Naruto bukan seseorang yang puitis ataupun romantis, namun dapat Hinata rasakan ada sedikit perubahan yang terjadi diantara mereka.
"Hinata aku akan pergi keluar kota dengan sasuke untuk urusan bisnis selama dua hari. Nanti kaa-chan akan kesini setelah urusannya dengan tou-chan selesai" ucap Naruto sambil merapikan jasnya.
"Keluar kota? Kemana?" Tanya Hinata.
"Suna, lalu berikutnya aku akan ke Oto. Aku akan meninggalkanmu bersama kaa-chan agar kau tidak sendirian hime. Bagaimana jika-"
"Kaa-chan masih ada urusan dengan tou-chan kan? Bukankah mereka harus menyelesaikan pertengkaran mereka? Aku bisa sendirian saja kok Naruto-kun" sela Hinata.
"Kaa-chan sendiri yang ingin menemanimu. Tidak akan jadi masalah kok. Aku akan berangkat sekarang hime jaga dirimu ya" Naruto mengecup singkat kening Hinata.
"Hai' Naruto-kun"
"Ittekimasu"
"Itterashai"
Naruto memasuki mobil sedan hitam metalik dengan aksen tribal orange yang di airbrush di bagian samping kirinya. Mobil Naruto melaju pelan meninggalkan rumahnya.
Sesaat setelah Hinata merapikan piring bekas makannya dan Naruto tadi dia mendengar bel rumahnya berdering.
"Pasti kaa-chan"
Hinata bergegas membuka pintu depan dan terkejut dengan keadaan Kushina yang sangat kacau.
"Astaga kaa-chan!" Pekik hinata khawatir.
"Ohayou Hinata. Hehehe" jawab Kushina dengan senyuman tidak ikhlas dan ada apa dengan 'hehehe' itu? Aneh sekali.
"Masuk kaa-chan sini aku bawakan tasnya"
Kushina hanya menurut dan berjalan gontai ke sofa ruang tengah sambil menyalakan televisi 42 inch yang menayangkan acara talk show.
"Ini kaa-chan minumlah, aku agak pusing hari ini untunglah kaa-chan datang tepat waktu saat aku baru saja selesai membuat cemilan dan bersih-bersih"
"Kaa-chan ingin aku buatkan sarapan? Kaa-chan terlihat agak pucat. Apa kaa-chan tidak ingin minum atau memakan camilan yang aku buatkan?"
Tanya Hinata bertubi-tubi dengan celotehan tidak jelasnya.
"Kaa-chan katakan sesuatu"
Kushina melirik hinata dengan pandangan tidak antusias.
Tiba-tiba Hinata menutup mulutnya dengan satu tangan dan melesat ke wastafel tempat cuci piring di dapurnya.
"Astaga Hinata-chan ada apa ini? Kau baik-baik saja? Ini kaa-chan ambilkan air minum. Sebentar kaa-chan ambilkan handuk"
"Kaa-chan akan telfon dokter sayang" segera setelah itu Kushina tersadar akan sesuatu "kenapa dia diam saja? Sekarang jadi aku yang cerewet dan dia yang diam, haaaah kebalikan yang menyenangkan hahaha" kata Kushina pada dirinya sendiri sedikit berbisik.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : M
Pair : NaruHina
Warning : Typo bertebaran
Hinata Point Of View
Dokter memeriksaku dengan teliti dan setelah berceloteh tentang hal-hal yang tidak boleh aku lakukan akhirnya dia mengatakan bahwa aku hamil.
"Shizune-san apakah kau yakin? Apakah itu benar?" Kaa-chan terlihat sangat terkejut dan aku juga terkejut dengan tanggapan kaa-chan.
Kaa-chan bersikap seolah aku ini adalah laki-laki yang hamil.
"Ya Kushina-sama, usia kandungannya baru 2 minggu jadi berhati-hatilah karena usia itu masih cukup rentan terhadap guncangan" jawab dokter Shizune sambil merapikan perlatannya dan pamit pulang.
Tinggalah aku dan kaa-chan yang masih tidak percaya pada apa yang didengarnya.
"Hinata-chan"
"Ne kaa-chan?"
"Apakah itu benar?"
"Kurasa iya"
1
"Kaa-chan..."
2
"Apa yang . . . ."
3
"Kyaaaaaaaaa aku akan punya cucu ttebane! Aku akan punya Naruto junior dan aku akan bermain bersamanya ttebane!" Aku terlalu terkejut sampai aku tidak sadar bahwa kaa-chan sudah berlari keluar sambil berteriak seperti orang kesetanan.
Naruto junior ya.
Aku jadi malu.
