Author Note:

Halo kembali, semuanya!

Lagi-lagi untuk kesekian kalinya, author ngaret. Maafkan saya ya. (-_-") Untuk selanjutnya author akan berusaha supaya gak ngaret. Doakan ya semoga tugas author satu ini berkurang. (?)

Sebelumnya terima kasih banyak atas reviewnya, dan makasih karena sudah membaca fanfic ini! Buat yang belum baca fanfic sebelumnya, bisa dibaca, judulnya "Harta Berharga" biar gak bingung dan jadi rada-rada mengerti alur cerita dari fanfic ini. Mwahaha (?)

Yak, untuk kelanjutannya, selamat membaca! Maaf kalo gaje, garing, dan sebagainya. Mohon dimaklumi kalo ada typo, semoga dapat menghibur! ^^

-Lutanima-


"Se-selesai..."

Brukkkk!

Mark ambruk. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya yang hampir putus itu. Dia lelah. Dia letih. Dia gak kuat lagi, kawan.

"Akhirnya kita selesai juga.." Chelsea melihat keluar jendela. Matahari sudah hilang dari langit. Dia dan Vaughn pun ikut terduduk lemas di lantai. Mereka semua sangat lelah. Tapi paling tidak mereka berhasil membersihkan rumah baru mereka.

"Kerja bagus anak-anak!" Tiba-tiba Taro, muncul dari balik pintu. Membawa beberapa kotak bekal, lalu memberikannya kepada kami masing-masing satu.

"Aahhh~ surgaa~ Terima kasih kek Taro!" Mark senang bukan main meskipun isi dari kotak bekalnya hanya berbagai macam sayuran rebus. Sejak tadi perutnya sudah mengaung-ngaung kelaparan. Chelsea juga kelihatannya senang mendapat upah dari hasil kerja kerasnya. Tapi Vaughn, masih tetap terdiam seperti biasa.

"Kalian makan saja dulu, hohoho! Maaf karena kami hanya bisa mendapat lauk apa adanya!" Ujar Taro.

"Ngomong-ngomong.. Apa pulau ini ada penghuninya ya? Aku heran.. Maksudku.. Aneh kan? Sudah ada rumah di pulau ini.. Bahkan sudah terisi dengan beberapa perabotan.. Lihat!" Chelsea menunjuk ke arah sebuah kasur dan lemari yang sudah ada di dalam rumah kami. Walaupun barang-barang itu sudah kelewat pensiun.

"Mmmm.. Aku kurang tau, tapi sepertinya begitu! Hoho! Kita beruntung bukan? Hoho!" Ujar Taro sambil menghentak-hentakkan tongkatnya. Sementara Mark, menggerakkan pantatnya, menjauh dari sepuh satu ini. Takut-takut tongkatnya akan menyenggol kotak makanan berharganya itu.

"Tapi aneh.. Kalau begitu.. Kemana seluruh warga di pulau ini? Menghilang begitu saja? Atau..." Vaughn tiba-tiba berbicara. Matanya menerawang jauh, layaknya detektif yang sedang melakukan analisa. Sementara Mark di sampingnya, mulai bersendawa karena kekenyangan.

"Haah.. Kenyang! Terima kasih kek!" Mark mengelus-ngelus perutnya. Sip! Dia telah mendapat energi. Dia pun mempertegak duduknya dan mulai ikut ke dalam topik pembicaraan.

"Aku khawatir jangan-jangan warga di pulau ini.. M-me.." Chelsea sempat terdiam. Mark yang awalnya santai-santai saja pun mulai memucat. Dia tiba-tiba teringat akan hal yang dia lihat di kandang hewan tadi. Beberapa tulang yang entah milik siapa itu, masih terasa segar di ingatannya. Dia melirik ke arah Vaughn. Rupanya dia sama pucatnya dengan Mark.

"Meninggal maksudmu? Hohoho! Tidak nona. Karena kami tidak menemukan mayat dimana pun." Ujar Taro. Mark dan Vaughn makin pucat. Chelsea pun kebingungan melihat mereka berdua.

