Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Pagi hari yang begitu cerah, disuatu tempat kediaman yang sangat megah dan indah, terdapat seorang gadis terbaring lelap ditempat tidurnya yang sangat nyaman dan besar itu. Akan tetapi kenikmatan dari tidurnya itu terganggu karena ada seorang pelayan yang membukakan jendela, sehingga sinar matahri yang begitu menyilaukan menyinari ruangan dan juga gadis itu.
"Ngh…"
"Selamat pagi, Nona Sakura." Sapa pelayan yang membukakan jendela kamar.
Sakura terbangun dari tidurnya, dia memposisikan dirinya yang tadinya tidur sekarang menjadi duduk.
"Nona, ini sarapan anda, dan seragam anda sudah kami siapkan, air hangat pun sudah siap." Ucap pelayan satu lagi yang datang membawa sarapan dan menempatkan sarapan itu didepan Sakura.
Sakura hanya memandangi sarapannya itu. "Nona, Nyonya berpesan agar Nona memakan sarapan anda dengan benar."
"Ayah….dan Ibu?" Tanya Sakura.
"Tuan dan Nyonya tadi malam kembali, namun tadi pagi sekali mereka telah pergi lagi, katanya masih ada bisnis yang harus diselesaikan." Lapor para pelayan.
Sakura terdiam, dia tidak ingat, kapan terakhir kalinya dia sarapan pagi bersama kedua orang tuanya, mereka sangat sibuk dengan urusan mereka. Lalu Sakura menyantap sarapan itu walaupun tidak mau, karena kalau dia tidak menyantapnya, para pelayan yang baik hati itu pasti akan cemas. Setelah Sakura selesai menyantap makanannya, para pelayan membereskan sisanya, dan Sakura pergi ke kamar mandi untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah untuk melihat hasil pengumuman.
Begitu Sakura sudah siap dan rapi berpakaian, Sakura berjalan kearah pintu, sebelum Sakura membuka pintu.
"Nonaaa Sakuraaaa!" teriak salah satu pelayan.
"Ah, Tenten…pagi." Ucap Sakura tersenyum.
"Bukan pagi! Kamu lupa meminum obatmu! Kamu ini benar-benar, ayo diminum dulu." Ucap Tenten memberikan obat pada Sakura dan segelas air. Tenten adalah ketua pelayan dirumah yang megah itu, dia sangat memperhatikan kondisi Nona mudanya itu.
Begitu selesai meminum obat yang Tenten berikan. "Ini, obat untuk jaga-jaganya, jangan sampai lupa." Kata Tenten.
"Iya, terima kasih yah, aku pergi dulu." Pamit Sakura.
"Hhhhh, anak itu… padahal ada mobil untuk mengantarnya, tapi kenapa dia memilih untuk jalan kaki yah?" Tanya Tenten pada dirinya sendiri sambil memandangi Nonanya pergi.
Sakura berjalan menuju sekolahnya, harus menaiki kereta untuk bisa sampai disekolah, Sakura sudah biasa dengan kehidupannya, dia tidak memakai fasilitas yang telah diberikan orang tuanya, begitu sampai disekolah, dia melihat ke papan pengumuman yang banyak dikerumuni orang, begitu dia melihat nomor ujiannya tertera disana, dia sangat senang, tapi disitu dia tidak punya teman untuk berbagi kesenangannya itu, dia melihat sekeliling, orang-orang yang saling berpelukan karena senang telah diterima, ada juga yang menangis karena tidak diterima, tapi menangispun ada seorang teman yang menyemangatinya sambil memeluk. Sedangkan Sakura, harus dengan siapa dia berbagi kebahagiannya itu. Dari dulu memang dia tidak punya teman, itu bukan karena dia tidak bersosialisasi, tapi semua orang terlalu segan padanya, karena sikap Sakura yang terlalu diam.
