Previous Chapter:

Taehyung merunduk. Tubuhnya serta hatinya terasa pegal. Namun, tiba-tiba tubuhnya bagai diselimuti sesuatu yang hangat. Oh, ini sungguh hangat. Taehyung tidak ingin mengangkat wajahnya hanya untuk menatap siapa yang ternyata kini tengah memeluknya dari belakang. Ia sangat berharap bahwa Jungkooklah yang memeluknya saat ini. Akan tetapi,

"Taehyungie… ayo pulang."

Suara itu. Suara bukan milik Jungkook, tapi sungguh familiar.

"Ayo pulang, nanti kau sakit." suara lembut itu menyeruak ke gendang telinga Taehyung. Taehyung lalu menolehkan wajahnya ke kanan, dan yang didapatnya adalah nafas hangat dari orang itu.

"Akan kubuat kau melupakannya."

.

.

Dark Memory,

Chapter 2 (Edited)

BTS Fanfiction

JinV / KookV / KookMin

Rating: T (bisa naik ke M tergantung alur, tapi nanti wkwk)

OC : Kim Mingyu (Mingyu) Seventeen as JinV's son

Warning: Typo, bahasa absurd, BL, Male Pregnant, EYD berantakan, alur aneh mungkin membingungkan, dan segala macam kejelekan dalam penulisan, mohon dimaafkan.

Disclaimer : BTS dan Mingyu hanya milik orangtua mereka dan Tuhan.

Cerita ini murni dari diriku sendiri. Apabila terdapat kesamaan cerita maka itu bukanlah unsur kesengajaan. Cinta damai oke~

Ini baru aja aku edit, oke. Maaf yang sebelumnya chapter ini agak aneh, karena bikinnya pas watt udah sekita 5%. wkwk

Happy Reading~


Angin malam yang dingin berhembus kencang di sungai Han. Dinginnya bagaikan menusuk hingga ke tulang. Taehyung merasakannya. Tubuhnya menggigil. Tidak. Lebih tepatnya jiwanyalah yang menggigil. Relung hatinya seakan membeku, dan apabila tersentuh sedikit seakan bisa hancur berkeping-keping.

Ya, hancur berkeping-keping.

Seperti saat ini. Saat setelah seorang namja bermarga Jeon, Jeon Jungkook, menolak kehadirannya. Menolak eksistensi seorang Kim Taehyung dalam hidup Jungkook. Penolakan namja bersurai hitam itu bak kibasan tangan sarat pengusiran. Mengusir bahkan mengenyahkan semua yang telah keduanya lalui bersama. Walaupun nampaknya dengan amat sangat terpaksa Jungkook menjalaninya bersama Taehyung.

Padahal selama setahun mereka telah menjalin hubungan. Tapi kenapa semua hilang begitu saja? Setelah dua belas bulan mereka bersama, dibulan ke tiga belas hingga lima belas jarak mereka seperti terpisah jauh karena retakan yang bergerak berjauhan. Taehyung merasa seolah ini semua hanyalah kembang tidur yang selalu didapatnya tiap kali dirinya terlelap usai tangisan tak berujungnya.

Namun, nyatanya ini bukanlah mimpi. Inilah kenyataan yang sebenar-benarnya, bahwa: Jungkook yang sangat dikaguminya, Jungkook yang dicintainya, Jungkook yang selalu dieluh-eluhkan dalam kesehariannya, Jungkook yang bagaikan separuh nafasnya, separuh hidupnya,

kini telah meninggalkannya.

Taehyung tidak mengerti. Kenapa Tuhan harus menggariskan takdirnya seperti ini. Hidup diselimuti rasa sepi sunyi, tanpa cinta dan kasih sayang orang lain. Namun logikanya, bagaimana namja cantik itu bisa mengharapkan cinta kasih orang lain jika dia tidak mampu menyayangi dirinya sendiri? Lucu sekali, batin Taehyung.