"Se-sebenarnya.. kami me-me-melihat t-tulang belulang d-di k-k-kandang..." Mark mulai gemetaran tidak karuan. Kedua mata Chelsea langsung terbuka lebar.

"T-tulang?! Sungguh?!" Vaughn mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara Taro mulai memukul-mukul tongkatnya dengan kencang ke lantai, membuat mereka bertiga terhentak. Namun, tak lama mereka memahaminya. Rupanya ada permen karet yang entah asalnya dari mana, nyangkut di tongkatnya.

"Hmmm.. Mari kita lihat." Setelah memastikan permen karet di tongkatnya telah hilang, Taro pun berjalan menuju kandang hewan. Diikuti oleh Chelsea, Vaughn, serta Mark.

Mereka bertiga kini tiba di depan kandang. Taro mulai menyipitkan matanya. Walau Mark yakin, itu hanya untuk memperjelas pengelihatan buruk yang dimiliki sepuh satu ini.

"Siap..." Taro mulai memegang ganggang pintu kandang. Mark dan Vaughn menelan ludah mereka. Sementara Chelsea, berjalan maju mundur di tempat. Ragu untuk melihat atau tidak. Taro pun mengambil ancang-ancang untuk membuka pintu kandang.

"Hiyaaahh! Ini diaaa!"

KRAAAAKKKK!

...

Hening.

Pintu kandang belum terbuka. Taro masih terdiam di tempatnya. Muka Mark pun mulai memucat. Diikuti dengan wajah membiru Vaughn dan Chelsea.

"B-b-bunyi apa itu?" Tanya Mark. Sedikit khawatir kalau-kalau dugaan di pikirannya benar.

"S-seperti bunyi se-sesuatu patah ya... Ha.. Ha... Ha.." Bahkan Chelsea memucat. Vaughn menganggukkan kepalanya pelan. Mark makin memucat. Tampaknya mereka bertiga sepikiran. Mata mereka bertiga pun tertuju pada satu hal yang sama. Taro. Yang sejak tadi masih terdiam di tempatnya.

"... Hoho..." Taro membalikkan kepalanya menatap ketiga orang di depannya dengan senyum khasnya. "Tampaknya tulang punggungku encok lagi.."

".. ITU BUKAN ENCOK LAGI NAMANYA! TAPI PATAAAHHH!" Mark dan Chelsea berteriak bersamaan. Vaughn menyenderkan kepalanya pada dinding. Tampaknya dia tidak kuat menghadapi hal-hal seperti ini.

"Hohoho.. Jangan khawatir. Ini sering terjadi kok. Tenang."

Pluk

Tiba-tiba Taro tergeletak di tanah. Mukanya membiru dan bibirnya memutih.

"TIDAAAKKK~~~~!" Mark dan Chelsea berteriak dengan sangat kencang.

"Bagaimana ini?! BAGAIMANA!?" Mark panik. Dia berputar-putar di tempat sambil menunjuk ke arah Taro.

"B-bawa.. Kita harus bawa dia ke r-rumahnya! Vaughn! Ayo!" Vaughn langsung memucat begitu namanya disebut. Dia menggelengkan kepalanya lalu berjalan mundur menjauh.

"VAUGHN! Tak mungkin kan aku membawanya sendirian?!" Chelsea ngamuk. Vaughn menunjuk ke arah Mark, tapi Chelsea langsung menepis tangan Vaughn.

"Tidak! Dia hanya mengacaukan saja! Biar Mark yang mengecek kandangnya! Atau kau lebih memilih mengecek kandang itu sendirian, Vaughn?!" Mendengar hal ini, Vaughn langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Hingga dia bisa merasakan lehernya bunyi beberapa kali. Sementara itu, Mark langsung protes.

"Tu-tunggu dulu! Apa-apaan ini?! Kenapa jadi aku?! Lalu kenapa kalian berdua yang ke rumah Taro?!"

