A/N: Karena reviewers-nya banyak yang anon, jadi maaf banget baru bisa dibales lewat update-an chapter. Sorry, Cel, malah gua (Megs) yang bales reviewnya... hehe... peace yo sis. Kan udah keburu ngebet pengen di-publish XD

ayako: Hemm... memang seharusnya genre-nya misteri sih haha. Sipsip ini sudah dilanjutin kok! Keep reading ya!

kumorigetsuyoubi : Wah, sayangnya doujin itu saya baru pertama kali denger, dan saya rasa Celtic juga belum pernah baca(iya kan, Cel?). Maaf banget nih, Kumori-san. Saya sebagai spell-checker agak ngelantur nih kerjaannya, hehe. Lain kali nggak kok, janji. Makasih udah ngingetin ya!

ReiyKa: Duh makasih ya udah baca + review (thumbs up), tapi ini Suzalulu... bukan Lulusuza. XD tuh Cel, disemangatin buat ngelanjutin fic-nya. Ayo cepet selesein chapter 3! (bawa pecut— jk)

Ve: (sambil pake topeng wajah Celtic) Makasih, makasiiih banyak! Pasti laah dilanjutin, kan saya rajin... gak kayak Megs yang kena WB muluk haha. Makasih ya udah review!


Chapter 2

"Le... Lelouch? Kau... kenapa?" tanya Suzaku yang melihat Lelouch hanya diam saja tak bergerak sedikitpun.

Khawatir, Suzaku pun mendekati Lelouch untuk melihat keadaan tuannya yang diam. Saat Suzaku tepat berada disampingnya, ia pun melihat Lelouch secara dekat, semakin lama semakin semakin dekat sampai ia tak sadar jika jarak wajahnya dengan wajah Lelouch hanya berjarak beberapa senti saja. Saat ia merasakan hembusan hangat nafas Lelouch diwajahnya, barulah ia sadar dengan keadaannya. Dalam sekejap, Suzaku langsung mengangkat kepalanya, warna merah sudah mendominasi wajahnya, jantungnya berdegup cepat sekali saat ini.

"Apa... apa yang ku pikirkan tadi?" batin Suzaku sedikit bingung dengan perasaannya yang tak karuan.

Saat perasaannya sudah mereda, Suzaku kembali melihat keadaan Lelouch yang ternyata sedang tertidur lelap sekali. Wajah Lelouch saat tertidur terlihat polos dan tenang, seakan-akan lupa dengan segala persoalan hidup yang dialaminya. Apapun masalah dan rahasia besar yang dimiliki Lelouch, Suzaku tak peduli semua itu. Ia telah bertekad dan berjanji pada Nunally dan dirinya sendiri untuk mengembalikan Lelouch seperti dahulu lagi, bagaimanapun resikonya.

Takut Lelouch sakit jika tertidur dengan posisi seperti itu, Suzaku berniat untuk memperbaiki posisi tidur Lelouch. Tetapi belum sempat ia melakukan itu, tiba-tiba saja pintu terbuka lebar dengan keras dan memperlihatkan seorang gadis berambut hijau.

"Lelouch!" seru gadis itu sambil berjalan mendekati Lelouch, tetapi langsung dihalangi oleh Suzaku.

"Siapa kau?" tanya gadis itu datar kepada Suzaku.

"Maaf nona, saya Suzaku Kururugi, asisten pribadi Tuan Lelouch. Tuan Lelouch saat ini tak bisa diganggu, ia sedang beristirahat. Sebaiknya anda—" belum selesai Suzaku menyelesaikan perkataanya, ia sudah dihentikan oleh Lelouch.

"Tidak apa-apa, Suzaku," perintah Lelouch yang terbangun karena keberisikan yang dihasilkan gadis berambut hijau yang ada disana.

Lelouch berusaha mengumpulkan kesadarannya kembali lalu duduk tegak dan merapikan pakaiannya yang sempat berantakan karena ia ketiduran tadi, kemudian ia menatap tajam pada gadis berambut hijau tersebut.

