STAR CRAVING BAEK (Remake)
Chapter 2
Cast :
Baekhyun, Chanyeol, Sehun, Luhan, EXO
Genre :
Romance!
Rate :
M/ Gender Switch (GS)
.
.
FF ini bukan karya BaekQiu
Ini merupakan hasil remake dari novel berjudul Star Craving Mad karya Elise Abrams Miller
BaekQiu hanya mengganti nama, tempat, dan setting yang disesuaikan dengan cast.
.
.
Happy reading!
.
.
.
.
Karena anak-anak makan siang dalam kelas, Chanyeol dan aku bergantian ke ruang guru, aku dapat giliran pertama. Melewati tangga, aku menghindari murid-murid yang lebih besar, anak-anak kelas empat dan lima yang memekik sekuat tenaga tampak seperti kura-kura, membungkuk tertindih ransel mereka yang kelebihan muatan.
Lalu ada cewek-cewek SMA anoreksia yang berusaha tampil secantik mungkin, seakan tidak peduli pada sekitarnya, atau harta ayah mereka, dengan make-up super tebal.
Setibanya di ruang makan, kupandangi sekeliling ruangan. Aku sungguh ingin bercerita tentang keluarga Oh, tapi Zhang Yixing, temanku satu-satunya di Seoul Select Academy tidak ada. Sayangnya, sebagian besar kesalahan yang kubuat kala mabuk di masa lalu ada di sana.
Di satu sudut, guru olahraga yang pernah kugesek-gesek di salah satu diskotek sedang membaca kolom bagian olahraga di koran. Ada guru tata bahasa yang sedang mengisi cangkir kopi, yang pernah menyedot-nyedot payudaraku sampai kukira aku akan mulai mengeluarkan susu.
Dan akhirnya, sedang asyik mengobrol dengan guru paduan suara penderita bulimia, adalah guru sastra Inggris yang sudah lama mengajar di sini tapi masih sering dikira murid kelas tiga SMA. Aku pernah tidur dengannya di kamarnya, dalam apartemen yang masih ditinggali bersama ibunya yang menderita fobia keramaian.
Setidaknya, guru fisika, yang sepertinya agak menghormatiku, tidak ada di sini. Menurut gosip dia sedang menjelajahi Tibet selama setahun, mempelajari oksigen.
Sayangnya, selingan-selingan iseng ini tak pernah menjadi sesuatu yang lebih berarti ketimbang sikap kikuk keesokan harinya, dilanjutkan kompetisi seru untuk melihat siapa yang paling berhasil menghindari kontak mata dengan yang lain saat kami bertemu di sekolah.
Aku mengisi mangkuk kertas dengan sepotong keju, salad tuna, dan potongan zaitun dari meja salad. Aku sedang berusaha mengikuti diet karena terus terang saja, siapa yang tidak ingin mirip dengan Yoona anggota girlband populer yang sangat cantik dan ramping—plus bisa mendapatkan hati seorang Lee Seunggi? Aku sungguh mati iri padanya.
Sambil berdiri aku mengunyah makanan lembekku, sebelah mata melirik nampan kue kering dengan penuh nafsu, dan mata yang lain berkedut-kedut melirik jam dinding. Aku takut meninggalkan anak-anak sendirian dengan Chanyeol.
Dengan tampang lusuh, kisah perampokan, hobi mengedipkan mata, dan sikap kerennya, jangan-jangan saat aku kembali ke kelas anak-anak sedang berbagi bong pengisap ganja. Aku sudah meninggalkan pesan mendetail untuk memastikan anak-anak makan siang di meja masing-masing dalam dua puluh menit, lalu membereskan barang-barang mereka sendiri, dilanjutkan membuka-buka buku di karpet.
Saat aku hampir selesai makan, dan baru akan membuang sisa makanan lembek ini, Yixing memasuki ruangan dan segera menyambar lenganku. Bibir Revlon merah jambu itu didekatkan ke telingaku dan dia berbisik dekat sekali sampai bulu kudukku berdiri.
"Baek, kau tidak akan bisa menebak siapa yang kubiarkan bercinta dengan payudaraku semalam!"
"Ya ampun. Beritahu aku sekarang, aku tidak punya waktu untuk menebak," kataku sambil menatap baju hari-pertama-sekolah-Yixing yang terkenal; rok mini Lycra warna hijau limau, kaus ketat biru langit, dan sepatu merah jambu bersol tebal dari karet.
