Chapter 2
Hebat. Fantastis. Demi Gaia; kau benar-benar jenius; Tifa Lockhart ! Aku memaki diriku sendiri dalam hati. Pantas saja Cloud tidak mau berpacaran denganku. Aku benar-benar bodoh ! Aku sudah mengisi baskom dan kedua kendi besar dengan air, tetapi sekarang bagaimana aku bisa membawa dua kendi raksasa dan satu baskom besar kembali ke tenda kami setelah benda-benda ini sekarang penuh air ?! Kecuali aku punya tenaga seperti Barrett dan punya empat tangan; aku tidak akan bisa membawanya sekaligus.
Sesaat aku mengamati kedua kendi besar itu. Oke. Tidak ada Wonder Woman disini. Yang ada hanya aku; Tifa Lockhart; dan aku harus membawa benda ini. Mmmhh.. mungkin sebaiknya aku membawanya satu-satu saja. Pertama aku akan membawa baskom dan satu kendi, kemudian aku akan kembali lagi untuk menangkap ikan disini dan mengambil kendi satunya.
Aku merangkul salah satu kendi dengan lengan kananku sementara tangan kiriku memegang baskom sedemikian rupa supaya airnya jangan tumpah. Oke. Begini cukup baik. Aku mulai berjalan.
Memang tidak ada rintangan. Tapi sepanjang jalan mau tak mau aku terus bertanya dalam hati sedang apa sih Yuffie dan Rinoa sekarang ?!
Aku kembali ke tenda, meletakkan kendi dengan lega. Lengan kananku rasanya kesemutan dan memerah selama beberapa waktu. Aku meletakkan baskom juga, lalu kusadari bahwa tidak ada yang menyalakan api unggun. Aku tidak bisa menahan rasa penasaranku, maka aku berjalan ke tenda Vincent dan menyibaknya untuk mengintip…..
Coba tebak ?! Gadis Wutai kita jatuh tertidur di sebelah Vincent !
Sebenarnya aku ingin sekali membangunkan Yuffie, tetapi aku tidak enak pada Vincent yang juga tertidur. Jadi aku keluar lagi dari tenda mereka dan berjalan ke tenda Squall.
Yang ada disana hanya Squall dan Seifer. Bagusnya; Seifer masih di sudut dan tidur. Sedangkan Squall berbaring tapi matanya terbuka, lalu menatapku.
"Ms. Lockhart ?" Squall berbisik.
"Yeah ?"
"Apa kau lihat Rinoa ?" Tanyanya.
Apa ?! Apa aku lihat Rinoa ?! Otakku bekerja; Bukankah seharusnya aku yang bertanya begitu pada Squall --- apa Squall lihat Rinoa ?! Oh, jangan bilang padaku di saat seperti ini; dalam keadaan begini; Tuan Puteri Heartilly menghilang !
Squall menatapku; "Ms. Lockhart ?" Dia menegur.
"Tidak, aku tidak lihat Rinoa !" Aku tidak bisa menahan diri untuk membentak, lalu aku menutup tendanya dan berjalan menjauh. Aku menghela nafas. Apa sih yang ada di pikiran gadis bernama Rinoa itu ?! Kemana dia kira-kira, selagi semua orang kesusahan begini ?! Dan --- mau tak mau suara dalam kepalaku menyalahkan siapa pun yang bisa kusalahkan, termasuk --- Kenapa sih Cloud bisa jatuh sakit segala ?! Sebagai orang yang kuat, hebat…Sebagai laki-laki dia…… Oh, forget it !
Syukurlah saat aku sedang putus asa begini, Gaia membangunkan Yuffie. Gadis itu keluar dari tenda dan berkata; "Tifa, maaf. Aku tertidur. Aku capek sekali."
"Yuffie," Aku menatapnya. Kusadari bahwa aku cukup marah; "Aku tahu kau capek, tapi aku pun sama capeknya denganmu ! Aku memang lebih tua beberapa tahun darimu tapi aku juga wanita sepertimu, dan aku tidak bisa sendirian menghadapi situasi ini sementara kalian beristirahat !"
Yuffie agak terkejut menyadari nada suaraku. "Ma-maaf." Dia berkata lagi; tampak sangat menyesal.
"Sudahlah !" Aku menghela nafas. Aku tahu dia menyesal. Aku sudah berlatih menjadi orang sabar dengan memelihara seorang anak angkat di rumah.
"Apa yang bisa kulakukan, Tifa ?" Tanya Yuffie pula.
