Haooooo... this is the second chapter of my fic! Terimakasih untuk yang sudah membaca dan mereview yah! Saya sangat senang.. terharuuu.. hehe^^;
chara-chii: terimakasiiih.. iya, ini waktu mereka kuliah, hampir tingkat akhir malah..^^
undine-yaha: fuwehehehe,, jadi maluu.. terimakasih masukannyaa.. terharu max!
aoihanai: makasih dah baca fanfic ini yaa..^^
chizuru love ichihime: Yamato akan terus muncul kok.. tenang aja! Hehe,, ada yang nikah gak ya.. pokoknya stay tune aja ok! (berasa di radio.. kikikikii)
maharu: nggak, nggak lancar kok.. sedang belajar..*senyum2 sambil garuk2 kepala padahal nggak gatel* just feel free to tell me if i made any mistake ok!:)
ok, without further delay, this is chapter 2.. Reviewnya minta buuu.. mintaa.. (sambil ngadahin tangan). Hehe. Enjoy!
-oo-
Ada yang bilang cinta pertama adalah obsesi.
Semakin kuat usahamu untuk melupakan, semakin kuat pula ingatanmu tentangnya.
Seberapa pun jauhnya kau menghindar, kau akan tetap merasa bahwa ia dekat.
Cinta pertama adalah obsesi keras kepala.
Semakin keras kau berusaha menolaknya, kau akan semakin merasa bahwa kau menginginkannya.
-oo-
"..Rin? Karin-chan? Ano.. moshi-moshi?"
"Aa.. Haik! Yamato-kun? O.. Ohisashiiburi desu nee*.."
Ia tertawa, "Hisashiiburi! Genki*?"
"Mmh. Genki desu yo.." Tiba-tiba aku merasa sangat sehat ketika mendengar tawanya. "Ada apa.. Yamato-kun?"
"Ah ya.. Kamu sudah dengar tentang reuni klub Amefuto angkatan kita kan?"
"Hoe?"
Ia tertawa lagi, "Seperti yang kuduga, kau belum tahu.. kenapa kau tidak mengabari kalau kau mengganti nomer telfon? Aku harus menelpon rumahmu dan mengobrol dengan ibumu untuk tahu nomermu yang sekarang"
"Hee? Eeh.. aku nggak bermaksud untuk hilang begitu saja,.. aku cuma.. agak sibuk akhir-akhir ini.. aku pindah ke apartemen, hidup sendiri, dan menjadi full time mangaka.."
"Yeah, i've heard.. You're such a successful girl right now" katanya dengan intonasi menggoda.
Aku tersenyum, "Bukannya Yamato-kun yang sukses? Tahun ini Saikyoudai memenangkan Rice Bowl kan? Omedetto~!*"
"Mochiron!* Arigato Gozaimaaaasu!"
Kami berdua tertawa.
"Tapiii.. waktu berlalu begitu cepat.. tahun depan akan jadi tahun ke-empat kita lulus SMA.."
"Yaaa.. tahun yang akan jadi cukup berat bagi Saikyoudai, karena Hiruma sudah akan diwisuda akhir tahun ini.. Oiya, Karin-chan.. sebelum aku lupa, acara reuninya akan diadakan lusa di Aji-ya yang biasa kita datangi dulu.. Acara dimulai jam 8.."
"Ok.. sepertinya aku bisa.." deadline berakhir hari ini, besok seharian tidur, dan lusa.. mmm.. tidak ada yang harus kukerjakan.
Tiba-tiba aku melihat mulut Chii-chan yang bergerak-gerak. SHI-GO-TO. Shigoto. Kerja.
Hyaa! Benar. Kerja!
"Ano.. Yamato-kun.. sebenarnya.. aku agak sibuk sekarang.. hari ini deadline dari pekerjaanku.."
"Aa! Kalau begitu maaf! I'll hang up right away!"
"Oshiette kurette, arigato*.. Yamato-kun.."
"Yup.. ng.. Karin-chan?"
"Haik?"
"Boleh aku telfon lagi? Well, that is, if you're not busy.."
Deg.
"Mmh. Ii yo.."
Oh tidak. Rasanya jantungku berdetak dengan kecepatan tinggi sekarang.
"Yosh.." ia lalu diam sebentar, "Ng.. Shigoto wa ganbarou na*.. Jya, bye bye.."
"Bye bye.." aku lalu menutup handphone-ku.
Fiuuh. Pembicaraan yang tidak baik untuk jantung.. Sudahlah Karin.. lupakan, lupakan..
Aku meletakkan handphone-ku di meja tempat kami bekerja, dan merasa ada sesuatu yang aneh.
Ketiga asistenku sedang memandangiku.
Aku merasakan mukaku memerah, "Aaa. Na.. Nani o*?"
"Kareshi*?" Megumi-chan yang pertama kali bertanya.
"Moto kareshi*?" Nacchan.
"Dare*?" Chii-chan.
"Bukan" untuk pertanyaan Megumi, "Bukaaaan.." untuk Nacchan, "Bukan siapa-siapa" untuk Chii-chan.