Yixing menyadari aku sedang memandangi bajunya. "Ini dari Conway!" katanya sambil melambaikan tangan dari atas ke bawah. "Memangnya Prada apaan sih?" tambahnya, menirukan gaya cewek telmi sambil mengangkat bahu, suaranya cukup keras untuk didengar semua orang.
Yixing ahli meniru gaya sampah seperti itu. Sedihnya, tidak semua orang mengerti dia melakukan itu untuk membuat pernyataan, bahwa ibunya seorang pengusaha butik sukses dan ayahnya memiliki lebih dari belasan toko barang antik mahal di seluruh negeri.
Sebagai kepala bagian Drama di Seoul Select Academy, Yixing berupaya keras menunjukkan dia tidak peduli pendapat orang dan menyodorkannya berulang kali ke depan muka sombong mereka yang membosankan. Yixing bekerja keras dan tidur dengan banyak orang untuk mencapai (atau tidak mencapai) posisinya sekarang.
Kebanyakan orang tidak tahu dengannya, tapi entah kenapa aku merasa dapat melihat sisi yang tulus dan superloyal. Lagi pula, Yixing paling seru kalau diajak ke pesta.
Yixing berkata, "Kau pernah nonton film dengan aktor yang selalu berperan tolol dan penggugup, yang ternyata dia itu mata-mata dari negara sebelah?" Lalu dia memandang sekeliling, beradu pandang sesaat dengan Kepala Selingkuh.
"Kim Soohyun? Kau bercinta dengan Kim Soohyun?" bisikku, memelototi mangkuk plastikku yang berminyak. Aku benar-benar terkejut.
"Tidak, sayang. Pria yang bercinta denganku, yang panjangnya hampir dua puluh senti itu adalah asisten pribadi dalam film itu!"
"Film yang mana? Aku mau menontonnya," kataku sambil berusaha melepaskan cengkeraman mautnya.
"Sayang sekali aku tidak tahuuuuu," desah Yixing. "Lagi pula, semua sama saja. Yang penting dia juga membuat film. Dan dia mencari pemain untuk proyek pribadinya minggu depan, dan tebak siapa yang akan diberinya peran utama?"
Aku memaksakan senyum, merasa seperti murid-muridku sendiri, karena Yixing berbicara seperti kepada anak kecil atau orang yang terbelakang mentalnya.
"Well, selamat!" kataku, berharap terdengar tulus. Aku sudah dengar cerita Yixing selama enam tahun, dan isinya selalu sama; "Aku bertemu cowok, itunya besar, hebat bercinta, punya banyak koneksi hebat, dan dia akan membuatku terkenal!"
Sesuatu selalu menghentikanku untuk mempertanyakan pendekatan yang dilakukan Yixing, mungkin karena aku juga pemimpi seperti dia, atau mungkin karena, tidak seperti aku, Yixing benar-benar berusaha mewujudkan mimpinya, walaupun sampai saat ini belum tercapai juga.
Mungkin aku berharap salah satu cowok-cowok Yixing itu menyelamatkan Yixing dari hidup sebagai orang yang tak terkenal. Atau mungkin karena aroma parfumnya berhasil menyihir pembuluh darahku.
Aku berhenti memikirkan alasan sebenarnya kenapa tidak pernah keberatan dengan formula sukses Yixing. Sudah hampir terlambat kembali ke kelas, dan anak-anak pasti sudah menyedot heroin kalau aku tidak meninggalkan ruang makan saat ini juga.
Tapi sebelumnya aku sempat berkata, "Minggu ini kita ketemuan lagi, ya," Yixing sudah mengarahkan bokong montoknya di sela meja-meja untuk menggoda Kepala Selingkuh. Aku menahan diri untuk tidak memutar bola mataku, dan bergegas naik.
.
.
.
Saat mendekati ruang kelas, aku tidak mencium bau aneh. Pertanda baik. Dari lorong luar, kelihatannya lampu dimatikan. Juga pertanda baik. Bahkan aku tidak mendengar apa-apa. Mungkin Chanyeol menculik mereka untuk minta tebusan? Aku menguping di pintu dan setelah beberapa detik mendengar suara yang hanya bisa kugambarkan sebagai musik lembut merayu.
