Disclaimer : TO kuadrat dong!
Warning : Oc yang bakalan eksis ampe tamat. Pemakaian bahasa yang campur aduk, OOC, alur yang maksa bin abal. Tolong jangan terlalu mempercayai informasi apapun yang anda baca, karena kebenaran cerita ini masih dipertanyakan.
Buat yang udah review, aku bener–bener terima kasih. Aku bener–bener terbantu. Luna bener–bener seneeeng banget! Karena ada yang baca and ngasih tanggapan plus saran and koreksi yang membangun.
Thankk youuuu...
.
Happy Reading
.
.
Chapter 2: Penyakit yang Menarik
.
Normal POV
.
.
"Hanya ingin berkenalan. Lagipula seorang dokter harus akrab dengan pasiennya kan?"
Mello terpaku mendengar perkataan gadis aneh ini. Apa yang sedang dia bicarakan?
"Kau sakit... dan aku akan menyembuhkanmu," jelas gadis itu yang membuat Mello bingung.
"Sakit? Sakit apa? Aku merasa... sehat?" Mello tidak terlalu yakin apakah dia sehat atau tidak. Tapi, memangnya gadis kecil seperti dia tahu apa? Dia pasti seumuran dengan Matt. Ah, Matt... bagaimana dengan dia ya?
"Ya... sakit. Gejala–gejalanya sudah mulai terlihat. Sakit di persendian juga perut. Lalu emosi yang meledak–ledak adalah yang utama."
Mello terkejut. "Kau tahu darimana? Kau mematai-mataiku?"
Gadis itu tersenyum, "Ya."
Mello heran, mengapa gadis ini begitu jujur. "Kenapa?"
"Karena kau cantik," jawabnya. Lagi–lagi kata itu. Cantik. Mello paling kesal jika ada yang bilang dia cantik. Walaupun dia memang cantik. Bayangkan saja, dia yang jago berantem dan merasa laki–laki tulen, dipuji cantik? Terakhir kali ada yang memujinya seperti itu, empat tulang rusuknya patah. Sebenarnya bisa lebih parah jika Matt tidak menghentikannya.
"Kau itu benar–benar menyebalkan ya!" Mello naik pitam. Dia ingin memukul gadis ini. Tapi, dia pantang memukul perempuan. Sebelum dia tambah marah, dia memutuskan untuk pergi.
"Tunggu. Kau tidak ingin tahu kau sakit apa?" tanyanya. "Kau tahu, penyakitmu itu sangat menarik. Yah, bukan penyakit sih, tepatnya."
Bagus! Gadis ini benar–benar mengesalkan. Datang–datang hanya untuk omong kosong seperti ini!
"Lebih baik kau enyah sekarang juga, sebelum kau menyesal!" ancam Mello. Raut wajahnya menjadi menakutkan. Tapi, anehnya gadis itu tidak takut. Dia malah mendekat ke arah Mello sambil tersenyum. Dan memeluknya! What the-
"Sayangnya, aku merasa cocok denganmu. Lagipula, hanya aku yang bisa menolongmu."
Mello mendorong gadis itu sampai jatuh. Sekarang dia benar–benar kesal.
"Aku tidak peduli apa yang kau katakan. Yang jelas, jika kau tak mau pergi, aku yang akan pergi, Gadis Aneh!" Mello berjalan pergi sambil merutuk dirinya yang begitu sial.
"Namaku Riena," ujarnya pelan namun dapat didengar Mello. Tapi, Mello tetap berjalan menjauh. "Aku rasa kita pasti akan bertemu lagi, Mihael Keehl."
Mello tersentak. Darimana dia tahu nama asli Mello? Dia berbalik dan tak mendapati siapapun di belakangnya. Gadis itu menghilang. Mello berusaha mencari gadis itu. Tapi, nihil.
"Sebenarnya, siapa dia?"
.
mmmoooonnn
.
"Mello, waktunya makan."
Mello terbangun. Dia menoleh, didapatinya Matt sedang menunduk di dekat pintu kamar mereka berdua. Sepertinya dia tidak berani masuk, mengingat ancaman kasar Mello tadi siang, itu sudah jelas.