Begitu Sakura membalikkan badannya, dia melihat Kakashi berdiri dilorong sekolah sedang memandangnya, Sakura tersenyum lembut pada Kakashi dan menandakan bibirnya 'aku tunggu', Kakashi langsung memerah wajahnya, dan Sakura pun pergi dari tempat itu.
'Sakura… apa dia serius?' pikir Kakashi.
"Kakashiiiiii" panggil seorang wanit yang langsung menemplok padanya.
"Anko." Sapa Kakashi kembali.
"Kenapa wajahmu tersipu begitu? Melihat calon junior cantik yaaah..huuu…walaupun yang mengajak pacaran itu aku, bukan berarti kamu bisa flirting looh." Ucap Anko.
"Tidaaak, kamu ini selalu berfikiran buruk tentang aku." Jawab Kakashi.
"Bagaimana tidak, aku kan pacaran dengan orang popular disekolah ini, jelas aku khawatir dong." Gumam Anko.
"Hei heii, sepulang sekolah nanti, kerumahku yuk… sudah lama kita tidak bisa berduaan, kebetulan, orang tuaku pulang sangat malam hari ini." Ucap Anko malu-malu.
Kakashi terdiam, bagaimana dia harus menjawab, antara ingin pergi dan tidak, kalau dia pergi ketempat Anko, Sakura menunggunya ditempat lain, kalau dia pergi ketempat Sakura, Anko pasti akan curiga.
"Baiklah." Jawab Kakashi.
"Benarkah? Yeaaaayyy, kalau begitu sampai bertemu sepulang sekolah nanti yaaah, daaah." Anko pun pergi dengan wajah bahagia.
Kakashi termenung sejenak, kalau Anko sudah sebahagia itu, jelas saja dia tahu apa yang dipikiran Anko saat ini, dan itu adalah kesalahan Kakashi juga karena telah melakukan itu pada Anko. Sex, itulah yang mereka lakukan kalau orang tua Anko tidak ada.
Sepulang sekolah, Kakashi dan Anko pergi dengan bergandengan tangan, sedangkan Sakura, dia duduk di bangku dekat tempat pertama kali mereka bertemu, dia menunggu dengan sabar. Dia yakin Kakashi pasti akan datang. Dia tidak bisa menghubungi Kakashi, nomor teleponnya pun tidak punya.
"Ayo masuuk, sudah lama kamu tidak kesini kan." Ucap Anko mempersilahkan Kakashi masuk ke kemarnya.
"Ya," jawab Kakashi. "Sudah lama sekali."
"Kakashi…" panggil Anko. "Kita sudah 2 tahun pacaran, tidak terasa yah, aku sangat mencintaimu."
Anko mengucapkan hal itu sambil memeluk Kakashi dengan erat. 2 tahun mereka berpacaran, tapi bagi Kakashi, seperti baru 2 minggu.
'2 tahun ya?' pikir Kakashi.
"Kakashi, hari ini…peluklah aku…" pinta Anko dengan malu.
Dengan tanpa pikir panjang, Kakashi mencium Anko dengan panas, ciuman panas itu akhirnya menjadi beringas bagi mereka berdua, Anko membuka kemeja Kakashi, dan Kakashi pun membuka kemeja Anko. Mereka akhirnya melakukan sex untuk yang kesekian kalinya.
Sudah 3 jam Sakura menunggu, Kakashi tidak kunjung datang, dia terus menerus menatap jam tangannya, selagi menunggu Kakashi, dia mendengarkan i-pod dengan tenang, sampai ada seseorang menegurnya.
"Heii, kamu yang kemarin kan?" tegur seorang pemuda sambil menepuk pundaknya.
Sakura menoleh, ternyata orang itu adalah laki-laki yang dia temui dikelas saat selesai test ujian masuk.
"Sedang apa kamu disini?" Tanya pemuda itu dengan nada dingin tapi penasaran.
"Menunggu." Jawab Sakura.
