Terinspirasi atas tekanan konser piano yang tinggal sebulan lagi, ide yang ngotot pengen keluar, bosen bikin parodyfic, en video klip agnes monica. XD
Disclaimer: Nothing owned, nothing stolen.
-An Impossible Dream-
Sakura melirik sikunya yang udah dipasangin plester luka. Meringis bentar, Sakura mengunci pintu apartment kecilnya, dan mengayuh sepeda bututnya ke bakery.
14.35 p.m
"Terima kasih! Datang lagi yah!" Sakura tersenyum lebar ke arah pelanggannya. Setelah pelanggannya menjauh, Sakura menghela nafas.
"Heh...kenapa sih, tumben siang-siang udah lesu? Biasanya kan semangat?" Goda Temari, si pemilik bakery dan cafe tempat Sakura bekerja.
"Ah...Temari-san. Maaf." Katanya lemas. Temari tertawa kecil, lalu menepuk pelan bahunya.
"Kalo capek, istirahat aja dulu. Pelanggannya juga lagi ngga rame banget kan?" katanya. Sakura tersenyum lalu duduk di kursi kecil di belakang konter kasir.
Saat dia meneguk air mineralnya, bel yang menggantung di pintu berdentang pelan. Sakura buru-buru berdiri lagi. "Selamat datang!" katanya seceria mungkin.
Cowok. Berseragam sama dengan Naruto. Semua pelanggan yang berjenis kelamin cewe melirik ke arahnya. Termasuk para pelayan yang kecentilan.
Sakura mendengus pelan.
"Ah, Gaara. Tumben cepet pulang?" sambut Temari dari konter kasir. Gaara cuma menggumam pelan. "Biasanya juga pulang jam segini..."
Temari tersenyum sebel ke arah adik laki-lakinya yang paling kecil. Sakura melanjutkan minumnya. Cakep sih cakep, tapi dinginnya minta ampun... kalo aja Temari-san bukan bos aku, udah aku marahin tuh... Ga sopan banget...
"Udah makan siang?" tanya Temari lagi. Gaara melewati konter kasir sambil melirik sebentar ke arah kakaknya dan Sakura, "Udah.." lalu menaiki tangga ke atas.
Giliran Temari yang mendengus. "Ih..heran deh sama anak itu. Ga pedulian amat... Coba kalo kamu jadi ceweknya, Sakura. Mungkin dia bisa belajar sopan santun dikit..." Ujarnya asal.
Sakura tersedak minumannya sendiri. Emang sih, Sakura pernah suka sama adek bosnya, tapi tetep aja makan ati gara-gara sikapnya yang ga pedulian plus mereka sama sekali blom pernah ngobrol lebih dari 2 kata. Itupun selalu Sakura yang mulai. Walaupun cuma untuk bilang 'selamat siang' dan 'selamat sore'. Menyedihkan banget ngga tuh?
"Temari-san..." Sakura meringis. Temari tersenyum menggoda Sakura.
"Kenapa? Dipikirin banget? Emang kamu suka ma dia?"
Sakura menggeleng cepat. Ngga deh... makasih banyak.
18.15 p.m
Shift kerja Sakura selesai. Sakura buru-buru melepas celemek kerja ungunya, dan pamit sama Temari.
Saat memakai tas gedenya dan menghampiri Temari yang lagi ngobrol sama suaminya, Shikamaru, Gaara turun tangga.
Sebelum Sakura sempet ngomong, Gaara udah keburu memotongnya.
"Temari, aku pergi sebentar..." katanya sambil melewati Sakura. Sakura yang baru aja mau ngomong, cuma bisa mangap bentar, trus menutup mulutnya.
"Eh, iya. Jangan kemaleman yah pulangnya." Gaara mengangguk kecil. Temari melihat Sakura dibelakangnya.
"Eh, Sakura udah mau pulang yah? Gaara, sekalian aja anterin Sakura." Katanya. Sakura melongo, dan langsung menggeleng cepat.
"Ngga usah, Temari-san. Lagian aku juga mau langsung ke tempat kerja aku."
"Udah..ngga apa-apa. Ngga baik cewek jalan sendirian malem-malem." Bantah Temari. Gaara melirik ke arah Sakura, lalu berjalan ke arah pintu.
Sakura pasrah. Terserah deh... kan masih sore! Lagian aku kan bawa sepeda...
