Distance

Disclaimer: Captain Tsubasa (c) Yoichi Takahashi

Story by: Azura Shinzui

Rated: K-T

Genre: Family, Friendship

Warning: OOC, Typo bertebaran, alur berantakan, dll.

Chapter 2: Misaki Taro & Misugi Jun


April, dua tahun kemudian. Shizuoka.

Seniman adalah orang-orang yang menciptakan karya seni seperti lukisan, musik, tari, maupun lainnya. Dan untuk menjadi seniman juga diperlukan pengorbanan. Entah itu waktu, tenaga, maupun hal lain.

Misaki tahu, sebagai anak seorang seniman -dalam hal ini adalah pelukis- ia harus senantiasa mengikuti ayahnya. Bukannya ia mau, hanya saja, ia tak punya pilihan lain. Ayahnya, adalah satu-satunya keluarga yang ia punya.

Diumurnya yang masih belum genap dua belas tahun, seharusnya Misaki tetap menetap pada satu daerah agar ia memiliki teman sebaya. Beruntung karena sifatnya supel, ia jadi mudah beradaptasi.

Dan meski ia sering berpindah rumah dengan suasana yang berbeda pula, beruntung bakatnya dalam sepakbola tidak pernah pudar.

Ini hari keduanya di Shizuoka. Sebelum disini, ia menetap dibeberapa tempat seperti Meiwa, bermain sepakbola bersama dengan Kojiro Hyuga. Sebenarnya, ini bukan kali pertama ia singgah di Shizouka.

Tapi, pengalamannya saat di Hokkaido dua tahun yang lalu, membuatnya sedikit kecewa akan keputusan sang ayah. Ia bahkan berharap bahwa ayahnya mengajaknya tinggal di Furano lagi.

Selama ini, entah berapa kalipun ia pindah, ia tak pernah merasa sesedih ini. Bayangan Matsuyama yang memarahinya saat ia ceroboh, lalu Matsuyama yang tersenyum simpul ketika ia berhasil mencetak gol, dan bayangan lainnya tentang Matsuyama masih teringat dalam benaknya.

Entah kenapa mengingat Matsuyama, perasaannya menjadi hangat. Rasanya seperti punya sosok kakak yang selama ini ia idam-idamkan.

Ia tersenyum mengingat Matsuyama, tanpa sadar kaki kecilnya membawa ia ke sebuah lapangan bola. Di lapangan itu sedang diadakan pertandingan antara Nankatsu dan Shutetsu. Sebuah pertandingan yang berat sebelah menurutnya.

Matanya menangkap sosok anak laki-laki yang duduk dipinggir lapangan dengan salah satu kakinya dibalut perban. Sosok itu Ryo Ishizaki. Dulu Misaki mengajarkan Ishizaki beserta teman-temannya semua hal yang ia ketahui tentang sepakbola. Bahkan, dulu mereka sering bermain bola bersama. Meski Ishizaki tidak punya skill yang bagus, namun ia punya semangat yang bagus.

Misaki kemudian menghampiri Ishizaki yang sedang menyerukan sumpah serapahnya.

"Ishizaki..." Misaki menyapa Ishizaki yang masih sibuk menggerutu, Ishizaki menoleh.

"Kau? Bagaimana kau bisa ada disini?" Ishizaki terkejut, Misaki tersenyum manis.

"Ayahku pindah kesini lagi.." Misaki masih mempertahankan senyumnya.

"Eh? Ah, Iya! Ngomong-ngomong, bisakah kau ikut bermain? Kami bisa kalah melawan Shutetsu kalau begini." Ishizaki mulai meracau panik..

Misaki akhirnya mengganti bajunya dengan jersey kesebelasan Nankatsu.

'Sudah lama aku tidak bermain disini, sudah lama juga ya kita tidak bertemu?' batinnya bersuara saat ia tersenyum riang ke arah teman-temannya.

Misaki menyapa teman-temannya, hingga kemudian tersadar akan sosok baru yang menarik perhatiannya. Sosok itu adalah Tsubasa Ozora. Seorang pemain baru Nankatsu yang sebanding dengannya, mengingatkannya dengan Matsuyama. Misaki kembali tersenyum riang.