Aku diam sejenak, lalu menjawab; "Cari Rinoa. Anak itu entah dimana, yang pasti tidak bersama Squall dan tidak ada di sekitar sini. Tolong cari Rinoa dan jaga dia, sementara aku akan mengambil kendi air yang satu lagi dan sekalian aku akan menangkap ikan untuk makan siang kita."
"Baiklah." Ucap Yuffie.
Maka aku merasa lebih lega dan kusadari aku sudah bisa tersenyum lagi. Aku kembali ke tempat mata air. Syukurlah kendi yang kutinggalkan masih utuh di tempatnya. Aku menatap ke mata air dan melihat beberapa ekor ikan. Oke, sekarang aku harus menangkap ikan. Pertama-tama… um…. Tombak ! Aku butuh tombak !
Aku memungut ranting tipis yang ada di tanah. Anggap saja ini tombak. Aku pun masuk ke dalam air, membiarkan betisku tenggelam, dan menatap salah satu ikan. Aku menusukkan tombakku, tetapi gagal.. ikan itu berenang dengan gesit.
Baiklah, aku toh bukan Wonder Woman. Tapi jangan harap ikan-ikan ini bisa mempermainkan Tifa Lockhart.
Aku berusaha lebih keras lagi dan berkonsentrasi penuh. Syukurlah akhirnya aku bisa menusuk beberapa ekor ikan. Setelah beberapa saat aku sudah berhasil membuat tumpukan ikan di pinggir mata air. Aku menusuk satu lagi, mencabutnya dari tombakku dan melemparkannya lagi ke atas tumpukan, lalu aku kembali ke darat. Kakiku basah semua. Aku membuang tombakku dan duduk, melepaskan sepatuku dan mengeluarkan air dari sepatuku.
Aku duduk selama beberapa saat, memandangi tumpukan ikanku. Sekarang bagaimana aku bisa membawa mereka kembali ke tenda ? Tidak mungkin kan aku memeluk ikan-ikan itu lalu membawanya seperti anak kecil yang meraup permen ?
Selagi aku bingung mendadak terdengar suara; "Tifa !"
Aku menengok dan melihat Yuffie datang. Oh, mendadak aku merasa sangat sayang padanya ! Gadis Wutai-ku ! Aku tersenyum padanya.
Kebetulan sekali dia membawa baskom miliknya yang rupanya baru digunakannya untuk mencuci muka Vincent.
"Rinoa sudah kembali, aku menemukannya tak jauh dari kita; sedang berusaha mencari buah-buahan yang jatuh di tanah." Kata Yuffie; "Sayangnya dia tidak berhasil mendapatkan satu buah pun…. Oh." Mata gadis Wutai itu menatap tumpukan ikanku; "Kau hebat, Tifa !!" Dia memelukku.
"Hey !" Aku tertawa dan membalas pelukannya.
Seolah bisa membaca pikiranku, Yuffie berkata lagi; "Baskom ini kita gunakan untuk membawa ikan-ikan ini dulu, lalu setelah itu aku akan kembali lagi ke mata air ini dengan baskom ini untuk mencuci dan membersihkannya serta mengisinya dengan air baru untuk Vincent."
"Terima kasih." Kataku.
Maka itulah yang kami lakukan. Kami berhasil membawa ikan-ikan itu sekali jalan; termasuk si kendi yang tadi tertinggal. Lalu selagi Yuffie pergi kembali ke mata air, aku membuat api unggun dan menggunakan ranting tipis lain yang ada di tanah untuk menusuk ikan-ikan seperti sate dan memanggangnya.
Karena lapar, Rinoa keluar dari tenda dan menghampiriku. Matanya merah dan sembab, mungkin tadi dimarahi Yuffie habis-habisan. Aku mengulurkan satu tusuk sate yang berisi empat ikan kepadanya.
"Pegangi ini di api." Kataku sambil membuat tusukan sate yang baru; "Bukan pekerjaan sulit, kan ?!"
Dia menerimanya tanpa banyak bicara dan memeganginya di atas api.
Kami berdua memanggang masing-masing satu tusuk berisi empat ikan.
"Kita masih harus memanggangkan ikan untuk Cloud, Vincent, dan kedua temanmu." Kataku pula.
Dia diam sejenak, lalu menjawab dengan takut-takut; "B-bagaimana kalau kita tinggalkan S-seifer ?"
Aku menatapnya.
Dia meneruskan; "D-dia bukan orang baik."
