Oke, karena TO tahap kedua udah selesai, Fei balik lagi sebentar untuk update yang satu ini! xD
Mana teriakannya? *krik krik, jangkrik lewat*

.

AnotherWitch07: Ada lanjutannya! Mwahahaha! xD

puji rahma 121 ; mrs delacour: Makasih xD

Rise Star ; cla99: Hm, pertanyaan kamu akan terjawab di akhir chapter ini :3

Weaselle7: Wkwk, iya Fei juga paling seneng mikirin ekspresi Hermione saat dia harus naik ke sapu terbang xD

firyaalmalfoy21: Makasih, ini akhirnya Fei update! xD

aliooonggg ; Kia-Andrea ; Rey619 ; Questscale12102: Sudah update :3

Senjaya: Hm, untuk pertanyaan ini jawabannya ada 2. Pertama, masak murid ngajarin murid? Terus apa gunanya guru? Kedua, kalo yang ngajarin Hermione itu Harry, fict ini jadinya Harry x Hermione dong? *jawaban melenceng dari pertanyaan* Hehe :P

Antares Malfoy: Pertanyaan kamu akan terjawab di chapter ini, baca aja yap :3

megu takuma: Nah yaaa ketahuan! Ternyata ini toh silent reader-nya Fei! Penguntit! Stalker! (eh?) wkwk, tapi udah baca aja Fei bersyukur banget loh. Kalo review, Fei akan kasih hadiah! Yaitu… BALASAN REVIEW –ditampar massal-! BWAHAHAHA #plak

Guest: Loh? Bukannya merah gelap ya? Eh? Aduh, pasti mata Fei rabun…gomenasai! ==

Michelle I Xe: Aduh maaf banget yaaa… itu "penyakit" terparah Fei, typo! Dan Fei pun baru sadar kalo ada typo saat Fei coba baca dari hape…gomenasai! semoga chapter ini lebih baik dari yang sebelumnya… :)

.

Disclaimer: Apa? HP punya? Hah! Hanya dalam mimpi! Begitu bangun juga ternyata yang punya HP adalah JKR… *sigh*

Warning: Typo, garing, author ga pinter nulis romance, author lagi curhat.

Setting: Tahun ke-6 Harry Potter dkk

.

.

CHAPTER 2

.

.

Hermione sedang mengantri untuk gilirannya mengambil nilai NEWT untuk materi Quidditch di lapangan. Di depannya masih ada Harry, Neville, Parvati, dan Seamus. Barusan Ron sudah maju untuk gilirannya. Dan yang membuat orang terkejut adalah, Ron berhasil memasukkan Quaffle, tidak ada yang meleset satu pun. Setelah Seamus dan Parvati, sekarang adalah giliran Neville. Salah satu dari tiga orang yang dikhawatirkan tidak lulus materi Quidditch. Ya, tiga orang itu adalah Neville, Ron, dan Hermione sendiri.

Masih menahan napas, dengan agak berharap, Hermione ingin Neville gagal. Tidak ada maksud jahat sih, sebenarnya. Tapi ya, ia berharap yang gagal jangan hanya dirinya sendiri. Dan kalau Ron sudha berhasil, satu-satunya "teman" yang Hermione harapkan adalah Neville.

Tetapi doa komat-kamit yang Hermione panjatkan daritadi tidak membuahkan hasil. Neville berhasil lulus dengan mulusnya. Saat giliran Harry, madam Hooch dipanggil oleh professor Dumbledore ke kantor sebentar. Posisinya langsung digantikan oleh professor McGonagall. Wanita bertopi kerucut itu dengan segera naik ke sapu terbangnya dan langsung melayang-layang di langit bersama murid-murid asramanya.

Saat giliran Harry selesai, nama Hermione dipanggil. Dengan jantung yang berdegup amat sangat kencang karena gugup, ia pun mengambil Quaffle yang dioper oleh Harry. Lemparan pertama segera dilakukan oleh Hermione. Dan lemparannya meleset dari lingkaran gawang. Lemparan kedua, lemparannya terlalu kuat, sampai melewati atas lingkaran. Lemparan ketiga, terlalu pendek. Yang keempat dan yang kelima melewati samping lingkaran. Dan yang keenam…lemparannya kena pinggir lingkaran, sehingga Quaffle yang ia lemparkan terpantulkan ke arah Hermione.

memejamkan matanya rapat-rapat. Ia tidak bisa membayangkan kalau McGonagall menorehkan huruf T di samping tulisan namanya. Itu tidak boleh terjadi. Tidak boleh –

"Saya sungguh kecewa padamu, miss Granger. Saya tidak percaya kalau kau gagal!" kata professor McGonagall dengan nada yang agak tinggi, setengah berteriak.

