Bahkan, aku selalu mementingkannya dari pada Sakura, kekasihku sendiri. Kami-sama, dosakah atas apa yang aku lakukan ini? Dosakah jika hatiku mulai bercabang menjadi 2? Sakura dan Karin. Aku mencintai mereka berdua.

Until The End

Naruto Belong Masashi Kishimoto

Rated T

Genre : Romance/Hurt/Comfort

"O-ohayou, Sasuke-kun." Sapa Wanita bersurai merah itu kepadaku.

"Ohayou, Karin." Jawabku tak kalah ramah.

"TEMEEEEEEEEEEEE! Kenapa kau hanya banyak bicara saat bersama Karin? Padaku saja tidak pernah! Ah Temeeee kita sudah berteman sejak di dalam kandungan tapi kenapa kau tidak pernah peka terhadap perasaanku. Teme sialan!"

"Kau menjijikan, Dobe."

"APAAA?! Sialan ka-"

"Sekali lagi kau berbicara, aku akan mengancurkanmu, Dobe." Ucapku sambil memberikan Deathglare kepada Naruto yang sukses membuat peluhnya menetes.

"T-te-teme! I-iya."

"Ayo Karin, kita ke kelas sama-sama." Ucapku, sambil berjalan dan menarik tangan Karin.

"Ah, i-iya Sasuke-kun."

"Teme! Karin! Tungguuuuuuuu~"

Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata emerald yang menatap mereka dengan pilu.

-ooOoo-

Sakura POV

"Sakuraaaa-chaaaannnnn!" Panggil gadis berambut blonde panjang yang dikuncir kuda itu kepadaku.

"Eh Ino-chan, ada apa? Ah aku tau! Pasti mau meminjam PR? " Tanyaku sambil terkekeh.

"Eheheheheh kau benar. Jadi bagaimana? Boleh tidak? Boleh yaaahhhh~" Ujar ino sambil memberikan Puppy eyes-nya kepadaku.

"Ino-chan! Jurusmu andalanmu itu sudah tak mempan lagi kepadaku. Ini terakhir kalinya aku meminjamkan PR-ku kepadamu, kamu harus berlatih untuk mengerjakan sendiri Ino-chan. Belajarlah mandiri."

"Iya iya Haruno Sakura anak emas milik Konoha High School dengan IQ 180+, disayangi para guru, daannn….."

"Dan apa, Ino-chan?"

"Dan orang paling beruntung yang bisa memikat hati Pangeran es, Uchiha Sasuke." Lanjutnya sedikit berbisik kepadaku.

"I-ino –chan! Jangan berbicara tentangnya di depan umum! Ra-rahasia ku dengannya b-bisa terbongkar, Ino-chan!"

"Ahahhahahaha..Sakura-chan mukamu memerah! Iya iya gomen, aku hanya bercanda." Ujarnya sambil mengacak-acak rambut pink panjangku.

"Hei! Ino-chan kau membuat rambutku berantakan! Huhh, aku sudah susah-susah merapikannya di rumah tadi Ino-chan."

"Ahahahhahah gomen gomen. Eh hei! Sejak kapan kau memperhatikan penampilanmu, Sakura-chan?"

"Eh? Ehhmm e-eto..a-ano..a-aku kan s-se-orang g-gadis. M-masa t-i_.."

"Sudah-sudah lupakan. Wajahmu sudah benar-benar merah Sakura-chan. Ah kawainya! Kau tau? Kau pasti terlihat sangat cantik jika dipoles sedikit."

"Itu tak begitu penting untukku Ino-chan. Lagipula aku sudah sangat nyaman dan merasa aman dengan penampilanku seperti ini. Buktinya Sasuke-kun juga menerimaku apa adanya kan?" Sahutku sambil tersenyum. Dan entah kenapa dengan refleks kepalaku menoleh kearah pintu kelasku. Dan disana aku menemukan sesosok orang yang sangat kukenal, sesosok orang yang kucintai, Uchiha Sasuke, sedang bergandengan dengan Uzumaki Karin, yang dikenal sebagai bintang sekolah, dan mendapat julukan yang sama seperti Sasuke. Yaitu 'The most Wanted'. Yahh, dan aku hanya bisa tersenyum melihatnya, walaupun sebenarnya perasaanku berkata lain.

"S-sakura-chan? Daijobu?" Tanya Ino, sahabatku dengan suara pelan.

"Daijobu, Ino-chan. Semuanya akan berjalan seperti biasa." Jawabku sambil tersenyum.

