—Till The End of Time—
Author: Rin
Chapter: 2/?
Disclaimer: All casts is belong to theirselves.
Rated: T to M
Pair: ZhouRy (Zhoumi x Henry), slight YeKyuBum (Kyu as Uke central. XD #plak), HanChul. Pair lain menyusul
Genre: Romance – Hurt/Comfort – Angst
.
Inspired by Crimson Rain (an original fiction that made by my friend and posted on fictionpress . com)
.
Warning: AU, Vamp!Fic, Crack Pair, YAOI, OOC untuk keperluan cerita, dll.
.
.
DON'T LIKE DON'T READ
.
Henry menyusuri jalanan yang menuju rumahnya di Seoul. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore yang otomatis membuat jalanan di sekitarnya mulai gelap—walau langit masih menyisakan sedikit semburat jingga di bagian barat. Ia menghela nafas perlahan. Ini bukan waktu biasanya ia pulang kuliah. Sesibuk-sibuknya ia dengan kegiatannya di universitas, ia selalu pulang tidak lebih dari pukul lima sore. Terlihat seperti anak-anak mungkin, namun itu bukan tanpa alasan, mengingat ia sendiri sudah memiliki jadwal tersendiri mengapa ia tidak pernah di luar rumah sampai lebih dari jam lima sore.
Biola. Sudah jelas. Ia yang sejak kecil sudah akrab dengan benda itu, entah kenapa malah menjadikannya seolah kekasihnya—mengingat ia memang tidak terlalu bisa dekat dengan orang lain. Dan seolah menjadi sebuah kebiasaan, ia jadi lebih sering meluangkan waktunya untuk bersama dengan benda itu. Bahkan ketika ia akhirnya punya teman—yang benar-benar dekat dengannya seperti Cho Kyuhyun—ia tetap tidak bisa menghentikan kebiasaannya.
Ia mempercepat langkahnya ketika disadarinya langit semakin gelap dan waktu sudah menunjukkan hampir pukul enam sore. Bisa-bisa ia dihadiahi deathglare gratis dari kekasih gegenya itu—yang entah kenapa bersikap seolah orang itu adalah ibunya. Ia tidak masalah sih dengan hal itu. Setidaknya ia jadi punya figur seorang ibu ketika ia tinggal sendiri di Korea. Yang jadi masalahnya adalah orang itu namja dan usianya hanya terpaut beberapa tahun lebih tua darinya. Yah, terserahlah…
Henry membuka pintu pagar rumahnya dengan perlahan. Tidak ada penjaga di depan rumahnya, mengingat ini sudah hampir waktunya makan malam jelas semua orang sedang ada di dalam rumah. Lega sejujurnya, karena ia tidak harus menghadapi siapapun di depan rumahnya—sementara ini sih. Ia melangkahkan kakinya dengan sangat perlahan, berharap tidak ada seorang pun yang mendengar langkahnya. Ditutupnya pintu pagar bercat abu-abu itu tanpa suara.
Mengendap-endap, ia berjalan menuju pintu depan rumahnya sambil menyapukan pandangannya ke seluruh sudut pekarangannya. Beberapa menit kemudian—yang terasa sangat lama, ia pun sampai di depan pintu ganda bercat coklat tua dengan beberapa ukiran di beberapa bagiannya. Dibukanya pintu tersebut perlahan, sambil berharap semoga tidak ada yang menyadari kedatangannya saat ini—
"Ehem…"
—baiklah, doanya langsung tidak terkabul saat ini juga.
"Aa… Xi Che-gege, halo…" Bingung tidak tahu apa yang harus dikatakan membuat Henry hanya bisa menyapa seadanya—terbata-bata pula.
Heechul—yang dipanggilnya dengan nama Xi Che—mengerutkan alisnya. "Henry-ah, tumben kau pulang jam segini? Tidak terjadi sesuatu kan?"
"Ani, tidak apa-apa kok, hanya... sedikit urusan di kampus…"
Heechul menganggukkan kepalanya, walau masih terlihat ragu. "Lalu… kenapa dengan lehermu?"