Terkadang dirinya sungguh iri pada orang lain. Tidak usah jauh-jauh, saat Taehyung yang sendirian berada di taman kota, yang niatnya hanya sekedar mencari oksigen setelah penat pekerjaannya, tidak sedikit bocah-bocah yang Taehyung lihat sedang asik bercanda dan tertawa bahagia bersama kedua orang mereka. Taehyung yang yang melihat kebahagiaan itu membuat dirinya tidak dapat menahan untuk tidak tersenyum. Tersenyum masam. Taehyung yang dewasa, dua puluh satu tahun usianya, iri terhadap bocah, eoh?

Keiriannya terhadap bocah tidak sebanding dengan keiriannya pada sahabat masa kecilnya. Sahabat semenjak dirinya ditelantarkan orang tuanya. Sahabat yang senantiasa ada untuknya, menyayanginya, rela menjadi kasih sayang bak orang tua pada anaknya, pada Taehyung sendiri.

Ironi.

Rasanya seratus kali lebih sakit dari rasa irinya terhadap bocah diwaktu silam. Taehyung senantiasa bertanya-tanya, mengapa Jimin yang Jungkook pilih? Mengapa bukan dirinya? Mengapa?

"Kenapa…" suara lirih Taehyung memecah keheningan.

Seokjin masih bertahan memeluk protektif Taehyung yang kini sungguh rapuh. Namja rupawan itu enggan menggeser tubuhnya barang seinci pun. Dirinya tetap berkukuh merengkuh Taehyung dengan lengan kekarnya, membawanya tenggelam dalam pelukan hangatnya, yang seakan juga memberikan kehangatan bagi jiwa Taehyung yang menggigil.

"Kenapa… kenapa selalu seperti ini?" mati-matian Taehyung mencoba untuk berbicara meskipun tenggorokannya tercekat.

"Kenapa aku ditinggalkan lagi?" lanjut Taehyung dengan suara bergetar, diselingi sesenggukan kecil, tanda begitu pedihnya luka yang melukai hatinya.

Seokjin semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Taehyung. Mengusap-usap bahu mungil yang masih ada dalam rengkuhannya, pesan tidak langsung dari Seokjin bahwa semua akan baik-baik saja. Pemuda dua puluh lima tahun itu lebih memilih diam, tidak menjawab pertanyaan yang diajukan namja cantik dalam pelukannya itu. Dirinya membiarkan Taehyung menyampaikan isi hatinya. Karena perasaan Taehyung yang lebih diutamakan dalam situasi ini.

"Hyung… jawab pertanyaanku. Kenapa, hyung…" Seokjin merasakan tubuh mungil Taehyung bergetar karena tangis. "Jangan diam saja, Hyung. Kenapa aku harus melalui semua ini? Kenapa!?" teriak Taehyung frustasi.

Walau Seokjin tidak dapat melihat wajah Taehyung seperti apa sekarang (karena dirinya memeluk Taehyung dari belakang), namun Seokjin dapat membayangkan bagaimana wajah sarat kesakitan yang terpatri di wajah cantik Taehyung. Tanpa sadar Seokjin meringis sedih.

"Apa aku harus mati saja, hyung? Lagi pula, semuanya sudah berakhir. Sudah tidak ada apa-apa lagi dalam hidupku." Kata Taehyung sambil tersenyum miris dan diakhiri kekehan menyedihkan. "Bantu aku mati, Hyung. Bantu aku…" Taehyung menangis lagi. Tubuh mungilnya bergetar hebat. Sesenggukannya semakin menjadi. Tangisan serta rintihan pilunya membuat Seokjin tidak tahan. Dengan sekali tarikan Seokjin memutar tubuh Taehyung menghadap dirinya.

"Tae." Taehyung menundukkan wajahnya. Kondisinya masih sama, menangis hebat. Seokjin semakin mengeratkan genggaman tangannya di bahu sempit Taehyung. "Taehyung lihat aku." Perintah Seokjin mutlak. Namun Taehyung tidak menggubrisnya.

