Hajimemashite, Minna…

Watashiwa ~ Ruki ~ desu

Disclaimer : TaitoKubo

Warning : OOC, AU,Typo(s)

Pairing : IchiRuki

Rate : Teen


Trim'z Buat


Kokota

Arashi A.M.N.O.S

Nenk Rukiakate

Nyx Quartz

Diosas

Jee-zee Eunry

Aika Ray Kuroba

Devil's of Kunoichi

Pyon

Loonatic Aqueous

Miko Kazuma

M0n1kk

Honestly Light


LEGENDA KUTUKAN CINTA

== Ruki ==

Chapter 2


Dan tanpa kusadari, lelaki dengan nama Ichigo itu tersenyum, memandangiku hingga sosokku benar-benar menghilang dari pandangannya.

"Cih, kutukan ini menyusahkan. Ngomong-ngomong, di mana ini?" katanya sambil menghela napas panjang, menatap ruangan yang mungkin saja akan ia tinggali dalam jangka waktu yang tak sebentar.

*(n_n)*

"Ma—maafkan aku, Momo! Aku tertidur," kataku dengan napas yang memburu, kuakui berlari dari kamarku menuju pintu masuk memang sangat melelahkan.

Momo hanya tersenyum dan berkata, "Anda memang suka tidur, Nona Rukia. Itu tak masalah," katanya dengan nada sopan atau lebih tepatnya mengejek.

"Enak saja, aku hanya tak mendengarmu kok," kataku yang kini melangkah menjauhi Momo untuk kembali menuju ke kamarku.

"Bagaimana? Apakah Nona Rukia senang hari ini? Bukankah Anda membuat janji dengan Tuan Kaien?" tanya Momo sambil memijat bahunya sekilas, ia terlihat letih.

"Aku membatalkannya. Lagi pula ada seorang lelaki ane…" kataku namun terputus. "Ah! Bukan apa-apa. Kau istirahat saja, Momo." kataku yang kemudian melangkah cepat menuju ke kamar.

"Baik, Nona Rukia. Saya hanya mengambil barang yang tertinggal tadi pagi." jelasnya dengan senyum manis.

*(n_n)*

"Ma—maaf, Nona… Ini sudah pagi, bangunlah…" seseorang dengan lembut membangunkanku? Seperti suara seorang lelaki, tapi siapa?

Dengan malas kubuka kedua mataku, rambut jingga membuat mataku melebar sempurna, sepsang iris aqua yang begitu mirip dengan milik Kak Kaien itu membuatku terkejut sekilas.

Apakah aku masih bermimpi? Kutepuk pipiku perlahan. Sakit kok. Jadi ini nyata? Ia hanya tersenyum menatapku.

Lelaki itu menundukkan badannya dan mengucap salam padaku. Ia terlihat sangat polos. Ini mulai membuatku kesal, padahal baru tadi malam ia mengejekku.

"Kau terlihat berbeda, dasar aneh!" makiku sambil berjalan mendekat ke arahnya yang kini berjalan mundur menghindariku.

Ia terlihat takut dan membuatku semakin percaya diri. Dia juga terlihat konyol, ini menguntungkanku.

"Ma—maaf, Nona. Apa Saya mengucapkan sesuatu yang salah?" tanyanya dengan sangat polos.

Hei, lihatlah gaya bicaranya itu. Sangat berbeda dari terakhir kali ia berbicara denganku. Ingin rasanya kujambak rambut jeruknya.

Mengingat semalam ia telah mengejekku habis-habisan. Dengan langkah santai dan tatapan menusukku, kudekati dia perlahan.

Ia terhimpit di antara tembok dan diriku yang semakin mendekat ke arahnya. Dia terlihat sangat lemah, ini bagus sekali. Tapi belum sempat aku menghajarnya, sebelah kakiku terpeleset oleh lantai yang basah. Apa? basah?

"Hu— huooo!" aku terhuyung ke belakang, kenapa bisa ada genangan air di sini? Sial!

Kupejamkan mataku erat-erat. Tapi… aku tak terjatuh, waktu terasa terhenti. Membuat tubuhku tersangga oleh udara hangat, memposisikan diriku 45 derajat ke belakang.