"Sakura-chan kau tak bisa seperti ini terus menerus. Aku tau kau mencintai Pangeran kutub itu. Tapi itu bukan alasan untuk mengorbankan perasaan mu terus. Aku sebagai sahabatmu sangat mengkhawatirkanmu, Sakura-chan."

"Arigatou Ino-chan atas perhatianmu. Tapi selama Sasuke-kun mencintaiku, aku yakin semuanya akan baik-baik saja."

"Iya kau benar. Ta-.."

"Ssssst sudahlah Ino-chan. Ahh 5 menit lagi akan bel? Memangnya kau sudah menyalin PR-ku, hm?" Tanyaku berusaha mengganti topic pembicaraan.

"AHHH IYYAAAAA! ASTAGA SAKURA-CHAN KENAPA KAU TAK BILANG KEPADAKU! HAH MANA-MANA BERIKAN BUKUMU SEKARANG!" Teriak Ino dengan suara yang menurutku kelewatan lantang itu hingga seluruh orang dikelas memperhatikan kami berdua dengan tatapan yang berkesan aneh.

-ooOoo-

"Sakuraaa-chaaannnn! Ayo kita ke kantin." Ajak Ino kepadaku dengan suara cerianya.

"Ah, gomenne Ino-chan. Aku sudah membawa bekal dari Okaa-chan ku, aku mau makan ke atap. Kau mau ikut?" Tawarku tersenyum mantap.

"Hahh aku kan lapar Sakura-chan. Lagipula kau hanya membawa bekal untukmu saja, kalaupun berbagi tetap saja tidak bisa mengenyangkan perutku. Temani aku ke kantin yahh yahhhhhhh..kau kan bisa makan bekalmu di kantin." Ucap Ino dengan nada memohon kepadaku.

"Baiklah-baiklah. Tapi sebagai imbalan, kau harus mentraktirku Jus apel Ino-chan."

"Huh, kau ini, mencari kesempatan dalam kesempitan. Baiklah baiklah ayoo!" Sahut Ino sambil menarik tanganku.

"Ha-ha'i!" Jawabku sedikit kaget dengan cengkraman Ino.

-ooOoo-

"Ne, Sakura-chan aku pulang duluan ya, Sai sudah menungguku. Jaa." Ucap ino sambil berlari kecil dan melambaikan tangannya kepadaku.

"Ne, Jaa-ne Ino-chan. Hati-hati!" Teriakku kepada ino sambil memasukan buku-bukuku kedalam tas disertai dengan anggukan Ino.

Selesai menata buku, aku berjalan keluar dari kelas menuju ke Halte yang berjarak 2 blok dari Sekolahku. Sesampainya disana, aku langsung menaiki bus yang kebetulan masih senggang.

'Ah ini sudah jam 1 siang kenapa masih sepi? Mungkin ini hari keberuntunganku tak perlu berdesak-desakan.' Batinku senang. Aku pun memilih duduk di barisan dekat pintu untuk berjaga-jaga jika ramai tak perlu bersusah payah berdesakan kalau sudah sampai tujuan.

Sewaktu perjalanan aku terus memperhatikan jendela bus. Aku menyunggingkan senyumku ketika melihat banyak sekali anak-anak kecil bermain di taman pusat Konoha. Ketika sedang asiknya aku memperhatikan anak-anak kecil, bola mataku berpindah memperhatikan mobil Sedan bewarna hitam dan orang yang sangat ku kenal. Siapa lagi jika bukan kekasihku sendiri, Uchiha Sasuke dan orang disampingnya Uzumaki Karin. 'Ah jadi acara yang dimaksud Sasuke-kun ini ya.' Batinku pilu. Kulihat mereka sedang menuju ke Konoha Mall, dan selebihnya lagi mereka bergandengan tangan dengan mesranya. 'Kami-sama, yakinkan aku kalau mereka hanya berteman baik' batinku meyakinkan diriku untuk tidak berfikiran negative.

Karna sudah tidak tahan lagi melihatnya, aku pun mengalihkan pandanganku kedepan. Setelah menunggu beberapa menit, sampailah aku di depan gerbang perumahanku. Setelah sampai, seperti biasa aku langsung ke rumah Sasuke-kun untuk bermain sebentar.

"Sumimasen Mikoto kaa-san." Sapaku ramah kepada wanita cantik berambut hitam panjang yang walaupun sudah berumur 35+, masih tetap terlihat awet muda.

