Tittle: The Journal
Disclaimer: Naruto bukan punya saya
Genre: Adventure,Romance,Friendship, dll
Pairing: Narutox?
Rated: T
Summary:" Dunia ini begitu luas nak, cobalah jelajahi dunia ini. Kau akan melihat betapa indahnya dunia ini" Begitulah kalimat yang tetap membuatku semangat dalam melanjutkan petualangan ini! Sebuah fanfic Naruto. Smart! Naru, Strong but not godlike!
Warning: OOC,Violence,typo,Etc.
A/N: ini yang author lupa chapter lalu. Gomen (m_m).Naruto disini usianya 16 tahun, Minato dan Kushina Masih hidup dan Naruto adalah anak dari Kushina Uzumaki. Benar, Naruko adalah Jinchuriki.
Chapter 2
"Tep!" langkah Naruto terhenti didepan sebuah gerbang besar yang terbuka lebar. Tampak mata biru langitnya memandang tempat tersebut. "Hmm, jadi ini yang namanya Konoha ya…" batin pemuda tersebut sambil mulai kembali berjalan dengan Konohamaru tetap berada dalam gendongannya.
"Naruto-san" sebuah suara memanggil Naruto dan membuat Naruto kembali berhenti. "Ada apa Kakashi-san?" tanya dengan nada penasaran. Orang yang dipanggil Kakashi tersebut mulai mengatakan sesuatu. "Sebelum memasuki desa, kita harus melapor dulu pada petugas penjaga" katanya sambil menunjuk 2 orang yang duduk disebuah pos. Mata Naruto lalu menatap orang yang ditunjuk oleh Kakashi. Tampak 2 orang pria bujangan dengan salah satu diantara mereka menggunakan perban diarea hidungnya dan yang satu lagi mengenakan ikat kepala desa dengan desain seperti topi kupluk dengan mata kanannya tertutup rambut sedang duduk disebuah pos dengan tampang ramah.
Naruto lalu mengganguk dan menghampiri kedua orang tersebut. "maaf, saya ingin bertemu dengan hokage keempat. Saya ada hal penting yang ingin dibicarakan" katanya dengan wajah ramah. Kedua pemuda tersebut tampak bingung. "Maaf, anda dari desa mana? Dan kenapa cucu hokage ketiga bisa ada di gendongan anda? Kami mencarinya dari kemarin." Kata salah seorang dari mereka yang mata kanannya tertutup.
Naruto Cuma tersenyum mendengarnya. "Oh, ternyata dia cucu hokage ya, dia tadi kutemukan sedang dalam masalah. Jadi kubawa saja dia Uzumaki Naruto, Aku berasal dari negeri iblis." Katanya sambil tersenyum.
"Maaf, kalau boleh tahu. Ada urusan apa anda dengan hokage keempat?" tanya mereka berdua dengan tampang menyelidik.
Naruto yang mendengarnya hanya tersenyum tipis. "Aku ada laporan rahasia untuknya. Maaf aku tidak bisa mengatakannya lebih jauh lagi."
Mereka berdua hanya menggelengkan kepala. "Izumo, jaga pos. Akan kuantarkan Uzumaki-san menemui Hokage-sama" katanya sambil menuntun jalan Naruto. "baik, Kotetsu" balas temannya. Sementara itu Kakashi yang lebih dulu selesai laporan mengikuti mereka dari belakang.
Naruto yang dituntun oleh Kotetsu terus berjalan sembari menggendong Konohamaru. Matanya tampak melihat-lihat desa Konoha yang terkenal sebagai salah satu desa Shinobi terkuat didunia. Matanya tampak menatap dereta patung wajah para Hokage yang terpahat di sebuah bukit batu yang didepannya terdapat sebuah gedung berwarna merah dengan sebuah papan bulat dengan tulisan "Api" di tengah papan tersebut. "Itukah kantor Hokage?" batin Naruto sambil mencoba menebak.
