Jam 06.30.

Baekhyun membuka matanya pelan sambil menjulurkan tangan, berusaha menggapai alarm yang suaranya memang memuakkan. Dengan wajah kesal, ia mendorong tubuh seseorang yang tidur disampingnya hingga terdengar bunyi jatuh yang cukup kuat.

"Bodoh."

Baekhyun mencibir sambil berdiri dari ranjangnya. Tak menghiraukan korban jatuh dari ranjang yang melihat dengan garang.

"Kau tega sekali. Kalau wajah tampanku luka bagaimana?"

"Kalau tidak mau didorong, tidur di ranjangmu sendiri tuan mesum."

Oh, adegan rutin setiap pagi di asrama Seoul High School, tepatnya di kamar Baekhyun dan Jongin. Jongin bangkit dari posisinya dan menyandarkan tubuhnya ke pundak Baekhyun.

"Sebenarnya aku tidak keberatan biar jatuh 100 kalipun selama tangan lentikmu yang mendorongku."

"Jongin bau."

"Baekhyun harum."

"Bohong."

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."

"..."

Baekhyun mengambil handuknya lalu menaruhnya di atas kepala Jongin.

"Kalau begitu, kau mandi duluan."

10101010101010

"Baekhyun? Kau dimana? Aku sudah jagakan tempat untuk sarapan." ucap Kyungsoo pada telpon genggamnya. Ia celingak celinguk mencari Baekhyun di kantin asrama.

"On the way kesana kok sama Jongin. Udah pada ngumpul emangnya?"

"Menurutmu?"

Bip

Jongin merebut dan mematikan ponsel Baekhyun. Baekhyun menatap tak percaya.

"Kenapa dimatikan?! Kau ini!"

"Makanya, lihat jalan. Kita sudah sampai Baekhyun-ah."

Baekhyun memalingkan kepalanya cepat. Ahh, Jongin benar, mereka sudah sampai. Ia segera berlari menghampiri meja yang selalu ia dan sahabatnya duduki bersama.

"Lihat, putri kita baru sampai."

Sehun tersenyum manis kearah Baekhyun. Baekhyun pun membalasnya dengan senyum terbaik khas Baekhyun.

"Selamat pagi, Sehun!"

"Selamat pagi, manis!" balas Sehun.

Tak menyia-nyiakan kesempatan, ia mengusak rambut Baekhyun lembut.

"Kau dan Jongin lama sekali. Aku sudah lapar tau."

Xiumin merutuk tak suka. Baekhyun duduk di sebelah Xiumin dan menggandeng lengannya manja.

"Aaaa, mianhae~ Salahkan Jongin!"

Jongin menatap Baekhyun, butuh penjelasan rupanya.

"Kok jadi aku yang sa-"

"Dia terus mengintip waktu aku mandi!" Baekhyun mengerucutkan bibirnya.

Jongin bersumpah ia tiba-tiba merinding tanpa alasan yang jelas. Disampingnya, Kyungsoo sudah menancapkan garpunya dengan kasar ke potongan buah tomat yang tak berdosa.

" ."

Glek

"Aku terbawa suasa- AWW!"

Kyungsoo menginjak kaki Jongin layaknya serangga.

"Dasar kecambah!"

Jongin tak terima. Dengan nada sarkas ia membalas-

"Lihat siapa yang bicara! Kecambah bahkan lebih tinggi dari- YAAK!"

Kali ini, garpu Kyungsoo sudah berpindah tempat, menusuk kasar perut Jongin.

"Katakan lagi dan perutmu akan kutembus dengan garpu."

Kalau itu Kyungsoo, ia tak akan main-main dengan perkataannya.

"ANIYO! MIANHAE! JEONGMAL MIANHAE!"

"Hihihihihi~"

Baekhyun tertawa kecil melihat dua cecunguknya bertengkar. Dan bodohnya, baru sadar kalau ia belum mengambil jatah sarapan paginya.

"Aku mau ambil sarapan dulu ya!"

Sehun mengacungkan jempolnya. Mendapat persetujuan, Baekhyun beranjak mengambil sarapan, meninggalkan 4 sahabatnya di meja panas.

"Mesum."

"Tidak tau diri."

"Sampah."

"Kecebo-"

"Bilang saja cemburu karena tidak seberuntung aku yang sekamar dengannya."

"...sial."

Xiumin tiba-tiba tidak mood makan. Haaaah~ Mengapa keberuntungan tidak berpihak kepadanya. Andaikan dia bisa sekamar dengan Baekhyun di tahun terakhirnya sekolah, pasti dunia akan terasa lebih sempurna.

"Xiumin-ah?"

Xiumin menoleh, dan menemukan Yixing berdiri menatapnya.

"Ah, annyeong~" balas Xiumin.

"Choi-saem memintaku untuk memanggilmu ke ruangannya. Tidak sekarang, tapi nanti setelah jam pelajaran keempat berakhir."

"Heee~ kira-kira ada apa yaa?" sahut Baekhyun dengan sarapan di tangannya. Ia kembali duduk di samping Xiumin dan mulai memakan sarapannya dengan lahap.

"..."

Merasa tidak ada sahutan, Baekhyun menoleh kearah Yixing. Ah, ia belum mengenalkan diri.

"Byun Baekhyun Imnida~ "

Tersadar dari keterkejutannya, Yixing menjawab-

"Zhang Yi Xing imnida."

"Waaaw~ nama yang keren!"

Baekhyun bicara dengan pipinya yang menggembung karena makanan.

"Habiskan makananmu dulu Baekhyun." ucap Kyungsoo.

"Aye aye captain!"

'Kyeopta!' batin Yixing.

