09- September -2012

08:15 P.M


Terlelap di bawah langit tua

Alur mimpi membawanya jauh

Disinilah ia sampai terbawa

Langit keemasan

Hutan kuning pucat tanpa bulir air padat

Tembok kelabu dan menara dadu

Memandang karang kokoh dari atas gunung batu

Dedaunan berjatuh ringan

Berpendar di bawah sinar bulan pasih

Hilanglah desauan tenang angin di malam jingga

Dan istana berhias luka

Amethyst dan Bacchus terpisah rupa

Tulang pulang pada asalnya

.

.

.

.

Bruk...

Seseorang telah menabrakku, ia yang duluan menabrak dan ia pula yang terduduk di tanah. Sekilas, orang itu mencurigakan. Ia mengenakan jubah dengan tudung yang menutupi kepalanya –juga sedikit bagian mukanya—.

Aku tak punya pilihan lain selain mengulurkan tangan untuk menawarkan bantuan. Alih-alih menerima pertolongan ku, orang itu malah bangkit sendiri. Dan aku merasa kesal akan sikapnya –jarang sekali aku mau seperduli ini dengan orang— lalu orang itu dengan seenak hati mensia-siakan pertolonganku.

Tiba-tiba aku mengingat peranku sebagai prajurit. Dan aku mengambil kesempatan untuk mengintrogasinya –introgasi terlalu cepat ku rasa—jadi aku hanya ingin membuka tudungnya dan memastikan siapa ia sebenarnya –yah...jika terbuka pun sebenarnya aku tidak akan kenal—. Ia langsung mencegah dengan memegang lenganku untuk menghentikannya. Dan walaupun aku tidak begitu perduli dengan mahluk bernama 'perempuan' tapi aku bisa memastikan bahwa yang tengah memegang lenganku ini adalah tangan perempuan.

"Tolong jangan halangi aku."

Dan benar saja kalau ia perempuan, suaranya halus dan terdengar berwibawa.

Alisku melejit naik "Halangi apa?" aku tidak mengerti.

"Bantu aku." "Aku mohon."

Pada kalimat 'aku mohon' itu hanya terdengar rendah seperti bisikan.

Aku berpikir. Ada benarnya juga jika aku membantunya –daripada terjebak disini dengan memakai baju besi yang lama kelamaan membuatku gatal—.

"Baik." Aku mengangguk "Apa yang harus aku lakukan?"

"K-kau yakin?"

"Hn."

Gadis itu menunjuk ke arah bawah kaki bukit. "Kita harus menuruni bukit. Dan segera pergi dari sini."

Sebenarnya apa tujuannya dan siapa dia, aku benar-benar tidak tahu, dan entah mengapa aku menurut. Disinilah aku. Sedang mengendap-endap menuruni tebing karang yang kukuh di bawah Kastil –yang susahnya luar biasa karena malam hari—.

Tebing karang berhasil ditaklukan. Aku melihat gadis bertudung itu lari ke arah hutan yang kelihatannya sangat lebat. Aku mengikutinya.

Setelah memakan waktu lama, kami berhasil menjauh dari Kastil dan memasuki bagian terdalam hutan yang gelap dan basah.

Di bawah pohon Willow yang rindang, terikat seekor kuda berwarna abu-abu. Aku melihatnya samar-samar karena hanya di bantu sinar bulan purnama yang menggantung di langit.

Gadis itu menghampiri kuda dan meraih kekangnya.

"Kita harus pergi sebelum matahari terbit." Katanya.

Ia terdiam seperti menungguku.

Apa ini berarti aku harus menunggangi kuda? Yang benar saja. Aku tidak bisa. Tapi setidaknya aku pernah diajari berkuda oleh Ayah –dulu. Dan bahkan aku tidak mengingat bagaimana caranya—

"Cepat Knight." Ia berseru. Tapi pelan.

Tentu saja aku tidak mau terlihat payah di depan seorang perempuan kan? Jangan pernah membuat malu Uchiha. Walaupun di alam mimpi –kalau memang iya ini mimpi—.

Gadis itu duduk di depan, sementara aku mengendalikan kuda sebisaku. Dan ini tidak terlalu buruk. Uchiha tidak payah, dan aku Uchiha.

Aku yakin ini sudah sangat jauh dari Kastil. Dan seluruh isi wilayah ini mungkin hanyalah hutan dan hutan saja. Keadaan gelap gulita. Kulit pucat pepohonan Brich yang tumbuh di tepi hutan tampak berpendar dalam temaram malam.