Mello merasa bersalah. Sedikit. Kenyataan bahwa Matt tidak akan pergi darinya walaupun seburuk apapun perbuatannya pada Matt, menyakinkan Mello. Walaupun begitu, dia masih punya perasaan, yah, walaupun sedikit. Bagaimanapun, Matt adalah sahabatnya. Dan satu–satunya orang yang tidak muak padanya.
Mello menghela nafas. Dia beranjak bangun dan mendekati Matt. Matt tersentak. Dia semakin menundukkan kepalanya, dan hanya terdiam, tidak pergi seperti yang dilakukan orang waras jika Mello mendekati mereka.
"Maaf ya, Matt," Mello tersenyum sembari mengacak rambut merah Matt. Matt mengangkat kepalanya. Dia terkejut.
"Ayo, makan."
Mello langsung berjalan duluan, meninggalkan Matt. Tanpa tahu, bahwa wajah sahabatnya sudah memerah senada dengan warna rambutnya.
Matt tercenung sebentar dengan wajah merah. Dia membelai rambutnya yang disentuh Mello. Sontak dia langsung tersenyum. Tanpa berpikir dia berlari kecil mengejar Mello. Dia sadar, dia tak akan bisa meninggalkan Mello. Seburuk apapun dia, hanya Mello yang bisa mengacaukan hatinya. Dan dia menyukai kenyataan itu.
.
mmmoooonnn
.
"Pita siapa itu, Mello?" tanya Matt. Dia penasaran dengan pita hitam yang dari kemarin terus dibawa oleh Mello. Dan sepertinya, Mello selalu melamun setiap melihat pita itu.
"Entahlah. Gadis aneh," jawab Mello mengambang. Hanya dia yang mengerti. Tapi, bagi Matt, itu sudah lebih dari cukup. Mello tidak terlalu suka dipaksa mengenai hal apapun juga. Jadi Matt akan menunggu sampai Mello menceritakannya.
Mello teringat dengan kejadian kemarin. Anehnya, dia selalu memikirkan perkataan gadis itu.
Aku sakit? Batin Mello. Sakit apa?
Tiba–tiba Mello beranjak bangun dan pergi keluar dari kamarnya. Entah kenapa saat bangun, tubuhnya terasa oleng, jika bukan karena Matt, mungkin dia sudah terjatuh.
Raut wajah Matt terlihat cemas, "Mello, kau tidak apa–apa?"
Matt membaringkan Mello diranjang, "I'm OK. Aku hanya sedikit pusing. Paling karena belum sarapan tadi. Hah... tubuhku benar–benar menyebalkan! Kepalaku pusing, persendian dan perutku juga pada sakit..." keluh Mello yang jarang mengeluh.
"Mungkin sebaiknya kau periksakan ke dokter? Aku akan menemanimu," saran Matt.
"Tidak usah. Aku tidak apa–apa. Lebih baik aku makan saja sekarang." Mello beranjak bangun lagi, tapi dihalangi Matt.
"Biar aku yang mengambil makanan untukmu. Kau tidur saja."
"Che, Matt. Aku tidak apa–apa. Aku bisa sendiri."
Matt tidak membantah, karena ia tahu percuma saja adu debat dengan Mello. Tapi, sebelum Mello keluar kamar, tubuhnya oleng lagi, dan terjatuh tanpa sempat ditangkap Matt.
"Mello!"
Hal terakhir yang dilihat Mello adalah wajah cengeng Matt yang cemas setengah mati.
.
mmmoooonnn
.
Mello membuka matanya perlahan, dan dia melihat siluet hitam disampingnya. Pusing, dia memegangi keningnya sambil mengingat apa yang telah terjadi.
"Halo..."
Suara itu terdengar tidak asing baginya. Kali ini dia benar–benar membuka matanya, melihat orang yang menyapanya.
Gadis aneh itu lagi, batin Mello. Kenapa dia selalu ada saat dia terbangun?
"Mau apa kau di sini? Di mana Matt?"
"Temanmu itu ada di rumahnya, Wammy's House. Jam besuk sudah habis. Biar kuingatkan padamu kalau kau pingsan dan sekarang ada di rumah sakit," jawabnya tersenyum.
"Lalu kenapa kau-"
"Karena aku doktermu," potong gadis itu. Mello benar–benar kesal pada gadis ini. Kesan pertamanya tentang gadis itu benar–benar buruk. Sekarang dia bilang dia seorang dokter? Mello lebih percaya kalau dia bilang kalau dia adalah seorang alien yang sedang menyamar.
