CHAPTER 2
.
.
Changmin mulai merasa yakin dirinya terserang sindrom pink.
Dia ingat mengalami kegelisahan akut tapi gampang bahagia saat mengalami cinta pertama saat awal SMA. Sekarang rasanya juga sama persis. Tapi kenyataan bahwa itu terjadi untuk Yunho membuat Changmin semakin gelisah dan malah berujung uring-uringan.
Galau.
Kegalauan itu pun mempengaruhi latihan Changmin seiring dekatnya waktu comeback.
Comeback kali ini sangat penting untuk masa depan Changmin. Untuk pertama kalinya ia akan memulai karir sebagai artis solo setelah direpotkan riuhnya perpisahan. Tekanan yang tinggi ditambah galau benar-benar paduan sempurna untuk membuat Changmin jutek dan berimbas pada sekitarnya. Termasuk Yunho tentunya.
Saat latihan Yunho dibuat bingung walau ia sering diingatkan semua staff kalau Changmin itu punya mood swing yang fenomenal. Selama 3 bulan kerja bareng Yunho tak pernah merasa mood Changmin sangat buruk dan bersikap menyulitkannya, namun kali ini beda. Tiba-tiba saja Changmin datang telat, baru latihan sejam sudah minta selesai, tidak mau melakukan kontak mata saat mendengar arahannya dan mengulang kesalahan lebih banyak dari biasanya.
Sekarang Yunho sudah tidak tahan lagi.
Dia dikejar deadline. Hidup matinya. Jika gagal dia harus gantung sepatu dan berjuang lagi mencari tempat baru. Lagipula ini kesempatan pertamanya masuk tim koreografer utama di agensi paling besar di Korea. Gagal atau setengah-setengah tidak ada dalam opsi hidupnya saat ini. Nasibnya esok hari tergantung Shim Changmin jadi ia merasa ini harus segera diselesaikan.
"Changmin, aku mau bicara sebentar denganmu."
Yunho memberanikan diri mengajak berbicara empat mata saat istirahat latihan. Changmin pun mengekor Yunho dengan malas untuk masuk ke bilik kecil di pojok studio latihan. Dia sudah tahu saat seperti ini akan tiba. Dia sadar mood swing-nya akhir-akhir ini memang parah.
Bilik itu hanya seluas ruang ganti baju di mall, karena memang difungsikan demikian alias darurat. Changmin menahan nafasnya ketika Yunho menutup tirai bilik itu hingga sepenuhnya terhalang dari keramaian studio yang dipenuhi back dancer dan beberapa staff. Berdua dengan Yunho yang hanya berjarak kurang dari 30 senti dengan dirinya membuat Changmin merasa campur aduk. Ingin lari tapi juga ingin menyentuhnya. Jadi dia memilih memasukkan kedua tangannya ke kantong celana, yang membuat Yunho semakin sebal.
"Sebenarnya ada apa? Hari ini latihan terakhirmu tapi kenapa malah berantakan? Besok kamu sudah syuting MV," Yunho mengatakannya dengan nada selembut mungkin namun serius. "Atau kamu sedang tidak enak badan?"
Changmin ingin sekali menyuarakan memang dia sedang "sakit" dan penyebabnya adalah yang bertanya!
"Aku memang capek sekali. Tidak sakit, tapi memang sulit konsentrasi."
"Kamu masih bisa bertahan kan? Berusahalah fokus."
"Entah…."
Kedua tangan Yunho tiba-tiba memegang kepala Changmin dan mengarahkan pandangan itu tepat di depan matanya. "Please, bertahanlah hari ini saja. Mari kita saling membantu. Oke?"
Changmin membeku dengan kontak fisik di luar dugaannya itu dan mengangguk seperti robot. Jarak wajah mereka masih terbilang jauh tapi tetap saja itu mencuri nafas Changmin beberapa detik. Saat itulah Yunho baru tersadar dengan apa yang dilakukannya. Matanya membulat, terkesiap kaget.
"Maaf! Aku tidak sengaja! Maafkan aku," ucap Yunho keras karena panik sambil menarik tangannya. "Aku benar-benar minta maaf."