"Hanya aku kan yang tau rumah Taro dimana? Memangnya kau tau rumah Taro?!" Mark diam. Memang sih, tadi saat meminjam ember, Chelsea lah yang tau persis dimana rumah Taro. Tapi kan..

"Kalau begitu kenapa kau tidak pergi sendiri saja?! Vaughn dan aku menunggu disini!" Vaughn hampir mengangguk pada opini Mark, sebelum..

"CEREWET! LAKUKAN SAJAA!"

"... I-iya." Mark kalah oleh Chelsea. Begitu juga Vaughn. Dia mulai mengangkat Taro.

Tiba-tiba kepala Taro mulai bergerak kemana-mana dengan lemas. Seolah lehernya benar-benar patah. Tangan Vaughn pun merinding. Begitu pula Chelsea yang menyaksikan.

"V-Vaughn! Cepat!"

Dengan menggunakan seluruh tenaga tersisa pada kaki bergetarnya itu, Vaughn pun berlari ke rumah Taro, ditemani Chelsea yang sudah berlari lebih dulu sebagai penunjuk jalan. Mark pun, kini berdiri sendirian di depan kandang.

Hyuuuuuu

Dia pun memucat.

"Ha-... Hahaha! Mana mungkin kan ada tulang seperti itu di dalam sini! Ya kan, Sora?" Mark menoleh ke belakang, berharap Sora masih setia bersama dengannya. Tapi rupanya.. Tidak. Dia pergi. Bersama Chelsea dan Vaughn. ... Sial. Dia benar-benar sendirian.

Mark menampar pipinya.

Plak!

Sekali.

Plak!

Dua kali.

Plak!

Tiga kali. ... Cukup. Kini, dia meringis kesakitan. Bagus Mark. Berkat itu matamu sepenuhnya terbuka.

"O-okei~ a-ayo kita buka~" Mark mulai bernyanyi-nyanyi gak jelas, sambil memegang ganggang pintu kandang. Kakinya mulai bergetar. Dia segera menampar kakinya.

Plak!

"Ah-hahaha, ada nyamuk! Rupanya di kakiku.." Seberapa banyak pun lelucon yang dia buat untuk dirinya sendiri, kakinya masih tetap bergetar.

Plak! Plak! Plak! Plak!

"Uwaw!" Kini, bukan hanya pipi Mark yang bertato, kakinya pun juga.

Mark mengambil ancang-ancang lalu dia menarik nafasnya...

"Saat pintu ini dibuka, aku merem dulu.. Merem Mark. Merem. m.e.r.e.m. Nanti saat kau mulai tenang baru kau intip.. Hahh.. Kau bisa Mark!"

Oke..

Ini dia!

SRAGH!

"GYAAAAA HOAAAAAA WUAAAHHHH AAAAAAHHH TIDAAAAKKKKKKK!" Mark berteriak sambil menutup matanya. Kemudian dia menarik nafasnya lagi. Dan.. Terdiam.

...

Tidak ada suara apa-apa. Ya iyalah Mark, itu kan hanya tulang. Mark mulai tertawa sendiri. Merasa agak tenang dan mulai bisa meyakinkan dirinya, Mark mulai mengintip. Dia membuka matanya, perlahan... lahan...

"Teman-teman! Lihat! Mark sudah membuka matanya!"

"Wah! Hai Mark! Apa kabar?"

"Kau ngapain Mark? Kok merem?"

"Heii, jangan diganggu. Dia mungkin masih kaget dengan kehadiran kita."

"Wah Mark! Kau masih tidak berubah!"

Mark plengo.

"Heh? Heh? ... HEEEEHH?!"

-oOo-

"Terima kasih telah membawa kakekku."

Lelaki berambut merah orange kemerahan itu menundukkan kepalanya. Ya, dialah Elliot. Cucu dari kakek pemilik kepala licin kita, yang satu ini. Begitu juga dengan Natalie, gadis berambut pendek dengan warna yang sama ini, sedang sibuk menuangkan teh kepada Vaughn. Ya, Vaughn masih pucat pasi. Seakan baru saja diterpa mimpi buruk.