"Siapa?" Tanya laki-laki itu.
Sakura tidak menjawab, dia hanya tersenyum sambil menempelkan telunjuk di bibirnya menandakan rahasia.
"Sasukeeee, kamu tiba-tiba lari erus menghilang, gimana siih, jadi tidak? Katanya kalau kamu keterima kita akan ke love hotel." Ucap seorang gadis berambut merah sambil memegang lengan laki-laki itu.
"Ah, ya…hei, aku duluan yah, atau kamu mau kutemani?" Tanya Sasuke.
"Tidak, pacarmu menunggumu tuh." Tunjuk Sakura pada wanita berambut merah.
"Heeee? Dia bukan pacarku, yasudahlah, ayo Karin." Ajak Sasuke.
"Heii, siapa wanita itu? Cantik sekali… incaran barumu yah?" Tanya Karin sambil berjalan disamping Sasuke.
"Enak saja, jangan samakan dia dengan kalian." Sewot Sasuke.
Dengan hati-hati Sasuke melirik kembali Sakura yang sedang mendengarkan i-podnya sambil senyum-senyum, entah kenapa itu juga membuat wajah dingin Sasuke ikut tersenyum kecil.
Malam pun tiba, Kakashi sedang memakai pakaiannya yang berantakan.
"Haaa? Sudah mau pulang?" Tanya Anko.
"Ya, sudah malam, aku takut orang tuamu datang dan melihat kita seperti ini, bisa bahaya." Ucap Kakashi.
"Hehehehe, tidak apa, biar kita langsung dinikahkan." Kata Anko ngasal.
"Hahaha, baiklah…aku pulang dulu yah." Kata Kakashi sambil mencium kening kekasihnya itu.
"Ya, hati-hati dijalan, sesampai dirumah telepon aku yah." Ucap Anko.
Kakashi tersenyum dan pergi meninggalkan rumah kekasihnya, begitu Kakashi berjalan menuju rumahnya, pikirannya masih teringat akan janjinya pada Sakura untuk bertemu ditempat pertama kali mereka bertemu.
'Sudah malam juga, tidak mungkin dia masih disana.' Pikir Kakashi yang berjalan menuju tempat itu. Tetapi betapa terkejutnya Kakashi ketika melihat Sakura masih duduk disitu sambil masih dengan i-podnya.
'Dia masih disini?' pikir Kakashi.
Kakashi langsung berlari kearah Sakura, dan begitu Sakura melihat kakahsi, dia langsung berdiri dan tersenyum lebar.
"Sudah kuduga kau akan datang." Ucap Sakura sambil tersenyum.
Ketika Kakashi melihat senyum Sakura yang begitu tulus, Kakashi langsung reflek memeluknya.
"Bodoooh! Kenapa masih disini?" bentak Kakashi.
"Karena aku kan berjanji akan menunggumu disini." Jawab Sakura dengan nada riang.
Kakashi memandang Sakura dengan pandangan tidak percaya, sebenarnya apa yang ada dipikiran Sakura, bahkan Sakura tidak marah sama sekali, dan lagi Skaura tidak menanyakan kenapa Kakashi begitu telat.
"Kau… wanita yang unik." Ucap kakashi.
"Masa sih? Kalau kamu yang bilang aku unik, aku senang." Kata Sakura tersenyum.
"Ahahahahahaa, baiklah…aku kalaah, sekarang, katakan padaku, ada apa?" ucap Kakashi dengan lembut.
"Pertama, kamu tidak mau mengucapkan selamat padaku? Aku diterima loh." Kata Sakura.
"Oh iya, selamat yaaa." Ucap Kakashi mengelus kepala Sakura.
"Hanya begitu? Tidak ada ciuman selamat?" Tanya Sakura dengan polosnya.
Kakashi langsung memerah begitu Sakura berkata begitu, lalu dengan mata tertutup, Kakashi ciuman kecil pada bibir mungil Sakura. Tingkah Kakashi seperti orang yang tidak pernah ciuman saja.