"Che! Dokter? Anak kecil sepertimu?"
"Hei, hanya karena aku anak kecil, bukan berarti aku tidak bisa menjadi dokter kan? Kau pernah dengar tentang Dokter R tidak? Akulah dia," jelasnya tanpa merasa tersinggung sedikitpun atas perkataan mello.
Dokter R? Mello tersentak. Jelas saja dia tahu. Dokter R adalah dokter legendaris yang tidak diketahui wajahnya. Dia adalah dokter hebat yang mempunyai banyak terobosan baru dalam dunia kedokteran. Yang Mello tahu, tiga tahun yang lalu, dia menghilang. Tidak ada satupun orang yang tahu bagaimana wajah dan umurnya. Jejaknya menghilang dan yang tertinggal hanya sebuah Inisial. R.
Dan sekarang dokter itu ada di hadapannya? Dokter legendaris itu? Oke, ini sulit dipercaya. Dokter kan selalu memakai sesuatu yang putih, sedangkan dia ini... Mello memperhatikan orang di depannya yang berpakaian seperti mau ke pemakaman. Ah, Mello lebih percaya jika Near yang mengaku sebagai dokter.
"Kau tidak percaya?"
"Kenapa aku harus percaya?" tantang Mello.
Gadis itu tersenyum. "Karena akulah satu–satunya yang bisa menolongmu."
Hah? Mello bengong. "Apa maksudmu?"
"Kau tidak penasaran dengan keadaanmu sekarang?" Gadis itu bertanya sambil mendekatkan wajahnya ke arah Mello. Jarak di antara mereka hanya tersisa lima senti saja. Mello merasa jengah, sontak dia memalingkan mukanya "Makanya aku tanya apa maksudmu? Kau itu punya kebiasaan untuk selalu berbicara omong kosong ya?"
"Aw... itu menyakitkan," katanya dengan raut muka yang terlihat pura–pura terluka. "Aku benar–benar seorang dokter. Lagipula, kejeniusan itu tidak ada hubungannya dengan umur bukan? Kau berasal dari Wammy's House, seharusnya kau yang paling tahu itu."
Mello terdiam. Entah kenapa, instingnya berkata bahwa apa yang diucapkan gadis aneh ini benar. Dia menghela nafas panjang. Sepertinya tidak ada ruginya, mendengarkan dia. Tapi, kalau dia bicara omong kosong lagi, Mello benar–benar berharap memegang pistolnya dan mengarahkan pada gadis aneh itu.
"Oke, seminggu yang lalu, kau bilang aku sakit. Sebenarnya aku sakit apa."
"Yah, seperti kubilang, sebenarnya bukan penyakit. Tapi..." Wajah gadis itu berubah serius. Membuat Mello menjadi tegang.
"Kau itu sebenarnya perempuan."
Hah? Apa dia bilang tadi? Batin Mello.
Oke, dia sudah sabar dari tadi, mulai percaya bahwa gadis aneh ini adalah seorang dokter legendaris yang terkenal itu, mau mendengarkan apa yang dia akan katakan. Dan dia malah bilang sesuatu yang benar–benar omong kosong paling kosong? What the hell! Tadi bilang dokter, sekarang bilang kalau Mello adalah seorang PEREMPUAN? Bagus, kenapa tidak sekalian bilang, bahwa dia baru saja menelan gajah hidup–hidup... tanpa air.
"Kau itu sebegitunya ingin kubunuh ya? Perempuan? Omong kosong apa lagi itu?"
Gadis itu terdiam, mungkin dia merasa takut dengan reaksi Mello. Raut wajah Mello sekarang lebih menyeramkan daripada preman pasar ditambah matanya yang melotot nyaris keluar.
"Yah, kalau tiba–tiba diberitahu seperti ini, memang sulit untuk percaya. Tapi, hal langka seperti ini benar–benar ada. Apabila terjadi kelainan kromosom atau kelainan gen keturunan, bisa jadi fisiknya seperti laki–laki, tapi sebenarnya perempuan atau sebaliknya. Dunia medis menyebutnya 'intersexuality' dan ada banyak sekali macamnya. ada yang disebut 'pseudohermaphrodite' yaitu orang yang punya ovarium sekaligus testis-"
"STOP!" Mello menyetop penjelasan ala dokter dari gadis yang mengaku dokter itu. "Jadi intinya adalah bahwa aku ini-"
"Perempuan," potong si gadis aneh dengan wajah serius.