Hangat? Kurasa bukan udara, tapi lengan seseorang. Dan juga, kedua tanganku mengait pada sesuatu. Begitu kubuka kedua mataku. Oh! Apa-apaan ini?

Wa—wajahnya sangat dekat. Napasnya menyapu hidungku, bertabrakan langsung dengan napasku. Tetesan rambut basahnya jatuh ke arah hidung dan mengalir ke arah bibirku. Ah! Wajahku terasa panas!

"Kau baik-baik saja?" tanyanya datar, melihatku dengan iris yang berbeda, warna musim gugur itu. Kurasa dia berubah lagi.

Dengan segera aku berusaha bangun dari tumpuannya dan melepas pelukanku pada lehernya. Ia terlihat datar, dan mengacak sekilas rambutnya yang basah.

Oh, Tuhan! Dia seksi sekali! Hah? Pikiran apa itu? Dengan segera kubuang wajahku ke arah lain. Sial! Aku tak berhasil mengerjainya, kurasa ia kembali normal di saat yang tepat. Ck!

"Maaf soal lantai basah itu, aku akan mengeringkannya," katanya sambil berjalan meninggalkanku yang sedikit mencuri pandang padanya.

"Ter—terserah kau saja!" kataku dengan nada yang kubuat-buat marah. Aku tak mau terlihat rendah di hadapannya.

Kulihat Ichigo hanya menaikkan sekilas kedua bahunya. Bukankah itu sangat menyebalkan? Ingin sekali kujitak kepalanya sekarang.

Tanpa berpikir panjang lagi, kusiapkan sikuku untuk menusuk pinggangnya saat ia berjalan di sisi sampingku. Hahaha, kali ini pasti bisa.

"Rasakan ini, Bodoh!" kataku sambil melayangkan sikuku ke arah pinggangnya.

Tapi… Uh! Sekali lagi ia bisa membaca seranganku. Sial! Padahal ini adalah serangan andalanku, dan tak banyak orang yang baru saja kukenal bisa menangkisnya.

Ia menahan sikuku kemudian menariknya. Lelaki itu merendahkan tubuhnya dan memandang lekat ke arah mataku. Reflek tubuhku mencondongkan diri kebelakang, menghindari kepalanya yang semakin mendekat.

"Percuma, gerakanmu terbaca olehku, Midget!" katanya dengan seringai tajam.

Akh! Aku dipermainkan! Oleh makhluk aneh ini? Aku tidak bisa menerimanya, aku membencinya! Sangat!

Ia melepaskan tanganku dan berjalan santai meninggalkanku yang masih menatapnya tajam. Aku ingin membunuhnya, berani-beraninya ia meremehkanku seperti itu. Dasar menyebalkan!

"Hahaha, dasar, Midget!" desis Ichigo merasakan aura membunuh yang sangat kuat dariku. Tapi ia sama sekali tak mempedulikannya, ini membuatku sangat kesal.

*(n_n)*

"Kyaaa!" aku mendengar suara teriakan. Mungkinkah Momo? Ah! Apa yang Ichigo lakukan padanya? Mungkinkah ia menyerangnya? Sial! Seharusnya aku sudah membunuhnya saat pertama kali aku melihatnya.

Kalau benar ia menyentuh Momo, aku bersumpah takkan mengampuninya. Dengan sangat tergesa-gesa aku menuruni tangga untuk menuju ke lantai bawah. Dan saat aku sampai di ruang dapur.

"Wah! Tampan sekali! Tampan! Sangat tampan!" aku hanya tercengang di tempat.

Kulihat Momo memeluk sebelah tangan Ichigo dengan centilnya. Apa aku tidak bermimpi? Ternyata dugaanku salah, justru Momo yang menyerang Ichigo, dasar aneh!

"Oi, Midget! Siapa gadis ini? Lepaskan dia dariku," kata Ichigo yang sepertinya sedikit terusik oleh kelakuan Momo.

Dengan malas kutarik kedua bahu Momo untuk menjauh, tapi ia malah menggelengkan kepalanya. Dengan berbinar-binar ia bertanya padaku,

"Siapa pangeran ini, Nona Rukia? Anda menemukannya di mana? Dan kenapa dia sangat tampan? Kyaaa!" tak dapat kupercaya, Momo akan menjadi gila seperti ini.