"Taehyung." Panggil Seokjin lagi. Namun Taehyung tetap tidak mau menyahut. Baiklah, kini Seokjin mengulurkan tanggannya, mengangkat wajah Taehyung menghadap wajahnya.

Alhasil, wajah yang diangkatnya itu sungguh diluar kata baik.

Seokjin tidak kuasa menatap wajah Taehyung yang terlihat mengenaskan. Wajahnya pucat, matanya sembab, air mata menggantung di pelupuk mata indahnya yang sayu, dan terdapat aliran alir mata yang menganak sungai hingga jatuh berkumpul di dagu lancip Taehyung. Bibirnya agak membiru, bergetar, dan terdengar gemelatuk dari gigi-gigi rapinya. Seokjin menatapnya lamat-lamat, menelusuri wajah Taehyung yang pucat.

"Tae, kau kedinginan." Kata Seokjin sambil melepas syal yang dikenakannya untuk dililitkan pada leher Taehyung yang terbuka.

"Hyung…" Taehyung terlalu keras kepala untuk sekedar mengindahkan kalimat Seokjin. "Hyung, aku ingin mati." Nada Taehyung penuh permohonan. Begitu lirih, dan tentu saja, sarat kesakitan.

Seokjin menatap tajam tepat bola mata Taehyung. Rahangnya mengeras. Dia pejamkan sejenak kedua matanya sebelum menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar.

"Kim Taehyung…" Panggil Seokjin pada Taehyung dengan penuh penekanan. Ada nada kesal di sana. "Jangan pernah ucapkan kalimat itu di hadapanku." Suara Seokjin melunak, lembut dan sarat permohonan.

"Kumohon. Kau tidak boleh berkata seperti itu. Jangan pernah katakan jika kau ingin mati. Taehyung, kau hanya tidak pantas untuk sekedar memberikan kasih sayangmu yang tulus pada namja itu, apalagi setelah dengan seenaknya dia meninggalkanmu begitu saja. Jangan sia-siakan nyawamu hanya karena namja keparat itu." Papar Seokjin yang masih tetap menatap Taehyung, kali ini tatapannya melembut.

Taehyung terdiam beberapa saat sebelum dirinya meronta minta dilepaskan. "Lepaskan aku, Hyung. Kau tidak mau memmbantuku." Katanya sambil terus berusaha lepas dari kukungan Seokjin. Namun, tetap saja hal itu tidak akan berhasil, karena Seokjin lebih kuat darinya.

"Ayo pulang, Tae. Kau kedinginan. Lihat bibir dan jarimu, membiru." Kata Seokjin sambil memapah Taehyung untuk berdiri.

"Hentikan, Hyung. Aku ingin tetap di sini." Taehyung tetap meronta. Mencoba mendorong tubuh Seokjin agar menjauh darinya.

"Tidak, Tae. Kau harus pulang." dengan sabar Seokjin masih mengajak Taehyung untuk pulang.

"Hyung, pergilah. Aku masih ingin di sini."

"Jangan berbuat hal bodoh, Taehyung."

"Kumohon, Hyung. Biarkan aku sendiri." Taehyung mencoba melepaskan genggaman tangan Seokjin dari pergelangan tangannya.

"Taehyung!" Kali ini Seokjin membentak. Taehyung berjengit.

"Baiklah jika itu maumu. Aku akan meninggalkanmu sendirian di sini!" Seokjin telah habis kesabarannya. Dirinya langsung melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan kurus Taehyung, kemudian berbalik dan melangkah perlahan meninggalkan Taehyung.

Taehyung terkejut. Tatapannya nanar setelah Seokjin membentaknya. Sekilas dadanya seperti teriris. Namun, tidak lama kemudian dirinya terkekeh pilu. Air matanya kembali menetes, mengalir di pipi tirusnya.

"Bahkan Seokjin-hyung pun meninggalkanku sendiri, eoh?" ucapnya dengan suara bergetar.

