"Aku juga… tidak suka dengan si tengil maniak junk-food itu," bahasa preman dari sang tuan rumah mulai keluar. "Ia memeras negaraku luar-dalam, Natalya!"
Natalya terkejut sedikit akan letupan emosi Indonesia yang mendadak itu. Sosok seorang gadis ayu yang tadi nampak di sebelahnya, mendadak hilang ditelan angin…
"…Aku membencinya, Natalya," Indonesia menolehkan kepalanya, dan Natalya bertemu dengan wajah ayu yang kini berubah perlahan karena dihiasi dengan sebuah seringai lebar, "aku membencinya dengan sepenuh hati, khukhukhu…AHAHAHA!"
.
.
(Natalya kehilangan kata-kata.)
Si personifikasi Belarusia itu berjengit sedikit, melihat seringai penuh amarah yang berkobar dari sang tuan rumah, yang bahkan bisa membuat seorang Natalya Arlovskaya bergidik. Orang kalem memang kalau sekalinya sudah panas, bisa bikin jantung cekit-cekit.
"Memangnya…" Natalya menelan ludah sejenak, "memangnya apa yang sudah dilakukan si hamburger brengsek itu padamu?"
Ekspresi Indonesia segera berubah kalem. "Oh… banyak," katanya sinis. "Ia telah menjebakku dalam utang luar negeri yang bertumpuk-tumpuk…"
"Lalu?"
"Menjebakku dengan kontrak tambang tembaga selama puluhan tahun, namun ternyata yang dikeruk oleh si maniak burger itu emas," ia meringis, ekspresinya penuh kebencian. "Bayangkan Natalya, emaaaaaas! Bergram-gram, tidak, mungkin malah berkilo-kilo emas!"
Natalya merinding sedikit, entah pada ekspresi sangar gadis itu atau pada kelicikan dari seorang Amerika.
"Daan, ia telah berani-beraninya memata-matai negaraku, Natalya!" sembur Indonesia gusar. "Bayangkan, jaringan komunikasiku disadapnya, rahasia dapurku digondolnya seperti tikus mencuri makanan dari dalam lemari…"
Indonesia mendecakkan lidahnya keras, ekspresinya bahkan bisa membuat seorang Natalya Arlovskaya merinding disko.
"Masih banyak lagi dosa-dosa si maniak makanan sampah itu, Natalya—terlalu banyak sampai tak sanggup kusebutkan!" tukasnya berapi-api. Kedua alisnya bertaut dalam kekesalan yang tergambar jelas.
Natalya menatap gadis itu, menghela napas perlahan—dengan gesture simpatik yang samar.
"Hh…." sang personifikasi Belarusia mendesah pelan. "Itu…" ia terdiam sejenak, mencoba menemukan kata-kata yang tepat, "si hamburger sialan itu sudah keterlaluan, Indonesia!"
"Benar, Natalya!" Indonesia menatap gadis itu dengan solid. "Ia harus diganyang!"
Tapi sepuluh detik kemudian, Natalya menatap heran pada sang tuan rumah di sebelahnya, ketika mendadak pundak gadis itu turun dengan ekspresi lelah.
"Tapi, Natalya…" Indonesia menggeleng sedih, "susah untuk melepaskan diri dari jerat si tikus hamburger itu…"
Natalya terdiam. Yang dikatakan gadis itu benar.
Sang personifikasi Belarusia telah lama mendengar tentang sepak-terjang sang negara adidaya itu, dari mulai Asia, Afrika, hingga benua Eropa sendiri. Telah banyak negara yang terjerat dalam hutang-hutang yang menumpuk, berkedok bantuan ekonomi yang disodorkan oleh negara Paman Sam itu.
Bahkan Ivan pun sangat, sangat membencinya. Tapi, ya—perseteruan di antara mereka berdua memang sudah tersohor sejak dulu.
"Indonesia," panggil Natalya mendadak. Gadis itu menoleh.
"Hm?"
