Author : Rating T karena jalannya cerita agak sadis dan kejam. Karena setting berlatarkan perang. Dari chapter 2 inilah, cerita ini dimulai. Enjoy!

Disclaimer : Harry Potter tentu saja adalah karya original JK Rowling. Sedangkan The Brotherhood dalam cerita ini hanyalah milik Author semata. Tak ada penyihir atau sihir dalam cerita ini!

Chapter 2 : James, Albus, dan Lily

London, 9 Juli 1940

Saat itu dunia tengah dilanda peperangan akibat nafsu serakah manusia yang menginginkan kekuasaan. Ultranasionalisme menjadi penyakit paling berbahaya yang kini menyerang ketiga negara, yaitu Jerman, Italia, dan Jepang. Ketiga negara berambisi ingin menjadi penguasa dunia yang paling ditakuti dan disegani. Ambisi dan keserakahan mereka mengakibatkan kesengsaraan dan penderitaan yang meluas. Banyak manusia harus meregang nyawa akibat tindakan brutal ketiga negara ini. Adolf Hitler adalah salah satunya. Pemimpin Tertinggi Nazi Jerman ini sangat ambisius dan terobsesi dengan ras Arya yang diagung-agungkannya. Dia menginginkan Jerman menjadi penguasa penuh daratan Eropa. Untuk mewujudkan hal tersebut, dia memerintahkan para jenderalnya untuk mengirim tentara menyerang Polandia pada tanggal 1 September 1939 yang dikenal dengan nama blietz-krig. Pasca pendudukan Polandia, Jerman mulai melancarkan invasi ke negara-negara Eropa lainnya dengan dibantu oleh Italia. Perbuatan Jerman dikecam oleh Inggris dan para sekutunya. Mereka mengangkat senjata untuk melawan Jerman dan Italia. Mereka segera mengirim para pasukannya untuk menghadapi Nazi Jerman. Para pemuda di Inggris pun turut serta mendaftarkan dirinya untuk bergabung dengan militer. Mereka bertekad bulat untuk melindungi keluarga dan tanah air mereka. Pertempuran pun pecah dan berlangsung dengan sengit di berbagai pelosok daratan Eropa.

Suasana London siang itu cukup cerah dan sejuk. Orang-orang ramai berseliweran. Para pedagang dan penjaja koran sibuk menjajakan dagangan mereka. Anak-anak berkejar-kejaran dengan riang. Ibu-ibu asyik berbelanja dan mengobrol, sementara itu bapak-bapak bertampang serius tengah menekuni pekerjaan mereka di kantor-kantor. Tak jauh dari situ, ada seorang pemuda dan seorang gadis berjalan berdua dengan akrab. Wajah mereka nampak berseri-seri meski pakaian mereka agak lusuh. Sang pemuda berambut hitam dan bermata coklat, agak tinggi, dengan umur sekitar 23 tahun. Sedangkan sang gadis, berambut merah dan bermata coklat seperti kakaknya. Rambutnya dikuncir kuda dan wajahnya sangat cantik. Mereka sedang asyik mengobrol. Namun tak lama kemudian, langkah sang pemuda berhenti begitu saja. Kepalanya seperti tengah berkonsentrasi dan telinganya mulai ditegakkan. Sang gadis cuma memandangnya dengan bingung. Alis matanya berkerut. Lalu terdengar suara samar-samar dari belakang mereka, "Shoeshine…"

Gadis itu hendak membuka mulutnya untuk bicara namun sang pemuda menyuruhnya diam.

"Shoeshine….."

"Shoeshine.,…."

Akhirnya sang pemuda tersenyum sendiri dan berbalik arah. Dia melihat sosok pemuda lainnya yang berdiri di belakang mereka berdua. Mulutnya nyengir jahil. Rambutnya hitam dan agak berantakan. Bola matanya hijau. "Shoeshine….!"

"Tunggu, Albus!" Pemuda itu lantas mengejar orang yang dipanggilnya Albus itu diikuti oleh gadis di belakangnya. Mereka tertawa ketika melakukan aksi pengejaran. Nampaknya bertekad sekali ingin menangkap pemuda bernama Albus itu. "Albus, tunggu kau!"