Hinata Point Of View End
Setelah itu Kushina mulai mendapatkan semangatnya kembali. Kushina mulai berbicara panjang lebar tentang segala hal sampai ke detil terkecil dari hal paling tidak penting yang bisa mereka bahas.
"Kaa-chan bagaimana tou-chan? Kenapa kalian bertengkar?" Tanya Hinata dengan memiringkan wajahnya.
"Kawaiiii neee!" Seru Kushina melihat kelakuan menantunya itu.
Hinata hanya sweatdrop melihat Kushina yang terkesan tidak mau menjawab pertanyaannya.
"Hai' hai' kaa-chan ceritakan. Minato itu sungguh keterlaluan Hinata-chan! Dia. . . Dia. . ."
Reflek hinata memindahkan kotak tissue ke pangkuan Kushina saat sudut matanya mulai berair.
"Tenanglah ka-chan. Coba tarik nafas dan ceritakan lagi semuanya dari awal"
"Huuuh . . . . Baik aku siap. Kemarin Minato memberiku hadiah yang kotaknya sangat indah sampai-sampai aku tidak rela membukanya, tapi aku tetap membukanya. . . ." Kushina menghela nafas.
"Saat aku buka, kotak itu isinya adalah buku harian. Aku sangat senang Hinata-chan karena akhirnya dia memberikan buku hariannya itu padaku" Hinata semakin serius mendengarkan penjelasan Kushina.
"Saat aku buka bukunya aku sangat terkejut karena hanya ada dua kata yang tertulis disana yaitu Uzumaki Kushina dan itu terus diulang sampai ke tengah buku" Hinata terkejut dengan keromantisan ayah mertuanya itu.
"Lalu apa yang membuat kaa-chan marah? Tou-chan sangat romantis"
"Dia tidak menulis nama anakku disana Hinata-chan. Hanya namaku, namaku saja" jawab Kushina serius. Hinata tersentak dengan jawaban Kushina.
"Dan paginya aku bertanya padanya. Bila saat melahirkan aku berada di posisi berbahaya dan hanya ada satu yang bisa selamat, maka Naruto atau aku yang akan dipilih" Kushina mengambil tissue dan menghapus bulir bening dari pipinya yang tanpa cacat.
"Dia menjawab bahwa dia akan memilih aku Hinata-chan, dan alasannya adalah bahwa anak bisa dibuat lagi asal ada ibu dan ayahnya..." Hinata jawdrop dengan tidak elitnya.
"Aku langsung melepas sendal dan aku tampar dia bolak balik, dengan mulut kurang ajar itu aku tidak yakin dia bisa berbicara dengan baik setidaknya sampai hari ini" mendadak Hinata ikut merasakan panas di kedua pipi chubbynya sehingga ia mengelus kedua pipinya dengan wajah kesakitan.
"Apa-apaan wajahmu itu Hinata-chan? Hahahah kau lucu sekali"
~NEXT DAY~
"Tadaima"
"Okaeri" seru Hinata dan Kushina bersamaan.
"Hinata-chan bisa ikut aku sebentar? Kita keatas saja" Naruto langsung menarik Hinata ke lantai atas.
"Eh? Kaa-chan tidak boleh ikut? Kau pasti rindu sekali pada Hinata ne?" Seru Kushina tidak terima.
"Temui saja tamu kaa-chan dulu" jawab Naruto sekenanya yang membuat Kushina tersentak.
Kushina melirik ke pintu depan dan melihat Minato datang dengan buket bunga yang luar biasa besar. Kushina mendecih tidak suka pada Minato.
"Kushina. . . . ."
Sementara itu. . .
"Naruto-kun ada apa?" Tanya Hinata kebingungan dengan sikao Naruto
"Tidak Hinata, mereka butuh waktu berdua."
"Mereka?" Hinata membantu Naruto melepas jasnya
"Tou-chan dan Kaa-chan" Jawab Naruto yang terus memandangi istrinya dengan penuh kerinduan.
"Kau tau hime? Ternyata kaa-chan kesini karena dia ingin kabur dari mansion Namikaze dan dia tidak meminta ijin pada tou-chan saat kesini sampai-sampai tou-chan harus meminta seluruh penjaga dimansion untuk mencari kaa-chan" lanjut Naruto menjelaskan
"Kaa-chan nakal ya, lalu bagaimana tou-chan tau kalau kaa-chan ada disini?"
"Dia menelponku saat aku baru saja sampai di bandara tadi-"
BRAAAKKKPRANG
"Astaga!"
"Kaa-chan!"
Secepat kilat mereka berlari turun ke lantai bawah. Hinata menabrak punggung Naruto ketika mendadak Naruto berhenti.