"Kau membenci Amerika, kan?"
"…ya, sangat."
"Aku juga. Dan Ivan juga," tambahnya sembari tersenyum lebar. "Kau tahu apa artinya itu?"
Indonesia menatap Natalya dengan heran, lalu menggeleng.
"Itu artinya," sang personifikasi Belarusia menurunkan sedikit kaus kaki panjangnya—dan menarik sebilah pisau yang berkilauan dari situ, "artinya, aku bisa membantumu untuk membalas dendam pada si hamburger sialan itu!"
"…eh?" Indonesia berjengit sedikit—entah karena merinding pada senjata tajam yang disembunyikan gadis itu, pada senyum maniak yang ditunjukkannya, atau… pada keduanya.
"Nah," Natalya menggosok-gosokkan pisau itu ke rimpel gaun formalnya, ekspresinya berubah menjadi lembut. "secara geografis, letak negaraku lebih berdekatan dengan rumahnya dibandingkan dengan negaramu," ia terdiam sejenak, "meski tetap saja jauh… sih, tapi itu tak masalah."
"Lalu?" Indonesia menaikkan alis dengan penasaran.
"Ya, aku bisa saja menyelinap ke rumah si hamburger sialan itu, lalu…" Natalya menyeringai lebar, mengelus pisau di tangannya dengan jemarinya, "membereskannya."
Indonesia berjengit sedikit. Oh, oke. Gadis ini bahkan lebih mengerikan dari satu skuadron agen KGB.
"Bagaimana menurutmu?" Natalya menoleh, memandang sang tuan rumah dengan tatapan bertanya.
.
Indonesia terdiam sejenak.
"Hm…" gadis itu menghela napas pendek, lalu menatap Natalya dengan khawatir. "Tapi… bukankah itu akan membahayakanmu nantinya?"
Natalya tersenyum. "Tenang saja," ia menganggukkan kepala dengan yakin, "aku bisa menjaga diri."
Indonesia menatapnya ragu.
"Selain itu," tambah Natalya lagi, "kalau terjadi apa-apa denganku, Ivan pasti akan segera tahu dan langsung menembak kepala si hamburger sialan itu dengan Tokalev-nya."
Indonesia menaikkan alis. "Ivan?"
"Kakakku," Natalya memberitahu. Indonesia tak tahu apakah harus tersenyum senang—atau merinding disko pada kata-kata gadis itu tadi.
"…oh, oke," balas Indonesia pada akhirnya. Natalya menatapnya, dan tersenyum lebar.
"Ah ya," ia mengulurkan tangannya dengan sedikit canggung, rona kemerahan yang samar menyebar di pipi pucatnya, "terima kasih sudah menjalin kerja sama dengan negaraku, ya!"
Indonesia terdiam sejenak, lalu menjabat tangan gadis itu dengan bersahabat. "Sama-sama, Natalya," ia membalas senyum gadis itu.
(Sepertinya, kalau dilihat-lihat—gadis ini sepertinya tidak seseram kakaknya.)
"Ah ya," Indonesia merogoh saku bajunya mendadak, mengeluarkan sepotong bika ambon dari dapur tadi, yang dibungkusnya dengan daun pisang. Ia membuka lipatan daun itu perlahan, lalu membagi penganan itu menjadi dua bagian.
"Ini untukmu, Natalya," Indonesia mengulurkan sepotong pada gadis itu. Natalya menaikkan alisnya.
"Eh…?"
"Namanya bika ambon," jelas Indonesia sambil tersenyum ramah. "Makanlah. Enak, lho."
Natalya mengambil kue yang disodorkan gadis itu dengan ragu—lalu mengunyahnya perlahan. Rona merah yang hangat menyebar di pipi pucatnya.
.
(Nyam, nyam. Enak.)
.
.
FIN
Epilog:
Dua hari telah lewat semenjak pertemuannya dengan sang personifikasi Belarusia.
Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, dan Indonesia baru saja menyelesaikan sebuah laporan pariwisata untuk bosnya—ketika mendadak telepon di kamarnya berdering.
"Halo?" gumam Indonesia dengan suara mengantuk.
"Halo, Indonesia?" sebuah suara yang familiar di telinganya terdengar di seberang, dan rasa kantuk Indonesia langsung sirna.
"Ya, ini aku. Natalya, kau kah itu?" Indonesia berbisik perlahan, samar-samar ia mendengar suara deru mesin dari seberang sambungan.
"Ya, benar. Indonesia?"
"Hm?"
"Target sudah kubereskan."
"Eh?" Indonesia menelan ludah, dalam hati merasakan sesuatu yang tak enak.
"Si hamburger sialan itu sudah ku-knock out," kata Natalya santai. "Ia mungkin takkan bisa bergerak untuk beberapa hari, ah ya—mungkin bisa sebulan…"
Indonesia berdeham sejenak, dalam hati mengira-ngira apa yang telah dilakukan gadis itu. mungkin… yang pasti sebuah tindakan rate M—because of violence. And gore, obviously.
"Oh, oke…. Natalya," Indonesia menahan keinginan untuk menghela napas panjang—antara bergidik sedikit dan puas. "Omong-omong, kau lagi dimana sekarang?"
Terdengar suara desis statis dari seberang, lalu suara Natalya lagi. "Aku sedang di jet pribadiku, dalam perjalanan pulang," balas gadis itu dari seberang.
Indonesia tersenyum.
"Hati-hati di perjalanan, ya," katanya lembut pada sang personifikasi Belarusia itu—dan Indonesia berdoa, mudah-mudahan tak ada seorang agen CIA yang bersembunyi di bawah tempat tidur gadis itu, dan menembaknya dengan revolver yang disambung peredam bunyi ketika ia pulang.
"Dziakuj, Indonesia," balas Natalya riang. "Ah ya, jangan lupa datang ke pernikahanku dengan Ivan nanti ya, kalau ia telah menerima perasaanku!" tambah gadis itu lagi dengan nada berbunga-bunga.
Indonesia terdiam sejenak. Jadi, ternyata… seorang Natalya Arlosvah—entah-siapa-namanya itu merupakan pelaku incest…?
.
"Oh, oke, Natalya," balas Indonesia pada akhirnya. "Tentu saja aku akan datang. Oh ya, Natalya…"
"Hm?"
"Terima kasih banyak, ya!" kata Indonesia tulus. "Senang bisa mengenalmu."
Di seberang—Natalya terdiam sejenak, sebelum kemudian tersenyum lebar; rona merah yang hangat menyebar di pipinya. "Dabro zaprašajem, Indonesia."
Indonesia tertawa kecil. "Kapan-kapan berkunjunglah lagi kesini, ya!"
"Tentu!" balas Natalya bersemangat—dan untuk sejenak, Indonesia menyadari kalau gadis itu mungkin tidak seseram yang didesas-desuskan negara-negara lain saat mereka berada di pertemuan.
.
.
(Nun jauh di Washington, Indonesia tidak tahu kalau seorang Alfred F. Jones tengah terkapar di sebuah kamar kosong di Gedung Putih—mulutnya tersumpal dengan stoking berwarna putih, dan kedua tangan serta kakinya terikat erat dengan tali rami. Pandangannya buram sepenuhnya—sebuah kacamata dengan lensa yang remuk dan gagang patah karena diinjak sepatu bot militer tampak di dekat kaki ranjang.
"Help…me," desisnya terbata-bata, sebuah luka gores yang dalam menganga di pelipisnya, dan perut serta kakinya lebam karena beradu dengan kerasnya tonfa beberapa jam sebelumnya.)
.
.
.
FIN
notes:
Dziakuj: terima kasih (Belarusian)
Dabro zaprašajem: sama-sama (Belarusian)
.
(jakarta, 28/06/2014)
terima kasih sudah membaca. :)
