Naruto by Masashi Kishimoto

White Death Angel by Ren Ichizuki

Chapter 2


Sinar matahari pagi yang masuk melalui celah-celah ventilasi kamar mengusik tidur seorang pemuda berambut coklat gelap. Dengan malas, pemuda itu bangkit dari tidurnya dan mengerjapkan matanya pelan. Dan mata kecubungnya langsung terbelalak lebar saat mengingat sesuatu.

Tubuhnya langsung ia tegakkan mengingat kejadian semalam, dan keringat dingin kembali membanjiri tubuh tegapnya.

"Mimpikah?" ia bertanya bingung entah pada siapa saat menyadari ia masih berada di kamarnya dengan tata letak kamar itu yang tak berubah sedikit pun. Ia pun menghembuskan napas lega setelah meyakini bahwa kejadian yang dialaminya malam sebelumnya hanyalah mimpi.

Namun semua kelegaan yang belum cukup semenit dirasakannya langsung menghilang saat menyadari pistol yang biasa ia letakkan di bawah bantal saat akan tidur tak berada di tempat seharusnya. Melainkan berada di atas meja dengan berkas yang sudah rapi.

Lagi, dirasanya bulu kuduknya berdiri. Dan ia langsung menoleh ke belakang saat dirasanya aura dingin yang ingin memeluknya.

"Neji~"

Pemuda bermabut coklat itu langsung berdiri tegap saat mendengar panggilan itu. Panggilan yang sebenarnya hanya dirasakan oleh pemikirannya yang kalut akan seseorang.

Tak ingin berlama-lama dalam kekalutan, ia pun segera bersiap-siap untuk berangkat ke kantornya.

_oOOO-_

Ichizuki Ren

_oOOOo_

"Kapten, anda terlihat kurang sehat. Apa anda baik-baik saja?" Ten Ten menyapa Neji yang memang terlihat pucat. Sedangkan Neji hanya menjawab dengan anggukan dan langsung meninggalkan wakilnya itu.

"Maaf kapten, semalam saya mencoba untuk menghubungi kapten untuk melaporkan kabar terbaru yang saya dapat mengenai Uzumaki Naruto atas perintah Naara-san, tetapi saya tidak bisa menghubungi kapten, baik di ponsel maupun telepon rumah," Ten Ten berujar lagi setelah berhasil mensejajari langkah Neji yang terbilang lebar.

"Pukul berapa kau menghubungiku?" tanya Neji.

"Sekitar pukul delapan malam."

Neji berhenti melangkah, begitu pula dengan Ten Ten. "Kapten?"

Lagi-lagi keringat dingin menguar dari tubuhnya, dan rasa takut kembali menyerang pemuda itu.

Pukul delapan malam, adalah saat ia di telepon oleh pemilik suara yang persis dengan Naruto. Dan setelahnya, telepon rumah bordering secara bersamaan, lalu suara tapak kaki, dan dia…

Semuanya bukan mimpi…

"Kapten? Anda baik-baik saja?"

Pertanyaan itu menyadarkan Neji. Dengan suara yang sedikit tergagap ia memerintahkan wakilnya itu untuk membuatkannya minuman, hanya agar gadis itu meninggalkannya sejenak.


"Kau datang juga, Hyuuga-san…"

Beruntung Neji adalah laki-laki, sehingga suara mendesah itu tidak membuatnya berteriak ketakutan. Neji mengerling kesal pada pemilik suara desahan khas ngantuk tersebut. Sang agen khusus Negara yang dimintanya untuk membantu penyelidikannya.

"Kau ini seperti mendengar suara hantu saja, Hyuuga-san," ucap Naara Shikamaru saat menangkap respon Neji yang sempat terpaku selama beberapa saat.

Neji mengambil tempat di sofa single di samping sofa panjang yang digunakan Shikamaru untuk tidur. "Saya rasa sikap anda yang sering muncul tiba-tiba di ruangan orang lain itu yang mirip hantu, Naara-san." Neji balas mengejek.

"Hm, terserah saja. Sebaiknya kita segera menyelesaikan kasus merepotkan ini," ucap Shikamaru yang malas berdebat.

"Apa bukti untuk mengungkap pelaku sudah cukup, Naara?" Neji bertanya masih dengan maksud mengejek agen yang terkenal dengan kemalasannya itu.