"Momo, sadarlah… Ichigo hanya…" kataku namun terputus.

"Kekasihku?" kata Ichigo datar menggunakan nada tanya.

Deg!

Aku berdebar saat Ichigo mengatakannya. Kenapa? Kurasa aku terlalu terkejut. Dan sekarang aku hanya bisa terdiam. Tidak berkomentar sedikit pun.

Dalam waktu sekejap Momo melebarkan matanya dan perlahan melepas pelukannya pada lengan Ichigo. Gadis itu mundur beberapa langkah dan menunduk padaku.

"Ma—maafkan saya, Nona Rukia. Saya tak bermaksud…" kata Momo segan.

"Hei, dia bukan kekas…" kataku namun kembali terputus karena dengan tiba-tiba Ichigo merangkul bahuku.

"Hahaha, aku hanya bercanda. Kami hanya bersahabat. Benarkan, Midget? " kata Ichigo sambil menatapku.

Dan tanpa kusadari aku mengangguk mantap! Sial, apa aku benar-benar tersihir? Atau lebih ekstrimnya aku dikutuk olehnya? Hei, aku membenarkan kata-kata busuknya.

"Baiklah, Aku akan bersiap. Mulai hari ini aku akan selalu menggikutimu, Midget."katanya sambil melepas pelukan ringan tersebut.

Ini tidak mungkin, kenapa aku diam? Dan juga tak melarangnya? Menyebalkan!

*(n_n)*

Dalam waktu sekejab Ichigo bisa sangat akrab dengan Renji sahabatku. Padahal ini kali pertama aku mempertemukan Renji dengannya. Orang macam apa dia?

Cih, mungkinkah ia memang memiliki magnet dalam dirinya? Atau daya tarik yang luar biasa? Omong kosong! Aku tidak percaya sihir itu benar-benar ada. Sangat tidak menarik dan membosankan. Sihir? Benda apa itu? Hanya sampah.

Karena kehadiran Ichigo, terpaksa aku harus berbagi tempat untuknya. Mobil spesialku ini harus dikendarai oleh lelaki tak jelas seperti dia? Aku tak percaya, aku benar-benar mengizinkannya.

Dan juga… apakah mungkin ia bisa mengendarai sebuah mobil? Apakah di Dunia sihir mobil itu ada? Sangat bahaya jika aku membiarkan lelaki bodoh ini mengendarainya.

"Hei, apa kau bisa?" tanyaku secukupnya.

"Hn," jawabnya.

Bukankah itu sangat menyebalkan? Dasar aneh. Terkadang lelaki ini sungguh sangat hemat bicara, terkadang juga dia mengolok-ngolokku tak jelas. Dan tak jarang pula ia menjadi terlihat sangt bodoh dan lemah. Bagian mana dalam dirinya yang menarik?

Beberapa kali kulihat wajahnya yang memang memiliki kharisma kuat itu. Bisa-bisanya ia membuat Momo yang begitu pendiam menjadi seagresif itu. Dia hebat sekali.

Benar-benar hebat, bahkan aku tak bisa lepas menatapnya sekarang. Dan aku tak menyadari bahwa sedari tadi ia memperhatikanku lewat lirikan dari ekor matanya, melihatku beberapa kali sambil tersenyum.

"Kenapa? Kau masih marah padaku?" tanyanya tapi sayang sekali aku merasa tuli sekarang, aku tak mendengar dan tak menyadarinya.

"Heh! Kau tuli? Aku bertanya padamu, Midget!" sontak aku langsung tersadar kutatap tajam dirinya dan dalam sekali gerakan aku berhasil menjitak kepala jingganya. Rasakan itu!

Ctak!

"Ouch! Sakit!" katanya sambil menggosok sekilas kepalanya sendiri dengan tetap memperhatikan jalan di depannya.

"Sekali lagi kau mengejekku, kubunuh kau!" kataku sambil membuang mata ke arah depan. Enak saja ia mengolokku seperti itu.

Saat aku melirik ke arahnya, ia hanya tertawa sekilas, sangat lirih bahkan hampir tak terdengar. Dasar aneh!

Tunggu dulu… Atau mungkin akulah yang aneh karena diam-diam telah memperhatikannya? Oh, tidak! Ini memalukan.