18.17 p.m
Sakura naik ke atas sepedanya, mati-matian menghiraukan Gaara.
"Lewat mana?" Tanyanya pelan. Sakura menghentikan sepedanya. Serius mau nganter nih?
"Oh...Belok kanan, trus lurus aja...trus..." Belum selesai Sakura ngomong, Gaara udah jalan duluan.
Lagi-lagi Sakura bengong. Apa-apaan sih ni orang?
Gaara berbalik. "Cepetan. Nungguin apa lagi?" katanya lalu melanjutkan jalannya. Sakura menaikkan alisnya. "Jalan kaki?"
Tanpa melihat ke arah sakura, Gaara mendengus. "Iya jalan kaki. Emang mau pake apa lagi..."
Sakura meringis dalam hati sambil menghitung. Hebat...rekor kalimat terpanjang hari ini dia ngomong...
18.20 p.m
Tadinya Sakura ingin naik sepeda aja, biar lebih cepet sampe. Tapi ngga enak juga sama Gaara. Orang yang nganterin jalan kaki, masa dia naik sepeda?
Akhirnya sambil menuntun sepeda, Sakura berusaha menjajari langkah Gaara. Sesekali Sakura melirik ke arah cowok di sampingnya.
Rambutnya masih lembab... pake baju biasa... Lumayan wangi juga.. pikir Sakura tanpa sadar.
"Disini?"
"hah?" Sakura berhenti. Gaara mendesah pelan. "Kamu kerja disini?" Tanyanya lagi.
Sakura melihat bangunan disebelahnya. Melody music shop. Ga kerasa udah nyampe aja.
"Ah, iya." Sakura memarkir sepedanya di sampin pintu masuk. "makasih yah, udah dianterin." Senyumnya.
Gaara mengangguk. Sakura meraih tasnya lalu masuk ke toko tersebut. Gaara menatap pintunya sebentar, lalu melanjutkan langkahnya.
18.47 p.m
Sakura yang sekarang sudah memakai celemek berhiaskan gambar tuts piano, menghela nafas setelah membersihkan kaca konter.
Tugasnya disini cuma sebagai pelayan. Yang bekerja disini yang lainnya adalah pemilik sekaligus manager, Tenten dan suaminya Neji.
Walaupun begitu, toko ini adalah tempat kerja favorit Sakura. Waktu tidak ada pengunjung, Tenten memperbolehkan Sakura memainkan alat musik yang di jual disana. Benar-benar bos yang baik.
Favoritnya di Melody ini adalah Grand Piano hitam yang terpajang di tengah-tengah toko. Kehadiran piano itu benar-benar membuat piano standar yang lain jadi ngga menarik. Walau piano manapun ngga masalah buat Sakura.
Karena Grand Piano itulah Sakura bekerja disini, dan bekerja diberbagai tempat lain, dan memilih untuk tidak sekolah. Cuma untuk mengumpulkan uang agar bisa memiliki Grand Piano itu. Benar-benar impian yang mustahil, Sakura tahu itu.
Sakura mungkin memang belum begitu ahli memainkan piano. Dulu waktu kecil dia pernah belajar sama Tenten yang masih smp. Tapi cuma sebentar. Tahunya sekarang dia bekerja di toko musiknya Tenten. Dunia memang sempit, yah.
Seperti saat itu. Toko sedang tidak ada pengunjung. Wajar. Kan ngga setiap hari orang datang membeli satu set drum, atau satu piano kan?
Tenten sedang dilantai atas, Neji belum pulang. Sakura melirik si Grand Piano itu. Pelan-pelan dia meninggalkan konternya, menuju si piano.
Teng. Sakura memencet satu tuts putih. Bunyinya benar-benar bikin Sakura ingin duduk dan segera memainkannya.
Sakura melirik kanan-kiri. Toko sepi, ngga ada pengunjung. Tenten juga ngebolehin dia mainin alat musik apapun kalo lagi ngga ada orang.
Teng. Sakura memencet satu lagi. Benar-benar bikin gregetan.
Akhirnya Sakura memilih duduk di atas kursi piano, meletakkan kesepuluh jarinya di atas piano itu.
Sakura mulai memainkan intro Lullaby, salah satu lagu mellow pengantar tidur yang lumayan di hafalnya, karena singkat dan mudah.
