At That Night

Diclaimer: Masashi Kishimoto Rate: T SasuFemNaru

Warn: author newbie, typo(s), OOC, cerita aneh, dan lain-lain

Sasuke melihat pantulan dirinya di atas sungai. Walaupun hanya terlihat buram, tapi dari sana masih bisa terlihat warna-warna dengan bantuan sinar bulan dan lampu taman. Sasuke melihat matanya. Tidak ada yang berubah dari matanya, tetap hitam.

"Apa maksudmu Naruto? Mataku itu hitam bukan merah!" kata Sasuke.

"Eh?" kata Naruto sambil memiringkan kepalanya. "Kenapa berubah jadi hitam, ya? Padahal aku tadi lihat merah."

Naruto mendekatkan dirinya ke Sasuke. Dengan jarinya dia membuka kelopak mata Sasuke lebih lebar. Naruto melihatnya lebih dekat. Warna mata Sasuke kembali seperti semula. "Mungkin aku salah lihat. Sepertinya pantulan sinar lampu taman yang berwarna jingga merah di matamu membuatku berpikir matamu merah. Gomen."

Sasuke melepaskan tangan Naruto yang membuka lebar matanya. "Kau tidak usah bicara melantur lagi. Mana mungkin mataku bisa berubah begitu. Sekarang, bisa kau jelaskan apa yang terjadi tadi? Siapa pria dengan ekor tadi yang menolong kita?"

"Kau bisa melihat Kurama?" kata Naruto kaget.

"Kamu juga melihatnya, kan? Kalau kamu bisa melihatnya, aku juga bisa melihatnya." kata Sasuke.

Naruto melihat ke samping. Kurama tepat berada di sampingnya. Sepertinya Sasuke menyangka kalau Kurama itu bukan siluman.

"Apa kau bisa melihatnya sekarang?" tanya Naruto.

"Bagaimana aku bisa melihatnya? Dia sudah pergi entah kemana," jawab Sasuke.

Naruto pelipis kiri Sasuke. Di sana terdapat kulit yang membiru dan sedikit luka gores yang berdarah karena benturan dengan pagar pembatas. "Sasuke, kepalamu terluka."

Naruto mengeluarkan sapu tangannya dari saku celananya yang basah karena terjatuh ke sungai. Tadinya Naruto berniat untuk mengusap luka Sasuke dengan sapu tangannya tapi dia terpeleset dan jatuh menindih Sasuke.

Naruto langsung berdiri. Dia tidak berani melihat Sasuke jadi dia tidak menolong Sasuke berdiri. "Gomen Sasuke," kata Naruto.

"Ya. Aku tidak apa-apa kok," kata Sasuke.

"Sekarang pasti sudah lewat dari jam 8. Aku harus pulang ke rumah. Jaga dirimu ya Sasuke," Naruto berbalik dengan cepat dan pergi. Dia sangat malu dan wajahnya sangat merah hingga yang ada di pikirannya hanya menjauh dari Sasuke.

"Hei, tunggu!" Sasuke langsung memegang tangan Naruto sebelum dia pergi jauh. "Apa kamu tidak berpikir kalau perempuan sendiri malam-malam itu berbahaya? Aku akan mengantarmu."

"Gomen Sasuke. Jii-san akan menghukummu juga kalau kau mengantarku." Setelah berkata itu Naruto langsung melepaskan tangannya dari genggaman Sasuke dan berlari dengan cepat.

Jiraya memang terlalu overprotective pada Naruto. Jiraya tidak suka kalau Naruto dekat dengan laki-laki. Karena itu Naruto tidak memberitahu kepadanya kalau dia menyukai Sasuke. Akan menjadi bencana besar bila Sasuke mengantarnya pulang saat malam-malam dalam keadan keduanya basah karena tercebur tadi. Orang yang melihatnya pasti akan berpikiran yang aneh-aneh.

Naruto berlari dengan cepat. Wajah masih tetap merah. Di sampingnya ada Kurama yang mengikutinya. Kurama mengeluarkan api kecil dari tangan kanannya. Lalu api kecil itu pergi ke arah Sasuke.

