Kalender yang menggantung di ruangan itu menunjuk ke lima bulan setelah kecelakaan yang mereka alami, bergerak tertiup angin usai debaman pintu terdengar sekian menit lalu. Kim Seokjin berusaha berpikir keras sekali lagi, semampu yang otaknya raih, tetapi ia tak menemukan apa-apa kecuali kenyataan yang dalam sekejap mata menghancurkannya.

Pedih itu tidak kunjung pergi meski lima bulan terlewat dan ia telah dibebaskan dari keharusan rawat di bangsal pesakitan. Seokjin tidak punya cukup kekuatan untuk bersyukur atas hidup kedua yang ia terima, sebab dalam setiap tarikan napas yang ia hembuskan, Kim Yukhei bersemayam jauh, jauh sampai-sampai Seokjin merasa ia tidak lagi memiliki alasan untuk melanjutkan hidup.

Kecelakaan tunggal yang mereka alami telah merenggut banyak apa yang menjadi miliknya; Kim Yukhei—anaknya, dan Kim Namjoon—hidupnya. Di depan gundukan tanah kecil itu, Seokjin bertanya mengapa hanya ia yang diberikan hidup, mengapa bukan Yukhei? Bukan Namjoon?

"Seokjin-ah?"

Jin Hyosang berdiri di sana, menemaninya dan menjadi pendongeng untuk seluruh kejadian yang Seokjin lewatkan sebab terbaring koma di ranjang rumah sakit dalam hitungan bulan. Dari lelaki itu pula ia mengetahui Yukhei telah pergi darinya, Namjoon telah jauh darinya. Ia tidak punya apa-apa lagi sekarang, tidak ada.

"Nyonya Kim mengirimkan ini untukmu." Yang Hyosang maksud sebagai Nyonya Kim adalah Ibu Namjoon, perempuan yang berdiri paling depan dalam mencegah perasaan mereka sejak tahunan lalu, satu-satunya alasan Namjoon memutuskan keluar dari rumah dan memilihnya, memulai semuanya dari awal. Membuang jauh-jauh keinginan ayahnya, dan menggenggam Seokjin tanpa pernah melepaskan.

Tetapi Seokjin tidak punya apa-apa lagi, kekuatannya raib. Alasannya bertahan hidup pupus. Yang tersisa dari dirinya hanya ingatan-ingatan dan rasa kehilangan yang terus menyedot habis tubuhnya.

"Hyung, kita pulang, ya. Sebentar lagi akan hujan, Hyung bisa sakit."

Seokjin baru mengetahui kenyataan bahwa hidup benar-benar busuk setelah membaca apa yang Hyosang berikan kepadanya, yang ibu mertuanya kirimkan untuknya. Seolah belum cukup semua yang terjadi kepadanya datang sebagai hukuman, surat perceraian yang bertanda tangan asli Namjoon menjadi sayatan baru, melukai dadanya dari dalam.

Seokjin telah kehilangan anaknya, Namjoon-nya, dan ia baru saja kehilangan dirinya sendiri. Atas pilihan-pilihan yang ia ambil, Tuhan datang dengan kedua lengannya memberi penghakiman.

"Akan aku tandatangani sekarang juga."

Pelukan Kim Jungkook dan genggaman kuat Jin Hyosang untuknya, tak pernah sekalipun mampu mengembalikan hidup yang terserap habis darinya.


.

.

[saudade | NamJin's Fict | Multichapter]

.

.

.

chapter II

between—

.

.

.

.

.


Hari menjelang sore ketika langkah Kim Namjoon memasuki pekarangan rumah ibunya yang lurus memanjang. Keadaan sepi, tetapi beberapa mobil terlihat memenuhi garasi dan itu membuat Namjoon buru-buru berlari ke pintu.

Lama ia berdiri di sana, memikirkan kemungkinan buruk yang terasa benar mengenai keadaan ibunya. Tiba-tiba rasa takut itu berkilat di dadanya, di matanya, yang segera ia tepis dengan mendorong daun pintu di hadapan tanpa benar-benar memikirkan mengucap salam.

"Ibu!" Namjoon tidak mendapati ibunya di ruangan besar yang tembok-temboknya dipenuhi mural, melindungi lorong panjang itu dari pemandangan sepi. Lama Namjoon terdiam, memikirkan kalau-kalau ibunya sungguh sekarat. Jika benar ibunya jatuh sakit karena dirinya memilih keluar dari rumah, Namjoon betul-betul akan menyesal. "Ibu?!"