Malam yang temaram dan sunyi di dalam hutan lebat. Hanya derap kuda abu-abu yang tertangkap indera pendengar. Tubuhku terguncang-guncang di atas kuda.

Lama kami melakukan perjalanan dari Kastil ke arah barat sesuai permintaan gadis bertudung yang masih belum aku ketahui identitasnya.

"Knight. Kita istirahat dulu. Kau pasti lelah."

Aku menghentikan kuda ku di dekat pohon Willow yang rindang. Aku mengikatkan kekangnya di batang pohon kecil.

Gadis itu duduk bersandar di bawah pohon Willow. Sampai sejauh ini, aku tidak tahu seperti apa wajahnya. Dan itu tidak terlalu penting. Aku membantunya karena aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa di Kastil. Kalau seandainya seorang pria yang datang saat itu dan dia mengajakku, aku akan tetap ikut. Karena aku tidak punya tujuan di Kastil, aku hanya ingin melakukan hal jelas. Dan ini bukan berarti aku sedang bermain peran pahlawan karena sudah menolong wanita.

Aku menjaga jarak beberapa langkah dari gadis itu. Aku tidak mau diteriaki mesum atau semacamnya.

Aku tidak berminat untuk mengajaknya bicara atau yang lainnya. Aku tidak perduli. Lagipula aku masih kesal karena gadis itu mensia-siakan pertolonganku tadi. Lebih baik tidur saja agar cepat pagi dan terang. Mataku terpejam dan menghilang.

.

.

Tubuhku terasa hangat. Mataku mengerjap membuka perlahan, sinar matahari pagi dari sela-sela daun pohon Willow berhasil membangunkanku. Aku menggeliat. Badanku terasa remuk karena tidur di tanah yang lembab. Aku melihat kesekeliling, menyadari sesuatu bahwa –gadis itu tidak ada—. Kantuk ku sirna. Aku segera bangkit dan berinisiatif mencarinya. Aku mendengar suara gemircik air yang deras. Aku mengikuti sumber suara. Aku melihatnya, gadis itu tengah berjongkok di bibir sungai. Rambutnya berwarna Indigo, lepek –dan terlihat basah—. Aku cepat-cepat pergi dari tempat saat menyadari gadis itu akan menoleh. Sekali lagi, aku tidak mau di teriaki mesum. Itu akan sangat melukai nama Uchiha ku. Aku berpura-pura tidak tahu dan kembali pada posisiku semula, berbaring diatas rumput yang basah oleh embun. Udara basah di pagi hari, burung pipit berwarna biru muda meloncat-loncat lincah dari satu dahan ke dahan yang lainnya, sudah lama tidak pernah melihat pemandangan seperti ini. Benar-benar mimpi yang indah.

Gadis itu muncul dari semak dengan wajah sedih.
"Knight. Aku tidak bisa menangkap ikan-ikan disana." Katanya.

Untuk sesaat aku terpaku melihat wajahnya. Kulitnya seputih susu. Iris matanya berwarna lavender. Aku langsung menyadarkan diriku sebelum aku mengatakan kalau dia adalah 'mahluk Tuhan paling indah'.sungguh.

Dan lagi-lagi aku menemui kepayahanku –dan aku tidak mau menganggap ini payah—karena aku memang tidak payah. Wajar saja kan jika aku tidak bisa menangkap ikan dengan tangan kosong?. Aku bukan manusia purba.

Aku mengamati sekumpulan binatang berdarah dingin yang berenang melawan arus sungai. Dan tentu saja dengan gadis lavender itu di belakangku.

Aku mulai berjongkok di bibir sungai dan memasukkan kedua telapak tanganku kedalam air sungai yang –aku baru tahu kalau airnya sedingin es—.

Tujuh ikan Trout bersisik coklat terus berenang melawan arus. Aku teringat sesuatu yang –mungkin—i ni sangat konyol tapi ini benar fakta. 'Menggelitik Trout' seperti yang di ajarkan oleh Kakek sepertinya patut di coba. Sebuah kegiatan sulit dan membutuhkan kesabaran yang besar.