"Kau pasti sangat malu ya, Naru? Wajahmu bahkan lebih merah dari kepiting rebus. Hahahahahaha...," kata Kurama kepada Naru sambil berlari.

"Diam kau Kurama!" kata Naruto.

Sementara itu Sasuke yang masih berada di pinggir sungai memungut kacamata dan sapu tangan Naruto yang tadi terjatuh saat menindihnya. Sasuke tidak sadar ada api kecil yang melayang di sebelahnya. Sasuke terus melihat Naruto berlari dari belakang yang suaranya saat berbicara sendiri masih terdengar oleh Sasuke.

'Dasar gadis aneh,'pikir Sasuke dalam hatinya.

Sasuke lalu melanjutkan berjalan dengan api kecil yang mengikutinya tanpa dia sadari.

.

-AT THAT NIGHT|AKIRA RENMEI-

.

"Sasuke. Sasuke. Ayo kemari! Aku akan memberikan sesuatu yang spesial untukmu," ucap seorang wanita dengan suara yang lembut. Rambut wanita itu yang hitam panjang dan halus tertiup oleh angin dengan indahnya. Wajahnya tidak terlalu terlihat karena tertutup bayangan pohon di belakangnya.

Sasuke tersadar dari lamunannya. Dia melihat tangannya, tangannya menjadi kecil. Dia juga merasa tubuhnya menjadi kecil. Tubuhnnya berubah menjadi tubuh anak kecil.

"Sasuke, ayo kemari!" kata wanita itu sekali lagi sambil mengulurkan tangannya ke arah Sasuke.

Sasuke melihat wanita itu. Entah kenapa rasanya dia sangat ingin menuju wanita itu. Sasuke lalu berjalan ke arah wanita itu. Saat dia hampir meraih tangan wanita itu, api muncul membentang memisahkan mereka berdua.

"KENAPA KAU SELALU MENGGANGGU?" teriak wanita itu. Bayangan wanita itu di balik api berubah menjadi ular. Ular itu keluar menembus api dan membuka mulutnya lebar-lebar di hadapan Sasuke.

Sasuke refleks menutup matanya. Saat dia membuka matanya api dan ular yang berada di hadapannya menghilang. Dia berada di tempat yang gelap gulita.

Sasuke melihat tangannya, tangannya di penuhi darah. Kemudian dia merasakan ada yang mengalir dari kepalanya. Sasuke menyekanya dengan lengan bajunya, sesuatu yang mengalir itu darah.

"APA YANG TERJADI DI SINI?" teriak Sasuke.

Tiba-tiba dia melihat seseorang terkapar di depannya. Orang itu mengangkat kepalanya untuk melihat. Sasuke langsung menyadari orang itu adalah kakaknya.

"Onii-san!"teriak Sasuke sambil menghampiri Itachi. Wajah Itachi di penuhi darah. Sasuke berlutut di sebelahnya. Dia tidak tahu harus harus berbuat apa.

Itachi melihat wajah Sasuke. Tangannya yang dipenuhi darah berusaha mengapai Sasuke. "Jangan sampai kau termakan olehnya Sasuke. Jangan sampai!" kata Itachi.

Tangan Itachi menyentuh pipi Sasuke dan tersenyum.

.

-AT THAT NIGHT|AKIRA RENMEI-

.

Sasuke terbangun dari tidurnya. Sinar matahari masuk melalui jendela kamarnya yang kecil. Sasuke melihat ke arah foto yang dipajang di meja belajarnya yang berada dekat kasur. Di foto itu terlihat ada seorang laki-laki yang rambutnya diikat, Itachi, sedang merangkul Sasuke kecil. Wajah keduanya terlihat sangat bahagia.

Sasuke berdiri dari tempat tidurnya. Matanya masih melihat foto itu.

"Onii-san, tadi aku bermimpi tentangmu. Aku merindukanmu onii-san. Kenapa kau harus mati?" kata Sasuke sambil melihat foto itu.

Lalu dia mandi. Sasuke melihat tubuhnya yang penuh memar karena kemarin dia dililit oleh wanita menyeramkan itu. Dia membiarkannya karena dia berpikir memar itu masih bisa ditutupi baju.