Di ujung lorong, yang langsung mengantarnya ke ruang keluarga, sayup-sayup Namjoon mendengar suara ibunya. Ibunya berkata pelan, tetapi lorong yang senyap membuatnya bisa mendengar dengan jelas. Dari suara ibunya yang ringan, pikiran bahwa ibunya baik-baik saja membuat Namjoon lega. Kelegaan itu memenuhi dirinya dan semakin besar ketika langkahnya yang lebar kian mendekat ke ruang keluarga.

Namjoon membuang napas, perasaan-perasaan buruk mengenai keadaan ibunya berangsur pudar. Kini bisa ia dengar suara-suara lain yang bergabung di ruang keluarga itu, yang ia duga sebagai rekan bisnis ayahnya. Ia mengintip dari sisi ujung pintu, tampak enam orang pasangan suami-istri sedang tertawa, lalu ibunya—ibunya terlihat baik-baik saja, wajahnya cerah berseri dan sangat bugar. Namjoon mengeryit, separuh merasa heran, separuh merasa senang. Tetapi bagaimana bisa ibunya nampak sangat baik-baik saja saat ini padahal pagi tadi suaranya ibunya terdengar rapuh?

Namjoon baru akan mengetuk pintu ketika tiba-tiba didengarnya suara laki-laki, datang dari arah punggungnya, "Kenapa tidak masuk?" Namjoon berkedip, sekali, dua kali. Tetapi wajah ayahnya tidak pernah bisa ia alihkan begitu saja. Seolah paras itu diciptakan memang bukan untuk dilupakan Namjoon.

Ayahnya berkata lagi, "Kau tidak akan masuk? Tidak mau bertemu ibumu?"

"Ibu baik-baik saja," Pernyataan dari Namjoon terdengar menggantung, membuat spasi di antara kedua alis ayahnya berkerut samar. Ia langsung menambahkan sebelum ayahnya sempat menyahut, "Maksudku, ibu mengatakan sedang sakit dan aku seperti orang kesetanan ke sini hanya untuk melihat keadaannya. Kupikir—"

"Ibumu melakukan hal yang benar," ayahnya berkata di detik yang sama. "Kau tidak akan mau pulang kalau kami sehat-sehat saja, kan?"

"Ayah—"

"Ibumu sedang menyiapkan pernikahan untukmu, Namjoon. Kalau kau sekhawatir itu terhadap kami, kenapa tidak kaubuktikan baktimu dengan menuruti apa yang kami inginkan?"

Namjoon merasa ada sesuatu yang salah baru saja terjadi. Bukan dari ucapan ayahnya atau situasi yang terasa tidak asing baginya—ini seperti pernah terjadi. Tetapi Namjoon merasa belum yakin. Ia merasa kalimat ayahnya pernah ia dengar, hingga hampir ketika ayahnya mengucapkan seluruhnya, Namjoon bisa menebak ke mana kata-kata itu berujung. Ini seperti déjà vu, tetapi ketika ia mencoba mengingat, sesuatu yang menyakitkan tiba-tiba saja menghantam kepalanya, menerjang dengan kuat, dan membuatnya kehilangan orientasi.

Namjoon…? Namjoon…? Yukhei…?

Kita akan berlibur, Dad?

Apa pun yang jagoanku inginkan.

Dan kau tahu persis kau pasti mendapatkan apa yang kau inginkan, Jin.

Dad?

Namjoon?

Namjoon?

Kim Namjoon.

"Namjoon?"

Ketika Namjoon membuka mata, yang pertama kali sampai kepadanya adalah tatapan cemas ayahnya, dan ibunya yang sudah berdiri di sampingnya, memegangi bahunya dengan gestur memeluk, terdengar terlampau panik. Dan orang-orang yang berkumpul di sekitarnya.

Namjoon berusaha menajamkan penglihatan hingga melawan rasa pening sekuat yang ia bisa, segalanya terasa kacau dan luar biasa menyakitkan, seperti baru saja ada seseorang yang melemparkan batu besar tepat ke tempurung kepalanya dalam keadaan terjaga. Kemudian yang ia dapati adalah tangannya yang terkepal kuat berpegangan ke sisi pintu, juga ke ibunya, dan amat terasa kebas.

"Namjoon, kau baik-baik saja? Namjoon, katakan sesuatu, Nak. Kepalamu sakit? Tubuhmu gemetar. Wajahmu pucat. Dokter, kita butuh dokter. Segera panggil—"

"I-ibu?"

Namjoon mengikuti arahan ibunya untuk duduk sementara ingatannya menggali nada yang sama persis dengan suara yang berbunyi di kepalanya, dan ia yakin itu bukan suara ibunya. Suara ibunya tidak terdengar menyakitkan, tidak parau, tidak rapuh. Dan itu juga jelas bukan suaranya ayahnya. Namjoon tidak ragu sama sekali tentang itu.