'Aku…gagal…? Aku tidak lulus…?'

.

.

"Aku tahu kau rajin, tapi aku tidak tahu kalau kau serajin ini, Granger."

Hermione Granger mengalihkan pandangannya dari lingkaran gawang Quidditch ke arah suara orang yang ada di belakangnya. Suara pria yang agak serak itu memang adalah ciri khas mantan kapten Quidditch saat ini. Suaranya sudah berubah. Itulah yang ada di pikiran Hermione saat ia melihat sosok lelaki itu, Oliver Wood.

"Wood," sapa Hermione sopan, melayangkan pandangannya pada lingkaran gawang lagi.

"Kupikir kau hanya rajin untuk pergi ke perpustakaan saja. Tetapi ternyata aku salah," ujar Oliver.

"Yah, mau bagaimana lagi? Materi Quidditch bukan hanya teori saja yang diujikan. Kalau hanya teori, kau tidak akan melihatku terbang disini, dan lagi aku semalam mimpi buruk tentang ini," kata Hermione.

"Mimpi apa?"

"Aku mimpi kalau aku tidak lulus NEWT Quidditch, professor McGonagall bilang beliau kecewa padaku. Sungguh, aku seperti melihat boggart-ku untuk yang kedua kalinya!"

"Astaga, itu boggart-mu?"

"Jangan tertawa Wood, ini serius."

"Oke, oke. Omong-omong, aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba kementrian mengajukan materi Quidditch untuk NEWT. Maksudku, bukankah NEWT itu murid yang pilih?" tanya Oliver.

"Yang kudengar, katanya sih karena akhir-akhir ini sapu terbang sudah merupakan hal umum yang semua penyihir harus bisa lakukan. Dan karena itulah, Quidditch menjadi satu-satunya dan NEWT pertama yang wajib diambil murid. Ng, aku mengerti sih kalau memang ada pengambilan nilai tentang penerbangan. Yang tidak kumengerti, kenapa Quidditch? Lalu, err… Maaf, aku terlalu banyak bicara…" ucap Hermione. Wajahnya bersemu merah seketika itu.

Ada tiga hal yang membuat wajahnya memerah. Pertama, karena dia bicara kelewat banyak, alias cerewetnya kumat. Oke, dia memang biasanya cerewet sih, tapi hanya kepada orang-orang yang ia kenal baik atau kalau sedang pelajaran (re: menjawab pertanyaan dengan guru secara panjang lebar padahal guru tersebut kadang hanya meminta jawaban sebanyak satu kalimat singkat). Alasan yang kedua adalah karena Oliver Wood ada didekatnya, dan mereka hanya berdua saja di langit di atas lapangan. Dan yang terakhir adalah karena lelaki yang kini ada disampingnya itu melihat ke arahnya daritadi.

Untuk menyembunyikan wajahnya, Hermione berusaha untuk terlihat fokus pada lingkaran gawang dan melemparkan Quaffle yang ia pegang daritadi ke lingkaran tersebut. Dan seperti biasa, meleset. Jauh sekali.

Mendengar desahan kesal gadi berambut ombak itu, Oliver tertawa kecil dan mengambil Quaffle yang lain.

"Perhatikan," katanya.

Oliver mengangkat Quaffle dengan tangannya dan melempar bola itu. Bola tersebut masuk dengan mulusnya ke tengah-tengah lingkaran. Hermione langsung membuat ekspresi kagum. Bukan, bukan karena orang yang ia sukai itu hebat, tetapi ia baru pertama kali melihat lemparan Quaffle yang begitu mulus. Seumur-umur ia melihat orang melempar bola warna merah itu, tidak pernah ia lihat ada yang semulus Oliver. Oh tunggu dulu, memangnya kapan ia pernah benar-benar memperhatikan para Chaser memasukkan Quaffle ke gawang?

