DISCLAIMER: HIDEKAZU HIMARUYA – HETALIA: AXIS POWERS
GENRE: FRIENDSHIP/HUMOR
WARNING: Out of Character, Out of Topic, Flat, Typo (s)
Repp review:
Akakonichiya-san: wah, terimakasih RnR-nya, saya senang. nah, ini lanjutannya..
Ostreichweiz-san: wah, terimakasih RnR-nya, saya senang. nah, ini lanjutannya dan wah, masa bahasa saya fun? (padahal saya tipe orang yang garing, loh)
Sekai-san: wah, terimakasih RnR-nya, saya senang. wah, ada kok fict USUK lainnya (punya author lain pastinya) tapi mungkin belum sempet kebaca yah?
Moku-chan: wah, terimakasih RnR-nya, saya senang. hayo, gimana, yah?
[sebelumnya..]
Satu jam berlalu dan tanpa Arthur sadari ternyata dirinya tadi terlelap tidur dan disampingnya juga Alfred yang juga tertidur. Alfred sangat baik mau menungguinya. Ia mengucek-ucek matanya dan merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Ya, sesuatu yang tidak beres. Dada Atrhur sudah tidak karuan lagi detak jantungnya. Ia tak berani bergerak sedikit pun dan berharap kalau 'hal itu' tidak benar-benar terjadi. Jangan bilang...
Mata zamrudnya melihat kearah selangkangan celananya dan sebuah noda merah merembes lewat celananya dan itu juga merembes ke sprei ranjangnya. Mimpi buruk. Bayangannya benar, sekarang ia harus bagaimana. Kalau sampai Alfred tahu habislah ia. Pergi, Arthur harus pergi dari sini dan membawa sprei ini. Identitasnya sebagai seorang perempuan harus tetap dijaga.
My God,tembus...
[Sekarang..]
Jari-jari Alice meremas gemas selimutnya. Kalau ia melarikan diri nanti Alfred pasti bertanya 'kenapa dan apa alasannya', tidak ada yang bisa ia lakukan. Keadaan tidak mendukung sama sekali dan kalau terus berdiam diri pasti akan ketahuan. Rasanya Arthur ingin menangis dan mati saja. Ini sangat memalukan dan semua ini salah ayahnya, Ian Kirkland. Bagaimana ini?
Perlahan Alfred membuka matanya dan melihat temannya Arthur –Alice– sedang menangis. Dengan sedikit heran, ia pun membetulkan kacamatanya. Arthur menangis? Kenapa?
"Arthur?" pemuda itu hanya terdiam dan tak menjawab. "Hei, kau kenapa? Apa perutmu bertambah sakit? Mau kuambilkan minum?"
Arthur tersentak kaget dan akal sehatnya kembali bekerja. Ia mengusap airmatanya dan menatap Alfred penuh harap. "Alfred, aku haus dan aku tidak bisa mengambilnya karena perutku masih terasa sakit." –Maaf, aku bohong soal perutku yang masih terasa sakit.
Alfred melihat k earah tempat minum yang ada di dekat meja suster penjaga. "Akan kuambilkan."
"Tunggu, aku ingin minuman yang ada di kafetaria bawah. Kau bisa membelikannya untukku, 'kan?"
"Kafetaria lumayan jauh, Arthur."
"Kumohon." Ujarnya dengan nada memelas dan membuat pemuda berkacamata itu menghela napas panjang. Alfred mengangguk dan menyuruh Arthur –Alice– untuk tetap berada di sini sementara ia turun ke kafetaria.
Dirasa cukup aman, Arthur menarik sprei dan turun dari ranjangnya. Mengganti dengan sprei baru yang ada di lemari penyimpanan pojok ruangan. Setelah selesai, ia berlari dengan membawa sprei yang terkena 'noda merah' itu ke asrama. Beruntung jarak asrama tidak jauh. Nafasnya terengah-engah ketika sampai di kamar dan segera mengganti celana sekolahnya dengan celana yang baru juga menyembunyikan sprei 'itu' di lemari pakaiannya. Ia harus cepat sebelum Alfred kembali ke Ruang Kesehatan.
.
.
Trrrtt~, trrrrrt~..
"Ya, William Kirkland, ada yang –..." belum selesai William menyelesaikan ucapannya, suara di ujung teleponnya sudah memotong duluan.