Di dalam ruang kelas, dengan sinar matahari sore mulai menyinari dinding kelas yang masih polos, kesembilan belas murid sedang bersantai di karpet, mengelilingi Chanyeol, yang sedang memainkan gitarnya. Kalau anak-anak tidak sedang terpaku penuh pandangan memuja, aku pasti akan menyalakan lampu.
Anak-anak bahkan tidak melirikku sama sekali. Aku tak terlihat. Aku seperti penyusup. Selama lima tahun, saat aku kembali dari makan siang pada hari pertama, asistenku selalu memohon perhatian, lampu sudah nyala-mati terus sampai kami harus memanggil pengurus bangungan untuk mengganti bohlam.
Kalau tidak, si asisten tak mengacuhkan kekacauan sama sekali, atau dalam satu kasus, berdiri di atas kursi dan menyandera semua makan siang anak-anak sampai mereka "tutup mulut kalian, keparat". (Kata-katanya, bukan kata-kataku.)
Aku telah mengandangkan, menenangkan, memimpin, dan berkuasa dalam ruangan ini selama bertahun-tahun, sendiri saja. Kolegaku lebih mengganggu daripada membantu. Sekarang untuk pertama kalinya, situasi sepertinya terbalik.
"Guru Park," kataku, "giliranmu makan siang."
Tapi sembilan belas kepala mengangguk-angguk.
Chanyeol berkata, "Ah, aku akan pergi setelah lagu ini," dan mengedipkan mata sekali lagi, kali ini kepada anak-anak. Nyali pria ini benar-benar keterlaluan. Dia guru tahun pertama, memperlakukan kelas ini seakan miliknya sendiri, memperlakukan aku seakan akulah asistennya.
Kepalaku mulai berdentam, entah karena frustasi atau marah. Dalam hati aku berharap atasanku masuk dan melihat anak-anak menyanyikan lagu Pink Floyd tentang membunuh guru dan memuja uang, atau lebih buruk lagi, mungkin Chanyeol mengajarkan lagu terbaru Eminem pada mereka.
"Pada hitungan ketiga, oke? Seperti latihan tadi. Satu. Dua. Satu, dua, tiga..."
Mataku hampir berkaca-kaca meski tak ingin. Anak-anak bernyanyi bersama dengan penuh penghayatan, seakan mereka hidup di tahun enam puluhan. Taeoh yang ompong bernyanyi solo, dan aku bersumpah tidak ada yang bernyanyi sebagus itu.
Lalu anak-anak enam tahun itu mulai bertepuk tangan dan berayun sesuai irama. Aku hampir tidak memercayai penglihatanku. Karena pintu terbuka lebar, tahu-tahu Kris sudah berdiri di sana, mengayunkan tangannya sesuai irama.
"Hebat, guru Byun," kata Kris padaku sambil mengusap rambutnya. "Mungkin kau akan mendapat lebih dari yang kauharapkan tahun ini, eh?" tambahnya dengan anggukan penuh arti. Mukaku terbakar. Kepala Selingkuh terkenal suka mendorong hubungan romantis di antara gerombolan stafnya. Tapi hal terakhir yang diinginkan guru dan asistennya adalah tidur seranjang.
Jauh lebih sulit menghindari kontak mata kalau kau harus berada di ruang yang sama selama enak jam. Percayalah. Sudah pernah dicoba.
Setelah Kris pergi, suara Chanyeol dan anak-anak menyurut, lalu Chanyeol berkata, "Menurut kami, menyanyikan lagu bersama sangat cocok dengan kurikulum sekolah."
"Wow," kataku. Hanya itu yang terpikir. Aku berdiri saja di sana, menelan ludah. Saat Chanyeol makan siang, aku menyadari aku tenggelam dalam rasa iri. Untungnya anak-anak baik-baik saja saat aku menyuruh mereka mewarnai di meja masing-masing, dan mendadak aku merasa tolol.
Chanyeol hanya melakukan apa yang terbaik. Entah karena insting atau instruksi, jelas dia tahu cara paling baik untuk mengendalikan kelas adalah dengan melibatkan seisi kelas. Tapi apakah dia harus begitu hebatnya? Bagaimana kalau aku tidak sanggup bersaing dengan gitar Chanyeol? Aku tidak bisa bermain musik. Aku bahkan tidak bisa menyanyi di kamar mandi.