"Ah, tidak kok. Kami yang harusnya berterima kasih sudah dibawakan bekal.." Mendengar jawaban Chelsea, Felicia, ibu dari Elliot dan Natalie, yang merupakan anak Taro, hanya tersenyum sambil menatap Vaughn dan Chelsea.

"Itu bukan apa-apa kok." Jawabnya halus sambil mengikat rambutnya, yang warnanya sama dengan kedua anaknya. Gen yang bagus sekali. Berarti dulu sebelum botak.. Rambut kakek ini juga berwarna seperti itu?!

Felicia pun mendekati Taro yang terbaring lemah di kasurnya.

"... Ayah..." Chelsea dan Vaughn mulai menundukkan kepalanya, ikut iba. Rupanya.. Kakek ini biarpun kuat, tetap saja termakan oleh umur.

KRAK KREK KRAKKK!

Chelsea dan Vaughn melompat dari kursi. Mereka syok melihat pemandangan yang ada di depan mereka. Felicia, dengan santainya, naik ke atas kasur dan menginjak-injak tubuh Taro.

"A-a-apa yang ibumu lakukan?! Kakekmu bisa... bisaa...?!"

"Ah. Memang begitu. Pijat untuk patah tulang." Ujar Natalie santai.

"...Hah?" Chelsea plengo sambil mengekerutkan alisnya. Tidak percaya. Orang mana pun yang logikanya masih berjalan, pasti akan menganggap hal itu malah memperusak tulang.

"..." Sementara Vaughn, menutup kupingnya dan berjalan perlahan menuju pintu keluar. Dia memang tidak kuat dengan hal-hal ekstrim begini. Melihat hal itu, Chelsea pun ikut beranjak pula.

"Ah, kalau begitu.. Kami permisi."

"Ah! Hati-hati ya!" Taro melambaikan tangannya. Chelsea dan Vaughn melotot. Taro sudah segar bugar. SEJAK KAPAN?!

"Ha.. Haha..." Chelsea memucat. Dia harus memasang spanduk di otaknya, untuk selalu berhati-hati dengan keluarga yang satu ini.

"Oh ya, mengenai kandang tadi.. Aku sempat merasakan sesuatu.."

"Heh?" Chelsea dan Vaughn menghentikan langkahnya sesaat, mencoba mencerna perkataan Taro barusan.

"Merasakan apa?"

"Mmm.. Seperti ada cahaya hijau dan warna-warni dari dalam kandang itu. Ya.. Aku merasa seperti merasakan... Aura... Seorang Dewi..." Pipi Taro mulai bersemu merah. Tak kuat lama-lama melihatnya, Chelsea dan Vaughn segera keluar dari rumah itu.

Blam!

... Hening.

"Y-yah.. Kurasa kakek itu memang.. sedikit.. ...?" Tanya Chelsea pada Vaughn. Vaughn pun memperbaiki bajunya, dan menghela nafasnya. Yep, dia sudah kembali menjadi Vaughn yang cool seperti biasanya.

"Tidak. Bukan sedikit. Kakek itu memang kehilangan kewarasannya." Ujar Vaughn, datar. Chelsea pun tersenyum mendengarnya.

"Kau benar! Hahaha!"

Dan mereka berdua pun berjalan menuju rumah mereka.

...

Sementara itu, Mark..

"... APA YANG KALIAN LAKUKAN DISINI?!"

BRAAKK!

Mark melemparkan ember polkadot itu ke arah kawan-kawan di depannya. Mereka pun segera menghindar dari ember itu, sambil cengengesan.

"Jangan begitu.. Kami khawatir, Mark. Hehe.."

"Ya benar Mark! Karena kita sahabat!"

"Betul-betul!"

"Tapi.. Tapi..." Mark tertunduk lemas di dasar kandang. Apa artinya kalau dia mengembara jauh-jauh kalau dia ternyata harus bergaul lagi dengan mereka.. Mereka.. Mereka..