Seokjin menghentikan langkahnya begitu mendengar Taehyung berucap demikian. Sungguh, dirinya hanya bercanda. Tidak betulan meninggalkan Taehyung. Seokjin lalu berbalik, melihat Taehyung yang kini berdiri lunglai sambil menatapnya. Oh Tuhan, Seokjin menyesali candaannya ini.

"Kenapa Tuhan selalu memberikan alur cerita menyedihkan dalam hidupku, hyung? Apa Tuhan membenciku?" katanya sambil menatap Seokjin yang terpaku.

"Apa dosaku, Hyung?" Seokjin kin memustukan untuk kembali menemui Taehyung. "Apakah ini ada hubungannya dengan dosa masa lalu appa dan eomma, sehingga Tuhan menurunkan balasannya pada diriku?" Tanya Taehyung dengan air mata yang mengalir deras di kedua pipi tirusnya.

"Apakah karena appa dan eomma membenciku, juga teman-teman sekolahku dulu mengejekku, lalu Jungkook meninggalkanku untuk menemui Jimin, sehingga Tuhan melimpahkan kutukannya padaku untuk menanggung semua dosa itu?" Pertanyaan Taehyung membuat Seokjin sedih.

'Tidak, Tae. Bukan karena Tuhan membencimu...' batin Seokjin.

Kini Seokjin sudah berdiri tepat di depan Taehyung. Kemudian pemuda itu mengulurkan tangannya, mendekap erat Taehyung yang hancur, meletakkan kepala Taehyung tepat di dada bidangnya. Dan detik itu pula, Taehyung merintih,

"Aku lelah, hyung. Aku tidak kuat memikul penderitaan ini." Kata Taehyung mencicit.

'Semua ini Tuhan berikan padamu, karena Dia begitu mencintaimu, Tae.'

"Setelah ini, apa kau akan seperti yang lain? Meninggalkanku sendiri?" Seokjin mengusap sayang punggung Taehyung. Memberikan ketenangan di sana. Dirinya menyesal sempat berpura-pura meninggalkan Taehyung tadi. Seokjin merutuk dirinya sendiri.

Jemari Seokjin mengangkat dagu lancip Taehyung, lalu menempelkan dahinya dengan dahi Taehyung hingga hidung mereka bersentuhan sebelum membawa kanannya ke tengkuk Taehyung, sedangkan tangan kirinya membelai lembut pipi kanan Taehyung yang terasa sangat dingin.

"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Taehyung memejamkan matanya, menikmati hembusan nafas hangat Seokjin yang menerpa wajahnya. Kepalanya pusing seketika.

"Aku pastikan aku akan selalu ada disisimu, dalam suka-dukamu, ..." jeda sejenak. Seokjin menghembuskan nafas perlahan, meyakinkan dirinya, sebelum pria berbahu lebar itu melanjutkan kalimatnya,

"... Karena aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku, lebih dari kau mencintai Jeon Jungkook keparat itu." Kata Seokjin begitu lembut, namun terdapat penekanan di akhir kalimat. Begitu kentara kebenciannya terhadap Jeon Jungkook.

Taehyung menatap lekat manik hazel Seokjin. Memastikan ada tidaknya keraguan di sana. Namun, tidak dapat dipungkiri, kalimat Seokjin membuat hatinya bagai diselimuti kehangatan entah datang dari mana. Taehyung merasa nyaman, dirnya merasa tenang. Seulas senyuman tipis terpatri di wajah pucat Taehyung. Begitu cantik ketika Seokjin melihatnya.

Akan tetapi, tetap saja, Taehyung takut bahwa kalimat itu hanya bualan belaka, sebagai bentuk keprihatinan (rasa kasihan) karena Taehyung yang terlihat begitu menderita. Namun, jauh dalam lubuh hati Taehyung, dirinya sangat membutuhkan penopang jiwa.

Seakan mengerti isi pikiran Taehyung, Seokjin angkat bicara,

"Aku bersumpah akan selalu mencintaimu, selalu ada di sisimu, Kim Taehyung."