~ShnAzr~

Misaki terus tersenyum senang saat kaki kecilnya menyusuri stadion. Ia juga tak menyangka, kepindahan Misaki ke Shizouka mengantarkannya mengikuti turnamen nasional sepakbola tingkat SD. Itu artinya, ia punya kesempatan untuk bertemu Matsuyama lagi. Ah, sudah dua tahun ia tidak bertemu dengannya.

Senyumnya semakin merekah saat melihat Matsuyama berjalan searah dengannya. Hanya saja, kenapa ia sedikit berbeda? Ia terlihat lebih pucat meski pipinya jadi semakin tembam.

Lalu, seingatnya nomor punggung Matsuyama itu 10, tapi laki-laki dihadapannya itu memakai jersey dengan nomor 14. Apa ada perubahan?

Misaki segera menjajarkan langkahnya dengan Matsuyama.

"Hikaru nii-san?" Misaki menyapa dengan riang, mengabaikan fakta jika orang di depannya sedikit berbeda dengan apa yang terakhir ia ingat.

"Hikaru nii?" Misaki kembali memanggilnya saat merasa bahwa Matsuyama mengabaikannya, anak yang dikira Matsuyama iti kemudian berhenti dan menoleh pada Misaki.

"Maaf, apa kamu memanggilku?" anak tersebut bertanya sopan.

"Eh? Maaf! Aku kira kau kakakku." Misaki salah tingkah, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Soalnya kalian mirip banget!" tambahnya disertai senyuman polos.

Lawan bicaranya mengerjapkan mata, ia mengamati wajah Misaki yang mirip dengannya.

"Ah, aku mengerti," anak tersebut tersenyum ramah. "Ngomong-ngomong apa kamu juga salah satu peserta turnamen ini?" tambahnya.

"Iya, tentu saja." Misaki kembali menampilkan senyumannya.

"Ah, kalau begitu semoga bertemu di final! Namaku Jun Misugi, dari kesebelasan Musashi. Salam kenal!" Misugi kembali tersenyum ramah, menjulurkan telapak tangan kanannya.

"Eh, iya! Maaf kelupaan. Namaku Taro Misaki dari Nankatsu." Misaki kembali tersenyum, menjabat tangan Misugi.

~ShnAzr~

Misugi adalah pribadi yang tertutup, Misaki tahu itu dengan sangat jelas.

Sama seperti Matsuyama. Misugi, meski memiliki banyak fans dan teman-teman se-team, namun di dalam team ia hanya akrab dengan manager team yang notabenenya adalah perempuan -yang untungnya bukan salah satu fansgirlnya- itupun ia masih menunjukkan jarak yang begitu lebar.

Misaki tahu jelas, meski Misugi adalah kapten team, punya jiwa kepemimpinan yang tinggi, genius, serta mampu mengarahkan teman-temannya. Namun, di sisi lain ia juga tahu, bahwa Misugi juga terkucilkan di dalam team yang dipimpinnya sendiri.

Misaki tahu, Misugi sebenarnya kesepian.

Karena Misugi hanya bermain sepuluh menit pada babak terakhir saat team sudah terlihat tak mampu lagi memenangkan pertandingan. Karena Misugi jarang ikut latihan.

Pangkatnya sebagai kapten, membuat teman-temannya berfikir bahwa Misugi hanya mau pamer. Lagipula, Misugi paling diperhatikan oleh pelatih, membuat teman-temannya kembali berfikir jika Misugi hanya mencari muka.

Namun, menurut Misaki sendiri, Misugi pasti punya alasan yang bagus. Karena Misaki satu-satunya teman terdekat Misugi, ia tahu jika Misugi tak mungkin melakukan sesuatu tanpa alasan.

Saat ini mereka berdua sedang menonton pertandingan semi-final antara Furano dengan Meiwa.

Misaki menatap Misugi yang masih fokus dengan pertandingan.

Dalam benaknya ia mencatat, Misugi itu berbeda dengan anak lain. Biasanya anak-anak seusia mereka sangat suka bermain-main membuang waktu. Tapi Misugi tidak. Misaki kembali berfikir, betapa miripnya Misugi dengan Matsuyama. Makanya, ia ingin membuat Misugi muda itu membuka diri, seperti Matsuyama.