Aku memutar bola mataku. Apakah anak itu tidak mengerti juga ?! Aku menjawabnya; "Dengar. Baik aku, Yuffie, Cloud, maupun Vincent; kami semua tidak mengenal orang yang bernama Seifer itu ! Kau yang mengenalnya. Sebenarnya kami tidak perduli apakah kau mau meninggalkannya atau tidak. Tapi yang kami tahu; rasanya keterlaluan bila kita membiarkan seorang manusia yang sedang sakit demam seorang diri tertinggal di pulau asing begini !"
"D-dia bukan manusia." Rengek Rinoa; "Kau dengar kan, dia ingin menjadi ksatria putih sang penyihir !"
Aku menghela nafas dan nyaris menjatuhkan sate ikan di tanganku ke dalam kobaran api. "Disini bukan cerita Cinderella." Ucapku; "Oh, sudahlah ! Kalau kau tidak mau merawatnya biar Yuffie dan aku yang merawatnya sekalian kami merawat Cloud dan Vincent, jadi tidak merepotkanmu ! Puas ?!"
Rinoa tidak menjawab tapi agaknya dia puas. Satu-satunya alasan sebenarnya kenapa dia hendak meninggalkan Seifer adalah karena dia tidak mau merawat dua orang. Dia tidak mau repot.
Gadis yang menyenangkan; Pikirku sinis.
Akhirnya Yuffie kembali. Kami memanggang ikan-ikan itu dan setelahnya aku dan Yuffie masing-masing menyuapi Cloud dan Vincent dulu, baru kemudian kami makan. Sebaliknya dengan Rinoa. Dia makan dulu, baru menyuapi Squall.
Setelah itu aku memaksa Yuffie menyuapi Seifer. Awalnya gadis Wutai itu sangat menolak, tapi karena kasihan padaku (aku pasti kelihatan sangat capek) dia menurut juga. Dari luar tenda aku bisa mendengar teriakan-teriakan kemarahan antara Yuffie dengan Seifer yang sedang bertengkar. Seifer agaknya menolak disuapi oleh cewek yang tidak dikenalnya, sedangkan Yuffie yang emosional pastilah langsung mengomel.
Teriakan-teriakan itu membangunkan Cloud. Dia merangkak menyibakkan tendanya; "Ada apa ?" Mata birunya yang jernih menatapku.
"Tidak ada apa-apa, Cloud, tidurlah lagi---"
"Kemarilah sebentar, Tifa." Dia memutusku.
Maka aku masuk ke dalam tendanya. Dia kembali ke tempat tidurnya dan berbaring lagi, tetapi tidak tidur. Dia menatapku dan bertanya; "Sebenarnya ada apa sih..?"
Aku angkat bahu.
"Tifa ? Ayolah." Desaknya.
"Gadis itu menyebalkan." Kataku dengan suara pelan; "Rinoa."
"Aku tidak keberatan kalau kita tinggalkan dia." Jawab Cloud; "Dia bukan teman Yuffie atau teman Vincent, kan ?! Dan kau tidak kenal dia sebelumnya, kan ?!"
"Cloud, kita tidak boleh begitu." Jawabku ragu-ragu sebab sebetulnya ide Cloud sangat bagus; "Siapa tahu dia akan bisa berguna bagi kita. Kita berada di pulau asing, dan kita harus menjalin kerjasama kalau ingin tetap hidup."
Cloud memejamkan matanya sejenak mendengar perkataanku, lalu setelah beberapa detik dia membukanya lagi dan kembali memandangku; "Well, kalau begitu.. biar kubantu kau mengurus salah satu dari kedua pemuda asing itu !"
"Tidak usah ! Aku dan Yuffie---"
"Ayolah, Tifa. Aku tidak selemah dugaanmu. Aku sudah mulai sehat. Pindahkan saja salah satu dari kedua pemuda itu ke tendaku dan kujamin aku akan membantumu menjaganya. Daripada dia membuat onar terus ?!"
Awalnya aku tidak menyetujui ide Cloud, tetapi malam itu ada suatu kejadian menyebalkan; yaitu Seifer mencoba melarikan diri. Maka akhirnya aku dan Yuffie memindahkan Seifer ke tenda Cloud. Dan Rinoa sangat senang dengan keputusan ini, walaupun itu berarti baik aku dan Yuffie harus sering-sering mengintip ke dalam tenda Squall untuk mencegah Squall dan Rinoa yang masih begitu muda berbuat sesuatu (sex) dalam kesempatan begini.
Continue to Chapter 3