Kemudian akhirnya mereka sampai dikantor tersebut. Naruto lalu berkata pada Kotetsu. "Kotetsu-san, jika boleh bisakah aku menitipkan anak ini untuk diantarkan pada kakeknya?" tanya Naruto dengan nada ramah. "Tentu saja, hokage ketiga sangat mengkhawatirkannya sejak kemarin" katanya. Naruto lalu menyerahkan Konohamaru yang ternyata sudah tertidur digendongan Naruto. Naruto lalu masuk bersama anggota tim Kakashi.
"Kalian laporkanlah dulu laporan kalian, urusanku termasuk rahasia" katanya dengan wajah ramah. Kakashi hanya mendelik sesaat sebelum masuk terlebih dahulu kedalam ruangan kerja Hokage.
"Hokage-sama, misi mengawal Tazuna berhasil dengan sukses, meskipun ada anggota kami yang terluka." Kata Kakashi pada seorang pria dengan surai kuning panjang dan tatapan wajahnya yang bersahaja.
"Begitukah, baguslah kalau begitu. Dan untuk anggotamu yang terluka tidak seharusnya dia ikut melapor, sebaiknya dia beristirahat dirumah sakit" kata pria tersebut sambil tersenyum ramah. "Kakashi, lain kali panggil saja aku sensei" lanjutnya sambil tertawa renyah.
Kakashi yang mendengarnya hanya bisa salah tingkah. "I-iya sensei, hahaha. Aku sering lupa" katanya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sementara itu gadis kecil berambut kuning tersebut maju kedepan meja pria tersebut. "Tou-san, ingat kan janji Tou-san untuk mengajariku Rasengan!" tuntut sang gadis dengan mata biru langitnya yang memancar indah.
"Iya, iya. Nanti Tou-san ajarkan bila ada waktu luang" katanya sambil tersenyum hangat. Sementara itu Kakashi kemudian mengatakan sesuatu. "Sekian laporanku, Sensei. Tampaknya ada orang yang punya urusan penting denganmu. Sampai sampai dia menunggu kami selesai melapor dulu baru dia mau masuk." Kata Kakashi sambil beranjak pergi.
"Orang yang punya urusan denganku?" pikirnya penasaran. "baiklah, selamat beristirahat." Kata pria tersebut sambil tersenyum. Kakashi lalu membalasnya dengan lambaian pendek sembari menutup pintu. Sesudah Kakashi keluar, tampak Naruto tersenyum menatap Kakashi. "Terima kasih atas pengertiannya." Kata Naruto sembari berjalan membuka pintu ruangan kerja tersebut.
"Kriet" dengan perlahan pintu tersebut terbuka. Minato yang hendak mengambil minuman tehnya lalu menoleh kebelakang. "Iya, ada ap-" suaranya berhenti ketika menatap seorang pemuda dengan postur tubuh 16 tahun dengan penampilan yang amat mirip dengannya namun kulitnya berwarna tan sedang menatapnya dengan tatapan datar.
"Apakah anda Namikaze Minato?" tanya orang tersebut dengan nada dingin.
"I-iya. Ada perlu apa anda dengan saya?" tanya orang yang dipanggil Minato tersebut dengan nada bingung karena tiba-tiba ada orang yang begitu mirip dengannya namun berbeda usia.
Pemuda tersebut mengeluarkan sebuah ikat rambut berwarna biru dengan lambang pusaran air. Lalu pemuda tersebut melemparnya kearah Minato. Minato dengan sigap menangkapnya sembari melihat benda apa yang dilempar oleh pemuda tersebut. Mata Minato kemudian membulat ketika melihat benda tersebut. "I-ini!..." katanya dengan nada tidak percaya.
Pemuda yang melempar tersebut kemudian memulai pembicaraan. "Kau sudah ingat hah?..." katanya dengan nada sinis. "Kupikir kau sudah lupa dan menganggapnya sudah mati" kata pemuda tersebut dengan nada sinis.
"T-tidak mungkin!" kata Minato sambil menggengam erat ikat rambut tersebut. "S-siapa kau?!" tanyanya dengan nada emosional. Pemuda itu, yang tak lain adalah Naruto tersenyum sinis mendengarnya. "Aku, bisa dibilang aku adalah buah cinta kalian" katanya dengan nada rendah.