"Ada apa Naru-"
"Sssttttt! Lihat itu" ucap Naruto dengan berbisik.
Hinata menengok ke arah dapur yang sudah berantakan dengan kursi bertebaran dan beberapa piring pecah, mengabaikan keberadaan buket bunga super besar di ruang tengah Hinata malah melihat mertuanya bermesraan di dapur.
Tampak Minato memeluk Kushina berusaha menenangkan dan menghentikan tangisannya dengan kata-kata luar biasa romantis yang baru pertama kali Hinata dengar, Naruto dan Hinata mendadak merinding saat Minato dan Kushina saling bertatapan dan sejurus kemudian berciuman.
Naruto membawa Hinata kembali ke lantai atas dengan menggendongnya.
"Itu bukan hal yang pantas untuk diperlihatkan didepan kita. . . . Kurasa" ujar Naruto yang sudah merona karena kelakuan kedua orang tuanya.
"Tou-chan sangat romantis ya Naruto-kun, aku baru tau" Hinata ikut merona karena kelakuan mertuanya yang terlampau romantis untuk ukuran orang tua.
~At Night~
Hinata yang baru saja selesai menyiapkan makan malam masih menunggu kedatangan suaminya di meja makan. Beberapa menit kemudian Hinata melihat Naruto turun dengan bersemangat.
"Semangat sekali? Kau pasti laparkan Naruto-kun? Kemarilah ayo makan" ajak Hinata
"Hai' aku bisa mencium bau masakanmu dari kamar"ucap naruto menarik kursi di sebelah Hinata.
Setelah selesai ritual makan malam Naruto ijin keluar sebentar untuk bertemu Sasuke. Sejurus kemudian Hinata sadar bahwa handphone Naruto tertinggal di nakas kamar mereka.
Sesaat sebelum Hinata meneriakkan nama Naruto, handphone ditangannya berdering dan tanpa pikir panjang langsung diangkat oleh Hinata.
"Moshi moshi Naruto-kun? Naruu darimana saja? Kenapa tidak ada kabar seharian ini? Naru-kun ingin main petak umpet ya? Nakal sekali hahaha. . . . Naru? Kenapa diam? Yasudahlah nanti kukabari lagi ya Naru-kun oyasumi"
Pip
Nada itu menyadarkan Hinata dari keterkejutannya.
'Siapa wanita yang menelepon Naruto-kun tadi? Dia terdengar . . .umm. . . . Terlalu mesra untuk ukuran teman'
Tenggelam dalam pikirannya sendiri, Hinata tidak sadar bahwa permata amethystnya menjatuhkan mutiara duyung.
Hinata Point Of View
Tes
Tes
Tes
Apakah yang kudengar tadi tidak salah? Wanita itu. . . . . Naruto-kun punya wanita lain, tidak! Naruto-kun yang aku kenal tidak seperti itu.
Kubuka lagi list panggilan tadi, Shion . . . Kontak ini namanya Shion. Bolehkan aku membuka akun media sosialnya? Mengobrak-abrik privasi suamiku? Tentu boleh! Dia suamiku! Seharusnya tidak ada privasi diantara kami.
Kubuka satu persatu aplikasi Chattingnya, tidak ada yang aneh. Tunggu dulu, account chatting ini bernama Shion.
Scroll
Scroll
Aku seperti stalker saja.
Kenapa wanita ini terus mengirim fotonya? Wanita pirang pucat dengan mata violet dan tatanan rambut sama denganku. Ada apa dengan wanita ini?
Galeri! Ya! Aku akan membuka galerinya, kalau dia memang ada hubungan dengan Naruto-kun pasti ada foto mereka!
Reflek aku membanting hp yang kupegang karena foto mereka yang sangat mengejutkan. Foto mereka sedang berciuman didalam mobil yang seolah mengejekku, si wanita mengambil gambar dan Naruto-kun tengah menutup mata menikmati ciumannya. Sungguh tidak bermoral.
Hinata Point Of View End
"Tadaima hime"
Tidak ada jawaban.
"Hime?"
"Hime kau dimana?"
Naruto mencari ke semua tempat dan mulai melangkahkan kakinya memasuki kamar utama di lantai atas.
"Astaga Hime! Kau kenapa?" Hinata memandang sesuatu dengan tatapan kosong sambil terus meneteskan air mata.
Naruto mengikuti arah pandang Hinata dan menangkap handphonenya tergeletak dengan layar yang retak disana-sini.
"Jelaskan padaku"
"Antar aku pulang"
"Jelaskan!" Naruto membentak namun Hinata tak bergeming dari kondisi semula.
"Aku mau pulang" Hinata tak beranjak namun dia memberi penekanan di tiap kata yang dia ucapkan.
To Be Continued
