Chapter II

Aku boleh respon review teman2 disini kan? Izinkan aku ya… tapi yang ga ingin lihat ya udah langsung baca ceritanya aja …

Untuk muthiamomogi: makasih dah review… Sai akan muncul disini.. oh iya aku lupa beri tanda. Makasih dah ningatin aku…

Chiheisen: Makasih dah Review ya! Aku senang dapat Review dari salah satu author kesukaanku! Penyembuh disini bukan seperti dokter atau ninja medis seperti Ino, tp disini Dei menyembuhkan dalam konteks psychology. Gaje ya? Ya, mungkin dengan membaca kelanjutannya, Chiheisen akan mengerti. Terima kasih sarannya… akan aku ikuti saran yang membangun ini…

Ms Shalala Bum Bum: Makasih dah Review.. senang eh melihat ada yang menyukai karyaku… Iya belum End, jadi baca kelanjutannya ya…

PRINCESS?

Chap II

By Rei-kun 541

.

.

.

Hampir senja ketika kereta kuda yang aku tumpangi memasuki halaman istana. Halaman istana begitu luas dan tertata dengan indah. Aku sebagai penikamt seni sangat mengagumi estetikanya. Ada air mancur ditengah-tengah halaman istana yang menambah keindahan halaman itu.

Kereta kuda berhenti tepat di depan istana. Pintu terbuka dan lelaki paruh baya itu mempersilahkan aku untuk turun dari kereta kuda itu. Aku menurutinya. Betapa takjub aku melihat kemegahan dari istana itu. Istana yang tampak berbesa dengan istana lain. Istana yang memilaki seni arsatektur yang indah. Didepan kami ada anak tangga yang tinggi dan menyambut kedatangan kami. untuk masuk melewati pintu depan istana, kami harus menyusuri tangga itu terlebih dahulu.

Lelaki itu mempersilahkan aku terlebih dahulu untuk berjalan menaiki tangga. Lagi-lagi aku menurutinya. Tak ada yang bisa aku lakukan selain itu.

Kuangkat sedikat rokku dan mulai menaiki tangga itu. Tapi sampai ditengah jalan kau menginjak rokku sendiri. Hingga aku hampir jatuh. Syukur lelaki itu menggapai tubuhku dan menopang dari belakang agar aku tidak jatuh.

"Anda tidak apa-apa, nona?" Tanya lelaki itu. Wajahku merona merah dan segera kugelengkan kepalaku. Aku benar-benar malu. Huh… kenapa harus baju seperti ini sih yang aku pakai?

Setelah menyusuri tangga lelaki itu berlari dan membuka pintu depan istana dan mempersilahkan aku masuk lebih dulu. Ketika masuk lagi-lagi aku merasa takjub. Keindahan istana itu tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Setelah lama berjalan, sampailah kami di depan sebuah ruangan. Di dalam ruangan itu, kulihat seorang wanita dewasa yang anggun sedang berdiri di depan jendela yang tinggi dan lebar sehingga langit sore itu dapat dilihat dengan jelas. Wanita itu memakai tiara yang indah dikepalanya, berkilau diterpa matahari senja. Aku yakin yang ada didepanku itu adalah seorang ratu.

Mendengar derap langkah kami, wanita itu memalingkan wajahnya dan menatap kami. Kami berhenti dan menundukkan tubuh kami memberi hormat.

Aku menatap wajahnya dan ia juga menatap wajahku. Wanita itu tersentak dan mata sewarna darah miliknya berbinar-binar.

"Yamanaka-hime… Putri Bintang di Surga…" ujarnya. Aku tidak mengerti apa maksudnya.

"Bukan Yang Mulia, Putri Bintang di Surga telah tiada. Dihadapan Yang Mulia hanya gadis biasa berwajah mirip dengan Tuan Putri."

"Aku mengerti. Perginya Putri Bintang di Surga juga membuat aku kehilangan Sang Pangeran juga."

Sang Ratu berjalan manghampiriku. Dia berdiri tepat di depanku kemudian menyentuh pipi kiriku dengan tangan kanannya. Setelah itu, Ratu memelukku. Aku tersentak. Ingin rasanya melepaskan pelukannya tapi aku takut perbuatanku tidak sopan.

"Aku mohon! Tolong kembalikan anakku. Aku mohon!" Ratu memohon padaku. Sungguh tak pernah aku mendapatkan permohonan seperti itu sebelumnya.

"I… Iya, Yang Mulia. Saya akan berusaha."

"Tolong, jangan menyerah! Kau satu-satunya harapanku saat ini."

"Saya akan berusaha, Yang Mulia!"

Ratu melepaskan pelukannya. Bisa kulihat matanya berair. Ia hendak menangis. Segitu terlukakah?