Minato membulatkan matanya sejadi-jadinya. "J-jadi Sara mengandung anakku?" tanya dengan nada mencoba memastikan sesuatu. Naruto yang mendengarnya hanya menghela nafas berat. "Iya" jawabnya singkat dengan intonasi berat seolah menahan amarah.
Minato yang mendengarnya lalu mencoba memeluk Naruto. "Wush! Bzztt cip cip cip!" tampak sebuah ledakkan cakra angin yang besar disertai aliran petir berwarna kuning mengaliri badan Naruto seolah melindungi Naruto dari sentuhan Minato. "JANGAN SENTUH AKU" kata Naruto dengan penekanan disetiap Kalimatnya. Sementara itu, para Anbu yang bersiaga dikantor hokage langsung berhamburan masuk kedalam dengan tatapan siaga.
Minato yang mengerti situasi langsung menyuruh semua Anbu untuk kembali menuju tempat mereka semula. "Tenanglah, dia bukan musuh" kata Minato seraya memberi Komando para Anbu untuk mundur. Minato lalu menghela nafas panjang. "Ya, aku mengerti sekarang. Pertama-tama aku minta maaf karena telah menelantarkan ibumu, ketika aku mau keluar desa mencarinya. Para tetua desa mengatakan bahwa dia telah meninggal karena dibunuh. Jujur, itu saat paling berat dalam hidupku. "kata Minato sambil mengurut kepalanya sembari mengambil sesuatu dari raknya. "ini" katanya sembari menyerahkan sebuah lembaran laporan kepada Naruto.
Naruto yang melihat laporan tersebut lalu menonaktifkan aliran cakranya. Perlahan matanya membaca laporan tersebut. Tak lama kemudian laporan tersebut terpotong-potong menjadi kertas yang berukuran kecil. "Para tetua bajingan! Beraninya mereka memfitnah Ibuku dengan mengatakan bahwa dia dibunuh!" katanya sambil menatap tajam kertas yang jatuh tersebut.
Minato yang mendengarnya Cuma menghela nafas. "Percuma jika kau mau balas dendam. Mereka semua pasti akan mengelak dan membuatmu masuk dalam masalah. Sebagai tanda permohonan maafku, maukah kau tinggal bersamaku? Kau sekarang sebatang kara dan aku sebagai ayah juga berharap kau mau tinggal bersamaku" kata Minato dengan senyum lembut .
Naruto yang mendengarnya kemudian berpikir sejenak. "Hmm, kau mungkin benar. Tapi aku belum bisa memaafkanmu sepenuhnya. Kau harus tahu kalau ibuku dengan susah payah membesarkanku selama ini sampai akhir hayatnya. Tinggal bersamamu? Hmm, tidak. Aku masih punya banyak petualangan yang harus kulakukan. Aku tidak mau terikat dengan kebijakkan desamu ini" katan naruto dengan wajah datar.
Minato yang mendengar hal tersebut Cuma bisa tersenyum getir. Dia paham bahwa tidak muda memaafkan orang yang telah berbuat salah padamu. "Baiklah, apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Minato penasaran pada anaknya tersebut. "oh,iya. Aku lupa menanyakan namamu." Kata Minato sambil mencoba tersenyum ramah.
Naruto yang mendengarnya mencoba sedikit ramah. "Namaku adalah Uzumaki Naruto. Yang sekarang kulakukan adalah memenuhi permintaan terakhirku pada ibuku. Dia memintaku membantumu. Jadi, apa yang bisa kubantu?" tanya Naruto dengan tampang penasaran.
Minato tampak berpikir dengan keras. "hmm, aku belum tahu seberapa tinggi kemampuanmu. Bisakah aku menguji kemampuanmu dulu sebelum aku memberi misi?" tanya Minato dengan senyum diwajahnya. Naruto yang mendengarnya hanya tersenyum. "baiklah jika kau mau tahu kemampuanku" katanya sambil tersenyum. "Sebelumnya aku mau menitipkan gulungan ini padamu" kata Naruto sambil menurunkan gulungan besarnya.