Shikamaru langsung bangun dari posisi berbaringnya, ekspresi malasnya telah hilang entah kemana, dan ia menatap tajam pada Neji. "Aku yakin kau pun sudah tahu siapa pelakunya, Hyuuga Neji."

"Kau-"

"Permisi kapten, saya membawakan minuman anda," ucap Ten Ten memotong perdebatan mereka berdua lalu meletakkan minuman yang ia bawa di depan Neji. Namun sebelum ia pergi, ia langsung dicegah oleh Neji yang telah pucat pasi.

"Siapa yang memberitahumu untuk membuat minuman ini?"


"Selamat datang Neji-nii," Hinata menyambut Neji dengan senyum lembutnya.

"Cepat sekali kau pulang?"

Hinata hanya tersenyum lalu berkata, "iya, aku khawatir dengan Neji-nii, makanya aku minta izin pada Hanabi untuk pulang cepat. Aku sudah memasak bubur ayam kesukaan Neji-nii, mandilah dulu setelah itu kita makan malam bersama."

Neji hanya mengangguk, dan segera menuju kamarnya untuk mandi. Setengah jam kemudia ia pun turun ke ruang makan dengan pakaian rumah. Di meja sudah tersaji bubur ayam kesukaan Neji dengan Hinata yang menunggunya. Neji pun segera duduk dan menikmati bubur buatan Hinata.

"Bagaimana? Enak?" Tanya Hinata lagi.

Neji tersenyum kecil, "ya. Membuatku merasa lebih baik setelah seharian memikirkan kasus itu."

"Kalau ayah tahu kita bicara di meja makan, tentu ayah akan menegur kita berdua ya? Hihi," Hinata tertawa kecil saat mengatakannya.

"Boneka yang menyerupai malaikat, tetapi sesungguhnya adalah boneka malaikat pencabut nyawa dan mawar putih itu merupakan simbol. Boneka adalah simbol si pelaku, sedangkan bunga adalah korban. Dua tangkai mawar putih yang kering, berarti korban yang sudah tewas. Sedangkan yang ternoda darah adalah korban yang dibunuh. Lalu mawar yang masih segar, merupakan korban selanjutnya. Dan itu berarti adalah kau, sesuai dengan yang dia katakan di telepon saat meneleponmu beberapa malam yang lalu. Benar?"

"Ya. Untung saja mereka sekarang ada di luar negeri," ucap Neji yang disetujui oleh Hinata dengan anggukan lembut.

"Warna putih, menunjukkan kelembutan dan kesucian. Yang lembut dan suci, bukankah itu mengarah pada sesuatu?"

"Maksudmu?"

"Pelaku menulis di kartu yang dia tinggalkan, dan juga yang dia katakan padamu 'Malaikat maut berjubah putih', berarti pelakunya kemungkinan besar adalah seorang wanita."

"Hinata, ada yang ingin aku tanyakan padamu," sahut Neji setelah cukup lama mereka terdiam.

"Jujur saja, ada satu kalimat di kartu ini yang membuatku mengingatmu, Hyuuga-san."

"Ada apa Neji-nii?"

"Kalimat 'Dengan mata hampa yang akan menjemputmu bukan ke surgawi'. 'Mata hampa'… Hyuuga dianugerahi mata putih bukan?"

"Maksudmu kau menuduhku sebagai pelakunya, Naara-san?"

"Tidak. Coba saja hubungkan yang tadi."

Warna putih yang menunjukkan kelembutan dan kesucian, kemungkinan besar adalah wanita.

'Mata hampa', mata Hyuuga.

Wanita dan Hyuuga….

"Apa kau yang membunuh mereka?" Neji bertanya secara langsung tanpa mengalihkan pandangannya pada Hinata.

"…."

"…."

"Kau mau menuduh Hinata-sama yang melakukannya? Hal itu sangat tidak mungkin. Melihat darah saja dia sudah pingsan. Apalagi membunuh! Terlebih satu dari korban adalah tunangannya! Sebaiknya hati-hati kalau kau ingin menyimpulkan, Naara!"

"Aku hanya membantu menganalisa bukti. Aku yakin kau pun sudah menaruh curiga padanya, mengingat kau termasuk yang terbaik di angkatanmu. Hanya saja, kau mengabaikan kemungkinan yang sudah kau pikirkan karena alasan-alasan sepele macam itu."