Setelah itu dia memakai baju. Saat dia sedang mengancingkan bajunya, dia melihat memar di lehernya. Memarnya sangat besar, masih terlihat walaupun Sasuke sudah mengancingkan kerah lehernya. Lebam di keningnya juga masih ada dan terlihat sangat jelas. Dia juga tidak sadar kalau bibirnya sedikit sobek.

"Ah, sial!" kata Sasuke kesal. Sasuke mengambil syal dan langsung memakainya.

Wajah terlihat seperti dia babak belur sesudah berkelahi. Jika ada paparazi yang memfotonya ini akan jadi berita besar. Dan kalau itu terjadi Kakashi, pemilik agensi yang dimasuki Sasuke, akan marah besar. Apalagi sekarang dia masih ada shooting sesudah pulang sekolah.

Sasuke sambil bergumam kesal memasukan buku ke dalam tasnya. Dia melihat kacamata dan sapu tangan Naruto yang kemarin terjatuh. Sasuke segera memasukannya ke dalam tasnya.

'Naruto kau harus menjelaskan semuanya padaku! Pelakunya harus bertanggung jawab atas kejadian ini!' pikir Sasuke dalam hati.

Sasuke menempelkan plester di pelipis kirinya yang terdapat luka dan membiru.

Sambil membawa tas Sasuke pergi keluar. Sasuke keluar dari sebuah apartemen kecil yang dia tempati. Setelah setelah beberapa lama berjalan dia berhenti di sebuah halte bus dan menaiki bus yang berhenti di sana.

.

.

.

Sasuke sampai di sekolah. Dia berjalan cepat ke kelasnya, kelas 1-3.

"Naruto, sekarang beri aku penjelasan tentang kejadian kemarin!" teriak Sasuke sambil membuka pintu kelas.

Semua orang yang ada di kelas langsung menghentikan aktivitasnya dan menengok ke arah Sasuke.

'Dia benar-benar marah karena kejadian kemarin (Naruto menjatuhkan makan siangnya ke Sasuke),' pikir semua orang di kelas.

"Tenang Sasuke. Tenang. Aku tahu kamu marah tapi kamu harus menahan amarahmu karena dia tidak sedang tidak ada di sini," kata Suigetsu sambil menunjukan amplop dengan tulisan 'Surat sakit Naruto Namikaze'.

Memang sulit dipercaya tapi sebenarnya Suigetsu adalah ketua kelas 1-3. Jadi karena dia ketua kelas semua surat sakit atau surat izin diberikan kapadanya terlebih dahulu lalu disimpan oleh sekertaris kelas.

"Sial!" kata Sasuke.

'Sepertinya Sasuke jadi benci padanya. walaupun gadis itu agak aneh tapi kasihan juga dia sampai bermusuhan dengan Sasuke,' pikir Suigetsu dalam hatinya. Padahal kenyataannya Sasuke hanya ingin penjelasan dari Naruto tentang kajadian kemarin.

Sasuke menyimpan tas di mejanya lalu duduk.

"Apa yang terjadi padamu, Sasuke?" tanya Suigetsu sambil menunjuk pada pelipis Sasuke yang ditempeli plester dan bibirnya.

"Aku jatuh dari tangga. Kau tahu kan kalau tangga rumahku itu tinggi," Sasuke berbohong dengan mudahnya.

"Kamu pasti sial sekali kemarin." kata Suigetsu sambil tertawa.

"Hn."

Bel berbunyi. Guru pun masuk dan pelajaran pelajaran dimulai.

.

.

.

Bel pulang berbunyi.

Sasuke langsung bergegas pergi ke kantor agensinya. Di jalan dia sudah memikirkan hal-hal yang buruk tentang Kakashi. Bagaimana kalau gajinya dipotong? Bagaimana kalau kontraknya diperpendek? Sasuke sudah mengeluarkan keringat dingin saat membayangkan Kakashi yang sedang marah.

Sasuke akhirnya sampai di depan kantor agensinya. Yamato segera menemuinya.

"Waaa...! Sasuke ada apa denganmu? Jam tujuh malam kamu tampil live! Bagaimana ini? Kakashi pasti marah," kata Yamato histeris saat melihat wajah Sasuke.