"Namjoon, akan ibu buatkan teh. Tunggu sebentar, ya."

Buru-buru Namjoon mendapatkan lengan ibunya untuk ia genggam, lalu ia mencari-cari mata ibunya—salah satu hal yang Namjoon percayai untuk menguatkan diri. Ada perasaan takut, juga rasa pahit yang tahu-tahu tersulut di lidahnya, ia mulai merasakan matanya berair, tapi ia tidak tahu kenapa. Dalam keadaan yang membingungkan, Namjoon menelan ludah, menarik napas dalam-dalam untuk menguatkan diri—meskipun ia sendiri tidak yakin untuk apa—sebelum berkata ke ibunya, "Ibu … siapa Yukhei?"

Entah hanya perasaannya saja atau memang ini kenyataan, Namjoon seperti melihat pupil ibunya membesar terkejut, dan air muka wanita itu langsung berubah. Apakah itu kemarahan atau kecemasan, Namjoon tidak yakin. Hanya saja bisa ia dengar serentet kalimat ayahnya, yang tegas, yang berdengung saling tumpang tindih menembus ke dalam pikirannya. Berkecamuk.

Namjoon ingin menjawab, ingin mendengar dengan jelas. Tetapi ia bisa merasakan perlahan-lahan rasa sakit di kepalanya merayap turun, ke dadanya, ke seluruh permukaan kulitnya, kemudian tidak lama setelah itu kegelapan datang.


saudade


Kim Seokjin menolak Hyosang yang menawarkan diri untuk mengantarnya kembali ke apartemen. Ia mengatakan kepada lelaki itu untuk tidak khawatir secara berlebihan, karena bagaimana pun, Seokjin adalah laki-laki dewasa yang bisa menjaga diri sendiri. Lagi pula, ia memang sedang tidak ingin kembali ke apartemen. Jadi Seokjin membiarkan kedua kakinya melangkah ke mana suka.

Hanya saja, yang tidak bisa ia prediksi adalah tujuan akhir ia berhenti. Pintu ruang rawat inap di sepanjang lorong itu berwarna monoton, dengan masing-masing pintu tertutup rapat. Seolah Seokjin memang tidak seharusnya berada di sana. Meski begitu, ia tetap melangkah memasuki selasar rumah sakit, hingga ia berdiri tepat di depan pintu ruangan terujung.

"Hyung?"

Seokjin baru saja meletakkan sebelah tangan di atas kenop ketika sebuah suara menginterupsi. Itu Kim Taehyung, mahasiswa magang yang baru masuk beberapa waktu lalu sebagai juniornya. Seokjin tersenyum datar, dan mengangguk balik sebagai balasan atas sapaan tersebut. Satu-satunya alasan ia memutar kenop dengan cepat adalah ekspresi cerah Taehyung yang sudah terbaca jelas—anak itu bisa jadi akan membuat keadaannya semakin keruh—ia sedang tak ingin bicara dengan siapa pun sekarang. Jadi Seokjin meninggalkannya.

Aroma desinfektan, warna putih pucat, dan bunyi mesin pendeteksi denyut jantung menyambut Seokjin begitu langkahnya melewati pintu. Keadaan ibunya yang terbaring koma sama sekali tidak bisa menyelamatkan Seokjin dari keinginan untuk menangis—atas apa yang terjadi hari ini, juga untuk rasa bersalah yang kembali mampir. Seokjin tidak cukup berani untuk sembunyi dari keadaan ibunya.

Tahun demi tahun ibunya terbaring di kamar ini, tetapi belum pernah Seokjin merasakan dorongan gelombang sedih sekuat ini yang mendesak di pelupuk matanya. Tuhan begitu adil. Ketika ia memutuskan meninggalkan ibunya, ayahnya, keluarganya, Tuhan yang baik datang dengan penghakiman yang tak pernah bisa ia bayangkan. Seokjin meninggalkan orang-orang yang mencintainya, dan sebagai hukuman, Tuhan mengambil orang-orang yang ia cintai.

Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Ia berkata itu untuk dirinya sendiri, selalu, setiap hari, terus-menerus, hingga ia pikir stok baik-baik saja yang ia miliki mulai habis. Seokjin jatuh terduduk di sisi ibunya, kedua bahunya terasa melorot. Digenggamnya jemari ibunya dengan sepelan mungkin, seolah jemari ibunya adalah benda paling rapuh di dunia, yang akan hancur apabila terkena guncangan sekecil apa pun.