"Albus!"

"Coba tangkap aku, James!"

Mereka masih saja terus berlari sampai akhirnya pemuda bernama Albus itu tertangkap oleh pemuda bermata coklat yang dipanggilnya James. Mereka saling menggelitiki penuh canda dan tawa bahagia. James Sirius Potter, Albus Severus Potter dan Lily Luna Potter, pasangan kakak beradik keluarga Potter yang paling kocak, kompak, dan bahagia.

Mereka masih terus tertawa dan berlarian sampai tiba tepat di depan toko sepatu. Nafas mereka terengah-engah. James dan Albus masih saling lirik dengan nyengir penuh kejahilan. Hanya Lily yang tidak. Dia menatap etalase toko. Kelihatan terpesona sekali. Gadis berusia 18 tahun itu lalu menarik kerah baju James, "Sepatunya cantik, ya?"

"Hm?" James tidak konsentrasi mendengarkan. Dia masih sibuk menggelitiki Albus yang terus mengelak dirinya.

"James! Dengar tidak?"

"Kenapa, Lily?" akhirnya James fokus sepenuhnya kepada Lily. Dia menatap adik perempuannya dengan tatapan sayang. Raut muka Lily agak sebal karena sempat dicuekin tapi segera hilang lagi. Tangannya segera menunjuk ke etalase toko di depannya. "Lihat sepatu itu?"

"Kenapa dengan sepatu itu?" tanya James ingin tahu. Dia menoleh ke arah yang ditunjukkan Lily kepadanya. Albus mengikuti.

Sepasang sepatu yang cantik dipajang di depan etalase toko. Sangat serasi sekali. Baru dan mengkilap. Lily tersenyum sumringah dengan tatapan mata harap. Albus tidak bereaksi apapun. Hanya James yang lagi-lagi tertawa. Dia menahan tawa sampai rasanya rusuk sakit kaena tertekan. "James, jangan tertawa!" ujar Lily, merajuk.

"Kau menginginkannya, Lily?" tanya James.

Lily mengangguk. "Cantik sekali. Andaikan kita punya cukup uang untuk membelinya."

"Mana sanggup kita punya uang sebanyak itu, Lily. Tahu sendirilah keluarga kita," timpal Albus.

"Tapi aku ingin punya sepatu baru. Aku malu kalau punya sepatu jelek pada saat masuk Oxford nanti!" Kepala Lily tertunduk malu. James tertawa lagi dan Albus menggeleng-geleng. Mereka sudah paham watak adiknya yang satu ini. Lily terkadang selalu merajuk apabila menginginkan sesuatu. Namun mereka bangga Lily juga mampu hidup tegar setelah sekian lamanya keluarga mereka hidup dalam kemiskinan. James memeluk adiknya dan mengajaknya berjalan meninggalkan toko itu.

"Lily, aku janji akan membuat sepatu yang lebih bagus daripada sepatu itu, bagaimana?"

"Benarkah?" Lily mendongak. Wajahnya mulai ceria.

"Tentu saja, kalau tidak untuk apa aku susah-susah bekerja sebagai pengrajin sepatu untuk kalian berdua?" James tersenyum memandang kedua adiknya. "Semenjak Dad meninggal, aku rela membanting tulang untuk menghidupi keluarga kita. Bahkan aku pun siap sedia mengorbankan sekolah dan kuliahku demi kalian."

"Tapi, mengapa? Mengapa hanya aku dan Albus saja yang kuliah sedangkan kau tidak?"

"Lily, aku adalah kakak kalian. Aku yang paling tua di keluarga ini. Aku merasa bertanggung jawab untuk menafkahi keluarga kita bahkan semenjak Mum sakit-sakitan. Kita harus membantu Mum, kan?"

Lily dan Albus hanya diam saja tidak menanggapi. James tersenyum memandang keduanya. Kedua tangannya disampirkan untuk merangkul pundak mereka berdua. James Potter, semenjak ayah mereka Harry meninggal karena penyakit jantung yang dideritanya, dia terpaksa harus meninggalkan sekolahnya di Eton dan rela membanting tulang menjadi pengrajin sepatu untuk menghidupi keluarganya. Ibu mereka, Ginny, sebenarnya tidak rela jika James harus putus sekolah. Namun kekerasan hati dan kebulatan tekadnya tetap terus membaja. Dia tidak ingin keluarganya hidup terlunta-lunta. Dia hanya ingin Albus dan Lily hidup bahagia.