"Mari aku tunjukkan istana Sang Pangeran." Ujarnya, tapi segera dihalangi oleh lelaki paruh baya itu.

"Tidak perlu Yang Mulia, anda pasti lelah seharian bekerja tanpa henti. Biar saya yang akan mengantarnya." Jawab lelaki itu.

"Maaf ya, aku tidak bisa menemanimu mengunjungi Sang Pangeran." Kata Ratu padaku.

"Tidak apa! Beristirahatlah Yang Mulia, dan maaf, tolong jangan panggil aku dengan sebutan putri. Tak pantas rasanya bagiku, hm.."

"Kau akan jadi Putri disini. Menggantikan Putri Bintang di Surga.. Jadi berusahalah terbiasa dengan sebutan itu."

"Baiklah Yang Mulia..hm.."

Setelah menunduk member hormat aku yang diantar lelaki itu meninggalkan Ratu dan pergi menuju kediaman Sang Pangeran.

Istana Sang Pangeran terpisah. Masih satu gedung dengan istana Ratu, tapi tidak menyatu. Istana Sang Pangeran juga dilengkapi ruang kerja, kamar tidur, perpustakaan dan ruang-ruang lain milik pangeran sendiri.

Lelaki itu langsung mengajakku ke kamar sang pangeran. Didalam kamar itu dapat kulihat seorang laki-laki berkulit pucat sedang duduk di atas ranjangnya. Rambutnya kusut. Dia tak terwat sama sekali. Kamarnya juga berntakan seperti kapal pecah. Pelayan istana pasti sulit membersihkannya karena kamarnya yang besar.

"Yang Mulia…" Sapa lelaki itu. Pangeran mengangkat wajahnya dan menatap kami yang masih berdiri di depan pintu. Mata onyx miliknya menatap ke arahku. Wajahnya terlihat pucat dan lusuh. Mata onyx itu menyipit ketika melihatku. Wajahnya berubah merah, dan mata onyxnya menatap tajam kearahku.

"Kalian ingin membohongiku kagi, hm?" teriaknya, kemudian segera membuka kertas mencoret-coretnya dengan kuas dan tinta berwarna hitam. Awalnya aku tak tahu apa yang ia coretkan di gulungan itu.

"Ninpou Jouju Giga!" ucapnya. Itu ninjutsu. Dari gulungan itu keluar sebuah singa aneh dan singa gambar itu segera menyerangku. Awalnya aku ingin menghindar, tapi karena sadar posisiku, aku pasrah saja ketika singa itu menyerangku. Aku jatuh tertidur. Kedua tanganku di diijak kedua kaki depan singa itu. Singa itu mengaung bagai mendapat mangsa. Tanganku tak dapat kugerakkan.

"To..Tolong, un! Siapapun tolong aku, un!" baru kali ini aku memohon minta pertolongan. Tidak bisa berbuat apa-apa sih…

"Yang Mulia, hentikan! Beginikah cara Yang Mulia menyambut kedatangan sang Putri?" teriak lai-laki itu. Singa itu berhenti mengaung di depan wajahku dan mulai mundur teratur, kembali masuk ke dalam gulungan itu.

Aku bangun dan duduk dilantai sambil mengelus kedua tanganku yang diinjak singa itu secara bergantian. Padahal haya gambar, tapi kenapa rasanya begitu nyata?

Kudengar langkahnya, dia bergerak ke arahku. Setelah dekat ia mulai berlutut di depanku dan mengelus pipku…

"Kau benar-benar, Ino?" tanyanya. Mata onyxnya berkaca-kaca.

"Te…tentu saja, un?" jawabku singkat. Begitu selesai kujawab, dia langsung memelukku. Begitu cepat, begitu tiba-tiba dan begitu erat. Dia bagaikan menemukan barang berharganya kembali dan tidak ingin lagi kehilangannya.

"Hime, syukurlah kau kembali! Tolong Hime, tolong jangan pergi lagi! Aku tidak bisa hidup tanpamu. Jangan pergi ya? Jangan tinggalkan aku, aku kesepian!" katanya sambil tetap memelukku.

"I…iya. Tidak akan aku tinggalkan, un!"

"Hime… oh…" kurasakan pelukannya yang semakin erat dan nafasnya yang tersendat-sendat. Kugenggam bahunya untuk melepaskan pelukan Pangeran. Pangeran melepaskan pelukannya hingga aku bisa melihat wajahnya. Air matanya terlihat membasahi pipinya, tapi ia segera mengusapnya dan tersenyum kepadaku. Aku mengerti luka hatinya.

Aku segera beringsut menuju ke sampingnya. Duduk disittu kemudian gentian memeluknya dari samping.