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ia sampaikan pada keduanya. Ia hanya berfikir, bagaimana bisa ada banyak persamaan dari segi fisik serta pola pikir mereka? Apa mungkin jika mereka saudara? Lagipula, orangtua Matsuyama sudah berpisah, kan? Siapa tahu Misugi juga?

Misaki mengalihkan pandangan menatap kearah Matsuyama yang sedang berduel dengan Hyuga. Meski sekarang Meiwa masih memimpin, namun bukan berarti semangat Matsuyama jadi padam begitu saja.

"Ngomong-ngomong, wajahmu mirip dengan Hikaru nii-san. Apa kalian kembar?" tanya Misaki, menyerukan pendapatnya.

Misugi terdiam, matanya menatap Matsuyama yang sedang mendribble bola.

"Entahlah. Tou-san tidak pernah memberitahuku. Orangtuaku berpisah saat aku berumur empat tahun." Misugi memegang dada kirinya, sedikit meremas kemejanya.

"Orangtua Hikaru nii-san juga berpisah saat Hikaru-nii berusia empat tahun. Dia tinggal bersama ibunya sekarang. Bukankah ini suatu kebetulan?" komentar Misaki, Misugi tertegun.

Misugi memang jenius, tak butuh waktu lama untuk menyadari makna tersembunyi dari kata-kata Misaki. Jika memang apa yang dikatakan Misaki sesuai dengan dugaannya, berarti anak yang sedang bertanding di depannya ini kemungkinan adalah saudaranya.

"Bukankah kau juga mirip denganku? Kau juga memanggilnya kakak, kan?" oke, Misugi sepertinya mulai penasaran sekarang.

"Tidak, kebetulan saja kita mirip." Misaki tersenyum polos ke arah Misugi. "Tapi aku yakin, kau lebih mirip dengan Hikaru nii-san dibanding aku, entah dari segi fisik maupun sifat." tambahnya.

Misugi hanya diam, kembali mengalihkan padangan kearah lapangan. Kali ini pandangannya terkunci ke arah Matsuyama, meneliti pemuda itu dari jauh.

~ShnAzr~

Misaki memandang cemas lantai rumah sakit. Beberapa menit yang lalu ia selesai bertanding melawan kesebelasan Musashi yang dipimpin oleh Misugi. Dan siapa sangka jika pertandingan kali ini sangat menguras emosinua? Kenapa Misugi menyembunyikan penyakitnya?

Uhh, memang selama ini ia tidak berhasil membuat Misugi membuka diri sepenuhnya.

Misaki kembali menatap lantai rumah sakit. Matanya memanas, tapi setidaknya ia tidak menangis.

Tsubasa memegang bahu kiri Misaki, Misaki mendongak.

"Tenang saja, Misugi pasti baik-baik saja." Tsubasa tersenyum, mencoba menyemangati Misaki.

Tentu saja, dia itu kuat! Bermain full time saja dia kuat, seharusnya baik-baik saja sekarang. Batinnya berteriak, menyemangati dirinya sendiri.

Misaki memandang teman-temannya yang sama cemasnya. Ya, Misaki tidak sendirian disini. Dia bersama team dari Musashi dan juga teamnya.

Entah mengapa ia terlihat yang paling cemas disini. Mungkin karena ia merasa paling dekat dengan Misugi, atau mungkin karena Misugi mengingatkannya pada Matsuyama? Entahlah..

Pintu ruang ICU terbuka. Seorang dengan jas dokter dan seragam kantoran keluar dari ruang tersebut.

"Dokter, bagaimana keadaan Jun?" Misaki bereaksi paling cepat diantara yang lain.

"Dia sangat lelah dan jantungnya sudah mencapai batasnya. Dia benar-benar harus beristirahat." jawab sang dokter prihatin.

"Bolehkah kami menemuinya?" salah satu pemain Musashi, Honma, menyerukan pertanyaannya.

"Sekarang bukanlah waktu yang baik. Kondisinya saat ini..." ayah Misugi, Atsumu Misugi, angkat bicara. Namun, pandangannya menangkap wajah Misaki.

"Jun!?" Atsumu terkejut, ia memegang kedua bahu Misaki.

Misaki tentu saja terkejut. Begitupula yang lain. "Maaf, ji-san. Aku bukan Jun." Misaki tersenyum tipis. "Aku tau, kami memang mirip." Misaki memotong ucapan Atsumu saat dirasa ia akan berbicara.