Aku perlahan menyatukan diri dengan arus, dasar sungai itu berbatu dan airnya beriak. Akhirnya seekor Trout gemuk berenang menghampiri tanganku. Perlahan-lahan aku mulai menggelitiki perut ikan. Ikan itu menggeliat-geliat –mungkin kegelian atau apa aku tidak tahu— dan ini waktu yang tepat. Aku menyambarnya dan menjatuhkannya ke atas rumput, lalu membantingkannya ke atas batu hingga mati –dengan membaca do'a sebelumnya, Ibu selalu menasehatiku akan hal itu—. penangkapan ikan tadi benar-benar tepat seperti yang diajarkan Kakek. Dan aku bangga. Ternyata ini berguna juga.

Setelah mendapatkan dalam jumlah yang cukup. Aku membuat api, dan berhasil menyalakan api dengan bantuan gesekan dua buah batu, seperti yang diajarkan pada kelas Pramuka dulu. –skor pramuka ku tidak terlalu menyedihkan—.

Aku menyerahkan ikan Trout berkulit renyah yang sudah ku panggang menggunakan ranting.

"Kau harus makan." Kataku datar. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa pada perempuan.

Gadis itu menerima. "Terimakasih atas sarapannya, Knight. Menyaksikan caramu menangkap ikan. Aku pikir itu adalah keahlian yang jarang didapati." Gadis itu tersenyum untuk menutup kalimatnya.

Aku berpikir mengapa masih ada seorang gadis yang seusiaku berbicara dengan tata krama yang tepat dan terdengar sopan sekali. Cara makannya juga sangat berbeda.

Ia berhenti menyantap ikan yang dipeganginya. Mengusap bibir tipisnya dengan Ibu jari kanannya. "Aku hampir lupa. Terimakasih sudah bersedia menolong ku Knight. Kau tentunya sudah memahami bahwa kerajaan Beqgh sedang berada pada masa kejayaan sekaligus masa gelapnya."

Wajah gadis itu memancarkan kesedihan.

Dan aku tidak mengerti ia mulai bicara ke arah mana?

"Aku perlu menemui paman ku di Iffa untuk mengabarkan bahwa—"

Aku perhatikan, ia seperti sedang menahan gejolak sedih.

"—bahwa Ratu Hyuuga CXVIII sudah tidak berada pada dirinya lagi. Ibuku mulai mengawali perang di setiap kerajaan."

Ia meneteskan air mata.

Dan tiba-tiba saja aku merasa sangat kenyang. Ada beberapa fakta di sini. Aku seorang prajurit. Ia seorang Putri raja. Dan secara tidak langsung aku membawanya kabur dari Kastil. Apa aku juga akan masuk daftar wanted dengan tuduhan menculiknya?

Aku segera mengontrol gelombang terkejutku karena sudah menculik Putri Raja. Mungkin bersikap layaknya seorang prajurit adalah pilihan yang tepat untuk saat ini.

"Maaf yang mulia Putri—" aku bingung. Aku bahkan tidak tahu siapa namanya. Jadi jika Ibunya Hyuuga ke CXVIII, logikanya dia adalah Hyuuga ke CXIX. "Maaf yang mulia Putri Hyuuga CXIX. Aku—" sepertinya kata 'aku' samasekali tidak tepat. Aku berpikir dan mencari-cari bahasa sopan yang aku tahu. Baiklah, dalam sejarah Uchiha, ini pertamakalinya aku mengatakan "Hamba tidak tahu dimana kerajaan Iffa."

"Tidak perlu memanggilku Putri Hyuuga CXIX. Panggil saja aku Putri Hyuuga. Aku belum menjadi Ratu."

Hah...bodohnya aku. Jadi angka romawi itu hanya untuk ratu ya? –nilai sejarahku benar-benar buruk—.

"Kerajaan Iffa sudah dekat dari sini. Kita harus melewati desa suku Newle, lalu kita harus melewati kawasan Ellura, Henera. Barulah sampai pada kerajaan Iffa."

Jujur, tempat apa tadi yang ia sebut? Aku tidak tahu. Benar-benar tidak tergambar sedikitpun di otakku.

"Baiklah yang mulia tuan Putri Hyuuga. Mari kita berangkat."

Ah...entahlah, susunan kalimatku benar atau tidak. Di sini memang tidak usah mengkhawatirkan nama klan lagi –ironis sekali seorang Uchiha menghambakan diri—.

.

.

