Wah…ternyata responnya baik juga O_O *bengong*. Wkwkwk~ Saia bales lewat PM aja ya dan ini dia chap kedua! Kasih sinopsis cerita sebelumnya dulu~ biar keingat lagi.

Ringkasan cerita sebelumnya :

Sena dan Suzuna makan malam bersama di sebuah restoran setelah Sena menunggu kedatangan Suzuna di pintu restoran. Mereka mau makan malam tetapi semua meja penuh. Satu-satunya meja yang kosong disana adalah meja yang dipesan oleh keluarga Moran -menurut Suzuna- sepertinya mereka tidak datang. Tanpa menaruh rasa curiga apapun mereka menempati meja tersebut dan memesan makanan. Begitu selesai, mereka didatangi dua orang misterius. Langsung saja Sena dan Suzuna disangka adalah anggota keluarga Moran. Meskipun Sena dan Suzuna menjelaskan keadaan yang sebenarnya, mereka tetap menganggapnya dan mulai menyerang. Mereka berdua pun menyelamatkan diri. Bagaimana jadinya?


Eyeshield 21 © Yang jelas bukan aq yang punya.

Dinner 21th Down © Kinichairuudou Akari –chan-

Rated : T for crime O.O"

Warning : OOC, OC, selipan bahasa gaul XD, semi-canon, dan lain-nista. Klo gak suka remove ajah.

Chapter 02, Escape From Capone Family


Friday 11 June. 10:03 PM

"Hah…hah…hah…"

Terdengar nafas mereka berdua dengan cepat. Berlari di jalanan sepi yang mencekam disertai bangunan-bangunan tinggi dan menghindari dari pria misterus yang tiba-tiba saja menembak mereka. Serta derap kaki Sena dan Suzuna yang berusaha menghindari maut.

DRAP! DRAP! DRAP!

PSIIUUU!

TAK!

"KYA!" teriak Suzuna begitu ada sesuatu yang menggores kakinya.

"Suzuna, ayo cepat!" perintah Sena. "Sebentar lagi kita akan sampai di stasiun! Disana ada pos polisi!" ujar Sena sambil menarik tangan Suzuna lebih kuat. Tetapi, itu malah melepaskan genggaman tangan mereka.

"Sena! Hah…hah…" panggil Suzuna terengah-engah, "Aku tidak bisa berlari cepat sepertimu! Lagipula, hah…hah… sepatu ini susah untuk berlari!"

"Hei! Bisakah kalian diam dan menuju surga dengan tenang, Moran sialan?" teriak pria pendek yang mengejarnya. Ia lalu menodongkan pistolnya sekali lagi.

PSIIUUU!

TAK!

"Tch! Meleset!" ujarnya sebal.

Sena memalingkan kepalanya. Dilihatnya Suzuna berada di belakangnya dan jarak diantara mereka makin melebar. Sementara pria misterius itu makin mendekati Suzuna.

"Ayo!" teriak Sena sambil menarik tangan Suzuna dan mendorongnya ke depan. Itu membuat Suzuna berada di depan dan Sena didepan pria itu. "Suzuna, cepat!"

"Tapi…" kata Suzuna ragu.

"Tidak akan kubiarkan kabur!" teriak pria itu sembari menodongkan pistolnya.

Suzuna melihat ke depan dan ia mendapat ide. Segera ia menarik tangan Sena yang berada di belakangnya. "Ikuti aku!"

"Hei, mau kemana?" kata pria itu lagi.

Suzuna berbelok ke kiri dan disusul dengan Sena. Pria itu mengikuti, dan ia sangat terkejut.

"…! Tch! Sepertinya aku harus bersiap-siap untuk dimarahi Herion nanti…" ujar pria itu kesal dan berbalik menuju restoran tadi.

Sena dan Suzuna mengambil nafas lega. Dan mereka kini bersandar ditembok.