Saat anak-anak mewarnai dan saling berbisik, aku menyiapkan pelajaran matematikan dan memberi selamat pada diriku karena tidak memikirkan Oh Sehun. Yang malah membuatku teringat pada Oh Sehun. Senyumnya, jabatan tangannya, jari kakinya...
"Guru Park sungguh pintar bermain gitar."
"Ya."
"Dia juga bisa bernyanyi."
"Apakah dia akan mengajari kita lagu setiap hari?"
"Asyik sekali!"
"Ya!"
Aku menyusun fotokopi latihan penjumlahan dasar dan meraih keranjang berisi beruang untuk berhitung. Kubayangkan mana yang lebih buruk : kehilangan kendali kelasku pada asisten tahun pertama, kehilangan pekerjaan karena membuntuti orangtua murid, atau kehilangan akal sehat karena terobsesi pada dua pilihan pertama.
Anak-anak hanya bertingkah sepertinya lazimnya. Mereka menyukaiku sama seperti mereka menyukai Chanyeol. Dan aku hanya wanita Korea berdarah merah normal. Semua baik-baik saja.
Saat Chanyeol kembali, anak-anak meloncat dari kursi mereka dan mengerubungi Chanyeol dengan hasil lukisan mereka.
"Guru Park! Ini untukmu!" kata Taeoh, menyodorkan gambar imajinatif kuing merah muda yang sedang bernyanyi dan bermain gitar ungu.
"Ini, guru Park!" kata Krystal, melambaikan gambar dua gitar, dengan gitar ketiga yang dicoret-coret. Anak-anak yang lebih pendiam menatap kosong, dengan sabar memegang persembahan mereka dengan jari belepotan spidol sampai Chanyeol mengumpulkan semua penuh terima kasih.
Gambar gitar, robot, bintang, dan kelinci menari-nari di depan asisten baruku, seperti fans Lee Minho yang minta tanda tangan. Chanyeol menanggapinya dengan biasa saja, seakan dia sudah mengharapkan perlakuan semacam itu. Beraninya.
Aku melangkah ke tombol lampu, menyadari secara resmi aku menerima peran sebagai pihak yang jahat. Klik. Klik. "Oke, anak-anak, beri guru Park kesempatan untuk bernapas. Setelah dia mengumpulkan hadiah kalian yang murah hati, aku mau melihat bentuk huruf U yang sempurna di karpet," aku menatap Chanyep; seakan berkata, Tolong aku, oke, bung?
"Wow, terima kasih, anak-anak! Hebat sekali," katanya, lalu dia mengangkat bahu ke arahu. Tidak ada kedipan mata kali ini, syukurlah. Dia berjalan ke karpet, dan seperti pengikut setia, anak-anak berbondong-bondong mengikutinya, dan Chanyeol menyuruh mereka duduk teratur.
Meskipun mereka penuh energi, anak-anak mematuhinya. Aku tidak pernah melihat yang seperti ini. Mungkin aku sebaiknya berkemas dan pulang ke apartemen sempitku, merajuk masuk ke kamar, dan merangkak ke balik selimut dengan sewadah es krim Baskin Robbin dan sendok yang besar.
Anak perempuan paling mungil di kelas, Nina, mendekatiku dengan gambarnya. Di atas kertas putih, terdapat gambar bunga seukuran uang logam dan di sekelilingnya, gambar hati. Dia tidak berkata apa-apa. Hanya menyodorkannya dan menatapku. Hatiku langsung meleleh seketika. Seakan dia bisa melihat langsung ke dalam hatiku yang kesepian.
"Nina, terima kasih! Ini sungguh indah! Maukah kau menandatanganinya untukku?" Nina membawa gambarnya kembali ke meja dan berupaya menorehkan namanya di sudut gambar, garis-garis miring warna ungu dan biru. Perlu semenit penuh untuk melakukannya, dan hampir memenuhi seluruh halaman.
Nina kembali menyodorkannya padaku. "Nina, itu indah sekali," kataku lagi, lalu menggantungnya di dinding, karya seni pertama yang digantung di ruang kelas kami.
.
.
.
Setelah anak-anak memamerkan pengetahuan mereka tentang angka, tiba waktunya untuk jam istirahat di atap gedung. Aku menyuruh kelas membentuk U dan menjelaskan konsep 'keamanan' dan 'partner'. Atap gedung kami luas, walau dikelilingi jaring dan pagar serta diperlengkapi seperti penjara berkeamanan maksimum.