"Arrasseo Yixing-ah. Aku akan kesana sesuai intruksi Choi-saem."

"Kalau begitu, aku ke kelas duluan."

Yixing menatap Baekhyun sekilas.

"Makannya pelan-pelan saja Baekhyun-ssi."

"Okidoki! "

Yixing pun beranjak pergi dari meja mereka. Dan tersenyum penuh arti.

'Baekhyun. Dia manis sekali."

Di lain sisi, 4 sekawan saling menatap dengan tatapan-

'Saingan baru?'

10101010101010

Salah satu peraturan yang cukup unik di Seoul High School adalah peraturan yang berbunyi "Semua ekstrakulikuler diadakan pada hari sabtu. Dimulai dari jam 4 pagi hingga 10 malam." Hal ini juga membuat semua pelajaran di hari sabtu ditiadakan dan diganti secara keseluruhan dengan kegiatan ekstrakulikuler.

Dan hal itu juga yang kini Baekhyun lakukan. Sehun dan Jongin memilih ekstrakulikuler yang sama, yaitu Dance Club. Xiumin memilih Math Club. Kyungsoo memilih Cooking Club. Dan Baekhyun memilih Literature Club.

Ini jam 8.00 pagi.

Ekstrakulikuler Literature sudah dimulai. Baekhyun pun membuka pintu ruang klub. Membuka jendela lalu mencari spot yang bagus, dan mulai membaca buku yang tersedia di ruangan itu. Bila kalian bertanya, apa Baekhyun sendirian? Maka jawabannya, "Ya, Baekhyun sendirian."

Baekhyun adalah satu-satunya anggota dari Literature Club. Ia dapat menikmati ruang klub bagai kamarnya sendiri, dan bebas melakukan apapun disana.

Suatu hal buruk membiarkan angin sepoi-sepoi masuk ke ruangan itu. Baekhyun benar-benar terlena dan nyaman dengan kesendirian yang ia rasakan di klub ini. Sangat tenang hingga ia ingin berteriak dan melepaskan segala emosinya di ruangan itu.

Ia mengambil headsetnya, dan memutar instrumen dari Beethoven.

Ia tidak menyadari bahwa sedari tadi, ada sebuah figur yang mengawasinya dari belakang rak buku. Figur itu semakin mendekat hingga tepat di belakang Baekhyun.

Baekhyun melihatnya. Baekhyun dapat melihat ada sesuatu yang menghalangi jalan cahaya menuju ke bukunya. Ia menoleh, dan Baekhyun bersumpah, ia menyesali tindakannya itu sampai akhir hayatnya. Ketika secarik kain mencegah masuknya oksigen masuk ke indra penciumannya dan tergantikan dengan bau yang sangat memuakkan hingga ia kehilangan kesadaran. Baekhyun pun ingat, bahwa ia sangat membenci bau obat.

101010101010

Chanyeol tak tau apa yang terjadi. Ia membuka matanya perlahan, dan disuguhkan dengan lampu yang menyala remang. Ia berfikir sejenak, apa yang barusan terjadi. Setelah beberapa detik, ia segera mencoba bangkit dari posisi tidurnya sambil membatin-

'Apa aku diculik?'

Chanyeol mencoba memindai sekitar. Ruangan ini, terlihat seperti labolatori-

'Feelingku tidak enak.' batin Chanyeol lagi.

"Apa-apaan ini?!"

Chanyeol memalingkan wajahnya ke arah suara. Disana, ia dapat melihat 7 orang yang sedang dalam posisi sepertinya. Berbaring dengan dua tangan terikat. Persis seperti orang dengan penyakit jiwa. Dan orang yang bicara tadi, Chanyeol mengenalnya.

Oh Sehun.

Apa dia diculik juga?

"Chanyeol? Kau juga diculik?" tanya Jongin yang terlihat cukup tenang untuk ukuran orang yang diculik.

"Pertanyaan bodoh seperti itu, apa perlu kujawab? Dan kenapa benda ini tak mau lepas dari tanganku? Arrgh!"

Chanyeol mencoba melepaskan tangannya dari benda yang sedari tadi menahannya agar tetap terbaring di ranjang.

Cklek

Benda yang berbentuk seperti gelang itu tiba-tiba terbuka sendiri. Alhasil Chanyeol dkk. reflek bangun dari posisinya.

FYI, 7 orang yang terjebak disini adalah : Sehun, Jongin, Yixing, Xiumin, Kyungsoo, Chanyeol, dan Suho.

Suho? Oh, dia ketua OSIS Seoul High School.

"Ini pintu keluarnya yang mana?"

Xiumin disuguhkan dengan pintu yang mengelilingi ruangan itu. Tepat saat ia ingin mengecek salah satu pintu, layar monitor besar yang ada diatas pintu itu menyala.

Semua atensi pun melihat ke arahnya, meminta penjelasan.

"Bukan aku yang melakukannya. Sungguh!" Xiumin mengatakannya dengan nada memelas.

Sayang sekali tidak ada yang memerhatikannya, karena hal yang ada di monitor itu lebih menarik.

Seorang lelaki tampan atau lebih tepatnya manis bagai pikachu yang tersenyum ke arah mereka.

"Eumm~ ehem! Selamat sore semuanya! Selamat datang di Seoul Vinc Center! Sebelumnya, aku ucapkan "selamat" karena sekarang kalian sudah resmi menjadi seorang Vinculum! Yeeeeeeay!"

Orang di monitor itu tertawa sambil bertepuk tangan ria. Berbanding terbalik dengan para penonton di depan layar kaca, yang menatap nelangsa pria yang menurut mereka sudah gila.