"DEADLIIIINEE!" aku mencoba mengalihkan perhatian mereka, "Hayoo... mulai kerja lagiii!" aku mencoba sibuk lagi dengan pekerjaanku agar mereka juga kembali fokus pada pekerjaan.
Dan berhasil.
Kami kembali pada pekerjaan kami masing-masing.
Salju terus turun, aku bisa merasakannya terus berderai sepanjang hari.
-oo-
Aku tidak akan pernah lupa suaranya yang menenangkan.
Kepribadiannya yang keliatan tenang, tapi sebenarnya cukup manipulatif dan impulsif.
Senyumnya yang menawan.
Tawanya.
Aku berharap aku bisa melupakan semuanya ketika aku bangun pagi ini.
Namun ketika aku bangun dan melihat salju yang terus turun,
Aku bahkan mengingat setiap detik ketika aku bersamanya.
-oo-
"Saatnya merayakaaann! Ayooo kita bersenang-senaaaaang! kami akan ditraktir kan, sensei?" Megumi-chan lah yang pertama kali masuk kamar apartemenku.
Aku masih memakai piyama dengan sikat gigi di mulutku, "Hoahaa?", yang maksudnya adalah 'apaa?'.
Nacchan menjadi orang kedua yang masuk. "Shopping, karaoke, makan, minum kopi.. yang mana yaaa yang akan kita lakukan kali ini?"
"Aku akan mendandani sensei" Chii-chan yang masuk terakhir. "Aku akan melihat lemari sensei dulu untuk melihat apa yang kira-kira cocok dipakai hari ini" ia menutup pintu dan langsung menuju kamar tidurku.
Gagal sudah rencanaku untuk tidur seharian.
"Ayolah Karin-sensei, toh kita berhasil menyelesaikan deadline tepat waktu.." Nacchan membujukku dengan matanya yang berbinar-binar dan pipinya yang kemerahan.
Hee. Kawaii.
"Selesaikan sikat gigimu, berhenti mengagumi sesama perempuan, dan pakai ini" Chii-chan tiba-tiba muncul di depanku dan menyodorkanku beberapa potong pakaian.
"Haa~?" aku hampir akan protes dengan pilihan bajunya.
"Dan jangan kepang rambutmu sensei.. kau tidak di SMA lagi"
Tapi aku hanya bisa tertegun.
Apa aku memang terlihat kekanakkan?
"Bukaaan.. Dia bukan pacarku.."
Aku mengambil baju itu dan masuk ke kamarku dengan diam, setelah sebelumnya membersihkan sisa pasta gigi di washtafel.
Aku membuka kepangan rambutku dan menggerainya.
Aku menatap bayanganku di kaca.
"Dia seperti adikku. Adik perempuanku"
Aku mulai mengganti bajuku satu persatu. Aku memakai sweater hangat berwarna coklat tua yang membentuk badanku dan berkerah agak rendah. Sedangkan rok yang dipilih Chii-chan adalah hadiah dari Megumi-chan untuk ulang tahunku tahun lalu, yaitu high-waisted pencil skirt hitam yang panjangnya sedikit di atas lutut.
Sebagai tambahannya, aku memakai stocking hitam yang agak tebal, dan liontin hati berwarna emas yang serasi dengan rambutku.
Aku menjepit poniku ke atas dengan jepitan hitam dan mulai memoleskan make up.
-oo-
"Hoaa! Uso*!" adalah komentar Megumi-chan ketika aku keluar dari kamarku. "Dare, kono ko*?"
"Araaa.. Suppa kawaiiii~!*" Nacchan berteriak senang.
Chii-chan hanya tersenyum. Senyumnya yang paling manis.
Aku merasakan percaya diriku meningkat. "Ehee..arigato.."
"Ma, ikimashou minna!*" Nacchan membuka pintu apartemenku.
"Haaaik!"
Aku menatap bayanganku di kaca untuk terakhir kalinya sebelum pergi. Aku menjepit poniku dan membiarkan rambutku tergerai, juga membingkai mataku dengan eye shadow coklat gelap dan eyeliner hitam. Aku terlihat dewasa.
Tidak seperti SMA dulu.
Aku berbeda.
Dan aku bukan adik perempuannya.
-oo-
Chap 2 end
Ohisashiiburi desu nee: sudah lama tidak bertemu yaa
Genki?: sehat?
Omedetto~!: selamat~!
Mochiron!: tentu saja!
Oshiette kurette, arigato..: terimakasih sudah memberi tahu
Shigoto wa ganbarou na.. : selamat berjuang dengan pekerjaan (kamu) ya..
Aaa. Na.. Nani o?: aaa. Apa?
Kareshi?: Pacar (laki-laki) ?
Moto kareshi?: Mantan pacar (laki-laki) ?
Dare?: siapa?
Uso!: bohong?
Dare, kono ko?: siapa, cewek ini?
Araaa.. Suppa kawaiiii~!: waahh.. super cute!
Ma, ikimashou minna!: yah, mari kita pergi teman-teman!