Henry membatu mendengar pertanyaan itu. Ayolah, ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya soal lehernya kan? Lagipula kenapa gegenya yang ini bisa menyadari hal itu sementara ia sudah menutupinya dengan sempurna di balik kemeja yang dikenakannya? Apa ia tahu sesuatu?
Henry mengenyahkan pikirannya itu. Tidak, tidak mungkin gegenya itu tahu soal ini. Lagipula ia juga sudah meminta orang itu untuk bersembunyi jika ada orang yang masuk kamarnya. Yah, kalian benar, sejak semalam, makhluk itu tinggal di kamarnya dan kalian tahu, hal itu berujung pada dirinya yang tidak bisa tidur karena terus-menerus diganggu olehnya.
"Ani, hanya… luka waktu aku bermain biola kemarin… Sudah ya, gege. Aku ke kamarku dulu…" Berikutnya, Henry pun langsung melesat menuju tangga utama di dekat pintu depan dan berlalu menuju kamarnya yang terletak di lantai dua.
Heechul yang masih diam di pintu depan mendengus perlahan. "Luka karena biola, eoh? Jangan bercanda..."
Diambilnya ponsel yang ia letakkan di sakunya, lalu dihubunginya sebuah nomor yang sudah sangat dihafalnya—nomor yang akan menghubungkannya dengan seseorang yang sudah ia kenal dengan baik.
"Yeoboseyo, Jungsoo-ah, boleh aku minta bantuanmu? Datanglah ke tempatku besok. Aku tunggu…"
Hanya singkat, namun itu cukup untuk menggambarkan seberapa penting hal yang ingin ia bicarakan dengan orang itu. Dimasukkannya kembali ponsel itu ke dalam sakunya, sebelum kemudian ia pun melangkahkan kakinya menuju ruang makan, dimana sang kekasih sudah menunggunya di sana.
Henry-ah, kau pikir aku tidak tahu apa yang terjadi padamu?
.
.
Henry mempercepat langkahnya. Dalam hati ia benar-benar merutuki dirinya yang sudah memilih kamar di tempat yang paling ujung begitu. Aigo, kenapa di saat seperti ini kamarnya benar-benar jadi terasa sangat jauh? Padahal ia kan ingin segera sampai di kamarnya—walau dengan resiko ia harus berhadapan makhluk pervert di kamarnya. Yah, nasib buruk sebenarnya. Diam di bawah jelas akan membuatnya tidak bisa mengelak lagi dari pertanyaan Heechul—terutama kalau sifat asli orang itu muncul. Namja cantik itu mungkin saja orang yang perhatian padanya, namun terkadang dalam beberapa hal, ia bisa jadi orang yang menakutkan—apalagi kalau itu sudah berhubungan dengan hal yang sangat ingi diketahuinya.
Lalu... diam di kamarnya juga sebenarnya sama beresikonya walau jelas tidak sama. Tapi, mungkin sedikit lebih baik karena ia tidak harus menyembunyikan apapun di sana.
Ia berhenti di depan pintu bercat putih dengan pegangan sewarna emas. Diam selama beberapa detik, karena jujur saja ia enggan juga untuk memasuki tempat yang biasanya adalah tempat yang paling ingin ia datangi di rumah ini. Tapi… diam juga bukan ide yang bagus.
"Hufft…"
Henry membuka pintu kamarnya dengan sangat pelan—hampir tidak menimbulkan suara apapun. Ia mengerutkan dahinya begitu dilihatnya orang itu sedang tertidur—atau mungkin hanya tiduran—di atas tempat tidurnya. Ditutupnya kembali pintu kamarnya, khawatir kalau ada orang lain yang akan lewat di dekatnya dan menyadari keberadaan namja jangkung ini, walau sebenarnya kemungkinan hal itu terjadi hanya sekitar nol koma sekian presentasenya kalau mengingat kamarnya yang berada di ujung koridor ini.