Aku memutuskan hari pertama ini, akulah yang akan memutuskan siapa yang berpasangan dengan siapa. Ziyu dan Nina pasangan pertama yang kupilih. Mereka akan berjalan di deoan barisan bersamaku. Chanyeol menjadi buntut, dengan Taemin yang pendiam dan Jimin yang sopan. Semoga itu akan menjauhkan Chanyeol dariku untuk beberapa menit.
Karena cuaca masih hangat, kami tak harus memakai mantel, jadi kami punya beberapa menit ekstra, beberapa menit untuk bersantai. Aku membawa biskuit di dalam tasku untuk waktu kudapan nanti.
Begitu berada di luar, bahkan sebelum barisan terpecah, para murid mulai bernyanyi lagi. Dimulai dari belakang barisan mengalir ke arah Ziyu, Nina, dan aku seperti bau badan musim panas di kereta. Selama mereka tidak menjerit-jerit, aku tidak akan menegur. Aku kan bukan nenek sihir jahat. Aku guru yang sportif dan sabar, hangat dan berhati besar.
Begitu duduk di bangku kayu yang mengelilingi atap tempat bermain, kubuka bungkus biskuit dan kubagi-bagikan, dua untuk setiap murid. Krystal memakan keduanya saat itu juga. Nina membagikan sebagian besar jatahnya pada anjing imajinasinya. Ziyu mematahkan kue itu tepat di tengah, sama sepertiku kalau sedang memakan karbohidrat.
Aku menawarkan biskuit itu pada Chanyeol yang menerimanya dengan gembira.
"Kenapa hanya makan satu?" tanya Chanyeol.
Aku mengedikkan bahu. "Terlalu banyak gula," kataku seakan aku membenci gula.
"Jangan bilang kau sedang diet."
"Memang kenapa?" Aku menatap Chanyeol, yang terlihat tak sabaran denganku.
"Kau tampak hebat," katanya, menunjuk tubuhku.
Aku mulai nyengir meski tak ingin. Aku tampak hebat? Aku ingin bertanya pada Chanyeol, mana yang kelihatan hebat. Bagian mana khususnya dari tubuhku yang terlihat hebat? Atau yang tidak terlalu spesifik, mana yang tampak hebat secara keseluruhan?
Chanyeol melanjutkan, "Maksudku, berapa banyak lagi yang mau kauturunkan? Asal kau tahu, media itu jahat. Aku tak memahami para wanita sekarang. Jangan bilang kau menganggap anoreksia itu indah, guru Byun."
"Aku bukan mau menyamai Jun Jihyun, kalau itu yang kau maksud. Tapi mungkin aku ingin seperti... Oh, entahlah. Lagipula, ini bukan diet. Ini Bonz."
"Bones? Tulang? Apa mereka menyuruhmu menguyah tulang seharian?"
Aku memikirkannya sejenak dan membayangkan apakah ada wanita yang benar-benar melakukan ini, dan apakah aku termasuk salah satu dari mereka.
"Lucu. Tidak, itu nama ahli gizi terkenal, Josef Bonz. Dari pegunungan Alpen di Swiss, yang menghabiskan bertahun-tahun menyempurnakan dietnya."
"Jadi apa saja yang boleh dimakan?"
Kalau Chanyeol tahu aku tidak boleh makan karbohidrat selain kentang rebus seukuran buah anggur, mungkin dia akan tertawa sampai terguling-guling. Aku menghindar dan berkata, "Jennifer Anniston mengikuti diet itu selama kurang-lebih setahun, dan lihatlah dia. Dia terlihat hebat."
"Aku suka Jennifer Anniston. Dia..."
"Seksi?"
"Seksi. Ya." Chanyeol mengangguk antusias, seakan dia pernah seranjang dengannya. Dasar genit.
"Kau butuh tisu?" tanyaku.
"Untuk apa?"
"Untuk menyeka air liur dari dagumu."
"Tidak." Chanyeol nyengir, pura-pura menyeka air liur dari dagunya dan menunjukku dengan biskuitnya. "Kau yakin tidak mau lagi?"
Aku berpaling. "Tidak, terima kasih," kataku penuh harga diri.
"Oke," katanya dengan nada meledek, seakan aku tak tahu apa yang kulewatkan, lalu mendesah bahagia saat mulai menguyah biskuitnya. Aku memutar bola mataku melihat tingkah kekanak-kanakkannya.