"Kau... C.C. , tidak bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum memasuki ruangan seseorang?" tanya Lelouch malas kepada gadis berambut hijau yang ternyata bernama C.C. , entah mengapa masuk keruangan seseorang tanpa izin terlebih dahulu menjadi kebiasaan C.C. dimanapun gadis itu berada.

"Kau mengenalnya, Lelouch?" tanya Suzaku bingung.

"Ya, dia adalah sepupuku," jelas Lelouch singkat, padat, dan jelas.

"Ada urusan apa kau kesini C.C.?" tanya Lelouch dengan nada sombong sembari duduk dengan menyilangkan kedua kakinya.

"Padahal aku baru saja datang, kau tidak menyambutku dan malah di ruanganmu berdua saja dengan orang itu," C.C. melirik ke arah Suzaku "Aku membawa kabar dari-'nya' "

Mendengar apa yang disampaikan C.C. , muka Lelouch berubah menjadi dingin dan entah mengapa penuh kebencian, "Apa yang diingkan-'nya' lagi? Kenapa 'ia' tidak menyuruh Mao atau Rolo? Lagipula ada Clovis dan Cornelia di sana bukan?"

C.C. mengankat kedua bahunya, "Aku tak tahu."

Sadar jika ini akan menjadi obrolan yang panjang dan rahasia Lelouch pun menuruh Suzaku untuk keluar. Tak dapat membantah ataupun protes—karena dapat sorotan tajam dari Lelouch dan C.C.—Suzaku pun menaatinya dan pergi keluar dengan pikiran yang dipenuhi tanda tanya.

"Sebenarnya mereka berdua sedang mendiskusikan apa?"


Saat ini sudah tengah malam, tetapi keadaan ruang depan masih terang benderang. Rupanya Suzaku, Nunally, Sayoko, dan Jeremiah masih terjaga dengan wajah dan perasaan khawatir.

"Nunally sebaiknya kau beristirahat, aku yang akan menunggu Lelouch. Jika kau sakit, Lelouch pasti akan memarahiku karena membiarkanmu tidur larut," bujuk Suzaku agar Nunally segera pergi tidur.

Nunally menggelengkan kepalanya, "Tidak apa Kak Suzaku, aku akan menunggu Kak Lelouch sampai pulang."

"Tetapi Nunally-sama, jika anda sampai sakit, Lelouch-sama pasti akan khawatir," bujuk Sayoko juga yang khawatir akan kondisi fisik Nunally yang lemah

"Itu benar Nona Nunally, sebaiknya anda dan Sayoko segera pergi beristirahat. Biar saya dan Suzaku saja yang menunggu," saran Jeremiah.

"Hmm, baiklah. Kalau begitu aku permisi Kak Suzaku, tuan Jeremiah," akhirnya setelah sedari tadi dibujuk, Nunally mau pergi untuk tidur.

Sementara Jeremiah mengantar Nunally dan Sayoko pergi beristirahat, Suzaku tetap menunggu. Pandangannya hanya tertuju ke arah pintu depan menunggu kepulangan Lelouch. Sudah sejak siang hari Lelouch pergi keluar bersama C.C. setelah Lelouch mendengar perintah dari-'nya'.

-Flashback-

Sudah satu jam yang lalu Lelouch mengusir Suzaku keluar dan sampai sekarang kedua orang diruangan kerja itu belum keluar juga. Sekarang sudah waktunya untuk makan siang, dan Suzaku berniat untuk memberitahukan mereka berdua. Sesampainya disana, belum sempat Suzaku mengetuk pintu ruangan itu, ia dikejutkan dengan seruan keras Lelouch yang terdengar sampai keluar.

"Aku sudah tak peduli lagi dengan 'nya'. Bagaimana mungkin aku berdiam diri saja atas apa yang telah dilakukan-'nya' terhadapku dan Nunally? Karena-'nya' juga aku harus mengalami kejadian itu. Terutama dengan rencana-'nya' yang telah membuat Ibu kehilangan nyawa!" seru Lelouch keras dan terdengar putus asa.