Kling.Bel pintu berdentang pelan. Sakura terkejut dan buru-buru menarik tangannya dari barisan tuts.
"Ah, selamat da—," Sakura terpaku.
Cowok itu lagi. Si cowok super nyebelin tadi pagi. Si cowok yang bener-bener bikin Sakura ingin menamparnya.
"Kamu lagi..." desis Sakura. Tau-tau kepala Naruto muncul di balik badan si cowok itu.
"Ah, Sakura-chan!" sapanya riang.
"Naruto?" Sakura mengangkat alisnya sambil berjalan ke arah pintu masuk. "Tumben?"
"Aa...aku nganterin temen aku. Katanya dia mau beli senar gitar. Ya udah, aku rekomendasiin aja ke tempat kerja kamu." Jawabnya sama cerianya seperti sebelumnya.
Sakura melirik ke arah si cowok yang udah berjalan ke arah konter kaca. Sambil menahan amarah, Sakura berjalan ke balik konter.
"Selamat malam. Mau beli senar yang ukuran berapa?" Tanyanya sesopan yang dia bisa. Si cowok cuma mengangkat mukanya sebentar, lalu balik melihat ke arah konter.
"Oh iya, Sakura-chan. Kenalin nih, Uchiha Sasuke. Temen aku di sekolah." Kata Naruto sambil berjalan ke samping si cowok.
"Anak baru?" Tanyanya heran. Bisu yah? Sakura menahan keinginannya untuk menambahkan pertanyaan itu.
Naruto tertawa kecil, walaupun ngga ada yang lucu. "Nggak kok. Dia temen aku sejak sd. Kalian aja yang belom pernah ketemu sebelumnya. Oh iya, aku juga belom pernah ngenalin kalian sebelumnya yah?"
"Ambilin yang itu..." Ujar Sasuke pelan sambil menunjuk ke arah bungkusan senar. Sakura terkejut lalu buru-buru mengambil tumpukan senar dan menyerahkannya pada Sasuke.
Sasuke mengambil dua bungkus lalu menyerahkannya kembali pada Sakura.
Sakura segera mengambil bon pembayaran dan menulis jenis barang yang dibelinya. "Ini aja?" Sasuke mengangguk lalu berjalan pelan ke arah Grand Piano itu.
Sakura menahan nafasnya sebentar dan menatap dengan tidak rela, lalu merobek bonnya.
Sasuke memencet satu tuts putih, lalu melanjutkan ke sebelahnya, lalu ke sebelahnya, sampai ke nada awal satu oktaf lebih tinggi.
Sakura menggeram sebel dan merenggut kantung belanjaannya lalu berjalan ke arah Sasuke. "Nih. Bayar." Katanya sambil menyerahkan bon pembayaran.
Sasuke meliriknya sebentar lalu merogoh sakunya, dan mengulurkan lembaran kertas yang jauh lebih besar nilainya. "Ambil aja kembaliannya." Katanya sambil memencet tuts piano lagi.
Sakura mengambilnya dan meletakkan bungkusan itu di atas kursi piano dibelakang Sasuke. Dasar anak orang kaya... Ngga tau apa kalo duit itu susah banget nyarinya... Sombong...
"Sakura-chan! Tadi aku denger kamu mainin piano lagi yah? Bagus loh... tapi sayang kepotong pas kita masuk. Judulnya apa?" tanya Naruto semangat.
"Lullaby..." kata Sakura.
"Hmph..." Dengus Sasuke pelan, tapi cukup kedengaran oleh mereka. "lagu anak-anak..." ejeknya.
Sakura sudah sampai ke puncak kemarahannya. Dia mendorong bahu Sasuke cukup kuat.
"Heh! Apa masalah kamu?! Emang apa salahnya main lagu anak-anak, hah?!" Katanya marah sambil menaruh kedua tangannya dipinggang.
Sasuke melipat tangannya dan menatap Sakura. Sekarang mereka saling berhadapan.
"U-udah...Sakura-chan... Sasuke." Kata Naruto.
"Heh, anak orang kaya! Emangnya kamu bisa main piano? Bisanya ngejekin orang aja!" Sahut Sakura lagi. Ekspresi Sasuke tetap sama, hanya seringai kecil mulai muncul. Sakura yakin cowok ini pasti mampu membuat seluruh cewek disekolahnya lumer.