"Gulungan apa itu?" tanya Minato bingung. "Entahlah, tapi dulu ibuku pernah bilang ini harus diberikan padamu ketika aku masih kecil" kata Naruto sambil meregangkan tulangnya yang tertarik oleh beratnya gulungan tersebut.
"baiklah, sekarang ikuti aku ke area latihan nomor 4" katanya sambil berjalan keluar kantor dengan Naruto mengikutinya dibelakang.
Skip Time
Naruto dan Minato kini telah berada di tempat latihan tersebut. Tampak Naruto dan Minato saling bertatap-tatapan sambil mencoba menebak siapa dulu yang akan menyerang. Akhirnya karena kebosanan menunggu Naruto lalu melesat dengan kecepatan tinggi kearah Minato dengan kunainya yang dialiri oleh cakra angin.
"Heyahhh!" teriak Naruto sambil mencoba menebaskan kunainya kearah leher Minato. "Wush!" Minato telah menghilang dengan cahaya kuning keatas Kepala Naruto sembari mencoba menendang punggung Naruto.
"Jangan pikir aku tidak tahu dengan jurusmu!" teriak Naruto sambil mengeluarkan kembali aliran cakra angin dan listrik kuning yang melapisi tubuhnya. "Crat!" celana Minato yang hampir mengenai Naruto langsung robek ketika bersentuhan dengan cakra angin Naruto.
"Bahaya!" batin Minato sembari menggunakan Hiraishinnya dan mundur kebelakang. "Wush!" Naruto tiba-tiba telah berada di depan Minato dengan lengan kirinya yang siap menghantam dada Minato. "Lariat!" teriak Naruto sambil menghantamkan lengannya dengan keras kebadan Minato.
"Brakh!" Minato sukses menghantam tanah dan membentuk kawah besar dari bekas hantaman tadi serta membuat arena latihan tersebut tertutupi oleh debu. Naruto mencoba melihat lawannya. Matanya seketika membulat ketika melihat yang dia hantam adalah sebuah kayu gelongongan. "K-kawarimi?! Kapan?!" pikirnya. Namun tiba-tiba dari atas muncul sebuah bola biru besar yang siap menghantamnya.
"Wush!" bunyi angin yang berputar disekitar bola tersebut. Naruto dengan sigap mundur dengan sunshinnya kebelakang. "Duakh!" tiba-tiba bola biru tersebut telah berada dibelakang punggungnya dan dengan telak menghantam tubuhnya. "Bruakh!" tubuh Naruto terdorong kedepan dan terpental jauh. "S-sejak Kapan?!" batin Naruto sambil mencoba menaha berdiri karena menahan serangan tersebut.
"Sejak aku mundur karena serangan cakra anehmu tadi aku telah memasang segel disana dengan taruhan kau mundur disana" kata Minatoseolah membaca pikiran Naruto sembari berdiri gagah memegang kunai bercabang tiganya. Naruto yang mendengarnya Cuma tersenyum.
"ya, ternyata ayahku memang Konoha Kiroi Senko sesuai dengan gelarnya" kata Naruto sambil tersenyum. "Baiklah, setidaknya akan kubiarkan kau mencicipi sedikit jurusku" kata Naruto sambil memesang segel jutsu. "Raiton: Kinshishi!" teriak Naruto disertai dengan munculnya 9 singa berbentuk petir berwarna kuning yang tampak seperti kilauan emas berlari menuju Minato sembari mencoba menerkam Minato.
Minato dengan sigap mengeluarkan belasan kunai bercabang tiganya sembari melemparnya keudara. "Jleb!" Minato menghilang ketika salah satu singa Naruto hendak menerkamnya. Namun Naruto tersenyum mennyeringai. Kemudian dia mengubah sedikit segel tangannya. "Raiton: Shinrin Raito!" seru Naruto. Minato yang berpindah diudara tiba-tiba dibuat terkejut. Bagaimana tidak, semua kunainya yang terlempar diudara kini telah melayang berhenti diudara. "B-bagaimana bisa?!" batin Minato sambil kebingungan. "Sring!" kemudian tampak bahwa kesembilan singa tadi telah berubah bentuk menjadi sebuah jaring besar yang mengelilingi Minato dengan semua kunai hiraishinnya melekat di jaring-jaring petir tersebut. Naruto sengaja menghentikan aliran petir didalam jaring mengingat Minato berada didalamnya.