"Ah... gomen Yamato-san. Kemarin aku jatuh dari tangga. Apa konser live itu bisa digantikan?" tanya Sasuke.

"Mungkin... bisa. Tapi siapa yang akan menggantikanmu?"

Saat itu datang seseorang menyenggol Sasuke. Orang itu adalah Tayuya yang memakai pakaian idolnya. Sepertinya Tayuya habis melakukan konser di suatu tempat. Dia menatap tajam ke arah Sasuke setelah itu tampa meminta maaf dia melanjutkan jalan seperti tidak terjadi apa-apa.

"Itu dia! Tayuya! Tayuya! Bisa kau ke sini sebentar!" kata Yamato.

Tayuya menghentikan langkahnya lalu berbalik sambil tersenyum tampa dosa. "Ya? Ada apa Yamato-san?"

Lalu Yamato menjelaskan pekerjaan yang tadinya milik Sasuke kapada Tayuya. Tayuya menyutujuinya karena pada jam itu dia kosong. "Kalau begitu kamu harus siap-siap, Tayuya. Kita akan berangkat setengah jam lagi. Semoga aku bisa meyakinkan orang di sana,"kata Yamato diakhir pembicaraan sambil berharap-harap cemas.

"Ya baik. Yamato-san pasti capek mengurus Sasuke. Istirahat saja dulu. Aku akan dibantu Kabuto menyiapkan kostumku," kata Tayuya penuh dengan keceriaan. Lalu dia pergi dengan Kabuto, managernya. Tak lupa dia berikan senyum sinis kepada Sasuke sebelum berbalik, walaupun itu tidak terlihat oleh Yamato.

"Baiklah. Kalau begitu aku akan mengobati luka Sasuke dulu," Yamato pun mengantar Sasuke ke ruang kesehatan yang ada di kantor agensinya. Yamato mungkin tidak mengerti apa arti kata 'istirahat' karena dia terus saja mengurusi Sasuke.

Yamato membuka plester yang ada di pelipis Sasuke. "Sasuke, seharusnya kau obati dulu lukamu sebelum kau memasang pleter."

"Yamato-san biar aku saja yang mengurusinya,"kata seseorang yang membuka pintu ruang kesehatan. Orang yang selalu memakai masker itu menatap Sasuke. Tatapan matanya itu tidak bisa ditebak.

'Sial! Pasti aku akan diceramahi lagi,' pikir Sasuke.

"Aku sudah mendengar masalahnya. Biar aku yang berbicara pada kru di sana. Mereka pasti akan mendengarkanku. Jadi Yamato-san urus saja dulu Tayuya. Aku saja yang mengobati Sasuke," kata Kakashi sambil tersenyum walau tidak terlihat karena maskernya.

"Terimakasih Kakashi-san. Kalau begitu aku pergi dulu," kata Yamato sambil keluar ruangan.

Setelah Yamato pergi, Kakashi mengunci pintu ruang kesehatan dan menutup tirai jendela. Dia duduk di kursi sebelah kasur yang ditiduri Sasuke.

"Kau berbohong padaku kan, Sasuke?" tanya Kakashi.

Sasuke tidak menjawabnya.

"Buka bajumu," kata Kakashi dengan nada agak malas.

Sasuke tidak melakukan perintah Kakashi dan berpura-pura tidur.

"Kalau kamu tidak mau aku saja yang buka ya hehehe..." Kakashi mulai mendekati Sasuke.

Tiba-tiba Sasuke bangun. "Aku saja yang buka! Dasar hentai!"

"Sasuke, kamu jahat. Walaupun aku begini aku masih suka suka wanita," kata Kakashi. Selagi dia berbicara Sasuke membuka bajunya. Memar di seluruh tubuhnya terlihat oleh Kakashi.

"Puas?" tanya Sasuke.

"Oke. Oke. Jadi bisa kau ceritakan kenapa bisa jadi seperti itu?" kata Kakashi sambil mengeluarkan sebuah novel saku dan mulai membacanya.