"Ah Sakura-chan! Kau sudah pulang?" Tanyanya riang. " Loh mana Sasuke-kun?" Sambungnya cepat-cepat sambil kelimpungan tengak-tengok kesamping.

"Ah Sasuke-kun sedang ada acara dengan teman-temannya, Mikoto kaa-san." Jawabku dengan nada sewajar mungkin.

"Ah yasudah. Yuk masuk, makan siang dulu sambil menunggu Sasuke-kun." Ucapnya ramah sambil menggandeng tanganku.

"Ahh, Ha'i."

-ooOoo-

Sasuke POV

"Arigatou sudah menemaniku, Sasuke-kun. Dan juga, sudah mengantarkanku pulang." Ucap gadis berkacamata dan bersurai merah itu kepadaku sambil tersenyum manis.

"Douita, Karin. Ini sudah hampir jam 5 sore, aku pulang dulu." Pamitku kepada Karin sambil mengecup keningnya dan sukses membuat wajahnya merah semerah tomat.

"S-sasuke-kun…"

"Ahhahahah lupakan yang sudah terjadi tadi Karin, aku pulang dulu." Ucapku sambil berjalan memunggungi Karin menuju ke mobil.

"Hati-hati dijalan Sasuke-kun." Ucapnya sambil melambaikan tangan jenjangnya.

"Aa. Besok mau ku jemput?" Tanyaku sambil menghidupkan mobilku.

"Ah, baiklah."

"Bagus. Persiapkan dirimu dan bangunlah lebih awal." Perintahku. "Aku pergi dulu." Sambungku cepat lalu berlalu.

-ooOoo-

"Tadaima."

"Okaeri Sasuke-kun. Ah bagaimana acaramu?" Tanya Sakura dengan senyum manisnya.

"Apa yang kau lakukan disini?" Tanyaku. "Acaranya biasa ditempat biasa dan dengan orang yang sama." Sambungku cepat.

"Ah aku hanya khawatir padamu Sasuke-kun, makanya aku menunggumu pulang. Ah orang yang sama, apakah maksudmu Karin-san?" Tanyanya dengan suara sedikit berhati-hati, yang kutau untuk tidak membuatku tersinggung.

"Hn." Jawabku singkat. Entah bagaimana Sakura bisa tau, yang pasti aku benar-benar merasa sangat bersalah kepada gadis pinkku ini. Apa yang kulakukan selama ini, memang sudah kelewatan batas. Tapi entah, ada sesuatu yang membuatku tak bisa melepaskan mereka berdua. Aku tau aku memang egois, aku tau suatu saat pasti ada saat dimana aku harus memilih satu diantara mereka, atau bahkan saat dimana merekalah yang melepaskanku. Tapi untuk saat ini, aku benar-benar menikmati apa yang sudah terjadi.

"Oh begitu. Ah yasudah karna kau sudah pulang aku pergi dulu Sasuke-kun." Sahutnya sambil akan melenggang pergi.

"Sakura…" Panggilku pelan

"Nee, Sasuke-kun?"

"Besok aku tak bisa mengantarmu ke sekolah. Aku ada janji." Jawabku lirih tak berani menatap sepasang mata indahnya itu.

"Oh, Sasuke-kun besok akan mengantar sekolah Karin-san ya? Tidak apa-apa aku bisa naik sepeda miniku. Ah hari semakin gelap, aku harus pulang sebelum Kaa-san mencariku. Jaa-ne Sasuke-kun, oiya tolong pamitkan kepada Mikoto kaa-san yah! " Sahutnya berlari kecil sedikit berteriak dan melambaikan tangan mungilnya itu.

Aku hanya tersenyum kecil melihat kelakuannya yang memang manis itu. Dan inilah yang membuatku kagum kepada Sakura, walaupun sudah SMA tetapi dia tidak pernah malu untuk menaiki sepeda mini menuju ke sekolah. Perlahan hatiku mencelos mengingat apa yang di katakana Sakura tadi 'Oh, Sasuke-kun besok akan mengantar sekolah Karin-san ya? Tidak apa-apa aku bisa naik sepeda miniku….'

"Sakura….kenapa kau begitu baik…" lirihku pelan.

"Dia memang baik, Sasuke-kun." Potong wanita bersurai raven dan berwajah awet muda itu.

"Ka-ka-kaa-san…" Jawabku sedikit kaget dengan perkataan Okaa-sanku yang tiba-tiba muncul.