"Nggak bisa." Jawabnya tenang. Seandainya ini komik, mulut Sakura pasti sudah sampai ke lantai.
"Nggak bisa? Kalo gitu kenapa bisa-bisanya kamu ngejek aku?! Dasar sombong." Kata Sakura.
"Emangnya kamu expert?" ejek Sasuke. Naruto mulai cemas melihat kedua temannya.
"Nggak. Seenggaknya aku bisa, dan aku ngga sombong kayak kamu!" Tantang Sakura.
Sasuke memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya, dan maju selangkah ke arah Sakura. Sakura menahan nafas, tapi juga ngga mundur. Jarak mereka mungkin hanya satu jengkal saja.
"Kalo gitu, buat aku bisa dan tertarik dengan piano. Buktiin ucapan kamu yang mengagungkan piano ini." Sasuke berkata pelan. Wajah mereka sekarang benar-benar sudah dekat.
"Oke!" Jawab Sakura. "Liat aja! Aku bakal bisa buat kamu tertarik dengan piano!"
Sasuke tersenyum puas. "Bagus. Kalo kamu menang, aku akan melakukan apapun yang kamu mau. Tapi, kalo kamu yang menang..." Sasuke melirik ke arah Grand Piano itu. "Aku akan membeli Grand Piano ini. Aku tahu kamu ingin memilikinya kan?"
Sakura menahan nafas. "J-jangan! Jangan piano ini! Piano yang lain aja! Kan masih banyak piano yang lain! Jangan piano ini!" Katanya agak putus asa.
"Terserah aku. Kamu boleh mulai kapan aja, sampai kamu siap." Katanya dengan senyum penuh kemenangan dan berjalan ke arah pintu keluar.
"S-sakura-chan? Maaf, dia emang kayak gitu orangnya." Kata Naruto. Sakura menggeleng.
"Ngga apa-apa kok. Kamu kalo mau pergi, pergi aja. Hati-hati yah..." katanya sambil tersenyum terpaksa.
Naruto mengangguk dan berjalan keluar toko.
Sakura menghela nafas berat. Dia berjalan ke konter dan menaruh uang dari Sasuke kedalam laci.
"Sakura, ada apa ribut-ribut?" Tenten menuruni tangga dan berjalan ke arah Sakura.
Sakura tersenyum kecil "Ah... nggak ada kok Tenten-san..." Katanya beralasan.
Tenten ikut senyum "Kamu ini... dibilangin panggil Tenten aja. Nggak usah pake san. Formal amat rasanya. Umur aku kan masih 19 tahun."
19... tapi kan udah nikah... Sakura mengangguk lagi.
Kling. Bel berbunyi lagi. "Selamat datang!" Sahut Tenten dan Sakura berbarengan.
"Sakura, itu tadi Naruto ya?" Tanya Neji sambil berjalan ke arah Tenten. Sakura cuma mengangguk.
"Lama amat pulangnya..." Tenten merajuk. Neji senyum kecil
"Maaf..." katanya sambil mengecup kening Tenten. Tenten tertawa kecil.
"Kening? Kok ngga di bibir?" Ejeknya. Neji mengangkat bahu.
"Ada Sakura..." katanya. "Ga baik ciuman di depan anak kecil." Ujar Neji lagi.
Sakura mendengus pelan. "Kalo mau ciuman, yah ciuman aja. Ngga apa-apa kok, tontonan gratis. Dasar pengantin baru..." goda Sakura.
Setelah mereka pergi, Sakura kembali menatap piano itu dengan tatapan putus asa.
Nggak... Pokoknya aku ngga bakalan kalah... Pokoknya aku yang bakal memiliki piano itu dengan hasil jerih payahku sendiri... Nggak kayak dia... Dasar anak orang kaya...
-tbc-
Menu bakery Temari hari ini adalah tiramisu. Nih, aku bagiin tiramisu ke funsasaji1, Sora-chan, Rai-chan, nunu pink-violin, unknown reviewer,sa3, sasusaku lover.
Yup...pasangan intinya adalah GaaSakuSasu!
Buat unknown reviewer ku...(yang tidak mencantumkan nama) tau dari mana kalo aku ntar lagi ultah?? Kamu siapa? –penasaran nii...-
Review yah! :D
