tTitle: The Butler

Disclaimer: Kishimoto Masashi, Miyagi Riko

Genre: Humor/Romance

Pairing: Still a secret

Chapitre: 2 (First day in school)

!Selamat membaca!

© Shazanamikaze Mystica ©

Present


'Hmm... Uchiha Sasuke, Uchiha Itachi... Tapi mereka begitu terlihat berbeda... Seperti Anjing dan anak anjing. Ah! Mungkin hanya perasaanku saja. Buktinya, Guy-sensei dan Lee itu tak ada hubungan darah sama sekali tapi mereka begitu mirip. Mungkin hanya perasaanku saja. Baiklah nanti aku tanyakan pada Sasuke.' Pikir Naruto.

Di depan halaman kediaman Uzumaki, pintu belakang mobil limo itu terbuka. Di sebelahnya ada Itachi yang mempersilahkan Naruto untuk masuk ke dalam.

"Eh? Aku duduk di depan saja." Kata Naruto.

"Lebih baik anda duduk di belakang, Naruto-sama... Saya akan duduk di bangku supir." Jelas Itachi.

"Oh... Baiklah." Kata Naruto.

Beberapa detik kemudian, Itachi di bangku supir.

Vroooooom...

Mobil itu melaju dengan kecepatan 120km/jam. Samar-samar suara teriakan Naruto terdengar saking kagetnya.

Di Uzu Senior High School... Lantai bawah...

"Eh, apa itu benar?" tanya Lee pada Chouji.

"Iya... Rin-sensei bilang, berita kebakaran di rumah Naruto-chan tidak boleh disebut-sebut sampai keadaannya tenang kembali." jawab Chouji.

"Jadi semuanya akan dirahasiakan, begitu?" tanya Lee, lagi.

"Iyap!" jawab Chouji mantap.

"Yah... Setelah kematian yang tiba-tiba orangtuanya, kita mengetahui kalau Naruto-chan itu dari keluarga yang kaya raya." kata Lee.

"Jaman sekarang ini, anak kaya raya itu banyak." kata Karin yang tiba-tiba datang tak dijemput pulang tak diantar (jelangkung?).

"Bodoh! Bukan itu masalahnya... Yang jadi masalahnya itu..." kata Chouji.

"Apa butler itu benar-benar butler-nya Naruto-chan atau bukan." kata Lee, Chouji dan Karin serempak.

Lalu Sasuke tiba-tiba datang dari pintu, bukan jendela.

"Ah? Sasuke-kuuun... Selamat pagi..." kata Karin dengan suaranya yang bagaikan petir di siang bolong.

"Hey! Sasuke! Bisa kau jelaskan yang kemarin itu? Tentang kakekmu yang menjadi butler sebelumnya!" Lee dan Chouji langsung menyerbu Sasuke. Sedangkan Karin langsung mereka lempar.

"Itu sama sekali tak ada hubungannya denganku." jawab Sasuke dingin.

"Apa maksudmu? Dia itu kan kakekmu!" kata Lee. Tapi terdengan suara dari luar.

Vrooooom...

"Apa itu!!?" kata Lee dan Karin.

Serentak, seluruh warga sekolah Uzu Senior High School berteriak 'Eh...'.

"Wow... Mobil ini sangat cepat. Aku pikir aku akan terlambat." kata Naruto yang turun dari mobilnya yang mewah itu.

"Tentu saja... Naruto-sama..." jawab Itachi sambil membukakan pintu agar Naruto dapat keluar. Perhatian Itachi teralih ke gedung sekolah Naruto.

"Waaaaah... Lihat! Gantengnya..." seru anak kelas dua belas yang berada di lantai paling atas.

"Iya! Ambil fotonya!" seru anak kelas sebelas.

"Kerennya!!! Dia tinggi ya!?" kata seorang anak kelas sepuluh.

"Hey! Siapa gadis yang di depannya?!" tanya anak kelas dua belas.