/

"Siapa yang memberitahumu untuk membuat minuman ini?"

"Ah, ini dari Hyuuga Hinata-san, adik kapten. Semalam dia menelepon saya untuk membuatkan minuman ini bila anda terlihat kurang sehat."

"…."

"Ah, iya saya ingat, masalah laporan tentang Uzumaki-san. Selain mengenal anda dan ketiga korban lainnya, ia juga memiliki hubungan khusus dengan adik sepupu anda."

/

"Hanabi? Ada apa?"

"Neji-nii, kenapa tidak ada yang menghadiri kunjungan rutinku? Kalian tidak sayang padaku lagi ya?"

"Ya, aku yang melakukannya…" suara Hinata yang berujar datar dan mengarahkan tatapannya lurus ke arah Neji, jelas membuat Neji terpaku tidak percaya pada apa yang ia dengar.

"Kau….. apa?"

Hinata melengkungkan bibirnya ke atas, tersenyum lembut sama seperti biasanya, namun di mata Neji senyum itu tidak lagi sama, senyum itu bagaikan senyum iblis. "Apakah agen Negara itu tidak memberitahumu semuanya, nii-san?" dia bertanya seraya mengambil sesuatu di lemari penyimpanan piring.

Sebuah kotak putih ia letakkan di atas meja, sementara Neji hanya bisa menatapnya dengan keringat dingin yang membanjiri wajahnya. Ia masih tidak percaya pada apa yang ia dengar dan kenyataan di hadapannya. Hyuuga Hinata, Hinata, adik sepupunya yang sangat lembut dan rapuh mengatakan dengan tenang bahwa dialah yang membunuh ketiga sahabat Neji. Dan salah seorang diantaranya adalah tunangannya sendiri.

"Boneka malaikat dengan mata biru dan membawa sabit malaikat maut," Hinata berujar dengan tetap mempertahankan intonasi suaranya yang lembut, "itu adalah simbol diriku, nii-san. Malaikat maut berjubah putih. Putih, lembut dan suci. Seperti gambaran diriku bagi orang-orang seperti kau dan mereka. Kau sering bilang saat kita masih kecil dulu, kau bilang aku adalah perlambangan seorang manusia berhati malaikat…"

"Rambut pirang dan mata biru dari boneka ini, tidakkah mengingatkanmu akan seseorang, Nii-san?" saat menanyakan hal itu, air mata telah luruh di wajah seorang Hinata. Sedangkan Neji dengan tercekat menyebut nama seseorang yang terlintas di matanya, "Na-ru-to?"

"Benar sekali nii-san. Naruto-kun. Naruto-ku. Malaikatku. Yang kau ambil dariku bersama mereka," ucap Hinata seraya memandang Neji dengan tatapan miris.

"Ingatkah kau nii-san, tiga tahun yang lalu di dalam gudang peralatan Konoha University, apa yang kau lakukan di sana bersama ketiga sahabatmu itu?"

Dan Neji seolah-olah tertarik kembali ke masa tiga tahun sebelum saat ini. Saat ia diundang oleh Sasuke ke KU.


Flashback

"Ada apa memanggilku Uchiha?" Neji yang kala itu baru saja menyelesaikan pendidikannya di akademi polisi bertanya dengan nada kesal pada Sasuke yang ia anggap mengganggu masa liburan yang sangat jarang ia dapatkan.

Sasuke hanya menyeringai kecil lalu mengajak Neji untuk mengikutinya ke salah satu gudang peralatan yang letaknya sangat terpencil dari universitas tersebut. "Kau masih ingat malaikat kecil kita semasa SMA?" Sasuke bertanya pada Neji sesaat setelah mereka sampai di depan gudang tersebut. Di mana Kiba dan Gaara sudah menunggunya.

"Maksudmu Naruto?" Tanya Neji penasaran.

"Ya, siapa lagi?" ucap Sasuke dan seringai di wajahnya semakin lebar saat ia membuka pintu gudang itu. Neji hanya bisa terpaku di depan pintu saat ia mendapati pemandangan yang memancing hasratnya. Di dalam gudang itu, telah terbaring sosok pemuda yang sudah ia taksir sejak awal masuk SMA dan dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Terbaring dalam keadaan tak berbusana dengan kedua tangan dan kaki terikat pada pasak yang ada pada masing-masing sisi tubuhnya. Dan mulut dibekap dengan lakban. Tubuh itu terus meronta-ronta dengan mata melotot pada mereka berempat.