"Jangan dibendung, Pangeeran. Jika ingin menangis, menangislah! Saya ada di sini untuk Yang Mulia. Yang Mulia dapat menggunakan dada saya untuk menyandarkan tubuh Yang Mulia yang letih dan sedih ini, un!" itu yang dapat kukatakan dan itu sukses menbuat Pangeran menangis tersedu-sedu. Isak tangisnya terdengar menggema di sudut-sudutkamar. Hatiku luluh. Baru kali ini kurasakan rasa sakit seperti ini.

Entahlah… aku tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi pada diriku hingga aku melakukan hal seperti itu. Tapi dari pertemuan kami, terlihat perubahan jelas pada Sang Pangeran yang akhirnya aku tahu dia bernama Sai, setelah mengorek informasi dari lelaki paruh baya bernama Sora itu.

Pangeran memerintahkan Sora untuk mengantarku ke kamar yang akan aku tempati untuk beristirahat dan untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Kami akan bertemu lagi di meja makan saat makan malam nanti.

Kamarku besar dan mewah. Kamar khas seorang putri. Nyaman juga berada di dalamnya. Didalam kamar itu ada kamar mandinya juga, hingga akhirnya aku langsung saja mulai membersihkan diriku. Mulai dari membersihkan tubuhku hingga rambutku.

Aku keluar dari kamar mandi dengan menggunakan Yukata dan rambut yang digulung dan ditutupi handuk. Segar juga. Dimarkas mencari shampoo saja rasanya susah sekali. Aku berjalan menuju lemari yang besar dan mulai membukanya. Ya, seperti yang telah diduga, semuanya baju perempuan.

"Hah.." keluhku. Kubiarkan lemari itu terbuka dan berjalan menuju tempat tidurku kemudian tiduran di situ.

"Hanya 2 minggu, Deidara, hanya 2 minggu, un!" kata-kata itulah yang aku lontarkan untuk membuatku kuat bertahan. Ini berat untuk seorang lelaki. Seorang lelaki cool (jiah) harus berpura-pura menggunakan nama seorang putri, menggunakan baju putri, dan yang lebih parahnya lagi berpura-pura berpacaran dengan seorang lelaki. Gila!

Tapi akhirnya, aku beranjak juga. Bangun dari tempat tidurku, dan menuju kelemari. Kucari baju yang sekiranya simple untuk digunakan. Kudapari sebuah dress terusan bergaya jepang dengan lengan lengan besar dan rok tanpa volume yang jatuh menutupi seluruh kakiku. Dress itu berwarna putih. Kupakai dress itu akhirnya.

Sambil mengeringkan rambutku sengan handuk, aku berjalan menuju meja rias, dan disitulah masalah mulai datang. Aku tidak bisa menggunakan make up.

"Haduh… bagaimana ini… un?" teriakku sambil mondar-mandir di dalam kamar. Aku kembali ke meja rias membuka satu set alat make up. Melihat terlalu banyak warna dan kuas aneh yang tak aku tahu apa fungsinya buatku meninggalkan meja rias dan duduk dikasurku.

Ingin rasanya minta bantuan Konan, tapi dia jauh. Masa' harus minta bantuan Sora? Nanti apa yang akan dikatakannya? Perempuan tak bisa menggunakan make up? Yang benar saja?

'Mati, aku, un!' batinku. 'kalau keluar tanpa make up, ketahuan tidak ya kalau aku cowok?' hah… bingung bagaimana ini?

Lama aku berfikir, tapi tak membuahkan hasil. Alat make up tak ada buku panduannya lagi, buat aku makin pusing saja. Kebingunganku memuncak ketika ada yang mengetuk pintu dari luar.

"Mampus gue… un!" aku segera berlari menuju meja rias, menyisir rambutku yang hampir kering. Kubiarkan rambutku tergerai dan dan puniku kubiarkan menutupi separuh wajahku. Setelah itu aku membuka pintu. Kulihat Sora dibaliknya. Ada sedikit rasa lega juga. Aku tidak bisa membayangkan kalau yang mengetuk pintuku adalah sang pangeran. Mungkin nyawaku sudah melayang ketika dia melihatku seperti ini. Bisa aku dengar Sora hampir tertawa, tapi ia menahannya kemudian berkata,

"Putri, anda sudah ditunggu Yang Mulia di meja makan."

Aku, menggeleng, tidak berani pergi kesana.

"Kenapa? Ada yang salah?"

"Sa…saya tidak bisa menggunakan Make up, un!" Kudengar lagi sora hampir tertawa. Aku menundukkan kepalaku.

"Putri, kenapa tidak bilang pada saya sejak tadi? Tunggu sebentar! Saya akan kembali!"