Changmin tersenyum geli melihat Yunho yang jadi salah tingkah karena merasa bersikap kurang ajar. "Kwenchana hyung. Tidak apa-apa kalau itu kamu," mata Changmin membentuk bulan sabit yang asimetris.
"Ayo kita latihan lagi saja. Pasti aku tadi sudah membuang banyak waktu."
Yunho sesaat terkesima melihat senyum membuatnya lega itu, tapi Changmin tak menyadarinya karena sibuk menata perasaannya sendiri. Berusaha tak menyentuh pria itu dengan alasan apapun. Tapi cukuplah kontak fisik sesaat ini lebih dari cukup membuat moodnya secerah langit setelah hujan. Tiba-tiba ia seperti terlahir dengan energy baru ketika keluar dari bilik dan berhasil membuat kaget semua yang ada di studio.
"Ngapain kalian semua? Ayo latihan lagi!"
Latihan yang sempat diwarnai prahara itu akhirnya selesai juga menjelang tengah malam. Yunho lega semuanya lancar dan kemungkinan sepatunya dilempar ke luar gedung berkurang drastis. Tapi entah kenapa dia masih merasa tak enak telah bersikap sembarangan pada Changmin.
"Changmin-shii."
"Aish! Kenapa masih saja memanggilku –shii? Changmin-ah juga tidak apa-apa hyung."
Yunho hanya nyengir kering sambil menatap Changmin membereskan tasnya. "Setelah ini kamu mau kemana?" akhirnya dia memberanikan diri bertanya.
"Wae? Mau mengajakku keluar?"
"Iya sebenarnya."
Changmin kaget sendiri. Apa dia baru saja menyelematkan nyawa kucing? Hari ini dia dua kali dapat jackpot. Tentu saja kesempatan ini disanggupinya. "Makan? Kamu traktir kan hyung?"
"Anniyo," jawab Yunho refleks mendengar susunan kata makan dan traktir. Dia sudah melihat sendiri betapa mengerikannya daya tampung perut Changmin yang bisa membuatnya jual tanah warisan. "Eh, maksudku ayo kita keluar tapi minum saja. "
"Hahahaha…santai saja hyung. Pokoknya minumnya kamu bayari kan."
Akhirnya Changmin dan Yunho nongkrong di kafe tidak jauh dari gedung agensi dengan baju seadanya, yang penting mereka sudah mandi. Changmin sebenarnya mengajak minum soju tapi Yunho larang karena besoknya harus syuting sejak pagi. Dia tahu Changmin tidak gampang mabuk tapi sedang tak ingin ambil resiko saja dan untungnya menurut. Yunho memang merasa sangat bertanggung jawab penuh dengan proyek ini.
Alhasil sekarang Changmin dan Yunho duduk berhadapan di coffeshop saat jam baru saja melewati tengah malam. Changmin minum caffe latte sedangkan Yunho masih setia dengan jus strawberry.
"Wow….kamu sangat menjaga kesehatan ya."
"Aku dulu juga minum kopi tapi lambungku bermasalah jadi kuganti dengan jus."
"Aku dulu malah tidak suka kopi. Membaui aromanya saja sudah mual. Tapi ya memang semua orang berubah," Changmin mengaduk-aduk sambil memandangi gelas plastiknya. "Kita semua berubah. Kamu juga hyung."
Detik itu juga Yunho kembali waspada. Perubahan mood Changmin yang fenomenal kembali datang dengan mendung lebih tebal. Yunho berusaha bersikap santai walau waspada dengan arah pembicaraan Changmin yang entak akan kemana lagi. Sejujurnya Yunho tidak suka membahas masa lalu. Hal itulah yang menyebabkannya memilih memulai hidup dari nol di Seoul daripada tetap di Gwangju. Jadi dia memutuskan tidak menanggapi pembicaraan Changmin itu.
Hening yang canggung menyelimuti keduanya. Antara seperti menunggu seseorang yang berbicara namun tak bisa bicara.
