku. Ia mengijinkan aku untuk melakukan petualangan yang sebenarnya. Petualangan yang aku nanti-nantikan, petualang yang selalu tantangan yang belum pernah kutemui. Langsung saja, aku melompat dan memeluk Haku, hingga kami terjatuh.

"Terima kasih, Haku. Kau sudah seperti ibuku sendiri..." ucapku sambil berbisik pada dia.

Keesokan harinya...

"Rin! Len! Bangun!" aku membangunkan dua adikku yang sedikit kubenci. Tapi, melihat adik-adikku tertidur pulas, mereka benar manis seperti bayi.

"Rin! Len! Bangun! Sudah pagi!" ucapku sambil menggoyangkan tubuh mereka.

Tak ada respon. Mereka benar-benar tidur pulas. Dengan terpaksa, aku membuka gorden di kamar mereka yang tertutup. Begitu aku membuka gorden, cahaya matahari menyilaukanku. Tapi setidaknya, ini bisa membantu mereka bangun.

"Ng? Kak, tutup aja gordennya, silau..." ah, pemuda berambut pirang itu ternyata sudah bangun.

"Ini sudah siang, apa kalian masih tetap tidur pulas seperti itu?" tanyaku pada adik-adikku.

"Guru yang mengajar kami menyuruh kami berlibur. Jadi, aku bisa tidur sepuasnya..."

Haaah, walau mereka manis, tapi tetap saja sifatnya benar-benar menyebalkan. Aku berjalan ke tempat tidurnya adik-adikku dan menarik selimut yang mereka pakai dan buang ke lantai.

"Hei! Apa yang kau lakukan!?" adikku yang bernama Len Kagamine pun membentakku, hanya karena menarik selimut?

"Aku mau berbicara enam mata pada kalian." Ucapku. Oh ya, kalian pasti bingung, kenapa aku mengucapkan enam mata, bukan empat mata. Karena, empat mata, sudah mainstream (Hei!)

Akhirnya, adik-adikku yang bernama Rin dan Len itu bangkit dari tidurnya dan duduk di meja yang sudah disediakan.

"Jadi, apa yang kau mau bicara pada kami?" tanya Len.

"Jangan sampai ketahuan ayah, Rin, Len. Karena, aku akan pergi menuju penjaga Pintu Perjanjian," ucapku dengan ketus.

"APA!?" mereka benar-benar terkejut apa yang kukatakan, hingga mata mereka terbelak.

"Tentu saja dengan kalian berdua. Aku ingin kalian ikut denganku." Ucapku dengan muka datar.

"Apa kau sudah gila, kak? Tak ada orang yang bisa kembali setelah menuju penjaga Pintu Perjanjian!" seru Rin. "Iya. Aku dengar, sang penjaga Pintu Perjanjian kemungkinan besar dia akan mengutuk bila ada yang berani-beraninya pergi ke Pintu Perjanjian!" sahut Len.

"Tapi, kita tak akan tahu sebelum kita coba. Bisa jadi, sang penjaga Pintu Perjanjian itu baik. Bisa jadi juga, orang yang sedang melakukan perjalanan menuju sang penjaga Pintu Perjanjian, diterkam oleh binatang buas." Ucapku dengan muka datar. "Selain itu, kemungkinan besar, ibu berada di tangan sang penjaga Pintu Perjanjian. Apa kalian ingin bertemu dengan ibu?" tanyaku.

Pertanyaanku ini pasti membuat Rin dan Len antusias. Mereka bertatapan sebentar dan menganggukan kepala mereka.

"Aku ikut, kak." Sahut Rin.

"Kalau bicara soal ibu, aku pasti ikut!"

Tampak mereka berdua sangat antusias dan bersemangat, hingga Len bangkit dari duduknya. Aku benar-benar lega, walau mereka benar-benar menyebalkan, ternyata mereka tak buruk juga.

"Pertama-tama, kita harus siapkan rencana." Ucapku pada mereka berdua.


Author POV


Lelaki berambut biru itu memandang lukisan perempan berambut coklat pendek dengan memegang sebuah busur. Busur dengan berwarna merah dan biru serta diukir dengan mendetail. Perempuan berambut coklat itu, memakai baju yang tradisional dengan atasan berwarna putih sedangkan bawahan yang memakai rok panjang yang dipotong di bagian sisi kanannya hingga terlihat pahanya, yang juga berwarna putih.