"Kalian kan.. BUKAN MANUSIAA!"

Yep.

Mereka bukan manusia. Makhluk mistis. Dan.. Percaya atau tidak, hanya beberapa orang seperti Mark yang dapat melihatnya. Kalian semua tau kan? Ayo kita sebutkan sama-sama! Satu.. Dua..

"Dewi! Kappa! Bahkan kalian.. Hah.. Kurcaci-kurcaci kecil.. Kenapa kalian kemari? Dan terlebih.. Kenapa kalian sembunyi di kandang?!" Mark pasrah. Dia berjongkok, sambil menatap tajam mereka.

"Kami bukan sembunyi kok. Kami hanya membereskan barang-barang yang kami ambil dari rumah penyihir jahat itu! Biar dia tau rasa karena sudah mengambil pudding kami!" Ujar para kurcaci. Karena otak Mark sedang berjalan dengan baik, dia langsung dapat menebak teka-teki ini.

"Jadi... TULANG-TULANG ITU ULAH KALIAN?!" Mark ngamuk.

"Hehehe.. Mungkin? Tapi jangan khawatir. Sudah kami bereskan kok. Lihat, tidak ada yang tersisa kan? Dan itu bukan tulang asli kok. Tapi hanya tiruan murahan buatan makhluk yang mengaku sebagai penyihir tidak jelas itu." Jawab Dewi, tanpa rasa dosa sekalipun. Ya, Dewi satu ini memang tidak bisa pernah akrab dengan musuh semata wayang hidupnya. Witch Princess. Dan Mark tau itu. Lebih dari puluhan kali Mark mendapat pengalaman masa kecil yang buruk berkat pertarungan mereka berdua yang tidak ada hentinya.

Mark membuka topinya, dan mulai mengacak-acak rambutnya. Dia pasrah. Menyesal. Bingung. Marah. Dan tidak bisa berkata-kata lagi. Melihat Mark mulai menjambak-jambak rambutnya, Kappa pun menepuk pundak Mark.

"Mark.. Ayah dan ibumu khawatir loh."

"E-eh?"

Jujur, Mark sempat sedikit terhanyut mendengar perkataan Kappa barusan. Memang benar, dia pasti membuat ayah dan ibunya khawatir. Tapi.. Ada satu hal yang dia lebih khawatirkan lagi saat ini. Sangat dia khawatirkan.

"Kappa... ... Apa yang barusan kau sentuh.. Hah?!" Mark menunjuk ke arah tangan Kappa dengan tajam sambil menutup hidungnya.

"Ah. Sebelum ke kandang ini, aku sempat membereskan kandang anjingmu. Sepertinya.. Aku lupa cuci tangan." Ujar Kappa sambil melihat tangannya yang bahkan Mark tidak bisa mendeskripsikan benda apa yang masih menempel di tangannya. Spontan, Mark menoleh ke tempat Kappa menyentuhnya tadi dan.. Eng ing eng! Cap tangan Kappa, menghiasi kemeja putihnya.

"TIDAAAAAKKKKK!"

BRAK PYANG KOMPYANG!

Dari luar kandang, Chelsea dan Vaughn terdiam bingung. Entah apa yang Mark lakukan, sehingga terdengar heboh sekali?

"... Mark? Apa yang kau lakukan?" Chelsea berteriak dari luar. Dapat mendengar teriakan Chelsea, Mark pun panik, dan langsung menutup pintu kandang yang sebelumnya sedikit terbuka, dengan rapat.

BRAAKK!

"Sembunyi! Kalian sembunyi! Cepat!" Mark bisa mendengar suara marah Chelsea dari balik pintu kandang.

"Tenang Mark, kami tidak kelihatan oleh orang lain, kok." Ujar dewi dan para kurcaci tenang.

"Kecuali aku." Ujar Kappa. Dengan tenang pula. Mark makin emosi.

"CEPAT SEMBUNYI KALAU BEGITU!"

"Tapi.. Disini tidak ada tempat sembunyi."