Ia meletakkan tas dan biola miliknya di atas meja dekat pintu kamarnya, lalu ia pun melangkahkan kakinya mendekati tempat namja itu terbaring. Aish, setidaknya kalau mau begini dia bisa melepas sepatunya dulu…
Henry mendudukkan dirinya di atas tempat tidurnya. Dipeluknya salah satu bantal yang tidak terpakai. Dan tanpa disadarinya ia malah memandangi wajah pucat namja berambut merah itu. Kedua matanya terpejam. Ia tidak tahu apakah makhluk ini tidur atau hanya sekedar memejamkan matanya. Dipandanginya wajah putih pucatnya dengan seksama. Yah, walau ia sering berpikiran kalau wajahnya ini mirip dengan koala, namun ia sendiri tidak dapat memungkiri kalau sebenarnya wajahnya cukup tampan.
Blush.
Henry terbelalak menyadari pemikirannya itu. Seketika rona merah tipis terlihat di wajahnya. Ia menggelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan pemikiran itu. Ya Tuhan, apa yang baru saja dipikirkannya? Tampan? Yang benar saja. Yah, ia memang benar-benar tidak bisa bohong soal itu sih.
Ia menenggelamkan wajahnya di bantal yang sedari tadi ia peluk. Benar-benar memalukan. Kenapa juga ia bisa merasa terpesona pada koala merah itu?
Henry mendongakkan kepalanya. Kembali ditatapnya wajah yang terlihat masih tidur itu. Diulurkannya sebelah tangannya tepat ke wajah namja itu. Ya! Jangan berpikiran kalau dirinya berniat untuk menamparnya atau sejenisnya—walau sebenarnya ia ingin melakukannya juga sih. Diusapnya perlahan helaian merah yang menutupi sebagian wajahnya hingga terlihat jelas.
"Aigo, aku tidak tahu kalau nae mochi yang sejak kemarin malam selalu kasar padaku bisa selembut ini…"
Henry membelalakkan matanya mendengar suara itu. Ia hanya bisa diam membatu di tempatnya, bahkan ia lupa kalau tangan kanannya masih menyentuh rambut namja itu. Ia semakin terbelalak ketika dilihatnya orang itu membuka kedua matanya yang tadinya tertutup itu, memperlihatkan iris obsidiannya yang terlihat indah—walau entah kenapa pernah membuatnya hilang kesadaran tadi malam.
"Mochi, mau sampai kapan kau melotot begitu? Tidak khawatir kalau matamu nanti loncat dari kelopaknya?"
Henry tersentak mendengar itu. "Ya! Memangnya kau pikir aku ini apa? Mataku tidak akan mungkin bisa lepas semudah itu, babo!"
Mendengar itu, Zhoumi hanya menyeringai, membuat Henry bergidik. Ia mundur perlahan berusaha menjauhi namja berambut merah itu, namun usahanya terhenti ketika pergelangan tangan kanannya digenggam olehnya, membuat gerakannya langsung terhenti. "Hm, memang tidak bisa semudah itu, kecuali kalau aku melakukannya~"
"Mwo? Kau bercanda kan?" Henry terbelalak mendengar itu. Ia kan masih belum ingin mati secepat itu.
Zhoumi mendekatkan wajahnya ke telinga Henry. Dengan suara yang ia buat serendah mungkin, ia berkata, "Bagaimana ya~?"
Wajah Henry memucat mendengar itu. Ia benar-benar melupakan kenyataan kalau orang di hadapannya ini bukan manusia—yang tentu saja memiliki kekuatan yang melebihinya. Jadi, kalau ia serius dengan ucapannya itu, ia benar-benar berada dalam bahaya saat ini.
Melihat tidak adanya reaksi dari namja manis di hadapannya itu, Zhoumi semakin tertarik untuk mengganggunya lebih jauh. Ayolah, ia kan tidak mungkin serius dengan perkataannya tadi. Bagaimana mungkin kan kalau ia berniat untuk membunuh namja yang ia cintai sejak beberapa tahun yang lalu itu? Tidak mungkin kan kalau ia ingin membunuh namja yang keberadaannya sudah ia cari sejak lama? Kalau memang ia ada niat seperti itu, ia sudah melakukannya sejak kemarin malam dan bukannya membuat perjanjian yang kalau dipikir lagi terdengar konyol.