*(n_n)*

Gara-gara aksi membolosku kemarin, dengan terpaksa aku harus berada di kampus hingga petang. Dasar! Ini semua gara-gara lelaki aneh itu, merepotkan sekali.

Aku terus berlari menapaki jalanan dan menuju ke arah di mana mobilku terparkir. Hujan deras membuatku semakin membenci situasi ini. Awas saja bila Ichigo benar-benar meninggalkanku, akan kubunuh dia.

Dengan tergesa aku memasuki mobil milikku itu, kulihat Ichigo masih terdiam, menatap arah depan dengan tatapan ganjil. Kulihat hari semakin gelap dan hujanpun semakin deras. Aku harus segera mengganti baju basahku ini.

"Kenapa diam? Cepat jalan!" perintahku dengan nada yang kurang bersahabat.

Dengan perlahan lelaki itu menoleh ke arahku, matanya terlihat garang dan berwarna merah menyala. I—ini sangat menakutkan, aku sampai menatapnya ngeri.

"A—apa yang terjadi padamu? He—hei, jangan menatapku seperti itu!" aku mulai takut sekarang.

Bibirku terbungkam sempurna, auranya mencekram jiwaku. Aku terpaku pada sepasang mata merah darahnya itu. Aku melebarkan mata melihat seringai tajamnya. Aku merasa sangat terancam.

Tubuhku merapat sempurna pada pintu mobil. Aku mencoba untuk keluar, tapi aku tidak bisa berpikir. Padahal begitu mudahnya membuka pintu dan lari. Tapi aku membeku.

"Ada yang salah, Gadis?" katanya perlahan dengan nada yang sungguh memacu cepat detak jantungku.

Aku hanya bisa menelan ludah dengan susah payah. Tubuhnya mendekat dan mengurung diriku yang tersudut di antara pintu dan tubuhnya.

Aku mohon, siapa pun tolonglah aku! Aku hanya bisa memejamkan mata erat, kenapa aku tak bisa melawannya? Apakah ini yang dinamakan rasa ketakukan itu? Sangat nyata dan sesak.

"Santai saja, kau datang kepadaku untuk hal ini kan?" katanya berbisik ke arah telingaku dan menggunakan sebelah tangannya untuk mengelus rambutku.

Tapi dengan cepat pula ia menjambaknya dengan tiba-tiba. Menariknya kuat hingga ku kesakitan. Dan dia hanya tertawa? Dia benar-benar gila.

"Kyaaa…!" aku berteriak semampu yang kubisa hingga terdengar suara derap langkah seseorang mendekat, kemudian…

Prang!

Dengan segera kulindungi kepalaku menggunakan kedua lengan milikku. Aku merasa sesuatu berhamburan menuju ke arahku, sedikit membuatku tergores, apakah kaca?

Ternyata seseorang dengan tinjuan tangan kosongnya berhasil memecahkan kaca bagian depan mobil sekaligus meninju tepat di rahang Ichigo.

Pandanganku masih terlihat samar. Apakah orang itu akan menyelamatkanku? Siapa dia? Aku tak bisa melihatnya dengan jelas.

Kulihat aliran darah mengalir dari sudut bibir lelaki bermata merah itu, tepatnya bernama Ichigo. Apakah ini bagian dari kutukannya? Menyeramkan sekali.

Seseorang yang baru saja datang itu menarik kembali tangannya yang terlilit sebuah kaos, mungkin untuk melindungi dari kaca yang sudah di pecahkannya. Dia hebat sekali, dia menyelamatkanku dari iblis ini.

Ternyata tak berhenti sampai di situ, Ichigo yang merasa terganggu kini menatapku tajam, sorot matanya serasa ingin membunuhku. Ia menarik tanganku dengan sangat erat, erat sekali.

Ia membawaku keluar mobil, sementara seseorang yang menolongku tengah mengambil ancang-ancang untuk menyerang Ichigo kembali.

"Le—lepaskan aku, Iblis!" teriakku memandangnya tajam. Menghentakkan sekeras mungkin cengkraman tangan kuatnya pada tanganku, tapi…

Plak!