Taehyung mengerjapkan matanya yang membola beberapa kali. Keterkejutannya tidak berlangsung lama karena Seokjin kini menggeser sedikit wajahnya. Dengan gerakan lambat melekatkan bibir tebalnya di bibir tipis Taehyung, pemuda yang dicintainya. Tidak ada lumatan atau apapun di sana. Hanya menempel saja. Seakan Seokjin ingin menyampaikan bahwa dirinya bersungguh-sungguh akan ucapannya. Dari ciuman itu pula Seokjin ingin membuktikan cintanya pada Taehyung.

Taehyung yang awalnya menatap sendu, sekelebat ketakutan di masa lalu menghampiri pikirannya. Tapi yang terjadi, logikanya begitu tidak sinkron dengan isi hatinya, hingga akhirnya Taehyung memejamkan matanya. Merasakan sentuhan hangat di bibirnya. Merasakan sentuhan bibir lembut Seokjin, yang baru saja bersumpah di hadapannya, memberikan harapan lagi bagi seorang Taehyung yang terlanjut hancur karena harapan-harapan manis yang ternyata palsu.

'Aku bersumpah. Kim Seokjin akan selalu mencintai Kim Taehyung. Sepenuh hati.' gumamnya dalam hati.

Setelah ciuman lembut nan hangat itu terlepas dari bibir masing-masing, Taehyung membuka matanya perlahan, dan yang didapatnya adalah tatapan penuh kasih sayang Kim Seokjin. Namja dua puluh lima tahun, direktur muda perusahaan Kim (yang ternyata musuh bebuyutan perusahaan Jeon), rupawan dan baik hati, penuh kasih sayang, bijaksana dan segala macam kebaikan dalam diri Seokjin bagaikan jelmaan malaikat. Namun, satu hal kekurangan yang ada dalam kesempurnaan Seokjin,

Ketulusan cintanya pada Taehyung terlalu besar,

karena ketulusan cinta itu tanpa Seokjin sadari mampu menyakiti hatinya sendiri: karena hatinya terombang ambing ketidak pastian cinta Taehyung terhadapnya.

Seokjin masih menatapnya, tidak lupa senyuman tampan yang Seokjin pernah Seokjin miliki. Entah mengapa jantung Taehyung berdebar hanya dengan mendapat tatapan seperti itu. Ada desiran menggelitik dalam hatinya. Perasaan itu sungguh aneh bagi Taehyung, tapi Taehyung menyukainya.

"Jadi…" suara rendah Seokjin membuyarkan lamunan Taehyung. "Kau bersedia membuka hatimu untukku?" tanya Seokjin, lagi-lagi tidak lupa menyunggingkan senyuman tampannya.

Taehyung yang mendengarnya semakin menenggelamkan wajahnya di dada seokjin. Memeluk erat tubuh tegap Seokjin, seakan dirinya takut terjatuh lagi. Menghirup aroma tubuhnya yang menenangkan sebelum Taehyung mengangguk pelan.

Seokjin yang mendapat jawaban positif dari Taehyung semakin mengeratkan pelukannya pada Taehyung, lalu mengecup pelipisnya, dahinya, dan terakhir di puncak kepala bersurai karamel Taehyung.

"Saranghae, Taehyungie. Jeongmal saranghae."

"Jangan pergi…" kata Taehyung lirih sebelum pelukannya mengendur, kaki jenjangnya tidak mampu menapak lagi, tubuhnya lemas, dan saat itu pula Seokjin menumpu tubuh lemah Taehyung.

"Tae!"

Kim Taehyung pingsan.

.

.

.

Langit-langit kamar berwarna putih yang pertama kali Taehyung lihat. Perlahan matanya mengerjap, mengambil fokus untuk mata kantuknya. Pandangannya mengedar ke sekeliling. Warna abu-abu mendominasi ruangan ini.

Oh,

Taehyung sedang ada di kamar apartemennya sekarang.