"Lakukan sesuatu! Hei, Dewi! Sihir dia menjadi apapun itu! Kau bisa kan?!"

"Mmm.. Sayangnya, kekuatan sihirku sedang habis karena membawa kami semua kesini.."

"KALAU BEGITU JANGAN KESINI!" Mark makin emosi. Dia bisa merasakan Chelsea mulai menendang-nendang pintu dari luar kandang. Mark juga merasa dia tidak bisa menahan posisinya lebih lama lagi.

"AH! AAHHH! Cepat sembunyi dimana saja!"

"Dimana?"

"DIMANA SAJA!" Karena emosi, Mark segera menendang Kappa hingga masuk ke dalam tumpukan jerami. Saat itu juga, Chelsea berhasil membuka pintu kandang.

"APA YANG KAU LAKUKAN?! Menutup pintu begitu saja! KAU KIRA ITU SOPAN?!" Mark menutup kupingnya. Heran. Kok bisa ya ada wanita yang lebih galak dari ibunya?

Vaughn terdiam. Dia menengok ke kiri dan ke kanan. Layaknya orang mau nyebrang. Mark pun panik, dan berharap agar Kappa tidak bergerak satu mili pun. Tolong Kappa. Tolong.

"... Tulangnya hilang." Ujar Vaughn santai. Ah iya. Mark lupa. Tulang! Harus bilang apa dia?!

"T-tulang apa maksudmu, Vaughn?" Vaughn menurunkan alisnya mendengar perkataan Mark.

"Jadi.. Tidak ada tulang disini?" Tanya Chelsea.

"Tidak-tidak-tidak! Itu hanya halusinasi kita! Benar kan, Vaughn?" Mark segera mendorong Chelsea dan Vaughn untuk keluar dari kandang. Masih belum puas, Vaughn pun mulai menyangkal.

"Tapi.."

"IYA KAN, VAUGHN?!" Mark mencengkram pundak Vaughn lebih kencang. Tolong Vaughn, pekalah! Kita harus cepat keluar dari sini, jangan memperpanjang masalah, OKE?

Merasa menerima telepati dari Mark, Vaughn pun menutup mulutnya. Tinggal sedikit lagi mereka keluar kandang. Tapi tiba-tiba.. Chelsea berhenti melangkah dan menutup hidungnya.

"Bau apa ini?" Mark menampar jidatnya. Selamat Mark. Tampaknya kesabaranmu sedang dipermainkan.

"Tidak usah dipikirkan. Ayo kita keluar dari kandang ini, oke?" Mark mulai mendorong Chelsea dan Vaughn, sebelum Chelsea menepis tangannya.

"Apa maksudmu tak usah dipikirkan hah? Kandang ini akan ditempati oleh hewan kita nantinya! Kita tidak boleh membiarkannya begitu saja!" Mark menundukkan kepalanya. Terkutuk kau para perempuan pecinta kebersihan! Ujarnya dalam hati.

"Bukannya aku tidak memikirkannya. Tapi.. Bagaimana kalau kita bicarakan di luar kandang?" Sebentar-sebentar, Mark melirik ke arah Kappa. Bagus, dia masih menjadi anak baik yang tidak bergerak dari tempatnya. Sementara Dewi dan para kurcaci, masih asik dengan dunianya sendiri, mereka mulai bernyanyi-nyanyi di samping mereka. Sialan. Ujar Mark. Dalam hati.

"Tidak! Tidak bisa! Kita harus mencari sumber bau itu sekarang... tunggu. Hei Mark. Noda apa itu di kemejamu?" Mark yang sadar akan noda yang dimaksud sang gadis, langsung mengepalkan tangannya. Sialan. Rupanya berkat cap inilah, permulaan masalah kita muncul. Pasti bau yang Chelsea maksud, juga berasal dari sini.

"I-ini.. Bukan apa-apa."

"Jawaban apaan itu?!"

Krasak

Mark dapat mendengar Kappa bergerak sedikit. Gawat. Dia harus membawa Chelsea dan Vaughn keluar dari sini, cepat!