"Apa kau bisa percaya apa yang akan aku katakan?" jawab Sasuke. Kemudian dia kembali berbaring di tempat tidurnya.

"Kalau kau bicara begitu aku tidak akan bertanya lagi," kata Kakashi. 'Mungkin saja dia memperaktekan permainan semacam BDSM,' pikir Kakashi. Otak Kakashi mulai berpikir mesum.

"Hn."

"Yah kalau begini aku akan mengistirahatkanmu sampai akhir Minggu ini. Jadi minggu depan kau akan sangat sibuk. Oh ya, sebenarnya tadi yang memberi tahu tentang ini adalah Tayuya. Dia kelihatan senang sekali. Sepertinya dia senang melihatmu sengsara hahahahaha..."

Sasuke menghela nafas. "Entahlah... aku tidak peduli dengannya. Aku ingin tahu kenapa kau sampai tahu kalau aku berbohong?"

"Itu sih gampang. Kau itu orang yang sangat dingin sampai saat musim salju pun kau tidak akan memakai syal karena kau sudah terbiasa dengan suhu dingin. Melihatmu memakai syal saat cuaca baik-baik saja kan aneh?"

"Aku tidak seperti itu. Aku tidak memakai syal karena itu membuatku susah bergerak bukan karena aku ini sikapku dingin."

"Tapi memang kenyataannya begitu. Ngomong-ngomong, di sekolahmu apakah ada cewek cantik yang cantik dan seksi? Beritahu aku siapa saja orangnya," Kakashi segera menutup novel yang dia baca lalu mengeluarkan sebuah buku saku dan pulpen.

"Aku tidak pernah memperhatikan perempuan di sekolahku. Kalau mau cari saja sendiri!"

"Kau tahu itu adalah bagian dari surat wasiat ayahku. Kalau aku sampai umur 30 tahun belum menikah semua keuntungan agensi ini akan diberikan kepada panti asuhan... padahal dia mewariskan agensi ini saat keadaannya hampir bangkrut. Jadi kumohon carikan aku cewek cantik dan seksi itu..."

"Cari saja sendiri! Aku bukan biro jodohmu!"

"Kamu jahat sekali Sasuke... teganya..." disela-sela kekecewaannya Kakashi mendengar ponselnya berbunyi. Dia menjawab panggilan dari ponselnya.

Selagi Kakashi berbicara dengan seseorang di sana, Sasuke memakai bajunya.

Kakashi mematikan ponselnya. "Maaf Sasuke aku sepertinya harus pergi. Untuk hari ini kamu pulang saja. Aku akan memberikan obat padamu besok. Satu hal lagi, kamu sebaiknya berbaikan dengan orangtuamu. Cepat atau lambat media akan meliputmu." Setelah mengatakan itu Kakashi pergi dari ruang kesehatan.

Sasuke terdiam sesaat di atas kasur kemudian menghela nafas. Perkataan Kakashi itu agak mengganggunya. Dia lalu mengambil tasnya yang disimpan di meja.

Brak!

Sasuke menjatuhkan sesuatu saat mengambil tasnya. Itu adalah buku novel milik Kakashi. Novel itu terbuka menghadap bawah. Sasuke segera mangambilnya. Dia tak sengaja melihat isi novel itu saat membalikannya. Setelah melihat itu dia langsung melemparnya. Gambar yang dia lihat adalah gambar saat sepasang kekasih sedang melakukan "sesuatu" yang gambar sangat jelas sekali.

Sasuke menyesal melihat novel itu tapi dia harus mengembalikan novel itu kepada Kakashi jadi dia membawa buku itu dan segera keluar dari ruang kesehatan.

Sasuke mencari Kakashi kemana-mana. Sampai akhirnya dia bertanya pada resepsionis.

"Kakashi-san sudah pergi tadi," kata seorang resepsionis.

"Benarkah? Kalau begitu terimakasih onee-san," kata Sasuke sambil tersenyum. Senyumnya yang sangat terlihat tulus membuat wajah resepsionis itu memerah. Walaupun dalam hatinya dia berkata, 'Sial! Berarti aku harus membawa buku ini.'

Mungkin inilah yang membuat Sasuke pandai berakting.