"Ibu…," Seokjin merasa seakan ada duri yang melekat di tenggorokannya hingga hampir menyebut nama ibunya saja terasa begitu sakit. Memejamkan mata sejenak, Seokjin meraup udara dalam-dalam. Setiap kalimat yang akan diucapkannya seakan bagai sayatan sebuah belati.

Kim Namjoon. Nama itu berkelebat dan seketika mengoyak pikirannya.

"… apa yang harus aku lakukan sekarang? A-aku sudah pergi sejauh mungkin, bekerja sekeras mungkin, dan sebanyak mungkin kuhabiskan waktu di rumah sakit ini. Tetapi kenapa ibu…? Kenapa aku masih melihat Namjoon di mataku…? Kenapa dia masih bisa menemukanku…? Kenapa…? Kenapa semua ini terasa begitu sulit…?"

dan menyakitkan?

"Ke-kenapa dia masih berkeliaran di luaran sana sementara hanya aku yang bersembunyi dari semua ini…? Kenapa…?"

Bunyi konstan mesin pendeteksi denyut jantung terdengar semakin parau di telinga Seokjin. Detik itu, ia menangis.


saudade


Masa depan Kim Seokjin sudah tercancang sedemikian rupa sejak usianya masuk ke jenjang sekolah menengah pertama. Meski begitu, Seokjin tidak pernah merasa terbebani. Ia memiliki keluarga yang hangat, adik yang baik dan teman-teman yang menyenangkan. Hidup Seokjin remaja terasa sempurna kala itu. Sebelum cita-citanya sebagai seorang pilot tidak pernah mendapatkan perhatian. Namun Seokjin tidak pernah berhenti berusaha.

Bagi keluarga Kim—terutama ayahnya—Seokjin sudah terlahir sebagai penerus. Pewaris tunggal rumah sakit Kim Yoonsang. Sebagai sulung keluarga Kim, Seokjin berhasil menghilangkan rasa kecewa dirinya sendiri dan sandiwaranya selalu berakhir manis ketika sebagian besar relasi ayahnya memuji pengetahuannya dalam dunia medis—Seokjin usia enam belas tahun, tahun-tahun awal sekolah menengah atas, tidak pernah terpisah dari buku tebal—yang tidak pernah ia cintai.

Dan pelan-pelan, pemberontakan itu tumbuh diam-diam dalam dadanya. Ia tidak lagi berteman dengan buku-buku doktoral, menjauhi rumus-rumus kimia, dan mulai mengenal nikotin. Tidak pernah membayar belanjaan di supermarket, dan belajar merogoh saku mantel siapapun yang ditabraknya tanpa sengaja di jalanan. Perubahan itu berangsur terus-menerus, menggerogoti dirinya. Lupakan cita-cita, lupakan hidup, lupakan keluarga—yang harmonis.

Sampai kemudian bajingan itu berdiri di sana, tepat di depan matanya—Kim Namjoon, Seokjin lebih senang memanggilnya begitu. Puncak remajanya ia habiskan dengan membiarkan Namjoon memasuki hidupnya. Anak baru bodoh yang berambisi menjadi polisi, menangkap orang-orang jahat, tetapi tak pernah protes begitu tahu Seokjin kadang menipu. Orang paling idiot yang Seokjin kenal hingga jenjang perguruan tinggi.

Seokjin baik-baik saja meskipun ia merasa bodoh telah membiarkan si idiot Namjoon menjadi satu-satunya orang yang bebas berkeliaran di sekitarnya. Membiarkan lelaki itu bersikap seenaknya hanya untuk membuat waktu terasa jauh melamban, membuat matahari terasa satu tingkat lebih cerah, dan membuat semua kekacauan di hidupnya mereda—dan cita-cita yang tak pernah tercapai terlupakan sementara.

Semuanya masih baik-baik saja. Hingga perasaan tabu itu datang. Menghampiri mereka tanpa benar-benar bisa mereka cegah, tanpa sungguh-sungguh ingin mereka hindari. Diam-diam hidup dan mekar seperti bunga pohon palem di belakang kampus. Sampai Seokjin berpikir ia akan mati kalau Namjoon pergi keluar dari hidupnya.

Dan itu adalah sebuah kebenaran, ketika Seokjin bertaruh keluar dari hidup mereka, ia sempat menebak-nebak, apakah Tuhan sungguh-sungguh lupa ketika menempatkan namanya untuk berjalan di garis seperti ini?

Tidak akan ada lagi Kim Namjoon, terasa jauh tersamar.


(tbc)