"Kau boleh memukulku atau menceramahiku sepuasnya nanti, tapi.. lakukan di luar, OKE?!" Mark mendorong Chelsea sekuat tenaga untuk keluar. Sementara Vaughn, sudah berjalan keluar dengan sendirinya.

"Apa-apaan kau?! Kenapa kau begitu ingin aku keluar kandang?!" Chelsea menahan lengannya pada pintu untuk mencegahnya keluar dari kandang. Mark terus mendorongnya. Sementara Vaughn, terdiam menyaksikan mereka dari luar kandang.

"Karena aku punya alasan!" Teriak Mark. Chelsea, yang menyadari bahwa Mark berani melawannya pun semakin murka.

"Alasan apa?! Kalau kau lelaki, katakan alasanmu!"

"Alasan?! Kau butuh alasan?! Baiklah! Karena aku sudah tidak tahan lagi untuk menyembunyikannya, kau tau?!"

"Menyembunyikan? Apa yang kau katakan?! Menyembunyikan apa?!"

"Menyembunyikan..."

BRUUT!

Belum selesai Mark berbicara, ribuan jerami, berterbangan di udara. Matilah sudah. Dia tidak berani menoleh ke belakang. Kappa pasti sudah terekspos di belakang sana. Kenapa kau harus melakukan hal itu.. Kappa?!

"... Rupanya kau nahan kentut." Ujar Vaughn, santai.

...

Mark plengo.

Heh?

Heh?

HEH?! Ke-kenapa.. Kesimpulannya jadi seperti ini?!

Chelsea yang menyadari perkataan Vaughn, langsung melepaskan tangan dari sisi pintu.

"KYAAA! DASAR MARK JOROK!" Chelsea langsung berlari ke dalam rumah baru mereka. Vaughn menatap Mark dengan tatapan datar sambil berkata,

"Sama-sama." Lalu pergi menyusul Chelsea menuju rumah baru mereka bertiga.

Sementara itu, Mark, kini tertunduk lemas di sebelah pintu.

"Ya.. Terima kasih, Vaughn." Air matanya hampir keluar. Air mata kepasrahannya. Sementara di belakangnya, dia dapat mendengar suara tawa kawan-kawannya.

"Maaf Mark. Aku tidak tahan lagi." Ujar Kappa tanpa rasa bersalah.

"Kappa! Kau harus minta maaf! Lihat! Mark jadi disangka kentut sembarangan oleh teman-temannya, padahal kau yang kentut!" Ujar para kurcaci. Sementara Dewi, masih belum bisa berhenti tertawa sejak tadi. Mark juga baru sadar, Sora sejak tadi setia berada di samping Vaughn. Hebat. Kini dia resmi tidak diakui sebagai pemilik Sora, oleh Sora sendiri.

Penuh dengan segala amarah dan emosi, Mark pun berdiri dan menatap kawan-kawan mistisnya dengan tajam.

"PULANG!" Teriaknya.

"Tidak mau." Ujar Dewi sambil tersenyum. Entah kenapa Mark merasakan hawa dingin pada senyuman Dewi yang barusan itu.

"Tuh Kappa! Mark jadi marah kan!"

"Maaf. Hehe."

"PULANG! PULANG! PULAAANGGGGG!" Mark makin emosi. Sementara Dewi pun mulai berbicara.

"Kau tau Mark? Kami sudah berhasil menemukanmu. Kalau kami pulang, berarti kami boleh melakukan hal apapun sesuka kami kan?" Oh tidak. Tidak-tidak-tidak. Mark tidak suka senyuman yang dibuat Dewi saat ini. Firasat buruk pun meraja lela di dalam pikirannya.

"Termasuk memberitahukan ibu dan ayahmu, dimana kau berada saat ini." Dewi menujukkan sebuah kertas, berisi surat Mark kepada ayah dan ibunya.

"TIDAKK! JANGAN PULANG! JANGAN PULANG!" Mark langsung merebut kertas itu, dan merobeknya.