.
.
.
Di ambang pintu, kelas tiga asuhan Huang Zitao memasuki arena. Zitao semacam selebriti di Seoul Select Academy (SSA). Adiknya adalah seorang model dan bintang film terkenal. Jadi, Zitao sesekali akan muncul di setiap acara yang dihadiri adiknya. Seperti di acara pemutaran film perdana, acara amal, atau pembukaan restoran.
Asisten Zitao mulai membagikan kue kepada seisi kelas, sementara Zitao mendekati Chanyeol dan aku, dengan potongan rambut baru modis dan memamerkan tubuhnya tinggi langsingnya yang berbalut busana mahal. Aku menekan erangan iriku.
"Pasti pagi ini mengerikan," ujarku pada Chanyeol, ingin mengganti topik pembicaraan dengan yang lebih beradab.
"Apa yang mengerikan?" tanya Zitao, menyusup di celah lima belas senti antara aku dan Chanyeol di bangku, lalu menghadap Chanyeol, menyisakan pemandangan punggung berbalut jaket kulit untukku.
"Aku Huang Zitao," katanya.
"Park Chanyeol."
Kuduga mereka bersalaman.
"Jadi apa yang mengerikan?" tanya Zitao.
"Chanyeol dirampok pagi tadi," kataku berusaha ikut dalam pembicaraan.
"Oh Tuhan, ngerinya. Kau baik-baik saja?" tanya Zitao, memperlihatkan kepedulian yang lebih besar dalam lima detik daripada yang telah kutunjukkan sepanjang hari.
"Ya, aku baik-baik saja. Thanks," kata Chanyeol.
Zitao mencondongkan tubuh dan berteriak pada Taeoh, "Hei nak, tidak bisakah kau tidak menari-nari seperti monyet begitu?" Lalu dia melempar pandangan padaku dan bertanya, "Apa yang kauajarkan pada mereka, Baekhyun?"
Chanyeol menatapku, alisnya berkerut penuh tanya, dan aku membalas pandangan Chanyeol dengan gerak-gerik yang mengatakan aku tidak tahu apa-apa.
"Wow, jadi apa yang terjadi?" tanya Zitao, perhatiannya kembali pada Chanyeol.
"Dia sedang menyebrangi taman dan dua orang menyerangnya," kataku, lebih judes daripada yang kumaksud.
"Kau pasti takut sekali," kata Zitao.
Aku hanya bisa membayangkan ekspresi Zitao, karena yang kulihat hanya belakang kepalanya.
"Oh, ya... memang sialan," kata Chanyeol. Untung anak-anak lebih dari enam meter jauhnya dan berteriak sekencang-kencangnya, kalau tidak, mereka akan mendengar Chanyeol menggunakan umpatan S.
"Seperti apa rasanya? Maksudku, aku pasti akan terpaku diam," kata Zitao.
"Well, ya—"
"Apakah mereka melukaimu, Chanyeol?" sela Zitao, dan kugunakan kesempatan ini untuk memutar bola mataku begitu kuatnya sampai kepalaku terentak ke belakang.
"Mereka mengambil tiga puluh tujuh ribu won, " kataku.
Chanyeol berkata, "Ya, itu tidak terlalu—"
"Kau sungguh berani," kata Zitao. "Aku tak percaya kau masih bisa kerja setelah peristiwa traumatis seperti itu. Aku pasti tidak."
Sambil menekankan jari ke lubang mataku, kuputuskan aku sudah cukup mendengar semua ini.
Chanyeol berkata, "Uh, terima kasih, tapi sungguh—"
"Tidak ada polisi di sekitar situ, Chanyeol?"
"Kita harus pergi sekarang," kataku, mengakhiri sandiwara ini. Aku berdiri menegaskannya. Lalu aku berteriak, "Kelas satu, saatnya berbaris!"
"Bye," kata Chanyeol pada Zitao. "Senang bertemu denganmu."
"Bye, Chanyeol. Sungguh senang bertemu denganmu," katanya, melempar senyum menggodanya.
.
.
.
Aku menahan kuap saat kami duduk di bangku batu halaman sekolah dengan beberapa anak terakir, menunggu dijemput orangtua mereka. Aku membunyikan buku-buku jariku.
