CHAPTER II

ADA CINTA YANG MENGALIR DI SETIAP PRASAT

.

BY REI-KUN 541

.

Pair : SasuxSai

.

Warning: OOC, typos, de el el…

.

.

.

"Kau lagi…" dia memalingkan wajahnya.

Sepertinya lebih senang melihat langit biru sore itu di bandingkan melihat aku yang masuk ke dalam kamarnya dengan mendorong trolly dan trolly Waskom yang pada awalnya dibantu oleh temanku sampai ke depan pintu kamarnya. Aku hanya bisa tersenyum hambar sambil terus berjalan kearah tempat tidurnya, dan kemudian berhenti ketika aku sampai di samping tempat tidurnya.

"Selamat sore, Sasuke-san…" sapaku, tapi ia tidak menjawab.

"Bagaimana keadaan anda sore ini?" Aku bertanya lagi dan kali ini aku berharap dia mau menjawab.

"Buruk!" jawabnya. Singkat dan padat.

'Hah… bisakah dia ramah sedikit saja?' batinku.

Aku beralih menatap botol infuse dengan tetesan-tetesan yang masuk melalui selang dan tersalur masuk ke dalam tubuhnya, memberi keseimbangan cairan untuk tubuhnya. Dari sana aku beralih memandang tubuh lemah dihadapanku. Kedua tangan pucat yang terkulai lemah di atas tempat tidur dan selimut yang menutupi tubuh dari bawah hingga dadanya.

Kembali kutatap wajah tampan yang terus menatap keluar jendela dengan tatapan sayu. Indah dan mempesona, tapi dari itu aku menyadari sudah sewajarnya jika dia bersikap tidak ramah seperti itu. Ya, mungkin dia memang tidak ramah sejak awal, tapi kondisinya saat ini membuat dia lebih emosinal.

"Sasuke-san, saya perawat Sai yang akan merawat anda pada shift sore dari jam 2 siang sampai jam 9 malam. Saat ini saya hendak membersihkan rambut anda berhubung rambut anda sudah sangat lusuh…" Belum selesai aku menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan, dia sudah memotongnya dengan berbalik menatapku tajam dan berkata,

"Tidak ada satu orang pun yang boleh menyentuh kepalaku!"

Kembali aku teringat kata perawat yang juga bertugas merawat Sasuke tadi siang bahwa klien di ruang VIP no. 15 sangat tidak kooperatif. Dia tidak mau di keramas bahkan oleh perawat senior.

"Tapi jika tidak dibersihkan, rambut anda akan tetap kotor dan tidak terpelihara, peredaran darah di kulit kepala tidak akan menjadi lancar, rambut anda akan berketombe dan anda tidak akan merasa nyaman dengan semua itu." ujarku memberi penjelasan.

"Sampai kapan kalian akan berhenti membujukku?"

"Sampai anda mau. Kami hanya tidak ingin anda tidak dapat tidur malam ini karena kulit kepala yang gatal. Itu akan mengganggu proses penyembuhan anda."

"Aku muak! Sudah lakukan saja apa yang kalian inginkan terhadapku."

"Terima kasih, sudah mau bekerja sama dengan kami, Sasuke-san," kataku. Aku mulai mendorong trolly itu mendekati tempat tidurnya. Trolly itu berisi 2 helai handuk, perlak panjang sebagai alas, shampoo, 2 buah sisir, kasa dan kapas dalam sebuah kom, celemek dan pengering rambut. Semua itu, ada di lantai satu trolly sementara untuk lantai dua berisi, gayung, bengkok, dan ember kosong. Selain trolly untuk meletakkan alat-alat juga ada trolly dengan dua buah Waskom derisi air hangat.

Aku membuka kunci roda tempat tidurnya kemudian menarik tempat tidurnya menjauhi tembok di bagian kepala agar aku bisa berdiri di sana dan agar lebih mudah untuk mengeramasinya.