"Siapa yang peduli! Lihat! Dia melirik ke arah kita!" jawab salah satu temannya yang sukses membuat Naruto merasa di singkirkan.

"What a perfect creature!" seru anak kelas sepuluh yang dengan pede-nya berteriak dengan bahasa Inggris.

"Alah! Sok bahasa Inggris banget deh!" seru seorang banci dari kelas sepuluh.

"Hah! Untuk apa mengaguminya! Sekarang satu sekolah tahu bahwa Naruto dari keluarga kaya..." gumam Sasuke.

'Sebegitu populer-nya..." batin Naruto.

"Naruto!" panggil Sasuke.

"Sasuke? Ada apa?" tanya Naruto.

"Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau malah datang ke sekolah?" tanya Sasuke.

"Eh? Apa maksudmu?" Naruto bertanya.

"Apa maksudmu dengan 'apa maksudku'?!" bentak Sasuke.

"Ahaha... Kemarin, aku menangis tak henti-hentinya. Tapi aku tak mau terlalu berlarut-larut dalam kesedihan. Di mana-mana kan ada jalan keluar. Aku baik-baik saja. Terima kasih karena peduli." Kata Naruto sambil tersenyum.

Teeeeeeeeet Teeeeeeeet...

Suara bel berbunyi saat Sasuke mau melakukan sesuatu pada Naruto.

"Eh!! Kelas kita kan di lantai dua!! Apa mungkin..." kata Naruto panik.

"Maaf, permisi." kata Itachi yang telah luput dari kejaran fans barunya dan diselamatkan oleh suara bel.

"Eh!!! Lagi???" tanya Naruto.

Tapi yang kaget bukan Naruto saja, tapi Sasuke juga Di saat suara bel terakhir berbunyi, kaki Itachi telah masuk ke kelas Naruto. Semua yang ada di kelas bertepuk tangan. Sedangkan Naruto, matanya berputar-putar bagaikan bianglala.

"Maaf... Tapi aku harus melakukannya agar Naruto-sama tak terlambat." kata Itachi.

"Ah... Ter... Terima kasih..." kata Naruto yang telah diturunkan oleh Itachi. Sekarang dia berjalan dengan puyengnya,

"Semuanya! Kembalike tempat duduk masing-masing." seru Rin-sensei.

"Dan kau! Harus keluar dari kelas." kata Rin-sensei ke arah Itachi.

"Tidak." jawab Itachi singkat.

"Eh?"

"Ini bagian dari pekerjaanku sebagai butler Naruto-sama." jawab Itachi.

'Eh? Benarkah?' pikir Naruto.

"Hah? Pemerintah?" tanya seseorang.

"Bukan! Katanya Butler." jawab temannya satu lagi.

"Kenapa dia panggil 'Naruto-sama'? Bukannya dia Uzumaki? Apa ada hubungan dengan Naruto?" tanya seorang lagi.

"Apa?!" seru dua anak perempuan.

"Haaah... Aku tidak mengerti..." kata Rin-sensei.

"Rin-san... Kemari sebentar." kata kepala sekolah di depan pintu.

"Baik... "

"Sebenarnya Uzumaki Naruto mendapat Hak Istimewa untuk membawa butler-nya..." jelas kepala sekolah

"Apa?!" seru Rin-sensei.

"Tenang saja. Aku takkan membuat masalah." kata Itachi.

"Bu... Bukan itu masalahnya..." kata Rin-sensei.

"Sensei... Itu takkan mempan." Balas Chouji.

"Perdebatan akan menang olehnya, sensei." kata Sasuke.

Naruto yang mulai pusing dan tidak tahan dengan apa hubungan Sasuke dengan Itachi langsung bertanya;

"Sa... Sasuke!!! Apa hubunganmu dengan Itachi-san!?"

"Tidak ada hubungan apapun!" jawab Sasuke.

"Bagaimana mungkin tidak! Lalu pengetahuanmu itu... Kenapa kau merahasiakannya!?" tanya Naruto balik.