Aku menunggu dengan pasrah dan malu. Tapi tidak lama kemudian dia datang kembali dengan membawa dayang. Ada sekitar 5 orang. Banyak sekali. Mereka segera menghampiriku dan mulai menandaniku. Semoga mereka tidak curiga aku seorang lelaki.

"Putri, sudah selesai…" keta mereka. Cepat juga. Kulihat wajahku. Ternyata lebih cantik disbanding dandanan Konan.

"Anda cantik sekali, Putri." Kata salah satu dri mereka.

"te…tetima kasih, un!" jawabku janggal. Setelah memakai sarung tangan dan sepatu, aku segera berjalan menuju pintu.

"Mari, Putri, saya antarkan ke ruang makan!" kata Sora. Aku berjalan di susul para dayang dan Sora di belakangku.

Sesampainya diruang makan, kulihat Pangeran duduk di meja makan sambil menungguku. Kini penampilannya benar-benar berubah. Wajahnya terlihat berseri meskipun dengan kulit wajah yang pucat. Rambutnya rapi, tidak awut-awutan seperti saat terakhir ak melihatnya tadi sore. Dia mengenakan pakaian Khas pangeran yang mewah. Serasi dan pantas dengan warna kulitnya yang putih pucat itu. Pangeran terlihat tampan sekali.

Ketika dia melihat kedatanganku, dia bernjak dari duduknya dan beranjak ke arahku. Setelah berada di depanku, ia menggapai tanganku, mengangkatnya dan mengecup ujung punggung tanganku, setelah itu ia mengecup keningku.

DEG… jantungku berdegup kencang. Tak pernah kurasakan perasaan ini sebelumnya. Perasaan aneh yang menyelimuti hatiku.

"Maafkan saya Pangeran! Saya terlambat, un!" kataku mencairkan suasana.

"Tidak apa-apa…" jawabnya, kemudian mengajakku menuju meja makan. Menarik sebuah kursi dan mempersilahkan aku untuk duduk. Dia kembali duduk di kursinya.

"Kau terlihat cantik malam ini, Hime." Katanya. Kurasakan darah naik ke kepalaku dan membuat wajahku merah. Kutatap mata onyxnya dan dibalasnya dengan senyuman. Aku semakin malu hingga kutundukkan wajahku.

Para dayang membawakan malan malam untuk kami. Kami makan bersama malam itu. Berdua saja di meja yang besar itu. Sempat ia menyuruhku untuk membuka sarung tanganku, tapi aku menolak. Tidak mungkin memperlihatkan hal aneh padanya.

Kami menikmati hidangan penutup sambil tertawa dan bercanda. Membicarakan apa saja yang bisa kami bicarakan. Kami menikmati kebersamaan kami. Kenapa aku bisa sengan mudahnya melakukan itu semua?

Sudah tengah malam tapi aku belum juga bisa tidur. Sudah dua jam lalu Pangeran mengecup keningku dan mengucapkan selamat tidur tapi aku belum juga bisa terlelap hingga tengah malam begini.

Tiba-tiba kudengar pintu yang menghubungkan balkon dan kamarku diketuk seseorang. Aku bernjak dari tempat tidurku itu dan membuka pintu. Kulihat dua sosok di depanku.

"Konan…" ujarku. Itu Konan, dia datang bersama Tobi.

"Ayo… masuk! Kenapa kalian tahu kamarku disini?" tanyaku sambil melangkahkan kakiku ke dalam kamar.

"Wah… kamarmu indah sekali," kagum Konan.

"Aku benci warna pink. Disini didominasi warna pink, un!"

"Tapi, tetap serasi dengan senpai yang seorang hime…" ucap Tobi.

"Deidara, aku bawakan ini untukmu." Kata Konan sambil memberikan dua kantong yang biasa kupakai untuk menyimpan tanah lempung. Kubuka resleting kantongku dan mendapati kantong itu telah penuh dengan tanah lempung.

"Wah… terima kasih, Konan, un!" ujarku berseri-seri.

"Tobi juga bawa ini untuk Senpai." Katanya sambil memberikan aku kantong kertas berukuran sedang. Isinya lollypop.

"Tobi, tidak perlu. Kau makan saja sendiri." Kataku sambil memberikan kembali pada Tobi.

"Kalau tidak mau setidaknya Senpai mengambilnya walau hanya satu." Ujar Tobi. Akhirnya aku mengambil salah satu permen di dalam kantong kertas itu untuk menghargai pemberian Tobi.

Konan dan Tobi tidak lama di kamarku. Setelah memberikan semuanya dan mengajariku cara memakai make up, mereka pulang. Tobi mempunyai kemampuan menembus ruang dan waktu dan itu membuat mereka cepat pergi.

Aku kembali ke tempat tidurku setelah mengunci pintu balkon dan akhirnya tertidur.

… TBC…..