Ditariknya sedikit wajahnya, hingga kini ia berhadapan dengan wajah manis seorang Henry Lau. Ia benar-benar ingin tertawa melihat wajah mochinya yang terlihat ketakutan seperti itu, kalau saja ia tidak ingat akan imagenya yang harus ia jaga.Diciumnya pipi chubbynya yang membuatnya semakin terlihat manis. Kapan lagi ia bisa melakukannya? Mengingat namja manis ini benar-benar hobi memberontak padanya kemarin. Bahkan hanya untuk meminta darahnya saja kemarin, ia harus menghabiskan waktu dua jam berkejar-kejaran dengannya.
"Tidak usah setakut itu, aku kan cuma bercanda…"
"Mwo? Ya! Gege, kau pervert!"
Henry memukulkan bantal yang masih dipegangnya tepat ke wajah Zhoumi hingga pegangannya pada tangannya terlepas. Tak menyia-nyiakan kesempatan itu, Henry langsung kabur menuju kamar mandi, menutup pintunya dengan keras dan menguncinya rapat.
Zhoumi mengusap kepalanya yang baru saja terkena hantaman bantal itu. Tidak sakit sebenarnya, karena butuh sesuatu yang jauh lebih menyakitkan lagi untuk bisa membuatnya merasa sakit—walau sebenarnya mungkin hanya akan terasa sedikit sakit. Yah, jadi makhluk yang sulit merasakan sakit—walau tidak abadi—ternyata memang sedikit menyebalkan.
"Aigo, 'gege'? Dia belum juga berubah. Masih sama seperti dulu..."
Sementara Henry yang ada di kamar mandi, kini terduduk di depan pintu sambil menutupi wajahnya yang kelihatannya sudah sepenuhnya memerah. Aigo, ia tidak sedang bermimpi kan? Pipinya tadi baru saja dicium oleh namja kelewat pervert itu kan?
Ia mengusap pipinya yang tadi dicium oleh Zhoumi. Bukan, kali ini bukan karena rasa malu, tapi lebih karena heran. "Kenapa rasanya... yang barusan itu... terasa familiar?"
.
.
Heechul berdiri di dekat pintu kamar Henry. Tubuhnya ia sandarkan pada tembok yang berada tepat di samping kanan pintu kamar tersebut. Kedua tangannya ia lipat di depan dadanya. Tadinya ia ingin memanggil namja China itu untuk makan malam, namun entah kenapa ia malah mengurungkan niatnya dan memilih untuk diam di sana.
Tak ada tujuan yang pasti sebenarnya, hanya saja ia merasa agak ragu untuk sekedar mengetuk pintu tersebut.
Beberapa menit ia berdiri diam di sana, akhirnya ia memutuskan untuk beranjak dari tempat itu sambil bersikap seolah tidak ada apa-apa. "Yah, aku bisa mengurusnya nanti kalau anak itu pergi kuliah..."
.
.
Zhoumi yang masih duduk di atas tempat tidur menatap ke arah pintu kamar Henry yang tertutup. Walau begitu, ia tahu kalau baru saja, ada seseorang yang berdiri di dekat sana. Salahkan kemampuannya yang bisa melacak keberadaan seseorang hanya dengan mencium bau darahnya saja hingga ia bisa mengatahui ada orang lain yang berada di dekatnya.
Ia tidak berniat untuk melakukan apapun, lagipula hal itu tidak membahayakan bagi dirinya. Terlalu yakin mungkin terdengarnya, namun instingnya akan hal ini tidak bisa diremehkan. Dan kenyataannya... memang tidak terjadi apa-apa kan?
Masih memandangi pintu tersebut, ia pun menjilat bibirnya sambil mengeluarkan seringainya. "Menarik, kelihatannya akan terjadi sesuatu yang menyenangkan~"
.
.
.
Kyuhyun berbaring telungkup di atas ranjang king size miliknya dengan Kibum yang duduk di sebelahnya sambil bersandar pada ujung tempat tidurnya. Di tangannya—seperti biasa—terselip sebuah buku dengan ketebalan yang mampu membuat Cho Kyuhyun langsung ingin memalingkan muka dari benda itu. Alasan pertama, karena sudah jelas ia memang bukan orang yang bisa akrab dengan sebuah buku. Dan yang kedua, cemburu.