"Kakashi…" panggil Sakura. "Maksud aku kan bukan di bibir."
"Ah…ahahhaa…Maaf." Ucap Kakashi dengan wajah memerah seperti kepiting rebus.
"Hahahahaa, tidak apa, aku senang kok." Kata Sakura."Sudah malam, aku harus pulang, terima kasih yaaa."
Sakura berpamitan lalu pergi dengan lari sambil melompat, seperti anak kecil yang sedang bahagia.
'Hhhh, apa yang kulakukan sih.' Pikir Kakashi.
Kakashi sangat bingun dengan kepribadian Sakura, dia tidak menanyakan tentang ciumannya dengan Anko saat disekolah, tidak bertanya kenapa Kakashi bisa setelat itu, juga tidak marah sama sekali, malah dia tertawa dan tersenyum dengan lembut, bahkan mengucapkan terima kasih padanya. Kepribadian Sakura membuat hati Kakashi tak karuan.
"Nona Sakuraaa! Kenapa pulang malam sekaliiii? " teriak Tenten pada Sakura yang baru tiba dirumahnya.
"Tenten, kalau marah-marah terus kau bisa cepat tua loh, lagipula aku tidak apa-apa, aku juga minum obat teratur kok." Ucap Sakura mengejek Tenten.
"Nona, apa ada kejadian yang menyenangkan? Sepertinya anda senang sekali." Tanya Tenten.
"Ya, sangat menyenangkan." Jawab Sakura dengan senyumnya.
Tenten menghela nafasnya sammbil tersenyum, dia sangat senang kalau Nonanya juga senang, karena sudah lama sekali Tenten tidak melihat wajah Sakura yang begitu bahagia ini, kalau boleh Tenten tahu apa yang membuatnya begitu bahagia, Tenten bersumpah akan menjaga kebahagiaan Nonanya itu.
Tiba saatnya masuk sekolah baru, seragam baru dan lingkungan baru, Sakura duduk ditepi jendela kelas, suasana kelas begitu ramai, tapi Sakura malah menyendiri di pinggir kelas, melamun kearah luar jendela sambil mendengarkan i-pod kesayangannya, wajahnya yang melamun sambil tersenyum itu membuat para pria di kelasnya terpesona.
"Heii, kalian sudah tahu belum? Kalau Sasuke Uchiha masuk kelas ini?"
"Iyaaa, waaah beruntung sekali aku masuk kelas ini."
"Tapi kabarnya dia sangat menyeramkan yah?"
"Ah tidak apa, yang penting tampan."
"Waktu SMP dulu, dia kan ketua geng di SMP nya."
"Mudah-mudahan di SMA ini dia menjadi ketuanya juga."
"Tapi katanya, dia itu playboy loh, pacarnya banyak."
"Tidak, apa…aku mau kok jadi salah satu pacarnya."
"Kyaaaa…kyaaaa…kyaaaaaa"
Begitu para wanita berisik membicarakan Sasuke, tiba-tiba Sasuke datang membuka pintu kelas dan diikuti oleh teman-temannya, Sasuke memasuki kelas dengan wajahnya yang dingin, begitu dia melihat Sakura, dia langsung menempatkan dirinya duduk disamping Sakura, dan langusng menundukkan kepalanya menempel kemeja dan tangannya.
"Heiii, Sasukeee, baru datang masa kau mau tidur." Ucap temannya yang berambut pirang itu.
"Berisik, aku lemah terhadap pagi." Jawab Sasuke.
Sasuke bukan lemah terhadap pagi, tapi dengan diam-diam, Sasuke memandangi wajah Sakura yang sedang mendengarkan i-podnya dan tidak melihatnya itu, Sasuke terpesona oleh sosok Sakura, dia merasa bahwa Sakura berbeda dari wanita-wanita yang selama ini dia temui. Dan lagi, Sasuke penasaran, lagu apa yang bisa membuat wajah Sakura berseri-seri seperti itu.