"Adikku." jawab Itachi dengan mudahnya.

"Eh?" kata Naruto dan Sasuke berbarengan.

"Uchiha Sasuke adalah adikku." ulang Itachi.

Serentak, seluruh kelas berteriak 'Eh!!?'

'Hari ini aku yakin tidak akan bisa konsentrasi pada pelajaran apapun!' batin Naruto.

"Jadi, kira-kira apa rumusnya?" tanya Rin-sensei pada pelajaran Matematika.

"Itu mungkin ex kuadrat." jawab Itachi sambil mengacungkan tangan kanannya.

'Kenapa malah dia yang menjawab?' pikir Rin-sensei.

'Di waktu pelajaran olahraga kali ini dia mengikutiku sambil membawa handuk dan air mineral... Guy-sensei bukannya menegurnya malah memujinya.' pikir Naruto.

"Ini baru semangat anak muda!!!" kata Guy-sensei sambil berpose di depan Itachi.

Di jam istirahat...

"Naruto-sama... Ini makanannya..." kata Itachi sambil mempersilahkan agar makanan ala Perancis yang lumayan banyak itu dimakan.

'Dia benar-benar membuat satu sekolah menjadi penggemarnya... Tapi, kapan dia membuatnya?' pikir Naruto.

Yah.... satu sekolah adalah penggemar Itachi, kecuali satu orang yang merasa di singkirkan. Seseorang yang suka ke taman belakang gedung sekolah.

"Naruto-sama, aku mau membeli sesuatu dulu. Aku akan pergi sebentar. Anda pasti lelah, beristirahatlah." kata Itachi di pintu rumah Naruto.

"Ah, iya." kata Naruto sambil menatap bunga lily putih yang ia bawa.

'benar juga... banyak hal yang telah terjadi... sejak kematian ayah dan ibu.' batin Naruto.

Saat memasuki ruang tamu, dia melihat foto Minato dan Kushina. Naruto hanya tersenyum sedih dan berusaha bersikap senormal mungkin.

"Ayah, ibu... aku pulang... Cuaca hari ini bagus. Karena mendekati musim panas. Ah, iya. Ini bunga lily putih dari taman belakang sekolah.
Chouji dan Lee yang memberikannya padaku. Bagus kan'? Oh, aku harus mengganti airnya." kata Naruto.

Splash!!

Air di vas bunga tumpah karena tersenggol tangan Naruto.

"Ah... Ma... maaf... Aku tidak bisa bersikap seperti biasanya... Ayah... Ibu... Kalau saja kalian masih ada..." kata Naruto sambil terisak.

"Naruto-sama?" panggil Itachi.

"Ah... Aku..."

"Tidak salah jika anda menangis ketika anda benar-benar sedih..." kata Itachi sambil menggapai kedua tangan Naruto.

"Ah..." air mata Naruto mulai mengalir lagi.

"Aku dengan senang hati akan menjadi sandaran anda, Naruto-sama." kata Itachi sambil tersenyum.

"Aku... aku..." hanya satu kata itulah yang keluar dari mulut Naruto. Kini ia jatuh di pelukan Itachi.

'Selama aku menangis, Itachi tidak protes, hanya tersenyum padaku. Hangat. Kehangatan yang pernah aku rasakan saat tersesat di hutan dulu...' batin Naruto yang kini terlelap karena kelelahan menangis.

Tanpa mereka ketahui, seseorang memperhatikan mereka dengan perasaan campur aduk.

"Sasuke? Ada apa?" tanya Madara di depan pagar rumah Naruto.

"Tidak ada apa-apa." jawab Sasuke lalu berlari entah kemana.

To Be Continued...


Mind to review this fic?

Apa ada yang tau aku ngeadaptasi fic ini darimana? Yang tau, nanti di kasih hadiah. Ada satu orang yang tau ini fic diadaptasi darimana lho. Baru satu orang... Hehehe.

YOSH!! REVIEW!! REVIEW!!