Aku menutup sampiran di samping tempat tidurnya untuk menjaga privasinya setelah terlebih dahulu mencuci tanganku. Aku mulai melakukan prosedur tindakannya. Dimulai dengan meletakkan ember kosong di samping bed bagian kepela tempat tidurnya.

"Sumimasen, Sasuke-san, saya hendak mengambil bantal di atas kepala anda dan menyisihkannya agar tidak basah.. " ucapku.

Dia tidak menjawab, tapi aku tahu dia menyetujuinya karena tidak ada protes ketika aku mengangkat sedikit kepalanya kemudian menarik bantal yang ia pakai, meletakkan kepalanya perlahan-lahan kemudian meletakkan bantal itu dari sisi lengannya.

Aku mengambil sebuah perlak yang terlipat di atas trolly itu dan membentangkannya, kemudian kugulung salah satu sisi perlak itu kearah dalam, tapi hanya aku gulung perlak itu sepanjang sepertiganya saja. Kuangkat kepala Sasuke kemudian meletakkan perlak itu dan membentangkan gulungannya sehingga perlak itu menutupi bagian kepala bed seluruhnya. Sementara itu ujung perlak yang satunya kumasukkan kedalam ember.

Perlak yang kugunakan merupakan perlak yang kaku, sehingga jika di tekuk tidak akan jatuh, karena itu sisi perlak aku tekuk membentuk sebuah bendungan agar air yang aku siramkan tidak akan jatuh mengalir kemana-mana dan hanya tersalur masuk ke dalam ember.

Setelah perlak, aku beralih mengambil handuk besar kemudian ku bentangkan handuk besar itu di dadanya. Dengan menggunakan kasa, kututup lubang telinga Sasuke, sementara matanya kututup dengan kapas.

Aku mulai berdiri di ujung tempat tidur bagian kepala setelah sebelumnya memakai celemek agar bajuku tidak basah bila kecipratan air. Mulai kusentuh dan kubelai rambutnya. Sedikit berminyak dan kusut. Meskipun begitu, rambutnya tetap terlihat indah, sama seperti ketika aku melihatnya pertama kali dulu. Rambut dengan style emo yang melawan arah gravitasi tapi tetap berkilau, hitam dan mempesona. Dengan sebuah sisir, kusisir rambutnya perlahan. Aku berhenti menyisir rambutnya ketika rambutnya tidak kusut lagi.

"Sasuke-san, saya akan menyiram rambut anda."

"Hm…" jawabnya.

Aku mengambil gayung yang telah aku siapkan dan mengambil air hangat dalam Waskom kemudian mulai menyiram secara perlahan rambutnya. Setelah itu kutuangkan shampoo secukupnya ke telapak tanganku dan mulai membersihkan rambutnya.

"Rambut anda sehat, ya?" tanyaku sambil terus meratakan shampoo itu keseluruh helai rambutnya.

"hn…" ucapnya. Dari nadanya terselip sedikit rasa ingin tahu.

"Iya… rambut anda tidak pecah-pecah, rambutnya hitam berkilau, lembut, dan tidak berketombe."

"Tentu saja, aku selalu membersihkan rambutku, satu kali sehari, jadi wajar."

Aku tersenyum mendengar itu. Dia punya kepercayaan diri yang tinggi serta memiliki identitas diri dan body image yang baik. Konsep dirinya terpelihara dengan baik.

"Karena itu, akan sangat sayang jika rambut anda yang indah ini tidak terpelihara selama anda sakit," kataku sambil memberikan mesase ringan di kulit kepalanya.

"ternyata anda senang merawat diri ya?" tanyaku lagi.