Keluarga ibu mereka, Weasley sebenarnya ingin sekali membantu keluarga Potter. Paman Ron dan Bibi Hermione bisa saja menafkahi ketiga anak Harry, namun lagi-lagi James menolak. Dia tidak ingin kedua adiknya terlalu tergantung kepada orang lain tanpa mampu menghidupi diri sendiri. James tidak menginginkan hal itu. James akhirnya mampu menghidupi keluarganya secara mandiri meski dengan penghasilan apa adanya. Dia berganti aneka pekerjaan sampai akhirnya kini menjadi pengrajin sepatu. Sisa warisan ayahnya pun dimanfaatkan untuk memodali usaha dan membiayai sekolah adik-adiknya. Namun semenjak Ginny jatuh sakit, James akhirnya mati-matian bekerja untuk membiayai pengobatan ibunya. Keteguhan dan keuletan James akhirnya menjadi kebanggaan keluarga Potter.

Mereka masih terus berjalan kaki sampai ada seorang anak penjual es krim berteriak-teriak menjajakan dagangannya. James melepaskan rangkulannya dan bergegas menghampiri anak itu. Dia memesan dua es krim batangan. Anak itu cuma memandang mereka bertiga dengan heran, begitu juga dengan Albus dan Lily. Padahal seharusnya James membeli tiga bukan dua. Tapi dia cuma tersenyum. Dia membayar dua es krim tersebut dan menyerahkannya kepada Lily dan Albus. "Untuk kalian."

"Kau?" tanya Albus.

James menggeleng seraya tersenyum lagi. "Tidak, karena itu hadiah untuk kalian. Hadiah untuk Albus karena prestasimu yang luar biasa semester lalu di Cambridge dan Lily yang akan masuk Oxford tahun ini!"

Muka Albus memerah, dia segera memakan es krimnya. Hanya Lily yang tidak. Dia masih memandang kakaknya. "Lily, ayo dimakan, nanti meleleh."

Lily menyodorkan es krimnya ke mulut James. Dengan enggan James menjauhi sodoran Lily. "Kenapa?"

"James, kau juga harus memakannya. Karena kau adalah pahlawan kami!"

"Tidak Lily, jangan berlebihan. Kau makan sajalah, kalau kau tidak makan, nanti tidak akan kubuatkan sepatu untukmu, lho…"

"James!" seru Lily merajuk. James nyengir jahil lagi. Dia mencomot es krim Lily dan memakannya. Lily yang tidak siap dengan aksi James barusan langsung sadar. Bersama Albus mereka mengejar James untuk merebut kembali es krim itu dengan penuh tawa.

Malam itu, seluruh keluarga Potter berkumpul. Mereka juga ditemani oleh Ron, Hermione dan kedua anak mereka, Rose dan Hugo. Sementara kedua anak mereka sedang bermain dengan James, Albus dan Lily, Ron dan Hermione menemani Ginny yang sedang merapikan baju-baju yang akan diserahkan kepada para pelanggannya esok hari. Ron dan Hermione memandang iba kepada Ginny. Setelah Harry meninggal, perekonomian keluarga mereka turun drastis. Terkena beban hutang sana-sini mengakibatkan keluarga Potter yang dulunya kaya raya harus jatuh miskin dan tinggal di rumah yang kecil dan sederhana di pinggiran kawasan kumuh Kota London. Hanya keluarga Weasley yang masih peduli dengan nasib keluarga Potter. Mereka ingin memberi dengan sejumlah uang dan kebutuhan sehari-hari bagi kerabat mereka, namun penolakan James yang bersikeras ingin keluarganya hidup mandiri membuat keluarga Potter tidak terlalu hidup bergantung pada uang dan belas kasihan orang lain. Ginny masih terus merapikan baju-baju itu, diselingi batuk-batuk yang menyesaki dadanya. Dia menutupi lehernya dengan syal. Hermione turun tangan membantunya.