Sangat kebetulan, pelajaran pertama adalah olah raga, semua kelas pergi ke lapangan, jadi semua bisa saling kenal satu sama lain, tapi tidak ada yang mau mendekati Sakura, bagi Sakura hal ini sudah biasa dari kecil.
"Heiii, kamu Haruno kan? Yang pernah bermain Piano saat pembukaan hotel berbintang 5 itu?" Tanya seorang wanita berambut pirang.
"Ya, itu aku." Jawab Sakura dengan ramah.
"Waah, aku Ino…Yamanaka Ino, saat itu aku benar-benar terpesona dengan permainanmu." Kata Ino sambil menggenggam tangan Sakura.
Sakura sangat kaget, karena baru pertama kali ada cewek yang begitu berani menatapnya dan mengajak ngobrol langsung.
"Salam kenal yah, Yamanaka." Ucap Sakura dengan ramah.
"Bukan, bukan, bukan…panggil aku Ino, oke Sakura." Kata Ino mengedipkan sebelah matanya.
"Oke, Ino." Jawab Sakura tersenyum senang.
"Berkumpuuuul" teriak sang guru. "Pelajaran hari ini adalah lari 100 meter berpasangan, ayo pilih pasangan kalian."
"Ah, pak guru, tertinggal sesuatu dikelas." Izin Sasuke.
"Cepat ambil." Kata sang guru.
Sasuke berlari menuju kelas, begitu sampai dikelas, dia mengambil handbandnya, sebenarnya itu tidak penting, yang dia inginkan adalah, mendengar apa lagu yang membuat Sakura begitu tersipu. Akhirnya dengan berani Sasuke menghampiri meja Sakura.
"Ah, aku mau ambil ikat rambutku dulu dikelas, aku kekelas dulu sebentar yah." Ucap Sakura pada Ino.
"Ya, jangan lama-lama." Kata Ino
Sasuke perlahan mengambil i-pod di laci Sakura, lalu ketika dia melihat daftar lagunya, hanya ada satu lagu disitu dan judulnya adalah 'recording'.
'Recording?' pikir Sasuke. Akhirnya karena penasaran, dia memutar rekaman itu, dan betapa kagetnya, ternyata itu bukanlah rekaman lagu.
'Bodoooh! Kenapa masih disini?"
"Karena aku kan berjanji akan menunggumu disini."
"Kau… wanita yang unik."
"Masa sih? Kalau kamu yang bilang aku unik, aku senang."
"Ahahahahahaa, baiklah…aku kalaah, sekarang, katakan padaku, ada apa?" "Pertama, kamu tidak mau mengucapkan selamat padaku? Aku diterima loh."
"Oh iya, selamat yaaa."
"Hanya begitu? Tidak ada ciuman selamat?"
"Kakashi…"
"Maksud aku kan bukan di bibir."
"Ah…ahahhaa…Maaf."
Itulah yang Sasuke dengar, Sasuke sangat terkejut, kenapa rekaman sesimple ini bisa membuat Sakura tersipu, lagipula siapa itu Kakashi dia tidak tahu, yang jelas Sasuke sadar. Ada seseorang yang memandangnya dari arah pintu, ketika Sasuke menoleh, dia melihat Sakura yang berdiri di depan pintu memergoki Sasuke yang sedang mendengarkan i-podnya.
akhirnya update chapter 2, hehehehheee... chapter selanjutnya akan diusahan update secepat mungkin, oh iya... aku butuh saran dari kalian semua, menurut kalian, Sasuke aku buat jadi orang biasa atau dia sama-sama berasal dari orang kaya , seperti Sakura?
ditunggu sarannya yaaaah...makasiiih
thank you reviewnya, review kalian tuh selalu ngebuat aku semangat untuk update...^^
luv u..mmuuaahhh