Cemburu? Terdengar konyol dan kekanak-kanakan mungkin, tapi ia memang cemburu pada benda berbentuk kotak itu yang sudah membuat perhatian hyungnya teralihkan dari dirinya. Ayolah, memangnya siapa yang tidak tahan kalau kau terus berada di samping namjachingunya, tapi orang itu lebih memilih untuk fokus dengan hal lain.
Iris gelap berbingkai kacamata dengan frame hitam itu masih setia dengan kegiatannya membaca buku walau sebenarnya perhatiannya sudah teralihkan pada namja yang terbaring di sampingnya. Ia juga tahu kalau namja manis itu juga sedang kesal padanya yang lebih memilih untuk membaca buku. Yah, biarkan saja, lagipula kapan lagi ia bisa melihat wajah ngambeknya yang baginya terlihat jauh lebih manis daripada biasanya.
Cklek.
Suara pintu kamar mandi terbuka lalu keluarlah seorang namja berkepala besar. Tetesan air masih dengan setia mengalir di sekujur tubuhnya yang tertutup oleh baju mandinya. Terlihat sekali kalau ia tidak mengeringkan tubuhnya dengan benar—atau sebenarnya ia memang sengaja melakukannya. Dengan rambut yang masih basah dan membuat tetes demi tetes air mengalir dari ujung rambutnya turun mengaliri leher putih pucatnya, membuatnya benar-benar terlihat menawan.
Kibum yang pertama kali menyadari kehadiran namja tersebut hanya tersenyum ke arahnya. "Ah, Yesung-hyung, kau sudah selesai?"
Yesung hanya menganggukkan kepalanya sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah ranjang itu. Kedua alisnya berkerut ketika didapatinya Kyuhyun dengan posisi yang aneh. Apa anak ini salah makan tadi siang?
Ia menoleh pada Kibum yang kini malah berusaha untuk menahan tawanya. Ditatapnya namja berkacamata itu dengan tatapan ingin tahu. Tidak sulit untuk membuat Kibum menyadari arti tatapan Yesung.
Kibum menutup buku yang sebenarnya sudah tidak ia baca sejak beberapa menit yang lalu itu. "Ani, hyung. Hanya saja, Kyunnie chagiya kita ini ternyata gampang sekali cemburu pada apa yang membuat perhatian kita teralih darinya~"
Kyuhyun mendongakkan kepalanya mendengar itu. Wajahnya kini sudah merah seperti tomat. Ia tidak menyangka kalau hyungnya itu ternyata sudah menyadari hal itu—sejak tadi kelihatannya. "Ya! Hyung, kalau kau sudah tahu soal itu kenapa kau malah diam saja sejak tadi?"
"Karena wajahmu yang abrusan terlalu menarik hingga aku tidak mau merusaknya."
Kyuhyun hanya bisa mendengus pelan sambil mempoutkan bibirnya. Tanpa menyadari kalau itu justru mengundang tatapan lapar dari dua orang yang ada di dekatnya—walau masih tertutupi oleh wajah dingin keduanya.
Kalau kalian berpikir dimana keluarga dari anak bernama Cho Kyuhyun ini, maka jawabannya adalah mereka tidak ada di Seoul—atau mungkin lebih tepatnya tidak ada di Korea. Ia hanya tinggal seorang diri di rumahnya yang luas ini sementara seluruh keluarganya tinggal di luar negeri. Ini semua keinginannya. Kalau tidak seperti itu, maka ia tidak akan bisa bersama dengan dua orang yang dicintainya itu. Dan berterimakasihlah pada alasan ingin menyelesaikan studi di Seoul agar ia tidak perlu repot mengurusi kepindahannya ke universitas lain di luar negeri dan tidak usah mengganggu waktunya yang sebenarnya bisa ia gunakan untuk fokus dengan pendidikannya—harusnya.