"Ginny, sampai kapan kau akan terus menjahit seperti ini. Kau sakit-sakitan dan kau tetap saja menerima pesanan jahitan? Kau adikku, Ginny. Aku ingin membantumu," kata Ron.

Ginny cuma tersenyum sementara tangannya masih sibuk merapikan tumpukan baju yang berantakan. Ron tetap melanjutkan, "Aku dan Hermione siap mengurus pengobatanmu dan menafkahi anak-anakmu. Kami tidak minta apa-apa, Ginny. Kami kan saudara dan sahabat suamimu. Sudah sepantasnya kita saling membantu kalau ada yang kesusahan. Apalagi di tengah perang seperti ini…"

"Ron," kata Ginny dengan suara serak. "Aku tidak keberatan. Tapi kau tahulah James bagaimana. Dia tidak akan mau menerimanya. Dia ingin keluarga kami hidup mandiri."

"Anak keras kepala," kata Ron sedikit kesal. "Apa susahnya mau mendengar pamannya sekali ini saja?"

"James itu seperti Harry. Wataknya yang keras dan mandiri rasanya menurun dari Harry. Tidak tergantung kepada orang lain, selalu peduli atas sesama dan mandiri. Itulah yang kukagumi dari James," timpal Hermione halus. "Aku cukup salut dengan James, dia tidak pernah mengeluh. Buktinya, Albus dan Lily mampu mencapai prestasi mereka kan? Albus meraih nilai terbaik dalam semesternya yang lalu di Cambridge dan Lily yang akhirnya akan masuk Oxford tahun ini."

"Aku tidak menyangkal itu, Hermione," kata Ron. "Tapi cobalah lihat keadaan Ginny sekarang. Cobalah realistis, tidak selamanya James mampu mengatasi masalah keluarganya seorang diri kan? Dia pasti akan butuh orang lain suatu saat. Pasti akan butuh kita!"

"Aku mengerti, Ron. Tapi…."

Suara batuk dan derit pintu yang terbuka memotong pembicaraan mereka. Seorang gadis cantik memasuki ruangan. Dia tersenyum ramah kepada Ginny, Ron dan Hermione. Kedua tangannya tengah memegangi kantong plastik yang besar. "Selamat malam, Mrs Potter, Mr Weasley dan Mrs Weasley."

"Selamat malam, Alice. Bagaimana belanjanya?" Ginny tersenyum kecil. Dia berdiri dan menghampiri gadis yang bernama Alice itu.

"Ini, semuanya ada di sini. Tapi….."

"Tapi apa, Alice?" kata Ginny ingin tahu seraya mengambil kantong plastik besar yang diserahkan oleh Alice.

"Mrs Potter, apakah Anda tidak apa-apa memasak semua ini untuk besok pagi? Anda sedang sakit," kata Alice. Ginny tersenyum memandang Alice. "Tak usah kuatirkan diriku, Alice. Terima kasih, ya."

"Mrs Potter…!"

"Ah, bagaimana kabar Neville ayahmu?"

Alice terdiam. Raut mukanya terlihat sendu. Ginny sadar atas apa yang ia ucapkan barusan. "Ah, maafkan aku, sayang. Tidak seharusnya aku bertanya demikian."

Alice menatap Ginny sambil tersenyum kecil. Dia menggeleng-geleng. "Tidak apa-apa, Mrs Potter. Baru saja Dad mengirim kami telegram. Dia masih di Paris. Agaknya perang semakin dahsyat dan kemungkinan Nazi akan menyerang Inggris…"

"Benarkah itu, Alice?" tanya Ron dengan terkejut. Hermione menekap mulutnya tidak percaya. Ginny tertegun.

"Tapi kuharap, kita akan baik-baik saja. Jerman tidak akan berani menyerang negara kita. Bukankah tentara kita paling kuat?" ujar Alice.

"Mereka sudah menyerbu Belanda dan Belgia. Nasib kita sudah di ujung tanduk. Jerman bajingan!" rutuk Ron.

"Ron!" tegur Hermione pelan.

"Kau tidak lihat, Hermione? Mereka sudah mengancam untuk membunuh keluarga kita. Nyawa kita, harta dan semuanya? Sial, apa mau mereka sebenarnya?"