Ia mencoba mendudukkan diri, namun gerakannya terhenti ketika merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menempel di leher dan dadanya. Tangannya meraba benda itu dan ternyata kompres yang kehangatannya sudah agak pudar. Lalu dia mendapati bajunya yang telah diganti dengan pakaian tebal tapi lembut. Tubuhnya juga dibalut selimut yang tidak kalah tebalnya. Kedua kakinya terpasang kaus kaki berbahan wol. Tidak lupa penghangat ruangan juga ikut andil demi menghangatkan dirinya.

Taehyung mengingat-ingat lagi apa yang telah terjadi semalam. Namun, kepalanya terlalu pening untuk diajak bekerja. Taehyung mencoba mengingat kembali hal yang telah terjadi, sampai sebuah suara mengejutkannya,

"Kau sudah sadar?"

Seokjin.

Sekelebat ingatan berputar otomatis dalam memori Taehyung. Begitu dirinya sadar, tanpa disuruhnya pun wajah Taehyung memanas, apalagi ketika dirinya ingat bagaimana Seokjin mempertemukan bibirnya pada bibir tipis Taehyung. Oh, astaga, tanpa Taehyung sadari, ia menggeleng-gelengkan kepala. Hal itu tentu saja membuat Seokjin yang melihatnya keheranan.

"Taehyungie, ada apa? Apa kau masih merasa kedinginan?" Tanya Seokjin buru-buru meletakkan nampan berisi bubur dan segelas air hangat di nakas sebelum mendekat ke arah Taehyung. "Taehyung? Katakan, apa kau pusing? Mana yang sakit?" Tanya Seokjin lagi. Nada kepanikan terdengar dari suara baritonnya.

"A-ani, hyung." Taehyung tergagap. Sungguh, jantungnya berdebar. Dia tidak bisa menatap langsung wajah Seokjin. Matanya ke kanan dan ke kiri. Asalkan jangan menatap Seokjin.

"Benarkah?" Tanya Seokjin lagi sambil mengecek suhu tubuh Taehyung dengan menempelkan punggung tangannya di dahi, pipi, leher, dan tangan Taehyung. Tidak lupa mengecek denyut nadinya di pergelangan kurus itu. "Ah, syukurlah kau baik-baik saja. Suhu tubuhmu tidak sedingin tadi." Kata Seokjin lalu membenahi selimut Taehyung yang tersingkap, menariknya hingga sebatas dada.

Seokjin membelai lembut rambut Taehyung, "Kau buatku panik setengah mati, Tae. Kau hipotermia, kau tahu? Aku takut kau kenapa-napa." Seokjin menatapnya sedih. Taehyung yang melihatnya menggigit bibirnya, kecewa pada dirinya sendiri yang sudah merepotkan Seokjin.

"Maaf, hyung." Taehyung menundukkan wajahnya. Dirinya sungguh merepotkan orang lain, pikirnya.

"Tidak, Tae. Aku yang harusnya minta maaf. Aku tidak cepat tanggap bahwa kau hipotermia. Maafkan aku." Kini tangan Seokjin menggenggam lembut kedua tangan Taehyung. "dan juga…"

Taehyung mengangkat wajahnya, merasa Seokjin tidak melanjutkan ucapannya. Taehyung menatap tepat di manik hazel Seokjin. Alis Taehyung sedikit terangkat, bukti bahwa dirinya saat ini penasaran.

"… terimakasih, Tae. Kau bersedia membuka hatimu untukku. Aku berjanji, tidak, aku bersumpah untuk selalu ada untukmu, untuk selalu ada di sisimu, tidak mengecewakanmu, Kim Seokjin yang selalu mencintai Kim Taehyung. Aku pastikan itu." Jelas Seokjin mantap. Tidak ada getaran keraguan di sana. Seokjin yang ada di hadapan Taehyung saat ini benar-benar serius dengan ucapannya.

Taehyung yang mendengarnya terkekeh. Tersipu. Wajahnya bersemu. Senyuman malu terkulum di sana. "Hentikan godaanmu, hyung." Katanya sambil memukul dada Seokjin main-main. Seokjin yang dipukul begitu langsung menangkap tangan Taehyung lalu menggenggamnya erat.