DESA SUKU NEWLE

Ini tempat teraneh yang pernah aku kunjungi. Awal memasuki gerbang, kita harus mengatakan kata sandi –semacam 'Ho-ho-metge' atau apalah aku tidak begitu mengerti—agar dapat bisa memasuki gerbang. Dan sepertinya sang Putri Hyuuga itu berhasil menggelapkan identitasnya sebagai anak nomor satu di wilayah ini. Aku mendengarnya memperkenalkan diri sebagai Himeji. Apa aku juga harus memanggilnya Himeji?

Perempuan begitu cepat sekali menghilang –dan aku tidak begitu perduli—, Putri Hyuuga entah berada dimana dan aku lebih memilih untuk berjalan ke bagian dalam desa yang terletak beberapa meter dari gerbang utama. Aku melewati tempat ramai yang mungkin sepertinya ini pasar. Orang-orang berpakaian lusuh melakukan transaksi dengan pedagang. Asap mengepul dari cerobong suatu bangunan yang sepertinya itu adalah toko roti terbesar –karena hanya bangunan itu saja yang berdiri kokoh— dan yang lainnya hanya sebuah stand-stand yang terbuat dari kayu beratap jerami kering. Aku ingin membeli sesuatu dan itu rasanya tidak mungkin, karena aku tidak mempunyai apapun untuk di tukar –malangnya—.

Setidaknya malam ini aku bisa tidur di penginapan yang lumayan –walaupun di sini tidak ada listrik—. Tentu saja aku tidur sendirian, memangnya apa si Putri itu mau jika tidur dengan ku? Aku menyeringai membayangkannya –masih dalam batas wajar—. Aku ingin cepat-cepat besok. Ingin cepat-cepat pergi ketempat selanjutnya agar semua urusan ini cepat selesai.

Keesokan harinya, aku bangun lebih awal. Menyempatkan diri untuk membuka jendela penginapan dan menikmati udara pagi. Aku menggeliat malas. Ingin rasanya kembali berbaring dan tidur lagi. Itu benar-benar akan aku lakukan kalau saja tidak ada yang mengetuk pintu kamarku.

"Iya. Tuan Putri." Aku membungkuk saat melihatnya di depan pintu yang telah ku buka.

"Kita harus segera meneruskan perjalanan." Katanya.

"Sesuai perintah Tuan Putri."

"Tapi – " matanya memancarkan keraguan.

"Ada apa Tuan Putri? Apa tuan Putri ingin kembali ke Kastil?" tanya ku.

Ia menggeleng.

"Apa Tuan Putri butuh sesuatu yang lain?" Jujur saja, ini seperti sedang bermain teater klasik.

Ia menggeleng lagi. "Ada ritual yang harus di lakukan untuk keluar dari tempat ini. Dan aku baru mengetahuinya barusan."

Aku mengernyit. Aku berani bersumpah kalau aku samasekali tidak mengerti.

"Bagi para orang asing diluar suku mereka. Jika ingin meninggalkan tempat ini maka harus melakukan ritual 'Ezkondu' untuk memberikan persembahan pada Dewi Tainia."

Apa ini berarti Putri Hyuuga memintaku untuk menjadi korban Dewa-dewi keyakinan suku Newle? Kalau iya, maka jawabanku TIDAK! –tak perduli apakah dia calon Ratu atau apa, aku tidak mau mati konyol di atas altar persembahan—.

"Bagaimana Knight?" matanya penuh harapan.

Belum sempat aku menjawab. Datanglah seseorang dengan baju aneh khas sukunya.

"Kalian pasti sudah siap." Katanya

Dan dia dengan seenaknya membawa ku dan Putri Hyuuga ke suatu tempat. Dan aku semakin tidak mengerti. Tidak ada altar pengorbanan ataupun yang berbau membunuh.

"Bisakah kau menjelaskan upacara apa ini?" aku menanyakan pada ketua suku yang sudah bersiap membacakan –entah apa, mungkin semacam mantra—.

"Ini persembahan untuk Dewi agung Dewi Tainia. Persembahan cinta dari pasangan yang mencinta dengan tulus dan mengikatnya dalam janji bersama." Papar ketua suku itu yang lebih terdengar seperti nada puisi.

Sebagian dari diriku ingin tertawa mendengar gaya bicaranya. Dan sebagaian diriku yang lainnya tidak percaya. Ini sama saja dengan menikah.

"Maaf Yang Mu—" aku menghentikan kalimatku. Aku harus memanggilnya dengan sebutan itu dan meninggalkan keformalan "Himeji. Pikirkan lagi. Ini pernikahan. M-E-N-I-K-A-H." Jelas ku.