Minato yang melihatnya Cuma tersenyum puas. "Dia mirip sepertiku" katanya dalam hati. Minato kemudian merapal segelnya dan berpindah kebelakang Naruto dengan sebuah bola biru ukuran sedang berada ditangan kanannya. "latihan selesai" kata Minato sambil tersenyum.
Naruto yang mendengarnya Cuma tersenyum tipis. "Iya, sudah selesai. Coba lihat perutmu" kata Naruto. Minato melihat kebawah dan membulat sempurna. Sebuah Kunai yang teraliri cakra udara telah siap menembus perutnya. Naruto lalu tersenyum tipis. "Ya, kali ini seri" katanya sambil tersenyum.
Minato yang mendengarnya tertawa renyah. "Mungkin iya mungkin tidak. Tapi menurutku, kekuatanmu sudah setingkat Jonin kelas atas" kata Minato sembari tertawa sembari menonaktifkan jurusnya. "Tapi aku bingung siapa yang mengajarimu?" tanya Minato dengan wajah penasaran. Naruto yang mendengarnya Cuma tersenyum tipis. "Dulu ketika aku masih berumur 13 tahun, aku tidak sengaja menolong Seorang shinobi Kumo yang sedang terluka karena serangan sekelompok orang. Ya, untuk sementara waktu. Dia tinggal bersama kami dan melatihku jurus-jurus tadi." Kata Naruto sambil tersenyum ramah.
Minato Cuma mangut-mangut saja. "Entah kenapa omongannya mengingatkanku dengan seorang shinobi Kumo yang pernah kulawan. Terutama Lariat itu" katanya dalam hati. "Ah sudahlah, yang penting aku mendapat anggota keluarga baru" kata Minato dalam hatinya.
Naruto lalu menghampiri Minato dan menanyakan sesuatu padanya. "Hmm, aku belum mau memanggilmu Tou-san. Baiklah, Minato-san. Apa anda sudah menikah?" tanya Minato dengan nada cuek.
Minato yang mendengarnya sedikit tercekat. "Ah, iya. Aku sudah menikah dan punya 2 orang anak dari istriku" katanya dengan nada kurang enak hati. Naruto yang mendengarnya sedikit menghela nafas. "Tak apa. Kali ini kau jangan membuat wanita itu menderita seperti ibuku. Jika kau melakukan hal yang sama maka aku yang akan menghajarmu kali ini" kata Naruto dengan nada mengancam.
Minato yang mendengarnya Cuma tersenyum senang. "Aku berjanji" katanya sambil tersenyum yang dibalas oleh senyuman tipis oleh Naruto. Minato lalu menggetok tangannya. "Oh, iya! Ayo pulang kerumah sekarang. Istriku pasti sudah memasakkan makanan untuk kita." Kata Minato dengan entengnya. Naruto yang mendengar hanya bisa bingung. "Eh? Apa tidak apa-apa aku datang kesitu?" tanya dengan nada bingung.
"Tidak apa-apa kok! Istriku malah senang ada anak laki-laki dirumahnya" kata Minato sambil tersenyum senang. Naruto yang mendengar hanya bisa pasrah dan ikut saja bersama Minato menuju Rumahnya.
Setibanya di Rumah Minato,
"Tadaima" kata Minato sembari membuka sepatunya yang diikuti oleh Naruto. Mereka berdua masuk. "Okaeri" balas suara seorang wanita yang terdengar ramah dari dalam ruangan. Minato dan Naruto segera masuk kedalam. Tampak seorang wanita dengan rambut merah panjang tergerai sampai kepinggul menatap mereka berdua dengan ramah. "Okaeri, Minato-kun" ucap wanita tersebut sambil tersenyum ramah kearah mereka. Naruto sedikit tersentak melihat wanita itu "D-dia mirip dengan Kaa-san" batinnya sambil terdiam ditempat.