Kenapa? Karena di balik wajah datar kedua namjachingunya itu mereka ternyata menyimpan jiwa pervert mereka dengan sangat baik—kecuali jika mereka sudah berada di atas ranjang. Kalau orang biasa, melakukan 'itu' hampir tiap malam hingga tidak memiliki waktu untuk belajar, mungkin akan membuat peringkatnya menurun. Namun, berterimakasihlah pada otaknya, hingga ia hanya butuh sekali-dua kali membaca dan voila, materi kuliah pun sudah melekat dengan baik dalam ingatannya—walau tidak sehebat Kibum yang hanya butuh satu kali membaca, itu pun hanya sekilas, ia sudah bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan padanya. Kelihatannya hyungnya yang itu bisa lulus jauh lebih cepat dari waktu seharusnya.
"Hei, Kyunnie. Aku haus..." ujar Kibum, membuat Kyuhyun hanya mengerjapkan matanya beberapa kali. Bahkan ia masih harus mencerna kalimat itu cukup lama dengan otak jeniusnya. Masalahnya, ini tiba-tiba sekali. Padahal baru beberapa saat yang lalu hyungnya itu masih menggodanya, sekarang sudah seperti ini—lagi. Aish, perubahan sifat seseorang memang tidak terduga ya.
Kyuhyun menghela nafasnya. Ini memang sudah waktunya sih. Dibukanya kancing kemejanya satu persatu hingga memperlihatkan dada bidangnya yang agak pucat—walau tidak sepucat kedua hyungnya itu. Belum sempat Kyuhyun menyelesaikan perbuatannya itu, Kibum telah lebih dulu mendorongnya perlahan hingga terbaring dengan dirinya yang menindih tubuh Cho Kyuhyun.
"Hufft…"
Kyuhyun memalingkan wajahnya ke arah kiri, hingga leher bagian kanannya kini terekspos dengan jelas. Kibum menyeringai melihat hal itu, menampakkan sepasang taring yang mengkilat tajam di dalam mulutnya. Ia sudah berusaha menahan rasa haus ini sejak tadi siang sebenarnya. Namun, mengingat mereka saat itu ada di tempat umum, ia berusaha menahan dirinya untuk tidak menyerang Kyuhyun saat itu juga.
Yesung yang melihat itu hanya bisa menghela nafasnya. Ia mungkin masih bisa menahan dirinya walau rasa haus sudah membakar tenggorokannya saat itu. Berbeda dengan kibum yang notabenenya adalah vampire yang jauh lebih muda darinya. Yang terlihat mungkin beda usia mereka hanya sekitar satu atau dua tahun, tapi kenyataannya beda usia mereka bahkan lebih dari seratus tahun. Makanya, ia hanya bisa memaklumi dengan keadaan Kibum yang masih sulit mengontrol nafsunya.
"Aish, kalian berdua. Lakukan dengan cepat lalu mandilah sana."
Terlihat tak menghiraukan ucapan Yesung, walau sebenarnya mereka mendengarnya dengan baik, Kibum langsung menenggelamkan wajahnya di leher Kyuhyun. Dijilatinya kulit semi-pucat milik sang namjachingu perlahan, membuat erangan tertahan meluncur dengan merdunya dari mulut Kyuhyun. Tak menunggu berapa lama, detik berikutnya Kibum langsung menancapkan taringnya di kulit leher Kyuhyun dan merobek pembuluh darahnya, membuat darah mengalir dari bekas lukanya—
"ARGGHH!"
—dan membuat sang pemilik leher berteriak kesakitan.
Ini bukan yang pertama kali baginya, namun rasa sakitnya masih sama seperti waktu ia pertama kali mengalaminya beberapa bulan yang lalu. Kyuhyun menggigit bibirnya, mencoba meredam rasa sakitnya ketika Kibum mulai meminum darah yang mengalir dari lehernya.
Kibum terus melakukan kegiatannya. Baginya darah yang ia minum jauh lebih manis daripada korban-korbannya yang dulu. Dan karena itu pulalah, ia tidak membunuh Kyuhyun sejak awal hingga berakhir dengan dirinya yang malah mencintai pemuda jenius itu.
Ia menjauhkan wajahnya dari leher Kyuhyun. Bola matanya yang tadinya berwarna hitam kini berubah warna menjadi merah menyala. Sisa darah yang tadi ia minum mengalir di sudut bibirnya. Ditatapnya Kyuhyun yang masih berusaha mengatur nafasnya yang entah kenapa selalu terasa sesak setiap kali kedua hyungnya itu menghisap darahnya. "Gomawo, Kyunnie..."