"Hyung tidak ingin debut jadi artis?" tanya Changmin pada akhirnya dengan nada terdengar serius di telinga Yunho. Pria dengan rambut coklat terang sebahu itu langsung menggeleng. "Kurasa itu terlalu merepotkan."
"Aku tidak keberatan jika membuat duo denganmu. Sepertinya akan keren."
"Eh? Aku tidak bisa menyanyi," Yunho mendadak merasa salting. Pembicaraan ini terkesan terlalu serius baginya. Namun Changmin hanya memutar bola matanya.
"Tampak keren itu sudah cukup hyung. Suara itu bisa diatur dan dipoles. Kamu itu cukup keren untuk debut jadi artis. Paling mereka akan menyuruhmu diet."
"Aku tidak suka jadi pusat perhatian. Aku sudah senang jadi dancer. Impianku sejak kecil memang jadi dancer seperti sekarang ini," ucap Yunho santai. "Syukur sih bisa punya sekolah bakat atau dance."
Changmin yang sedari tadi serius menatap Yunho tajam merasa seperti tertampar. Mengingatkannya pada kenyataan bahwa dia tidak memiliki semua itu. Jujur, Changmin merasa iri dan agak sebal melihatnya.
"Bahkan aku tidak punya impian. Jadi artis pun bukan keinginanku. Tiba-tiba terjadilah seperti ini," Changmin mengatakan sambil tersenyum sinis mengaduk kopinya. Baginya itu ironis.
"Tapi kamu bahagia kan?"
Changmin menatap Yunho dengan ekspresi tidak tertebak. "Mungkin."
Yunho merasakan hawa canggung kembali menyusup diantara mereka, menyesali diri salah bicara. Mereka lalu hening melihat jalan di luar jendela besar. Sudah tengah malam tapi kota masih ramai kendaraan, bahkan pejalan kaki. Ibu kota memang tidak pernah tidur.
"Bahkan sejak debut, entah berapa tahun lalu itu, aku tidak berani duduk di dekat jendela seperti ini kalau berada di luar," Changmin masih memandang ke luar namun tahu Yunho menunggu kelanjutan kisahnya. "Aku merasa selalu dikuntit, bahkan ketika benar-benar tidak ada satupun yang mengikutiku."
Yunho yakin saat itu, meski hanya sekilas, Changmin memberinya tatapan sangat terluka.
" Ah, tapi itu kuanggap sebagai resiko pekerjaanku."
Yunho cukup kaget ketika Changmin malah tersenyum lebar saat mengatakan kalimat terakhir itu. Sekali lagi ia merasa penyanyi yang lebih muda 2 tahun darinya itu sebagai sosok yang jauh tak terjangkau. Perubahan emosinya yang tak tertebak membuat Yunho selalu merasa tak tahu harus bersikap bagaimana. Dia tidak suka itu.
Yunho tidak suka orang yang tidak bisa ia tebak.
Meski kadang-kadang canggung tapi acara minum di kafe itu berlangsung lebih lama dari dugaan. Karena untungnya setelah itu Yunho bisa mengalihkan perhatian Changmin untuk membicarakan hal lainnya yang lebih menyenangkan. Mereka baru keluar dari sana setelah tengah malam, itu pun diingatkan Yunho soal jadwal syuting MV di pagi hari. Jika tidak mungkin mereka begadang di sana.
Esok harinya tentu saja Changmin datang dengan semangat meluber.
Full charge.
Syuting hari pertama berlangsung lancar, Changmin cerah ceria dan pintar sehingga syuting bisa selesai sedikit lebih awal. Dulu dia adalah biangnya NG untuk shoot bagian dance, tapi sekarang semua staff melongo melihat betapa sempurnanya gerakan Changmin. Bahkan Yunho melontarkan pujian yang membuat Changmin semakin riang.
"Good job! Sering-seringlah seperti ini," puji manajer-shii pada Changmin saat mereka berjalan menuju van untuk pulang. "Biar aku bisa pulang cepat juga, hehehe."