"Nah, sekarang kau pegang Quaffle-nya seperti ini," kata Oliver memberi arahan. "Bukan, bukan seperti itu, perhatikan jarimu, Granger," kata Oliver lagi, kini ia membetulkan posisi jari Hermione. Ya, Oliver menyentuh jari Hermione.

Sekali lagi, wajah Hermione kembali bersemu merah. Quaffle yang tadi ia pegang pun terjatuh. Sambil merutuki diri, ia segera mengambil Quaffle tersebut sambil mengujarkan kata maaf pada lelaki yang menemaninya. Setelah itu, Oliver mengajari Hermione lagi.

"Kau kelahiran muggle kan, Granger? Maksudku, sebelum kau datang kesini, kau tinggal di dunia muggle kan?" tanya Oliver, ketika untuk kesekian kalinya Hermione gagal memasukkan bola ke dalam lingkaran.

"Apa maksud pertanyaanmu itu?" Hermione bertanya balik dengan nada sedikit tersinggung, yah, siapa yang tidak akan tersinggung kalau tiba-tiba disemburi pertanyaan yang seperti itu?

"Oh, tunggu dulu, jangan tersinggung dulu. Maksudku, kalau kau tinggal di dunia muggle, kau tentu tahu permainan bola basket," jawab Oliver.

"Tentu aku tahu. Tetapi aku tidak bisa main basket –aku amat sangat payah dalam hal berolahraga," kata Hermione.

"Oke, begini saja. Kalau kau merasa agak terbebani dengan pikiran hal-hal Quidditch, kau pikir saja kita sedang main bola basket. Kurasa itu akan membuatmu merasa lebih baik. Secara, permainan basket pasti terasa lebih dekat denganmu daripada permainan Qudditch."

"Hm…kau benar. Terimakasih untuk sarannya," ujar Hermione, masih menolak untuk melihat ke arah Oliver.

Dan Hermione pun berlatih lagi di hari Kamis yang terik itu. Lempar, gagal, lempar, gagal, lempar lagi, gagal lagi, dan seterusnya. Kalau tidak melenceng, ya lemparannya kurang jauh. Sungguh, Hermione bingung bukan main. Matanya normal kok, tidak minus, tidak silinder, apalagi plus. Matanya masih sehat, tidak seperti mata Harry yang jika sahabatnya itu tidak menggunakan kacamata maka pada saat itu ia akan "buta". Tidak ada yang salah dengan matanya, tetapi kenapa ia tidak pernah bisa memasukkan Quaffle barang sekali saja?

Pukul satu siang. Jam makan siang akan berakhir sekitar satu jam lagi. tetapi Hermione dan Oliver masih terus di lapangan. Heran, Oliver ternyata memang sebegitu cintanya pada Quidditch (atau mungkin pada lapangannya?), sampai-sampai ia nyaris merelakan setengah dari waktu makan siangnya hanya untuk melatih seorang gadis main Quidditch.

Tiba-tiba Katie Bell datang ke lapangan itu, memanggil Oliver untuk turun ke bawah, mengajak lelaki itu untuk makan bersama-sama dengan tim Quidditch –mantan anggota tim Quidditch-nya. Oliver antara tega dan tidak tega kalau harus meninggalkan Hermione yang masih belum bisa, tetapi Hermione menyuruhnya pergi makan, dan mengatakan bahwa ia akan menyusul ke aula sebentar lagi.

.

.

Hari Jumat. Hari yang jadwal pelajarannya paling renggang. Hanya sekitar empat sampai lima jam pelajaran saja hari ini. Sungguh hari sekolah yang paling dinantikan oleh seluruh murid Hogwarts, kecuali Hermione. Ya, Hermione si kutu buku yang gila belajar itu selalu kebingungan akan apa yang harus ia lakukan kalau tidak ada pelajaran. Kecuali untuk hari ini, ia memang menunggu saat-saat pelajaran usai. Agar ia bisa segera pergi ke lapangan Quidditch. Bukan untuk bertemu dengan Oliver loh, tapi memang karena ia harus berlatih Quidditch. Masakah NEWT-nya yang lain mendapat nilai O, tetapi untuk yang satu ini ia akan dapat nilai T? Dapat nilai E saja ia tidak pernah rela!