"Kau? Hikaru?" ayah Misugi bertanya dengan hati-hati.

"Jika yang ji-san maksud Hikaru Matsuyama, tentu saja aku bukan Hikaru nii-san!" Misaki menjawab, ayah Misugi sepertinya sangat terkejut. Mereka berdua terdiam.

Atsumu kemudian berlalu sambil memikirkan berapa kemungkinan. Kenapa ia begitu mirip dengan Jun? Apa selama ini... Ah, sudahlah. Ia perlu mendinginkan kepala sekarang.

~ShnAzr~

Hidup adalah anugerah terindah dari Tuhan. Begitupula dengan anak. Sayangnya, ia tak bisa menjaga salah satu dari anugerah yang Tuhan titipkan kepadanya.

Hari ini Jun memulai operasi perbaikan katup jantung pertamanya. Sang ibu menunggu Jun di depan ruang operasi, sedangkan sang ayah mengajak kedua putra kembarnya membeli makanan di cafe depan rumah sakit.

Saat itu, tidak ada yang menyangka, sebuah takdir buruk menanti mereka.

Saat itu, sang ayah tidak sadar jika toko emas yang terletak disamping cafe itu sedang dirampok. Ia menuntun kedua anaknya, hendak memasuki cafe.

Saat para perampok itu berlari kearahnya, tentu saja ia terkejut. Dengan instingya sebagai mantan anggota kepolisian, ia melumpuhkan beberapa perampok. Beberapa warga membantunya. Meski ada satu atau dua orang yang berhasil kabur, setidaknya dengan ditangkapnya beberapa orang ini, pencarian akan lebih mudah.

Ia kemudian tersadar akan kedua anaknya yang ia tinggalkan di pintu masuk sebuah cafe. Dan begitu terkejutnya ia hanya melihat satu orang anaknya, sedang menangis.

"Hikaru, dimana Taro!?" sang ayah mulai panik, mengguncang pelan bahu anak sulungnya.

"Hikss, tou-chan.. Tadi Hikalu udah ngajak Talo macuk dulu kalna bahaya hikks.. Tapii, hikss, Talo tidak mau, katanya mau liat tou-chan.. Hikkss.. Teluss, ada om-om gendong Talo pelgi.. Hikalu udah kejal, tapi om yang catu lagi malah, telus Hikalu didolong.. Huwaaa!" Hikaru menjelaskan sambil terisak.

Sang ayah sangat shock. Itu artinya perampok tadi juga menculik anaknya. Sialan!

Atsumu tahu, kejadian tujuh tahun yang lalu juga salahnya. Yang mengakibatkan dirinya kehilangan salah seorang dari anaknya. Yang menyebabkan istrinya lebih memilih pergi dari rumah.

Mengingat kejadian itu, benaknya kembali membayangkan anak laki-laki yang menanyakan keadaan Jun tadi. Wajahnya begitu mirip dengan Jun. Dan lagi, ia mengenal Hikaru. Meski Hikaru yang anak itu sebutkan tadi tidak memakai marganya, namun ia cukup yakin. Hikaru yang dimaksud adalah anak sulungnya. Kemungkinan ia memakai marga ibunya, karena nama Matsuyama adalah nama belakang istrinya sebelum mereka menikah.

Otak dewasanya kembali bekerja. Ia memikirkan berbagai kemungkinan tentang anak tadi. Bagaimana jika ternyata anak tadi adalah anak bungsunya yang selama ini ia cari? Lalu bagaimana ia mengenal Hikaru? Kenapa ia memanggilnya kakak? Apa istrinya sudah tahu?

"Ji-san?" sebuah suara dari seorang anak laki-laki mengagetkannya dari lamunannya. "Apa aku mengagetkan anda?" Tambahnya, sedikit menyesal.

"Tidak apa-apa. Kenapa kau belum pulang? Yang lain sudah pulang, kan?" Atsumu bertanya pada anak tersebut.

"Aku akan pulang sebentar lagi. Mungkin aku akan kesini lagi besok." anak tersebut menjawab dengan nada sedih, Atsumu tidak tega melihatnya.