"Kak Will, ini aku Alice. Kak, aku butuh bantuanmu."
"Hei, hei, kau masih menggunakan nama perempuanmu itu, Arthur?"
"Ah, sudahlah, Kak, jangan bahas soal itu. Pokoknya kau harus membantuku!"
"Hmm, ada apa memangnya?"
Alice terdiam sejenak. "Aku membutuhkan benda 'itu'. Kau bisa mengirimkannya, 'kan?"
"Benda 'itu'? Apa maksdumu?" William menaikan sebelah alisnya yang lumayan tebal.
"Ah, Kak aku sedang buru-buru, nih dan tidak sedang ingin bercanda. Kau harus mengirimkan benda 'itu' segera. Aku tidak mau tahu!"
"Tapi aku memang tidak mengerti, Arthie."
"Masa Kakak tidak mengerti, sih? Aku ini perempuan dan setiap bulan pasti membutuhkannya."
"Apa? Uang bulanan?"
Arthur menepuk dahinya dan berusaha menahan kekesalannya. "Bloody hell, aku serius, Kak!"
"Mulai lagi bahasa 'berkilau'-mu itu keluar. Katakan saja yang jelas apa yang kau butuhkan."
Arthur sedikit malu untuk mengatakannya. "Pe-pembalut wanita."
.
.
Hening.
.
.
Suara tawa William langsung pecah saat itu juga. Hanya untuk mengatakan dua kata itu saja, adiknya Alice –Arthur– harus mengatakannya mati-matian susahnya. Arthur mendengus kesal mendengar suara tawa kakaknya yang semakin keras dari ujung telepon sana. Ingin sekali nanti ketika liburan Natal tiba dan ia pulang untuk menbanting William. Kesal!
"Kak?" William masih tertawa. Arthur pun menaikan nada suaranya beberapa oktaf. "Kak William~!"
"Ah, iya, iya, maaf. Kau tidak perlu berteriak seperti. Pffft~"
"Pokoknya cepat kirimkan. Segera dan jangan buat aku sampai menunggu lama!"
"Iya, iya."
"SE-GE-RA."
"Yes, Ma'am."
Arthur menutup teleponnya dan pintu Ruang Kesehatan dibuka. Alfred masuk dan memberikan sebotol minuman ringan padanya. "Ini yang kau mau. Butuh yang lain?"
"Tidak, terimakasih. Ah, kau bisa kembali ke kelas, Alfred."
"Lalu kau bagaimana?"
"Aku sudah tidak apa-apa."
"Hng~….." Arthur mendorong Alfred keluar Ruang Kesehatan. Pemuda bermabut dirty blonde itu melihat temannya itu lewat ekor matanya. "Kenapa kau memaksa?"
"Karena aku tidak ingin membuatmu ketinggalan pelajaran, Bodoh!"
"Hyah~, baiklah aku mengerti."
Alfred pun menurut karena jika ia membantah pasti temannya itu akan mengomelinya tanpa ampun bahkan kata-kata 'berkilau' pun akan menghujaninya secara beruntun. Padahal kalau ia mau menjaga mulutnya itu pasti akan tambah manis. Eh, manis? Tunggu, kenapa aku mengatakan Arthur itu manis? Argh, dia itu laki-laki, batin Alfred.
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya karena merasa bodoh bisa berpikiran kalau Arthur itu manis. Jangan sampai ia jadi homo hanya karena wajah Arthur yang terlihat manis. Tapi, temannya itu memang sangat manis. Apalagi jika sedang merasa kesal.
-0o0o0-
Barang titipan Arthur sampai ketangannya dengan selamat. Beruntung Mr. Wang Yao selaku Kepala Sekolah yang tahu bahwa ia perempuan, mengijinkan William untuk mengantarkan barang pesanannya. Arthur yang seorang perempuan bisa masuk ke sekolah khusus laki-laki karena ayahnya berteman baik dengan beliau. Walau awalnya sempat tak disetujui tapi pada akhirnya, Mr. Wang mengijinkannya juga. Benar-benar merepotkan.
.
.