Sasuke langsung keluar dari kantor agensinya dan berjalan menuju sebuah halte bus. Dia menaiki bus yang baru saja berhenti. Di dalam bus seperti biasa hampir semua orang melihatnya. Mereka semua berbisik tentang Sasuke bahkan ada yang sampai diam-diam memfotonya.

Bus itu berhenti di sebuah halte lain. Sasuke pun turun di halte itu. Dia mulai berjalan menuju apartemennya. Ada yang sempat mengikuti Sasuke tapi dia kehilangan jejak Sasuke. Perjalanan ke apartemennya agak jauh karena dia berjalan arah yang memutar sedangkan jika melewati taman itu memotong jalan. Karena dia punya persaan yang tidak enak jika melewati taman sejak kejadian itu.

Akhirnya dia sampai di apartemennya. Dia membuka kunci pintunya dan masuk ke dalam. Setelah itu dia masuk ke kamarnya dan langsung menghempaskan diri ke kasur. Dia menutup matanya dengan lengannya. Suasana di dalam kamarnya hening sekali.

Sebenarnya Sasuke tidak diizinkan untuk menjadi seorang artis oleh orangtuanya, walaupun begitu saat di rumah tidak dihiraukan oleh mereka. Mereka seperti tidak memperhatikan Sasuke. karena itu Sasuke kabur dari rumah dan bertemu Kakashi.

Sasuke membuka matanya. Dia menghela nafas. "Onii-san kalau saja kau ada di sini mungkin hidupku akan lebih berarti..."

-AT THAT NIGHT|AKIRA RENMEI-

.

Pagi ini, seseorang gadis berambut pirang sedang berjalan menuju sekolah. Syalnya dia lilitkan di lehernya sampai mulutnya tertutupi. Dia juga memakai jaket tebal padahal di dalamnya dia memakai kaos, seragam, dan blazer.

"Naru kau seperti bantal hari ini hahahaha..." kata Kurama. Dia tertawa melihat Naruto dengan pakaian tebalnya.

"Kenapa kau bisa menertawakan seorang yang sedang sakit seperti itu?" tanya Naruto.

"Kalau kamu sakit kenapa tidak tidur saja di rumah?" Kurama malah balik bertanya.

Naruto tidak menjawab pertanyaan Kurama karena dia sedang tidak enak badan dan terlebih lagi dia sedang menahan rasa takut karena banyak siluman yang melihatnya. Naruto kehilangan kacamatanya dan lupa memakai kamata cadangannya. Saat sadar dia melihat sadako tepat di depan matanya dan tentu saja dia berteriak sangat kencang. Sadako tadi langsung hilang saat melihat Kurama Untung saja dia bersama dengan Kurama jadi siluman lain menjaga jarak dengannya, kalau tidak dia pasti sudah pingsan.

"Naruto!" panggil sesorang dari belakang.

Naruto hampir saja berteriak. Dia lalu menoleh kebelakang. "Hinata!"

Gadis berambut hitam itu menghampiri Naruto. Matanya yang berwarna abu itu hampir mengalami kebutaan karena faktor gen keluarganya yang semuanya seperti itu. Namun klan Hyuga, keluarga Hinata, bisa melihat dengan tajam para siluman. Jadi mereka melihat dengan dibantu pergerakan siluman yang biasanya menempel pada manusia. Naruto bisa mengenalnya karena keluarga Hyuga dekat dengan keluarga Namikaze

"Kau sudah sehat? Gomenne, aku tidak bisa menjengukmu. Aku baru tahu kemarin malam," kata Hinata.

"Tidak apa-apa. Aku sudah agak baikan sekarang," jawab Naruto.

"Tidak biasanya kamu sakit seperti ini."

"Itu karena lusa malam kemarin aku mandi air dingin," kata Naruto sambil menggaruk kepalanya. 'Mandi air dingin' maksud Naruto adalah tercebur ke sungai saat itu.

"Kenapa kamu tidak kacamata?"

"Karena dia orang bodoh yang kehilangan kacamatanya dan lupa memakai kacamata cadangannya," kata Kurama yang berada di sebelah Naruto.