Mello terdiam, berusaha mencerna. Dia mengepalkan tangannya. Lalu...
"KEEELUUUAAARRR!" teriak Mello 7 oktaf.
Dan pembicaraan pun berakhir dengan tidak tenang.
.
mmmoooonnn
.
Mello's POV
"Pagi, Mello!" sapa Matt ringan. Dia datang pagi sekali. Dan lagi–lagi dia bawa plastik hitam besar. Cokelat lagi? Semoga saja, aku benar–benar butuh cokelat sekarang. Kepalaku tambah pusing karena aku tidak tidur semalaman. Sudah jelas siapa penyebabnya. Gadis aneh itu. Dan rasa pusingku bertambah karena aku belum sarapan. Aku mengerti perasaan orang yang benci rumah sakit. Bukan karena bau obatnya yang menusuk hidung, atau suntikan setiap pagi untuk pengecekan darah tapi karena rasa makanannya yang benar–benar parah.
Hal pertama yang kurasakan adalah rasa tawar yang aneh yang membuat perutku mual. Karena itu aku memutuskan untuk batal sarapan. Daripada seluruh isi perutku yang tinggal sedikit itu keluar semua.
Matt duduk di dekat ranjangku. Dia tersenyum. Apa aku pernah bilang kalau Matt itu sangat manis? Entah sadar atau tidak, Matt memang manis. Semua anak Wammy's House bilang kalau Matt itu cute atau imut apalagi jika tersenyum, berbanding terbalik denganku yang memiliki aura yang menakutkan. Tapi, menurutku, Matt paling manis saat dia sedang sedih atau kecewa. Wajahnya itu benar–benar memelas. Mirip seperti anak anjing yang dibuang dipinggir jalan dan kehujanan. Bukankah mereka terlihat begitu menggemaskan?
"Mello?" suara Matt menyadarkanku dari lamunan yang tidak–tidak.
"Hng?"
"Tumben kau bangun pagi. Kau kan selalu kesiangan kalau tidak kubangunkan."
Ya, itu memang benar. Matt sudah seperti alarm berjalan bagiku. Aku paling tidak suka diganggu apalagi saat tidur. Matt adalah orang yang tidak waras, atau sopannya berani membangunkanku dengan risiko ditendang atau dilempar benda yang dekat dengan tempat tidurku. Baik itu bantal, baju, buku atau kamus yang beratnya hampir tiga kilo. (ada ya?)
"Daripada dibilang bangun pagi, aku malah tidak tidur."
"Hah? Kenapa?"
Mello terdiam. "Matt, cepat panggil dokter yang bertanggung jawab padaku."
Hah? Untuk apa? Kau baik–baik saja kan?"
"Sudahlah! Cepat panggil!" perintah Mello dengan nada yang lebih keras dan menuntut.
Matt langsung berdiri. "Oke, aku panggil sekarang."
.
mmmoooonnn
.
"Aku sakit apa?" tanyaku langsung. Dia dokter kan? Pasti dia tahu yang sebenarnya. Apakah ucapan gadis aneh itu benar atau tidak.
"Well..." dokter itu memakai kacamatanya dan melihat–lihat kertas yang dipegangnya. Suster dibelakangnya hanya terdiam. "Kau hanya kelelahan dan tekanan darahmu rendah. Tidak ada yang terlalu serius. Hanya masalah daya tahan tubuhmu yang menurun."
Mello ternganga. Hanya itu? Tidak ada omong kosong tentang menjadi perempuan atau apapun itu?
"Syukurlah, Mello. Kau baik–baik saja," celetuk Matt. Aku baru sadar kalau dia ada didekatku.
Aku tersenyum, untuk pertama kalinya mungkin dalam seminggu terakhir ini. "Ya"
Matt menunduk. Kenapa dia?
"Baiklah, saya keluar dulu. Masih ada urusan yang harus diselesaikan. Permisi."
Dokter dan suster itu keluar ditemani Matt. aku mengambil plastik hitam dan melihat isinya. Waow. Aku keluarkan semuanya dan kubiarkan berserakan di ranjangku.
"Cokelat..." gumamku takjub.