Neji sudah menyukai Naruto sejak lama, namun ia tak pernah berani mengungkapkan perasaannya karena pemuda itu masih lurus. Beda dengan dirinya dan ketiga sahabatnya yang mengalami kelainan orientasi sexual.

Sasuke berjalan mendahului Neji yang masih terpaku di pintu. Ia membuka lakban di mulut Naruto dan dapat ia dengar teriakan marah pemuda berambut pirang itu. "Hei, apa-apaan kalian. Ini tidak lucu. Cepat lepaskan aku!"

"Diamlah dobe," ujar Sasuke dan membungkam mulut Naruto dengan bibirnya. Dan pemerkosaan itu pun terjadi.

Mereka berempat menggauli Naruto secara bersamaan hari itu. Tidak hanya menggauli secara bersamaan, mereka juga sempat menggilir Naruto beberapa kali. Hampir selama seharian itu mereka menikmati tubuhnya. Tak peduli pada rintihan kesakitan dan permohonan Naruto untuk melepaskan dirinya. Seolah mata mereka telah buta, dan telinga mereka telah tuli, mereka terus menggauli tubuh yang mengenaskan itu.

Setelah puas, mereka pun segera membersihkan tubuh Naruto untuk menghilangkan bukti berdasarkan instruksi dari Neji. Dan mereka meninggalkan gudang itu di malam hari dengan tawa puas.

Mereka tidak menyadari, bila seorang gadis berambut indigo menyaksikan semua perbuatan itu dengan hati yang remuk dan air mata yang membanjiri wajahnya. Perlahan, ia melangkahkan kaki ke arah tubuh yang telah lemas dan dalam keadaan mengenaskan itu. Ia memanggilnya dengan lirih bahkan hampir tak terdengar.

"Naruto-kun." Gadis itu tak sanggup untuk melangkah lebih jauh lagi saat ia melihat mata biru itu menatapnya hampa dan dengan wajah pucat, "pergilah Hinata," suara itu menyayat hati sang gadis semakin dalam.

"Naruto-kun," ia memanggil sekali lagi. Namun ia hanya mendengar bisikan lirih untuknya menyuruhnya pergi. Ia pun tak sanggup lagi berada di tempat itu.

Dengan langkah berlari diiringi tetasan air mata dan kebencian pada empat orang yang telah menghancurkan orang yang begitu ia cintai, juga rasa benci akan dirinya sendiri yang tak bisa menolong sosok malaikatnya, ia meninggalkan tempat itu. Luka di tubuhnya yang tercipta akibat gesekan tanah dan aspal kasar saat ia terjatuh karena tak kuasa menopang tubuhnya sendiri tak ia pedulikan, ia terus berlari dengan hati yang mengucapkan penyesalan pada sosok yang ia tinggalkan. Sosok malaikatnya.

Flashback End


"Hari itu, aku dan Naruto-kun harusnya sedang makan malam untuk merayakan hari keseratus kami sebagai sepasang kekasih. Tapi ia tidak ada di tempat kami harusnya bertemu. Yang ku lihat adalah sosok ketiga sahabatmu yang membawa seseorang yang terus meronta-ronta. Lalu aku mengikuti mereka ke sana…."

"Aku di sana, melihat semuanya tanpa bisa berbuat apa-apa. Aku yang kau sebut malaikat, hanya bisa melihat tanpa bisa menolong orang yang aku cintai. Tetapi yang lebih menyakitkan, salah satu orang yang menghancurkannya adalah kau, nii-san!"

Jeritan Hinata menyadarkan Neji pada kenyataan. Ia menatap waspada pada Hinata yang memegang sebilah pisau di tangannya. "Keesokan harinya ia ditemukan tewas dengan kepala berlumuran darah…"

"Saat itulah aku bersumpah untuk membalaskan kematian Naruto-kun pada orang-orang yang telah menghancurkannya! Aku yang mencintai Kiba dan menjadi tunangannya hanyalah bagian dari rencanaku. Lalu aku membunuh mereka semua. Aku memotong tangan mereka yang berani menyentuh tubuh Naruto-kun, aku memotong kaki mereka yang berani membawa Naruto-kun ke gudang itu, aku mencungkil kedua mata mereka yang menatap Naruto-kun dengan penuh nafsu, aku memotong kedua telinga mereka yang menulikan diri pada teriakan kesakitan Naruto-kun, aku memotong lidah dan bibir mereka yang menikmati tubuh Naruto-kun, dan aku memotong alat vital mereka yang mengoyak tubuh Naruto-kun. NarutoKU, malaikatku!"