"Aku tidak bodoh!" kata Naruto kesal.

Hinata tersenyum. "Kalau begitu Kurama-san harus lebih menjaganya. Kau tahu sendirikan kalau Naru itu suka takut dengan siluman." Hinata adalah gadis yang sangat sopan sampai kepada Kurama pun dipanggil dengan akhiran –san.

"Ya aku tahu itu. Aku sangat kerepotan tadi pagi," kata Kurama sambil menggelengkan kepalanya.

"Tidak usah membicarakan aku lagi! Lebih baik kita ke kelas," kata Naruto kesal.

Mereka pun berjalan menuju kelas. Karena Hinata berbeda kelas dengannya, kelas 1-1, mereka berpisah saat menuju kelas.

Saat berjalan ke kelas, Naruto tidak menyadari kalau dia dilihat oleh para penggemar Sasuke dengan pandangan merendahkan.

Naruto masuk ke kelas. Dia berjalan menuju bangkunya.

"Naruto!" kata seseorang yang duduk selang satu bangku di depan mejanya.

Naruto menoleh kepadanya, Sasuke. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."

Naruto menghampirinya. Dia sedikit merasa gugup karena dia jarang berbicara dengan Sasuke. Saat dia berada di sebelah bangku Sasuke dia melihat seseorang duduk di bangkunya. Orang itu memakai baju seragam yang sudah compang-camping, orang itu sedang menunduk. Di samping Naruto, Kurama memincingkan matanya ke arah Sasuke.

"Beri aku penjelasan tentang kejadian kemarin!" kata Sasuke.

Naruto yang masih menatap orang yang duduk di bangkunya tidak menjawab.

"Naru—!"

"Jangan dekati aku!" teriak Naruto sambil berlutut melindungi diri. Tadi dia melihat orang yang duduk di bangkunya mengangkat wajahnya dan melihat Naruto. Wajah orang itu setangahnya sudah hancur karena itu Naruto langsung reflek seperti.

"Naru... dia itu cuma hantu lemah. Kamu tidak usah mengkhawatirkannya," kata Kurama di telinganya.

"Eh?" Naruto langsung berdiri kembali. "Gomenne. Tadi ada yang mengagetkan aku," wajah Naruto memerah karena malu dan kebingungan mencari alasan.

Teman-teman sekelasnya melihat ke arah Naruto dan Sasuke. Mereka berpikir, 'apa yang Sasuke lakukan padanya?! Dia pasti sedang mengancam Naruto...'

Sasuke tak memperhatikan pandangan teman sekelasnya terhadapnya. Dia meneruskan pertanyaannya, "Naruto, apa kau tadi mendengar perkataanku?"

"Gomen, aku tadi sedang melamun," kata Naruto.

Sasuke menghela nafas. "Jelaskan padaku tentang kejadian kema―"

Tiba-tiba semua teman sekelasnya masuk ke kelas dan guru pun masuk.

"Kita bicarakan ini dijam istirahat saja, Sasuke." Naruto pun langsung duduk di tempatnya.

Sekali Sasuke menghela nafas. Lagi-lagi dia gagal menanyakannya.

Naruto yang sudah duduk di bangkunya menunduk terus karena hantu yang duduk di bangkunya tadi pindah ke depan kelas sambil menatap wajahnya.

"Kenapa kau tidak beritahu sebelumnya kalau ada hantu di bangku ini?" kata Naruto sedikit berbisik.

"Aku sudah bilang padamu sebelumnya. Saat aku menyuruhmu untuk tidak duduk di sini waktu pembagian tempat duduk. Kamu saja yang tidak menurutiku," kata Kurama.

Akhirnya Naruto belajar sambil menunduk dan sesekali melihat ke depan karena takut dimarahi oleh guru sampai akhir pelajaran.

Bel pun berbunyi. Naruto cepat-cepat keluar dari sana.

Tiba-tiba dari belakang Sasuke menarik tangan Naruto. "Ikut aku."

Naruto ditarik oleh Sasuke menuju ke atap sekolah sambil berlari.

"Sekarang, beri jelaskan padaku tentang kejadian waktu itu," kata Sasuke saat Naruto masih bernafas tersenggal-senggal.