"Untukmu..." jawab Matt. Aku tidak mengalihkan pandanganku dari benda yang ada ditengah ranjangku. Ini bukan hanya cokelat. Ada puding cokelat, brownies, dan semua makanan yang terbuat dari cokelat.
Aku memandang Matt. "Waow, Matt, ini..."
"Makanlah... kau pasti kelaparan. Makanan dirumah sakit kan tidak enak."
Aku mengangguk, dan memutuskan untuk memakan pudingnya dulu, tapi Matt malah menyodorkan sesuatu padaku. Sesuatu yang baunya enak.
"Sarapan dulu," katanya sambil memberiku sekotak nasi lengkap dengan lauknya. Dan hebatnya, ini semua makanan kesukaanku. Masih hangat, mungkinkah Matt yang-
"Aku buat khusus untukmu, Mello," katanya tersenyum.
Haah... Matt benar – benar mengerti aku.
.
mmmoooonnn
.
Malamnya...
"Matt, kau tidak pulang? Jam besuk sudah habis kan?"
Matt terdiam, "Aku boleh disini saja?"
"Untuk apa? Aku bukan anak kecil yang perlu ditemani. Pulanglah. Lagipula aku tidak mau berbagi ranjang denganmu."
Matt merajuk, "Aku bisa tidur disofa. Boleh ya, Mello? Kumohon, jangan menyuruhku pulang."
Che! Aku tidak mengerti dengannya. Bayangkan, kamar di Wammy's House 100 kali lebih nyaman daripada di rumah sakit, apalagi jika kau disuruh tidur di sofa. Dia malah bersikeras untuk tinggal. Tapi, ekspresi Matt benar–benar menggemaskan. Dia kelihatannya takut jika aku menyuruhnya pulang. Yah, tidak ada salahnya. Lagipula ada orang yang bisa kusuruh–suruh.
"Terserah kau saja, tapi jangan berisik."
Seketika muka Matt berubah sumringah. Benar–benar deh! Sepertinya tidur disofa setara dengan memenangkan lotere saja.
Akupun memutuskan untuk tidur setelah menyuruh ini itu pada Matt. Tapi ada suatu hal yang mengganjal. Sesuatu yang mengesalkan.
"Matt?"
Matt terbangun dan mendekatiku, apa tadi dia sudah mau tidur?
"Kau bawa pistol?"
Matt terkejut. "Hah? Untuk apa aku bawa pistol ke rumah sakit? Lagipula kau kan tahu aku tidak punya pistol. Kalau PSP sih, banyak. Kelebihan malah," jelasnya cengengesan.
"Aku kan cuma tanya."
"Memangnya buat apa pistol itu?"
Aku terdiam sejenak, apa sebaiknya kuceritakan ya?
"Yah, sepertinya setiap aku bangun tidur, selalu ada saja hal–hal menyebalkan yang terjadi."
Kening Matt mengerut, saat dia mau bertanya, aku langsung mengambil posisi tidur dan mengacuhkannya. Sepertinya dia sadar kalau aku tak ingin membahasnya. Matt pun langsung menuju sofanya untuk tidur.
Aku pun memutuskan untuk tidur, sambil berharap semoga saat terbangun aku tidak bertemu dengan gadis aneh itu lagi.
.
.
T*B*C
.
Ngg~ buat Orange Burst and Kirarin Ayasaki yang udah baca dan review, sarannya benar–benar membanguun! Luna seneng banget pas baca reviewnya! Makasi yaaa!
Oh iya, soal informasi kedokteran yang ada di fic ini, Luna ambil dari komik, jadi jangan terlalu dipercaya. Soalnya Luna males nyari di internet. Modemnya kan rusak. Menurut kalian, alurnya terlalu cepet ga?
Oh, iya, disini pairnya adalah Mello and Matt lo! Si OC Cuma saingan si matt doang. Abis ga afdol kayaknya kalo ga ada cinta segitiga. (terpengaruh drama korea) Luna maunya pake si Near, tapi, Near ga agresif sih, jadinya kan ga seru! Makanya aku tampilin OC! Kaga tahu deh, bagus atao engga.
At last, review please! Mao saran atau kritik Luna terima dengan senang hati. Asalkan jangan terlalu pedes ya! Nanti perut Luna bisa mules!
Review pleaseeee...