"Hinata! Diam di tempatmu dan jatuhkan senjatamu!" seru Neji dengan sebuah pistol di tangannya yang melihat Hinata mulai tak terkendali. Perang batin terjadi di hati Neji. Ia menyayangi Hinata, namun Hinata adalah pembunuh ketiga sahabatnya. Sudah menjadi kewajibannya untuk menangkap Hinata, namun satu kesadaran lain menyentakkannya.

Siapa yang membuat Hinata begini?

Siapa yang membuat sosok manusia berwujud malaikat itu berubah menjadi iblis berwujud malaikat?

Siapa yang telah menghancurkan kesucian gadis di hadapannya?

Jawabannya tidak lain adalah dirinya sendiri.

Dia lah yang membuat Hinata seperti ini.

"Tapi aku tidak bisa membunuhmu seperti aku membunuh mereka, Onii-san," suara lembut Hinata kembali. Membuat Neji mengurangi kewaspadaannya pada Hinata. "Aku terlalu menyayangimu nii-san, sehingga aku tidak dapat membunuhmu layaknya aku membunuh mereka."

Neji menurunkan pistolnya. Ia yakin Hinata tidak akan menyerangnya. Meskipun Hinata sudah membunuh tiga orang dengan cara yang sadis, Neji yakin Hinata tidak akan berbohong padanya.

Hinata tersenyum melihat Neji yang menurunkan pistolnya. "Aku bilang tidak akan membunuhmu seperti layaknya aku membunuh mereka nii-san," suara mendesis itu membuat Neji kembali mengacungkan pistolnya, "aku hanya akan membunuhmu dengan sekali tembakan."

Usai mengatakan itu Hinata langsung menembakkan pistol lain yang ia pegang ke arah Neji.

"DOR!"


"Karena malaikat tak selalu putih,

Maka malaikat maut tak selalu hitam,

Karena bunga kasih sayang penuh cinta tak harus putih,

Maka bunga kematian pun tak harus hitam,

Wahai kau insan berdosa yang menyembunyikan diri di balik jubah putih,

Dengan topeng kebaikan menutupi diri yang tak lagi suci,

Ku kirimkan kepadamu malaikat kematian berjubah putih,

Dengan mata hampa yang akan menjemputmu bukan ke surgawi,

Namun ke tempat lain bernama neraka abadi,

Ingatlah kau akan satu hari yang pernah kau lalui,

Dimana seorang malaikat kau buat tak lagi suci,

Satu dosa besar yang membuat dosa-dosamu terus berbuih…"

Selamat datang di dunia abadi, Hyuuga Hinata…

Neji menatap nisan Hinata dengan tatapan hampa. Satu penyesalan hadir di hatinya. Menyesal karena ia lah yang menyebabkan Hinata menjadi seorang pembunuh. Menyesal, sebab ia tidak mempercayai kata-kata Hinata yang mengatakan tidak akan membunuhnya. Menyesal, sebab ia menarik pelatuk pistol di tangannya, yang menyebabkan Hinata tewas dengan kepala yang ditembus peluru. Padahal pistol di tangan Hinata hanya berisi peluru kosong.

"Aku terlalu menyayangimu Onii-san," suara lembut Hinata seakan terus terngiang di telinganya.

"Hyuuga-san, waktumu sudah habis. Kau harus kembali ke penjara," ucap Ten Ten dengan lirih. Ia tak tega membawa Neji, kapten yang sangat ia hormati, ke dalam buih tempat orang-orang yang penuh dengan kejahatan.

'Maafkan nii-san, Hinata.' Batin Neji yang meninggalkan nisan tersebut.


FIN

Mind to review?

Well, aku sama sekali gak bermaksud untuk menjelek-jelekkan Neji. Gue suka ama dia kok. Makanya, gue jadiin dia sebagai tokoh utama di fic gue. Horror and Mysterinya kerasa gak?