"Ne Sasuke-kun. Aku harap kau selalu membahagiakan Sakura-chan, dia benar-benar gadis polos yang begitu baik. Kaa-san tau kau menyembunyikan sesuatu dari Kaa-san, Sasuke-kun. Kepekaan perasaan seorang ibu terhadap anaknya sangatlah kuat, jadi ingat baik-baik." Ucapnya sambil tersenyum dan melenggang pergi. Aku hanya menelan ludah sambil mencerna apa yang dikatakan Kaa-san tadi. Mungkinkah ia tau apa yang kulakukan selama ini? Tapi darimana?

Hari sudah larut malam, kurebahkan tubuhku ke kasur. Perkataan Kaa-san tadi sore benar-benar memenuhi otak jeniusku ini. "Arggghhhhhhh sialannn!" geramku kesal sambil menarik bed cover yang sedari tadi masih terlipat rapi kini menjadi kucel. Ketika sedang bergulat dengan kasur, suara handphone memecah keheningan itu.

From : Karin-chan

Message : Sedang apa Sasuke-kun? Aku merindukanmu :P

Melihatnya membuatku mau tak mau menyunggingkan senyuman dan langsung menekan tombol hijau di Handphone ku untuk meneleponnya.

'Moshi moshi Sasuke-kun.'

"Kenapa kau belum tidur?" Tanyaku langsung ke inti.

'Aku tidak bisa tidur Sasuke-kun, aku terus memikirkanmu.'

"Memikirkanku?" Tanyaku heran.

'Ne, Sasuke-kun. Aku terus berpikir, sebenarnya apa hubungan kita ini? Tentu saja tidak bisa dipanggil lagi dengan sebutan Hanya berteman, kan?'

Mendengar pernyataan Karin, hatiku mencelos. Inilah saat-saat dimana akan mencapai klimaks permasalahan. "Kita bahas itu lain kali. Sekarang tidurlah besok aku akan menjemputmu pagi-pagi."

'Ah baiklah Sasuke-kun. Kau juga cepatlah tidur, oyasuminasai.'

Piiiiiipppppppppp. Dia mematikan teleponnya. 'Oyasumi, hime.' Batinku sambil meletakan handphoneku di sebelah bantalku dan beranjak untuk tidur.

-ooOoo-

KRIIINNNGGGGGG KRIINNGGGGG

Lagi-lagi bunyi Jam weaker membangunkan tidur indahku. Aku hanya mengumpat kesal sambil bergumam tak jelas. Dengan perasaan sedikit tidak rela, aku bangun dan mulai beranjak dari tempat tidurku.

"Aku benar-benar menyesal membebaskanmu dari Toko itu, Jam weaker sialan." Ucapku kesal sambil membanting pelan jam weekerku itu dan mulai berjalan menuju kamar mandi.

.

.

"Sasukeeeee-kuuuuun, cepatlah turun nak sarapan sudah siap. Sakura-chan juga ada disini, cepaat turuuuuun!" Teriak Kaa-san ku dari bawah tepatnya di ruang meja makan.

'Huh, Sakura? Bukankah aku sudah bilang tidak bisa mengantarnya?' Batinku bingung. Tidak mau membuang waktu lagi aku segera menyambar tasku dan bergegas menuruni tangga menuju meja makan. Dan BINGO! Benar-benar ada Sakura disana sedang berbicara dengan Kaa-san sambil memakan sarapan mereka masing-masing.

"Dimana Aniki?" Tanyaku seolah tak peduli.

"Ahh Sasuke-kun sudah turun. Itachi-kun sudah berangkat pagi-pagi tadi. Kemari nak, sarapanmu sudah siap. Cepatlah makan dan segera berangkat bersama Saku-chan yah." Sahut Kaa-san.

"Kaa-san hari ini a-.."

"Hari ini aku dan Sasuke-kun tidak berangkat bersama, Mikoto Kaa-san. Habis ini aku akan kerumah Ino-chan dulu untuk membantunya menyiapkan bunga-bunga pesanan karna Pemesananya sangat mendadak, Nee Sasuke-kun?" Potong Sakura cepat sambil menatap mataku yang sedari tadi hanya diam tak dapat berkutik apa-apa.