Yesung yang sedari tadi menyaksikan itu, mendekatkan dirinya pada Kibum. Dipegangnya dagu namja berwajah datar itu hingga menghadap dirinya. Tak berapa lama, ia pun menjilati darah yang masih mengalir di sudut bibirnya hingga akhirnya itu berakhir dengan ciuman yang cukup lama dan dalam.
.
.
Yesung bersandar pada ujung tempat tidur sementara Kyuhyun berbaring di pangkuannya. Keduanya berbagi earphone yang merupakan milik Yesung. Tangan sang namja bermata sipit itu mengelus surai kecoklatan milik Kyuhyun, sementara Kyuhyun memejamkan matanya menikmati sentuhan sayang dari hyungnya itu.
Kibum masih berada di kamar mandi, menuruti perkataan Yesung yang menyuruhnya untuk mandi. Jadi hanya ada mereka berdua saja di kamar ini.
Kyuhyun membuka matanya, ditatapnya wajah pucat hyungnya itu yang tidak pernah absen menunjukkan wajah dinginnya itu pada orang lain. Jujur saja ada yang mengganggu pikirannya saat ini dan itu ada hubungannya dengan tadi siang.
"Hyung…"
Yesung mengalihkan pandangannya pada Kyuhyun. "Nde?"
"Kalian menyembunyikan sesuatu dariku kan?"
"Mwo? Kau ini bicara apa?"
"Soal Mochi China itu. Ada sesuatu yang kalian sembunyikan kan waktu melihat lehernya? Apa dia..."
"Hm?"
"Dia tidak akan kenapa-kenapa kan— hmph!"
Kyuhyun belum sempat menyelesaikan ucapannya, ketika bibirnya telah lebih dulu dibungkam oleh bibir hyungnya, mengajaknya untuk tenggelam dalam ciuman yang dalam. Beberapa menit kemudian, Yesung melepaskan ciumannya dan menatap Kyuhyun—yang lagi-lagi—sedang berusaha untuk mengais udara sebanyak-banyaknya, dengan wajah yang memerah.
"Ya! Hyung! Aku bertanya, kau malah menciumku!"
"Dia tiak akan apa-apa. Setidaknya walau ada sesuatu yang membahayakan sekali pun, ada banyak orang yang bisa melindunginya—"
—terutama Heechul-hyung.
.
—To Be Continued—
.
a/n: Yey, chapter dua yang update lebih cepat dari yang saya duga. XD Gak tau ya, kenapa di chapter-chapter awal saya suka banget numpukin misteri. =_=
Oke, yang bisa nebak siapa Heenim-oppa di sini, boleh request pair apapun buat dimunculin di chapter-chapter depan. XD
DAAAANNN… buat para yadongers #diinjek. Berbahagialah kalian, karena saya berniat untuk memasukkan NC di chapter depan, sebelum masuk ke konflik utama. :'D #lah
Oke, waktunya masuk ke review corner:
The: Chapter depan rate M… insya Allah. :Da sama-sama, ZhouRy emang agak jarang nih. =.=
Kaguya: salam kenal. :D Gak kok, yang baru muncul emang Cuma dua itu, tapi chap2 depan, bakal muncul yang lainnya juga. :D
Oryzasativa: Sama, saya juga kangen sama ZhouRy. :D Kyu bukan vampire kok, tapi pacar2nya iya. ~.~
Mulov: haha, emang. =.=
BunyyMin25: Henry pasrah karena gak bias ngelawan. ~.~d Iya, Yeppa emang vampire. :D
ame chocho Shawol: Yeppa emang vampire. Dan kenapa Kyu punya seme dua, saya juga bingung. ~.~ #eh Soal ucapan Mimi-gege yang itu… tunggu aja deh. XDa haha, bagus kok kalau banyak nanya, artinya saya bisa bikin orang penasaran. #hah
ritsuka-higasashi males sign: Yoroshiku ne. :D Arigatou, ini udah saya lanjut.
Oke, sekian cuap-cuap saya, RnR? :D