Hermione memilih diam dan tidak berkata apa-apa. Sementara itu Ron masih memasang muka kemarahan. Ginny tetap termangu. Kemudian Alice meraih tangan Ginny, "Mrs Potter, dimana James?"

Ginny tersenyum, "Kamu ingin bertemu tunanganmu ya?"

Pipi Alice memerah, "Bu, bukan begitu….."

"James sedang di gudang. Biar belanjaan ini kubawa ke dapur bersama Hermione. Ron tolong temani anak-anak di ruang makan ya?" kata Ginny. Ron mengangguk dan beranjak pergi dari ruangan itu sedangkan Hermione menggenggam kantong plastik yang diberikan oleh Ginny. Baru saja mereka hendak pergi ke dapur tatkala Alice menghentikan langkah mereka, "Biar kubantu?"

Ginny menggeleng, "Tidak usah. Kamu temui saja tunanganmu."

"Kami, kami belum tunangan…!" Muka Alice memerah. "Kami hanya….."

"Sangat mengerti, Alice," Ginny tersenyum. Sambil menemani Hermione, mereka berdua pergi ke dapur meninggalkan Alice yang masih tertunduk malu.

James masih berkutat dengan kotak-kotak sepatu buatannya di gudang. Dia kelihatan serius menata barang-barangnya tanpa menyadari kehadiran seseorang di belakangnya. Orang itu lantas menutup matanya dengan kedua tangan. "Tebak siapa?"

"Alice, kau bikin kaget saja," James meraih kedua tangan Alice dan berbalik badan, menatap kekasihnya yang sedang tersenyum jahil. Bibirnya terlihat menggoda. Malam ini ia cantik sekali. James sempat terpana lalu sadar lagi. "Sejak kapan kau sampai?"

"Lima belas menit lalu, baru saja mengantarkan bahan belanja untuk ibumu," jawab Alice.

"Ooo….."

"James, aku kangen…." kata Alice seraya mengecup pipi James.

"Aku juga," kata James tersenyum kecil. "Tapi aku lebih kangen sama sepatu-sepatuku."

"James…!" raut muka Alice langsung merajuk. Pipinya terlihat merah. James langsung tertawa jahil lagi. "Hahaha, kamu cantik sekali kalau ngambek begitu, Alice….!"

"Kamu curang!"

"Lho, curang bagaimana?"

"Selalu saja mengerjaiku dengan tindakan tak terduga."

"Justru, itu sebagai tanda kasih sayang ku kepadamu," rayu James dengan nada menggoda.

Alice langsung memukul pelan dada James, "Kamu tega! Padahal ayahku kini sedang berperang dan seluruh keluargaku mencemaskan dirinya sedangkan kamu selalu saja menjahiliku!"

Sambil tertawa kecil, James menangkap kedua tangan Alice dan menggenggamnya. "Alice, aku sangat mencintaimu. Aku berjanji akan selalu ada di sisimu dan selalu berharap semoga perang cepat selesai agar kita segera menikah…."

"Benarkah?" Alice menatap wajah kekasihnya dengan tatapan sedih. James tersenyum dan mengangguk.

"Kalau begitu, berikan aku satu bukti bahwa kau akan selalu ada di sisiku dan tidak akan pernah meninggalkanku."

"Bukti?" tanya James.

Alice mengangguk. James tersenyum memandangnya. Dia mendekati wajah Alice dan menempelkan bibirnya ke bibir Alice. Mereka langsung berciuman. Rasa sensasi hangat menjalari tubuh mereka. Beberapa saat kemudian mereka melepas kembali ciuman mesra itu. James dan Alice saling tersenyum. Mata mereka bertatapan sampai suara deham mengagetkan mereka. Mereka melihat Lily, Albus, Hugo dan Rose nyengir melihat adegan ciuman mereka berdua. Wajah James dan Alice langsung memerah. Hanya Alice yang tertunduk malu namun James tidak. Bukan James namanya kalau ia tidak membalas ledekan jahil kedua adik dan sepupunya. Mereka tertawa penuh canda di gudang malam itu. Malam yang indah menyelimuti kebahagiaan para penghuni rumah keluarga Potter.