"Aku perlu segera meninggalkan tempat ini." Bisiknya "apapun akan aku lakukan untuk menyelamatkan kerajaanku."

Dan pada akhirnya kami menikah. Seorang pria besar di hadapan ku mulai menggumamkan sesuatu yang aku tidak tahu apa artinya. Lalu pria itu mulai menuangkan air dari bejana emas ke dalam gelas piala emas berukuran kecil. Ia menyerahkannya padaku –dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan gelas itu—sampai ia mengisyaratkan agar aku mendekatkan gelas itu pada Putri Hyuuga. Putri Hyuuga meminum air di dalam gelas itu –setengahnya—. Pria besar itu kembali mengisyaratkanku untuk meminum yang setengahnya lagi. Aku ragu, yah...walaupun aku tidak begitu mengerti banyak tentang jenis minuman, tapi aku dapat mengenalinya, dari baunya, sepertinya ini anggur. Aku ragu antara meminum dan tidak –aku masih 17 tahun—. Entah demi apa aku meminumnya –maafkan aku Ibu, telah meminum anggur sebelum waktunya—.

Setelah upacara berakhir, kami meninggalkan desa Newle dan melanjutkan perjalanan. Satu lagi keironisan ku –aku menikah di usia 17 tahun— hah...yang benar saja.

.

.

Kami berkuda kembali. Meninggalkan desa Newle dan melewati hutan-hutan rindang lagi. Tujuan selanjutnya adalah Ellura, seperti apa tempatnya aku tidak tahu, mungkin sebuah desa yang ramai seperti desa Newle –mungkin juga lebih maju dan bagus—. Aku melihat sebuah pemukiman di depan sana. Dan ini jelas bukan berita baik. Api menyala di atap-atap jerami setiap bangunan di desa itu. Asap hitam mengepul tebal.

"Knight. Kita harus kesana." Perintahnya.

Aku segera memacu kuda untuk mendekati desa itu. Sebuah desa yang hancur dan sudah tidak berpenghuni. Rumah-rumah terbakar habis. Stand-stand kayu reot sudah rata dengan tanah dan hanya menyisakan sayur dan buah-buahan yang rusak –mungkin ini bekas pasar—.

Putri Hyuuga menatap nanar pada bangunan yang hangus terbakar. Ia dibebani kesedihan yang sangat mendalam.

"Aku tidak menyangka akan sejauh ini. Ibu."

Aku tidak ahli dalam menenangkan emosi perempuan. Jadi aku hanya diam membiarkan Putri Hyuuga menangis.

Tak lama kemudian terdengar suara derap kuda. Aku tidak dapat melihatnya karena asap hitam yang timbul akibat pembakaran, tapi aku dapat merasakan bahwa derap kuda itu mendekat. Ini akan berbahaya, aku bersama seorang Putri Raja dan setahu mereka aku menculiknya, aku tidak mau mati di tiang gantungan. Derap kuda itu semakin mendekat.

.

.

To Be Continued

.

.


|Hakkuna Matata|

Sebenarnya, untuk update Fic ini tidak akan memakan waktu lama, karena Fic ini sudah jadi. tapi saya perlu memeriksanya kembali, yah...walaupun mungkin Minna-san masih menemui beberapa Typo, itu bukan berarti saya tidak memeriksanya, hanya saja mungkin ada kesalahan di mata saya. maklum ya Minna ^^

Oh iya, saya merasa senang ikut Event ini, karena penghuni Group DnA orangnya ramah-ramah dan saya merasa nyaman disana. jadi mungkin saya akan pindah pair ke SasuHina dulu untuk sementara, yah...itu bukan berarti saya mengabaikan pair Favo saya yang lainnya sih ^^

Oh iya, untuk membantu imajinasi dalam membaca Fic ini, Minna-san bisa serach di Google tentang Kastil Edinburgh. Saya berusaha sebisa saya untuk mendeskripsikan keadaan Kastil itu. dan puisi gagal di Fic ini juga berdasarkan gambaran Kastil Edinburghmenurut imajinasi saya ^^

Satu hal yang penting di ingat, Saya tidak pernah memaksa siapapun untuk membaca Fic SasuHina, jika ada yang merasa muak, harusnya tanpa di suruhpun akan pergi sendiri kan? pergi lebih baik daripada harus mengotori kotak Review. bersikap bijaklah walaupun sedikit.

Terimakasih ^^

-ViN-