"Tapi kau dapat melawannya dengan kekuatan Geass yang dimiliki-'nya' dan tanpa diduga-'nya' menurun padamu bukan?" jelas C.C. yang terdengar tenang menanggapi Lelouch yang termakan emosinya.

"Apa... apa yang mereka berdua bicarakan? Siapa yang ingin dilawan Lelouch? Dan apa itu Geass?" batin Suzaku yang mendengarmenguping tepatnya—dari balik pintu.

"...Ya, kau benar," jawab Lelouch yang sepertinya sudah tenang.

"Tapi sekarang lebih baik kau mengerjakan yang diperintahkan'nya' dan segera bersiap-siap. Aku yakin Kaname sudah berada disana," saran C.C. .

"Kau benar. Tapi sebaiknya kita makan siang dahulu, Nunally pasti sudah menunggu," ajak Lelouch

"Gawat..." mengetahui bahwa Lelouch dan C.C. akan keluar, Suzaku buru-buru berlalu dari pintu dan bersembunyi di belokan ujung koridor.

Tak lama kemudian, Lelouch dan C.C. keluar. Baru berjalan dua langkah, C.C. berhenti dan menatap ke tempat Suzaku bersembunyi. Melihat C.C. menoleh kearahnya, Suzaku langsung tegang.

"Ada apa, C.C.?" tanya Lelouch.

C.C menoleh ke arah Lelouch, "Tidak, tidak ada apa-apa," jawabnya datar.Tanpa diketahui Lelouch maupun Suzaku, C.C. tersenyum samar

"Sepertinya ini akan menarik," batin C.C

-End Flashback-

Mengingat itu membuat Suzaku khawatir. Entah apa yang direncanakan dan dikerjakan Lelouch dan gadis berambut hijau itu. Tapi yang pasti, itu semua membuat Nunally dan yang lainnya khawatir, tidak terkecuali Suzaku.

"Kau kemana Lelouch? Apa yang kau lakukan?"


Jam sudah menunjukan pukul sebelas siang, tetapi Lelouch belum juga tersadar dari pingsannya. Tepat pukul dua pagi tadi, C.C dan Lelouch bersama seorang pemuda Jepang berambut hitam keriting, pulang ke manor. Tetapi bukannya merasa lega karena akhirnya Lelouch pulang, mereka tambah khawatir dengan keadaan Lelouch yang terluka parah. Sejak pagi tadi sampai sekarang, Suzaku belum sekalipun meninggalkan Lelouch. Dia sangat khawatir dengan keadaan Lelouch yang belum tersadar sejak tadi pagi. Melihat Lelouch yang hanya terbaring tak bergerak barang sedikit pun, membuat hati Suzaku menjadi sakit, kesal, dan marah sekaligus. Dia kesal melihat keadaan Lelouch sekarang, dan ia marah, marah kepada dirinya sendiri yang tak dapat melakukan apapun untuk melindungi dan menolongnya. Jangankan menolong dan melindungi, menemaninya saja pun Suzaku merasa tak mampu. Ia bahkan tak tahu dengan apa yang dialamin Lelouch.

"Lelouch, aku mohon sadarlah," bisik Suzaku kepada Lelouch yang tak sadarkan diri, ia menggenggam tangan Lelouch erat. Ia merasakan rasa takut yang besar, ia takut kehilangan dan berpisah dengan Lelouch lagi.

"Kak Suzaku... sebaiknya Kakak beristirahat saja. Biar aku yang menjaga Kak Lelouch," saran Nunally khawatir dengan keadaan Suzaku yang belum berisitirahat sejak pagi kemarin sampai sekarang karena menunggui kakaknya.

Suzaku tersenyum ke arah Nunally, "Aku baik-baik saja."