"Aku sedang tidak menggodamu, Tae. Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku." Balas Seokjin yang semakin mengeratkan genggaman tangannya. Taehyung yang awalnya ingin bercanda kini menatap serius.

'Oh Tuhan, wajah Seokjin yang serius begitu tampan.' batin Taehyung.

"Aku... tidak. aku akan mencobanya sebisaku, hyung. Aku akan melupakan bajingan itu dan memulai kisah baru denganmu." Jawab Taehyung tak kalah mantap. Jangan lupakan senyuman tulus di sana.

Seokjin tersenyum. Kedua tangan kurus dalam genggamannya itu diarahkannya menuju dadanya, tempat seluruh cintanya yang hanya untuk namja di depannya saat ini.

"Saranghae…"


Kediaman Jeon.

Jungkook mendudukkan dirinya di tepi ranjang king size-nya. Matanya menerawang entah memikirkan apa. Ditatapnya foto yang terbingkai manis di nakas samping ranjangnya. Foto dirinya dengan namja yang katanya memikat hatinya tiga bulan terakhir itu.

Jungkook meraih foto yang terbingkai itu, lalu menatapnya lamat-lamat. Selanjutnya Jungkook membuka penutup bingkai foto dan mengeluarkan foto itu dari sana. setelah foto itu dikeluarkan dari tempatnya, Jungkook membalikkan foto dirinya bersama pemuda tiga bulannya itu searah seratus delapan puluh derajat. Dan ternyata terdapat foto lain terpasang di sana. Foto dengan tokoh yang berbeda. Dan foto itu terlihat kusam dimakan waktu.

Tatapan mata Jungkook berubah menjadi sendu. Matanya terpejam menahan agar cairan hangat tidak mengalir dari manik hitamnya. Jantungnya berdebar keras, kepalanya pening, dadanya sesak hingga membuatnya sulit bernafas. Ingin dirinya menyebut nama dari sosok dalam foto itu, meneriakinya, memanggilnya. Akan tetapi, lidahnya kelu, tenggorokannya kering. Jungkook kesal. Dipukul dadanya berkali-kali untuk meringankan nyeri dari luka yang kasat mata itu.

Pemuda tampan itu terlihat hancur,

Hatinya hancur,

Pertahanannya roboh,

Dirinya menangis, hanya karena seseorang yang sejak tadi menghantui pikirannya. Orang yang telah disakitinya. Namja cantik yang kini telah meninggalkannya atas keputusan Jungkook sendiri.

"Bodoh…" umpat Jungkook sambil meremas kemejanya. Wajahnya meringis kesakitan. "Jeon Jungkook, kau begitu BODOH!" teriaknya pada dirinya sendiri, nafasnya terengah, disusul erangan tertahan sebelum kesadarannya menipis.

Jungkook terjatuh dari duduknya. Meringkuk di lantai marmer yang dingin. Matanya perlahan tertutup, selanjutnya hanya gelap yang melingkupinya.

.

.

.

.

TBC

Hai haiii~ maaf lama apdet. Aku kehilangan nafsu untuk bikin fic. Selain itu, aku juga ada beberapa urusan kepanitiaan yang menyiksa. Aaarrgghhh~ pengen muntah rasanya. T^T

Awkawokawokawok… malah jadi JinV. Hahaha :D aku jadi baper habis nonton BTS BON VOYAGE EP 05 Behind Scensenya. Astaga… itu yang pas di river bank si Seokjin meluk si V selama semenit lebih. Oh may gaaatt so sweet~

Ini fic pinginnya masukin si Kookie, tapi aku bingung mau ku taroh mana. Jadi kutaroh di bawah. Mungkin ini bakal jauh dari yang diharapkan. Jadi, maaf yaaa kalau hasilnya jelek.

Makasih untuk SR, reviewer, dan yg udah follow dan fav fic ini.

Review please~