"Apa aku ini ayah yang buruk, Meiko? Aku bahkan membuat anak kesayanganmu, Miku, membenciku. Apa yang harus kulakukan?" batin dia sambil menatap lukisan cantik itu.

Disisi lain...

"Kata guru, jika kau bertemu dengan sang penjaga Pintu Perjanjian berada di Yggdrasil. Lebih tepatnya, di dunia antara dunia Vanaheim, Asgard dan Vocalefheim." Ucap Len sambil memunjukan gambar sebuah pohon dengan cabang-cabangnya serta daun menggambarkan sebuah dunia.

"Ng... Vanaheim dan Asgard itu dunia apa? Aku hanya tahu dunia Vocalefheim dan Midgard," ucap perempuan berambut teal yang mengajukan pertanyaan.

"Yggdrasil adalah pohon yang menghubungkan kesembilan dunia. Mulai dari atas, dunia Asgard, lalu bawahnya dunia Vanaheim, dilanjutkan dunia Vocalefheim, lalu dunia Midgard, dunia Jötunheimr, dunia Svartálfheim, dunia Niddhavellir, dunia Niflheim, dan terakhir dunia Muspellheim." Jawab Len dengan jelas.

"Dunia Vanaheim adalah dunia para golongan dewa tinggi, seperti Poseidon, Zeus, dan sebagainya. Dunia Vanaheim adalah dunia para golongan dewa kecil, letaknya berdekatan dengan lingkungan dunia Vanaheim." Ujar Rin dengan penjelasan yang mendetail.

"Dan kita berada di dunia Vocalefheim, dunia para Elf dengan golongan ras berbagai macam." Ucap Miku dengan menunjukan daun pohon yang menggambarkan dunia mereka. "Yosh! Kita kunjungi saja kesembilan dunia itu," ucap Miku dengan semangat.

"Jangan bercanda, kakak!"

DUAK!

Tiba-tiba, Len meninju pipi kanan Miku dengan kekuatan penuh hingga Miku terhempas dan menabrak dinding kamar. Miku yang bisa merasakan kesakitan di pipinya, hanya mengelus-ngelus pipi kanannya yang hampir bengkak, akibat tinjunya Len.

"Len! Apa-apaan kau ini!? Seenaknya meninju kakakmu!" sahut Miku dengan raut wajah orang yang sedang marah.

"Kalau kita kunjungi seluruh kesembilan dunia, akan menghabiskan banyak waktu. Kita tak tahu perbedaan waktunya dengan dunia ini dengan dunia lain. Selain itu, menemukan sang penjaga Pintu Perjanjian itu sulit." Ucap Len dengan melipatkan tangannya.

"Kalau kesulitan mencari sang penjaga Pintu Perjanjian, terpaksa kita mengunjungi ke sembilan dunia itu," ucap Miku sambil bangkit dari duduknya serta masih mengeluskan pipi kanannya yang sedikit bengkak.

"Aku setuju dengan ide kakak," sahut Rin dengan menundukan kepalanya sedikit dan memegang dagunya layaknya orang pintar, minum terima angin. #plak

"Lagipula, kata guru, belum tentu juga dia berada di tengah-tengah tiga dunia itu. Karena, ia berpindah terus-menerus, untuk melihat kondisi kesembilan dunia ini. Tapi beliau mengatakan, ia belum pernah mengunjungi dunia Vocalefheim sebelumnya." Ucap Rin dengan akhir-akhirannya menatap kakaknya dengan muka datar.

"Ya sudah, kita akan kunjungi ke sembilan dunia itu. Pertama-tama, kita akan kunjungi dunia para manusia, Midgard." Ucap Miku dengan ketus.

"Sebelum kalian mengunjungi dunia manusia, pertama-tama kalian harus mencari peri dengan keturunan ras Gwageth Anoon yang bernama Gumi."

Tiba-tiba saja, perempuan berambut putih panjang, muncul tiba-tiba disaat-saat suasana sedang seru.

"H-Haku!?" dan tentu saja, Miku begitu terkejut dengan tindakan pelayannya.

"Miku, kau masih mengenakan pendant itu bukan?" tanya Haku pada Miku.

"Oh, pendant yang diberi oleh ibu? Aku masih memakainya, kok. Memangnya kenapa?" tanya Miku.