Lalu Suzaku menghampiri Nunally dan membantunya ke tempat tidur Lelouch untuk melihat keadaan Lelouch.

Nunally menggenggam tangan Lelouch dengan tangan kanannya, sementara tangan yang satunya mengusap sisi wajah Lelouch dengan lembut.

"Kenapa kakak memaksakan diri seperti ini?" lirih Nunally.

Suzaku hanya memperhatikan Nunally dan Lelouch sambil berdiri di belakang Nunally. Keadaan hening, tak ada yang bicara.

"Nunally, aku... bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?" pinta Suzaku memecahkan keheningan yang tak mengenakkan tadi.

"Pasti Kak Suzaku ingin menanyakan alasan kenapa kakak seperti ini, ya?" tebak Nunally menjawab permintaan Suzaku tanpa mengalihkan pandangannya dari Lelouch

"Ya, sebenarnya apa yang dikerjakan Lelouch di Jepang? Maksudku apa alasan kalian sebenarnya ke Jepang hingga membuat Lelouch terluka seperti ini?"

"I... Itu..." belum sempat Nunally menjawab, C.C. datang dan menginterupsi pembicaraan mereka berdua.

"Sebaiknya sebelum kau mengetahui hal itu, kau harus membawa adikmu ke sini dahulu. Aku yakin keadaan akan semakin rumit dan membahayakan orang-orang yang terkait dengan kami, tak terkecuali kau dan Kaguya adikmu. Aku sudah menyuruh Ohgi—Kaname Ohgi— untuk membawa adikmu kesini. Aku pikir sebentar lagi pasti ia akan datang," jelas C.C. yang kemudian keluar dari kamar Lelouch tanpa berkata apa-apa dan meninggalkan Suzaku yang terbenging sendiri memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.

"Lebih baik kau menyusul Kak C.C., Kak Suzaku. Aku akan menemani Kak Lelouch, kau tak perlu khawatir, bagaimana pun Kak Lelouch tetap adalah kakak sekaligus satu-satunya keluarga yang kumiliki," saran Nunally.

"Baiklah," Suzaku keluar dari kamar Lelouch mengikuti C.C.

"Kak Suzaku!" seru Kaguya kepada Suzaku yang baru saja memasuki sebuah ruangan rapat yang berada di Manor Britania.

"Kaguya, apa kau baik-baik saja?" tanya Suzaku kepada adik satu-satunya itu.

Kaguya menganggukkan kepalanya, "Ya, aku baik-baik saja. Ohgi-san sudah menjelaskan semua masalah kepadaku. Jadi bagaimana keadaan Kak Lelouch, Kak Suzaku?"

Saat Kaguya menanyakan hal itu, semua perhatian yang ada di sana—Jeremiah, Ohgi, dan Sayoko—langsung mengarah padanya.

Suzaku menggeleng seraya menundukkan kepalanya, "Belum ada perubahan. Ia... belum sadarkan diri,"

"Jadi... lebih lama dari yang sebelumnya, ya?" tanya Ohgi entah kepada siapa.

Suzaku sedikit tersentak dengan pernyataan Ohgi, "Jadi maksud kalian semua, ini bukan yang pertama kalinya Lelouch tak sadarkan diri?"

Semuanya mengangguk. Namun tak ada yang berani menjawab pertanyaan Suzaku hingga C.C. menjawabnya, "Benar, itu karena ritual pengorbanan yang membuatnya mempunyai kekuatan Geass."

Mengerti kalau ini bukan obrolan yang menyenangkan, Kaguya pun memutuskan untuk menemani Nunally saja.

Setelah Kaguya pergi, Suzaku bertanya, "Ritual? Ritual apa maksudmu?"

"Ritual pengorbanan," jawab C.C. serius sambil menatap tajam kepada Suzaku.

Suzaku membelalakkan matanya tak percaya, "Maksudmu... Lelouch pernah menjadi korban ritual seperti itu?"

C.C. hanya mengangguk pelan.

"Itu... itu tidak mungkin..."

TBC