"Hah…untung saja aku ingat disini ada minimart 24 jam yang selalu ramai…" ujar Suzuna lega. "Aku berpikir, pria itu pasti menyerah kalau ditempat seperti ini…"

"Ya. Benar juga. Kalau tidak, orang-orang disini pasti tahu ada orang asing yang memegang senjata…" kata Sena lega. Tapi…jantungnya masih belum berhenti. Pertanda ini tidak akan selesai begitu saja.

"Sena, bagaimana ini? Apa kita lapor polisi saja? Tuh, disana ada pos polisi…" usul Suzuna sambil menunjukkan letak pos polisi dengan jarinya.

Sena terdiam, keringatnya masih mengalir dan nafasnya mulai beraturan. "Bagaimana ya Suzuna… Apa…mereka mau tahu kalau kita dikejar-kejar seperti ini hanya karena meja pesanan?" tanya Sena.

"Coba saja Sena! Aku tidak mau dikejar-kejar seperti tadi! Lihat, kakiku tergores gini…" kata Suzuna sambil menunjukkan kaki kanannya yang tergores peluru tadi. Itu membuat Sena iba.

"Uhm…baiklah. kita akan berusaha untuk memberitahu hal ini. Ayo!" ajak Sena menyetujui usulan Suzuna.

Friday 11 June. 10:08 PM

Pria ramping itu menunggu di restoran sambil mengamati keadaan sambil memencet tombol Handphone-nya dengan cepat. Ia duduk di meja yang sempat ditempati Sena dan Suzuna tadi. Kemudian ia menoleh, melihat pria yang dikenalnya kembali.

"Bagaimana Morf?" tanyanya.

"Akh! Maaf Herion! Lari pemuda itu cepat sekali! Aku tidak bisa mengendalikan bidikanku dan mereka kabur ke tempat yang ramai dan kau meyuruhku untuk menghindari saksi." sesal Morf. "Terserah deh kalau kau mau memarahiku sampai puas."

"Aku sudah menduga kau tidak akan bisa mengejarnya…" kata Herion. "Jadi, aku tidak perlu memarahimu dan menendangmu seperti biasanya."

"Ng…yto?"(apa?) tanya Morf. "Kau serius?"

"Ya." Jawab Herion singkat.

"Kenapa?"

Herion memberikan Handphone-nya kepada Morf dan diterimanya. Morf mengenggut, "Apa? Eyeshield? American Football?"

"Dia ternyata terkenal. Kita dengan mudah bisa mencari segala informasi tentang dia." Jelas Herion. "Ayo, kita keluar dari restoran ini."

"Tapi…benarkah mereka berdua tadi adalah keluarga Moran yang selama ini kita cari-cari? Aku sebenarnya kepikiran dengan alasan gadis itu." Ujar Morf mengeluarkan pendapatnya sembari mengikuti Herion keluar dari restoran.

"Benar, mereka keluarga Moran. Aku yakin." Jawab Herion. "Kalau pun mereka bukan keluarga Moran kita tidak boleh membiarkannya hidup karena mereka tidak bisa diam…"

Friday 11 June. 10:09 PM

"Sungguh Pak kami benar! Kami tadi dikejar-kejar sama pria yang berpistol!" jelas Suzuna sekali lagi kepada dua bapak polisi.

"Kami percaya kalau kalian dikejar-kejar sama orang yang memegang pistol… Tapi, kami tidak percaya akan perkataanmu dari. Musuh keluarga Moran? Apa itu?" tanya salah satu pak polisi itu.

"Hm…sepertinya…aku pernah dengar. Kalau tak salah…di film-film." Guman pak polisi yang lain.

"Tapi, Pak! Itu benar!" ujar Sena.

"Sudahlah…bagaimana kalau kalian memberikan keterangan dan ciri-ciri orang yang mengejar-ngejar kalian itu? Kemungkinan akan meresahkan masyarakat disini nantinya." Kata polisi. "Pertama, tolong isi data diri kalian, alamat, nomor telepon, dan ciri-ciri orang yang mengejar kalian tadi. Nanti kami yang akan menyelidikinya. Siapa tahu itu adalah seorang buron." Saran polisi itu sambil menyerahkan dua lembar kertas ada mereka berdua. Plus pulpennya.