"Jika kalian menghilangkan pendant itu, kalian tak akan bisa kembali ke dunia kalian, selamanya." Ucap Haku dengan menekan kata terakhirnya. "Selain itu, jika kalian sudah berada di dunia lain, carilah orang-orang ini. Mereka adalah kunci untuk menuju sang penjaga Pintu Perjanjian. Karena, mereka tahu tentang penjaga Pintu Perjanjian dan Pintu Perjanjian." Ucap Haku sambil memberikan sebuah gulungan.

Miku pun menerima gulungan tersebut. Dan disaat ia membuka gulungan tersebut, terdapat beberapa tulisan yang sepertinya tulisan itu adalah nama-nama orang yang dicari.

"Hmmm... berarti, jika kita menuju dunia manusia, orang yang kita cari adalah Lenka..." gumam Miku.

"Selain itu, kalian bawalah senjata-senjata kalian. Aku tak tahu apa yang terjadi diluar sana, kemungkinan besar, kalian akan berhadapan dengan monster ataupun hewan liar. Dan satu permohonan lagi..."

"Apa itu?" tanya Miku pada Haku yang menghentikan kata-katanya.

"Kumohon, bawalah ibumu hidup-hidup. Dunia ini masih membutuhkan ibumu." Ucap Haku.

"Tentu saja. Karena, kami juga membutuhkan ibu. Benar bukan, Rin, Len?" tanya Miku pada adik-adiknya.

"Tentu saja. Lagipula, aku ingin sekali bertemu dengan ibu." Ucap Rin.

Pelayan Miku yang memiliki iris berwarna merah rubi itu, tersenyum dan memandang dengan lembut. "Paduka, andai saja Paduka melihat anak Anda saat ini. Aku yakin, Anda pasti senang melihatnya..." batin Haku.

"Kita akan berangkat malam ini, Rin, Len. Siapkan senjata-senjata kalian, gulungan, dan yang terpenting adalah daun bawang!" seru Miku dengan antusias.

"Enak saja! Yang terpenting adalah jeruk, tahu!" seru Rin.

"Kalian itu salah semua. Yang paling penting adalah, PISANG!" seru Len dengan meriakan kata terakhirnya.

"Monyet lu!" ejek Rin dan Miku. Dan pastinya, ejekan kakakknya serta kakak kembarnya itu menyakitkan, hingga Len ngambek di pojokan.

"Kalian semua, jangan lupa apa yang saya katakan. Pertama-tama, kalian carilah gadis keturunan Gwageth Anoon yang bernama Gumi. Aku yakin, dia tahu tentang Pintu Perjanjian." Ucap Haku.

"Oke!" seru mereka bertiga.

Disaat-saat kebahagiaannya, ada seseorang yang sedang menguping pembicaraan. Seseorang yang bukan siapa-siapa, melainkan ayahnya mereka sendiri, tanpa mereka ketahui.

"Sepertinya, awal perjalanan sebenarnya baru dimulai..." batin pemuda itu yang bernama Kaito Shion.

Disisi lain...

"Ibu... aku akan membawakanmu pulang, apapun yang terjadi. Serta, aku pasti bisa menggunakan pedang legenda yang selama ini diceritakan oleh ayah dan ibu, Excalibur."

Gadis berambut hijau muda itu memandang lukisan ibunya yang memiliki rambut yang berbeda dengan anaknya. Ia memiliki rambut berwarna merah muda serta panjang. Ia menggenggam pedang katana dengan sarung berwarna hitam yang diikat oleh rantai berwarna putih.

"Gumi..." pemuda yang memiliki rambut yang sama seperti gadis bernama Gumi itu, hanya memandang dengan perasaan tidak yakin. Ada satu hal yang menganggu di pikirannya. Entah, apa yang dipikirkan oleh pemuda itu.


To Be Continued


A/N: Kemungkinan besar, cerita ini lebih panjang, bisa jadi lebih dari 20 chapter. Tapi, semoga saja chapternya nggak banyak-banyak, karena aku sedang menderita penyakit yang biasanya sudah tertanam di tubuh manusia, yaitu MALAS! XD #plak

Oh ya, sebenarnya kesembilan dunia itu kuambil dari Mitologi Nordik, (Mitologi Eropa Utara) hanya saja dunia Alfheim kuubah menjadi Vocalefheim. Untuk lebih lanjut lagi, tanyakan saja pada paman Wikipedia :D (Ain't nobody got time for that, dude :v)

.

.

.

REVIEW PLEASE? ONEGAI?