Ziyu dijemput sopirnya. Aku belum pernah bertemu pengemudi limusin sungguhan. Aku sudah biasa bertukar sapa dengan pengasuh murid-muridku. Ini pertama kalinya aku berusan dengan seorang sopir limusin. Sungguh menyegarkan.
Pengasuh Krystal mendekati kami. "Bye, Krystal—oh, tunggu, kau sudah menjabat tanganku?" Peraturannya, anak-anak belum resmi bubar sampai mereka menjabat tangan salah satu dari kami. Krystal meloncat ke arahku dan mengguncang tanganku dua kali, lalu berlari meninggalkan si pengasuh yang harus mengejarnya dengan panik. Aku bertukar pandang dengan Chanyeol dan tersenyum serempak karena bukan kami yang harus mengejar Krystal.
"Oke, musik apa yang kaumainkan?" tanyaku. Setelah Zitao tidak ada di sini, mungkin aku bisa sedikit bersopan santun dengan pria ini.
"Pop, kebanyakan. Sedikit Electro Pop."
"Oh," sahutku. Hanya itu respon terbaik yang bisa kutunjukkan padanya.
"Hei, kau harus menonton kami kapan-kapan." Chanyeol merogoh kantong belakangnya, mengeluarkan kartu pos yang sedikit melengkung, dan menyerahkannya padaku. Kurasa aku menjadi kolektor kertas berbentuk lengkungan bokong.
"Terima kasih." Kartu pos itu tipis, dicetak di atas kertas Kinko's warna oranye neon. Di belakang kartu terdapat nama band Chanyeol, Spur. Mereka bermain pada bulan Oktober di suatu tempat di Myungdong bernama Black Pearl. "Aku akan berusaha datang," kataku, melipat kartu itu.
"Bagaimana ceritanya sampai kau menerjuni dunia mengajar?" tanyaku.
"Kudengar pekerjaan ini cocok untuk seniman yang sedang berjuang. Aku sudah mencoba menjadi bartender, tapi aku benci jam kerjanya, dan asap rokok. Tapi ini pekerjaan bagus."
Aku mengangguk setuju. Ada banyak aktor, penulis, pelukis, dan musisi di tempat kami. Lebih baik daripada menjadi pelayan restoran.; kau bisa berpakaian sesukamu dan mendapat asuransi kesehatan.
Saat anak terakhir sudah dijemput ibunya dan masuk ke dalam mobil Ford mereka, kusadari bahwa Chanyeol tak punya uang sepeser pun. "Dengar," kataku. "Kalau kau butuh uang, mungkin untuk kereta atau makan malam—"
"Aku tidak dirampok," katanya perlahan.
Aku menatap Chanyeol. "Apa?"
"Maafkan aku, aku berbohong. Aku tidak dirampok. Tidak ada perampok. Aku punya cukup uang untuk pulang. Tapi terima kasih untuk penawaranmu. Aku sangat menghargainya."
"Kau berbohong? Padaku? Pada anak-anak? Pada hari pertama?" Ini keterlaluan. "Kau ini apa? Bandar narkoba?"
"Bandar narkoba... Mungkin itu akan menjadi karirku selanjutnya..." Chanyeol pura-pura memikirkan potensinya dalam dunia kriminal.
"Well?" tanyaku, tak sabar. "Kau bisa berhenti bercanda?"
"Maaf. Kau benar. Sebetulnya aku tadi terlambat pada hari pertama. Kau tau bagaimana keadaannya, kan?"
"Aku tidak tahu bagaimana keadaannya," kataku, mengangkat tangan membentuk tanda kutip. "Kalau-kalau kau tidak memerhatikan, aku sudah di sekolah sejak setengah sembilan pagi. Oh ya, kau pasti tidak tahu. Kau kan baru datang—jam berapa tadi, setengah sepuluh?"
"Ya ampun, memangnya aku merampokmu? Aku sudah jujur. Kupikir kau akan sedikit berempati."
"Oh, jadi aku harus memberimu hadiah, begitu?"
"Bukan, maksudku—"
"Guru Park, berapa umurmu?"
"Apa hubungannya?"
"Dua tiga? Dua empat?"
"Dua lima. Tapi kenapa—"
"Karena begitulah logika ngawur kekanak-kanakkan yang digunakan prang berusia dua puluhan." Aku menggeleng tak percaya. Kris benar-benar keliru kali ini. "Kau tahu, aku dapat melaporkanmu pada Kepala Sekolah. Dia mungkin akan memecatmu."