"Kenapa harus di sini?" tanya Naruto. Di atap sekolah ini ada siluman kodok yang besar jadi Naruto tidak suka berada di sini. Kodok itu memang tidak menyeramkan tapi dia selalu menjahili orang lain.

"Di sini tidak akan ada yang mengganggu."

Baru saja memikirkannya, siluman itu sudah berada di belakang Sasuke. Kodok hijau itu matanya yang bulat menatap mantap Sasuke dari belakang. Kodok itu mulai mengeluarkan lidahnya yang berwarna ungu. Dia mengarahkannya lidahnya ke arah Sasuke tapi sesaat dia menghentikan gerakan lidahnya dan menarik lagi lidahnya. Dia langsung pergi dan meloncat ke bawah gedung sekolah.

"Kenapa kau diam?" tanya Sasuke.

"Aku barusan melamun. Aku memang suka tiba-tiba melamun," kata Naruto. Tadi Naruto sempat bingung kenapa kodok itu tidak jadi menjahili Sasuke, tapi Naruto membiarkannya karena dia tidak ada di sini itu bagus.

"Sekarang jawab perkataanku yang tadi."

Naruto menatap Sasuke. Dia agak ragu menjawabnya. "Waktu itu kau diincar oleh hantu. Dia sepertinya ingin membunuhmu."

"Hantu itu tidak ada. Katakan padakku yang sebenarnya. Jangan mengada-ada."

"Aku memang mengatakan yang sebenarnya. Waktu itu kau melihatnya sendiri kan?"

"Yang seperti itu bukan hantu."

Naruto terlihat kebingungan menjelaskannya.

"Naru, beri tahu dia tentangku. Waktu itu bisa melihatku," kata Kurama.

"Pria yang menolong kita waktu itu adalah siluman. Apakah kau percaya pada perkataanku?"

"Buat apa aku percaya tahayul seperti itu?"

Hal itu membuat Naruto sedih. Lalu dia teringat kalau Sasuke tidak bisa melihat Kurama lagi setelah itu. "Apa kau bisa melihat orang itu sekarang?"

"Dia tidak di sini. Bagaimana aku bisa melihatnya?"

"Kalau begitu akan ku buat kau melihatnya."

Naruto mengigit jarinya sampai darahnya mengalir. "Ulurkan tanganmu," ucap Naruto.

Sasuke tidak mengerti apa yang dilakukan Naruto tapi dia mengikutinya. Sasuke mengulurkan tangannya kepada Naruto. Naruto langsung membuat tulisan aneh dengan darahnya di telapak tangan Sasuke. Lalu Naruto mengucapkan mantra aneh.

Sesaat mata Sasuke terasa aneh. Dia mengedipkan matanya sekali. Saat dia membuka mata lagi, dia melihat seorang lelaki dengan rambut yang seperti kobaran api di belakang Naruto.

TO BE CONTINUE

.

.

.

Note from me:

Aku mau ngucapin terimakasih buat yg nge-review kalo fict ini seru, keren, dan serem. Padahal aku ngerasa fict ini garing dan pas adegan hantunya ga dapet feel. Mungkin chapter 2 ga terlalu keren buat kalian. Maaf ya... satu lagi, karena tahun ini aku sibuk mungkin aku bakal update lama. Sekali lagi maaf...

Jawaban pertanyaan kalian:

Ciel-Kky30: kalo aku mikkirnya kelambatan soalnya tadinya Cuma mau 2k.

hyuashiya : ini dah lanjut

Lalu Andre : punya tapi ga nyadar sasukenya. Yg ngincar sasuke bukan hantu itu, nanti di jelasin di chap 3.

KN-Yami : makasih dah jawab PM aku. Tulisanku sedikit membaik karena itu walaupun masih jauh dari sempurna. Tapi aku ga akan nge italic bhs asing karena aku males

Runa BluGreeYama : jwban mata merahnya akan di jwb di chapter" berikutnya. Gomen. Ini biar cerita nya bikin deg-degan

kazekageashainuzukaasharoyani : ini dah update. Aku emang ga pinter buat summary hahaha...

See you next chapter...