Sena dan Suzuna berpandangan, kecewa, karena perihal soal keluarga Moran itu tidak ditanggapi dengan serius oleh polisi-polisi itu. Tapi…mau bagaimana lagi? Kalau pun mereka menjelaskannya lagi, pasti sia-sia dan dianggap main-main. Lagipula, Sena dan Suzuna lelah hari ini karena persoalan tadi. Ya…daripada disini sampai pagi mendingan lakukan sesuatu yang bisa dilakukan deh. Seperti mengisi lembar kertas itu. Dan mungkin setelah itu polisi akan menyelidiki siapa yang mengejar Sena dan Suzuna tadi. Dengan begitu, selesailah sudah.

Sena dan Suzuna segera mengisi lembaran kertas itu dengan cepat. Karena mereka capek dan mau pulang. Setelah itu mereka segera menuju halte bus. Takut ada yang tidak-tidak kalau seandainya mereka berlama-lama disana.

Sepeninggalnya mereka, dua polisi tersebut segera mengambil kertas itu dan membaca isinya.

"Hm…ciri-ciri orang yang mengejar mereka tadi membawa pistol, tinggi kira-kira sekitar 157, berambut acakan dan berpakaian serba hitam." Baca salah satu polisi tersebut.

"Di sini tertulis temannya tinggi, pakaiannya hitam dengan dasi merah, rambutnya seperti Taka Honjo tetapi lebih rapih…Lho? Siapa sih yang menulis beginian?" heran salah satu polisi yang lain begitu membaca ciri-ciri tadi.

Selagi mereka membaca lembar kertas yang diisi Sena dan Suzuna itu, ada dua orang yang mendatangi pos mereka. Dua polisi itu pun menyadarinya.

"Permisi…apa ada yang bisa saya bantu?" tanya polisi itu. Begitu mereka melihat dua orang itu, nafas mereka terhenti dan mereka amat sangat terkejut. Dua orang itu…mirip dengan apa yang tertulis di lembar kertas yang mereka bawa. Mereka berdua mundur, menjauhi mereka.

"Wah, wah…ada apa? Kok kalian menjauh?" tanya Morf sambil mengeluarkan pistolnya. Tetapi dihalang oleh Herion.

"Biar aku saja, Morf…" ujar Herion sembari mengeluarkan pistol peredam suara dari balik jas. Kemudian ia mengarahkan pistol itu kepada dua polisi tersebut.

"Maaf…aku sedang tidak mood…"

PSSIIIUUU!

BRAK!

Satu polisi terjatuh dengan lubang sembilan milimeter di dahinya. Temannya terkejut, dan ia pun melawan dengan mengeluarkan pistolnya. Tetapi…

PSIIIUUU!

BRAK!

Polisi itu kalah cepat. Kini teman polisi tersebut terbaring terkapar dengan tubuh bersandar di tembok. Dengan keadaan yang sama dengan polisi yang sebelumnya. Herion melangkah menghampiri kedua tubuh yang tak bernyawa itu dan mengambil dua lembar kertas yang masih ada di genggaman mereka. Kemudian, ia menghampiri Morf.

"Selidiki alamat ini, Morf. Sekarang." Perintah Herion. "Ayo, ke markas sekarang juga."

"Baik." Patuh Morf sambil mengikuti Herion yang ada di depannya.

.

To Be Continued~


Chap hari ini selesai juga XD. Sebenarnya, aq pengen lebih tuh menggambarkan proses penembakan si Herion tapi gak berani XP. Ha hay~ semoga gak didatengin sama hantu Moran dan Capone yang asli karena bikinnya sembarangan gini soalnya mereka bukan fiksi O.O" beneran ada di Wikipedia.

Ha hay lagi~ Ripyu minna-san XD! Maaf pendek. Ini page 4 lho~ (termasuk bacotan saia XP)