"Hn…"

"Pantas saja anda terlihat sangat tampan," kataku jujur tanpa bisa dipendam lagi. Itu benar-benar ungkapan yang jujur. Siapa yang akan mengelak dengan perkataanku dan mengatakan bahwa Sasuke adalah orang yang biasa-biasa saja? Aku yakin tidak ada. Semua orang terpesona dengan kharismanya, baik itu perempuan maupun laki-laki. Aku tahu itu, karena aku juga sudah terjebak. Aku terpana dengannya dan selalu membuat jantungku berdebar-debar jika dekat dengannya.

"Ah…" dia tersentak. Masih dengan wibawa yang kuat. Hah… ingin sekali aku menyentuh wajah indahnya yang sedikit kaget itu dan menjadikannya milikku seutuhnya.

"Hmm…" aku tersenyum. "Padahal style rambutnya aneh begitu…" ungkapku. Ini juga jujur.

"Buka…" perintahnya.

"Apa?"

"Penutup mataku!"

"Jangan, nanti kalau matanya kena air sabun, perih lho…"

"Kemudian diam saja dan melewati ekspersi mengejek dari wajahmu itu? Cih… Brengsek!" umpatnya.

Dia menganggap aku telah mengejeknya, padahal aku berkata jujur. Tapi tanpa ia sadari penampilannya –oh tidak, bukan hanya penampilannya saja. Semuanya, semua yang ada pada dirinya telah buat aku tak berdaya.

"Sebentar lagi rambut anda akan saya bilas." Kataku setelah yakin betul rambutnya telah bersih. Aku mengambil air dari Waskom dan mulai membilas rambutnya. Membiarkan air hangat menyapu sabun di rambutnya kemudian mengalir jatuh ke perlak dan masuk ke dalam ember itu.

Setelah sabun di kepalanya benar-benar bersih, ku angkat kepalanya perlahan, kuambil perlak di bawah kepalanya, kumasukkan perlak itu ke dalam ember kemudian menggantinya dengan handuk. Dengan handuk itu, kukeringkan rambutnya.

Kubuka penutup mata dan telinganya kemudian membuang kapas itu ke dalam bengkok. Kuambil handuk yang menutup dadanya setelah minta izin terlebih dahulu dari sasuke dan dengan handuk itu aku ganti handuk yang telah basah di kepalanya dan kembali mengeringkan rambutnya dengan handuk yang masih kering itu.

Untuk membuat rambutnya benar-benar kering, aku gunakan Hair Dryer sambil menyisir rambutnya perlahan.

Sesudah benar-benar kering, aku angkat handuknya dan menggantinya dengan bantal yang tadi kuletakkan di sisi tempat tidurnya. Kukembalikan Sasuke dalam posisi yang nyaman, kemudian merapikan alat-alat yang telah kugunakan kembali ke trolly dan terakhir merapikan bed Sasuke. Aku juga mendorong bednya sampai dekat dengan tembok lagi kemudian mengunci roda tempat tidurnya.

"Bagaimana perasaan anda sekarang, Sasuke-san?" tanyaku setelah semua tindakan sudah kulakukan, tapi ia tak menjawab.

"Terima kasih sudah mau bekerja sama dengan saya. Jika anda butuh sesuatu, anda bisa menekan tombol di sisi tempat tidur di bawah tangan anda."

"…"

"Selamat sore, Sasuke-san…"

"Tunggu!" cegahnya.

"Ada yang bisa saya bantu?"

"Bisa tidak tinggikan kepala tempat tidur ini setinggi 30 derajat? Aku bosan terlentang terus seperti ini." Pintanya. Aku tersentak, baru kali ini, baru kali ini ia meminta padaku, dan tentu dengan senang hati kuturuti maunya.

"Tentu, tuan!" ucapku. Aku melangkah mendekat ke lututnya dan memfleksikan lututnya agar Sasuke tidak melorot ke bawah saat kepala tempat tidur di naikkan, kemudian berjalan menuju ujung tempat tidur di bagian kaki dan mulai memutar roll yang digunakan untuk meninggikan kepala tempat tidur.