"Kau akrab sekali dengan Jun, siapa namamu?" Atsumu penasaran.

"Taro Misaki." Misaki menjawab sambil tersenyum, Atsumu yang mendengarnya sedikit shock.

"Misaki, ya?" Atsumu merenung, apa mungkin seseorang mengadopsinya? "Lalu, bagaimana kau mengenal Hikaru?" tambahnya, Misaki tertegun. Ah, ia tadi sempat menyebutkan nama Matsuyama.

"Ayahku seorang seniman. Kami sering berpindah tempat. Aku mengenal Hikaru nii-san saat kami tinggal di Furano." Misaki menjelaskan.

"Furano? Lalu apa kau tau ibunya?" jantung Atsumu berdetak kencang.

"Ah, ibunya ya? Kalau tidak salah namamya Kanae Matsuyama. Aku belum pernah bertemu sih." Misaki menjawab, kali ini Atsumu terlihat sangat shock. Dugaannya memang benar. "Ji-san bolehkah aku bertanya?" Atsumu mengangguk.

"Apakah Hikaru nii-san itu anak anda?" Ekspresi Atsumu sedikit melembut, Misaki tahu dugaannya benar.

"Sepertinya, iya. Aku dan istriku berpisah saat mereka berusia empat tahun," jawabnya, terdengar menyesal. "Waktu itu Jun sedang dioperasi. Dan aku mengajak kedua saudara kembarnya pergi ke cafe. Saat itu ada sekawanan perampok berlari kearah kami, aku langsung melumpuhkannya meski ada dua orang yang lolos. Lalu setelah itu aku menghampiri mereka, Hikaru menjelaskan padaku jika adiknya diculik oleh perampok yang berhasil lolos saat itu," nada sedih semakin mengental keluar dari mulut Atsumu. "Semua salahku, ya?"

"Tidak! Jangan menyalahkan diri sendiri, ji-san. Semua sudah ditakdirkan." Misaki menjawab yakin. "Ngomong-ngomong, apa anda tidak berusaha mencari anak anda?"

"Aku sudah mencarinya selama sebulan, bahkan perampok yang menculiknya ditemukan dalam keadaan babak belur. Polisi berkata, jika perampok tersebut dihajar seseorang, kemudian membawa anakku pergi, dan karena aku tidak bisa menemukannya, istriku pergi membawa Hikaru," dari nada bicaranya, Misaki tahu, pria di depannya ini sangatlah sedih.

"Aku yakin, anak anda akan ditemukan, ji-san." Misaki menyemangati pria di depannya, sang pria terperangah.

"Terimakasih," sampai detik ini, Atsumu masih heran. Disaat ia merahasiakan semua itu dari Jun, kenapa ia menceritakan semuanya pada anak di depannya?

"Kau sangat mirip dengan Jun. Tidakkah kau berfikir jika kau saudara Jun yang hilang?" Atsumu menanyakan hal yang mengganggunya sedari tadi.

"Tidak, ji-san. Yah, tou-san memang keluargaku satu-satunya, tapi ia juga tidak pernah menceritakan apapun tentang kaa-san," tatapan Misaki menerawang. "Kurasa, tou-san menyembunyikan sesuatu dariku." Misaki tersenyum simpul.

Atsumu terdiam mendengar ucapan Misaki. Sepertinya ia harus membayar orang untuk mencari tahu tentang Misaki lebih jauh.

"Ya sudah, aku pulang dulu, ji-san! Sampai jumpa." Misaki tersenyum riang kearah Atsumu, ia kemudian berlalu.

Dan Atsumu kembali sibuk dengan pikirannya.


A/N:

Hollaaa.. Ada yang kangen sama aku?/nggak/

Yakk, kembaran yang satunya adalah Misugi Jun..

Chapter ini kesannya maksa ya? Kecepetan juga sih alurnya. Yah, aku cuma nggak mau lama-lama mikir juga, hehe.. Fanfic ini aku buat untuk mengisi liburanku sampai awal masuk kuliah. Apa disini ada yang udah mau masuk kuliah? Kali aja kita satu universitas, hehe.

Yoshh, sekian dari aku. Chapter berikut Misugi sama Matsuyama.

Makasih udah review sama ngefavorite.. Mohon review lagi kalau berkenan yaa ^.^