"Kalau begitu besok aku akan lebih lama ah…" sahut Changmin usil saat menghempaskan tubuhnya di jok mobil yang langsung melaju arah pulang ke apartemennya. Sang manajer pun hanya memberikan tatapan malas yang membuat Changmin terkekeh.
Hari ini Changmin merasa senang bisa bekerja bersama orang yang disukainya. Baginya ini hal baru karena dia tidak pernah cinlok sebelumnya and it's feels so damn good. Ia sama sekali tidak merasa lelah walau koreografinya bisa membuatnya terserang encok. Melihat Yunho mengawasi dengan serius membuat pria itu terlihat sangat tampan di mata Changmin. Bahkan Changmin sudah tidak peduli jika seharian tadi dia begitu kentara menempel dan melihat Yunho terang-terangan selama syuting berlangsung.
Tapi reka ulang adegan indah saat syuting tadi tidak bertahan lama karena manajernya. Sebuah tablet disodorkan manajer-shii pada Changmin.
"Fans mulai bertanya-tanya soal Yunho."
Changmin hanya memberikan tatapan bingung sekilas kemudian melihat layar tablet itu. Di sana ada fotonya semalam saat minum di kafe bersama Yunho. Ada beberapa foto yang salah satunya sedang duduk di dalam kafe dan berjalan balik ke kantor, tanpa satupun pose mencurigakan. Benar dugaannya, pasti masih ada yang mengikutinya walau selarut itu.
"Banyak yang heran kalian, eh maksutku kamu, bisa seakrab itu dengan orang yang belum mereka lihat sebelumnya."
Changmin langsung menyingkirkan tablet itu tanpa membaca satupun komentar di sana, tidak seperti yang biasa ia lakukan. Ia menghela nafas jengah. Fansnya rese sekali, sama saja dengan netizen dan antis, apa mereka harus tahu atau kenal dengan semua yang jalan dengannya? Ibunya yang melahirkan dan membesarkannya saja tidak bersikap begitu.
"Mungkin besok kamu bisa selca dengan Yunho untuk di…"
"Nggak perlu," potong Changmin ketus. Moodnya sekarang terjun bebas. Mendadak Changmin merasa harus melindungi orang yang paling disayanginya itu. "Ini bukan urusan mereka."
"Tapi ini bukan hal yang buruk Min. Anggaplah sebagai…"
"Tidak. Aku tidak mau hidupnya nanti repot karena jadi temanku," Changmin teringat ekspresi tulus dan sikap menyenangkan Yunho saat bersamanya. Ia tidak akan mengijinkan itu hilang karena serangan fans dan netizen yang ngawur. Pasalnya, sudah beberapa kali dancer dan coordi-noona dikritik fansnya. Kritikan yang sama sekali tidak penting pula.
Manajer-shii masih terdiam karena ia tahu Changmin kali ini tidak main-main. Biasanya agensi sengaja mengumbar foto Changmin akrab dengan dancer atau staff untuk membangun imej baik di mata fans. Hanya Yunho yang belum pernah karena memang baru saja bergabung. Rencananya memang ketika MV rilis dan mulai promosi, mereka akan "mempublikasikan" Yunho.
"Hyung-nim…" panggil Changmin yang membuat manajernya berhenti mengarang kalimat rayuan dalam kepalanya. "Aku ingin Yunho sebisa mungkin disembunyikan dari kamera. Apapun kata fans, kalian jangan memperkenalkannya ke publik."
Tanpa menunggu jawaban manajernya, Changmin memejamkan matanya untuk tidur. Manajer-shii tahu itu artinya Changmin pantang dibantah.
.
.
*TBC*
Author's note:
Gomawoyo untuk yang sudah memberikan komentar dan dukungannya ^^
Bagi yang masih saja menanyakan apakah ini benar-benar akan kubikin sebagai Min-Ho jawabannya masih sama alias iya. Untuk yang merasa keberatan silahkan tidak usah membaca ini demi kenyamanan bersama. Terima kasih atas pengertiannya :)
Mian kalo update chapter ini pendek. Rencananya next chapter bakal panjang jadi update mungkin setelah lebaran saja yach #kabur