Aku… ditampar? Oleh lelaki ini? Sakit, rasaya sakit sekali. Baru pertama kali ini aku ditampar seperti ini. Dia menyakitiku, dia jahat! Sangat jahat!

"Berhenti memberontak! Kau mangsaku!" katanya dengan seringai tajam yang membuatku muak.

Tanganku mengerat, mengepal sekuat mungkin. Mataku sampai berair saat merasakan panas yang amat sangat akibat tamparan dari tangan seorang lelaki sinting itu. Hujan deras semakin memperburuk keadaan.

Plak!

Aku menamparnya sekuat yang kubisa, tanganku sampai bergetar. Untuk pertama kalinya aku harus ditampar dan menampar seorang lelaki. Ini bukanlah pengalaman yang baik.

Aku masih menatapnya garang, dadaku naik turun menghela napas yang terasa sangat berat. Baru pertama kali ini seseorang benar-benar menyakitiku secara fisik. Ini benar-benar kekerasan.

"Menjauh dariku! Pergi kau!" aku berteriak seperti orang kesetanan.

Kulihat Ichigo masih berposisi tepat saat aku menamparnya. Wajahnya tertoleh ke arah samping, membuatku tak mampu menatap ekspresi wajahnya.

Tapi masa bodoh! Aku tak peduli, berani-beraninya ia menamparku! Aku berjalan mundur dan tubuhku menabrak penuh body samping mobilku.

Kulihat seseorang yang menolongku itu menuju ke arah Ichigo. Dia melangkah garang menuju ke arah lelaki itu. Mencengkram kerah Ichigo dan mengangkatnya tinggi hingga Ichigo terjinjit.

"Brengsek kau! Apa yang kau lakukan padanya?" teriak seseorang berambut biru langit itu, dia adalah Grimmjow Jagerjaques, model terkenal yang juga salah satu dari teman baik Kak Kaien.

Kenapa Ichigo diam? Kulihat ia masih membuang muka. Grimmjow nampak geram saat Ichigo tak menjawab pertanyaannya. Dengan segera Grimmjow mengarahkan pukulan terbaiknya secara bertubi-tubi ke arah rahang kanan dan kiri Ichigo secara bergantian.

Bunyi pukulan itu membuatku bergidik. Dan sekali lagi aku melihat Ichigo hanya pasrah di perlakukan seperti itu.

"Tak ada seorang pun yang bisa menyakiti Rukia, termasuk kau! Siapa kau?" teriak Grimmjow dengan pukulan terakhirnya, membuat Ichigo tersungkur tepat di depanku.

Aku menelan ludah sekilas, membayangkan rasa sakit yang mungkin dirasakannya. Dalam keadaan terbaring, ia mengangkat wajahnya untuk melihat ke arahku. Guyuran hujan membuat luka lebam itu terasa perih, terlihat jelas dari wajahnya.

Ia memandangku dengan tatapan memelas, hatiku berdesir melihat mata yang identik dengan musim gugur itu menatapku dengan sangat menyesal. Aku mengenal betul sorot mata itu, aku tak tega melihatnya.

Bibirnya bergumam seolah berbicara, "Maafkan aku…" mataku terbelalak sempurna. Penuh dengan penyesalan.

Kulihat Grimmjow mendekat kembali ke arah Ichigo. Dan dengan segera aku menghentikannya.

"Sudah cukup!" teriakku memecah suara gemerisik hujan.

Aku duduk bersimpuh di hadapan Ichigo. Hei, lelaki ini menangis? Apa yang terjadi? Apakah hanya tetesan air hujan? Tapi air mata itu benar-benar keluar dari kedua matamiliknya.

"Ke—kenapa kau menangis?" tanyaku.

"Maafkan aku… Rukia…"

Aku tersentak, untuk pertama kalinya ia memanggil nama kecilku dengan tulus. Aku merasa pernah mendengar nada suara ini. Apa yang sebenarnya terjadi, Ichigo? Siapa kau sebenarnya?

T`B`C`


Mungkin Fic ini akan selesai di Chapter depan. Kalo gak tiga Chapter ya empat. Sengaja buat yang gak terlalu rumit. hehehe. Maaf telat update.


Arigatou and Mata Ashita "^_^"


R P

E L

V E

I A

E S

W E