"Ano, dia siapa ya? Kenapa dia mirip denganmu?" tanya Wanita tersebut pada Minato."B-begini, Kushina-chan" kata Minato seraya merangkul Kushina dan berbisik padanya lumayan lama. Naruto yang tampaknya sudah tahu apa yang akan mereka bicarakan Cuma bengong sambil melihat-lihat isi rumah Minato. "Hmm, tidak terlalu mewah untuk seorang Hokage" katanya sambil melihat-lihat terus. "Deg!" tiba-tiba Naruto berkeringat dingin, dia melihat kearah wanita yang bernama Kushina tersebut yang tampak rambut merah panjangnya melayang dengan seolah menandakan perasaan sipemilik yang sedang marah. Naruto Cuma diam dan menelan ludah.
Sementara itu Minato sudah bergetar hebat melihat sang istri sudah marah besar. "Kenapa kau tidak bilang dari dulu, Minato-kun" katanya sambil teersenyum dengan mengeluarkan aura pembunuh. Minato yang mendengarnya Cuma bisa bergetar hebat sembari mecoba membalasnya. "A-aku J-juga B-baru tahu tadi Ku-Ku- Kushina-chan" katanya sambil tergagap. Kushina yang mendengarnya cuma bisa menghela nafas panjang. "Ahhh, sudahlah. Malam ini kau tidur diluar!" kata Kushina sambil beranjak kedalam kamar dan mengambil futon untuk Minato.
Kushina kemudian menghampiri naruto. "Nee, siapa namamu?" tanya Kushina dengan ramah. Naruto yang mendengarnya Cuma menelan ludah karena ketakutan. "U-uzumaki naruto" jawab Naruto dengan gagap. "Kyaa! Lucu sekali! Naruto-kun, jadilah anak angkatku! Apalagi margamu sama denganku!"kata Kushina sambil memeluk Naruto. Naruto sendiri Cuma bisa bengong dipeluk oleh wanita tersebut. "B-baiklah, tapi aku masih belum mengakui pria itu sebagai ayahku!" kata Naruto sambil menunjuk Minato yang masih pundung ditanah.
"Biarkan saja dia, ttebane! Ayo kita makan malam bersama hahaha!" Kata Kushina sembari tertawa senang karena keluarganya bertambah satu. Sementara Minato Cuma pundung dilantai dapur sambil memeluk futonnya. "Gomen ne…." lirihnya.
Sementara itu, dari lantai dua rumah tersebut muncul dua orang gadis. "Ada apa sih ribut-ribut?" tanya salah seorang dari mereka dengan rambut twintail pirangnya. "Kaa-chan ada apa?" tanya gadis kecil dengan rambut merah panjang dengan mata biru serta wajah yang tidak jauh berbeda dengan kushina.
Naruto lalu menoleh dan melihat gadis pirang tersebut. Gadis pirang tersebut juga menatap naruto. "Kau?!" teriak mereka berdua. Sementara itu yang lainnya Cuma bingung. "Sudah saling kenal ya?" pikir mereka minus gadis kecil berambut merah panjang yang masih bingung sendiri.
TBC
Keterangan jurus
Raiton: Kinshishi, Naruto memanifestasikan elemen petirnya menjadi bentuk singa yang berjumlah 9 yang dapat menyerang otomatis musuhnya tanpa perintah langsung Naruto.
Raiton: Shinrin Raito, Naruto dapat mengubah kesembilan singanya yang sedang bergerak bebas menyatu menjadi jaring petir yang menyetrum apapun yang ada didalamnya. Hal ini dapat dikontrol oleh Naruto terbukti dengan latihan dengan Minato dimana dia tidak mengaktifkan kekuatan destruktif jurus tersebut. jurus tersebut hanya memiliki jangkauan tangkap 100 meter.
Sekian Chapter 2. Terima kasih banyak buat yang udah fav, follow, ataupun review fic ini. Tanpa kalian fic ini tidak akan bisa berkembang hehehe. Jangan sungkan untuk mengeluarkan saran kalian hehehe. Sekian dan terima kasih ^_^.
