A/N:
:0 wow. Padahal ni fic iseng-iseng aja ternyata malah dapat 14 review. Makasih berat! Makasih (lagi) yang udah:
Review:mayra gaara, HinamE hiMe cHan, Senju Miru05, SATE AYAM, Brigitta, Micon, Nagisa Wellington (teman kelasku tersayang! T_T), nami atsuru, Yoona Furukawa, ZephyrAmfoter, Crunk Riela-chan, Morikawa Yui, rina aj
Fave:Senju Miru05
Flame:asu
Lagipula sebenarnya ini cuma oneshot dan akhirnya emang kayak gitu. Tapi, gara-gara saya lupa cantumin 'complete', begitulah. Dan sesuai permintaan anda, saya bikin lanjutannya.
Enjoy fic plotless dan super pendek ini -_-
dheeSafa presents:
Sampul Majalah: Naruto
Last Chapter from Naruto two-shots
"Eh? Kita tidak pacaran? !" ujar Naruto dalam keterkejutan.
Keheningan kembali melanda ruangan yang dipenuhi oleh orang-orang, sebelum... well, Sakura menjitak kepala Naruto. "Apa maksudmu dengan itu, bego! Hinata sudah jelas-jelas bilang kalau dia TIDAK berpacaran denganmu!"
"Lah? Aku 'kan sudah bilang aku ini emang pacaran dengan Hinata! Hinata sendiri nerima perasaanku, kok!" bela Naruto pada dirinya sendiri dan melirik ke arah Hinata. Kiba dan Sakura juga ikutan sampai-sampai membuat bulu kuduk punya yang sudah menempel ditubuh Hinata sejak lahir menjadi berdiri.
"Ka-Kapan?" tanya Hinata gugup.
"Habis festival musim panas dua minggu lalu. Kita duduk-duduk di taman liat orang lain main kembang api. Kau tak ingat?" Naruto bertanya balik.
Hinata terdiam sesaat, berusaha mengingat yang terjadi dua minggu lalu. Tapi, ia tak dapat mengingatnya... Pas melihat pelototan Sakura padanya, langsung terjadi kilas balik masa lalu dalam otaknya.
Dan, Naruto juga mulai menceritakan hal itu pada Kiba, Sakura, dan tentu saja Hinata.
Flashback
"Hinata... Aku suka padamu. Kau mau menjadi pacarku tidak?"
Akhirnya, Naruto mengutarakan perasaannya pada Hinata. Dia melirik Hinata yang kepalanya sedang bersandar pada kursi dan matanya tertutup oleh poninya yang agak panjang. Sesaat kemudian, kepalanya tertunduk Dia tampak seperti mengangguk singkat. Tapi, itu membuat Naruto melompat kaget dan langsung memeluknya.
"Wah! Makasih, ya, Hinata! Makasih! Makasih! Makasih!" ucap Naruto berulang-ulang. Hinata membuka matanya dan terkejut dengan dia yang tiba-tiba dipeluk Naruto. Mengira dia dipeluk sebagai pelukan 'persahabatan', Hinata pun memeluk balik.
"Sama-sama."
"Yang pas dipeluk itu 'kan?" tebak Hinata ragu-ragu.
Naruto langsung mengangguk cepat. "Iya! Iya! Yang itu!"
"Anu... itu pas, aku tidur..." kata Hinata.
...
"Demi duren, kau menyerang Hinata saat dia tidur, Naruto! ?" teriak Kiba sembari menoleh kearahnya, disambut death glare dari Naruto dan kemarahan Dewa Jashin yang muncul dengan sosok Sakura (?).
"Tentu saja tidak! Kau kira aku orang yang begituan apa?" protes Naruto.
"Bisa saja, selama orang itu orang yang disukai," ujar Sakura tajam dengan latar aura yang seakan-akan ingin membunuh Naruto.
"Te-Teman-teman..."
Hening...
"Jadi, pas Naruto menembakmu, kamu tertidur, ya?" tanya Sakura lembut.
"Err... mungkin..." jawab Hinata dengan bingung.
"Hey, Naruto... Kamu bilang kalau anggukan yang kau anggap sebagai Hinata menerima perasaanmu itu... jangan-jangan," kata Sakura.
"Kepala Hinata yang bersandar itu tertunduk karena gerakan refleks bukan?" lanjut Kiba.
Naruto yang menangkap maksudnya pun langsung membentuk 'OH!'.
"Berarti, semua ini salah paham! Aku mengira kalau Hinata itu menerima perasaanku dengan anggukan itu padahal dia cuma nundukin kepalanya!" sahut Naruto.
Spontan, ketiga orang yang sibuk berbicara itu menoleh kembali ke arah Hinata.
Hinata yang panik dan tak tahu apa yang akan dilakukan oleh oleh ketiga temannya tersebut langsung melambaikan tangannya. "Err... Ada yang harus aku urus sama Kurenai-sensei. Ja ne!" dan Hinata pun kabur dari mereka bertiga.
"HINATAAAAA!"
Jadi kalau mau nembak seseorang, liat dulu tidur apa nggak. Kalo tidur, berarti kamu sama aja kayak Naruto :P berhati-hatilah (?)
Bikin bingung? Jangan tanya, saya juga bingung. Stres habis bikin chap duanya Ramen Kushina -_-
xDD
review? Flame? Silahkan :)
dheeSafa