"Menyedihkan…" ucapnya tiba-tiba.

"Mengapa anda bicara seperti itu?" tanyaku sambil terus memutar roll itu dan berhenti ketika kepala tempat tidurnya sudah setinggi 30 derajat. Setelah itu kulangkahkan kakiku kemudian berhenti di samping tempat tidurnya.

"Hidup dengan dua pasang ekstrimitas yang tak bisa digerakkan… apalagi namanya jika bukan menyedihkan? Aku benci!"

Kata-katanya itu membuat hatiku diselubungi suatu rasa yang menyakitkan. Dadaku terasa sesak karena itu.

"Sa…Sasuke…" ujarku tanpa sadar. Kata-katanya merupakan respon kehilangan. Suatu proses dari sesuatu yang awalnya ada menjadi tidak ada, atau mengalami kehilangan fungsi. Seperti inikah seorang Sasuke yang krhilangan?

Aku mendekati tempat tidurnya kemudian meletakkan tangan kanannya ke pahanya sendiri, sementara itu, ku angkat tangan kirinya, kemudian duduk di sisi tempat tidurnya dan meletakkan tangan kirinya itu di pangkuanku. Ku genggam lembut jemari tangannya, kemudian berkata,

"Saya tahu ini sangat sulit… tapi bersabarlah! Pasti anda akan segera sembuh. Penyakit anda bukan merupakan menyakit syaraf. Hanya terjadi penimbunan asam laktat yang terlalu banyak saja di otot-otot tungkai anda. Setelah melakukan terapi, pasti akan segera sembuh," ujarku memberi penjelasan dan menenangkannya. Hanya ini yang dapat aku lakukan untukknya. Aku tak begitu mengerti tapi rasa sakitnya sampai ke hatiku.

"Seandainya saja… seandainya saja aku bisa menahan diri… seandainya saja aku tak bernafsu membunuhnya dan mengambil semua chakra tubuhku untuk menghasilkan element petir… seandainya saja tak kulakukan semua itu, mungkin sekarang aku sedang bertarung, atau melakukan aktivitasku yang lain… tapi sekarang semuanya…"

Belum sempat pengekspresian dari perasaannya itu berakhir, aku sudah lebih dulu membungkam mulutnya dengan memeluk erat tubuhnya saat itu. Ini jauh dari intervensi yang seharusnya dilakukan perawat. Ketika seorang klien berada dalam tahap bergining di dalam kehilangannya, tugas perswat adalah memberikan infoyang diperlukan untuk membuat keputusan. Tapi aku tak dapat melakukan itu. Sungguh, aku tak dapat mendengar penjelasas Sasuke dan memberikan info yang dapat digunakan olehnya di akhir penjelasaannya. Terlalu sesak, itu yang aku rasakan…

"Sudah, Sasuke, sudah! Jangan sesali dirimu, semua sudah terjadi," kataku sambil terus memeluk tubuhnya dengan erat. Ini lagi, satu hal lagi yang tidak boleh dilakukan perawat. Sentuhan memang diperlukan dalam hal ini, tapi tidak boleh keterlaluan seperti ini juga. Aku sudah lancang. Mungkin Sasuke tak menginginkan ini tapi karena kedua tangannya sulit digerakkan, ia tidak bisa melepas pelukanku atau mendorongku menjauhinya.

"Tapi… tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya meringkuk di tempat tidur… aku menyedihkan sekali, Sai…" katanya didalam pelukanku.

"Ada aku, Sasuke! Ya, mungkin aku tidak bisa memenuhi semua keinginanmu dalam hal ini, tapi aku akan berusaha membuatmu nyaman, aku akan berusaha memenuhi semua kebutuhanmu. Katakan saja padaku, Sasuke, apa-apa saja yang kau inginkan dan aku akan berusaha membantumu, aku berjanji!"

Aku melepaskan pelukanku padanya dan membaringkannya lagi ke tempat tidur.