Aku mulai menggertak. Selama lima tahun aku bekerja di sini, bahkan asistenku bermulut kotor tak pernah dipecat. Mereka hanya memindahkannya ke perpustakaan dan memberiku asisten sementara.
Aku tak tahu apakah Chanyeol bisa dipecat gara-gara ini, dan aku tidak yakin mau tahu. Barangkali Kris hanya akan menyebutku tukang ngadu. Dan anak-anak tak kan pernah memaafkanku. Aku bisa menangisi ketidakadilan ini.
"Dengar," kata Chanyeol. "Apakah akan lebih baik kalau kau tahu bahwa aku ada pertunjukan semalam dan baru pulang jam lima pagi, terkunci di luar apartemenku dan harus tidur di lorong?"
"Kau tidak bohong?"
"Tidak. Itu yang sesungguhnya terjadi, sumpah mati."
"Orang masih suka bilang begitu?"
"Aku baru saja mengatakannya."
"Itu sungguh tak bertanggung jawab. Itu sangat... sangat... seperti anak kuliahan. Maksudku, bagaimana aku bisa tahu kau tidak berbohong tentang ini juga?"
"Cium ini," kata Chanyeol, lalu menyodorkan lengan jaketnya. Bau asap rokok dan bar murahan.
"Kau tidak punya temans ekamar yang bisa membukakan pintu? Atau kekasih?" Kenapa aku menambahkan bagian terakhir itu? Apa yang sedang kulakukan, mengorek-ngorek?
"Tidak, aku tinggal di apartemen studio mungil di Hongdae. Dan itu satu hal lagi. Naik kereta ke sini makan waktu lama."
"Apakah ini waktu bagiku untuk bersimpati padamu?"
"Tidak, kau benar. Kau memang benar dan aku memang salah. Dengar, guru Byun, aku benar-benar menyesal."
Aku tidak tahu kenapa, tapi saat dia menyebut margaku seperti itu, pahaku tergelitik. Kuusap-usap tungkaiku.
"Jadi, bagaimaan kau akan masuk ke apartemenmu malam ini?" tanyaku.
"Aku punya teman yang bekerja di bar. Dia punya kunci cadangannya."
"Beruntung sekali," kataku.
"Ya, dia memberi makan kucingku kalau aku pergi tur."
Musisi tukang bohong yang mempunyai kucing? Pria ini benar-benar misteri.
"Tunggu dulu," kataku, mendadak waswas. "Kau tidak punya rencana tur selama mengajar, kan?"
"Tidak. Sekarang sedang sepi. Aku mungkin akan ke Jepang saat libur natal, tapi tidak akan membiarkan musik mengacaukan pekerjaan lagi, aku janji. Lagipula, aku suka anak-anak itu."
Aku mengerang tak tertahankan. Rasanya seperti perjodohan yang paling buruk.
"Guru Byun," kata Chanyeol, "tatap mataku." Aku berpaling dan menatap matanya. Mata dua puluh lima tahun yang kecoklatan, pipi dua puluh lima tahun sedikit perlu dicukur, rambut cokelat dua puluh lima tahun yang kusut. Aku tak menyukai apa yang kulihat. Semuanya terlalu muda dan nekat.
Mulut si dua puluh lima tahun mulai bergerak dan berkata pelan, "Aku tidak akan membiarkan ini terjadi lagi. Besok pagi, kau akan melihat wajah ini jam setengah sembilan, juga setiap pagi setelahnya. Aku berkata jujur karena aku bisa melihat kau orang baik, dan dalam hati kau tahu aku ini orang macam apa, dan berbohong adalah cara yang buruk untuk memulai tahun ajaran, untuk kita semua, jadi..."
Mulut Chanyeol bergerak lagi, kali ini membentuk senyum memikat yang membuatku sebal. Kupalingkan wajah dan aku menarik napas. "Mungkin sebaiknya kau mengalungkan kuncimu di leher," saranku.
Chanyeol tertawa.
"Aku serius," kataku.
"Aku tahu," sahutnya.
.
.
.
TBC
.
.
.
Well, here is chapter 2, yeorobun...
Hope you guys enjoy ^_^
Makasih berat loh buat yang udah review, fav, dan follow... bikin aku semangat buat nge-remake.
Jangan lupa meninggalkan review, fav, and follow ya... *wink*
See ya all!