Arthur yang sudah merasa lebih baik, memilih untuk mengikuti mata pelajaran selanjutnya. Mata pelajaran Olah Raga dan tanpa ia tahu, pilihannya untuk mengikuti mata pelajaran ini akan berujung pada sebuah masalah yang nantinya tambah merepotkan seorang Alice Kirkland –atau yang sekarang menggunakan nama Arthur Kirkland– yang bisa stress jika terus menjalani hari-garinya dengan berpura-pura menajdi laki-laki.
"Like, baiklah, untuk mata pelajaran Olah Raga kali ini kita akan melakukan Folk Dance." Ujar Mr. Feliks Lukasiewicz. "Totally keren 'kan~."
Semua siswa hanya bisa sweat drop saat melihat gaya Mr. Lukasiewicz yang mengangkat jari telunjuk dan jempolnya kemudian beliau diletakan di bawah dagu. Lelaki asal Polandia itu memang guru yang sedikit aneh, dia pernah membawa peliharaan kuda poni-nya ke sekolah sebagai tunggangan pribadi. Memang itu langah yang baik untuk mengurangi pencemaran udara tapi, kenapa tidak menggunakan sepeda atau kendaraan lain dengan bahan bakar biodiesel saja. Aneh juga ada batas wajarnya kali, Sir.
Mr. Lukasiewicz pun membagi pasangan masing-masing. Sebuah kebetulan Alice tidak berpasangan dengan Alfred. Entah kenapa kadang jika berdekatan dengan pemuda berkacamata itu dadanya selalu berdebar tak karuan. Kali ini pasangannya adalah Kiku Honda. Pemuda Asia berambut hitam dan beriris sewarna madu hutan. Ia memang jarang berbicara dan wajahnya juga lumayan tak punya ekspresi, tapi otaknya jangan diremehkan. Kiku Honda termasuk seorang yang cerdas dan ia menduduki peringkat pertama di kelasnya, lalu diposisi kedua Eduard Von Bock dan ketiga diduduki oleh Arthur –Alice– Kirkland.
Semburat merah terlihat diwajah Kiku yang seputih ukiran patung marmer. Manis. Mr. Lukasiewicz pun mulai memainkan musik dari tape recorder yang ada di dekatnya. Arthur memegang tangan Kiku perlahan dan mulai menari. Alfred yang berpasangan dengan Matthew Williams, sepupunya yang berasal dari Kanada, memperhatikan pasangan Arthur dan Kiku. Gerakan mereka berdua terlihat sangat serasi dan harmonis. Entah kenapa Alfred merasa sedikit risih melihat mereka berdua tapi, dengan kuat ia tepis berkali-kali ia mengingatkan pada dirinya sendiri bahwa ia bukan homo. Ya, bukan.
GUBRAK!
Pasangan Arthur dan Kiku terjatuh di tengah tarian. Kaki Kiku tidak sengaja menjegal kaki Arthur dan membuat ke duanya terjatuh. Kejadian ini jelas membuat semua siswa berhenti melakukan tariannya dan malah fokus pada mereka berdua. Arthur mengaduh kesakitan dan tanpa ia sadari tangan Kiku berada di atas dadanya. Sedang Kiku juga belum menyadari keadaan tangannya yang menyentuh bagian yang rawan. Keadaan hening sejenak, mata dan otak Arthur belum terkoneksi dengan baik. Dua menit kemudian.
"KYAAAAAAAAAAA~!
Arthur menjerit dan menarik diri dari bawah tubuh Kiku. Mundur sejauh mungkin dengan wajah yang ketakutan bercampur panik. Satu masalah besar datang. Ini rasanya seperti ditimpa batu besar bertuliskan 1000 ton. Sekarang Arthur merasa khawatir dan takut kalau Kiku menyadari bahwa tubuhnya berbeda dengan laki-laki pada umumnya bagaimana?
Ba-bagaimana ini? Apa aku berpura-pura pingsan saja? Tuhan, ini sangat memalukan!
[TBC]
[A/N]
Saya benar-benar kena WB dan lupa cara menulis dengan baik dan benar. Semoga Chapter Dua gak mengecewakan, untuk selanjutnya saya usahakan lebih baik lagi. Maaf, juga kalau dibuat pendek dan lagi-lagi saya memotong dibagian yng mungkin bisa dikatakan tegang.
Hahahaha ketawa tanpa ekspresi
((plak))
Akhir kata (?) mind to review and give an advice or suggestion?