"Mark, jadi manusia itu tidak boleh labil. Itu tidak baik."

"Benar, benar."

"BERISIK!" Mark melempar robekan kertasnya itu ke arah para kurcaci dan Kappa.

"Nah, dengan demikian, kami bisa tinggal disini sepuas kami!" Ujar Dewi sambil menepuk tangannya.

"Yey~ yey~!" Kappa dan para kurcaci menari-nari. Mark hanya terkapar di tanah.

"Asal kalian tidak berbuat apa-apa. MENGERTI!? JANGAN MELAKUKAN HAL YANG TIDAK PENTING!"

"Okei~ okei!" Dewi membuat tanda 'peace' dengan jarinya. Diikuti oleh para kurcaci dan Kappa. Meskipun Kappa tidak punya jari.

"Ya sudah, aku mau ke rumahku dulu.. Dan kau Kappa! Jangan sekali-sekali kau membiarkan orang-orang disini melihatmu, OKE?!" Ancam Mark. Kappa hanya senyum-senyum mendengar ancaman Mark, sambil menggaruk-garuk perutnya. Mark yang pasrah, mengkerutkan alisnya, sambil berjalan keluar dari kandang. Dari belakang, kawan-kawannya sibuk melambaikan tangan ke arahnya. Dia pun masuk ke dalam rumah tanpa pintunya itu.

BUGH!

Baru saja dia masuk, dia sudah dilempari oleh bantal dan selimut. ... Dan... Kelihatannya, dia mendapat yang paling butut kualitasnya.

"Kau. Tidur jauh-jauh dariku. Mengerti?!" Ujar Chelsea, yang langsung membalikkan badannya di pojok ruangan. Begitu pula Vaughn, yang sudah tertidur pulas di pojok ruangan yang satunya lagi. Mark terdiam. Satu-satunya tempat yang tersisa adalah di tengah-tengah ruangan. Mark pun berjalan menuju tengah ruangan, sebelum diteriaki oleh Chelsea.

"TIDAK! KUBILANG JAUH-JAUH DARIKU!"

"LALU DIMANA AKU HARUS TIDUR?!" Mark emosi. Chelsea tersenyum sinis.

"Bukannya ada satu tempat lagi? Di tempat kau berdiri?" Mark melihat ke bawah kakinya. Dia langsung murka.

"KAU MENYURUHKU TIDUR PERSIS DI DEPAN PINTU?! Maksudku... Hei! Bahkan rumah ini tidak punya pintu! KAU MENYURUHKU TIDUR DI DEPAN LUBANG BESAR INI?!" Teriak Mark sambil menunjukkan lubang akibat pintu yang tidak ada di tempat seharusnya dia berada itu.

"Salahmu sendiri menjadi manusia jorok! Kalau kau mau masuk wilayah ini, jadilah manusia bersih dulu! We!" Chelsea menjulurkan lidahnya, kemudian langsung kembali tidur. Tubuh Mark pun mulai bergetar. Karena marah, dan juga karena sedikit kedinginan.

"BAIK!"

Sudah kesal dan tidak mampu berargumentasi lagi, Mark pun mulai meletakkan bantalnya di depan 'pintu masuk'.

"Kita lihat saja nanti! Akan kubuat kau menyesal atas perkataanmu!" Teriak Mark kepada Chelsea yang sudah menutup kupingnya.

Ayah, ibu...

Akan kubuktikan juga kepada kalian, bahwa aku akan menjadi orang yang lebih sukses disini!

Mark pun membaringkan tubuhnya di lantai.

Nyek.

Benda aneh yang berasal dari tangan Kappa yang telah menyentuh pundaknya itu, menempel di lantai.

Sial.

Mark lupa sama sekali tentang bajunya.

...

Ayah.

Ibu.

Aku akan sukses.

..Em.. Kurasa.

... Tapi jika ada makhluk mistis itu ada disini..

Dapatkah nasibku menjadi lebih baik...?!

-(bersambung)-