Segera sesudah pelajaran terakhir hari itu selesai, Hermione segera mengambil sapu terbang dan beberapa bola Quaffle, dibawanya barang-barang tersebut ke lapangan, berikut dengan tas dan buku-buku pelajarannya. Ia langsung terbang dengan sapu terbangnya dan latihan. Dan lagi-lagi suara itu menghampirinya.

"Hei," sapa Oliver.

"Wood," sapa Hermione pelan.

"Perhatikan jarimu, Granger, salah satu kesalahanmu adalah yang satu itu," ujar Oliver membetulkan.

Hermione latihan lagi, terus menerus, dan ya, lagi-lagi ia gagal untuk…entahlah. Puluhan kalinya? Atau sudah keratusan kalinya? Herannya, Oliver masih disana, bersamanya, melatihnya, menemani dia di tempat yang menyebalkan itu.

"Cukup, cara memegang bolamu sudah benar. Selanjutnya adalah bagaimana kau bisa membidik lemparanmu dengan benar. Ayo turun, istirahat sebentar," ajak Oliver, dibalas dengan anggukan kepala Hermione.

Mereka pun duduk di pinggir lapangan berdua. Ya, silahkan garisbawahi atau ditebalkan kata "berdua" di kalimat sebelumnya. Keduanya menikmati angin yang bertiup ke arah mereka. Seujk sekali. Oliver sangat merindukan sensasi angin yang berhembus menabraknya setiap kali ia usai latihan di tempat itu. Dan saat ini ia tidak sendiri. Ada seorang gadis yang ikut duduk di sampingnya.

"Aku tidak pernah dilahirkan untuk Quidditch. Untuk bisa sedikit pun, tidak. Aku tidak dilahirkan untuk bisa materi satu ini," kata Hermione tiba-tiba memecahkan keheningan diantara mereka berdua.

"Jangan bicara seperti, Granger. Kau tahu, setiap orang dilahirkan dengan kemampuan masing-masing. Dan tidak pernah ada orang yang dilahirkan dengan keadaan yang sempurna. Tidak ada yang sempurna, aku maupun kau tidaklah sempurna. Dibalik semua kehebatan yang dimiliki seseorang, pasti orang itu juga akan memiliki kekurangan.

"Contoh sederhanya adalah kau sangat luar biasa dalam semua kelas. Kau bolak balik ke perpustakaan dan berkonsultasi dengan para guru agar kau bisa selalu mendapat nilai yang baik. Nah, kekuranganmu adalah Quidditch," jelas Oliver.

Hermione tidak menyahut. Ia tetap diam, melihat langit, menonton awan yang sedang bergerak-gerak di langit. Tetapi ia mendengar dengan jelas setiap kata yang diucapkan Oliver. Ia tentu tahu tidak ada manusia yang sempurna, semua orang punya kekurangan. Hermione tahu. Tetapi untuk yang satu ini, ia tidak rela. Ia harus bisa Quidditch, untuk nilai kelulusannya. Okelah, untuk yang satu ini, ia berusaha untuk rela mendapat nilai E. Cukup E, tidak boleh lebih. Tetapi kalau dengan kondisinya saat ini…jangankan E, ia sudah pasti dapat T!

"Granger?"

"Ya, Wood?"

"Boleh aku tanya suatu hal padamu?"

"Tentu."

"Apakah kau masih memiliki perasaan yang sama padaku seperti waktu itu, Granger?" tanya Oliver. Memandang wajah gadis yang disampingnya dengan tanpa ekspresi.

"Ap –apa? Maaf, apa?"

"Apa kau masih menyukaiku? Seperti yang kau torehkan disuratmu waktu libur musim panas?"

"Aku…aku tidak tahu. Sungguh, aku tidak tahu. Kenapa kau tanya hal itu?"

"Karena…karena aku berpikir…kupikir aku mulai menyukaimu…"

.

.

~TBC~

.

.

Gimana? Gimana? Pasti masih ada typo deh =="
Betewe, ada yang PM Fei bilang kalo bahasa ato penulisan Fei itu terlalu baku, terlalu kayak sastra (jadi kayak bahasa Melayu klasik). Memang begitu ya? Sampe ada yang gak dimengerti? Kalo memang iya, tolong bilang ya, biar Fei akan coba ubah gaya tulisan Fei ini yang udah kelewat kebiasaan (eh) :)

REVIEW!