"Karena itu, tolong jangan berduka lagi…" kataku. Kutatap matanya saat itu. Mata onyx itu terlihat sayu. Ada kesedihan mengalir disana.

Aku beranjak dari dudukku dan meletekkan tangannya kembali di atas tempat tidur.

"Sasuke-san posisi tidur anda belum begitu nyaman. Saya akan menyiapkan alat-alat untuk memposisikan tubuh anda dalam posisi semi fowler. Saya akan segera kembali," ucapku, kemudian melangkah meraih trolly dan mendorongnya keluar ruangan.

"Sai…" panggilnya dan itu membuat aku menghentikan langkahku.

"Terima kasih…" ucapnya. Terdengar sedikit rasa sungkan ketika ia mengatakan kata-kata itu, tapi kata-kata itu bagai embun di pagi hari bagiku. Menyejukkan dan jernih…

Tapi secara bersamaan, kata-kata itu juga sukses membuat aku terjebak. Terjebak dalam pilihan dan membawa aku masuk ke dalam lubang kebimbangan.

Langit berubah merah ketika aku keluar dari kamarnya. Tinggal aku dan awan kelabu di hati.

.TBC…..

Haduh… tambah berantakan ya? Hah… Aku memang tidak berbakat.. T_T hiks.. tapi ku ucapkan banyak-banyak terima kasih pada readers yang telah berbesar hati membaca fic ku dan biarkan aku menjawab review senpai-senpai tercinta yang sudah mau mereview fic ku yang ga jelas ini.

Afuri: Wah… hatiku berdebar-debar saat mengetahui afuri-senpai me-review fic ku. Afuri-senpai tahu tidak, aku mulai suka yaoi itu dari fic.x senpai lho… Sasuxsai! Meskipun tidak setenar pair sasunaru ato narusasu, tapi ini jadi pair kesukaanku. Maaf selama ini membaca fic Afuri-senpai tanpa sempat mereview.

Oh ya, aku bingung, AU itu apa ya? *bodoh mode:on*

Hm… Semua dugaannya Senpai benar. Iya ya, Sai cerewet, tp mw gimana lagi? Iya… benar juga, lebih baik diganti dengan kerja sama. Untuk kelanjutannya, mungkin kata kolaborasi sudah tidak akan kugunakan lagi. Makasih atas Review nya… aku senang deh…

Kouro Ryuki: Hm…^^ makasih dah Review ya… syukur deh kalau tidak OOC.. Makasih…

Misslabil: Oh… iya, sepertinya bagusan seperti itu. Makasih ya dah beri masukan. Pasti akan kubuat Sasuxsai yang lebih banyak lagi! Hehe… ^^

Chiheisen: Tenang, tenang…! Ada waktunya bagi Sai untuk menyerang. *diguyur tinta* Hm.. ^^ iya… pasti terlihat sangat manis ya, jika pakai baju perawat untuk cewek. *_* haha… *di tendang Sai*

Rin Akari Dai ichi: Aku juga mau sih, tapi… aku tidak bisa ngebayanginnya. Terlalu susah… Tidak bisa… fic awal aja, bagian yang membersihkan genetalia terpaksa aku sensor. Habis tidak bisa ngebayangin ekspresi Sai sih…

Ajari aku untuk buat fic yang Rate M donk! *dipukul, di injak2, ditendang dan dibuang ke laut ma Rin-senpai*Ampuuun….!

Yah… Seperti itulah kelanjutannya, mungkin di Chap selanjutnya baru akan timbul konflik. Maaf jika chap yang ini terasa hambar! Aku disini masih sebagai anggota baru, jadi mohon bantuannya lebih lanjut ya! Untuk para Senpai, siapa yang mau jadi temanku… aku ingin mengenal anda-anda lebih baik lagi… kemudian Share n learn bareng2!

Makasih bagi readers yang telah niat me Review…

See u in the next chap….