"Hn." Aku tau, aku benar-benar tau bahwa ini hanya karangan Sakura agar Kaa-san tidak marah kepadaku. Lagi-lagi hatiku mencelos, entah kenapa Moodku untuk menjemput Karin benar-benar hilang dan digantikan dengan keinginan untuk mengantar gadis pink ini. Sungguh aku benar-benar tidak tega membiarkannya mengayuh sepeda mininya ke Sekolah. Aku sering menemukan keadaan dimana ia sering di katai bermacam-macam oleh orang-orang Sekolah. Tapi bagaimana lagi? Aku sudah terlanjur janji untuk menjemput Karin dan mengantarnya kesekolah bersamaku. Tanpa berpikir panjang lagi, aku duduk di kursi meja makan yang berdekatan dengan Kaa-san dan Sakura di depanku. Tanpa menoleh untuk menatapnya langsung kusambar roti selai tomat itu dan beranjak untuk pergi.

"Aku pergi dulu, Kaa-san." Sahutku sambil berjalan tanpa menoleh kepada siapa ku ajak bicara.

"Nee Sasuke-kun, Hati-hati ya." Teriak kaa-san lembut. Aku hanya tersenyum kecil sambil melambaikan tanganku kepada Kaa-san dan berteriak "Aku akan pulang cepat nanti."

Sakura POV

"Ah, Mikoto kaa-san aku juga berangkat dulu ya. Takut nanti terlambat, Jaa." Timpal Sakura.

"Ah, eh baiklah hati-hati Sakura-chan." Jawabnya dengan senyum lembut.

"Ha'I, arigatou untuk sarapannya Mikoto Kaa-san." Sahutku cepat sambil berlari melenggang menyusul Sasuke.

"Sasukee-kuun!"Teriakku pelan saat melihat Sasuke hampir saja melenggang pergi.

"Apa?" Tanyanya dengan nada sedikit ketus yang membuatku benar-benar terlonjak mendengarnya. Aku menarik nafas dalam-dalam dan berbicara dengan nada sewajar mungkin.

"Tidak apa-apa. Oiya Sasuke-kun, Rabu depan apa kau ada acara?" Tanyaku sedikit hati-hati.

Kulihat dia sedang berpikir sejenak. Lalu kemudian menjawab.. "Sepertinya tidak. Mengapa?"

Aku yang sedari tadi berpeluh karna takut tiba-tiba benar-benar merasa lega mendengar jawabannya. "Etto..aku mau mengajak Sasuke-kun ke suatu tempat. Apa kau mau? Ah tapi sungguh aku benar-benar tidak memaksa kok, jika Sasuke-kun ada acara dengan teman-teman bilang saja aku mengerti."

"Sudah kubilang tidak ada acara kan. Aku ikut denganmu, aku pergi dulu." Jawabnya menyunggingkan senyum tipis lalu kemudian langsung melenggang pergi. Entah kenapa, senyum itu, senyum yang benar-benar sudah lama tidak aku lihat.

Lama aku terbawa suasana, aku refleks menggeleng-gelengkan kepalaku. Kulirik jam tanganku, dan betapa terkejutnya aku jam menujukan pukul 06:40, tanpa pikir panjang aku langsung berlari menuju ke sepeda miniku berada, aku menaikinya dan kemudian ku genjot dengan sekuat tenagaku. 'Kami-sama, aku benar-benar terlambat! Astaga jam pertama Oro-Sensei, aduhh Kami-sama selamatkan akuuu!' Runtukku dalam hati.

Seperjalanan otak pintarku ini hanya terus memikirkan betapa mengerikannya wajah Oro-sensei jika ada murid yang terlambat di kelasnya. Melihat wajahnya yang pucat dengan lidah yang sangat panjang seperti ular itu saja benar-benar sudah membuat peluh di jidatku berceceran, apalagi jika aku mendapat hukumannya. Astaga benar-benar tak bisa ku bayangkan.

Ketika aku sudah bisa melihat gedung sekolahku, aku benar-benar bertambah semangat, ku kayuh dengan kecepatan tinggi sepedaku ini. Tapi tiba-tiba dari arah berlainan, muncul mobil sedan hitam dan..

Ckiiiiiiiiiitttttttttt

"Kyaaaaaaaaaa!"

BUGHHHBUGHHH

"Sasuke-kun, apa kita menabrak seseorang?"

"Entah, Karin. Coba kita cek." Sahutku sedikit panik.

Sasuke POV

Entah kenapa perasaanku benar-benar resah. Tanpa pikir panjang aku langsung keluar dari mobil dan betapa terkejutnya aku melihat gadis bersurai pink tergeletak tak berdaya. Darah merembes di seluruh inci tubuhnya. Aku yang melihatnya benar-benar Shock,

"Sa-sakura…."